(Agak aneh dan ngeri rasanya mendapati tulisan ini tanpa sengaja di tumpukkan arsip lama. Ini tulisan yang saya buat empat tahun lalu, saat saya baru saja menginjak usia kepala dua, usia di mana kesombongan dan kekeraskepalaan menjadi identitas yang tak tertolakkan, usia yang saya pikir akan menjadi masa-masa hebat dalam hidup saya. Meski pada kenyataannya yang sering terjadi justru kebalikan dari itu semua, saya acap merasa ingin mati saja setelah lelah dihajar rasa bosan yang terus-menerus.
Sialnya, rangkaian diskusi dua malam bersama beberapa kawan dan begelas-gelas cappucino dingin beberapa malam lalu, membuat saya kembali keras kepala. Tulisan ini saya baca kembali sendirian di malam buta selepas diskusi. Tentu saja pengalaman membaca yang saya dapatkan berbeda dengan pengalaman ketika menuliskan tulisan ini empat tahun lalu: jika empat tahun lalu saya merasa telah membuat manifesto kebertuhanan saya, malam kemarin ketika saya membacanya, tulisan ini hanya cukup untuk membuat saya berkomentar singkat seraya senyum-senyum gak jelas: ''Dewh, gaya pissannnn urang teh....'' ;p)
Tulisan ini pernah dimuat di ON/OFF (#08/2002), media orang biasa yang diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).
ratusan ribu waktu
sepetak ubin, jika kau mau tahu, ternyata tak lebih besar dari porsi hidupku 'tuk melumatimu. tak kusesali, biar saja. dan serupa ladang ilalalng, kau adalah kekeringan yang niscaya kubakar tiap waktu agar tetap kulihat merah tanah: sejatinya, merah tanah jauh lebih kuhargai ketimbang merah hatimu - juga merah mawar di depan rumahku yang selalu kau sirami di tiap senja.
tuhan, maaf kutak ada waktu buatmu....
pernah dulu memang, saat tepat rinduku yang keseratus sembilan puluh satu - rindu ternaif, menurut seorang kawan - kau terlihat seperti sosok paling liar yang siap menyantap habis semua umurku kelak. tapi hidup cuma main-main nyatanya, karena setelah itu, seperti apa dan bagaimana harummu, tuhan, aku lupa. kau segara begitu saja hilang di tiap anak akar otakku.
***
ada satu waktu dulu di mana ruang menjadi tak berpintu-tak berjendela, sedang di dalamnya cuma suara napasku dan suara napasmu beradu. tak ada yang lain, tak ada cahaya, tak ada udara, hanya napasku dan napasmu yang tak pernah berisi udara, melainkan segumpal emosi beku tak cerdas (dan naif). entah apa yang menghubungkan kita waktu itu. sedang rasanya tak pernah kuyakini sebuah kesepakatan pernyataan cinta antara kita.
atau barangkali seperti ini, seperti hijau rumput yang pucuknya selalu menyeretku ke titik awal interaksi kita. perkenalan singkat penuh basa-basi di mana kau begitu banyak bicara dan begitu saja membuatku sedikit terpukau terpesona hingga memaksaku memeras keringat berjerih payah merasionalisasikan tiap detik yang, meski kelak kuhancurkan sendiri, menjadi monumen tersendiri di diriku. kau dulu sanggup memamah lumat segenap diri. tubuh dan jiwa. ruang dan waktu.
ataukah karena matamu yang terasa liar di mataku, menelanjangiku di manapun dan kapanpun. kuakui, dalam beberapa hal kau memang tepat untuk dikatakan nakal, binal, hingga sempat tak ingin kulihat sosok-sosok di luar dirimu. keluarbiasaan pernah menghinggapiku, jeritan-jeritan, sorak-sorak, dengan selingan rintihan-rintihan, menahan silau kilau cahaya matamu.
seribu jenis panji aneka warna pernah menyerangku, masuk menyelinap lewat jendela kamarku, juga celah bocor atap dengan tiga belas titiknya. kesialannya, semua bukan cuma untuk singgah, melainkan melekat menyatu sempurna di pusat pertemuan darah di simpang tulang tubuh. ah, betapa hebatnya cinta. kuingatkan yang terparah, adalah panji kusam yang berhasil masuk melalui kolong pintu coklat tua kamarku. terlihat semakin pudar warnanya mengingat kamarku masih saja berlantai tanah. terbilang parah karena, pernah, semakin dekat kurasa kulitmu di sekitarku, hingga beberapa malam sempat kurasa kita bersentuhan. tapi, ingat juga, kau mesti tahu ini, tak ada kehangatan di situ, barangkali ada sebentar, yang justru terasa dan terngiang hingga kini lebih merupakan kepatuhan tak lazim akibat mantera yang kau alirkan lewat sekian detik persentuhan kulitku dan kulitmu. dan aku tak peduli....
biar saja, seperti kataku.
karena dulu, saat matahari keenam belas muncul di bulan terakhir tahun lalu, aku mampu melewatinya dengan tidur sedikit panjang. tidur yang bukan untuk istirahat, memejamkan mata menahan silau kilau matamu, melainkan tidur sebagai upaya penghindaran diri dari pertemuan-pertemuan kecil dengan makhluk-makhluk ternaif. makhluk-makhluk yang hidup bersamaku dalam hitungan ribuan waktu, yang selalu saja merasa sah berbuat apa kata perutnya ketimbang apa kata jiwanya, makhluk-makhluk gembalamu yang mengaku mendapat kesegaran air yang kausirami di hari itu. beberapa dengan sempurna kuhindari, beberapa tak sempat kujauhi. aku terluka dan memutuskan kembali tidur untuk istirahat, untuk menahan silau kilau matamu.
pernah pula kubuat semacam catatan rapi dengan pita niat kupersembahkan untukmu sebagai sebuah kenangan kalau aku pernah mengenalmu. aku akan pergi jauh, begitu kalimat pertamanya. tapi catatan itu, seperti kau tahu, tak pernah kusampaikan padamu. bukan tak ingin, tapi masih kucari hingga kini paragraf akhirnya. sebuah perjalanan panjang kemudian kurencanakan sebagai upaya penemuan jalinan kata yang niscaya kususun sebagai pelengkap catatanku. perjalanan dengan ratusan ton bahan bakar yang kuambil paksa hingga menyisakan luka-luka tubuh dan luka-luka jiwa. perjalanan dengan peta-peta buram.
lalu di tepat waktu keseribu. saat bumi kurasakan di momentum terpanasnya. panas yang melebihi matahari-matahari yang pernah berlalu di atas tubuhku. rasanya, seperti berkumpul seribu matahari di atas kepalaku yang nyaris membuat isi kepalaku mendidih, menegangkan jalinan urat syaraf yang melingkar berputar di dalamnya. satu yang tersisa: kengerian panjang yang tetap hidup bahkan di saat jam-jam tidurku. mimpi-mimpi buruk, atau serupa mimpi-mimpi buruk, berdatangan dengan rutin. berganti-ganti tema, berganti-ganti kemasan, berganti-ganti latar. yang pertama kali datang adalah cerita berisi pengerdilan makhluk-makhluk dengan harga-harga yang melambung tinggi. kenaikan yang, entah bagaimana, berhubungan dengan mulut-mulut yang mengucap-ucap namamu di jalan-jalan dan di meja-meja biliar. lalu ada cerita dengan pemeran tunggal, seseorang di depanku begitu tekunnya menatah kata-katamu dan nama-namamu di sisi-sisi pedangnya. mulutnya terkunci, kepalanya tertunduk, begitu khusuknya, begitu heningnya. yang ini kucurigai juga masih berhubungan dengan yang pertama.
keduanya menyisakan kegelisahan panjang di pagi hari bagiku. dan ternyata, begitu dekat rupanya engkau dengan kenaikan harga....
luka-luka semakin menganga. semakin melebar tanpa kutahu juga obat macam apakah penawarnya. karena pertemuan-pertemuan denganmu yang begitu terjadwal (karena janji-janji) ternyata tidak begitu membawa suasana lain untukku. kuputuskan untuk membatalkan sepihak janji-janji. mudah-mudahan kau tak kecewa. aku tak kecewa.
serangkaian kenaikan harga membuatku membatalkan bilangan janji-janji, gumpalan-gumpalan merah darah membuatku mencoba menghilangkanmu, tuhanku.
persekutuan bersama ratusan himpunan iblis kemudian kugagas. iblis-iblis timur, iblis-iblis barat, yang setengah iblis dari utara, yang setengah iblis dari selatan. persengkokolan yang bukan cuma sakit hati, tapi juga sakit badan, sakit jiwa. bagi kami kau ternyata tak mengenyangkan, tak menenangkan. karena hampir di segenap hamparan peta, warna-warna menjadi merah semata. merah darah. merah luka. merah senja darah air mata. merah yang mengalir dari pedang-pedang dan tombak-tombak berukiran namamu. dengan huruf-huruf aneh yang hanya dimengerti mereka yang berilmu. (sungguh, betapa tak mengertinya kami). tanah-tanah lapang kami menjadi bukan lagi milik kami. tapi punya mereka yang terus saja memuntahkan cinta-cinta berbentuk menyeramkan untukmu. jalan-jalan kami sesak dengan kepala-kepala musuh mereka, beberapa tak lagi utuh, tak punya mata, tak punya telinga, dan kami lihat mereka mengenakannya sebagai liontin di kalung rantai yang melingkar di dada-dada mereka. kami lihat, kami dengar, kami tahu, itu dipersembahkan untukmu. yang mahabesar, yang mahakasih, yang mahacinta, yang maha....
labirin-labirin gelap memang kemudian cukup memusingkan kami. karena ternyata betapa sedikitnya kami, betapa tidak seberapanya. tapi perlawanan telah rampung kami siapkan. hingga detail-detail tak terduga. kami bahkan telah menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarmu, dengan cara apapun, yang pasti tak terduga oleh para pembawa pedang itu. penyamar-penyamar kami telah terlatih. kami akan mencoba merayumu untuk menggunakan sedikit saja kekuasaanmu yang kami yakini. yang benar-benar kami yakini.
tuhanku, bapakkah kau? ibukah kau? anakkah kau? lelakikah kau? perempuankah kau?
karena sebagian dari kami adalah bapak, sebagian lain adalah ibu. dan dari mereka menjelma kerumunan anak yang menjadi begitu menakutkan dengan perut-perut yang jarang terisi, tapi tak pernah gelap mata buta cita dan memakan jantung kerabatnya. dan apakah ini justru menakutkanmu? kuharap iya. karena ini bagian awal dari rencana panjang kami. mudah-mudahan kau terkecoh....
anak-anak itu, yang aku temui di waktuku yang kesembilan ribu sekian, pernah menyodorkan pertanyaan maharumit untuk kucerna. tak pernah kujawab. tak mampuku. sebuah (hanya sebuah!) pertanyaan yang sejatinya untukmu: mengapa kami harus ada? kemudian ratusan pertanyaan turunan beranak-pinak di benakku. iya, untuk apa? apa yang mau kau dapatkan? sedang waktu-waktu yang kusediakan untuk kita saling bercinta dulu terasa tak begitu berkesan sekarang. rencana macam apa yang kau gelar, kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan? dan, ini yang membuatku semakin terluka, mau apa kau sebenarnya?
sampai kemudian kota-kita di negeri-negeri jauh menjadi ladang api. api nyala yang melalap bukan saja pintu-pintu rumah kerabat, tapi juga tangan-tangan mereka, kaki-kaki mereka, rambut-rambut mereka, hati-hati mereka... dan lalu entah lewat tangan siapa, api itu kemudian sampai pula ke depan pintu rumahku, rumah tetanggaku. membakar semua yang ada, semua yang cinta. sampai sini, kuputuskan, betapa sulitnya kau untuk kupercayai....
tidak. aku takut untuk mempercayaimu kembali. biarlah kau tetap di sana dan tidak di samping kami. rencana kami adalah mundur ke desa-desa. sebuah komuni yang kususun bersama iblis-iblis, setengah iblis-setengah iblis, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak akan kami mulai wujudkan. kami tidak akan menambang suatu dari tanahmu, biar tak kami jumpai sebiji besi pun. kami tak butuh parang. kami tak butuh peluru. karena kami merasa indah berkalung dengan mata liontin daun. daun-daun yang selalu menjadi cermin dan semangat bahwa ternyata hidup berwarna hijau, bukan merah. bukan api.
***
malam lagi sunyi, lagi nyinyir. setelah sebelumnya selalu saja ada suara napasmu dan suara napasku yang beradu. o, betapa kau pencemburu. betapa kau pencemburu....
tapi aku benar-benar tak peduli.
pun ketika sembilan duka turut masuk ke dalam segi empat kamarku. yang mengambil apa-apa yang sebelumnya selalu mengiringi jatuhnya peluh-peluh dari ubun-ubunku. yang pertama adalah kepergian. yang kedua adalah pelarian. yang ketiga adalah kematian. yang keempat adalah keniscayaan. yang kelima adalah kemutlakkan. selanjutnya, sampai yang kesembilan adalah kebencian yang barangkali semacam cinta yang berlebihan. ataukah itu semua bukan duka? melainkan momen-momen yang menuntut perayaan? tak mengerti, dan tak mau mengerti.
labirin, di waktuku kesekian, masih saja menyudutkanku. sementara dalam jiwaku, dalam tubuhku, tak ada peta penunjuk kau ada di sekitarku, kau ada di sel-selku. kau luruh dalam segenap kepergian akibat pelarian-pelarian yang kulakukan. pelarian-pelarian ke desa-desa tanpa api. dan paragraf terakhir dalam sebuah catatan hadiah untukmu yang kususun, belum juga berhasil kutemukan....
ratusan iblis membantu, ratusan kelaparan menemani, ratusan kota api menerangi, sama sekali tidak memberi apa-apa. kecuali pertanyaan anak-anak dari timur yang tak juga bisa terjawab: kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan?
No comments:
Post a Comment