Jumat, 23 Maret 2007
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
1 comment:
bisa lah, mam!
yakin...
hehe
Post a Comment