30.4.08


Suatu hari nanti, Leo. Suatu hari nanti....

13.4.08

ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ƃuɐʇuǝʇ

(= ˙˙˙˙ɐʎuɥɐpnɯ 'ıɐɥɐʍ 'ɐʇɐʎuɹǝʇ ˙ıɹɐɾɐlǝdıp ɐsıq ɐdɐ 'ɐʎuɐʇ ɐʎɐs ˙ɐɔɐqıp ɥɐsns ƃuɐʎ uɐsılnʇ ʇɐnqɯǝɯ ƃuɐʇuǝʇ nʇɐnsǝs ƃuɐlıq ɐıp 'ɐʎuƃolq ıp ˙uɐʍɐıuɹnʞ ɐʞǝ uɐsılnʇ-uɐsılnʇ uɐƃuǝp ɯnƃɐʞ nlɐlǝs ɐʎɐs

17.3.08

Quote of the Day

"Saya punya empat kemenakan yang sekolah di UI ini. Masing-masing pakai mobil. Kok dibilang kita tidak sejahtera?"

(Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI)

5.3.08

Nasib Baru Anggaran Pendidikan Kita


Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memenangkan gugatan Rahmatiah Abbas dan Badriyah Rifai 20 Februari 2008 lalu yang menuntut agar gaji tenaga pengajar dimasukkan ke dalam pos anggaran pendidikan. Abbas seorang pengawas pendidikan di Sulawesi Selatan, sementara Rifai adalah dosen Universitas Hasanuddin Makasar. Ketua MK Jimly Asshiddiqie tetap membacakan langsung vonis kemenangan gugatan tersebut meski tiga dari sembilan hakim konstitusi memiliki pendapat berbeda (dissenting opinion).

Vonis tersebut kiranya layak membuat banyak dari kita gusar. Pasalnya, dengan keputusan itu MK telah membuat sejarah besar soal anggaran pendidikan kita dan bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan bunyi amanat UU Sisdiknas No.20/2003. Dalam UU Sisdiknas Pasal 49 dikatakan bahwa "Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari APBD." (Ayat 1). Kemudian hal ini diperkuat lagi di Ayat 2, "Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam APBN."

Akibatnya bisa diduga. Anggaran pendidikan yang sejak UU Sisdiknas tersebut dikeluarkan belum pernah dipenuhi Pemerintah, hari ini tiba-tiba sudah nyaris terpenuhi. Dengan kata lain, Pemerintah yang selama ini nyaris bisa dibilang inkonstitusional soal anggaran pendidikan, sejak keputusan MK tersebut dapat dikatakan (nyaris) konstitusional.

Coba tengok hitung-hitungan berikut. Sejak tahun 2004 Pemerintah berkomitmen akan serius menjalankan anggaran 20 persen ini dengan cara bertahap selama periode 2004-2009, yakni 6,6 persen, 12,01 persen, 14,68 persen, 17,40 persen, dan akhirnya 20,10 persen. Sebagaimana diketahui, komitmen tersebut tidak sepenuhnya dijalankan. Dalam anggaran 2008 saja pemerintah baru mengalokasikan anggaran pendidikan sekira 12 persen dari keseluruhan APBN. Hal ini tentu masih jauh dari yang diamanatkan konstitusi. Kini, setelah keputusan MK tersebut, angka 12 persen itu tiba-tiba melonjak menjadi 18 persen. Di Jawa Barat, jika menuruti keputusan MK, anggaran pendidikan bahkan sudah melampaui 20 persen. Padahal jika gaji tenaga pengajar tidak dimasukkan, anggaran pendidikan Jawa Barat hanya berkisar 15 persen (Pikiran Rakyat, 25/02).

Indeks Pembangunan Manusia

Pertanyaannya sekarang, sesungguhnya sejauh apa Pemerintah kita memandang penting pendidikan? Di saat negara-negara tetangga sudah menangani pendidikan dengan serius, Pemerintah kita masih agak sukar melapangkan jalan untuk anggaran pendidikan ideal. Padahal sebagaimana tercatat, Indonesia masih tertinggal di dalam kancah Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) di antara negara-negara dunia. Indeks Pembangunan Manusia adalah pengukuran perbandingan dari tingkat harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Sebuah konsep yang dikembangan nobelis Amartya Sen dan ekonom Mahbub ul-Haq. PBB memakai ukuran ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan suatu negara. Pada 2007 Indonesia cuma bisa berada di rangking 108, tak berubah jauh dari dua tahun sebelumnya.

Dari kondisi tersebut, yang semakin membuat miris adalah permintaan Wakil Presiden Jusuf Kalla di depan warga Indonesia di Korea Selatan (24/02) agar masyarakat tidak gampang mencela atau menjelek-jelekkan negara sendiri. Wapres mengatakan bahwa kondisi Indonesia beranjak membaik. Mau bukti? Jusuf Kalla memberi contoh tentang macetnya perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menuju Jakarta. "Itu artinya semakin banyak orang punya mobil," kata Wapres. Sekaligus Wapres juga mengajak untuk memperhatikan listrik yang sering mati. Menurutnya itu, "Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC)." (Kompas, 25/02).

Jika sudah seperti itu, apa yang bisa kita harapkan lagi untuk majunya dunia pendidikan Indonesia? Sepatutnya MK tidak memasukkan gaji guru dan dosen ke dalam pos anggaran pendidikan. Tentu UU Sisdiknas tidak sembarangan ketika mengamanatkan bahwa anggaran pendidikan sejatinya minus gaji guru dan dosen. Kondisi objektif dunia pendidikan Indonesia memang terhitung morat-marit. Nyaris 64 tahun merdeka, dunia pendidikan kita masih kerap diwarnai gedung sekolah yang ambruk atau rusak parah. Belum lagi soal fasilitas-fasilitas pendukung pendidikan yang rasa-rasanya masih sebatas impian bagi banyak peserta didik dan pengajar.

Banyaknya yang memiliki mobil dan pendingin ruangan bukan hal esensial dalam pembentukan bangsa yang beradab.

26.2.08

Jangan Suka Cela Negara Sendiri


Wapres Kunjungi Korea Selatan
KOMPAS Senin, 25 Februari 2008
J Osdar
Seoul, Kompas - Sekali lagi, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengharapkan kepada seluruh bangsa Indonesia agar tidak mudah mencela atau menjelek-jelekkan negaranya sendiri. Ia mengatakan bahwa keadaan ekonomi di Indonesia saat ini semakin membaik.
Menurut Wapres, membaiknya ekonomi ini bisa dilihat kalau kita berjalan dari Bandara Soekarno- Hatta di Cengkareng ke Jakarta yang kini semakin lama waktunya. ”Ini karena semakin macet. Itu artinya semakin banyak orang punya mobil,” katanya.
Ia melanjutkan, kondisi sudah sangat baik sekali. Kalau di Jakarta jalan macet, itu artinya makin banyak mobil di Jakarta. Yang kurang memang ruas jalannya.
Wapres menyatakan hal itu dalam pertemuannya dengan masyarakat Indonesia di Korea Selatan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Korsel di Seoul, Minggu (24/2). Wapres didampingi Ny Mufidah Kalla, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dan Dubes RI untuk Korsel Jacob Tobing. Kalla berada di Korsel mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pelantikan presiden ke-17 Korsel, Lee Myung-bak, Senin ini.
Listrik bukan kurang
Selain kemacetan jalan sebagai petunjuk membaiknya perekonomian Indonesia, Kalla juga memberi contoh semakin sering matinya listrik sebagai bukti perekonomian membaik pula. ”Kenapa itu? Bukan karena listrik kurang. Ini karena semakin banyak orang yang menggunakan pendingin (AC). Kita terlambat membangun pembangkit tenaga listrik. Seandainya ada yang jual listrik eceran, kita bisa beli,” ujarnya lagi.
Menurut Wapres, saat ini tidak ada jalan lain kecuali harus hemat listrik. ”Jika kita menaikkan tarif listrik, orang marah. Tak ada jalan lain kecuali hemat. Sulitnya, orang tak mau hemat listrik karena murah. Disuruh hemat tidak mau dinaikkan harganya, marah. Akibatnya, ya mati lampu saja,” kata Kalla, disambut suara hadirin yang menggerutu.
Banyak hal yang disampaikan Wapres dalam pertemuan itu. Kemarin adalah hari pertama ia berada di Korsel. Selanjutnya, ia akan berkunjung ke Jepang.
Kalla juga berbicara tentang kemungkinan penggunaan tenaga nuklir yang masih banyak ditentang warga. Kendala lain adalah soal disiplin orang Indonesia. ”Kita masih mudah sembrono atau ceroboh. Ini cukup bahaya,” ujarnya.
Menjawab pertanyaan mengenai pertahanan negara menghadapi berbagai macam tekanan dari negara lain, termasuk dari negara tetangga, Kalla mengatakan, ”Indonesia siap perang atau damai. Tapi kalau bisa, jangan dengan peranglah, damai saja.”
--------
(Speechless, Anda terlalu "special" Tuan Yusuf....)

22.2.08

Sarkas

sar·kas·me n (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar

sar·kas·tis a bersifat mengejek; mengandung sarkasme: ia bicara dng nada --

(KBBI online)

Sederhana: kalau cuma sarkas, bukan cuma kamu yang bisa.

18.2.08

Kunang-Kunang

Sepanjang jalan tol menuju Cileunyi senja tadi, senang sekali. Pengalaman pertama setelah begitu seringnya melintasi tol tersebut: banyak kunang-kunang di tepi jalan. Kerlapkerlip sepanjang jalan. Karnaval. Di pojok bis kota terakhir yang nyaris rontok karena si kondektur yang begitu baiknya menaikkan semua penumpang, semua kebodohan dimaafkan oleh kunang-kunang baik hati.

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau datang pun tak pergi

riak-riak berlabuh di pantaiku
darahku kian menderu
sadari tak jelas di sana
apakah karenamu?
kau tak nyata pun tak semu

tidakkah cinta berkuasa?
tak mestinya luka menghentikan langkah
bila saatnya, hadapilah

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau tak datang pun tak pergi

tidakkah bimbang menyiksamu?
masih banyak pulau yang dapat kau temu
sejenak saja, hampiri aku!

berharap kan jelas di sana
hanyalah karenamu
tiap senja di labuhku
menepilah!
menepilah!
menepilah!

(Tiap Senja, Float)

6.12.07

Magical Libraries
Al Fayyadl

Perpustakaan-perpustakaan besar di dunia sungguh indah dinikmati. Baik dari segi arsitektural maupun koleksi buku yang disuguhkan di dalamnya, benar-benar memanjakan para pencinta buku yang berkunjung ke sana....

Selengkapnya


Harapan Baru itu Bernama UU Perpustakaan
Imam Hidayah Usman

Barangkali memang kita agak lupa soal perpustakaan. Di antara sekian banyak permasalahan hidup, mulai dari semakin mahalnya harga kebutuhan hidup hingga ancaman global warming, perpustakaan seolah kekal dalam citranya yang selama ini berkembang: ruang sunyi yang kaku di sudut keriuhan dinamika kehidupan....

Selengkapnya

5.12.07

Cinta, Kedamaian, Pencerahan
Gede Prama

Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, sampai Dalai Lama semua dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihan dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat lebih jauh. Sayang, ini tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekal intelek, lalu berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.

Selengkapnya
Anak Muda
Mohamad Sobary

Anak-anak muda menuntut hak untuk memperoleh giliran memimpin. Sayang tak ada penjelasan mengenai memimpin apa. Sesudah deklarasi yang disiarkan Metro TV malam itu, suasana senyap kembali, seperti tak pernah terjadi apa pun....

Selengkapnya


Kaum Muda
Sukardi Rinakit

...
Jadi keprihatinan pada nasib anak-anak sebangsa itulah yang membuat kami berkumpul, Kang Sobary. Bukan untuk tujuan sempit menuntut hak, apalagi merengek-rengek meminta giliran memimpin (Kompas, 2/12/2007). "Ikrar Kaum Muda Indonesia" yang dikumandangkan 28 Oktober lalu itu ingin mengingatkan kita semua agar taat asas dalam membangun negeri ini....

Selengkapnya

3.11.07

Who More?

Bohong Kalau Ada Orang Jakarta yang Gak Tahu Radio SK
Satu-satunya Radio Humor di Jagad Raya!

Itu iklan yang pernah saya baca tentang Radio SK, 101.6 FM Humor. Dan malam ini seperti mengulang malam-malam tahun-tahun lalu, di mana saya merasa kangen sama radio ini. Radio yang penyiarnya selalu saja memaksa saya untuk terus terjaga sampai radio itu tutup dan mengumandangkan Watching Over You dari ELP sebagai lagu penutup.

Saya terpikiat dengan radio ini. Saya tidak mendengarkan Prambors yang buat saya waktu itu terkesan "kota banget". Di banyak malam, ada kalanya ibu saya mengintip ke dalam kamar saya dan bertanya mengapa saya tertawa-tawa sendiri? Tentu saja jawabannya adalah karena Radio SK. Siapa yang bisa menahan tawa jika Temon Lebar Templar dan Yasser Fikri berdebat soal masalah seputar remaja tiap selasa malam? Di pagi hari, setiap jam sembilan pagi Never Say Goodbye dari Bon Jovi pasti berkumandang setelah Eko Patrio dan Ulfa selesan membawakan program Batavia SK. Banyak, banyak hal yang bikin saya selalu jadi pendengar setia radio ini.

Sampai kemudian berita tentang bubarnya Radio SK membuat saya sedikit marah. Yang saya dengar soalnya adalah keuangan. Ini membuat saya semakin sebal dan keki. Bagaimana bisa, tidakkah SK telah menjadi jembatan bagi humoris-humoris terkenal macam Bagito, Patrio, Eko, Ulfa, Komeng, juga Nugie yang telah memulai karir musiknya? Mengapa mereka tidak urunan uang untuk menjaga SK tetap mengudara?

Malam ini saya kangen Radio SK. Kangen untuk tertawa-tawa sendiri saja di dalam kamar. Iseng, saya coba googling tentang Radio SK. Lumayan hasilnya:

Milis Radio SK
Suara Kejayaan/Senyum Ketawa
Friendster
Stasiun yang Belum Kocak, Entah Nanti....

Duh.... Misi Ah....

2.10.07

Noam Chomsky: Jawaban terhadap Anarkisme

Doktrin Leninis berpandangan bahwa sebuah partai pelopor mesti mengambil alih kekuasaan Negara dan mengerahkan masyarakat untuk pembangunan ekonomi, untuk kemerdekaan dan keadilan. Ia adalah ideologi yang secara alamiah menjadi daya tarik besar terhadap kaum berpendidikan yang radikal, karena di dalamnya mereka memperoleh pembenaran untuk peran mereka sebagai pengelola negara. Saya tidak melihat satu alasan – baik secara logika ataupun sejarah – untuk menganggap hal itu sebagai sesuatu yang serius. Sosialisme libertarian (termasuk arus utama Marxisme yang cukup besar) dengan cukup tepat telah menolak segala hal yang menjijikkan ini....

(baca lebih lanjut di www.rumahkiri.net)

Gestapu

Tak mengherankan bila beribu-ribu orang pun bergerak, dengan sakit dan miskin, dengan jiwa dan raga. Yang tragis ialah bahwa Marxisme—sebuah alat diagnostik yang cemerlang—ternyata sebuah terapi yang gagal. Bahkan Cina murtad. Apa yang tersisa dari Marxisme di sana sekarang, dengan kemajuan ekonomi yang membuat orang terkesima? Hanya sebuah partai komunis yang tak percaya kepada imannya sendiri....

(baca lebih lanjut di Catatan Pinggir)

17.9.07

Nothing In My Way
Keane

A turning tide
Lovers at a great divide
Why d'you laugh?
When I know that you hurt inside?

And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say?
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say

A tell-tale sign
You don't know where to draw the line

And why'd you say
It's just another day, nothing in my way
I don't wanna go, I don't wanna stay
So there's nothing left to say
And why'd you lie
When you wanna die, when you hurt inside
Don't know what you lie for anyway
Now there's nothing left to say

Well for a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, you're having such a nice time
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
You're having such a nice time

(Just...)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...another day, nothing in my way, I..)
For a lonely soul, you're having such a nice time
(...don't wanna go, I don't wanna stay. just..)
For a lonely soul, it seems to me that you're having such a nice time
(... another day, nothing in my way; Don't know what you lie for...)
You're having such a nice time
(...anyway)

Lagu yang tak pernah bosan untuk diputar berkali-kali.
Lihat klip bagusnya di Youtube

8.9.07

Dari Balik Hari Aksara

“Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.

(Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca, Pidato Penerimaan South East Asia (SEA) Write Award 1997, Seno Gumira Ajidarma)

Dari banyaknya hari-hari besar yang diperingati Indonesia, barangkali Hari Aksara Internasional cenderung tidak begitu populer. Hari Aksara diperingati setiap tanggal 8 September setiap tahunnya. Ini hari besar internasional, UNESCO yang menetapkannya. Dan pemerintah kita, biasanya turut merayakannya dengan peringatan ini-itu. Tahun ini pemerintah memperingati Hari Aksara yang dipusatkan di Lapangan Taman Sangkaraeng, Mataram, NTB. Sebuah pemerintah dari negara yang memiliki peringkat ke-107 dari 147 negera yang paling terbelakang soal buta aksara. Ironis? Atau idealis?

Coba tengok data tingkat buta huruf rakyat Indonesia. Zaini Arony, Sekretaris Jenderal Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas mengatakan setelah 62 tahun Indonesia merdeka, tingkat buta huruf di Indonesia berhasil ditekan hingga 8,02 persen atau sekitar 12 juta. Masih menurutnya, target pemerintah angka tersebut dapat ditekan lagi hingga mencapai 7,7 juta atau lima persen di akhir tahun 2009.

Agaknya kita perlu belajar banyak dari Kuba soal pemberantasan buta aksara. Kuba, negara kecil yang terus-menerus ditekan Amerika Serikat itu, memiliki angka buta aksara nyaris nol persen. Itu artinya, seluruh penduduk Kuba yang telah memasuki usia pendidikan dan memungkinkan membaca (tidak memiliki cacat fisik) mampu untuk membaca. Selain kesehatan, pemerintah Kuba memang tidak pernah main-main dengan pendidikan rakyatnya. Pendidikan menjadi akar penting dalam pembentukkan karakteristik masyarakat Kuba. Yang harus dicatat adalah di Kuba seluruh jenjang pendidikan digratiskan. Universitas bukan hanya menggapai mereka yang masih muda. Untuk para orang tua yang belum mengenyam bangku universitas, disediakan program University for All oleh pemerintah Kuba lewat kuliah-kuliah umum di media massa dan forum-forum publik. Kuba adalah sebuah negara dengan dokter paling banyak di muka bumi.

Sesaat setelah Fidel Castro dan Che Guevara memenangkan revolusinya di tahun1959, yang menjadi salah satu prioritas program pemerintahan mereka adalah pendidikan. Che Guevara, eks-gerilyawan yang kemudian menjadi menteri, mencanangkan program pemberantasan buta huruf besar-besaran untuk masyarakat Kuba. Ribuan relawan direkrut untuk menyukseskan program ini. Relawan-relawan tersebut terjun ke ladang-ladang tebu, desa-desa, ke seluh pelosok Kuba untuk mengajarkan rakyat Kuba membaca. Di Kuba dikenal slogan ini, “if you know, teach; if you don’t know, learn!” atau “Every Cuban a teacher; every house a school”. Dan tampaknya, slogan-slogan ini bukan omong kosong. Tak perlu menunggu puluhan tahun setelah "kemerdekaan", rezim Kuba berhasil menekan angka buta huruf seminimal mungkin.

Entah apakah Kuba akan memperingati Hari Aksara seperti di sini. Di Indonesia, tidakkah peringatan Hari Aksara seharusnya mampu menjadi monumen ingatan tentang betapa kita belum begitu serius menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Momen di mana kita menengok kembali perilaku bangsa kita. Lihatlah, larangan terbit buku-buku Pramoedya masih belum dicabut, pemerintah ramai-ramai mencontohkan diri membakar buku, subsidi pendidikan hanya manis dalam tulisan, dan lain sebagainya.

Mungkin kita lupa kalau kita punya Hari Aksara, tapi semoga kita tak pernah lupa bahwa sebuah bangsa akan selalu membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan membaca.

printed version: Pikiran Rakyat

29.8.07

Pengantar Buku Das Kapital
Abdurrahman Wahid

Buku Das Kapital ini adalah karya ilmiah yang besar dari Karl Heinrich Marx. Dalam khazanah pemikiran kaum komunisi, buku ini sejajar dengan karya Friedrich Engels yang juga ditulis bersama Marx, Manifesto Komunis.

Kedua buku itu sejajar dengan karya Vladimir Ilyich Lenin, yaitu What's to be Done serta pamflet The Infantile Disease of "Leftism" in Communism. Lenin mengemukakan sebuah prinsip yang sangat penting bahwa revolusi hanya akan berhasil kalau ada pihak yang merumuskan revolusi itu sendiri dengan cara tepat. Ini berarti, harus ada sebuah partai komunis yang akan memimpin sebuah revolusi sampai berhasil. Karya besar kaum komunis lainnya adalah pidato Mao Zedong. Mao menyatakan bahwa dia sendirian saja karena dia bersama-sama rakyat. Dengarlah ungkapan terkenal dari Deng Xiaoping ini, "Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting dapat menangkap tikus." Semuanya itu hanya dapat dihasilkan oleh analisis ilmiah, seperti yang ada dalam Das Kapital Marx.

Penulis melihat karya Marx ini sebagai "penyimpangan", seperti pendapat Prof. DR Jan Romein dari Negeri Belanda. Dalam Aera Europa yang terbit dalam bahasa Indonesia pada 1950-an, Romein menyatakan peradaban Eropa sebagai penyimpangan dari peradaban dunia. Pada abad ke-6 sebelum masehi, dunia dihadapkan kepada sebuah perkembangan sangat penting, yaitu para moralis besar menemukan jawaban atas sebuah masalah yang sudah berabad-abad lamanya "menghantam" peradaban dunia secara mutlak. Peradaban sungai-sungai besar melahirkan putra terbaik untuk peradaban dunia, seperti Huang Ho dan Yang Tse Kiang di Tiongkok melahirkan Konghucu dan Lao Tze. Budha Gautama di Sungai Gangga India, Zarathustra di Lembah Mesopotamia, dan Akhenanton di Sungai Nil Mesir. Mereka semua memperkeras pembentukan budaya tradisional di seluruh dunia dalam bentuk Pola Kemanusiaan Umum I (PKU I - Eerste Algemeen Menselijk Patroon).

Pola tersebut merupakan kerangka bagi moralis umum di seluruh dunia, yang dengan pengulangannya di seluruh dunia membuat masyarakat merasa "terlindung" oleh sebuah tradisi. Di Indonesia, tradisi tersebut dikokohkan oleh Prabu Saka pada abad ke-5 Masehi di Medang Kamulan, Jawa Timur. Dengan demikian, dunia kembali pada kemapanan moral yang diusahakan para tokoh moralis yang namanya disebutkan di atas. Hanya para filosof Yunani Kuno, seperti Thales, Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang menggunakan kerangka rasional dalam membuat analisis mereka. Ini diteruskan oleh kekuasaan hukum Roma (lex Romanum) dan persatuan Roma (pax Romanum), merupakan penyimpangan kedua dari PKU I yang disebutkan di atas, sebagai "pemisah" antara PKU I dan penyimpangan tersebut. Tidak heran jika hal ini mengubah jalannya sejarah umat manusia di kala itu.

Diteruskan dengan "penyimpangan" oleh Gereja Katolik, nyatalah penyimpangan yang terjadi atas PKU I, yang akhirnya bergerak dengan momentumnya sendiri. Perkembangan selanjutnya, seperti pengorganisasian gereha, renaissance, aufklarung (masa pencerahan), rasionalisme, dan pembatalan yang dikerjakan Immanuel Kant, revolusi industri, dan pemunculan ideologi (seperti sosialisme dan kapitalisme), adalah tahap-tahap pertumbuhan dari "penyimpangan" Eropa dari PKU I di seluruh dunia. Nah, sekarang ini Eropa telah berhasil "menyempurnakan" penyimpangan tersebut.

Dengan teknologi dan pengorganisasian masyarakat yang berhasil dicapai sejauh ini, telah memaksa "peniruan" oleh dunia yang semula mengikuti PKU I. Keadaan demikian itu oleh sementara moralis dianggap sebagai "kerugian besar" umat manusia. Karena sekarang umat manusia kehilangan moralitasnya. Kita boleh berbeda paham tentang rugi atau tidaknya dengan perkembangan itu. Tapi, analisis sosial yang digunakan Karl Marx dalam Das Kapital itu tetap harus penulis anggap sebagai bagian dari "penyimpangan sejarah" dari PKU I, guna mengetahui setepatnya kedudukan karya tulis penting tersebut. Kalau tidak dilakukan penilaian seperti itu, kita akan terpaksa melihatnya sebagai sesuatu yang menentukan segala-galanya, atau justru tidak menganggapnya penting bagi sejarah.

Anggapan buku Das Kapital adalah bagian dari penyimpangan yang dilakukan oleh para pemikir Eropa, sudah merupakan sebuah penilaian yang sangat tinggi akan karya tersebut. Tidak banyak karya tulis yang mempunyai kedudukan seperti itu. Karya ini merupakan warisan yang sangat berharga bagi upaya kita untuk maju ke depan, dalam perkembangan sejarah umat manusia, bukan?

Abdurrahman Wahid, DPP Syuro PKB. Sindo 27 Agustus 2007

28.8.07

Kesalahan

Semalam bertemu seseorang di simpang jalan. Tak nyaman juga akhirnya, membiarkan dia melihat saya sudah demikian tepuruk begini. Jatuh nyaris hingga ke dasar lubang. Orang kesekian yang kutemui yang memberikan tatapan iba untukku. Selalu saja bertanya kau baik-baik saja? Kau sehat-sehat saja? Kau harus baik-baik saja!

Malam tadi orang keberapa? Setelah beberapa siang sebelumnya seorang kawan lagi seolah menyediakan kedua tangannya untukku bertopang. Terima kasih untuk semuanya! Ya, aku terima ini semua. Nasib adalah kesunyian masing-masing, biar terpuji arwah Chairil. Aku tahu kesalahanku:

yang berjalan - telah jauh di depan meninggalkanku
yang mengangkasa - telah melesat memunggungiku
yang berlari - telah tak ingat akan aku

sementara aku
tetap di sini tak bergeser sejarak pun
menundukkan kepala untuk sesekali mendongak
setengah mati dalam usaha membohongi hati;
matahari ini masih sama dengan yang lalu
langit ini masih sama dengan yang waktu itu

8.8.07



kudapati


ke laut kupergi; kudapati badai
ke hutan kulari; kudapati sesat
ke lembah kusepi; kudapati hujan
ke kota kudiam; kudapati kejam
ke hatimu kuada; kudapati apa?


rindu dalam-dalam

sudah, sudah
pergi sana... biar sepi di sini, biar sunyi
biar angin kusambut sendiri
malam ini bintang sendiri. kaku diam.
dan sunyi mencuri malam

sudah... pergi sana
jauh. jangan di sini.
malam biar malam
jahat biar jahat
tak perlu malaikat.
nisan, upacara, kubur dalam-dalam semua.
jangan ada lagu. jangan ada puisi.
biar sepi
biar sunyi
aku senang sendiri
aku rindu diriku. rindu dalam.
dalam-dalam


kata-kata

kata-kata menjadi cermin-cermin masa-masa lalu
masa-masa depan cermin-cermin dari detik-detik
yang tercipta sebagai momentum-momentum
di saat-saat kehadirannya dalam hidup-hidup
tiap-tiap orang yang selalu saja menyisakan
makna-makna beragam yang kadang berseberang-
seberangan meski dalam momentum yang sama

kadang juga seperti ini: pengulangan-pengulangan yang memuakan!


sajak dekapan

mendekap harta kudekap miskin
mendekap sendawa kudekap lapar
mendekap gempita kudekap sunyi
mendekap cerita kudekap kosong
mendekap mayang kudekap jeruji
mendekap titah kudekap bungkam
mendekap mulia kudekap hina
mendekap ada kudekap tiada

mendekap cinta kudekap Engkau


apa lagi?

apa lagi? semua telah dituliskan telah dinyanyikan disyairkan menyerupai gubahan-gubahan teragung sepanjang usia tapi hati masih perih dan kepala melulu panas tangan masih kaku tanpa bisa berpaling menunduk menengadah mencari apa yang belum apa yang masih bisa dijadikan serangkaian kata hingga melati mawar dan seribu bunga lainnya tersamai harumnya wanginya terserupai keindahannya keanggunannya apa lagi apa lagi apa lagi masihkah ada yang terlewatkan yang terlupakan yang belum terbahasakan segenggam cinta yang bukan karena setangkup cinta yang walau bagaimanapun walau seperih apapun setajam apapun sayatan-sayatan kisahnya sekejam apapun akibat-akibatnya menjadi hingga memenjara mengerangkeng sejuta indra memakan apa yang tersisa hingga tanpa sisa tanpa jejak tanpa bekas apa lagi apa lagi apa lagi yang belum terucap terdengar terlihat tentangmu tentang bagaimana matamu menelanjangi mataku tentang hewan-hewan disekelilingku yang tertawa begitu renyah mengejek menghina menertawai memunggungi tentang cuaca yang tak pernah bersahabat tersenyum mengulurkan tangan memapah dan menerangi hingga ujung jalan ini apa lagi apa lagi apa lagi?


*Letupan-letupan masa lalu. Berjumpa begitu saja di laci-laci.

3.8.07

Sport! Sport!

Aku jarang olahraga! Dan betapa ini kenyataan yang menyebalkan. Di tengah-tengah pola hidup yang sama sekali tak sehat ini—merokok, jam tidur yang amburadul, dan menu makan yang tak menentu—aku merasa sangat kurang berolahraga. Berat badan semakin hari semakin terasa bertambah (meski kadang membingungkan juga: di pagi hari bertemu si A dan dia berkomentar, “kenapa semakin kurus?” lalu di malam harinya bertemu si B yang berkata, “makin gemuk, nih!”).

Aku pikir-pikir olahraga seharusnya menjadi kebutuhan setiap orang, orang miskin maupun orang kaya. Orang miskin butuh berolahraga karena olahraga memang menyehatkan. Mampu menghindari tubuh dari penyakit-penyakit yang aneh-aneh. Di negara dengan pemerintah yang tak sepeduli pemerintah Kuba dalam menyelenggarakan kesehatan warganya, adalah bijak untuk menjauhkan diri dari penyakit-penyakit terkutuk. Karena kalau sudah sakit, urusan bisa semakin panjang. Sebentar-sebentar bisa keluar uang. Untuk orang kaya, olahraga juga dibutuhkan. Meski bisa saja mengakses pelayanan kesehatan yang baik dan terjamin, kemewahan terkadang sasaran empuk bibit-bibit penyakit. Dan kalau penyakit sudah datang, betapa kekayaan-kekayaan yang dimiliki tak lagi senikmat saat kesehatan bukan hal asing dari tubuh. Apa artinya uang banyak kalau kena pendingin ruangan saja badan terasa mau rontok?

Dan olahraga sepertinya memang jauh dari gaya hidupku. Saat sekolah dulu satu-satunya nilah merahku adalah mata pelajaran olahraga. Entah kenapa guru olahraga itu—yang belakangan kutahu mengencani salah seorang temanku—memberikanku nilai merah. Apa pula pentingnya mata pelajaran itu sampai-sampai dia memberikan aku nilai merah? Seingatku, aku cukup rajin mengikuti pelajaran olahraga. Seandainya ternyata tak ahli dalam berolahraga, seharusnya dia memberi banyak pemakluman. Bagaimana bisa siswa-siswa yang belum tentu berbakat olahraga tertentu, sementara jam pelajaran tak lebih dari dua jam seminggu, dipaksa harus bisa melakukan teknik-teknik olahraga tertentu. Kalau aku jadi guru musik, aku tidak akan pernah memberi nilai merah kepada siswa yang tak bisa bermain gitar. Apa lagi kalau jam pelajarannya minim dan dia sama sekali tak tertarik untuk berurusan dengan nada-nada musik.

Meski begitu aku pernah rajin berolahraga. Sejak kelas lima SD aku ikut pencak silat. Berlatih dua kali seminggu. Pertama malam kamis, kedua minggu pagi. Saat-saat itu aku sering mengeluarkan keringat. Kebiasaan itu berlangsung terus sampai masa-masa awal SMA. Di masa-masa itu aku juga sering bermain basket atau sepakbola di sore hari. Kompleks rumahku menyediakan lapangan basket dan stadion sepakbola tak begitu jauh dari rumahku. Cukup berjalan kaki lima sampai sepuluh menit, sampai sudah. Aku biasa bermain dengan teman-teman tetangga rumah. Jika sedang musim bermain sepakbola, maka basket ditinggalkan. Ramai-ramai kami menuju stadion untuk bermain bola. Dan, percayalah, di antara kami banyak yang tak mengenakan sepatu. Maka, musim sepakbola berarti juga musim luka di kaki. Namun, belakangan kami sedikit serius untuk bermain bola. Mengenakan sepatu, melakukan pemanasan, dan... memanggil pelatih. Salah seorang tetanggaku mantan pelatih sepakbola. Memegang sertifikat dari PSSI kalau tak salah, dan dia bersedia melatih anak-anak kompleks.

Tapi lagi-lagi, olahraga memang sepertinya bukan duniaku. Aku tak seperti tetanggaku yang begitu serius menjadi atlet renang atau atlet bulutangkis atau atlet bola volley. Bertanding ke sana ke sini dan mendapat rezeki dari berolahraga. Saat teman-temanku sibuk berlatih dan tertib membayar iuran footsal—seiring maraknya olahraga ini—aku memilih menyirami tanaman di depan rumah jika sore tiba. Di Minggu pagi, saat stadion yang sepelemparan tangan jaraknya dari rumahku itu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin berolahraga (senam, lari, bulutangkis, dan banyak lagi jenisnya), aku terkadang ke sana hanya untuk makan bubur atau melihat-lihat jajaran pedagang. Sungguh kemalasan yang luar biasa dan gaya hidup yang mengagumkan!

Dan masa-masa kuliah adalah masa-masa suram bagi tubuh ini. Tidak berolahraga, keluyuran malam hari, tidur justru pagi sudah menjelang, dan merokok. Belum lagi ditambah asupan makanan yang tak menentu. Jam makan, dalam pikiran ini, hanya berlaku untuk mereka yang punya jam kerja, jam tidur, dan jenis-jenis jam lainnya. Karena aku tidak punya jam-jam serupa itu, maku aku tak punya juga jam makan. Pernah dulu memang di sore hari bermain bola di lapangan kampus. Tapi itu dulu dan bisalah dihitung menggunakan jari berapa kali aku melakukannya. Tak butuh membuka-buka ingatan yang sudah disimpan jauh-jauh dalam kepala. Terlebih lagi di kampusku tidak ada mata kuliah olahraga. Beberapa kampus kudengar menyelenggarakan mata kuliah ini. ITB bahkan menyelenggarakan mata kuliah menyelam.

Kini, di akhir-akhir masa kuliah, kesadaran itu datang. Seperti sesuatu yang terlambat dan sia-sia. Aku merasa butuh berolahraga. Aku tak ingin tubuh ini kelak akan menjadi rumah seribu penyakit. Baiklah kalau aku menjadi orang berduit cukup, bisa untuk memasang balon di jantungku atau melakukan operasi di Australia. Kalau tidak? Cuma akan merepotkan orang-orang sekitarku! Aku ingin bermain bola di lapangan kampus, tapi ternyata tak ada yang aku kenal di tanah lapang itu. Agak sungkan juga untuk turut bergabung bersama mereka. Lalu aku ingin bermain bulutangkis. Ada beberapa gedung bulutangkis yang bisa disewa di sekitar kampusku, tapi aku tak punya raket. Bukan masalah besar, cukup menyisihkan uang bulanan, maka raket semestinya terbeli. Aku gulirkan ideku ini ke beberapa teman dekat, jawaban mereka sungguh mengecewakan, mereka malas bermain bulutangkis. Lalu beberapa orang mengajakku untuk membuat jadwal ke gym. Di sana bisa fitness atau treadmill. Ada beberapa memang di sini tempat-tempat semacam itu, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Tapi, seperti kutukan, jadwal itu tak lebih dari semacam omong kosong. Semangat ketika membicarakan dan merencanakan, tapi layu bahkan lupa ketika harus melaksanakannya.

Hah, Pramoedya pasti menertewakan generasi muda semacamku ini. Loyo, tak sehat, dan urakan. Dia bahkan semasa tuanya tetap rajin menggerakan badan dan pernah memilih berjalan kaki berkilo-kilo sementara keluarganya naik kendaraan.

Kini yang menjadi satu-satunya saluran hasrat berolahragaku adalah game komputer. Bermain bola bersama teman-teman, cukup menggerakan jempol tangan saja di atas joystick games. Sesekali menang sesekali kalah, berselang-seling. Tak apalah, cukup melatih sportivitas meski tubuh ini terasa semakin lapang untuk seribu macam penyakit!

29.7.07

Jadi, Apa yang Sedang Kita Lakukan?

“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)

Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.

Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”

Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”

Sekarang tinggal menerbangkan.

Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.

Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.

***

Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!

Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?

Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.

Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.

Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....

(printed version at Seputar Indonesia, 29 Juni 2007)
Kematian Seorang Kesepian



Setengah abad lebih kematiannya menjadi misteri, dan bulan ini seorang Belanda mengemukakannya ke publik. Link artikel:

Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap

Menguak Misteri Kematian Tan Malaka


Dan saya menemukan puisi ini. Dari si penulis Negara Kelima, Esito.

Dark Romance

Untuk Tan Malaka

Seperti kisah yang lama
Ada kenangan dari yang hilang
Setambat duka dari yang tidak disuka
Dan dirimu pun seperti bayang
Terhalang bintang-bintang
Yang menaungi sejarah

Ada apa Tan

Dengan hilangnya kau
Persis di tengah-tengah revolusi republik
Matikah kau Tan membawa petualangan tak terlupakan
Tidak ada yang tahu Tan
Semenjak tiga serangkai, sukarno hatta dan syahrir
Yakinkan engkau dan iwa kusuma sumantri kelak sebagai ban serep
Jika tiga mereka mati

Tetapi seperti kisah orang tersembunyi
Ada segelintir orang kagumi engkau punya diri
Jadikan madilog kitab suci
Tidak lupa juga puja pahlawan import
Che guevera namanya Tan

Tetapi aku mau bertanya pada mu Tan
Pada retorika romantisme yang sepi

Adakah kau dalam pelarian
Penuh sukacita fasilitas tiada tara
Seperti laku kini mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Keluar masuk hiburan malam

Adakah dalam ingatanmu
Dalam pelarian kau bercinta dengan segenap wanita
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Berpelukan mesra dengan wanita segala usia

Dan tan bisakah kau reka ulang
Dalam pelarian jhony walker jadi teman sepimu
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Tak sadarkan diri demi menenangkan diri

Hey..Tan

Yang kampung engkau jaraknya tidak lebih dari 33 kilo dari kampungku
Adakah semua itu kau laku
Di indochina
Siam
Singapura
Atau bahkan dalam penyamaranmu di jaman jepang?

Aku tidak tahu Tan
Tetapi dari engkau yang ku paham dari kisahmu
Engkau tidak begitu
Ada religiusme individu dalam sosialisme kolektif
Begitu yang kutahu

Ada apa dengan mereka yang mengagungkan madilog mu tan
Berpikir mereka di hutan amerika selatan
Hingga kenakan kaus che guevera
Tapi tak sekalipun merasakan di tengah medan aksi

Ada apa Tan?

3 Desember 2004

(link: ibu, aku ingin mengubah bintang)