18.6.08
Quote of the Day
"Aku tidak sependapat denganmu, tapi aku bela mati-matian hakmu untuk bebas berbicara mengeluarkan pendapat." (voltaire)
18.5.08
Dekat di Batinku

Kamu datang sebagaimana yang telah dijanjikan. Senja itu. Menjadi satu senja lagi yang cukup buram untukku, kesekian kalinya dalam paruh awal tahun ini. Kamu datang senja tadi bersama setumpuk buku milikku yang kamu pinjam. Kamu mengembalikannya, seperti hendak menyelesaikan sesuatu.
Akan ke manakah angin melayang
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tatkala turun senja yang buram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut rindu tertahan
Tak banyak aku menatapmu, kecuali sesekali setelah berupaya bertahan terus-menerus melihat layar monitor. Di sampingku, senja itu, kamu bercerita tentang senja yang lainnya. Yang entah dengan siapa kamu saksikan. Merah, katamu. Sangat merah. Merah dan indah.
Aku tahu. Telah banyak yang sudah terjadi, akan banyak yang belum terjadi. Dan senja tadi seperti sebuah titik di mana kedua ujungnya bertemu, yang sudah dan yang belum. Bertemu untuk kemudian berjalan saling menjauhi hingga akhirnya kita sadari, kemungkinan paling besarnya adalah tak akan pernah terjadi apa-apa lagi. Tak akan ada lagi yang sudah atau yang belum. Cuma ada kosong.
Datanglah engkau, berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah seluruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Selalu saja seperti terlambat aku sadari kalau hidup senantiasa begini. Berjalan dan bergerak tanpa menyisakan banyak pilihan. Selalu saja seperti bebal untuk kupahami bahwa tak semua senja hadir untukku. Hingga gelap datang dan kamu pulang, sempat aku katakan padamu keinginanku mengabadikan fajar di simpang jalan itu. Simpang yang menuntut untuk dipilih. Aku antarkan kamu hingga tepi jalan itu. Kita berpisah. Kau berbalik, aku terdiam. Kupanggil engkau. Namun tetap terdiam.
Sampai di manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran
(Akan Ke Manakah Angin, Emha Ainun Nadjib)
8.5.08
Antropologi
Cari buku, baca reviewnya, dan langsung download. Seandainya semua orang seperti pengelola blog ini (www.undergroundanthropology.wordpress.com). Terima kasih, yah.
Cari buku, baca reviewnya, dan langsung download. Seandainya semua orang seperti pengelola blog ini (www.undergroundanthropology.wordpress.com). Terima kasih, yah.
6.5.08
Media Bersama
India memiliki banyak saluran berita, tetapi sangat sedikit yang merekrut dan melatih tenaga-tenaga jurnalis baru. Umumnya seorang jurnalis ditempatkan di pusat kota negara bagian, padahal beberapa negara bagian India luasnya lebih besar dibanding negara-negara di dunia. Akibatnya, seorang jurnalis yang ditempatkan di pusat kota negara bagian hanya dapat menangani peristiwa-peristiwa utama yang terjadi di sekitar pusat kota negara bagian saja. Namun, dengan hadirnya media warga, kenyataan itu berubah.....
Jadilah Pewarta dari Setiap Kesaksian
India memiliki banyak saluran berita, tetapi sangat sedikit yang merekrut dan melatih tenaga-tenaga jurnalis baru. Umumnya seorang jurnalis ditempatkan di pusat kota negara bagian, padahal beberapa negara bagian India luasnya lebih besar dibanding negara-negara di dunia. Akibatnya, seorang jurnalis yang ditempatkan di pusat kota negara bagian hanya dapat menangani peristiwa-peristiwa utama yang terjadi di sekitar pusat kota negara bagian saja. Namun, dengan hadirnya media warga, kenyataan itu berubah.....
Jadilah Pewarta dari Setiap Kesaksian
30.4.08
13.4.08
17.3.08
Quote of the Day
"Saya punya empat kemenakan yang sekolah di UI ini. Masing-masing pakai mobil. Kok dibilang kita tidak sejahtera?"
(Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI)
(Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI)
5.3.08
Nasib Baru Anggaran Pendidikan Kita
Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memenangkan gugatan Rahmatiah Abbas dan Badriyah Rifai 20 Februari 2008 lalu yang menuntut agar gaji tenaga pengajar dimasukkan ke dalam pos anggaran pendidikan. Abbas seorang pengawas pendidikan di Sulawesi Selatan, sementara Rifai adalah dosen Universitas Hasanuddin Makasar. Ketua MK Jimly Asshiddiqie tetap membacakan langsung vonis kemenangan gugatan tersebut meski tiga dari sembilan hakim konstitusi memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion).Vonis tersebut kiranya layak membuat banyak dari kita gusar. Pasalnya, dengan keputusan itu MK telah membuat sejarah besar soal anggaran pendidikan kita dan bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan bunyi amanat UU Sisdiknas No.20/2003. Dalam UU Sisdiknas Pasal 49 dikatakan bahwa "Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD." (Ayat 1). Kemudian hal ini diperkuat lagi di Ayat 2, "Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam APBN."
Akibatnya bisa diduga. Anggaran pendidikan yang sejak UU Sisdiknas tersebut dikeluarkan belum pernah dipenuhi Pemerintah, hari ini tiba-tiba sudah nyaris terpenuhi. Dengan kata lain, Pemerintah yang selama ini nyaris bisa dibilang inkonstitusional soal anggaran pendidikan, sejak keputusan MK tersebut dapat dikatakan (nyaris) konstitusional.
Coba tengok hitung-hitungan berikut. Sejak tahun 2004 Pemerintah berkomitmen akan serius menjalankan anggaran 20 persen ini dengan cara bertahap selama periode 2004-2009, yakni 6,6 persen, 12,01 persen, 14,68 persen, 17,40 persen, dan akhirnya 20,10 persen. Sebagaimana diketahui, komitmen tersebut tidak sepenuhnya dijalankan. Dalam anggaran 2008 saja pemerintah baru mengalokasikan anggaran pendidikan sekira 12 persen dari keseluruhan APBN. Hal ini tentu masih jauh dari yang diamanatkan konstitusi. Kini, setelah keputusan MK tersebut, angka 12 persen itu tiba-tiba melonjak menjadi 18 persen. Di Jawa Barat, jika menuruti keputusan MK, anggaran pendidikan bahkan sudah melampaui 20 persen. Padahal jika gaji tenaga pengajar tidak dimasukkan, anggaran pendidikan Jawa Barat hanya berkisar 15 persen (Pikiran Rakyat, 25/02).
Indeks Pembangunan Manusia
Pertanyaannya sekarang, sesungguhnya sejauh apa Pemerintah kita memandang penting pendidikan? Di saat negara-negara tetangga sudah menangani pendidikan dengan serius, Pemerintah kita masih agak sukar melapangkan jalan untuk anggaran pendidikan ideal. Padahal sebagaimana tercatat, Indonesia masih tertinggal di dalam kancah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) di antara negara-negara dunia. Indeks Pembangunan Manusia adalah pengukuran perbandingan dari tingkat harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Sebuah konsep yang dikembangan nobelis Amartya Sen dan ekonom Mahbub ul-Haq. PBB memakai ukuran ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara. Pada 2007 Indonesia cuma bisa berada di rangking 108, tak berubah jauh dari dua tahun sebelumnya.
Dari kondisi tersebut, yang semakin membuat miris adalah permintaan Wakil Presiden Jusuf Kalla di depan warga Indonesia di Korea Selatan (24/02) agar masyarakat tidak gampang mencela atau menjelek-jelekkan negara sendiri. Wapres mengatakan bahwa kondisi Indonesia beranjak membaik. Mau bukti? Jusuf Kalla memberi contoh tentang macetnya perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menuju Jakarta. "Itu artinya semakin banyak orang punya mobil," kata Wapres. Sekaligus Wapres juga mengajak untuk memperhatikan listrik yang sering mati. Menurutnya itu, "Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC)." (Kompas, 25/02).
Jika sudah seperti itu, apa yang bisa kita harapkan lagi untuk majunya dunia pendidikan Indonesia? Sepatutnya MK tidak memasukkan gaji guru dan dosen ke dalam pos anggaran pendidikan. Tentu UU Sisdiknas tidak sembarangan ketika mengamanatkan bahwa anggaran pendidikan sejatinya minus gaji guru dan dosen. Kondisi objektif dunia pendidikan Indonesia memang terhitung morat-marit. Nyaris 64 tahun merdeka, dunia pendidikan kita masih kerap diwarnai gedung sekolah yang ambruk atau rusak parah. Belum lagi soal fasilitas-fasilitas pendukung pendidikan yang rasa-rasanya masih sebatas impian bagi banyak peserta didik dan pengajar.
Banyaknya yang memiliki mobil dan pendingin ruangan bukan hal esensial dalam pembentukan bangsa yang beradab.
26.2.08
Jangan Suka Cela Negara Sendiri
Wapres Kunjungi Korea Selatan
KOMPAS Senin, 25 Februari 2008 Seoul, Kompas - Sekali lagi, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengharapkan kepada seluruh bangsa Indonesia agar tidak mudah mencela atau menjelek-jelekkan negaranya sendiri. Ia mengatakan bahwa keadaan ekonomi di Indonesia saat ini semakin membaik.
Menurut Wapres, membaiknya ekonomi ini bisa dilihat kalau kita berjalan dari Bandara Soekarno- Hatta di Cengkareng ke Jakarta yang kini semakin lama waktunya. ”Ini karena semakin macet. Itu artinya semakin banyak orang punya mobil,” katanya.
Ia melanjutkan, kondisi sudah sangat baik sekali. Kalau di Jakarta jalan macet, itu artinya makin banyak mobil di Jakarta. Yang kurang memang ruas jalannya.
Wapres menyatakan hal itu dalam pertemuannya dengan masyarakat Indonesia di Korea Selatan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korsel di Seoul, Minggu (24/2). Wapres didampingi Ny Mufidah Kalla, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dan Dubes RI untuk Korsel Jacob Tobing. Kalla berada di Korsel mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pelantikan presiden ke-17 Korsel, Lee Myung-bak, Senin ini.
Listrik bukan kurang
Selain kemacetan jalan sebagai petunjuk membaiknya perekonomian Indonesia, Kalla juga memberi contoh semakin sering matinya listrik sebagai bukti perekonomian membaik pula. ”Kenapa itu? Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC). Kita terlambat membangun pembangkit tenaga listrik. Seandainya ada yang jual listrik eceran, kita bisa beli,” ujarnya lagi.
Menurut Wapres, saat ini tidak ada jalan lain kecuali harus hemat listrik. ”Jika kita menaikkan tarif listrik, orang marah. Tak ada jalan lain kecuali hemat. Sulitnya, orang tak mau hemat listrik karena murah. Disuruh hemat tidak mau dinaikkan harganya, marah. Akibatnya, ya mati lampu saja,” kata Kalla, disambut suara hadirin yang menggerutu.
Banyak hal yang disampaikan Wapres dalam pertemuan itu. Kemarin adalah hari pertama ia berada di Korsel. Selanjutnya, ia akan berkunjung ke Jepang.
Kalla juga berbicara tentang kemungkinan penggunaan tenaga nuklir yang masih banyak ditentang warga. Kendala lain adalah soal disiplin orang Indonesia. ”Kita masih mudah sembrono atau ceroboh. Ini cukup bahaya,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai pertahanan negara menghadapi berbagai macam tekanan dari negara lain, termasuk dari negara tetangga, Kalla mengatakan, ”Indonesia siap perang atau damai. Tapi kalau bisa, jangan dengan peranglah, damai saja.”
--------
(Speechless, Anda terlalu "special" Tuan Yusuf....)
22.2.08
Sarkas
sar·kas·me n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar
sar·kas·tis a bersifat mengejek; mengandung sarkasme: ia bicara dng nada --
(KBBI online)
Sederhana: kalau cuma sarkas, bukan cuma kamu yang bisa.
sar·kas·me n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar
sar·kas·tis a bersifat mengejek; mengandung sarkasme: ia bicara dng nada --
(KBBI online)
Sederhana: kalau cuma sarkas, bukan cuma kamu yang bisa.
18.2.08
Kunang-Kunang
Sepanjang jalan tol menuju Cileunyi senja tadi, senang sekali. Pengalaman pertama setelah begitu seringnya melintasi tol tersebut: banyak kunang-kunang di tepi jalan. Kerlapkerlip sepanjang jalan. Karnaval. Di pojok bis kota terakhir yang nyaris rontok karena si kondektur yang begitu baiknya menaikkan semua penumpang, semua kebodohan dimaafkan oleh kunang-kunang baik hati.
bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau datang pun tak pergi
riak-riak berlabuh di pantaiku
darahku kian menderu
sadari tak jelas di sana
apakah karenamu?
kau tak nyata pun tak semu
tidakkah cinta berkuasa?
tak mestinya luka menghentikan langkah
bila saatnya, hadapilah
bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau tak datang pun tak pergi
tidakkah bimbang menyiksamu?
masih banyak pulau yang dapat kau temu
sejenak saja, hampiri aku!
berharap kan jelas di sana
hanyalah karenamu
tiap senja di labuhku
menepilah!
menepilah!
menepilah!
(Tiap Senja, Float)
Sepanjang jalan tol menuju Cileunyi senja tadi, senang sekali. Pengalaman pertama setelah begitu seringnya melintasi tol tersebut: banyak kunang-kunang di tepi jalan. Kerlapkerlip sepanjang jalan. Karnaval. Di pojok bis kota terakhir yang nyaris rontok karena si kondektur yang begitu baiknya menaikkan semua penumpang, semua kebodohan dimaafkan oleh kunang-kunang baik hati.
bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau datang pun tak pergi
riak-riak berlabuh di pantaiku
darahku kian menderu
sadari tak jelas di sana
apakah karenamu?
kau tak nyata pun tak semu
tidakkah cinta berkuasa?
tak mestinya luka menghentikan langkah
bila saatnya, hadapilah
bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau tak datang pun tak pergi
tidakkah bimbang menyiksamu?
masih banyak pulau yang dapat kau temu
sejenak saja, hampiri aku!
berharap kan jelas di sana
hanyalah karenamu
tiap senja di labuhku
menepilah!
menepilah!
menepilah!
(Tiap Senja, Float)
6.12.07
Magical Libraries
Al Fayyadl
Perpustakaan-perpustakaan besar di dunia sungguh indah dinikmati. Baik dari segi arsitektural maupun koleksi buku yang disuguhkan di dalamnya, benar-benar memanjakan para pencinta buku yang berkunjung ke sana....
Selengkapnya
Harapan Baru itu Bernama UU Perpustakaan
Imam Hidayah Usman
Barangkali memang kita agak lupa soal perpustakaan. Di antara sekian banyak permasalahan hidup, mulai dari semakin mahalnya harga kebutuhan hidup hingga ancaman global warming, perpustakaan seolah kekal dalam citranya yang selama ini berkembang: ruang sunyi yang kaku di sudut keriuhan dinamika kehidupan....
Selengkapnya
Al Fayyadl
Perpustakaan-perpustakaan besar di dunia sungguh indah dinikmati. Baik dari segi arsitektural maupun koleksi buku yang disuguhkan di dalamnya, benar-benar memanjakan para pencinta buku yang berkunjung ke sana....
Selengkapnya
Harapan Baru itu Bernama UU Perpustakaan
Imam Hidayah Usman
Barangkali memang kita agak lupa soal perpustakaan. Di antara sekian banyak permasalahan hidup, mulai dari semakin mahalnya harga kebutuhan hidup hingga ancaman global warming, perpustakaan seolah kekal dalam citranya yang selama ini berkembang: ruang sunyi yang kaku di sudut keriuhan dinamika kehidupan....
Selengkapnya
5.12.07
Cinta, Kedamaian, Pencerahan
Gede Prama
Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.
Selengkapnya
Gede Prama
Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.
Selengkapnya
Anak Muda
Mohamad Sobary
Anak-anak muda menuntut hak untuk memperoleh giliran memimpin. Sayang tak ada penjelasan mengenai memimpin apa. Sesudah deklarasi yang disiarkan Metro TV malam itu, suasana senyap kembali, seperti tak pernah terjadi apa pun....
Selengkapnya
Kaum Muda
Sukardi Rinakit
...
Jadi keprihatinan pada nasib anak-anak sebangsa itulah yang membuat kami berkumpul, Kang Sobary. Bukan untuk tujuan sempit menuntut hak, apalagi merengek-rengek meminta giliran memimpin (Kompas, 2/12/2007). "Ikrar Kaum Muda Indonesia" yang dikumandangkan 28 Oktober lalu itu ingin mengingatkan kita semua agar taat asas dalam membangun negeri ini....
Selengkapnya
Mohamad Sobary
Anak-anak muda menuntut hak untuk memperoleh giliran memimpin. Sayang tak ada penjelasan mengenai memimpin apa. Sesudah deklarasi yang disiarkan Metro TV malam itu, suasana senyap kembali, seperti tak pernah terjadi apa pun....
Selengkapnya
Kaum Muda
Sukardi Rinakit
...
Jadi keprihatinan pada nasib anak-anak sebangsa itulah yang membuat kami berkumpul, Kang Sobary. Bukan untuk tujuan sempit menuntut hak, apalagi merengek-rengek meminta giliran memimpin (Kompas, 2/12/2007). "Ikrar Kaum Muda Indonesia" yang dikumandangkan 28 Oktober lalu itu ingin mengingatkan kita semua agar taat asas dalam membangun negeri ini....
Selengkapnya
3.11.07
Who More?
Bohong Kalau Ada Orang Jakarta yang Gak Tahu Radio SK
Satu-satunya Radio Humor di Jagad Raya!
Itu iklan yang pernah saya baca tentang Radio SK, 101.6 FM Humor. Dan malam ini seperti mengulang malam-malam tahun-tahun lalu, di mana saya merasa kangen sama radio ini. Radio yang penyiarnya selalu saja memaksa saya untuk terus terjaga sampai radio itu tutup dan mengumandangkan Watching Over You dari ELP sebagai lagu penutup.
Saya terpikiat dengan radio ini. Saya tidak mendengarkan Prambors yang buat saya waktu itu terkesan "kota banget". Di banyak malam, ada kalanya ibu saya mengintip ke dalam kamar saya dan bertanya mengapa saya tertawa-tawa sendiri? Tentu saja jawabannya adalah karena Radio SK. Siapa yang bisa menahan tawa jika Temon Lebar Templar dan Yasser Fikri berdebat soal masalah seputar remaja tiap selasa malam? Di pagi hari, setiap jam sembilan pagi Never Say Goodbye dari Bon Jovi pasti berkumandang setelah Eko Patrio dan Ulfa selesan membawakan program Batavia SK. Banyak, banyak hal yang bikin saya selalu jadi pendengar setia radio ini.
Sampai kemudian berita tentang bubarnya Radio SK membuat saya sedikit marah. Yang saya dengar soalnya adalah keuangan. Ini membuat saya semakin sebal dan keki. Bagaimana bisa, tidakkah SK telah menjadi jembatan bagi humoris-humoris terkenal macam Bagito, Patrio, Eko, Ulfa, Komeng, juga Nugie yang telah memulai karir musiknya? Mengapa mereka tidak urunan uang untuk menjaga SK tetap mengudara?
Malam ini saya kangen Radio SK. Kangen untuk tertawa-tawa sendiri saja di dalam kamar. Iseng, saya coba googling tentang Radio SK. Lumayan hasilnya:
Milis Radio SK
Suara Kejayaan/Senyum Ketawa
Friendster
Stasiun yang Belum Kocak, Entah Nanti....
Duh.... Misi Ah....
Bohong Kalau Ada Orang Jakarta yang Gak Tahu Radio SK
Satu-satunya Radio Humor di Jagad Raya!
Itu iklan yang pernah saya baca tentang Radio SK, 101.6 FM Humor. Dan malam ini seperti mengulang malam-malam tahun-tahun lalu, di mana saya merasa kangen sama radio ini. Radio yang penyiarnya selalu saja memaksa saya untuk terus terjaga sampai radio itu tutup dan mengumandangkan Watching Over You dari ELP sebagai lagu penutup.
Saya terpikiat dengan radio ini. Saya tidak mendengarkan Prambors yang buat saya waktu itu terkesan "kota banget". Di banyak malam, ada kalanya ibu saya mengintip ke dalam kamar saya dan bertanya mengapa saya tertawa-tawa sendiri? Tentu saja jawabannya adalah karena Radio SK. Siapa yang bisa menahan tawa jika Temon Lebar Templar dan Yasser Fikri berdebat soal masalah seputar remaja tiap selasa malam? Di pagi hari, setiap jam sembilan pagi Never Say Goodbye dari Bon Jovi pasti berkumandang setelah Eko Patrio dan Ulfa selesan membawakan program Batavia SK. Banyak, banyak hal yang bikin saya selalu jadi pendengar setia radio ini.
Sampai kemudian berita tentang bubarnya Radio SK membuat saya sedikit marah. Yang saya dengar soalnya adalah keuangan. Ini membuat saya semakin sebal dan keki. Bagaimana bisa, tidakkah SK telah menjadi jembatan bagi humoris-humoris terkenal macam Bagito, Patrio, Eko, Ulfa, Komeng, juga Nugie yang telah memulai karir musiknya? Mengapa mereka tidak urunan uang untuk menjaga SK tetap mengudara?
Malam ini saya kangen Radio SK. Kangen untuk tertawa-tawa sendiri saja di dalam kamar. Iseng, saya coba googling tentang Radio SK. Lumayan hasilnya:
Milis Radio SK
Suara Kejayaan/Senyum Ketawa
Friendster
Stasiun yang Belum Kocak, Entah Nanti....
Duh.... Misi Ah....
2.10.07
Noam Chomsky: Jawaban terhadap Anarkisme
Doktrin Leninis berpandangan bahwa sebuah partai pelopor mesti mengambil alih kekuasaan Negara dan mengerahkan masyarakat untuk pembangunan ekonomi, untuk kemerdekaan dan keadilan. Ia adalah ideologi yang secara alamiah menjadi daya tarik besar terhadap kaum berpendidikan yang radikal, karena di dalamnya mereka memperoleh pembenaran untuk peran mereka sebagai pengelola negara. Saya tidak melihat satu alasan – baik secara logika ataupun sejarah – untuk menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Sosialisme libertarian (termasuk arus utama Marxisme yang cukup besar) dengan cukup tepat telah menolak segala hal yang menjijikkan ini....
(baca lebih lanjut di www.rumahkiri.net)
Gestapu
Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme—sebuah alat diagnostik yang cemerlang—ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang membuat orang terkesima? Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada imannya sendiri....
(baca lebih lanjut di Catatan Pinggir)
Doktrin Leninis berpandangan bahwa sebuah partai pelopor mesti mengambil alih kekuasaan Negara dan mengerahkan masyarakat untuk pembangunan ekonomi, untuk kemerdekaan dan keadilan. Ia adalah ideologi yang secara alamiah menjadi daya tarik besar terhadap kaum berpendidikan yang radikal, karena di dalamnya mereka memperoleh pembenaran untuk peran mereka sebagai pengelola negara. Saya tidak melihat satu alasan – baik secara logika ataupun sejarah – untuk menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Sosialisme libertarian (termasuk arus utama Marxisme yang cukup besar) dengan cukup tepat telah menolak segala hal yang menjijikkan ini....
(baca lebih lanjut di www.rumahkiri.net)
Gestapu
Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme—sebuah alat diagnostik yang cemerlang—ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang membuat orang terkesima? Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada imannya sendiri....
(baca lebih lanjut di Catatan Pinggir)
17.9.07
Nothing In My Way
Keane
A turning tide
Lovers at a great divide
Why d'you laugh?
When I know that you hurt inside?
And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say?
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say
A tell-tale sign
You don't know where to draw the line
And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say
Well for a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
You're having such a nice time
(Just...)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...another day, nothing in my way, I..)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...don't wanna go, I don't wanna stay. just..)
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
(... another day, nothing in my way; Don't know what you lie for...)
You're having such a nice time
(...anyway)
Lagu yang tak pernah bosan untuk diputar berkali-kali.
Lihat klip bagusnya di Youtube
Keane
A turning tide
Lovers at a great divide
Why d'you laugh?
When I know that you hurt inside?
And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say?
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say
A tell-tale sign
You don't know where to draw the line
And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say
Well for a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
You're having such a nice time
(Just...)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...another day, nothing in my way, I..)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...don't wanna go, I don't wanna stay. just..)
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
(... another day, nothing in my way; Don't know what you lie for...)
You're having such a nice time
(...anyway)
Lagu yang tak pernah bosan untuk diputar berkali-kali.
Lihat klip bagusnya di Youtube
8.9.07
Dari Balik Hari Aksara
“Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.
(Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca, Pidato Penerimaan South East Asia (SEA) Write Award 1997, Seno Gumira Ajidarma)
Dari banyaknya hari-hari besar yang diperingati Indonesia, barangkali Hari Aksara Internasional cenderung tidak begitu populer. Hari Aksara diperingati setiap tanggal 8 September setiap tahunnya. Ini hari besar internasional, UNESCO yang menetapkannya. Dan pemerintah kita, biasanya turut merayakannya dengan peringatan ini-itu. Tahun ini pemerintah memperingati Hari Aksara yang dipusatkan di Lapangan Taman Sangkaraeng, Mataram, NTB. Sebuah pemerintah dari negara yang memiliki peringkat ke-107 dari 147 negera yang paling terbelakang soal buta aksara. Ironis? Atau idealis?
Coba tengok data tingkat buta huruf rakyat Indonesia. Zaini Arony, Sekretaris Jenderal Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas mengatakan setelah 62 tahun Indonesia merdeka, tingkat buta huruf di Indonesia berhasil ditekan hingga 8,02 persen atau sekitar 12 juta. Masih menurutnya, target pemerintah angka tersebut dapat ditekan lagi hingga mencapai 7,7 juta atau lima persen di akhir tahun 2009.
Agaknya kita perlu belajar banyak dari Kuba soal pemberantasan buta aksara. Kuba, negara kecil yang terus-menerus ditekan Amerika Serikat itu, memiliki angka buta aksara nyaris nol persen. Itu artinya, seluruh penduduk Kuba yang telah memasuki usia pendidikan dan memungkinkan membaca (tidak memiliki cacat fisik) mampu untuk membaca. Selain kesehatan, pemerintah Kuba memang tidak pernah main-main dengan pendidikan rakyatnya. Pendidikan menjadi akar penting dalam pembentukkan karakteristik masyarakat Kuba. Yang harus dicatat adalah di Kuba seluruh jenjang pendidikan digratiskan. Universitas bukan hanya menggapai mereka yang masih muda. Untuk para orang tua yang belum mengenyam bangku universitas, disediakan program University for All oleh pemerintah Kuba lewat kuliah-kuliah umum di media massa dan forum-forum publik. Kuba adalah sebuah negara dengan dokter paling banyak di muka bumi.
Sesaat setelah Fidel Castro dan Che Guevara memenangkan revolusinya di tahun1959, yang menjadi salah satu prioritas program pemerintahan mereka adalah pendidikan. Che Guevara, eks-gerilyawan yang kemudian menjadi menteri, mencanangkan program pemberantasan buta huruf besar-besaran untuk masyarakat Kuba. Ribuan relawan direkrut untuk menyukseskan program ini. Relawan-relawan tersebut terjun ke ladang-ladang tebu, desa-desa, ke seluh pelosok Kuba untuk mengajarkan rakyat Kuba membaca. Di Kuba dikenal slogan ini, “if you know, teach; if you don’t know, learn!” atau “Every Cuban a teacher; every house a school”. Dan tampaknya, slogan-slogan ini bukan omong kosong. Tak perlu menunggu puluhan tahun setelah "kemerdekaan", rezim Kuba berhasil menekan angka buta huruf seminimal mungkin.
Entah apakah Kuba akan memperingati Hari Aksara seperti di sini. Di Indonesia, tidakkah peringatan Hari Aksara seharusnya mampu menjadi monumen ingatan tentang betapa kita belum begitu serius menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Momen di mana kita menengok kembali perilaku bangsa kita. Lihatlah, larangan terbit buku-buku Pramoedya masih belum dicabut, pemerintah ramai-ramai mencontohkan diri membakar buku, subsidi pendidikan hanya manis dalam tulisan, dan lain sebagainya.
Mungkin kita lupa kalau kita punya Hari Aksara, tapi semoga kita tak pernah lupa bahwa sebuah bangsa akan selalu membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan membaca.
printed version: Pikiran Rakyat
“Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.
(Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca, Pidato Penerimaan South East Asia (SEA) Write Award 1997, Seno Gumira Ajidarma)
Dari banyaknya hari-hari besar yang diperingati Indonesia, barangkali Hari Aksara Internasional cenderung tidak begitu populer. Hari Aksara diperingati setiap tanggal 8 September setiap tahunnya. Ini hari besar internasional, UNESCO yang menetapkannya. Dan pemerintah kita, biasanya turut merayakannya dengan peringatan ini-itu. Tahun ini pemerintah memperingati Hari Aksara yang dipusatkan di Lapangan Taman Sangkaraeng, Mataram, NTB. Sebuah pemerintah dari negara yang memiliki peringkat ke-107 dari 147 negera yang paling terbelakang soal buta aksara. Ironis? Atau idealis?
Coba tengok data tingkat buta huruf rakyat Indonesia. Zaini Arony, Sekretaris Jenderal Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas mengatakan setelah 62 tahun Indonesia merdeka, tingkat buta huruf di Indonesia berhasil ditekan hingga 8,02 persen atau sekitar 12 juta. Masih menurutnya, target pemerintah angka tersebut dapat ditekan lagi hingga mencapai 7,7 juta atau lima persen di akhir tahun 2009.
Agaknya kita perlu belajar banyak dari Kuba soal pemberantasan buta aksara. Kuba, negara kecil yang terus-menerus ditekan Amerika Serikat itu, memiliki angka buta aksara nyaris nol persen. Itu artinya, seluruh penduduk Kuba yang telah memasuki usia pendidikan dan memungkinkan membaca (tidak memiliki cacat fisik) mampu untuk membaca. Selain kesehatan, pemerintah Kuba memang tidak pernah main-main dengan pendidikan rakyatnya. Pendidikan menjadi akar penting dalam pembentukkan karakteristik masyarakat Kuba. Yang harus dicatat adalah di Kuba seluruh jenjang pendidikan digratiskan. Universitas bukan hanya menggapai mereka yang masih muda. Untuk para orang tua yang belum mengenyam bangku universitas, disediakan program University for All oleh pemerintah Kuba lewat kuliah-kuliah umum di media massa dan forum-forum publik. Kuba adalah sebuah negara dengan dokter paling banyak di muka bumi.
Sesaat setelah Fidel Castro dan Che Guevara memenangkan revolusinya di tahun1959, yang menjadi salah satu prioritas program pemerintahan mereka adalah pendidikan. Che Guevara, eks-gerilyawan yang kemudian menjadi menteri, mencanangkan program pemberantasan buta huruf besar-besaran untuk masyarakat Kuba. Ribuan relawan direkrut untuk menyukseskan program ini. Relawan-relawan tersebut terjun ke ladang-ladang tebu, desa-desa, ke seluh pelosok Kuba untuk mengajarkan rakyat Kuba membaca. Di Kuba dikenal slogan ini, “if you know, teach; if you don’t know, learn!” atau “Every Cuban a teacher; every house a school”. Dan tampaknya, slogan-slogan ini bukan omong kosong. Tak perlu menunggu puluhan tahun setelah "kemerdekaan", rezim Kuba berhasil menekan angka buta huruf seminimal mungkin.
Entah apakah Kuba akan memperingati Hari Aksara seperti di sini. Di Indonesia, tidakkah peringatan Hari Aksara seharusnya mampu menjadi monumen ingatan tentang betapa kita belum begitu serius menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Momen di mana kita menengok kembali perilaku bangsa kita. Lihatlah, larangan terbit buku-buku Pramoedya masih belum dicabut, pemerintah ramai-ramai mencontohkan diri membakar buku, subsidi pendidikan hanya manis dalam tulisan, dan lain sebagainya.
Mungkin kita lupa kalau kita punya Hari Aksara, tapi semoga kita tak pernah lupa bahwa sebuah bangsa akan selalu membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan membaca.
printed version: Pikiran Rakyat
29.8.07
Pengantar Buku Das Kapital
Abdurrahman Wahid
Buku Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich Marx. Dalam khazanah pemikiran kaum komunisi, buku ini sejajar dengan karya Friedrich Engels yang juga ditulis bersama Marx, Manifesto Komunis.
Kedua buku itu sejajar dengan karya Vladimir Ilyich Lenin, yaitu What's to be Done serta pamflet The Infantile Disease of "Leftism" in Communism. Lenin mengemukakan sebuah prinsip yang sangat penting bahwa revolusi hanya akan berhasil kalau ada pihak yang merumuskan revolusi itu sendiri dengan cara tepat. Ini berarti, harus ada sebuah partai komunis yang akan memimpin sebuah revolusi sampai berhasil. Karya besar kaum komunis lainnya adalah pidato Mao Zedong. Mao menyatakan bahwa dia sendirian saja karena dia bersama-sama rakyat. Dengarlah ungkapan terkenal dari Deng Xiaoping ini, "Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting dapat menangkap tikus." Semuanya itu hanya dapat dihasilkan oleh analisis ilmiah, seperti yang ada dalam Das Kapital Marx.
Penulis melihat karya Marx ini sebagai "penyimpangan", seperti pendapat Prof. DR Jan Romein dari Negeri Belanda. Dalam Aera Europa yang terbit dalam bahasa Indonesia pada 1950-an, Romein menyatakan peradaban Eropa sebagai penyimpangan dari peradaban dunia. Pada abad ke-6 sebelum masehi, dunia dihadapkan kepada sebuah perkembangan sangat penting, yaitu para moralis besar menemukan jawaban atas sebuah masalah yang sudah berabad-abad lamanya "menghantam" peradaban dunia secara mutlak. Peradaban sungai-sungai besar melahirkan putra terbaik untuk peradaban dunia, seperti Huang Ho dan Yang Tse Kiang di Tiongkok melahirkan Konghucu dan Lao Tze. Budha Gautama di Sungai Gangga India, Zarathustra di Lembah Mesopotamia, dan Akhenanton di Sungai Nil Mesir. Mereka semua memperkeras pembentukan budaya tradisional di seluruh dunia dalam bentuk Pola Kemanusiaan Umum I (PKU I - Eerste Algemeen Menselijk Patroon).
Pola tersebut merupakan kerangka bagi moralis umum di seluruh dunia, yang dengan pengulangannya di seluruh dunia membuat masyarakat merasa "terlindung" oleh sebuah tradisi. Di Indonesia, tradisi tersebut dikokohkan oleh Prabu Saka pada abad ke-5 Masehi di Medang Kamulan, Jawa Timur. Dengan demikian, dunia kembali pada kemapanan moral yang diusahakan para tokoh moralis yang namanya disebutkan di atas. Hanya para filosof Yunani Kuno, seperti Thales, Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang menggunakan kerangka rasional dalam membuat analisis mereka. Ini diteruskan oleh kekuasaan hukum Roma (lex Romanum) dan persatuan Roma (pax Romanum), merupakan penyimpangan kedua dari PKU I yang disebutkan di atas, sebagai "pemisah" antara PKU I dan penyimpangan tersebut. Tidak heran jika hal ini mengubah jalannya sejarah umat manusia di kala itu.
Diteruskan dengan "penyimpangan" oleh Gereja Katolik, nyatalah penyimpangan yang terjadi atas PKU I, yang akhirnya bergerak dengan momentumnya sendiri. Perkembangan selanjutnya, seperti pengorganisasian gereha, renaissance, aufklarung (masa pencerahan), rasionalisme, dan pembatalan yang dikerjakan Immanuel Kant, revolusi industri, dan pemunculan ideologi (seperti sosialisme dan kapitalisme), adalah tahap-tahap pertumbuhan dari "penyimpangan" Eropa dari PKU I di seluruh dunia. Nah, sekarang ini Eropa telah berhasil "menyempurnakan" penyimpangan tersebut.
Dengan teknologi dan pengorganisasian masyarakat yang berhasil dicapai sejauh ini, telah memaksa "peniruan" oleh dunia yang semula mengikuti PKU I. Keadaan demikian itu oleh sementara moralis dianggap sebagai "kerugian besar" umat manusia. Karena sekarang umat manusia kehilangan moralitasnya. Kita boleh berbeda paham tentang rugi atau tidaknya dengan perkembangan itu. Tapi, analisis sosial yang digunakan Karl Marx dalam Das Kapital itu tetap harus penulis anggap sebagai bagian dari "penyimpangan sejarah" dari PKU I, guna mengetahui setepatnya kedudukan karya tulis penting tersebut. Kalau tidak dilakukan penilaian seperti itu, kita akan terpaksa melihatnya sebagai sesuatu yang menentukan segala-galanya, atau justru tidak menganggapnya penting bagi sejarah.
Anggapan buku Das Kapital adalah bagian dari penyimpangan yang dilakukan oleh para pemikir Eropa, sudah merupakan sebuah penilaian yang sangat tinggi akan karya tersebut. Tidak banyak karya tulis yang mempunyai kedudukan seperti itu. Karya ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi upaya kita untuk maju ke depan, dalam perkembangan sejarah umat manusia, bukan?
Abdurrahman Wahid, DPP Syuro PKB. Sindo 27 Agustus 2007
Abdurrahman Wahid
Buku Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich Marx. Dalam khazanah pemikiran kaum komunisi, buku ini sejajar dengan karya Friedrich Engels yang juga ditulis bersama Marx, Manifesto Komunis.Kedua buku itu sejajar dengan karya Vladimir Ilyich Lenin, yaitu What's to be Done serta pamflet The Infantile Disease of "Leftism" in Communism. Lenin mengemukakan sebuah prinsip yang sangat penting bahwa revolusi hanya akan berhasil kalau ada pihak yang merumuskan revolusi itu sendiri dengan cara tepat. Ini berarti, harus ada sebuah partai komunis yang akan memimpin sebuah revolusi sampai berhasil. Karya besar kaum komunis lainnya adalah pidato Mao Zedong. Mao menyatakan bahwa dia sendirian saja karena dia bersama-sama rakyat. Dengarlah ungkapan terkenal dari Deng Xiaoping ini, "Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting dapat menangkap tikus." Semuanya itu hanya dapat dihasilkan oleh analisis ilmiah, seperti yang ada dalam Das Kapital Marx.
Penulis melihat karya Marx ini sebagai "penyimpangan", seperti pendapat Prof. DR Jan Romein dari Negeri Belanda. Dalam Aera Europa yang terbit dalam bahasa Indonesia pada 1950-an, Romein menyatakan peradaban Eropa sebagai penyimpangan dari peradaban dunia. Pada abad ke-6 sebelum masehi, dunia dihadapkan kepada sebuah perkembangan sangat penting, yaitu para moralis besar menemukan jawaban atas sebuah masalah yang sudah berabad-abad lamanya "menghantam" peradaban dunia secara mutlak. Peradaban sungai-sungai besar melahirkan putra terbaik untuk peradaban dunia, seperti Huang Ho dan Yang Tse Kiang di Tiongkok melahirkan Konghucu dan Lao Tze. Budha Gautama di Sungai Gangga India, Zarathustra di Lembah Mesopotamia, dan Akhenanton di Sungai Nil Mesir. Mereka semua memperkeras pembentukan budaya tradisional di seluruh dunia dalam bentuk Pola Kemanusiaan Umum I (PKU I - Eerste Algemeen Menselijk Patroon).
Pola tersebut merupakan kerangka bagi moralis umum di seluruh dunia, yang dengan pengulangannya di seluruh dunia membuat masyarakat merasa "terlindung" oleh sebuah tradisi. Di Indonesia, tradisi tersebut dikokohkan oleh Prabu Saka pada abad ke-5 Masehi di Medang Kamulan, Jawa Timur. Dengan demikian, dunia kembali pada kemapanan moral yang diusahakan para tokoh moralis yang namanya disebutkan di atas. Hanya para filosof Yunani Kuno, seperti Thales, Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang menggunakan kerangka rasional dalam membuat analisis mereka. Ini diteruskan oleh kekuasaan hukum Roma (lex Romanum) dan persatuan Roma (pax Romanum), merupakan penyimpangan kedua dari PKU I yang disebutkan di atas, sebagai "pemisah" antara PKU I dan penyimpangan tersebut. Tidak heran jika hal ini mengubah jalannya sejarah umat manusia di kala itu.
Diteruskan dengan "penyimpangan" oleh Gereja Katolik, nyatalah penyimpangan yang terjadi atas PKU I, yang akhirnya bergerak dengan momentumnya sendiri. Perkembangan selanjutnya, seperti pengorganisasian gereha, renaissance, aufklarung (masa pencerahan), rasionalisme, dan pembatalan yang dikerjakan Immanuel Kant, revolusi industri, dan pemunculan ideologi (seperti sosialisme dan kapitalisme), adalah tahap-tahap pertumbuhan dari "penyimpangan" Eropa dari PKU I di seluruh dunia. Nah, sekarang ini Eropa telah berhasil "menyempurnakan" penyimpangan tersebut.
Dengan teknologi dan pengorganisasian masyarakat yang berhasil dicapai sejauh ini, telah memaksa "peniruan" oleh dunia yang semula mengikuti PKU I. Keadaan demikian itu oleh sementara moralis dianggap sebagai "kerugian besar" umat manusia. Karena sekarang umat manusia kehilangan moralitasnya. Kita boleh berbeda paham tentang rugi atau tidaknya dengan perkembangan itu. Tapi, analisis sosial yang digunakan Karl Marx dalam Das Kapital itu tetap harus penulis anggap sebagai bagian dari "penyimpangan sejarah" dari PKU I, guna mengetahui setepatnya kedudukan karya tulis penting tersebut. Kalau tidak dilakukan penilaian seperti itu, kita akan terpaksa melihatnya sebagai sesuatu yang menentukan segala-galanya, atau justru tidak menganggapnya penting bagi sejarah.
Anggapan buku Das Kapital adalah bagian dari penyimpangan yang dilakukan oleh para pemikir Eropa, sudah merupakan sebuah penilaian yang sangat tinggi akan karya tersebut. Tidak banyak karya tulis yang mempunyai kedudukan seperti itu. Karya ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi upaya kita untuk maju ke depan, dalam perkembangan sejarah umat manusia, bukan?
Abdurrahman Wahid, DPP Syuro PKB. Sindo 27 Agustus 2007
28.8.07
Kesalahan
Semalam bertemu seseorang di simpang jalan. Tak nyaman juga akhirnya, membiarkan dia melihat saya sudah demikian tepuruk begini. Jatuh nyaris hingga ke dasar lubang. Orang kesekian yang kutemui yang memberikan tatapan iba untukku. Selalu saja bertanya kau baik-baik saja? Kau sehat-sehat saja? Kau harus baik-baik saja!
Malam tadi orang keberapa? Setelah beberapa siang sebelumnya seorang kawan lagi seolah menyediakan kedua tangannya untukku bertopang. Terima kasih untuk semuanya! Ya, aku terima ini semua. Nasib adalah kesunyian masing-masing, biar terpuji arwah Chairil. Aku tahu kesalahanku:
yang berjalan - telah jauh di depan meninggalkanku
yang mengangkasa - telah melesat memunggungiku
yang berlari - telah tak ingat akan aku
sementara aku
tetap di sini tak bergeser sejarak pun
menundukkan kepala untuk sesekali mendongak
setengah mati dalam usaha membohongi hati;
matahari ini masih sama dengan yang lalu
langit ini masih sama dengan yang waktu itu
Semalam bertemu seseorang di simpang jalan. Tak nyaman juga akhirnya, membiarkan dia melihat saya sudah demikian tepuruk begini. Jatuh nyaris hingga ke dasar lubang. Orang kesekian yang kutemui yang memberikan tatapan iba untukku. Selalu saja bertanya kau baik-baik saja? Kau sehat-sehat saja? Kau harus baik-baik saja!
Malam tadi orang keberapa? Setelah beberapa siang sebelumnya seorang kawan lagi seolah menyediakan kedua tangannya untukku bertopang. Terima kasih untuk semuanya! Ya, aku terima ini semua. Nasib adalah kesunyian masing-masing, biar terpuji arwah Chairil. Aku tahu kesalahanku:
yang berjalan - telah jauh di depan meninggalkanku
yang mengangkasa - telah melesat memunggungiku
yang berlari - telah tak ingat akan aku
sementara aku
tetap di sini tak bergeser sejarak pun
menundukkan kepala untuk sesekali mendongak
setengah mati dalam usaha membohongi hati;
matahari ini masih sama dengan yang lalu
langit ini masih sama dengan yang waktu itu
Subscribe to:
Posts (Atom)

