satu dari blog b' ivan:
Thursday, February 06, 2003
Buku
"Gila Ah. Apa gak ada hadiah lain?"
"Kenapa mesti buku sih, kan bisa aja kasih hadiah lain. Mobil kek, berlian kek, atau rumah BTN. Kenapa mesti buku? Memangnya Putri bakalan suka kalo dikasih buku?" tanya Gilang bertubi-tubi. Mukanya seperti orang heran.
"Cari hadiah lainlah. Gak usah buku."
"Bukan apa-apa Fan, hadiah perkawinan itu harus yang berharga, yang bernilai. Jadi, jangan sembarangan. Nanti, apa kata keluarganya Putri. Masak Ivan hanya ngasih buku? Inikan hadiah perkawinan, bukan kado ulang tahun." Gilang terus nyerocos. Nada tak setuju begitu terasa. Mendengar itu, saya hanya terdiam, meski berusaha untuk tetap tersenyum di depannya.
Gilang adalah orang keenam yang saya tanya soal ini. Sebelumnya, ada Agung, Lia, Nuke, Ari, dan Dika. Semuanya tidak setuju kalau saya memberi buku ke Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Jangan ngaco ah," kata Nuke, sambil tertawa.
"Sudahlah Van, jangan seperti orang linglung gitu. Apa perlu saya belikan tiket pesawat ke Bali untuk kalian berbulan madu. Nanti, bilang saja ke Putri, kalau tiket itu sebagai hadiah perkawinan dari kamu. Beres kan? Nuke benar-benar tidak memahami rencana saya.
Hanya Sinta yang sedikit memuji rencana saya. "Smart idea," katanya, datar. Tapi, kenapa harus buku sih?
Lho...?
Hari pernikahan semakin dekat, tinggal 30 hari lagi. Panitia juga sudah dibentuk. Setiap hari bapak mengecek segala persiapan. Dari tenda, pelaminan, undangan, cattering, hingga transportasi ke rumah Putri saat hari H. Dia tidak mau ada yang tertinggal. Apalagi, bapak mengundang kawan-kawannya untuk resepsi itu. Ada anggota DPR, pejabat pemerintahan, penegak hukum, dan rekan-rekan organisasinya. "Pokoknya, semua harus beres. Uang tidak usah dipikirkan," kata bapak. Maklumlah, ini adalah pertama kali bapak menikahkan anaknya. Itulah sebab, setelah pernikahan di tempat Putri, dia akan mengadakan resepsi di gedung dekat rumah.
Imam dan Iman, dua adik saya yang kuliah di Bandung dan Yogya juga sudah datang ke rumah. Biasanya mereka paling malas bila disuruh pulang ke rumah, kecuali jika Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat respons Imam ketika diberitahu bahwa abangnya akan menikah. "HAH, menikah...serius bang... Ahamdulillah....akhirnya menikah juga...he..he..he.." begitu ledeknya. Nah, gitu dong berani. Kan enak kalau sudah menikah, ada yang mengurus abang...he..he..he...
Waktu terus bergulir. Waktu membeli buku juga semakin sedikit. Tapi, keinginan membeli buku itu buat Putri semakin kuat. "Ya, saya harus membelikannya. Ini buka bagus. Putri pasti suka". Buku yang saya maksud adalah seri Dimata (Pribadi Manusia Hatta). Buku soal Bung Hatta, yang terdiri 489 kisah dalam 12 seri. Penulisnya ada 86 orang yang memiliki kedekatan dengan Bung Hatta dalam berbagai peran dan kesempatan.
Saya pernah membacanya. Bagus. Apalagi, ditulis dengan gaya cerita pendek sehingga cocok menjadi bacaan segala usia. Di sana ditulis secara utuh keistimewaan dan keunikan pribadi Bung Hatta yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Pembaca akan menemukan kisah tawa, kekaguman, dan keharuan di dalamnya. Tapi buat saya, yang paling penting dari buku itu adalah Bung Hatta mengajarkan kepada kita sikap santun, jujur, dan hemat. Karena itu, saya bernafsu memberikan buku ini kepada Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Tapi Van, belum tentu Putri suka. Bagaimana kalau dia gak suka? Mubazir kan," kata Sinta, ragu.
Rumah mulai ramai. Keluarga mama dari Pontianak mulai berdatangan. Tante Erma datang bersama Fela dan Roy, dua anaknya. Om Buyung beserta Tante Rita, istrinya. Tak ketinggalan adik mama paling bungsu, Om Zul yang datang bersama anak lelakinya, Dio. "Tante Wati tak bisa ikut Van. Dia kirim salam," kata Om Zul ketika saya tanya kenapa istrinya tak ikut ke Jakarta. Saya maklum, Tante Wati mungkin masih repot mengurus anaknya yang baru lahir dua bulan lalu.
Senang rasanya melihat keluarga besar berkumpul. Ada saja cerita-cerita lucu di setiap pembicaraan. Maklumlah, sudah lebih dari lima tahun kami tak berjumpa. Apalagi, mereka datang untuk acara pernikahan saya. Rumah di Bekasi terlihat sesak. Semua ruangan terlihat penuh. Padahal, biasanya, hanya ada saya, bapak, dan mamah di rumah. Cuma bertiga. Sedangkan si Ulfi dan Iman di Yogya. Imam di Bandung. Mereka berjuang menyelesaikan kuliahnya.
Pernikahan tinggal 15 hari lagi. Saya seperti menghitung waktu secara mundur. 15..14..13..12..10..7..3..Ups, buku Bung Hatta belum juga terbeli. Ada juga keinginan bertanya kepada Putri, "apakah dia suka buku itu? Tapi, nanti tidak supraise lagi. Gak seru ah.
Sebaiknya saya tetap membeli buku itu. Peduli, Putri suka atau tidak. Bukankah buku ini bagus? Bukankah sikap Bung Hatta patut diteladani?
Gerimis turun di Bekasi sore ini. Langit begitu pekat. Sesekali kilat menyambar. Tapi, saya memaksakan diri keluar rumah. Saya ingin membelikan buku buat Putri. Ya, buku hadiah perkawinan, yang sudah lama saya idam-idamkan. Pokoknya, kali ini tak boleh tertunda. Waktu tinggal sedikit, 12 hari lagi. Ibunya Putri juga sudah berulang kali mengingatkan soal waktu. "Van, jangan sering-sering keluar rumah. Istirahat saja, biar nanti tidak sakit. Pernikahan sebentar lagi loh," katanya di ujung telepon semalam.
Saya terus berjalan. Berkejaran dengan gerimis di sore hari. Ini adalah keempat kali saya melompat, menghidari genangan air di jalan. Sejumlah orang yang tengah berteduh di teras rumah terus memperhatikan. Saya tidak peduli. Terus berjalan. Melewati gang sempit di perumahan dan tanah becek. Saya terus berlari. Berkejaran dengan gerimis.
Tepat pukul 17.12 WIB, tiba di pelataran Metropolitan Mal Bekasi, dengan baju setengah kuyup. Gerimis juga membasahi rambut. Kusam. Saya berhenti sejenak untuk menyeka baju dan peluh. Setelah yakin kering, saya melangkah pasti ke dalam mal. Dua cewek manis di dekat lobi tersenyum. Sambil berbisik, mata mereka tak lepas ke baju dan celana saya. Saya tahu, pakaian dan celana belum kering benar. Kuyup masih terlihat jelas.
Ah, peduli amat. Saya terus melangkah menuju tangga jalan. Toko Buku Gramedia berada di lantai tiga. Beberapa orang yang ada di tangga jalan berusaha menghindar, ketika saya ada di sampingnya. Mereka (mungkin) takut basah. Atau juga takut kotor, karena sendal saya sudah bercampur lumpur.
Satpam di depan Gramedia bingung melihat saya. Ia menyuruh saya membersihkan sendal di keset. Saya ikuti saja maunya. Toh, bukankah buku sudah di depan mata? Putri pasti senang membaca buku itu.
Perlahan, saya kelilingi rak-rak buku di toko itu. Dari rak buku yang bertulisan laris hingga ke rak buku politik.
"Kok, tidak ada".
Saya penasaran. Kembali mengelilingi rak-rak buku. Satu-persatu judul buku saya baca. Tetap saja tidak ada.
"Tidak mungkin. Dua bulan lalu masih ada".
Saya hampiri seorang pramuniaga. Saya ceritakan dengan jelas buku yang dicari. Dia mengerti, dan ikut mencari. Tapi tetap tidak ada. Uhh..
Dia mengajak saya menuju sebuah komputer. "Ini bisa membantu," katanya. Ide bagus. Saya ucapkan sekali lagi judul buku itu. Dengan lugas, ia ketik judul buku dan penerbitnya. Saya menunggu sambil berdebar. Tapi, kok, gak ada juga?
Dia kembali memasukkan kata Bung Hatta. Keluar beberapa judul buku; Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, Memoir (autobiografi Hatta), Bung Hatta : Demokrasi Kita, Mendayung antara Dua Karang, Ekonomi Masa Depan; Alam Pikiran Yunani, dan Bung Hatta’s Words of Wisdom, dan Mengenang Bung Hatta. Tapi, buku Seri Dimata tetap tidak ada.
Seseorang karyawan Gramedia ikut membantu (entahlah, mungkin dia supervisor). "Oh, kalau buku itu sudah tidak ada lagi. Sudah ditarik minggu kemarin," katanya. Lemas rasanya mendengar penjelasan itu. Darah seperti berhenti mengalir.
Dengan langkah gontai, saya keluar dari toko itu. Pikiran terus menerawang. Baju di badan masih basah. Jejak sendal becek meninggalkan bekas kotor di lantai mal. Juga menyisakan sorot mata para pengunjung.
"Oh iya, kenapa tidak ke Hero. Kan di sana ada Gunung Agung." Pertokoan Hero berseberangan dengan Metropolitan Mal. Kedua bangunan ini hanya dibatasi jalan dan Kali Malang. Saya seperti menemukan semangat baru. Setengah berlari menuju lantai satu. Sial, gerimis belum juga berhenti. Saya nekat. Kembali berlari. Berkejaran dengan gerimis lagi.
Setelah mengubek-ubek toko, buku itu tetap tidak ada. Saya benar-benar lemas. Putus sudah harapan membelikan buku untuk Putri. Rasa capai membuat saya memilih duduk di depan pertokoan Hero. Gerimis mulai berhenti. Pelangi bersinar terang. Sebuah rokok saya nyalakan. Asapnya menembus udara sore. Dingin.
***
Jodoh, rezeki, dan maut memang sudah diatur sama yang Maha Kuasa. Di tengah lamunan di sore itu, tiba-tiba melintas seorang bapak bersama anak gadisnya. Mereka baru keluar dari toko. Yang tak terduga itu, sang bapak menenteng sejumlah bungkusan. Satu di antaranya adalah kantong buku Seri Dimata. Mata saya hampir keluar melihatnya. Tanpa banyak membuang waktu, saya kejar bapak itu. Mereka berdua kebingungan ketika saya hadang. Dia pikir, mungkin saya pemalak yang biasa meminta uang secara paksa.
"Pak, apa itu buku Bung Hatta?" tanya saya sambil menunjuk sebuah kantong plastik.
"Iya, kenapa?"
"Boleh saya membelinya"
"Ini tidak dijual"
"Saya memerlukannya, Pak. Penting"
"Maaf Dik, ini tidak dijual"
Saya tahu harga buku itu, Rp 150 ribu. Sebelum bapak itu pergi, saya langsung mengeluarkan uang dari dompet dan langsung menyerahkan kepadanya.
"Ini Pak, saya serius ingin membelinya"
"Dik, saya tak menjualnya. Saya juga perlu buku ini". Kesabarannya mulai hilang.
"Begini Pak, bagaimana kalau saya tambah menjadi Rp 170 ribu"
Bapak itu tak menghiraukan saya. Ia memilih menghindar, dan berusaha pergi dari hadapan saya.
"Pak...pak..."
Akhirnya, dengan muka memelas dan penuh harap, saya ceritakan alasan saya memiliki buku itu.
Sang bapak mendengarkan dengan seksama. Tapi, dia tetap enggan melepaskannya.
"Ya, sudah pak. Ini uang saya. Ambilah semuanya." Saya menyodorkan uang Rp 200 ribu. Satu lembar Rp 100 ribu dan dua lembar Rp 50 ribu. Saya benar-benar tak punya yang lagi. Habis.
Lama juga dia terdiam. Entah kasihan, atau karena harganya lebih mahal dari toko, buku itu dilepaskan juga. Ia mengambil uang Rp 200 ribu itu. Saya sudah tak peduli, yang penting bisa mendapatkan buku itu. Dengan langkah riang, saya melangkah pulang. Pelangi benar-benar bersinar terang.
Besok adalah hari pernikahan. Setiap malam saya selalu membaca buku itu di kamar. Selalu begitu, seperti tak pernah bosan. Di malam ini, saya pun masih membacanya. Bung Hatta begitu dekat di hati. "Putri pasti suka," batin saya.
***
"Saya terima nikahnya Jatnika Putri Bungsu dengan mas kaw...." Sayup-sayup terdengar isak tangis. Putri menangis. Haru. Prosesi pernikahan selalu meninggalkan kesan. Di ujung acara, setelah doa nikah ditambatkan, bapak mengambil mikrofon. Suaranya memecahkan keheningan masjid.
"Sebelumnya, saya mohon maaf. Anak saya, Ivan, ingin memberikan sebuah hadiah perkawinan buat istrinya. Saya harap, Putri mau menerimanya. Hayo Van." Bapak tersenyum. Saya juga. Matanya memandang ke arah saya. Semua yang hadir juga begitu.
Saya melirik ke arah mama. "Mana bukunya...?" Mama menggeleng. Bingung. Saya panik.
"Ma, mana bukunya?"
"Loh, bukannya kamu yang menyimpannya"
Ya, Allah...buku itu masih tersimpan di kamar. Di ujung tempat tidur. Tidak terbawa dan tak ada yang membawanya. Bung Hatta tertinggal sendiri di kamar sepi.
Dia lagi-lagi sendiri. Sunyi.
Bekasi, gerimis di sore Januari.
:: Ulfan :: 9:16 AM
No comments:
Post a Comment