7.11.06

Membaca Gejala Dari Jelaga

...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.

Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan

kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan

sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam

kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari

dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali

dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca

telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka

menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala


pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat

serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi

dan menantang mentari....

-homicide

No comments: