14.2.04

Ular-ular dalam Rumah

Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002

No comments: