Dari Balik Hari Aksara
“Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.
(Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca, Pidato Penerimaan South East Asia (SEA) Write Award 1997, Seno Gumira Ajidarma)
Dari banyaknya hari-hari besar yang diperingati Indonesia, barangkali Hari Aksara Internasional cenderung tidak begitu populer. Hari Aksara diperingati setiap tanggal 8 September setiap tahunnya. Ini hari besar internasional, UNESCO yang menetapkannya. Dan pemerintah kita, biasanya turut merayakannya dengan peringatan ini-itu. Tahun ini pemerintah memperingati Hari Aksara yang dipusatkan di Lapangan Taman Sangkaraeng, Mataram, NTB. Sebuah pemerintah dari negara yang memiliki peringkat ke-107 dari 147 negera yang paling terbelakang soal buta aksara. Ironis? Atau idealis?
Coba tengok data tingkat buta huruf rakyat Indonesia. Zaini Arony, Sekretaris Jenderal Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas mengatakan setelah 62 tahun Indonesia merdeka, tingkat buta huruf di Indonesia berhasil ditekan hingga 8,02 persen atau sekitar 12 juta. Masih menurutnya, target pemerintah angka tersebut dapat ditekan lagi hingga mencapai 7,7 juta atau lima persen di akhir tahun 2009.
Agaknya kita perlu belajar banyak dari Kuba soal pemberantasan buta aksara. Kuba, negara kecil yang terus-menerus ditekan Amerika Serikat itu, memiliki angka buta aksara nyaris nol persen. Itu artinya, seluruh penduduk Kuba yang telah memasuki usia pendidikan dan memungkinkan membaca (tidak memiliki cacat fisik) mampu untuk membaca. Selain kesehatan, pemerintah Kuba memang tidak pernah main-main dengan pendidikan rakyatnya. Pendidikan menjadi akar penting dalam pembentukkan karakteristik masyarakat Kuba. Yang harus dicatat adalah di Kuba seluruh jenjang pendidikan digratiskan. Universitas bukan hanya menggapai mereka yang masih muda. Untuk para orang tua yang belum mengenyam bangku universitas, disediakan program University for All oleh pemerintah Kuba lewat kuliah-kuliah umum di media massa dan forum-forum publik. Kuba adalah sebuah negara dengan dokter paling banyak di muka bumi.
Sesaat setelah Fidel Castro dan Che Guevara memenangkan revolusinya di tahun1959, yang menjadi salah satu prioritas program pemerintahan mereka adalah pendidikan. Che Guevara, eks-gerilyawan yang kemudian menjadi menteri, mencanangkan program pemberantasan buta huruf besar-besaran untuk masyarakat Kuba. Ribuan relawan direkrut untuk menyukseskan program ini. Relawan-relawan tersebut terjun ke ladang-ladang tebu, desa-desa, ke seluh pelosok Kuba untuk mengajarkan rakyat Kuba membaca. Di Kuba dikenal slogan ini, “if you know, teach; if you don’t know, learn!” atau “Every Cuban a teacher; every house a school”. Dan tampaknya, slogan-slogan ini bukan omong kosong. Tak perlu menunggu puluhan tahun setelah "kemerdekaan", rezim Kuba berhasil menekan angka buta huruf seminimal mungkin.
Entah apakah Kuba akan memperingati Hari Aksara seperti di sini. Di Indonesia, tidakkah peringatan Hari Aksara seharusnya mampu menjadi monumen ingatan tentang betapa kita belum begitu serius menyelenggarakan pendidikan bagi rakyat Indonesia. Momen di mana kita menengok kembali perilaku bangsa kita. Lihatlah, larangan terbit buku-buku Pramoedya masih belum dicabut, pemerintah ramai-ramai mencontohkan diri membakar buku, subsidi pendidikan hanya manis dalam tulisan, dan lain sebagainya.
Mungkin kita lupa kalau kita punya Hari Aksara, tapi semoga kita tak pernah lupa bahwa sebuah bangsa akan selalu membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan membaca.
printed version: Pikiran Rakyat
1 komentar:
semakin ke sini, aku semakin mendapati bahwa banyak banget orang yang suka menyemai cela-cela nya. dosenku tak henti-hentinya mencela indonesia. sementara jun, OB di kantorku tak pernah melakukan hal yang sama. Bukan berarti aku nggak mau Indonesia melek baca dengan tidak ikut mencela. Tapi berdekatan dengan Jun, lebih adem rasanya....
Post a Comment