
"Tidakkah kau tahu kuselalu mencari waktu tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku bersinar resah dan jiwaku telah lelah"
(Di Relung Kamarku, Katon Bagaskara)
Sabtu siang yang membosankan dikejutkan dengan pesan pendek dari seorang teman lama, Andri. Mengabarkan bahwa ada undangan untukku: seorang teman menikah. Well, di tahun ini, satu orang lagi kawan menikah. Aku menjanjikan kehadiranku. Momen-momen seperti ini biasanya akan menjadi wahana interaksi kembali dengan kawan-kawan lama. Karena acaranya di Bandung, aku meminta Andri untuk mau menjemputku di Jatinangor sebelum ke tempat acara. Dia menolak, menurutnya Mila, mantan pacarnya, akan datang ke kostnya. Ya, tentu saja itu berarti merepotkan. Aku katakan tak apa, bertemu di tempat acara saja.
Namun, tiba-tiba di sore hari situasi berubah. Mila mengurungkan niatnya untuk datang ke Bandung. Untuk alasan yang entah, dia memilih tetap di Jakarta dan akan kembali akhir bulan nanti. Andri mengabariku perihal ini. Aku katakan, "Malam ini, aku ke tempatmu. Menginap di sana dan berangkat dari sana."
Hari Minggu ternyata tak seperti dugaanku. Beberapa orang teman tak bisa datang karena ada saja agenda-agenda personal yang tak bisa ditinggalkan. Ini menyebalkan, mengingat intensitas pertemuan kami yang semakin berkurang saja. Terlebih ketika Rumah Biru, tempat kami biasa berkumpul, habis masa kontrak. Dasuki harus menjaga bayi perempuannya yang baru lahir. Dahrun harus segera kembali ke Cimahi, tempatnya mengajar. Samsul di Jakarta dan tak bisa ke Bandung. Dan yang paling menyebalkan adalah Epul tak bisa karena harus bekerja di kantornya. Hari Minggu dan harus bekerja!
Jadi, hanya aku dan Andri yang datang. Berdua kami naik motor ke tempat acara. Menyampaikan salam teman-teman yang tak bisa hadir, mengucapkan selamat dan pulang. Kawanku yang menikah, berbahagia sekali. Roman mukanya tak bisa menutupi itu. Sementara, keesokan harinya, seorang kawanku yang lain di kota yang lain lugas bilang padaku, "Aku tak tahu apa gunanya menikah."
Sepulang dari tempat resepsi, aku dan Andri memutuskan untuk datang ke kantor tempat Epul bekerja. Sedang sibuk. Baru lima menit duduk di lobby, tiga cangkir kopi datang. Sesekali Epul datang untuk duduk minum kopi bersama. Berkali-kali dia kembali masuk ke dalam ruang kantornya menyelesaikan urusan ini itu. Bukan hanya Epul di hari Minggu itu yang bekerja. Dua orang perempuan juga kulihat sedang bekerja. Memeriksa dokumen-dokumen dan sibuk di depan layar monitor komputer. Pasti ini hari Minggu yang tak cerah untuk keluarga mereka, untuk anak dan istri Epul di rumah.
Menjelang sore, pekerjaan tampaknya selesai. Epul duduk bersama kami menikmati kopi. Dia bertanya, "Mila gak datang?" Andri hanya tersenyum. Aku yang sedari tadi diusili lantaran kisah rumit masa laluku bersama seorang teman, menyentil, "Jangan-jangan Mila dan Samsul pacaran di Jakarta?"
Semua tertawa. Dan Epul menyambung, "Masuk akal! Kemarin Samsul bilang ke aku kalau dia sudah punya pacar, 'baru, tapi tidak baru'." Pasti bukan orang baru. Hanya baru pacaran saja, maksudnya. Dan salah satu kemungkinannya memang mengarah ke sosok Mila. Dulu kami menghabiskan waktu bersama-sama di Panorama E 12. "Gak Menyangka, Samsul ternyata ikut-ikutan." Kami tertawa.
"Gak mungkin," kata Andri. "Gue mah beda sama loe," mukanya mengarah ke saya. Tertawa lagi.
Tiba-tiba hari Minggu itu jadi menyenangkan. Epul mengajak aku dan Andri ke rumahnya. Kami menyanggupi. Sampai rumah Epul, istrinya membuka pintu dan langsung mengembangkan senyum. Anaknya yang masih dua tahun bersembunyi di balik kaki ibunya. "Kalian harus makan malam di sini," kata istrinya. Belum ada sepuluh menit sejak kami datang, makanan sudah tersedia di depan kami. Nasi dan lauk-pauknya. Di rumah hangat itu, kami makan berramai-ramai. Selepas makan, kopi muncul dari dapur. Epul sekeluarga bersama aku dan Andri menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol.
Olok-olok soal 'Mila-Samsul' terus berlangsung di beranda rumah itu. "Ada kabar buruk, De," kata Epul pada Ade, istrinya. "Samsul pacaran sama Mila!" Ade tertawa-tawa. "Untung aja kita nikah," sambung Ade seraya tertawa. Andri jelas misuh-misuh. Dia mengeluarkan ponselnya, dengan speaker phone dia menelepon Mila. Telepon diangkat, suara Mila di Jakarta. "Mila, kamu bener pacaran sama Samsul?" Tanya Andri. Alih-alih menjawab, Mila malah tertawa-tawa. "Hahaha. Mila tuh maunya sama Imam, nungguin Imam dari dulu. Ada Imam gak di sana?" Jawab Mila sambil tertawa. "Ada nih," Jawab Andri. Lalu Mila berbicara padaku, "Mam, kapan atuh pendekatan ke Mila? Mila nungguin kamu terus nih." Aku tertawa saja, "Imam gak bisa, Mil," jawabku singkat. Yang tak disangka adalah Mila malah jadi mengolok-olokku, "Payahhh, masa gak bisa. Si itu aja bisa." Semua orang tertawa senang. Tentu saja, selain aku yang cuma bisa tertawa kecil. Di akhir pembicaraan, kami sepakat untuk merencanakan perjalanan bersama. Mungkin akan ke Ciwidey atau Pantai Batu Karas.
Pukul sepuluh malam Andri dan Epul berencana main ke kamar kostku yang baru. Tak satupun dari mereka yang tahu. Epul meminta izin ke istrinya dan pamit ke anaknya, "Mungkin pulang malam sekali." Bertiga kami ke Jatinangor, lima belas menit perjalanan. Dan terasa, malam itu menjadi malam yang panjang. Saling tertawa tak henti. Memutar kembali masa lalu: Bermain domino dengan winamp playlist Ari Lasso, Bintang dingin, dan Djarum Super. Sebuah kegiatan yang kami mulai bertahun-tahun lalu. Kalau bermain domino, ya harus memutar lagu-lagu Ari Lasso. Kalau ada yang kalah, ya memakai helm motor. Kalau memakai helm, ya tak bisa merokok Djarum Super. Dan Bintang dingin membuat semuanya menjadi ringan malam itu.
3 comments:
ah..harus ada pertandingan ulang..malam yang penuh dengan kesialan..hehe..
kini ia mekar, kelopaknya
sayang tersiasia
walau setia di dalam makna
...mungkinkah karena slalu ku bersikap seperti adanya...
semoga kamu tidak membuang bagian lagu yang ini
sederhananya, segala kehampaan harus dibuang malam itu.
Post a Comment