18.4.17

Ziarah




 “Tiap langkahnya adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan. Pada dirinya sendiri.”
- Iwan Simatupang

Hiruk-pikuk kabar mengenai truk-truk tentara yang bertengger di sana-sini sore-malam ini, membuat saya bertanya-tanya. Ada apakah? Adakah sesuatu yang terjadi di bawah “langit abu” Jakarta?

Berbulan-bulan lamanya berhenti menyaksikan televisi; hanya membaca surat kabar edisi akhir pekan; dan bersosial media lebih karena ingin mengetahui kabar-kabar teman: berapa banyakkah yang telah saya lewatkan?

Usai jam kantor, saya memilih duduk di warung kopi langganan. Memesan kopi, menyelesaikan beberapa pekerjaan tersisa, dan meniatkan diri membaca ‘Ziarah’, Iwan Simatupang. Mungkin 20 tahun lalu, atau 17 tahun lalu, pertama kali saya membaca novel ini. Sampai kemudian peristiwa kehilangan berdus-dus buku turut membawa pergi Iwan Simatupang entah ke mana.

Seusai email pekerjaan terakhir terkirim, saya buka kembali ‘Ziarah’. Dan betapa Iwan Simatupang tentu akan menjadi bulan-bulanan bila saja dia masih hidup. Dia menulis:

“Fraksi-fraksi pro dan kontra sama-sama tarik urat lehernya. Kekacauan semakin diperbesar lagi oleh fraksi-fraksi kecil yang disebabkan pertimbangan-pertimbangan politik kekuasaan memilih bersikap abstain. Berita-berita pers tentang perdebatan-perdebatan di parlemen ini menambah tegang emosi-emosi dan sentimen-sentimen di seluruh negeri. Rapat-rapat rahasia disinyalir di mana-mana, pamflet-pamflet gelap bertempelan di mana-mana. Surat-surat kaleng berisi fitnahan dan ancaman, dibubuhi gambar-gambar tengkorak, melayang ke mana-mana. Telepon-telepon gelap berdering-dering di tengah malam dan pagi buta, menyampaikan pesan-pesan gelap dari orang-orang gelap kepada orang-orang gelap. Bahkan khotbah di mesjid-mesjid dan gereja-gereja pun sudah ikut-ikutan dalam polemik ini. Mereka lebih banyak membahas kisah pemberontakan-pemberontakan dan peperangan-peperangan daripada menguraikan hadis-hadis dan ayat-ayat kitab-suci.”

Kita bahkan belum bergerak sejak lebih dari nyaris setengah abad lalu, kala Iwan mulai menulis 'Ziarah'.

Dan, duhai, adakah yang tahu di mana letak makam Iwan Simatupang? Ingin ziarah sudah sejak lama.

No comments: