Pada Suatu Sore
Semuanya menjadi begitu mudah. Lebih mudah. Udara lapang, jalanan lengang, orang lalu-lalang. Anak-anak tersisir rapi selepas mandi yang serupa tamasya. Serangga. Daun kering. Cangkir kopi. Debu di atas meja. Sore ini semuanya terasa berbeda.
Di barat langit mulai memerah. Sebuah provokasi untuk hati jadi lebih ramah. Ah. Ini berbeda. Begitu mudah dan lumrah. Begitu ramah dan merah. Seperti bayi. Seperti pipi. Seperti bunga lili.
Membuat satu-satu kenangan muncul.
Di sore hari waktu kecil dulu.
Kau baru saja terluka. Ada darah mengalir keluar dari tubuhmu. Kau menangis kecil tak henti. Memegangi baju ibumu yang sibuk mengobati lukamu. Kakakmu hanya diam menunggu seraya mengisyaratkan rasa khawatir. Kau merasa ia juga ingin menangis. Lalu ibumu membawamu ke beranda, menyuruhmu duduk dengan tenang dan nyaman. Ibumu kembali masuk menuju dapur dan kembali dengan membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup panas. Tangismu telah terhenti. Ibumu menyuapimu. Satu sendok. Dua sendok. Dari matanya kau melihat kasih. Dari dadanya kau mendengar cinta. Kau membaik dan merasa hangat. Ibumu melepasmu bermain lagi. Ia katakan berhati-hatilah. Dan kau melihat kakakmu menjagamu di tanah lapang.
Di sore hari di sekolah dasar.
Kau jemu upacara sabtu sore. Kau ingin pergi namun tak bisa. Teman-temanmu pun begitu. Kau bosan. Kau letih. Kau ingin terus bermain dan bermain. Sampai doa telah selesai dipanjatkan dan upacara kemudian dibubarkan, kau berlari. Kencang. Mengambil tas sekolahmu dan sepedamu. Kau bermain-main lagi dengan teman-temanmu. Kau membawa kelereng. Satu plastik kecil dalam genggaman, satu plastik besar tersembunyi dalam tas. Kau memasang taruhan kelereng. Kau menang, kau tertawa senang. Kau kalah, kau tertawa riang. Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu. Sampai gelap benar-benar datang dan kau harus pulang.
Di sore hari di sekolah menengah pertama.
Kau menghindari teman-temanmu sendiri. Teman-temanmu yang mulai terbiasa memasukkan narkotika ke tubuh mereka. Tapi kau tetap berteman baik dengan mereka. Bersenda gurau bersama, menggoda wanita bersama, berolah raga bersama. Kau menghindari mereka hanya ketika kau tahu mereka akan pergi menuju dunia yang mereka ciptakan bersama narkotika. Teman-temanmu tak memusuhimu. Sebagaimana kau mengerti mereka, mereka mengerti dirimu. Dan kau tahu, di suatu sore kau akan kehilangan mereka. Satu-satu. Drop-out. Over dosis. Keluar dari rumah. Tak sekolah lagi. Ke luar kota. Entah ada di mana. Kau menyesalinya.
Di sore hari di sekolah menengah umum.
Kau terkejut. Kaca jendela kelasmu pecah. Lalu sebuah bola jatuh di tengah meja yang sedang kau pakai bermain domino bersama teman-temanmu. Segalanya menjadi begitu kisruh. Kartu-kartu tak lagi rapi tersusun. Pecahan kaca berserakan. Tak ada yang terluka, tapi cukup membuat seisi kelas panik. Sore itu guru seperti biasa tak datang. Lalu kelas tertawa. Tak ada yang saling menyalahkan, hanya tertawa. Tertawa-tawa. Guru kelas tetangga kemudian datang, bertanya ada apa dan mengapa bisa terjadi. Sampai kemudian terdengar bel tanda usai jam sekolah. Save by the bell!
Kau bermain. Terus bermain. Bersenang-senang dengan teman-temanmu. Saat berangkat sekolah, saat belajar di kelas, saat pulang sekolah. Dan semuanya muncul sore ini. Berkelebatan.
Kau merasa seperti melihat kunang-kunang. Kunang-kunang terbang saat malam melayang di langit mengawang. Merah kuning hijau biru ungu. Lalu kau ingat bunga-bunga.
Kau mengingat kekasihmu.
Kekasihmu. Si pipi bunga lili. Si mawar kenanga melati. Di tempat jauh. Di luar kota. Kau mengingatnya dan ingin menyentuhnya. Kau mereka wajahnya yang tersenyum, siswa teladan sekolah dasarmu dulu, si gadis pengoleksi perangko. Kau tahu betapa dungu hanya diam menunggu. Tapi kau tak kuasa untuk mengemas pakaian dan buku-buku untuk gegas ke barat. Menghirup udara jalanan di kotanya, melihat pohon-pohon rambutan, tersenyum menyeberang jalan, membuka pagar depan tempat tinggalnya, menyapa kawan-kawannya, mengetuk pintu kamarnya, menatap matanya dan melempar senyum tak henti.
Kau ingin tertawa karena kau mengingat saat di mana kau tertawa dengannya. Kau ingin tersenyum karena kau tak bisa melupakan saat di mana kau tersenyum dengannya. Kau ingin menangis karena kau sadar mengapa malam begitu lekas.
Kau merasakan cinta.
Bukan yang pertama, tapi kau tahu bedanya. Kau ingin menyentuhnya, kekasih bunga lilimu itu. Melepas sebuah kalimat, sebuah tatap mata, sebuah impresi dari dalam hati. Kau ingin mengalirkannya seperti dulu kau melihat empat air terjun. Begitu pasti, begitu rendah hati. Air yang jatuh menyentuh daun-daun kecil dari tumbuhan-tumbuhan kecil tanpa hasrat mencabutnya dari tanah tempatnya tertanam. Hanya menyentuhnya dan membasahinya. Bahasa-bahasa alam yang kau kagumi. Kau ingin menghembuskannya seperti dulu kau merasakan semilir di suatu pesisir. Angin-angin tak berwarna namun bermakna. Angin-angin tak bernama namun penuh irama. Angin-angin yang tak kau ketahui asalnya namun kau rasakan kehadirannya.
Sebuah sore yang cerah. Kau melamun. Melamun lagi. Sendiri dengan gelas kopi. Tergenang. Terkenang.
Hingga kau tersadar bahwa segala sesuatu selalu ada akhirnya. Selayak penyanyi solo selepas lagu terakhir, kau tersenyum ringkas, kau katakan, ''seandainya hidup hanya ada sore.''
5 comments:
bukankah kita menyadari kalau sore itu ada ketika ada juga pagi, siang, dan malam? :)
mam...
cerita di sore hari dari waktu kecil sampe smu, semuanya tentang bermain, ya. kapan nih belajarnya. hihihi :)
cie..penjajakan draft novel ni ye...ke orang-orang...
percayalah sodara-sodara sekalian, kita tunggu saja saat bung imam ini meluncurkan novelnya, kita semua pasti tersenyum-senyum minta tanda tangan pada cover bukunya..
sukses ya, kawan baik ku yang teramat baik... saya senang jika kamu meraih mimpi.
salah. ini bukan draft novel. memang siapa yang sedang menyusun novel?
lagian ini juga bukan fiksi ;p
Post a Comment