Siang Ini
Dia tiba-tiba membuka pintu taman-bunga yang sesungguhnya ditutup. Kepalanya muncul, ''boleh masuk?'' Pembicaraan saya dengan seorang teman berhenti. ''Silakan,'' kata saya. ''Tapi maaf, sedang beres-beres. Jadi agak berantakan.'' ''Tak apa,'' jawab dia, ''cuma mau lihat-lihat buku.''
Dia memainkan jari tangan kirinya di punggung-punggung buku, jari tangan kanannya merapat di bibirnya. ''Buku tentang ilmu komunikasi di mana, mas?'' Saya belum menjawabnya, tapi dia sudah memegang buku karangan Romo Magnis tentang Karl Marx. ''Kamu baru pulang semester pendek, yah?'' tanya saya. ''Ah, nggak kok. Saya mahasiswa baru. Ilmu Komunikasi 2006. Makanya mau cari tahu soal buku-buku ilmu komunikasi.'' ''Kok malah megang buku tentang Marx?'' tanya saya. ''Iya, tentang sistem ekonomi yang utopis yah,'' kata dia seraya tertawa.
Dia terus melihat-lihat buku. ''Nama kamu siapa?'' saya bertanya. ''Kasih,'' kata dia. ''Wah, keren namanya,'' komentar saya. ''Terima kasih,'' dia menanggapi. ''Nama lengkapnya Kasih apa?'' Dia menjawab, ''Kasih Kisah''. ''Bapak kamu sastrawan, yah?'' tanya saya bercanda. ''Bukan, Bapak saya mantan preman.''
Dia tertawa. Saya dan teman saya ikutan tertawa.
Dia mahasiswa baru dan merasa tertipu karena dia pikir Unpad berada di Bandung dengan lingkungan yang nyaman. ''Gak tahunya di Jatinangor dan panas gini. Bikin bibir pecah-pecah.''
Dan dia tiba-tiba bercerita soal RUU APP:
''Waktu SMA di Lampung dulu saya pernah dihampiri seorang aktivis LSM yang menolak pengesahan RUU APP. Aktivis itu bilang pada saya bahwa RUU APP berbahaya. RUU itu misalnya, bisa menjerat seorang ibu yang menyusui anaknya di tengah umum. Seteleh mendengar penjelasan aktivis itu saya memutuskan untuk ikut menandatangani petisi penolakan RUU APP. Di rumah saya bertemu kakak saya yang juga aktivis. Saya ceritakan pada dia soal penandatanganan petisi penolakan itu. Tapi dia malah berpesan pada saya untuk hati-hati. Jangan asal tanda tangan. Kata kakak saya, bagaimanapun seorang perempuan tidak bisa memperlihatkan auratnya di muka umum, sekalipun itu dalam rangka menyusui anaknya. Perempuan itu harus mencari tempat yang aman untuk menyusui. Saya mengiyakan. Saya tanya ke kakak saya, bagaimana ini saya sudah tanda tangan? Kakak saya bilang, ya sudah lain kali hati-hati. Sekarang istighfar saja. Saya jadi takut. Ya sudah, saya istighfar saja. Astagfirullah.''
Ah, siang yang menyenangkan setelah lama tak di taman-bunga.
4 comments:
wow... tamanbunga..emang penuh warna..
selasa ini ta mampir ah mam...
wah, ditunggu yah tre... ;)
wahh imam siang yang menyenangkan, membaca kisah ini setelah kau tuliskan. soalnya bosan, nadya mlulu :P.
tadi saya tanya ke rama, apakah jauh jika hendak berkunjung ke tamanbunga? dan dia menjawabnya dengan...
naik bus besar sekali :D.
hehehe... naik bus besar sekali... terus jalanannya macet sekali, berdebu sekali, dan panas sekali. :D
Post a Comment