26.4.07
6.4.07
Soal Pekerjaan
Rabu lalu seorang teman yang sedang bekerja di Jakarta mengirimi saya SMS, ''Bosen banget. Gak mood....'' Dia bilang dia ingin terbang. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung meminjam uang kepada saya untuk ibunya berobat, ''Gaji belum dibayar empat bulan.'' Kemarin malam seorang teman yang bekerja di Tangerang juga mengirimi saya SMS, ''Ini malam terakhir gue bekerja. Kontrak gue habis!'' Dan beberapa jam tadi, seorang teman yang mengambil cuti dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta, datang ke tempat saya. Disaksikan gelas-gelas kopi dia bercerita soal konflik-konflik batin yang dirasakannya dan kepusingannya melihat iklim kantor yang penuh intrik.
Barangkali, bukan cuma kolom agama yang harus dihilangkan dari KTP, tapi juga kolom pekerjaan. Apakah mungkin kita mengisinya dengan, "Kami Menolak Bekerja Lagi!"
Rabu lalu seorang teman yang sedang bekerja di Jakarta mengirimi saya SMS, ''Bosen banget. Gak mood....'' Dia bilang dia ingin terbang. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung meminjam uang kepada saya untuk ibunya berobat, ''Gaji belum dibayar empat bulan.'' Kemarin malam seorang teman yang bekerja di Tangerang juga mengirimi saya SMS, ''Ini malam terakhir gue bekerja. Kontrak gue habis!'' Dan beberapa jam tadi, seorang teman yang mengambil cuti dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta, datang ke tempat saya. Disaksikan gelas-gelas kopi dia bercerita soal konflik-konflik batin yang dirasakannya dan kepusingannya melihat iklim kantor yang penuh intrik.
Barangkali, bukan cuma kolom agama yang harus dihilangkan dari KTP, tapi juga kolom pekerjaan. Apakah mungkin kita mengisinya dengan, "Kami Menolak Bekerja Lagi!"
26.3.07
Di Antara yang Berubah dan yang Tidak
Jadi seperti itu juga akhirnya, satu persatu kawan-kawanku berubah. Ada yang kasat mata, ada yang nyaris tak terasa. Tapi, mengapa terkadang ongkos-ongkos perubahan itu bisa pula sampai harus ditanggung oleh hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan itu sendiri?
Kalau memang berita dari Y itu benar, semakin tak mengertilah aku bagaimana caranya roda hidup berputar. Berkelok ke sana ke mari, tak jelas dan tak tercerna. Dan bodohnya aku tak pernah merasa bahwa keadaannya memang sudah begitu sejak lama.
Sulit rasanya untuk tidak mempercayai isi berita itu. Dari yang mampu kurasa-rasai, memang tampaknya dia sudah berubah. Berubah. Tapi, lagi-lagi, sedrastis itukah?
Ah, dunia, semakin rumit saja kau buat orang-orang menyeret-nyeret langkah.
Jadi seperti itu juga akhirnya, satu persatu kawan-kawanku berubah. Ada yang kasat mata, ada yang nyaris tak terasa. Tapi, mengapa terkadang ongkos-ongkos perubahan itu bisa pula sampai harus ditanggung oleh hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan itu sendiri?
Kalau memang berita dari Y itu benar, semakin tak mengertilah aku bagaimana caranya roda hidup berputar. Berkelok ke sana ke mari, tak jelas dan tak tercerna. Dan bodohnya aku tak pernah merasa bahwa keadaannya memang sudah begitu sejak lama.
Sulit rasanya untuk tidak mempercayai isi berita itu. Dari yang mampu kurasa-rasai, memang tampaknya dia sudah berubah. Berubah. Tapi, lagi-lagi, sedrastis itukah?
Ah, dunia, semakin rumit saja kau buat orang-orang menyeret-nyeret langkah.
24.3.07
Sabtu, 24 Maret 2007
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
24 Maret 2007 (01.45)
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Jumat, 23 Maret 2007
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
22.3.07
Kamis, 22 Maret 2007
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.
28.2.07
23.2.07
20.1.07
Intermezzo
Seorang teman akhirnya pergi setelah berjam-jam mendengarkan celotehan saya dua malam lalu. Ini agak aneh. Biasanya dia yang datang dan kemudian berceloteh tentang hasrat-hasratnya yang terhitung ganjil. Ya, tentu saja ganjil menurut parameter ''keumuman''. Tapi dua malam lalu, dia hanya menjadi pembuka bagi celotehan-celotehan celaka dari mulut saya. Tak sampai lima belas menit dia bercerita soal hasrat-hasratnya. Selebihnya, sampai kemudian dia menyuruh saya tidur dan pergi, saya yang berceloteh.
Barangkali dia benar, sudah saatnya saya tidur. Saya sendiri agak gemetar mendengar kalimat-kalimat saya sendiri. Kenyataannya saya tak tidur sampai matahari benar-benar datang menjemput. Saya katakan pada dia, ''Seharusnya saya sudah memperhitungkan ini sejak semula....''
Kemudian saya membaca Pramoedya. Menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Sampai di sore harinya seorang kawan lama mengirim sms, mengajak bertemu di rumah seorang kawan. Baiklah, saya pergi.
Saya mandi dan berpakaian agak rapi. Jaket jeans saya kenakan. Agak dingin lantaran mungkin mau hujan. Mendung tebal menutup senja yang beberapa hari sebelumnya selalu tampak bagus. Saya mampir ke tempat penjualan pulsa sebelum akhirnya memberhentikan angkot.
Dan, demi langit senja, saya tersadar kalau ini adalah perjalanan pertama yang saya lakukan setelah tiga minggu saya hanya berdiam diri di kamar. Dan betapa malam tadi begitu berbeda.
Saya melihat lampu-lampu dari kios-kios, pusat perbelanjaan baru, pasangan muda-mudi bergandengan tangan, anak-anak nongkrong. Tak ada bintang di langit, tapi banyak kerlap-kerlip di bawah sini.
Rute angkot pertama selesai ditempuh. Seharusnya naik angkot lagi. Tapi jalanan ternyata macet, membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar. Di samping kiri, toko elektronik begitu benderang. Di samping kanan, bus besar dengan kondektur yang letih mengantri macet. Ini tak biasa. Seharusnya jalan ini tak pernah macet sepanjang ini.
Saya berjalan dan terus berjalan. Orang-orang begitu sibuk seperti hendak mengejar-ngejar sesuatu di depan sana. Seorang ibu menggandeng anaknya yang, entah mengapa, terus saja menangis. Tukang ojeg berkerumun di depan televisi menunggu penumpang.
Saya berjalan. Jaket jeans saya terasa lusuh dengan bau minyak kayu putih. Saya menyalakan rokok dan teringat kalimat milik joshua: ''kalau punya pistol... gaya jalan gue juga beda!''
Seorang teman akhirnya pergi setelah berjam-jam mendengarkan celotehan saya dua malam lalu. Ini agak aneh. Biasanya dia yang datang dan kemudian berceloteh tentang hasrat-hasratnya yang terhitung ganjil. Ya, tentu saja ganjil menurut parameter ''keumuman''. Tapi dua malam lalu, dia hanya menjadi pembuka bagi celotehan-celotehan celaka dari mulut saya. Tak sampai lima belas menit dia bercerita soal hasrat-hasratnya. Selebihnya, sampai kemudian dia menyuruh saya tidur dan pergi, saya yang berceloteh.
Barangkali dia benar, sudah saatnya saya tidur. Saya sendiri agak gemetar mendengar kalimat-kalimat saya sendiri. Kenyataannya saya tak tidur sampai matahari benar-benar datang menjemput. Saya katakan pada dia, ''Seharusnya saya sudah memperhitungkan ini sejak semula....''
Kemudian saya membaca Pramoedya. Menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Sampai di sore harinya seorang kawan lama mengirim sms, mengajak bertemu di rumah seorang kawan. Baiklah, saya pergi.
Saya mandi dan berpakaian agak rapi. Jaket jeans saya kenakan. Agak dingin lantaran mungkin mau hujan. Mendung tebal menutup senja yang beberapa hari sebelumnya selalu tampak bagus. Saya mampir ke tempat penjualan pulsa sebelum akhirnya memberhentikan angkot.
Dan, demi langit senja, saya tersadar kalau ini adalah perjalanan pertama yang saya lakukan setelah tiga minggu saya hanya berdiam diri di kamar. Dan betapa malam tadi begitu berbeda.
Saya melihat lampu-lampu dari kios-kios, pusat perbelanjaan baru, pasangan muda-mudi bergandengan tangan, anak-anak nongkrong. Tak ada bintang di langit, tapi banyak kerlap-kerlip di bawah sini.
Rute angkot pertama selesai ditempuh. Seharusnya naik angkot lagi. Tapi jalanan ternyata macet, membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar. Di samping kiri, toko elektronik begitu benderang. Di samping kanan, bus besar dengan kondektur yang letih mengantri macet. Ini tak biasa. Seharusnya jalan ini tak pernah macet sepanjang ini.
Saya berjalan dan terus berjalan. Orang-orang begitu sibuk seperti hendak mengejar-ngejar sesuatu di depan sana. Seorang ibu menggandeng anaknya yang, entah mengapa, terus saja menangis. Tukang ojeg berkerumun di depan televisi menunggu penumpang.
Saya berjalan. Jaket jeans saya terasa lusuh dengan bau minyak kayu putih. Saya menyalakan rokok dan teringat kalimat milik joshua: ''kalau punya pistol... gaya jalan gue juga beda!''
12.12.06
Delegitimasi Surat Suara dan Berhenti Pilih Pemimpin
Diambil dari FreeAcheh!
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30 4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
Preparatory Committee of The Free Acheh Democratic
E-mail: committee@freeacheh .info
www.freeacheh. info
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30
4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini, tanggal 4 Desember 2006, merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidup dan kehidupan bangsa Acheh, dimana pada hari yang mulia ini kita bangsa Acheh yang sudah sadar akan sejarah perjuangan para endatu kita dahulu, memperingati Milad Kemerdekaan Acheh yang ke-30, yang diproklamirkan kembali kepada dunia oleh DR. Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Perayaan kemerdekaan ini merupakan simbol daripada tali penyambung masa lalu kita yang merdeka dan berdaulat dengan masa sekarang dan masa depan kita, yang juga ingin hidup bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajajahan bangsa luar.
Sempena menyambut Milad Acheh Merdeka yang ke-30 ini, kami dari Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik ingin menyampaikan salam sejahtera dan penghormatan kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa Acheh yang telah memberikan pengorbanan yang tidak ternilai untuk perjuangan suci ini, dan juga telah membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Acheh masih tetap istiqamah dengan keputusannya untuk merdeka walau dalam keadaan bagaimanpun jua. Kami juga ingin menyampaikan rasa simpati kami yang tak terhingga kepada seluruh ahli waris dan handai taulan daripada korban-korban kedhaliman dan kekejaman serdadu Indonesia terhadap bangsa kita yang tidak bersalah.
Bangsa Acheh yang dicintai!
Selama 30 tahun ini, tidak terhitung darah segar bangsa kita yang sudah mengalir di seantero penjuru bumi Acheh; ribuan mayat pejuang dan syuhada yang tak berpusara; puluhan ribu anak yang kehilangan ibu-ayah yang terbengkalai; dan berbagai pengorbanan lainnya yang tak ternilai, yang telah kita hibahkan demi untuk mendapatkan kembali hak-hak kemerdekaan kita dan mengembalikan kedaulatan Negara Acheh dari tangan musuh kita - Indonesia.
Harga merdeka yang telah kita bayar dengan darah kita sendiri dan pengorbanan yang telah kita berikan dengan ikhlas, dengan memilih sendiri atas kesadaran politik ingin hidup bebas dan merdeka, kesemua ini hendaknya kita jadikan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan suci yang belum selesai ini.
Perlu kita akui, bahwa dalam proses menuju kemerdekaan, masih banyak kesulitan yang menggunung di hadapan kita yang sedang kita hadapi. Selama 30 tahun kita berjuang, kita telah berulang kali mengalami pasang-surut, timbul-tenggelam, maju-mundur. Akan tetapi Komite percaya bangsa kita akan sanggup menyingkirkan setiap aral melintang. Sebab para endatu kita dahulu, para pejuang kita belum lama ini dan generasi kita sekarang telah membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tahan uji, bangsa yang besar kemampuan, tahu harga diri dan memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang luar biasa.
Bangsa Acheh yang dimuliakan!
Kita sekarang sedang menghadapi saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa luar. Inilah saat-saat yang paling menentukan dalam hidup kita, apakah kita ingin hidup sebagai satu bangsa yang merdeka dan mulia atau terus hidup dijajah dan dihina.
Untuk bisa mengambil keputusan penting ini, kita perlu mengkaji dengan teliti kehadiran MoU Helsinki yang di tandantangi tanggal 15 Agustus 2005, oleh segelintir orang Acheh yang mengklaim atasnama seluruh bangsa kita. Sebab, polemik MoU ini akan terus menurus digunakan oleh RI dan kolaborator- nya di Acheh untuk melumpuhkan perjuangan suci bangsa Acheh tentang penentuan nasib dirinya sendiri yang bebas dan berdaulat.
Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bahwa perjanjian Helsinki itu hanya tipu muslihat politik penjajah, dan para pihak yang terlibat di dalamnya hanya bekerja untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya untuk mendapat keuntungan pribadi dari pangkat dan kekuasaan yang akan diperoleh nanti. Sedangkan masalah keadilan yang di dalamnya juga tertuang perkara-perkara pelanggaran HAM oleh para pihak yang bertikai, terlebih yang dilakukan serdadu penjajah, tidak mendapat perhatian sama sekali. Dengan demikian, perjanjian Helsinki tersebut secara jelas telah mengkhianati puluhan ribu korban konflik Acheh selama 30 tahun ini.
Di samping itu, perjanjian Helsinki juga dengan terang telah mengkhianati sumpah Acheh Merdeka dan melanggar Proklamasi Acheh Merdeka 1976 sebagai fondasi tempat didirikan perjuangan kemerdekaan kita dan sebagai referensi tempat rujukan kita. Oleh sebab itu, Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik, sebagai wadah pemersatu kembali bangsa Acheh untuk merealisasi tujuan dan cita-citanya untuk bebas dan merdeka, berharap kepada seluruh bangsa kami supaya berhati-hati dari penipuan pernjanjian MoU tersebut.
Penipuan ini semakin jelas terlihat di mana Perundangan tentang Pemerintah Otonomi Acheh yang baru disahkan sebagai UUPA tersebut, adalah tidak memenuhi standar yang tercantum dalam MoU Helsinki. Perihal ini adalah salah satu contoh betapa kolonialis Indonesia dengan segala cara mencoba mengkhianati perjanjian yang dibuatnya sendiri, dan oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya sampai kapan pun.
Akan tetapi, dengan UUPA tersebut, para pemimpin dan pengikut GAM oligarkhi di bawah kepemimpinan Malik Mahmud, yang telah menjual kedaulatan kita kepada penjajah, sekarang tengah berusaha memenuhi ambisi pribadi dan golongan untuk menjadi kakitangan kolonial Indonesia dengan maju sebagai kandidat kepala pemerintahan provinsi dan kabupaten di Acheh. Meskipun mereka beralasan bahwa langkah tersebut adalah masih dalam usaha memperjuangankan kemerdekaan, argumen ini wajib kita tolak secara bersama, karena tidak sesuai dengan asas perjuangan dan konstitusi Acheh Merdeka serta tidak berdasarkan logika self-determination dan kaedah revolusi. Bangsa Acheh perlu memahami sepenuhnya bahwa siapapun yang akan terpilih dalam PILKADA mendatang adalah tidak memberi keuntungan kepada perjuang bangsa kita dalam meraih kemerdekaan, sebaliknya adalah halangan untuk mencapai tujuan dimaksud.
Oleh sebab itu, untuk menolak setiap usaha kolonial Indonesia, kakitangan dan koloborator- nya dalam melegitimasi pendudukan Indonesia di Acheh, maka adalah tanggung jawab seluruh Bangsa Acheh yang cinta kemerdekaan untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa kita sebagai Bangsa yang sedang menuntut kemerdekaan adalah tidak dapat menerima keberadaan segala bentuk pemerintahan kolonial yang berstatus illegal di bumi Acheh, dan kita tidak tertarik untuk memilih para kandidat atau calon kepala pemerintah kolonial Indonesia di Acheh baik itu dari calon independen atau dari partai kolonial. Usaha ini dapat saudara lakukan dengan memilih lebih dari sepasang calon atau kandidat gubernur maupun bupati/walikota agar surat suara tersebut tidak dapat digunakan untuk kepentingan penjajah dalam mengekalkan pendudukannya di Acheh.
Bangsa Acheh sekalian, teruskan perjuangan kita dan manfaatkan PILKADA untuk membuktikan kepada dunia bahwa kemauan dan hati nurani bangsa kita yang sebenarnya adalah untuk MERDEKA, yaitu dengan cara men-delegitamasi surat suara. Insya Allah, kita akan terbebas. MERDEKA!
Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh.
New York, 4 Disember 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
Diambil dari FreeAcheh!
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30 4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
Preparatory Committee of The Free Acheh Democratic
E-mail: committee@freeacheh .info
www.freeacheh. info
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30
4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini, tanggal 4 Desember 2006, merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidup dan kehidupan bangsa Acheh, dimana pada hari yang mulia ini kita bangsa Acheh yang sudah sadar akan sejarah perjuangan para endatu kita dahulu, memperingati Milad Kemerdekaan Acheh yang ke-30, yang diproklamirkan kembali kepada dunia oleh DR. Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Perayaan kemerdekaan ini merupakan simbol daripada tali penyambung masa lalu kita yang merdeka dan berdaulat dengan masa sekarang dan masa depan kita, yang juga ingin hidup bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajajahan bangsa luar.
Sempena menyambut Milad Acheh Merdeka yang ke-30 ini, kami dari Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik ingin menyampaikan salam sejahtera dan penghormatan kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa Acheh yang telah memberikan pengorbanan yang tidak ternilai untuk perjuangan suci ini, dan juga telah membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Acheh masih tetap istiqamah dengan keputusannya untuk merdeka walau dalam keadaan bagaimanpun jua. Kami juga ingin menyampaikan rasa simpati kami yang tak terhingga kepada seluruh ahli waris dan handai taulan daripada korban-korban kedhaliman dan kekejaman serdadu Indonesia terhadap bangsa kita yang tidak bersalah.
Bangsa Acheh yang dicintai!
Selama 30 tahun ini, tidak terhitung darah segar bangsa kita yang sudah mengalir di seantero penjuru bumi Acheh; ribuan mayat pejuang dan syuhada yang tak berpusara; puluhan ribu anak yang kehilangan ibu-ayah yang terbengkalai; dan berbagai pengorbanan lainnya yang tak ternilai, yang telah kita hibahkan demi untuk mendapatkan kembali hak-hak kemerdekaan kita dan mengembalikan kedaulatan Negara Acheh dari tangan musuh kita - Indonesia.
Harga merdeka yang telah kita bayar dengan darah kita sendiri dan pengorbanan yang telah kita berikan dengan ikhlas, dengan memilih sendiri atas kesadaran politik ingin hidup bebas dan merdeka, kesemua ini hendaknya kita jadikan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan suci yang belum selesai ini.
Perlu kita akui, bahwa dalam proses menuju kemerdekaan, masih banyak kesulitan yang menggunung di hadapan kita yang sedang kita hadapi. Selama 30 tahun kita berjuang, kita telah berulang kali mengalami pasang-surut, timbul-tenggelam, maju-mundur. Akan tetapi Komite percaya bangsa kita akan sanggup menyingkirkan setiap aral melintang. Sebab para endatu kita dahulu, para pejuang kita belum lama ini dan generasi kita sekarang telah membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tahan uji, bangsa yang besar kemampuan, tahu harga diri dan memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang luar biasa.
Bangsa Acheh yang dimuliakan!
Kita sekarang sedang menghadapi saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa luar. Inilah saat-saat yang paling menentukan dalam hidup kita, apakah kita ingin hidup sebagai satu bangsa yang merdeka dan mulia atau terus hidup dijajah dan dihina.
Untuk bisa mengambil keputusan penting ini, kita perlu mengkaji dengan teliti kehadiran MoU Helsinki yang di tandantangi tanggal 15 Agustus 2005, oleh segelintir orang Acheh yang mengklaim atasnama seluruh bangsa kita. Sebab, polemik MoU ini akan terus menurus digunakan oleh RI dan kolaborator- nya di Acheh untuk melumpuhkan perjuangan suci bangsa Acheh tentang penentuan nasib dirinya sendiri yang bebas dan berdaulat.
Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bahwa perjanjian Helsinki itu hanya tipu muslihat politik penjajah, dan para pihak yang terlibat di dalamnya hanya bekerja untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya untuk mendapat keuntungan pribadi dari pangkat dan kekuasaan yang akan diperoleh nanti. Sedangkan masalah keadilan yang di dalamnya juga tertuang perkara-perkara pelanggaran HAM oleh para pihak yang bertikai, terlebih yang dilakukan serdadu penjajah, tidak mendapat perhatian sama sekali. Dengan demikian, perjanjian Helsinki tersebut secara jelas telah mengkhianati puluhan ribu korban konflik Acheh selama 30 tahun ini.
Di samping itu, perjanjian Helsinki juga dengan terang telah mengkhianati sumpah Acheh Merdeka dan melanggar Proklamasi Acheh Merdeka 1976 sebagai fondasi tempat didirikan perjuangan kemerdekaan kita dan sebagai referensi tempat rujukan kita. Oleh sebab itu, Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik, sebagai wadah pemersatu kembali bangsa Acheh untuk merealisasi tujuan dan cita-citanya untuk bebas dan merdeka, berharap kepada seluruh bangsa kami supaya berhati-hati dari penipuan pernjanjian MoU tersebut.
Penipuan ini semakin jelas terlihat di mana Perundangan tentang Pemerintah Otonomi Acheh yang baru disahkan sebagai UUPA tersebut, adalah tidak memenuhi standar yang tercantum dalam MoU Helsinki. Perihal ini adalah salah satu contoh betapa kolonialis Indonesia dengan segala cara mencoba mengkhianati perjanjian yang dibuatnya sendiri, dan oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya sampai kapan pun.
Akan tetapi, dengan UUPA tersebut, para pemimpin dan pengikut GAM oligarkhi di bawah kepemimpinan Malik Mahmud, yang telah menjual kedaulatan kita kepada penjajah, sekarang tengah berusaha memenuhi ambisi pribadi dan golongan untuk menjadi kakitangan kolonial Indonesia dengan maju sebagai kandidat kepala pemerintahan provinsi dan kabupaten di Acheh. Meskipun mereka beralasan bahwa langkah tersebut adalah masih dalam usaha memperjuangankan kemerdekaan, argumen ini wajib kita tolak secara bersama, karena tidak sesuai dengan asas perjuangan dan konstitusi Acheh Merdeka serta tidak berdasarkan logika self-determination dan kaedah revolusi. Bangsa Acheh perlu memahami sepenuhnya bahwa siapapun yang akan terpilih dalam PILKADA mendatang adalah tidak memberi keuntungan kepada perjuang bangsa kita dalam meraih kemerdekaan, sebaliknya adalah halangan untuk mencapai tujuan dimaksud.
Oleh sebab itu, untuk menolak setiap usaha kolonial Indonesia, kakitangan dan koloborator- nya dalam melegitimasi pendudukan Indonesia di Acheh, maka adalah tanggung jawab seluruh Bangsa Acheh yang cinta kemerdekaan untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa kita sebagai Bangsa yang sedang menuntut kemerdekaan adalah tidak dapat menerima keberadaan segala bentuk pemerintahan kolonial yang berstatus illegal di bumi Acheh, dan kita tidak tertarik untuk memilih para kandidat atau calon kepala pemerintah kolonial Indonesia di Acheh baik itu dari calon independen atau dari partai kolonial. Usaha ini dapat saudara lakukan dengan memilih lebih dari sepasang calon atau kandidat gubernur maupun bupati/walikota agar surat suara tersebut tidak dapat digunakan untuk kepentingan penjajah dalam mengekalkan pendudukannya di Acheh.
Bangsa Acheh sekalian, teruskan perjuangan kita dan manfaatkan PILKADA untuk membuktikan kepada dunia bahwa kemauan dan hati nurani bangsa kita yang sebenarnya adalah untuk MERDEKA, yaitu dengan cara men-delegitamasi surat suara. Insya Allah, kita akan terbebas. MERDEKA!
Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh.
New York, 4 Disember 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
8.12.06
5.12.06
Hahaha!
''The most serious parody I have ever heard was this: In the beginning was nonsense, and the nonsense was with God, and the nonsense was God''
-Friedrich Nietzsche
Saya menemukan email ini di sebuah milis:
Mohon dicamkan baik-baik: Para pembakar bendera PKS akan masuk neraka jahanam! Ya, pasalnya mereka telah membakar salah satu simbol Islam yang maha agung. Hanya dari berkat rahmat Allah SWT, PKS dapat berdiri di negeri ini dengan misi suci untuk membersihkan negeri ini dari segala kemunkaran dan kekufuran. Siapa sahaja yang menentang PKS dan partai-partai bernuansa Islam lainnya pastilah mereka antek-antek kaum kafirun dan agen-agen zionis.
Ana tidak ingin kasus pembakaran bendera PKS di kampus UI Depok akan merembet ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia dimana para akhwan ikhwan getol berjuang disana.
Berikut penjelasan ketua DPD PKS Depok tentang kasus tersebut (kiriman dari sohib NC):
[PKS] Pembakaran Bendera PKS
Berikut saya kirimkan penjelasan dari ketua DPD PKS Depok mengenai dibakarnya bendera PKS oleh sekeompok mahasiswa di kampus UI.
nc.
************ ********* ********* *******
Assalamu'alaikum wr wb.
Hari sabtu 2 des 2006 bidang kewanitaan DPD menyelenggarakan acara
lokakarya kewanitaan. Ini kegiatan internal DPD PKS untuk
mengevaluasi dan menyusun program kerja 2007. Kegiatan ini hanya
dihadiri oleh fungsionaris PKS. Karena ia merupakan kegiatan
internal, tidak ada upaya utk mempengaruhi mhs atau mengintervensi
kampus. Juga tidak ada usaha utk penggalangan massa mhs atau
semacamnya.
Kebetulan utk kegiatan kali ini kami menggunakan tempat di PSJ yg
disewakan utk umum. PSJ hanyalah salah satu alternatif tempat yang
biasa kami gunakan utk rapat-rapat internal. Kami beberapa kali sdh
menggunakan tempat tsb selain di tempat lain spt Graha Insan Cita.
Ini professional matter, ada kuitansi penyewaan resmi menggunakan
nama DPD PKS.
Yg melakukan demo senin lalu sekitar 10-an org mengatasnamakan
Komite Mhs UI, lembaga yg ternyata tidak tercatat sbg lembaga formal
mhs di UI.
Kami sangat menyesali respon yg diambil oleh rekan2 mhs UI tsb,
dengan cara membakar bendera PKS. Respon ini terlalu berlebihan dan
over reactive. Jika memang ada hal yg ingin disampaikan, kami siap
utk memberi penjelasan mengenai agenda acara dimaksud. Sbg kaum
intelek dan berpendidikan, kami mengharapkan rekan2 mhs dpt
mengedepankan sikap2 elegan dan bermartabat dlm menyampaikan
aspirasi dan pendapatnya.
Allahu a'lam,
Wassalamu'alaikum wr wb.
Prihandoko
============ ========= ========= ========= ========= ======
From: ''Deddy Ardianto''
Date: Tue, 5 Dec 2006 12:59:17 +0700
Subject: Re: [PKS] Pembakaran Bendera PKS
tadi pagi saya posting beritanya dari koran tapi nggak lolos sensor
oleh yg empunya milis ini....he... .he...
''Gara-gara PKS memasang atribut partainya di sekitar Pusat Studi Jepang
(PSJ) Universitas Indonesia, Mpuluhan mahasiswa yang berasal dari
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), HMI Komisariat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UI dan LMND membakar bendera PKS, Sabtu (2/12).
Dalam aksinya, mahasiswa yang mengenakan almamater kuning itu menggelar
spanduk bertuliskan ''Stop! Partai Masuk Kampus'' dan ''Sterilisasi
Kampus Dari Partai Manapun''. *JPNN*
berita lengkap www.rakyatmerdeka. co.id
''The most serious parody I have ever heard was this: In the beginning was nonsense, and the nonsense was with God, and the nonsense was God''
-Friedrich Nietzsche
Saya menemukan email ini di sebuah milis:
Mohon dicamkan baik-baik: Para pembakar bendera PKS akan masuk neraka jahanam! Ya, pasalnya mereka telah membakar salah satu simbol Islam yang maha agung. Hanya dari berkat rahmat Allah SWT, PKS dapat berdiri di negeri ini dengan misi suci untuk membersihkan negeri ini dari segala kemunkaran dan kekufuran. Siapa sahaja yang menentang PKS dan partai-partai bernuansa Islam lainnya pastilah mereka antek-antek kaum kafirun dan agen-agen zionis.
Ana tidak ingin kasus pembakaran bendera PKS di kampus UI Depok akan merembet ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia dimana para akhwan ikhwan getol berjuang disana.
Berikut penjelasan ketua DPD PKS Depok tentang kasus tersebut (kiriman dari sohib NC):
[PKS] Pembakaran Bendera PKS
Berikut saya kirimkan penjelasan dari ketua DPD PKS Depok mengenai dibakarnya bendera PKS oleh sekeompok mahasiswa di kampus UI.
nc.
************ ********* ********* *******
Assalamu'alaikum wr wb.
Hari sabtu 2 des 2006 bidang kewanitaan DPD menyelenggarakan acara
lokakarya kewanitaan. Ini kegiatan internal DPD PKS untuk
mengevaluasi dan menyusun program kerja 2007. Kegiatan ini hanya
dihadiri oleh fungsionaris PKS. Karena ia merupakan kegiatan
internal, tidak ada upaya utk mempengaruhi mhs atau mengintervensi
kampus. Juga tidak ada usaha utk penggalangan massa mhs atau
semacamnya.
Kebetulan utk kegiatan kali ini kami menggunakan tempat di PSJ yg
disewakan utk umum. PSJ hanyalah salah satu alternatif tempat yang
biasa kami gunakan utk rapat-rapat internal. Kami beberapa kali sdh
menggunakan tempat tsb selain di tempat lain spt Graha Insan Cita.
Ini professional matter, ada kuitansi penyewaan resmi menggunakan
nama DPD PKS.
Yg melakukan demo senin lalu sekitar 10-an org mengatasnamakan
Komite Mhs UI, lembaga yg ternyata tidak tercatat sbg lembaga formal
mhs di UI.
Kami sangat menyesali respon yg diambil oleh rekan2 mhs UI tsb,
dengan cara membakar bendera PKS. Respon ini terlalu berlebihan dan
over reactive. Jika memang ada hal yg ingin disampaikan, kami siap
utk memberi penjelasan mengenai agenda acara dimaksud. Sbg kaum
intelek dan berpendidikan, kami mengharapkan rekan2 mhs dpt
mengedepankan sikap2 elegan dan bermartabat dlm menyampaikan
aspirasi dan pendapatnya.
Allahu a'lam,
Wassalamu'alaikum wr wb.
Prihandoko
============ ========= ========= ========= ========= ======
From: ''Deddy Ardianto''
Date: Tue, 5 Dec 2006 12:59:17 +0700
Subject: Re: [PKS] Pembakaran Bendera PKS
tadi pagi saya posting beritanya dari koran tapi nggak lolos sensor
oleh yg empunya milis ini....he... .he...
''Gara-gara PKS memasang atribut partainya di sekitar Pusat Studi Jepang
(PSJ) Universitas Indonesia, Mpuluhan mahasiswa yang berasal dari
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), HMI Komisariat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UI dan LMND membakar bendera PKS, Sabtu (2/12).
Dalam aksinya, mahasiswa yang mengenakan almamater kuning itu menggelar
spanduk bertuliskan ''Stop! Partai Masuk Kampus'' dan ''Sterilisasi
Kampus Dari Partai Manapun''. *JPNN*
berita lengkap www.rakyatmerdeka. co.id
28.11.06
21.11.06
7.11.06
Membaca Gejala Dari Jelaga
...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.
Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan
kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat
serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari....
-homicide
...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.
Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan
kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat
serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari....
-homicide
6.11.06
on the way...
''Aku mendapatkan inspirasi pagi ini; segalanya adalah salahku. Kesalahanku yang terburuk adalah kegagalanku untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan. Waktu terus berjalan dan aku tetap berada di sana....''
-Simone de Beauvoir
Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi. Setelah semuanya: rangkaian netralisasi segenap amarah, sekian mutilasi afeksi satu sisi, gugus pembungkaman ketidaknyamanan, tangan terbuka untuk sejuta umpatan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi.
Prophetic syndrome. Kuasa Tuhan. Omong kosong paling besar dari peradaban kreasi si waktu luang.
Catat ini sebagai ketololanku. Dan izinkan aku menundukkan kepala di depan teman-temanku yang menukar religiusitas dengan nasi setanak dan susu sebotol. Izinkan aku merendahkan diri di kaki mereka yang membuat api penerang jalan dengan membakar kitab-kitab petunjuk jalan menuju surga.
Jangan hibur aku dan katakan saja ini ketololanku. Tak ada artinya rumah-Mu di bumi tanpa tanah.
''Aku mendapatkan inspirasi pagi ini; segalanya adalah salahku. Kesalahanku yang terburuk adalah kegagalanku untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan. Waktu terus berjalan dan aku tetap berada di sana....''
-Simone de Beauvoir
Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi. Setelah semuanya: rangkaian netralisasi segenap amarah, sekian mutilasi afeksi satu sisi, gugus pembungkaman ketidaknyamanan, tangan terbuka untuk sejuta umpatan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi.
Prophetic syndrome. Kuasa Tuhan. Omong kosong paling besar dari peradaban kreasi si waktu luang.
Catat ini sebagai ketololanku. Dan izinkan aku menundukkan kepala di depan teman-temanku yang menukar religiusitas dengan nasi setanak dan susu sebotol. Izinkan aku merendahkan diri di kaki mereka yang membuat api penerang jalan dengan membakar kitab-kitab petunjuk jalan menuju surga.
Jangan hibur aku dan katakan saja ini ketololanku. Tak ada artinya rumah-Mu di bumi tanpa tanah.
1.11.06
Subscribe to:
Posts (Atom)




