18.2.08

Kunang-Kunang

Sepanjang jalan tol menuju Cileunyi senja tadi, senang sekali. Pengalaman pertama setelah begitu seringnya melintasi tol tersebut: banyak kunang-kunang di tepi jalan. Kerlapkerlip sepanjang jalan. Karnaval. Di pojok bis kota terakhir yang nyaris rontok karena si kondektur yang begitu baiknya menaikkan semua penumpang, semua kebodohan dimaafkan oleh kunang-kunang baik hati.

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau datang pun tak pergi

riak-riak berlabuh di pantaiku
darahku kian menderu
sadari tak jelas di sana
apakah karenamu?
kau tak nyata pun tak semu

tidakkah cinta berkuasa?
tak mestinya luka menghentikan langkah
bila saatnya, hadapilah

bilakah kau menepi di labuhku?
bilakah kau menjauh?
membentang kau jelas di sana
namun tak teraih
kau tak datang pun tak pergi

tidakkah bimbang menyiksamu?
masih banyak pulau yang dapat kau temu
sejenak saja, hampiri aku!

berharap kan jelas di sana
hanyalah karenamu
tiap senja di labuhku
menepilah!
menepilah!
menepilah!

(Tiap Senja, Float)

4 komentar:

bedh said...

huhuhu kalau memang nggak mau pergi jauh yah nikmati aja kali yah....
seperti tentang kehilangan yah...
huhuhu sotoy banget nggak sih?
:D

btw say juga sedang tertarik kembali dengan snouck
kmaren waktu jalan2 ke tempat tukang buku bekas ditawarin buku snouck lengkap 7 edisi tapi harganya lumayan
dia minta 300ribu huhuhu saya nggak punya duit segitu wat beli buku itu

huhuhu
malah curhat

kalau aceh di mata kolonial itu bisa di beli dimana yah?

imam said...

waduh, saya gak tahu beli di mana. ada di rak buku ayah saya. dua jilid tentang aceh. =)

ciplok said...

arrrggghhh saya sudah mulai kehilangan diri saya sendiri. rindu pram setengah mati. lama tidak menulis. apalagi puisi.

ugh!

betapa indahnya melihat karnaval kunang2mu

Anonymous said...

sang kunang tampak terus mencari dan memancarkan cahaya yang mampu menyinari sekelilingnya...

tak salah berpengharapan namun tidaklah berkehendak lebih...

kiranya sang kunang mendapatkan seorang yang sangat sabar, layaknya sang penulis puisi ini yang luar biasa mencintainya...