13.6.06

Hai... Nadya!

''Semoga orang Jakarta jadi lebih senang belanja.''
Nadya Hutagalung, KOMPAS Minggu 11 Juni 2006




Hai! Apa kabar, Nadya? Lama tak melihat kamu dan betapa masih cantiknya kamu meski tahun ini kamu 32 tahun dan punya dua anak! Di SMP dulu pertama kali saya melihat kamu, di layar kaca tengah rumah. Kamu mantap berdiri di sana, di MTV allaihissalam. Baik-baik sajakah kamu? Ya, kamu si indo ceria yang keren banget jika duet dengan Jamie.

Kamu datang lagi hari ini dengan keglamoran seorang model catwalk. Dan kamu menjadi duta bagi mal Senayan City yang akan dibuka akhir bulan ini. Menambah satu lagi biara Smith-ian di Jakarta. Ya, ya, kamu memang cantik dan masih menarik.

Tapi maafkan saya, Nadya. Saya bukan lagi anak SMP yang terpesona dengan mantapnya cara kamu berdiri. Itu semacam kegenitan tak perlu anak SMP yang jika sekarang saya ingat kembali, selalu saja membuat saya tersenyum.

Saya, Nadya, tidak akan menjadi lebih senang belanja seperti doa yang kamu panjatkan itu. Ada berapa banyak doa-doa kamu yang tak terkabul, Nadya?

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan mati jika tak menginjakkan kaki di mal-mal gemerlap itu.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia mati jika tak makan, namun manusia tidak mati jika tak memakai benetton.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan kesepian jika tidak menonton MTV seharian, tapi manusia akan kesepian jika interaksi personal dengan orang-orang terdekat tereduksi menjadi interaksi atas nama properti dan ekonomi.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu saya lebih senang diterima apa adanya saya dan bukan diterima lantaran saya mengendarai mobil seri terbaru keluaran Honda Coorporation.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu sesungguhnya begitu banyak yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini. Benar-benar tidak kita butuhkan.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu gizi yang baik, makanan yang murah, dan tempat makan yang hangat bukan cuma disediakan gerai-gerai fastfood yang buka 'kapan saja di mana saja', tapi juga di rumah makan-rumah makan kecil yang dikelola dengan penuh suka cita oleh sebuah keluarga kecil demi menjaga kelangsungan hidupnya.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu bermain di lapangan bisa menjadi lebih asyik dan seru ketimbang harus bermain di bowling center setelah sebelumnya menghabiskan sekian rupiah demi segelas kopi dan sekantung harga diri di starbucks.

Satu lagi doa kamu tak terkabul, Nadya. Saya tak akan menjadi lebih senang belanja. Karena yang kalian tawarkan tak lebih dari apa-apa yang sesungguhnya telah kalian curi dari saya: kehidupan saya sendiri!

2 comments:

Anonymous said...

hehehe.
kamu bicarakan apa yang baru saya pikirkan, kemudian kamu pikirkan apa yang sudah saya bicarakan. tidak pernah jadi soal siapa yang lebih dulu membicarakan dan memikirkannya, bukan? :)
ternyata kita memikirkan dan membicarakan hal yang sama. entah kenapa, mungkin kita tiba di dunia ini untuk satu alasan yang sama. :)

NB. kenapa menanyakan nama asli saya, Imam?

ciplok said...

saya selalu suka membaca tulisan kalian berdua [cupu dan kamu]