“Tiap langkahnya
adalah dia yang ziarah pada kemanusiaan. Pada dirinya sendiri.”
- Iwan Simatupang
Hiruk-pikuk kabar mengenai truk-truk tentara yang bertengger
di sana-sini sore-malam ini, membuat saya bertanya-tanya. Ada apakah? Adakah
sesuatu yang terjadi di bawah “langit abu” Jakarta?
Berbulan-bulan lamanya berhenti menyaksikan televisi; hanya
membaca surat kabar edisi akhir pekan; dan bersosial media lebih karena ingin
mengetahui kabar-kabar teman: berapa banyakkah yang telah saya lewatkan?
Usai jam kantor, saya memilih duduk di warung kopi
langganan. Memesan kopi, menyelesaikan beberapa pekerjaan tersisa, dan
meniatkan diri membaca ‘Ziarah’, Iwan Simatupang. Mungkin 20 tahun lalu, atau
17 tahun lalu, pertama kali saya membaca novel ini. Sampai kemudian peristiwa
kehilangan berdus-dus buku turut membawa pergi Iwan Simatupang entah ke mana.
Seusai email pekerjaan terakhir terkirim, saya buka kembali ‘Ziarah’.
Dan betapa Iwan Simatupang tentu akan menjadi bulan-bulanan bila saja dia masih
hidup. Dia menulis:
“Fraksi-fraksi pro dan kontra sama-sama tarik urat lehernya.
Kekacauan semakin diperbesar lagi oleh fraksi-fraksi kecil yang disebabkan
pertimbangan-pertimbangan politik kekuasaan memilih bersikap abstain.
Berita-berita pers tentang perdebatan-perdebatan di parlemen ini menambah
tegang emosi-emosi dan sentimen-sentimen di seluruh negeri. Rapat-rapat rahasia
disinyalir di mana-mana, pamflet-pamflet gelap bertempelan di mana-mana. Surat-surat
kaleng berisi fitnahan dan ancaman, dibubuhi gambar-gambar tengkorak, melayang
ke mana-mana. Telepon-telepon gelap berdering-dering di tengah malam dan pagi
buta, menyampaikan pesan-pesan gelap dari orang-orang gelap kepada orang-orang
gelap. Bahkan khotbah di mesjid-mesjid dan gereja-gereja pun sudah ikut-ikutan
dalam polemik ini. Mereka lebih banyak membahas kisah
pemberontakan-pemberontakan dan peperangan-peperangan daripada menguraikan
hadis-hadis dan ayat-ayat kitab-suci.”
Kita bahkan belum bergerak sejak lebih dari nyaris setengah abad lalu,
kala Iwan mulai menulis 'Ziarah'.
Dan, duhai, adakah yang tahu di mana letak makam Iwan
Simatupang? Ingin ziarah sudah sejak lama.

No comments:
Post a Comment