24.3.07

24 Maret 2007 (01.45)

Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.

Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.

Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.

Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.

Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.

Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.

Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.

No comments: