Kehilangan
Senja telah jauh, udara dingin mencuri masuk dari sela-sela jendela tak berkaca, pintu tak rapat. Dua orang teman memilih pergi demi pertandingan sepakbola. Saya sendiri. Dan tiba-tiba kamar ini mengingatkan saya pada sekian rentetan kehilangan.
Entah apa sebab, kehilangan terasa akrab di hidup saya. Benda-benda, nama-nama, waktu-waktu, kesempatan-kesempatan. Pernah ada, lalu raib.
Saya tiba-tiba teringat gitar kesayangan saya. Gitar hadiah ayah saya saat saya sekolah dulu. Keinginan bermain gitar begitu menggebu dalam diri saya, membuat saya membeli sebuah gitar rusak milik kawan saya dengan harga lima ribu rupiah. Tabungnya telah kacau, lepas dan mengakibatkan gitar itu tak pernah bisa mengeluarkan suara sebagaimana gitar harusnya bersuara. Saya lalu membeli lem kayu, dempul, dan amplas. Dalam beberapa hari, gitar rusak itu berubah menjadi gitar dengan penuh dempulan. Bisa bersuara, tapi tak terlalu bagus. Saya belajar memainkan gitar. Sampai suatu hari, tak lama setelah masa gitar dempulan itu, ayah saya mengajak saya pergi ke toko buku dan menyuruh saya memilih sebuah gitar baru. Itu sore yang indah dan sulit untuk saya lupakan. Sore itu saya punya gitar baru, YAMAHA C-310. Dawainya berbahan nylon, lembut disentuh oleh jari. Suaranya, catnya, begitu nyaman didengar dan dilihat. Malamnya saya belajar menyetem gitar sendiri, dan bisa. Sejak malam itu, hingga malam-malam berikutnya, saya punya teman pengantar tidur: gitar. Beberapa lagu saya pelajari. Lambat laun, saya mulai menciptakan lagu, membuat liriknya, mengkhayalkan aransemennya, dan memberi tahu kawan-kawan saya. Jika sempat, saya dan kawan-kawan saya memainkannya dalam studio band sewaan.
Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, sebelum tidur, setelah bangun tidur, saat tak bisa tidur, saya kerap memetik gitar saya. Saya begitu disiplin dengan gitar itu: saya akan membersihkannya dengan lap bersih secara berkala dan saya tak akan menyentuh gitar saya itu setelah saya memegang makanan dan belum membersihkan tangan saya.
Hingga kemudian saya harus pergi ke luar kota demi bangku universitas. Gitar itu saya bawa dan tetap menjadi teman tidur saya yang setia. Di suatu hari minggu yang ramai, beberapa kawan yang menggelar aksi simpatik di tengah pasar, membawa gitar saya sebagai properti aksi. Mereka bernyanyi-nyanyi dan berorasi seraya membagi-bagikan selebaran. Itulah untuk pertama kalinya gitar saya punya luka di badannya. Luka kecil, tapi cukup membuat saya bersedih.
Lalu pernah juga saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan ber-camping. Kami naik ke dataran tinggi Bandung Selatan. Camping tanpa tenda. Udara dingin dan gerimis turun. Gitar itu sedikit basah dan bersuara parau. Sepulangnya, saya sibuk merawat gitar saya, menjemurnya di bawah matahari pagi, memasukkan kapur barus agar jamur tak tumbuh. Gitar itu kembali bugar.
Dan yang tak terlupakan adalah saat hujan turun begitu lebatnya dan saya tertidur di suatu siang. Kamar kost saya bocor tanpa saya ketahui. Sialnya, tetesan bocor itu jatuh tepat ke dalam lubang gitar saya. Bukan tetesan kecil, tapi tetesan deras. Gitar saya berubah menjadi wadah penampung air bocor. Saya sedih dan kesal.
Namun begitu, kenyataannya gitar itu masihlah gitar yang mampu mengeluarkan suara bagus. Seorang kawan pernah bertanya heran mengapa gitar saya masih saja bersuara bagus padahal usianya telah sepuluh tahun.
Sampai beberapa waktu lalu, di sebuah pagi yang tanpa firasat, seorang tetangga saya bercerita bahwa semalam ada pencuri yang masuk ke tempat tinggal saya dan kawan-kawan saya. Pencuri itu membuang barang curiannya berupa tas saat terlihat oleh tetangga saya itu dan lalu berlari. Tas itu milik kawan saya. Isinya utuh, buku-buku. Mungkin pencuri itu tak terlalu suka membaca. Saya cuma berkata, untunglah tak ada yang hilang. Beranjak siang, seorang teman saya yang baru datang hendak meminjam gitar saya. Pada saat itulah saya baru tersadar, gitar saya digondol pencuri malam tadi.
Saya kesal, tapi cuma bisa tertawa. Saya sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saya marah, tapi malah bertanya buat apa?
Itu salah satu kehilangan yang menyakitkan. Dua (atau tiga) pasang sepatu saya, entah berapa pasang sandal, sekian buku, belasan kaset, pakaian, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, pernah hilang dari hidup saya. Tapi kehilangan satu saja gitar, sudah cukup membuat sedih.
Di sore hari, di malam hari, terkadang saya merindukan gitar saya itu.
Dan dua malam lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk terlambat ke ponsel saya. Dari kawan baik saya. Isinya:
'temen2 bisa tlg beliin pulsa skrg ga ke nmrku ntar d ganti. mohon bgt yg 20 aja. arip bru kena musibah, kehilangan motor. doain ya mdh2 an bisa ketemu lagi.'
(23:38 arip pum).
Demi apapun, ada apa ini?! Minggu ini seorang kawan saya telah kehilangan kekasihnya, dan kini seorang kawan lagi kehilangan motornya!
No comments:
Post a Comment