20.1.07

Intermezzo

Seorang teman akhirnya pergi setelah berjam-jam mendengarkan celotehan saya dua malam lalu. Ini agak aneh. Biasanya dia yang datang dan kemudian berceloteh tentang hasrat-hasratnya yang terhitung ganjil. Ya, tentu saja ganjil menurut parameter ''keumuman''. Tapi dua malam lalu, dia hanya menjadi pembuka bagi celotehan-celotehan celaka dari mulut saya. Tak sampai lima belas menit dia bercerita soal hasrat-hasratnya. Selebihnya, sampai kemudian dia menyuruh saya tidur dan pergi, saya yang berceloteh.

Barangkali dia benar, sudah saatnya saya tidur. Saya sendiri agak gemetar mendengar kalimat-kalimat saya sendiri. Kenyataannya saya tak tidur sampai matahari benar-benar datang menjemput. Saya katakan pada dia, ''Seharusnya saya sudah memperhitungkan ini sejak semula....''

Kemudian saya membaca Pramoedya. Menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Sampai di sore harinya seorang kawan lama mengirim sms, mengajak bertemu di rumah seorang kawan. Baiklah, saya pergi.

Saya mandi dan berpakaian agak rapi. Jaket jeans saya kenakan. Agak dingin lantaran mungkin mau hujan. Mendung tebal menutup senja yang beberapa hari sebelumnya selalu tampak bagus. Saya mampir ke tempat penjualan pulsa sebelum akhirnya memberhentikan angkot.

Dan, demi langit senja, saya tersadar kalau ini adalah perjalanan pertama yang saya lakukan setelah tiga minggu saya hanya berdiam diri di kamar. Dan betapa malam tadi begitu berbeda.

Saya melihat lampu-lampu dari kios-kios, pusat perbelanjaan baru, pasangan muda-mudi bergandengan tangan, anak-anak nongkrong. Tak ada bintang di langit, tapi banyak kerlap-kerlip di bawah sini.

Rute angkot pertama selesai ditempuh. Seharusnya naik angkot lagi. Tapi jalanan ternyata macet, membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar. Di samping kiri, toko elektronik begitu benderang. Di samping kanan, bus besar dengan kondektur yang letih mengantri macet. Ini tak biasa. Seharusnya jalan ini tak pernah macet sepanjang ini.

Saya berjalan dan terus berjalan. Orang-orang begitu sibuk seperti hendak mengejar-ngejar sesuatu di depan sana. Seorang ibu menggandeng anaknya yang, entah mengapa, terus saja menangis. Tukang ojeg berkerumun di depan televisi menunggu penumpang.

Saya berjalan. Jaket jeans saya terasa lusuh dengan bau minyak kayu putih. Saya menyalakan rokok dan teringat kalimat milik joshua: ''kalau punya pistol... gaya jalan gue juga beda!''

No comments: