26.3.17

Patah Hati

Kegeraman dan buruknya mood akibat kabar-kabar mengenai Kendeng semakin sulit untuk ditahan belakangan. Buruknya, pertahanan yang rapuh itu juga tak memberi gambaran apa pun mengenai bagaimana itu semua jika harus dilepaskan.

Berkali-kali saya menjadi diam dan gelisah begitu pikiran-pikiran tersebut muncul kembali di kepala. Setelah gelombang berita mengenai kematian Bu Padmi, dan kemudian disusul foto-foto Gunarti yang menangis di Istana, saya merasa ambruk.

"Saya udah nangis-nangis gak jelas malam ini." Pukul 01 dinihari dan saya menghubungi B hanya karena kebingungan menangis sendirian.

B merespons saya dengan sangat baik, seperti biasa. Saya tidak tahu lagi siapa yang bisa saya hubungi di situasi semacam itu kecuali dia.

"Saya gak bisa berbuat apa-apa," lanjut saya.

"Iya, Mam. Tidak apa-apa," kata dia.

Berkali-kali B selalu menjadi tempat saya mengadu untuk hal-hal semacam ini.

Saya mengatakan memikirkan mundur dari pekerjaan yang saat ini saya tangani. "Saya tak paham di mana posisi saya," kata saya kepada B.

Dia meminta saya untuk memikirkan baik-baik. Saya setuju. Ini mungkin emosional. Tapi sungguh tidak mudah mendengar dari mereka yang dibesarkan dan membesarkan sekian banyak industri dalam negeri, kalimat-kalimat yang untuk ukuran saya terasa menyeramkan.

"Apa gunanya gunung-gunung itu? Dipangkas, dijadikan semen, justru akan menjadi lebih berguna. Setelah itu bisa jadi lahan pertanian."

"Masyarakat boleh susah, tapi industri tidak boleh."

"Kesulitan air? Kita bisa membuat penampungan air hujan."

"Masyarakat kita masyarakat manja."

Sawit sawit sawit. Migas migas migas. Ekstraktif ekstraktif ekstraktif. Konstruksi infrastruktur konstruksi infrastruktur. Pasar uang.

"Don't let any bastards let you down," B mengutip kalimat HS dan menyampaikannya kepada saya.

Sumpah demi apa pun, saya berharap karma besar tengah bekerja.

No comments: