Kisah ini menghampiri saya lebih kurang empat bulan lalu. Saat itu janin yang dikandung Vina, istri saya, masih berusia lima bulan. Di sebuah sumber disebutkan kisah ini terjadi dalam mimpi Muhammad, nabi besar kaum muslimin. Sumber lainnya menyebutkan kisah ini terjadi pada saat Muhammad melakukan Mikraj, perjalanan spiritual yang dilakukan Muhammad bersama Jibril.
Pada suatu tempat, Muhammad melihat seorang lelaki tengah dikelilingi anak-anak di bawah rindangnya pohon besar di sebuah taman. Anak-anak tersebut bermain-main, sementara si lelaki berada di tengah, menjadi pengasuh bagi semua.
“Yang tinggi itu, si lelaki, adalah Ibrahim Alaihissalam. Dan anak-anak di sekelilingnya ialah setiap anak yang wafat dalam keadaan fitrah,” Jibril menjelaskan hal tersebut kepada Muhammad. Konsep fitrah biasanya berarti fitri, suci, belum memiliki dosa, belum baligh atau dewasa.
Kala Muhammad menceritakan pengalamannya tersebut, sejumlah orang bertanya: yang bermain bersama Ibrahim tersebut, apakah juga termasuk anak-anak kaum musyrik? Muhammad menjawab, “Iya. Juga anak-anaknya orang musyrik.”
***
Rabu siang, 1 Agustus 2018. Saya dan Vina menghadap dokter fetomaternal. Ini adalah dokter kedua yang kami temui, setelah dokter pertama menemukan apa yang ia sebut sebagai suatu yang tak lazim di kepala dan jantung janin yang dikandung Vina dan meminta kami menemui dokter fetomaternal untuk pemeriksaan lanjutan.
Siang itu saya dan Vina hanya bisa saling tatap dan sesekali mengadu lutut. Di hadapan kami, dokter membolak-balik lembaran hasil laboratorium, USG 2D dan 4D, dan entah apa lagi. Saya cukup sering melihat adegan serupa, tapi tidak pernah selama ini. Memasuki menit kesepuluh dan si dokter tetap diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pikiran saya mulai kalut. Di benak saya: apa pun yang akan keluar dari mulutnya, rasanya bakal terdengar buruk.
Dan memang demikianlah yang terjadi. Si dokter menunjukkan beberapa data yang menurutnya tak lazim. Di sekitar jantung dan sebagian wilayah otak janin. “Saya khawatir,” ia menggumam, pelan dan nyaris tak terdengar, “bayi ini mengidap Edward Syndrome.”
Satu-satunya yang ingin saya lakukan saat itu sesungguhnya ialah merogoh ponsel di saku celana dan mencari tahu soal Edward Syndrome. Apalagi si dokter hanya memberikan keterangan yang singkat, dengan nada penuh kehati-hatian. Ia menjelaskan soal kromosom, proses penggandaannya, dan beberapa kelainan yang berpotensi muncul terkait hal tersebut. Edward Syndrome atau Trisomi 18 terkait dengan kromosom ke-18 yang tidak berpola sebagaimana lazimnya. “Ini kasus yang terbilang langka,” kata si dokter. Tangan saya erat menggenggam jemari istri saya.
Dokter itu meminta kami untuk mencari tahu soal Trisomi 18. Ia juga menyarankan kami untuk menjalani Noninvasive Prenatal Testing (NIPT). Tes ini, selama kondisi minimalnya terpenuhi, dianggap memadai untuk memberikan gambaran kondisi kelainan kromosom pada janin, dengan tingkat akurasi hingga 99 persen.
***
Bagaimanapun, masa-masa di mana saya dan istri saya menunggu hasil NIPT keluar merupakan masa-masa yang membingungkan. Setiap kali mencari tahu soal Trisomi 18 di internet, hati seketika remuk. Saat itu rasanya kami bisa menangis di mana pun. Bukan sekali dua kali, dalam perjalanan pergi atau pulang kantor saya akan menepi hanya untuk menangis.
Ada begitu banyak referensi mengenai Trisomi 18 dan hanya sedikit referensi mengenai mereka yang hidup bersama Trisomi 18. Ini bisa dipahami. Angka harapan hidup para penderitanya memang sangat kecil.
Pada masa-masa inilah saya mendapat kisah mengenai Ibrahim Alaihissalam yang mengasuh anak-anak di sebuah taman tersebut. Saya terkesima dengan kisah itu. Sebuah sumber mengatakan kelanjutannya: anak-anak itu akan tetap bersama Ibrahim Alaihissalam hingga kelak mereka bertemu ayah-ibu mereka dan menggandeng tangan ayah-ibu mereka memasuki surga. Anak-anak itu tak mau melepaskan gandengan tersebut sampai benar-benar tiba di dalam surga, diselimuti surga. Setiap kali saya merasa ambruk memikirkan apa yang diduga diderita oleh janin di dalam kandungan istri saya, kisah ini saya baca. Ia memberikan kekuatan untuk saya.
Bila ada jenis-jenis perasaan yang benar-benar mengiris, kehilangan anak pastilah salah satunya. Di titik itulah saya merasa kecil dan lemah di hadapan para orangtua yang telah melewati momentum itu. Sepenuh hati, sepenuh hati, sepenuh hati saya menaruh hormat dan empati saya untuk mereka. Mereka telah melewati masa-masa terberat dan mereka mampu tetap tegar. Menjalani dengan baik apa pun yang ada di hidup mereka.
***
Di Indonesia, (sampai saat itu) belum ada laboratorium yang bisa mengeluarkan hasil NIPT. Baru sebatas mengambil sampel dan kemudian mengirimkan sampel tersebut ke laboratorium rekanan di Singapura atau Australia. Hal inilah yang membutuhkan waktu. Selama menunggu hasil tes, kegusaran psikologis menjadi hal yang harus ditangani. Buat saya dan Vina, tak ada cara yang paling baik selain saling menguatkan.
Ketika hasil tes keluar, kegusaran kami berkurang. Hasil tes menunjukkan bahwa janin dalam kandungan istri saya negatif mengalami kelainan kromosom. Ini berbeda dengan diagnosa yang sempat disampaikan dokter.
Kami memutuskan untuk membawa hasil tes tersebut ke salah satu dokter fetomaternal yang memiliki reputasi cukup baik berdasarkan review warganet. Salah satu guru besar UI dengan antrean daftar tunggu pasien bisa mencapai 2-3 pekan. Saya bersedia menghadapi 2-3 pekan dengan kegusaran psikologis demi menunggu kesempatan berkonsultasi dengan si dokter.
Saat harinya tiba, si dokter menyimak seluruh riwayat pemeriksaan janin, foto-foto USG, dan hasil-hasil lab terkini. Dia mengatakan, “sejauh yang saya lihat, semuanya baik-baik saja.”
Dia bertanya, apakah kami ingin melakukan USG 4D lagi agar merasa yakin? Saya mengiyakan. Ia kemudian bekerja. Menyusuri lanskap tempat janin bertumbuh. “Saya tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali bayi ini baik-baik saja,” katanya.
Janin itu memang tetap tumbuh.
Tepat pada Senin, 17 Desember 2018 lalu, pukul 21:43, bayi itu lahir dengan selamat, tanpa menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. “Assalamualaikum,” dokter yang mengawal proses bersalin ini menyapa si bayi begitu tangisan pertamanya pecah. Saya bersyukur untuk persalinan yang lancar dan anak yang sehat.
Kini bayi itu bernama IBRAHIM NATSIR GANI.
Ibrahim, tentu saja, saya dapatkan dari kisah yang menguatkan saya pada masa-masa diagnosa Trisomi 18. Sejak dulu saya merasa kagum dengan Ibrahim, nabi yang juga kerap disebut kakek para nabi ini. Keturunan Ibrahim menjadi manusia-manusia penting dalam banyak masa/peradaban. Kebetulan pula Ibrahim juga merupakan nama lahir salah satu tokoh besar bangsa ini yang patut untuk dihormati, Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka.
Nama Natsir saya ambil dari nama kakek saya dari garis Ibu saya. Ia lahir di Solok, kurang lebih 70 kilometer dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Natsir merantau ke Kalimantan Barat dan bertemu Sara, nenek saya dari garis Ibu. Sementara Gani adalah kakek Vina, juga dari garis Ibu. Gani berdarah Sunda. Kampung halamannya ada di Panjalu, Ciamis.
Kini, tanggung jawab besar terbentang di sepanjang jalan di hadapan saya dan Vina. Membesarkan, mendidik, dan menemani Ibrahim Natsir Gani. Kini, satu-satunya yang ingin kami lihat setiap kali kami membuka daun jendela kecil di kamar kami adalah harapan. Harapan yang terbaik untuk kami dan untuk setiap orang. Kami ingin percaya hidup akan baik-baik saja karena harapan-harapan baik yang terus beterbangan.
Kami mohon doa restu.
Ampera, 19 Desember 2018.

No comments:
Post a Comment