24.3.07

Sabtu, 24 Maret 2007

Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:

''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''

''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''

Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?

Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.

tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net

No comments: