23.5.06

Karena Semuanya Memang Bisa Terjadi

Tiba-tiba saja kamu tak mengerti apa-apa lagi.

Kamu mengira kamu telah mengetahui segalanya. Kamu merunut-runut semua yang ada di kepalamu, seribu macam persimpangan rumit yang telah kamu lewati. Kamu begitu yakin, begitu yakin dan pasti dan percaya diri. Kamu memilih. Dan ternyata kamu salah. Salah memilih dan salah merunut. Kamu kecewa.

Kamu mengira kamu telah tepat berada di jalan ini. Kamu melangkah dengan begitu riangnya. Begitu ringan dan begitu lapang. Kamu melompat-lompat kecil. Dari bibirmu, senandung siul terdengar lepas. Sampai sebuah batu menghalangi langkahmu. Kamu terjatuh. Terluka. Ingin menangis namun tak tahu apakah pantas. Kamu salah memilih jalan. Kamu tahu itu, kamu salah mengambil langkah.

Kamu mengira kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Kamu begitu bersungguh-sungguh. Kamu mengorbankan hal-hal remeh di sekitarmu. Kamu katakan, 'inilah hidup, selalu seperti masa kecil dulu, bermain-main bersuka cita bersenda-gurau, selalu bikin lupa waktu lupa diri.' Sampai kemudian kamu tersesat. Tak punya lagi teman bermain yang satu-persatu telah tumbuh dan melesat: menjadi bintang, menjadi hijau daun, menjadi embun pagi, menjadi matahari, menjadi segala. Sedang kamu merasa sepi di tanah lapang itu. Kamu menyesal untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu merasa telah melakukan kesalahan tak perlu.

Kamu mengira kamu telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Kamu merasa puas dan berbangga hati. Di tepi jalan, kamu memperlihatkan pekerjaanmu itu. Kepalamu menantang udara. Tanganmu terkepal. Matamu berbinar. Kamu percaya bahwa kamu telah menemukan diri kamu sendiri. Hingga pada suatu sore di ujung jalan, kamu mendapati diri kamu bukan apa-apa. Seseorang, tak terlihat, tak masuk hitungan, tak menantang udara, membawa pekerjaannya dengan rendah hati. Dan kamu tahu belaka, seseorang itu bekerja dengan hasil yang hanya pantas diletakkan di langit sementara hasil kerjamu cuma pantas diletakkan di kamarmu sendiri.


Kamu mencari. Dan terus mencari.

Kamu merasa tak memiliki apa-apa kecuali kekalahan demi kekalahan. Kamu menghimpun kekuatan, menyusuri setiap lanskap, menggumam-gumam bahwa kamu hanya pantas untuk sebuah kemenangan dan bukan kekalahan. Kamu merasa semuanya adalah lawan tandingmu. Kamu mencurigai mereka. Kamu berkata, 'kau. atau aku. itu saja!' Dan yang kamu temui ternyata adalah melulu mereka yang selalu saja ada di saat kamu membutuhkan mereka. Yang selalu saja kamu jumpai adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kamu terjatuh dulu. Adalah mereka yang menunggumu saat kamu tertinggal di belakang. Adalah mereka yang selalu saja tak pernah letih mendengarkan kamu, tak pernah bosan memperhatikan hasil kerjamu dan memberi pujian kebanggaan, tak pernah jemu menyemangatimu saat kamu rapuh. Mereka yang ada dan selalu ada.

Kamu membuat peta perjalanan penaklukan. Kamu mengumpulkan bekal-bekal perjalanan terjauh. Kamu berkata, 'selamat tinggal. lihatlah, aku menaklukkan dunia!' Dan lalu kamu pergi. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kamu meninggalkan rumahmu, meninggalkan jalinan-jalinan kasih: yang melahirkanmu, yang mengasuhmu, yang menjadi teman bermainmu, yang menjadi teman sekolahmu, teman mimpimu, temanmu saat melompati pagar sekolah, temanmu saat mencuri mangga, temanmu saat menangis, saat tertawa, saat memiliki segala, saat tak memiliki segala. Kamu melupakan dan meninggalkan mereka. Sampai suatu sore kamu pulang, begitu letih, begitu mencemaskan. Tak satupun yang kamu temui. Tak satupun yang kamu taklukkan. Kamu marah dan bersedih dan terluka dan berputus asa. Tapi mereka, yang telah kamu tinggalkan dan lupakan, beramai-ramai menjengukmu. Memelukmu dan menangis untukmu. Merawatmu dan berkata, 'tenanglah. kami menjagamu. kami menjagamu. kami menjagamu.'


Selalu seperti itu. Kamu benar-benar menjadi tak mengerti apa-apa lagi. Semuanya terjadi dan memang bisa terjadi. Cuma itu yang kamu pahami. Kamu selalu kembali menangis. Kamu selalu kembali menyesal. Kamu selalu kembali merutuk-rutuk. Tapi kamu selalu kembali salah. Salah merunut-runut, salah mengambil langkah, salah memilih jalan, salah membaca peta, salah membawa bekal, salah, salah, salah.

Sampai di suatu malam, kamu teringat sesuatu. Dan kamu merasa inilah akar segala yang kamu alami. Kamu teringat sesuatu, dan kamu menyesalinya dengan sangat. Mengapa ingatan ini datang terlambat? Kamu teringat sesuatu, sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele.

Kamu teringat sesuatu: selama ini kamu melupakan sebuah puisi!

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

(1992)

No comments: