Delegitimasi Surat Suara dan Berhenti Pilih Pemimpin
Diambil dari FreeAcheh!
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30 4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
Preparatory Committee of The Free Acheh Democratic
E-mail: committee@freeacheh .info
www.freeacheh. info
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30
4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini, tanggal 4 Desember 2006, merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidup dan kehidupan bangsa Acheh, dimana pada hari yang mulia ini kita bangsa Acheh yang sudah sadar akan sejarah perjuangan para endatu kita dahulu, memperingati Milad Kemerdekaan Acheh yang ke-30, yang diproklamirkan kembali kepada dunia oleh DR. Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Perayaan kemerdekaan ini merupakan simbol daripada tali penyambung masa lalu kita yang merdeka dan berdaulat dengan masa sekarang dan masa depan kita, yang juga ingin hidup bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajajahan bangsa luar.
Sempena menyambut Milad Acheh Merdeka yang ke-30 ini, kami dari Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik ingin menyampaikan salam sejahtera dan penghormatan kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa Acheh yang telah memberikan pengorbanan yang tidak ternilai untuk perjuangan suci ini, dan juga telah membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Acheh masih tetap istiqamah dengan keputusannya untuk merdeka walau dalam keadaan bagaimanpun jua. Kami juga ingin menyampaikan rasa simpati kami yang tak terhingga kepada seluruh ahli waris dan handai taulan daripada korban-korban kedhaliman dan kekejaman serdadu Indonesia terhadap bangsa kita yang tidak bersalah.
Bangsa Acheh yang dicintai!
Selama 30 tahun ini, tidak terhitung darah segar bangsa kita yang sudah mengalir di seantero penjuru bumi Acheh; ribuan mayat pejuang dan syuhada yang tak berpusara; puluhan ribu anak yang kehilangan ibu-ayah yang terbengkalai; dan berbagai pengorbanan lainnya yang tak ternilai, yang telah kita hibahkan demi untuk mendapatkan kembali hak-hak kemerdekaan kita dan mengembalikan kedaulatan Negara Acheh dari tangan musuh kita - Indonesia.
Harga merdeka yang telah kita bayar dengan darah kita sendiri dan pengorbanan yang telah kita berikan dengan ikhlas, dengan memilih sendiri atas kesadaran politik ingin hidup bebas dan merdeka, kesemua ini hendaknya kita jadikan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan suci yang belum selesai ini.
Perlu kita akui, bahwa dalam proses menuju kemerdekaan, masih banyak kesulitan yang menggunung di hadapan kita yang sedang kita hadapi. Selama 30 tahun kita berjuang, kita telah berulang kali mengalami pasang-surut, timbul-tenggelam, maju-mundur. Akan tetapi Komite percaya bangsa kita akan sanggup menyingkirkan setiap aral melintang. Sebab para endatu kita dahulu, para pejuang kita belum lama ini dan generasi kita sekarang telah membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tahan uji, bangsa yang besar kemampuan, tahu harga diri dan memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang luar biasa.
Bangsa Acheh yang dimuliakan!
Kita sekarang sedang menghadapi saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa luar. Inilah saat-saat yang paling menentukan dalam hidup kita, apakah kita ingin hidup sebagai satu bangsa yang merdeka dan mulia atau terus hidup dijajah dan dihina.
Untuk bisa mengambil keputusan penting ini, kita perlu mengkaji dengan teliti kehadiran MoU Helsinki yang di tandantangi tanggal 15 Agustus 2005, oleh segelintir orang Acheh yang mengklaim atasnama seluruh bangsa kita. Sebab, polemik MoU ini akan terus menurus digunakan oleh RI dan kolaborator- nya di Acheh untuk melumpuhkan perjuangan suci bangsa Acheh tentang penentuan nasib dirinya sendiri yang bebas dan berdaulat.
Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bahwa perjanjian Helsinki itu hanya tipu muslihat politik penjajah, dan para pihak yang terlibat di dalamnya hanya bekerja untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya untuk mendapat keuntungan pribadi dari pangkat dan kekuasaan yang akan diperoleh nanti. Sedangkan masalah keadilan yang di dalamnya juga tertuang perkara-perkara pelanggaran HAM oleh para pihak yang bertikai, terlebih yang dilakukan serdadu penjajah, tidak mendapat perhatian sama sekali. Dengan demikian, perjanjian Helsinki tersebut secara jelas telah mengkhianati puluhan ribu korban konflik Acheh selama 30 tahun ini.
Di samping itu, perjanjian Helsinki juga dengan terang telah mengkhianati sumpah Acheh Merdeka dan melanggar Proklamasi Acheh Merdeka 1976 sebagai fondasi tempat didirikan perjuangan kemerdekaan kita dan sebagai referensi tempat rujukan kita. Oleh sebab itu, Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik, sebagai wadah pemersatu kembali bangsa Acheh untuk merealisasi tujuan dan cita-citanya untuk bebas dan merdeka, berharap kepada seluruh bangsa kami supaya berhati-hati dari penipuan pernjanjian MoU tersebut.
Penipuan ini semakin jelas terlihat di mana Perundangan tentang Pemerintah Otonomi Acheh yang baru disahkan sebagai UUPA tersebut, adalah tidak memenuhi standar yang tercantum dalam MoU Helsinki. Perihal ini adalah salah satu contoh betapa kolonialis Indonesia dengan segala cara mencoba mengkhianati perjanjian yang dibuatnya sendiri, dan oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya sampai kapan pun.
Akan tetapi, dengan UUPA tersebut, para pemimpin dan pengikut GAM oligarkhi di bawah kepemimpinan Malik Mahmud, yang telah menjual kedaulatan kita kepada penjajah, sekarang tengah berusaha memenuhi ambisi pribadi dan golongan untuk menjadi kakitangan kolonial Indonesia dengan maju sebagai kandidat kepala pemerintahan provinsi dan kabupaten di Acheh. Meskipun mereka beralasan bahwa langkah tersebut adalah masih dalam usaha memperjuangankan kemerdekaan, argumen ini wajib kita tolak secara bersama, karena tidak sesuai dengan asas perjuangan dan konstitusi Acheh Merdeka serta tidak berdasarkan logika self-determination dan kaedah revolusi. Bangsa Acheh perlu memahami sepenuhnya bahwa siapapun yang akan terpilih dalam PILKADA mendatang adalah tidak memberi keuntungan kepada perjuang bangsa kita dalam meraih kemerdekaan, sebaliknya adalah halangan untuk mencapai tujuan dimaksud.
Oleh sebab itu, untuk menolak setiap usaha kolonial Indonesia, kakitangan dan koloborator- nya dalam melegitimasi pendudukan Indonesia di Acheh, maka adalah tanggung jawab seluruh Bangsa Acheh yang cinta kemerdekaan untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa kita sebagai Bangsa yang sedang menuntut kemerdekaan adalah tidak dapat menerima keberadaan segala bentuk pemerintahan kolonial yang berstatus illegal di bumi Acheh, dan kita tidak tertarik untuk memilih para kandidat atau calon kepala pemerintah kolonial Indonesia di Acheh baik itu dari calon independen atau dari partai kolonial. Usaha ini dapat saudara lakukan dengan memilih lebih dari sepasang calon atau kandidat gubernur maupun bupati/walikota agar surat suara tersebut tidak dapat digunakan untuk kepentingan penjajah dalam mengekalkan pendudukannya di Acheh.
Bangsa Acheh sekalian, teruskan perjuangan kita dan manfaatkan PILKADA untuk membuktikan kepada dunia bahwa kemauan dan hati nurani bangsa kita yang sebenarnya adalah untuk MERDEKA, yaitu dengan cara men-delegitamasi surat suara. Insya Allah, kita akan terbebas. MERDEKA!
Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh.
New York, 4 Disember 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
12.12.06
8.12.06
5.12.06
Hahaha!
''The most serious parody I have ever heard was this: In the beginning was nonsense, and the nonsense was with God, and the nonsense was God''
-Friedrich Nietzsche
Saya menemukan email ini di sebuah milis:
Mohon dicamkan baik-baik: Para pembakar bendera PKS akan masuk neraka jahanam! Ya, pasalnya mereka telah membakar salah satu simbol Islam yang maha agung. Hanya dari berkat rahmat Allah SWT, PKS dapat berdiri di negeri ini dengan misi suci untuk membersihkan negeri ini dari segala kemunkaran dan kekufuran. Siapa sahaja yang menentang PKS dan partai-partai bernuansa Islam lainnya pastilah mereka antek-antek kaum kafirun dan agen-agen zionis.
Ana tidak ingin kasus pembakaran bendera PKS di kampus UI Depok akan merembet ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia dimana para akhwan ikhwan getol berjuang disana.
Berikut penjelasan ketua DPD PKS Depok tentang kasus tersebut (kiriman dari sohib NC):
[PKS] Pembakaran Bendera PKS
Berikut saya kirimkan penjelasan dari ketua DPD PKS Depok mengenai dibakarnya bendera PKS oleh sekeompok mahasiswa di kampus UI.
nc.
************ ********* ********* *******
Assalamu'alaikum wr wb.
Hari sabtu 2 des 2006 bidang kewanitaan DPD menyelenggarakan acara
lokakarya kewanitaan. Ini kegiatan internal DPD PKS untuk
mengevaluasi dan menyusun program kerja 2007. Kegiatan ini hanya
dihadiri oleh fungsionaris PKS. Karena ia merupakan kegiatan
internal, tidak ada upaya utk mempengaruhi mhs atau mengintervensi
kampus. Juga tidak ada usaha utk penggalangan massa mhs atau
semacamnya.
Kebetulan utk kegiatan kali ini kami menggunakan tempat di PSJ yg
disewakan utk umum. PSJ hanyalah salah satu alternatif tempat yang
biasa kami gunakan utk rapat-rapat internal. Kami beberapa kali sdh
menggunakan tempat tsb selain di tempat lain spt Graha Insan Cita.
Ini professional matter, ada kuitansi penyewaan resmi menggunakan
nama DPD PKS.
Yg melakukan demo senin lalu sekitar 10-an org mengatasnamakan
Komite Mhs UI, lembaga yg ternyata tidak tercatat sbg lembaga formal
mhs di UI.
Kami sangat menyesali respon yg diambil oleh rekan2 mhs UI tsb,
dengan cara membakar bendera PKS. Respon ini terlalu berlebihan dan
over reactive. Jika memang ada hal yg ingin disampaikan, kami siap
utk memberi penjelasan mengenai agenda acara dimaksud. Sbg kaum
intelek dan berpendidikan, kami mengharapkan rekan2 mhs dpt
mengedepankan sikap2 elegan dan bermartabat dlm menyampaikan
aspirasi dan pendapatnya.
Allahu a'lam,
Wassalamu'alaikum wr wb.
Prihandoko
============ ========= ========= ========= ========= ======
From: ''Deddy Ardianto''
Date: Tue, 5 Dec 2006 12:59:17 +0700
Subject: Re: [PKS] Pembakaran Bendera PKS
tadi pagi saya posting beritanya dari koran tapi nggak lolos sensor
oleh yg empunya milis ini....he... .he...
''Gara-gara PKS memasang atribut partainya di sekitar Pusat Studi Jepang
(PSJ) Universitas Indonesia, Mpuluhan mahasiswa yang berasal dari
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), HMI Komisariat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UI dan LMND membakar bendera PKS, Sabtu (2/12).
Dalam aksinya, mahasiswa yang mengenakan almamater kuning itu menggelar
spanduk bertuliskan ''Stop! Partai Masuk Kampus'' dan ''Sterilisasi
Kampus Dari Partai Manapun''. *JPNN*
berita lengkap www.rakyatmerdeka. co.id
''The most serious parody I have ever heard was this: In the beginning was nonsense, and the nonsense was with God, and the nonsense was God''
-Friedrich Nietzsche
Saya menemukan email ini di sebuah milis:
Mohon dicamkan baik-baik: Para pembakar bendera PKS akan masuk neraka jahanam! Ya, pasalnya mereka telah membakar salah satu simbol Islam yang maha agung. Hanya dari berkat rahmat Allah SWT, PKS dapat berdiri di negeri ini dengan misi suci untuk membersihkan negeri ini dari segala kemunkaran dan kekufuran. Siapa sahaja yang menentang PKS dan partai-partai bernuansa Islam lainnya pastilah mereka antek-antek kaum kafirun dan agen-agen zionis.
Ana tidak ingin kasus pembakaran bendera PKS di kampus UI Depok akan merembet ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia dimana para akhwan ikhwan getol berjuang disana.
Berikut penjelasan ketua DPD PKS Depok tentang kasus tersebut (kiriman dari sohib NC):
[PKS] Pembakaran Bendera PKS
Berikut saya kirimkan penjelasan dari ketua DPD PKS Depok mengenai dibakarnya bendera PKS oleh sekeompok mahasiswa di kampus UI.
nc.
************ ********* ********* *******
Assalamu'alaikum wr wb.
Hari sabtu 2 des 2006 bidang kewanitaan DPD menyelenggarakan acara
lokakarya kewanitaan. Ini kegiatan internal DPD PKS untuk
mengevaluasi dan menyusun program kerja 2007. Kegiatan ini hanya
dihadiri oleh fungsionaris PKS. Karena ia merupakan kegiatan
internal, tidak ada upaya utk mempengaruhi mhs atau mengintervensi
kampus. Juga tidak ada usaha utk penggalangan massa mhs atau
semacamnya.
Kebetulan utk kegiatan kali ini kami menggunakan tempat di PSJ yg
disewakan utk umum. PSJ hanyalah salah satu alternatif tempat yang
biasa kami gunakan utk rapat-rapat internal. Kami beberapa kali sdh
menggunakan tempat tsb selain di tempat lain spt Graha Insan Cita.
Ini professional matter, ada kuitansi penyewaan resmi menggunakan
nama DPD PKS.
Yg melakukan demo senin lalu sekitar 10-an org mengatasnamakan
Komite Mhs UI, lembaga yg ternyata tidak tercatat sbg lembaga formal
mhs di UI.
Kami sangat menyesali respon yg diambil oleh rekan2 mhs UI tsb,
dengan cara membakar bendera PKS. Respon ini terlalu berlebihan dan
over reactive. Jika memang ada hal yg ingin disampaikan, kami siap
utk memberi penjelasan mengenai agenda acara dimaksud. Sbg kaum
intelek dan berpendidikan, kami mengharapkan rekan2 mhs dpt
mengedepankan sikap2 elegan dan bermartabat dlm menyampaikan
aspirasi dan pendapatnya.
Allahu a'lam,
Wassalamu'alaikum wr wb.
Prihandoko
============ ========= ========= ========= ========= ======
From: ''Deddy Ardianto''
Date: Tue, 5 Dec 2006 12:59:17 +0700
Subject: Re: [PKS] Pembakaran Bendera PKS
tadi pagi saya posting beritanya dari koran tapi nggak lolos sensor
oleh yg empunya milis ini....he... .he...
''Gara-gara PKS memasang atribut partainya di sekitar Pusat Studi Jepang
(PSJ) Universitas Indonesia, Mpuluhan mahasiswa yang berasal dari
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), HMI Komisariat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UI dan LMND membakar bendera PKS, Sabtu (2/12).
Dalam aksinya, mahasiswa yang mengenakan almamater kuning itu menggelar
spanduk bertuliskan ''Stop! Partai Masuk Kampus'' dan ''Sterilisasi
Kampus Dari Partai Manapun''. *JPNN*
berita lengkap www.rakyatmerdeka. co.id
28.11.06
21.11.06
7.11.06
Membaca Gejala Dari Jelaga
...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.
Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan
kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat
serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari....
-homicide
...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.
Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan
kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat
serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari....
-homicide
6.11.06
on the way...
''Aku mendapatkan inspirasi pagi ini; segalanya adalah salahku. Kesalahanku yang terburuk adalah kegagalanku untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan. Waktu terus berjalan dan aku tetap berada di sana....''
-Simone de Beauvoir
Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi. Setelah semuanya: rangkaian netralisasi segenap amarah, sekian mutilasi afeksi satu sisi, gugus pembungkaman ketidaknyamanan, tangan terbuka untuk sejuta umpatan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi.
Prophetic syndrome. Kuasa Tuhan. Omong kosong paling besar dari peradaban kreasi si waktu luang.
Catat ini sebagai ketololanku. Dan izinkan aku menundukkan kepala di depan teman-temanku yang menukar religiusitas dengan nasi setanak dan susu sebotol. Izinkan aku merendahkan diri di kaki mereka yang membuat api penerang jalan dengan membakar kitab-kitab petunjuk jalan menuju surga.
Jangan hibur aku dan katakan saja ini ketololanku. Tak ada artinya rumah-Mu di bumi tanpa tanah.
''Aku mendapatkan inspirasi pagi ini; segalanya adalah salahku. Kesalahanku yang terburuk adalah kegagalanku untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan. Waktu terus berjalan dan aku tetap berada di sana....''
-Simone de Beauvoir
Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi. Setelah semuanya: rangkaian netralisasi segenap amarah, sekian mutilasi afeksi satu sisi, gugus pembungkaman ketidaknyamanan, tangan terbuka untuk sejuta umpatan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi.
Prophetic syndrome. Kuasa Tuhan. Omong kosong paling besar dari peradaban kreasi si waktu luang.
Catat ini sebagai ketololanku. Dan izinkan aku menundukkan kepala di depan teman-temanku yang menukar religiusitas dengan nasi setanak dan susu sebotol. Izinkan aku merendahkan diri di kaki mereka yang membuat api penerang jalan dengan membakar kitab-kitab petunjuk jalan menuju surga.
Jangan hibur aku dan katakan saja ini ketololanku. Tak ada artinya rumah-Mu di bumi tanpa tanah.
1.11.06
10.10.06
Keterangan BMG Soal Hujan Di Bandung
Tadi pagi saya menulis surat ke BMG, bertanya soal kapan hujan turun di Bandung dan sekitarnya.
bapak-bapak yang baik,
saya mau tanya, kapan ya pak kira-kira akan turun
hujan lagi di bandung dan sekitarnya. ya, ampun...
pak. saya kangen hujan!
bisa beri penjelasan tentang kapan akan turun hujan,
pak? dan mengapa sih cuaca bisa tidak terlalu teratur?
terima kasih banyak sebelumnya, pak. semoga surat ini
tak mengganggu bapak-bapak.
salam,
imam h usman
dan malam ini saya mendapat jawaban menyenangkan:
sabar ya bapak, hujan akan turun kok. untuk daerah bandung akan ada hujan sekitar bulan nopember tapi untuk bandung bagian selatan dan utara akan turun hujan sekitar akhir bulan oktober 2006.
bmg
sang ali
(terima kasih, pak)
Tadi pagi saya menulis surat ke BMG, bertanya soal kapan hujan turun di Bandung dan sekitarnya.
bapak-bapak yang baik,
saya mau tanya, kapan ya pak kira-kira akan turun
hujan lagi di bandung dan sekitarnya. ya, ampun...
pak. saya kangen hujan!
bisa beri penjelasan tentang kapan akan turun hujan,
pak? dan mengapa sih cuaca bisa tidak terlalu teratur?
terima kasih banyak sebelumnya, pak. semoga surat ini
tak mengganggu bapak-bapak.
salam,
imam h usman
dan malam ini saya mendapat jawaban menyenangkan:
sabar ya bapak, hujan akan turun kok. untuk daerah bandung akan ada hujan sekitar bulan nopember tapi untuk bandung bagian selatan dan utara akan turun hujan sekitar akhir bulan oktober 2006.
bmg
sang ali
(terima kasih, pak)
9.10.06
22.9.06
kami tidak menginginkan kesempatan kerja yang total,
kami menginginkan ''kesempatan hidup yang sepenuhnya''
http://www.bopsecrets.org/indonesian/jobless.htm
kami menginginkan ''kesempatan hidup yang sepenuhnya''
http://www.bopsecrets.org/indonesian/jobless.htm
4.9.06
(Agak aneh dan ngeri rasanya mendapati tulisan ini tanpa sengaja di tumpukkan arsip lama. Ini tulisan yang saya buat empat tahun lalu, saat saya baru saja menginjak usia kepala dua, usia di mana kesombongan dan kekeraskepalaan menjadi identitas yang tak tertolakkan, usia yang saya pikir akan menjadi masa-masa hebat dalam hidup saya. Meski pada kenyataannya yang sering terjadi justru kebalikan dari itu semua, saya acap merasa ingin mati saja setelah lelah dihajar rasa bosan yang terus-menerus.
Sialnya, rangkaian diskusi dua malam bersama beberapa kawan dan begelas-gelas cappucino dingin beberapa malam lalu, membuat saya kembali keras kepala. Tulisan ini saya baca kembali sendirian di malam buta selepas diskusi. Tentu saja pengalaman membaca yang saya dapatkan berbeda dengan pengalaman ketika menuliskan tulisan ini empat tahun lalu: jika empat tahun lalu saya merasa telah membuat manifesto kebertuhanan saya, malam kemarin ketika saya membacanya, tulisan ini hanya cukup untuk membuat saya berkomentar singkat seraya senyum-senyum gak jelas: ''Dewh, gaya pissannnn urang teh....'' ;p)
Tulisan ini pernah dimuat di ON/OFF (#08/2002), media orang biasa yang diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).
ratusan ribu waktu
sepetak ubin, jika kau mau tahu, ternyata tak lebih besar dari porsi hidupku 'tuk melumatimu. tak kusesali, biar saja. dan serupa ladang ilalalng, kau adalah kekeringan yang niscaya kubakar tiap waktu agar tetap kulihat merah tanah: sejatinya, merah tanah jauh lebih kuhargai ketimbang merah hatimu - juga merah mawar di depan rumahku yang selalu kau sirami di tiap senja.
tuhan, maaf kutak ada waktu buatmu....
pernah dulu memang, saat tepat rinduku yang keseratus sembilan puluh satu - rindu ternaif, menurut seorang kawan - kau terlihat seperti sosok paling liar yang siap menyantap habis semua umurku kelak. tapi hidup cuma main-main nyatanya, karena setelah itu, seperti apa dan bagaimana harummu, tuhan, aku lupa. kau segara begitu saja hilang di tiap anak akar otakku.
***
ada satu waktu dulu di mana ruang menjadi tak berpintu-tak berjendela, sedang di dalamnya cuma suara napasku dan suara napasmu beradu. tak ada yang lain, tak ada cahaya, tak ada udara, hanya napasku dan napasmu yang tak pernah berisi udara, melainkan segumpal emosi beku tak cerdas (dan naif). entah apa yang menghubungkan kita waktu itu. sedang rasanya tak pernah kuyakini sebuah kesepakatan pernyataan cinta antara kita.
atau barangkali seperti ini, seperti hijau rumput yang pucuknya selalu menyeretku ke titik awal interaksi kita. perkenalan singkat penuh basa-basi di mana kau begitu banyak bicara dan begitu saja membuatku sedikit terpukau terpesona hingga memaksaku memeras keringat berjerih payah merasionalisasikan tiap detik yang, meski kelak kuhancurkan sendiri, menjadi monumen tersendiri di diriku. kau dulu sanggup memamah lumat segenap diri. tubuh dan jiwa. ruang dan waktu.
ataukah karena matamu yang terasa liar di mataku, menelanjangiku di manapun dan kapanpun. kuakui, dalam beberapa hal kau memang tepat untuk dikatakan nakal, binal, hingga sempat tak ingin kulihat sosok-sosok di luar dirimu. keluarbiasaan pernah menghinggapiku, jeritan-jeritan, sorak-sorak, dengan selingan rintihan-rintihan, menahan silau kilau cahaya matamu.
seribu jenis panji aneka warna pernah menyerangku, masuk menyelinap lewat jendela kamarku, juga celah bocor atap dengan tiga belas titiknya. kesialannya, semua bukan cuma untuk singgah, melainkan melekat menyatu sempurna di pusat pertemuan darah di simpang tulang tubuh. ah, betapa hebatnya cinta. kuingatkan yang terparah, adalah panji kusam yang berhasil masuk melalui kolong pintu coklat tua kamarku. terlihat semakin pudar warnanya mengingat kamarku masih saja berlantai tanah. terbilang parah karena, pernah, semakin dekat kurasa kulitmu di sekitarku, hingga beberapa malam sempat kurasa kita bersentuhan. tapi, ingat juga, kau mesti tahu ini, tak ada kehangatan di situ, barangkali ada sebentar, yang justru terasa dan terngiang hingga kini lebih merupakan kepatuhan tak lazim akibat mantera yang kau alirkan lewat sekian detik persentuhan kulitku dan kulitmu. dan aku tak peduli....
biar saja, seperti kataku.
karena dulu, saat matahari keenam belas muncul di bulan terakhir tahun lalu, aku mampu melewatinya dengan tidur sedikit panjang. tidur yang bukan untuk istirahat, memejamkan mata menahan silau kilau matamu, melainkan tidur sebagai upaya penghindaran diri dari pertemuan-pertemuan kecil dengan makhluk-makhluk ternaif. makhluk-makhluk yang hidup bersamaku dalam hitungan ribuan waktu, yang selalu saja merasa sah berbuat apa kata perutnya ketimbang apa kata jiwanya, makhluk-makhluk gembalamu yang mengaku mendapat kesegaran air yang kausirami di hari itu. beberapa dengan sempurna kuhindari, beberapa tak sempat kujauhi. aku terluka dan memutuskan kembali tidur untuk istirahat, untuk menahan silau kilau matamu.
pernah pula kubuat semacam catatan rapi dengan pita niat kupersembahkan untukmu sebagai sebuah kenangan kalau aku pernah mengenalmu. aku akan pergi jauh, begitu kalimat pertamanya. tapi catatan itu, seperti kau tahu, tak pernah kusampaikan padamu. bukan tak ingin, tapi masih kucari hingga kini paragraf akhirnya. sebuah perjalanan panjang kemudian kurencanakan sebagai upaya penemuan jalinan kata yang niscaya kususun sebagai pelengkap catatanku. perjalanan dengan ratusan ton bahan bakar yang kuambil paksa hingga menyisakan luka-luka tubuh dan luka-luka jiwa. perjalanan dengan peta-peta buram.
lalu di tepat waktu keseribu. saat bumi kurasakan di momentum terpanasnya. panas yang melebihi matahari-matahari yang pernah berlalu di atas tubuhku. rasanya, seperti berkumpul seribu matahari di atas kepalaku yang nyaris membuat isi kepalaku mendidih, menegangkan jalinan urat syaraf yang melingkar berputar di dalamnya. satu yang tersisa: kengerian panjang yang tetap hidup bahkan di saat jam-jam tidurku. mimpi-mimpi buruk, atau serupa mimpi-mimpi buruk, berdatangan dengan rutin. berganti-ganti tema, berganti-ganti kemasan, berganti-ganti latar. yang pertama kali datang adalah cerita berisi pengerdilan makhluk-makhluk dengan harga-harga yang melambung tinggi. kenaikan yang, entah bagaimana, berhubungan dengan mulut-mulut yang mengucap-ucap namamu di jalan-jalan dan di meja-meja biliar. lalu ada cerita dengan pemeran tunggal, seseorang di depanku begitu tekunnya menatah kata-katamu dan nama-namamu di sisi-sisi pedangnya. mulutnya terkunci, kepalanya tertunduk, begitu khusuknya, begitu heningnya. yang ini kucurigai juga masih berhubungan dengan yang pertama.
keduanya menyisakan kegelisahan panjang di pagi hari bagiku. dan ternyata, begitu dekat rupanya engkau dengan kenaikan harga....
luka-luka semakin menganga. semakin melebar tanpa kutahu juga obat macam apakah penawarnya. karena pertemuan-pertemuan denganmu yang begitu terjadwal (karena janji-janji) ternyata tidak begitu membawa suasana lain untukku. kuputuskan untuk membatalkan sepihak janji-janji. mudah-mudahan kau tak kecewa. aku tak kecewa.
serangkaian kenaikan harga membuatku membatalkan bilangan janji-janji, gumpalan-gumpalan merah darah membuatku mencoba menghilangkanmu, tuhanku.
persekutuan bersama ratusan himpunan iblis kemudian kugagas. iblis-iblis timur, iblis-iblis barat, yang setengah iblis dari utara, yang setengah iblis dari selatan. persengkokolan yang bukan cuma sakit hati, tapi juga sakit badan, sakit jiwa. bagi kami kau ternyata tak mengenyangkan, tak menenangkan. karena hampir di segenap hamparan peta, warna-warna menjadi merah semata. merah darah. merah luka. merah senja darah air mata. merah yang mengalir dari pedang-pedang dan tombak-tombak berukiran namamu. dengan huruf-huruf aneh yang hanya dimengerti mereka yang berilmu. (sungguh, betapa tak mengertinya kami). tanah-tanah lapang kami menjadi bukan lagi milik kami. tapi punya mereka yang terus saja memuntahkan cinta-cinta berbentuk menyeramkan untukmu. jalan-jalan kami sesak dengan kepala-kepala musuh mereka, beberapa tak lagi utuh, tak punya mata, tak punya telinga, dan kami lihat mereka mengenakannya sebagai liontin di kalung rantai yang melingkar di dada-dada mereka. kami lihat, kami dengar, kami tahu, itu dipersembahkan untukmu. yang mahabesar, yang mahakasih, yang mahacinta, yang maha....
labirin-labirin gelap memang kemudian cukup memusingkan kami. karena ternyata betapa sedikitnya kami, betapa tidak seberapanya. tapi perlawanan telah rampung kami siapkan. hingga detail-detail tak terduga. kami bahkan telah menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarmu, dengan cara apapun, yang pasti tak terduga oleh para pembawa pedang itu. penyamar-penyamar kami telah terlatih. kami akan mencoba merayumu untuk menggunakan sedikit saja kekuasaanmu yang kami yakini. yang benar-benar kami yakini.
tuhanku, bapakkah kau? ibukah kau? anakkah kau? lelakikah kau? perempuankah kau?
karena sebagian dari kami adalah bapak, sebagian lain adalah ibu. dan dari mereka menjelma kerumunan anak yang menjadi begitu menakutkan dengan perut-perut yang jarang terisi, tapi tak pernah gelap mata buta cita dan memakan jantung kerabatnya. dan apakah ini justru menakutkanmu? kuharap iya. karena ini bagian awal dari rencana panjang kami. mudah-mudahan kau terkecoh....
anak-anak itu, yang aku temui di waktuku yang kesembilan ribu sekian, pernah menyodorkan pertanyaan maharumit untuk kucerna. tak pernah kujawab. tak mampuku. sebuah (hanya sebuah!) pertanyaan yang sejatinya untukmu: mengapa kami harus ada? kemudian ratusan pertanyaan turunan beranak-pinak di benakku. iya, untuk apa? apa yang mau kau dapatkan? sedang waktu-waktu yang kusediakan untuk kita saling bercinta dulu terasa tak begitu berkesan sekarang. rencana macam apa yang kau gelar, kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan? dan, ini yang membuatku semakin terluka, mau apa kau sebenarnya?
sampai kemudian kota-kita di negeri-negeri jauh menjadi ladang api. api nyala yang melalap bukan saja pintu-pintu rumah kerabat, tapi juga tangan-tangan mereka, kaki-kaki mereka, rambut-rambut mereka, hati-hati mereka... dan lalu entah lewat tangan siapa, api itu kemudian sampai pula ke depan pintu rumahku, rumah tetanggaku. membakar semua yang ada, semua yang cinta. sampai sini, kuputuskan, betapa sulitnya kau untuk kupercayai....
tidak. aku takut untuk mempercayaimu kembali. biarlah kau tetap di sana dan tidak di samping kami. rencana kami adalah mundur ke desa-desa. sebuah komuni yang kususun bersama iblis-iblis, setengah iblis-setengah iblis, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak akan kami mulai wujudkan. kami tidak akan menambang suatu dari tanahmu, biar tak kami jumpai sebiji besi pun. kami tak butuh parang. kami tak butuh peluru. karena kami merasa indah berkalung dengan mata liontin daun. daun-daun yang selalu menjadi cermin dan semangat bahwa ternyata hidup berwarna hijau, bukan merah. bukan api.
***
malam lagi sunyi, lagi nyinyir. setelah sebelumnya selalu saja ada suara napasmu dan suara napasku yang beradu. o, betapa kau pencemburu. betapa kau pencemburu....
tapi aku benar-benar tak peduli.
pun ketika sembilan duka turut masuk ke dalam segi empat kamarku. yang mengambil apa-apa yang sebelumnya selalu mengiringi jatuhnya peluh-peluh dari ubun-ubunku. yang pertama adalah kepergian. yang kedua adalah pelarian. yang ketiga adalah kematian. yang keempat adalah keniscayaan. yang kelima adalah kemutlakkan. selanjutnya, sampai yang kesembilan adalah kebencian yang barangkali semacam cinta yang berlebihan. ataukah itu semua bukan duka? melainkan momen-momen yang menuntut perayaan? tak mengerti, dan tak mau mengerti.
labirin, di waktuku kesekian, masih saja menyudutkanku. sementara dalam jiwaku, dalam tubuhku, tak ada peta penunjuk kau ada di sekitarku, kau ada di sel-selku. kau luruh dalam segenap kepergian akibat pelarian-pelarian yang kulakukan. pelarian-pelarian ke desa-desa tanpa api. dan paragraf terakhir dalam sebuah catatan hadiah untukmu yang kususun, belum juga berhasil kutemukan....
ratusan iblis membantu, ratusan kelaparan menemani, ratusan kota api menerangi, sama sekali tidak memberi apa-apa. kecuali pertanyaan anak-anak dari timur yang tak juga bisa terjawab: kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan?
Sialnya, rangkaian diskusi dua malam bersama beberapa kawan dan begelas-gelas cappucino dingin beberapa malam lalu, membuat saya kembali keras kepala. Tulisan ini saya baca kembali sendirian di malam buta selepas diskusi. Tentu saja pengalaman membaca yang saya dapatkan berbeda dengan pengalaman ketika menuliskan tulisan ini empat tahun lalu: jika empat tahun lalu saya merasa telah membuat manifesto kebertuhanan saya, malam kemarin ketika saya membacanya, tulisan ini hanya cukup untuk membuat saya berkomentar singkat seraya senyum-senyum gak jelas: ''Dewh, gaya pissannnn urang teh....'' ;p)
Tulisan ini pernah dimuat di ON/OFF (#08/2002), media orang biasa yang diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).
ratusan ribu waktu
sepetak ubin, jika kau mau tahu, ternyata tak lebih besar dari porsi hidupku 'tuk melumatimu. tak kusesali, biar saja. dan serupa ladang ilalalng, kau adalah kekeringan yang niscaya kubakar tiap waktu agar tetap kulihat merah tanah: sejatinya, merah tanah jauh lebih kuhargai ketimbang merah hatimu - juga merah mawar di depan rumahku yang selalu kau sirami di tiap senja.
tuhan, maaf kutak ada waktu buatmu....
pernah dulu memang, saat tepat rinduku yang keseratus sembilan puluh satu - rindu ternaif, menurut seorang kawan - kau terlihat seperti sosok paling liar yang siap menyantap habis semua umurku kelak. tapi hidup cuma main-main nyatanya, karena setelah itu, seperti apa dan bagaimana harummu, tuhan, aku lupa. kau segara begitu saja hilang di tiap anak akar otakku.
***
ada satu waktu dulu di mana ruang menjadi tak berpintu-tak berjendela, sedang di dalamnya cuma suara napasku dan suara napasmu beradu. tak ada yang lain, tak ada cahaya, tak ada udara, hanya napasku dan napasmu yang tak pernah berisi udara, melainkan segumpal emosi beku tak cerdas (dan naif). entah apa yang menghubungkan kita waktu itu. sedang rasanya tak pernah kuyakini sebuah kesepakatan pernyataan cinta antara kita.
atau barangkali seperti ini, seperti hijau rumput yang pucuknya selalu menyeretku ke titik awal interaksi kita. perkenalan singkat penuh basa-basi di mana kau begitu banyak bicara dan begitu saja membuatku sedikit terpukau terpesona hingga memaksaku memeras keringat berjerih payah merasionalisasikan tiap detik yang, meski kelak kuhancurkan sendiri, menjadi monumen tersendiri di diriku. kau dulu sanggup memamah lumat segenap diri. tubuh dan jiwa. ruang dan waktu.
ataukah karena matamu yang terasa liar di mataku, menelanjangiku di manapun dan kapanpun. kuakui, dalam beberapa hal kau memang tepat untuk dikatakan nakal, binal, hingga sempat tak ingin kulihat sosok-sosok di luar dirimu. keluarbiasaan pernah menghinggapiku, jeritan-jeritan, sorak-sorak, dengan selingan rintihan-rintihan, menahan silau kilau cahaya matamu.
seribu jenis panji aneka warna pernah menyerangku, masuk menyelinap lewat jendela kamarku, juga celah bocor atap dengan tiga belas titiknya. kesialannya, semua bukan cuma untuk singgah, melainkan melekat menyatu sempurna di pusat pertemuan darah di simpang tulang tubuh. ah, betapa hebatnya cinta. kuingatkan yang terparah, adalah panji kusam yang berhasil masuk melalui kolong pintu coklat tua kamarku. terlihat semakin pudar warnanya mengingat kamarku masih saja berlantai tanah. terbilang parah karena, pernah, semakin dekat kurasa kulitmu di sekitarku, hingga beberapa malam sempat kurasa kita bersentuhan. tapi, ingat juga, kau mesti tahu ini, tak ada kehangatan di situ, barangkali ada sebentar, yang justru terasa dan terngiang hingga kini lebih merupakan kepatuhan tak lazim akibat mantera yang kau alirkan lewat sekian detik persentuhan kulitku dan kulitmu. dan aku tak peduli....
biar saja, seperti kataku.
karena dulu, saat matahari keenam belas muncul di bulan terakhir tahun lalu, aku mampu melewatinya dengan tidur sedikit panjang. tidur yang bukan untuk istirahat, memejamkan mata menahan silau kilau matamu, melainkan tidur sebagai upaya penghindaran diri dari pertemuan-pertemuan kecil dengan makhluk-makhluk ternaif. makhluk-makhluk yang hidup bersamaku dalam hitungan ribuan waktu, yang selalu saja merasa sah berbuat apa kata perutnya ketimbang apa kata jiwanya, makhluk-makhluk gembalamu yang mengaku mendapat kesegaran air yang kausirami di hari itu. beberapa dengan sempurna kuhindari, beberapa tak sempat kujauhi. aku terluka dan memutuskan kembali tidur untuk istirahat, untuk menahan silau kilau matamu.
pernah pula kubuat semacam catatan rapi dengan pita niat kupersembahkan untukmu sebagai sebuah kenangan kalau aku pernah mengenalmu. aku akan pergi jauh, begitu kalimat pertamanya. tapi catatan itu, seperti kau tahu, tak pernah kusampaikan padamu. bukan tak ingin, tapi masih kucari hingga kini paragraf akhirnya. sebuah perjalanan panjang kemudian kurencanakan sebagai upaya penemuan jalinan kata yang niscaya kususun sebagai pelengkap catatanku. perjalanan dengan ratusan ton bahan bakar yang kuambil paksa hingga menyisakan luka-luka tubuh dan luka-luka jiwa. perjalanan dengan peta-peta buram.
lalu di tepat waktu keseribu. saat bumi kurasakan di momentum terpanasnya. panas yang melebihi matahari-matahari yang pernah berlalu di atas tubuhku. rasanya, seperti berkumpul seribu matahari di atas kepalaku yang nyaris membuat isi kepalaku mendidih, menegangkan jalinan urat syaraf yang melingkar berputar di dalamnya. satu yang tersisa: kengerian panjang yang tetap hidup bahkan di saat jam-jam tidurku. mimpi-mimpi buruk, atau serupa mimpi-mimpi buruk, berdatangan dengan rutin. berganti-ganti tema, berganti-ganti kemasan, berganti-ganti latar. yang pertama kali datang adalah cerita berisi pengerdilan makhluk-makhluk dengan harga-harga yang melambung tinggi. kenaikan yang, entah bagaimana, berhubungan dengan mulut-mulut yang mengucap-ucap namamu di jalan-jalan dan di meja-meja biliar. lalu ada cerita dengan pemeran tunggal, seseorang di depanku begitu tekunnya menatah kata-katamu dan nama-namamu di sisi-sisi pedangnya. mulutnya terkunci, kepalanya tertunduk, begitu khusuknya, begitu heningnya. yang ini kucurigai juga masih berhubungan dengan yang pertama.
keduanya menyisakan kegelisahan panjang di pagi hari bagiku. dan ternyata, begitu dekat rupanya engkau dengan kenaikan harga....
luka-luka semakin menganga. semakin melebar tanpa kutahu juga obat macam apakah penawarnya. karena pertemuan-pertemuan denganmu yang begitu terjadwal (karena janji-janji) ternyata tidak begitu membawa suasana lain untukku. kuputuskan untuk membatalkan sepihak janji-janji. mudah-mudahan kau tak kecewa. aku tak kecewa.
serangkaian kenaikan harga membuatku membatalkan bilangan janji-janji, gumpalan-gumpalan merah darah membuatku mencoba menghilangkanmu, tuhanku.
persekutuan bersama ratusan himpunan iblis kemudian kugagas. iblis-iblis timur, iblis-iblis barat, yang setengah iblis dari utara, yang setengah iblis dari selatan. persengkokolan yang bukan cuma sakit hati, tapi juga sakit badan, sakit jiwa. bagi kami kau ternyata tak mengenyangkan, tak menenangkan. karena hampir di segenap hamparan peta, warna-warna menjadi merah semata. merah darah. merah luka. merah senja darah air mata. merah yang mengalir dari pedang-pedang dan tombak-tombak berukiran namamu. dengan huruf-huruf aneh yang hanya dimengerti mereka yang berilmu. (sungguh, betapa tak mengertinya kami). tanah-tanah lapang kami menjadi bukan lagi milik kami. tapi punya mereka yang terus saja memuntahkan cinta-cinta berbentuk menyeramkan untukmu. jalan-jalan kami sesak dengan kepala-kepala musuh mereka, beberapa tak lagi utuh, tak punya mata, tak punya telinga, dan kami lihat mereka mengenakannya sebagai liontin di kalung rantai yang melingkar di dada-dada mereka. kami lihat, kami dengar, kami tahu, itu dipersembahkan untukmu. yang mahabesar, yang mahakasih, yang mahacinta, yang maha....
labirin-labirin gelap memang kemudian cukup memusingkan kami. karena ternyata betapa sedikitnya kami, betapa tidak seberapanya. tapi perlawanan telah rampung kami siapkan. hingga detail-detail tak terduga. kami bahkan telah menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarmu, dengan cara apapun, yang pasti tak terduga oleh para pembawa pedang itu. penyamar-penyamar kami telah terlatih. kami akan mencoba merayumu untuk menggunakan sedikit saja kekuasaanmu yang kami yakini. yang benar-benar kami yakini.
tuhanku, bapakkah kau? ibukah kau? anakkah kau? lelakikah kau? perempuankah kau?
karena sebagian dari kami adalah bapak, sebagian lain adalah ibu. dan dari mereka menjelma kerumunan anak yang menjadi begitu menakutkan dengan perut-perut yang jarang terisi, tapi tak pernah gelap mata buta cita dan memakan jantung kerabatnya. dan apakah ini justru menakutkanmu? kuharap iya. karena ini bagian awal dari rencana panjang kami. mudah-mudahan kau terkecoh....
anak-anak itu, yang aku temui di waktuku yang kesembilan ribu sekian, pernah menyodorkan pertanyaan maharumit untuk kucerna. tak pernah kujawab. tak mampuku. sebuah (hanya sebuah!) pertanyaan yang sejatinya untukmu: mengapa kami harus ada? kemudian ratusan pertanyaan turunan beranak-pinak di benakku. iya, untuk apa? apa yang mau kau dapatkan? sedang waktu-waktu yang kusediakan untuk kita saling bercinta dulu terasa tak begitu berkesan sekarang. rencana macam apa yang kau gelar, kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan? dan, ini yang membuatku semakin terluka, mau apa kau sebenarnya?
sampai kemudian kota-kita di negeri-negeri jauh menjadi ladang api. api nyala yang melalap bukan saja pintu-pintu rumah kerabat, tapi juga tangan-tangan mereka, kaki-kaki mereka, rambut-rambut mereka, hati-hati mereka... dan lalu entah lewat tangan siapa, api itu kemudian sampai pula ke depan pintu rumahku, rumah tetanggaku. membakar semua yang ada, semua yang cinta. sampai sini, kuputuskan, betapa sulitnya kau untuk kupercayai....
tidak. aku takut untuk mempercayaimu kembali. biarlah kau tetap di sana dan tidak di samping kami. rencana kami adalah mundur ke desa-desa. sebuah komuni yang kususun bersama iblis-iblis, setengah iblis-setengah iblis, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak akan kami mulai wujudkan. kami tidak akan menambang suatu dari tanahmu, biar tak kami jumpai sebiji besi pun. kami tak butuh parang. kami tak butuh peluru. karena kami merasa indah berkalung dengan mata liontin daun. daun-daun yang selalu menjadi cermin dan semangat bahwa ternyata hidup berwarna hijau, bukan merah. bukan api.
***
malam lagi sunyi, lagi nyinyir. setelah sebelumnya selalu saja ada suara napasmu dan suara napasku yang beradu. o, betapa kau pencemburu. betapa kau pencemburu....
tapi aku benar-benar tak peduli.
pun ketika sembilan duka turut masuk ke dalam segi empat kamarku. yang mengambil apa-apa yang sebelumnya selalu mengiringi jatuhnya peluh-peluh dari ubun-ubunku. yang pertama adalah kepergian. yang kedua adalah pelarian. yang ketiga adalah kematian. yang keempat adalah keniscayaan. yang kelima adalah kemutlakkan. selanjutnya, sampai yang kesembilan adalah kebencian yang barangkali semacam cinta yang berlebihan. ataukah itu semua bukan duka? melainkan momen-momen yang menuntut perayaan? tak mengerti, dan tak mau mengerti.
labirin, di waktuku kesekian, masih saja menyudutkanku. sementara dalam jiwaku, dalam tubuhku, tak ada peta penunjuk kau ada di sekitarku, kau ada di sel-selku. kau luruh dalam segenap kepergian akibat pelarian-pelarian yang kulakukan. pelarian-pelarian ke desa-desa tanpa api. dan paragraf terakhir dalam sebuah catatan hadiah untukmu yang kususun, belum juga berhasil kutemukan....
ratusan iblis membantu, ratusan kelaparan menemani, ratusan kota api menerangi, sama sekali tidak memberi apa-apa. kecuali pertanyaan anak-anak dari timur yang tak juga bisa terjawab: kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan?
11.8.06
Siang Ini
Dia tiba-tiba membuka pintu taman-bunga yang sesungguhnya ditutup. Kepalanya muncul, ''boleh masuk?'' Pembicaraan saya dengan seorang teman berhenti. ''Silakan,'' kata saya. ''Tapi maaf, sedang beres-beres. Jadi agak berantakan.'' ''Tak apa,'' jawab dia, ''cuma mau lihat-lihat buku.''
Dia memainkan jari tangan kirinya di punggung-punggung buku, jari tangan kanannya merapat di bibirnya. ''Buku tentang ilmu komunikasi di mana, mas?'' Saya belum menjawabnya, tapi dia sudah memegang buku karangan Romo Magnis tentang Karl Marx. ''Kamu baru pulang semester pendek, yah?'' tanya saya. ''Ah, nggak kok. Saya mahasiswa baru. Ilmu Komunikasi 2006. Makanya mau cari tahu soal buku-buku ilmu komunikasi.'' ''Kok malah megang buku tentang Marx?'' tanya saya. ''Iya, tentang sistem ekonomi yang utopis yah,'' kata dia seraya tertawa.
Dia terus melihat-lihat buku. ''Nama kamu siapa?'' saya bertanya. ''Kasih,'' kata dia. ''Wah, keren namanya,'' komentar saya. ''Terima kasih,'' dia menanggapi. ''Nama lengkapnya Kasih apa?'' Dia menjawab, ''Kasih Kisah''. ''Bapak kamu sastrawan, yah?'' tanya saya bercanda. ''Bukan, Bapak saya mantan preman.''
Dia tertawa. Saya dan teman saya ikutan tertawa.
Dia mahasiswa baru dan merasa tertipu karena dia pikir Unpad berada di Bandung dengan lingkungan yang nyaman. ''Gak tahunya di Jatinangor dan panas gini. Bikin bibir pecah-pecah.''
Dan dia tiba-tiba bercerita soal RUU APP:
''Waktu SMA di Lampung dulu saya pernah dihampiri seorang aktivis LSM yang menolak pengesahan RUU APP. Aktivis itu bilang pada saya bahwa RUU APP berbahaya. RUU itu misalnya, bisa menjerat seorang ibu yang menyusui anaknya di tengah umum. Seteleh mendengar penjelasan aktivis itu saya memutuskan untuk ikut menandatangani petisi penolakan RUU APP. Di rumah saya bertemu kakak saya yang juga aktivis. Saya ceritakan pada dia soal penandatanganan petisi penolakan itu. Tapi dia malah berpesan pada saya untuk hati-hati. Jangan asal tanda tangan. Kata kakak saya, bagaimanapun seorang perempuan tidak bisa memperlihatkan auratnya di muka umum, sekalipun itu dalam rangka menyusui anaknya. Perempuan itu harus mencari tempat yang aman untuk menyusui. Saya mengiyakan. Saya tanya ke kakak saya, bagaimana ini saya sudah tanda tangan? Kakak saya bilang, ya sudah lain kali hati-hati. Sekarang istighfar saja. Saya jadi takut. Ya sudah, saya istighfar saja. Astagfirullah.''
Ah, siang yang menyenangkan setelah lama tak di taman-bunga.
Dia tiba-tiba membuka pintu taman-bunga yang sesungguhnya ditutup. Kepalanya muncul, ''boleh masuk?'' Pembicaraan saya dengan seorang teman berhenti. ''Silakan,'' kata saya. ''Tapi maaf, sedang beres-beres. Jadi agak berantakan.'' ''Tak apa,'' jawab dia, ''cuma mau lihat-lihat buku.''
Dia memainkan jari tangan kirinya di punggung-punggung buku, jari tangan kanannya merapat di bibirnya. ''Buku tentang ilmu komunikasi di mana, mas?'' Saya belum menjawabnya, tapi dia sudah memegang buku karangan Romo Magnis tentang Karl Marx. ''Kamu baru pulang semester pendek, yah?'' tanya saya. ''Ah, nggak kok. Saya mahasiswa baru. Ilmu Komunikasi 2006. Makanya mau cari tahu soal buku-buku ilmu komunikasi.'' ''Kok malah megang buku tentang Marx?'' tanya saya. ''Iya, tentang sistem ekonomi yang utopis yah,'' kata dia seraya tertawa.
Dia terus melihat-lihat buku. ''Nama kamu siapa?'' saya bertanya. ''Kasih,'' kata dia. ''Wah, keren namanya,'' komentar saya. ''Terima kasih,'' dia menanggapi. ''Nama lengkapnya Kasih apa?'' Dia menjawab, ''Kasih Kisah''. ''Bapak kamu sastrawan, yah?'' tanya saya bercanda. ''Bukan, Bapak saya mantan preman.''
Dia tertawa. Saya dan teman saya ikutan tertawa.
Dia mahasiswa baru dan merasa tertipu karena dia pikir Unpad berada di Bandung dengan lingkungan yang nyaman. ''Gak tahunya di Jatinangor dan panas gini. Bikin bibir pecah-pecah.''
Dan dia tiba-tiba bercerita soal RUU APP:
''Waktu SMA di Lampung dulu saya pernah dihampiri seorang aktivis LSM yang menolak pengesahan RUU APP. Aktivis itu bilang pada saya bahwa RUU APP berbahaya. RUU itu misalnya, bisa menjerat seorang ibu yang menyusui anaknya di tengah umum. Seteleh mendengar penjelasan aktivis itu saya memutuskan untuk ikut menandatangani petisi penolakan RUU APP. Di rumah saya bertemu kakak saya yang juga aktivis. Saya ceritakan pada dia soal penandatanganan petisi penolakan itu. Tapi dia malah berpesan pada saya untuk hati-hati. Jangan asal tanda tangan. Kata kakak saya, bagaimanapun seorang perempuan tidak bisa memperlihatkan auratnya di muka umum, sekalipun itu dalam rangka menyusui anaknya. Perempuan itu harus mencari tempat yang aman untuk menyusui. Saya mengiyakan. Saya tanya ke kakak saya, bagaimana ini saya sudah tanda tangan? Kakak saya bilang, ya sudah lain kali hati-hati. Sekarang istighfar saja. Saya jadi takut. Ya sudah, saya istighfar saja. Astagfirullah.''
Ah, siang yang menyenangkan setelah lama tak di taman-bunga.
13.6.06
Hai... Nadya!
''Semoga orang Jakarta jadi lebih senang belanja.''
Nadya Hutagalung, KOMPAS Minggu 11 Juni 2006

Hai! Apa kabar, Nadya? Lama tak melihat kamu dan betapa masih cantiknya kamu meski tahun ini kamu 32 tahun dan punya dua anak! Di SMP dulu pertama kali saya melihat kamu, di layar kaca tengah rumah. Kamu mantap berdiri di sana, di MTV allaihissalam. Baik-baik sajakah kamu? Ya, kamu si indo ceria yang keren banget jika duet dengan Jamie.
Kamu datang lagi hari ini dengan keglamoran seorang model catwalk. Dan kamu menjadi duta bagi mal Senayan City yang akan dibuka akhir bulan ini. Menambah satu lagi biara Smith-ian di Jakarta. Ya, ya, kamu memang cantik dan masih menarik.
Tapi maafkan saya, Nadya. Saya bukan lagi anak SMP yang terpesona dengan mantapnya cara kamu berdiri. Itu semacam kegenitan tak perlu anak SMP yang jika sekarang saya ingat kembali, selalu saja membuat saya tersenyum.
Saya, Nadya, tidak akan menjadi lebih senang belanja seperti doa yang kamu panjatkan itu. Ada berapa banyak doa-doa kamu yang tak terkabul, Nadya?
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan mati jika tak menginjakkan kaki di mal-mal gemerlap itu.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia mati jika tak makan, namun manusia tidak mati jika tak memakai benetton.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan kesepian jika tidak menonton MTV seharian, tapi manusia akan kesepian jika interaksi personal dengan orang-orang terdekat tereduksi menjadi interaksi atas nama properti dan ekonomi.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu saya lebih senang diterima apa adanya saya dan bukan diterima lantaran saya mengendarai mobil seri terbaru keluaran Honda Coorporation.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu sesungguhnya begitu banyak yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini. Benar-benar tidak kita butuhkan.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu gizi yang baik, makanan yang murah, dan tempat makan yang hangat bukan cuma disediakan gerai-gerai fastfood yang buka 'kapan saja di mana saja', tapi juga di rumah makan-rumah makan kecil yang dikelola dengan penuh suka cita oleh sebuah keluarga kecil demi menjaga kelangsungan hidupnya.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu bermain di lapangan bisa menjadi lebih asyik dan seru ketimbang harus bermain di bowling center setelah sebelumnya menghabiskan sekian rupiah demi segelas kopi dan sekantung harga diri di starbucks.
Satu lagi doa kamu tak terkabul, Nadya. Saya tak akan menjadi lebih senang belanja. Karena yang kalian tawarkan tak lebih dari apa-apa yang sesungguhnya telah kalian curi dari saya: kehidupan saya sendiri!
''Semoga orang Jakarta jadi lebih senang belanja.''
Nadya Hutagalung, KOMPAS Minggu 11 Juni 2006
Hai! Apa kabar, Nadya? Lama tak melihat kamu dan betapa masih cantiknya kamu meski tahun ini kamu 32 tahun dan punya dua anak! Di SMP dulu pertama kali saya melihat kamu, di layar kaca tengah rumah. Kamu mantap berdiri di sana, di MTV allaihissalam. Baik-baik sajakah kamu? Ya, kamu si indo ceria yang keren banget jika duet dengan Jamie.
Kamu datang lagi hari ini dengan keglamoran seorang model catwalk. Dan kamu menjadi duta bagi mal Senayan City yang akan dibuka akhir bulan ini. Menambah satu lagi biara Smith-ian di Jakarta. Ya, ya, kamu memang cantik dan masih menarik.
Tapi maafkan saya, Nadya. Saya bukan lagi anak SMP yang terpesona dengan mantapnya cara kamu berdiri. Itu semacam kegenitan tak perlu anak SMP yang jika sekarang saya ingat kembali, selalu saja membuat saya tersenyum.
Saya, Nadya, tidak akan menjadi lebih senang belanja seperti doa yang kamu panjatkan itu. Ada berapa banyak doa-doa kamu yang tak terkabul, Nadya?
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan mati jika tak menginjakkan kaki di mal-mal gemerlap itu.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia mati jika tak makan, namun manusia tidak mati jika tak memakai benetton.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan kesepian jika tidak menonton MTV seharian, tapi manusia akan kesepian jika interaksi personal dengan orang-orang terdekat tereduksi menjadi interaksi atas nama properti dan ekonomi.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu saya lebih senang diterima apa adanya saya dan bukan diterima lantaran saya mengendarai mobil seri terbaru keluaran Honda Coorporation.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu sesungguhnya begitu banyak yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini. Benar-benar tidak kita butuhkan.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu gizi yang baik, makanan yang murah, dan tempat makan yang hangat bukan cuma disediakan gerai-gerai fastfood yang buka 'kapan saja di mana saja', tapi juga di rumah makan-rumah makan kecil yang dikelola dengan penuh suka cita oleh sebuah keluarga kecil demi menjaga kelangsungan hidupnya.
Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu bermain di lapangan bisa menjadi lebih asyik dan seru ketimbang harus bermain di bowling center setelah sebelumnya menghabiskan sekian rupiah demi segelas kopi dan sekantung harga diri di starbucks.
Satu lagi doa kamu tak terkabul, Nadya. Saya tak akan menjadi lebih senang belanja. Karena yang kalian tawarkan tak lebih dari apa-apa yang sesungguhnya telah kalian curi dari saya: kehidupan saya sendiri!
26.5.06
Pada Suatu Sore
Semuanya menjadi begitu mudah. Lebih mudah. Udara lapang, jalanan lengang, orang lalu-lalang. Anak-anak tersisir rapi selepas mandi yang serupa tamasya. Serangga. Daun kering. Cangkir kopi. Debu di atas meja. Sore ini semuanya terasa berbeda.
Di barat langit mulai memerah. Sebuah provokasi untuk hati jadi lebih ramah. Ah. Ini berbeda. Begitu mudah dan lumrah. Begitu ramah dan merah. Seperti bayi. Seperti pipi. Seperti bunga lili.
Membuat satu-satu kenangan muncul.
Di sore hari waktu kecil dulu.
Kau baru saja terluka. Ada darah mengalir keluar dari tubuhmu. Kau menangis kecil tak henti. Memegangi baju ibumu yang sibuk mengobati lukamu. Kakakmu hanya diam menunggu seraya mengisyaratkan rasa khawatir. Kau merasa ia juga ingin menangis. Lalu ibumu membawamu ke beranda, menyuruhmu duduk dengan tenang dan nyaman. Ibumu kembali masuk menuju dapur dan kembali dengan membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup panas. Tangismu telah terhenti. Ibumu menyuapimu. Satu sendok. Dua sendok. Dari matanya kau melihat kasih. Dari dadanya kau mendengar cinta. Kau membaik dan merasa hangat. Ibumu melepasmu bermain lagi. Ia katakan berhati-hatilah. Dan kau melihat kakakmu menjagamu di tanah lapang.
Di sore hari di sekolah dasar.
Kau jemu upacara sabtu sore. Kau ingin pergi namun tak bisa. Teman-temanmu pun begitu. Kau bosan. Kau letih. Kau ingin terus bermain dan bermain. Sampai doa telah selesai dipanjatkan dan upacara kemudian dibubarkan, kau berlari. Kencang. Mengambil tas sekolahmu dan sepedamu. Kau bermain-main lagi dengan teman-temanmu. Kau membawa kelereng. Satu plastik kecil dalam genggaman, satu plastik besar tersembunyi dalam tas. Kau memasang taruhan kelereng. Kau menang, kau tertawa senang. Kau kalah, kau tertawa riang. Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu. Sampai gelap benar-benar datang dan kau harus pulang.
Di sore hari di sekolah menengah pertama.
Kau menghindari teman-temanmu sendiri. Teman-temanmu yang mulai terbiasa memasukkan narkotika ke tubuh mereka. Tapi kau tetap berteman baik dengan mereka. Bersenda gurau bersama, menggoda wanita bersama, berolah raga bersama. Kau menghindari mereka hanya ketika kau tahu mereka akan pergi menuju dunia yang mereka ciptakan bersama narkotika. Teman-temanmu tak memusuhimu. Sebagaimana kau mengerti mereka, mereka mengerti dirimu. Dan kau tahu, di suatu sore kau akan kehilangan mereka. Satu-satu. Drop-out. Over dosis. Keluar dari rumah. Tak sekolah lagi. Ke luar kota. Entah ada di mana. Kau menyesalinya.
Di sore hari di sekolah menengah umum.
Kau terkejut. Kaca jendela kelasmu pecah. Lalu sebuah bola jatuh di tengah meja yang sedang kau pakai bermain domino bersama teman-temanmu. Segalanya menjadi begitu kisruh. Kartu-kartu tak lagi rapi tersusun. Pecahan kaca berserakan. Tak ada yang terluka, tapi cukup membuat seisi kelas panik. Sore itu guru seperti biasa tak datang. Lalu kelas tertawa. Tak ada yang saling menyalahkan, hanya tertawa. Tertawa-tawa. Guru kelas tetangga kemudian datang, bertanya ada apa dan mengapa bisa terjadi. Sampai kemudian terdengar bel tanda usai jam sekolah. Save by the bell!
Kau bermain. Terus bermain. Bersenang-senang dengan teman-temanmu. Saat berangkat sekolah, saat belajar di kelas, saat pulang sekolah. Dan semuanya muncul sore ini. Berkelebatan.
Kau merasa seperti melihat kunang-kunang. Kunang-kunang terbang saat malam melayang di langit mengawang. Merah kuning hijau biru ungu. Lalu kau ingat bunga-bunga.
Kau mengingat kekasihmu.
Kekasihmu. Si pipi bunga lili. Si mawar kenanga melati. Di tempat jauh. Di luar kota. Kau mengingatnya dan ingin menyentuhnya. Kau mereka wajahnya yang tersenyum, siswa teladan sekolah dasarmu dulu, si gadis pengoleksi perangko. Kau tahu betapa dungu hanya diam menunggu. Tapi kau tak kuasa untuk mengemas pakaian dan buku-buku untuk gegas ke barat. Menghirup udara jalanan di kotanya, melihat pohon-pohon rambutan, tersenyum menyeberang jalan, membuka pagar depan tempat tinggalnya, menyapa kawan-kawannya, mengetuk pintu kamarnya, menatap matanya dan melempar senyum tak henti.
Kau ingin tertawa karena kau mengingat saat di mana kau tertawa dengannya. Kau ingin tersenyum karena kau tak bisa melupakan saat di mana kau tersenyum dengannya. Kau ingin menangis karena kau sadar mengapa malam begitu lekas.
Kau merasakan cinta.
Bukan yang pertama, tapi kau tahu bedanya. Kau ingin menyentuhnya, kekasih bunga lilimu itu. Melepas sebuah kalimat, sebuah tatap mata, sebuah impresi dari dalam hati. Kau ingin mengalirkannya seperti dulu kau melihat empat air terjun. Begitu pasti, begitu rendah hati. Air yang jatuh menyentuh daun-daun kecil dari tumbuhan-tumbuhan kecil tanpa hasrat mencabutnya dari tanah tempatnya tertanam. Hanya menyentuhnya dan membasahinya. Bahasa-bahasa alam yang kau kagumi. Kau ingin menghembuskannya seperti dulu kau merasakan semilir di suatu pesisir. Angin-angin tak berwarna namun bermakna. Angin-angin tak bernama namun penuh irama. Angin-angin yang tak kau ketahui asalnya namun kau rasakan kehadirannya.
Sebuah sore yang cerah. Kau melamun. Melamun lagi. Sendiri dengan gelas kopi. Tergenang. Terkenang.
Hingga kau tersadar bahwa segala sesuatu selalu ada akhirnya. Selayak penyanyi solo selepas lagu terakhir, kau tersenyum ringkas, kau katakan, ''seandainya hidup hanya ada sore.''
Semuanya menjadi begitu mudah. Lebih mudah. Udara lapang, jalanan lengang, orang lalu-lalang. Anak-anak tersisir rapi selepas mandi yang serupa tamasya. Serangga. Daun kering. Cangkir kopi. Debu di atas meja. Sore ini semuanya terasa berbeda.
Di barat langit mulai memerah. Sebuah provokasi untuk hati jadi lebih ramah. Ah. Ini berbeda. Begitu mudah dan lumrah. Begitu ramah dan merah. Seperti bayi. Seperti pipi. Seperti bunga lili.
Membuat satu-satu kenangan muncul.
Di sore hari waktu kecil dulu.
Kau baru saja terluka. Ada darah mengalir keluar dari tubuhmu. Kau menangis kecil tak henti. Memegangi baju ibumu yang sibuk mengobati lukamu. Kakakmu hanya diam menunggu seraya mengisyaratkan rasa khawatir. Kau merasa ia juga ingin menangis. Lalu ibumu membawamu ke beranda, menyuruhmu duduk dengan tenang dan nyaman. Ibumu kembali masuk menuju dapur dan kembali dengan membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup panas. Tangismu telah terhenti. Ibumu menyuapimu. Satu sendok. Dua sendok. Dari matanya kau melihat kasih. Dari dadanya kau mendengar cinta. Kau membaik dan merasa hangat. Ibumu melepasmu bermain lagi. Ia katakan berhati-hatilah. Dan kau melihat kakakmu menjagamu di tanah lapang.
Di sore hari di sekolah dasar.
Kau jemu upacara sabtu sore. Kau ingin pergi namun tak bisa. Teman-temanmu pun begitu. Kau bosan. Kau letih. Kau ingin terus bermain dan bermain. Sampai doa telah selesai dipanjatkan dan upacara kemudian dibubarkan, kau berlari. Kencang. Mengambil tas sekolahmu dan sepedamu. Kau bermain-main lagi dengan teman-temanmu. Kau membawa kelereng. Satu plastik kecil dalam genggaman, satu plastik besar tersembunyi dalam tas. Kau memasang taruhan kelereng. Kau menang, kau tertawa senang. Kau kalah, kau tertawa riang. Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu. Sampai gelap benar-benar datang dan kau harus pulang.
Di sore hari di sekolah menengah pertama.
Kau menghindari teman-temanmu sendiri. Teman-temanmu yang mulai terbiasa memasukkan narkotika ke tubuh mereka. Tapi kau tetap berteman baik dengan mereka. Bersenda gurau bersama, menggoda wanita bersama, berolah raga bersama. Kau menghindari mereka hanya ketika kau tahu mereka akan pergi menuju dunia yang mereka ciptakan bersama narkotika. Teman-temanmu tak memusuhimu. Sebagaimana kau mengerti mereka, mereka mengerti dirimu. Dan kau tahu, di suatu sore kau akan kehilangan mereka. Satu-satu. Drop-out. Over dosis. Keluar dari rumah. Tak sekolah lagi. Ke luar kota. Entah ada di mana. Kau menyesalinya.
Di sore hari di sekolah menengah umum.
Kau terkejut. Kaca jendela kelasmu pecah. Lalu sebuah bola jatuh di tengah meja yang sedang kau pakai bermain domino bersama teman-temanmu. Segalanya menjadi begitu kisruh. Kartu-kartu tak lagi rapi tersusun. Pecahan kaca berserakan. Tak ada yang terluka, tapi cukup membuat seisi kelas panik. Sore itu guru seperti biasa tak datang. Lalu kelas tertawa. Tak ada yang saling menyalahkan, hanya tertawa. Tertawa-tawa. Guru kelas tetangga kemudian datang, bertanya ada apa dan mengapa bisa terjadi. Sampai kemudian terdengar bel tanda usai jam sekolah. Save by the bell!
Kau bermain. Terus bermain. Bersenang-senang dengan teman-temanmu. Saat berangkat sekolah, saat belajar di kelas, saat pulang sekolah. Dan semuanya muncul sore ini. Berkelebatan.
Kau merasa seperti melihat kunang-kunang. Kunang-kunang terbang saat malam melayang di langit mengawang. Merah kuning hijau biru ungu. Lalu kau ingat bunga-bunga.
Kau mengingat kekasihmu.
Kekasihmu. Si pipi bunga lili. Si mawar kenanga melati. Di tempat jauh. Di luar kota. Kau mengingatnya dan ingin menyentuhnya. Kau mereka wajahnya yang tersenyum, siswa teladan sekolah dasarmu dulu, si gadis pengoleksi perangko. Kau tahu betapa dungu hanya diam menunggu. Tapi kau tak kuasa untuk mengemas pakaian dan buku-buku untuk gegas ke barat. Menghirup udara jalanan di kotanya, melihat pohon-pohon rambutan, tersenyum menyeberang jalan, membuka pagar depan tempat tinggalnya, menyapa kawan-kawannya, mengetuk pintu kamarnya, menatap matanya dan melempar senyum tak henti.
Kau ingin tertawa karena kau mengingat saat di mana kau tertawa dengannya. Kau ingin tersenyum karena kau tak bisa melupakan saat di mana kau tersenyum dengannya. Kau ingin menangis karena kau sadar mengapa malam begitu lekas.
Kau merasakan cinta.
Bukan yang pertama, tapi kau tahu bedanya. Kau ingin menyentuhnya, kekasih bunga lilimu itu. Melepas sebuah kalimat, sebuah tatap mata, sebuah impresi dari dalam hati. Kau ingin mengalirkannya seperti dulu kau melihat empat air terjun. Begitu pasti, begitu rendah hati. Air yang jatuh menyentuh daun-daun kecil dari tumbuhan-tumbuhan kecil tanpa hasrat mencabutnya dari tanah tempatnya tertanam. Hanya menyentuhnya dan membasahinya. Bahasa-bahasa alam yang kau kagumi. Kau ingin menghembuskannya seperti dulu kau merasakan semilir di suatu pesisir. Angin-angin tak berwarna namun bermakna. Angin-angin tak bernama namun penuh irama. Angin-angin yang tak kau ketahui asalnya namun kau rasakan kehadirannya.
Sebuah sore yang cerah. Kau melamun. Melamun lagi. Sendiri dengan gelas kopi. Tergenang. Terkenang.
Hingga kau tersadar bahwa segala sesuatu selalu ada akhirnya. Selayak penyanyi solo selepas lagu terakhir, kau tersenyum ringkas, kau katakan, ''seandainya hidup hanya ada sore.''
23.5.06
Karena Semuanya Memang Bisa Terjadi
Tiba-tiba saja kamu tak mengerti apa-apa lagi.
Kamu mengira kamu telah mengetahui segalanya. Kamu merunut-runut semua yang ada di kepalamu, seribu macam persimpangan rumit yang telah kamu lewati. Kamu begitu yakin, begitu yakin dan pasti dan percaya diri. Kamu memilih. Dan ternyata kamu salah. Salah memilih dan salah merunut. Kamu kecewa.
Kamu mengira kamu telah tepat berada di jalan ini. Kamu melangkah dengan begitu riangnya. Begitu ringan dan begitu lapang. Kamu melompat-lompat kecil. Dari bibirmu, senandung siul terdengar lepas. Sampai sebuah batu menghalangi langkahmu. Kamu terjatuh. Terluka. Ingin menangis namun tak tahu apakah pantas. Kamu salah memilih jalan. Kamu tahu itu, kamu salah mengambil langkah.
Kamu mengira kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Kamu begitu bersungguh-sungguh. Kamu mengorbankan hal-hal remeh di sekitarmu. Kamu katakan, 'inilah hidup, selalu seperti masa kecil dulu, bermain-main bersuka cita bersenda-gurau, selalu bikin lupa waktu lupa diri.' Sampai kemudian kamu tersesat. Tak punya lagi teman bermain yang satu-persatu telah tumbuh dan melesat: menjadi bintang, menjadi hijau daun, menjadi embun pagi, menjadi matahari, menjadi segala. Sedang kamu merasa sepi di tanah lapang itu. Kamu menyesal untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu merasa telah melakukan kesalahan tak perlu.
Kamu mengira kamu telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Kamu merasa puas dan berbangga hati. Di tepi jalan, kamu memperlihatkan pekerjaanmu itu. Kepalamu menantang udara. Tanganmu terkepal. Matamu berbinar. Kamu percaya bahwa kamu telah menemukan diri kamu sendiri. Hingga pada suatu sore di ujung jalan, kamu mendapati diri kamu bukan apa-apa. Seseorang, tak terlihat, tak masuk hitungan, tak menantang udara, membawa pekerjaannya dengan rendah hati. Dan kamu tahu belaka, seseorang itu bekerja dengan hasil yang hanya pantas diletakkan di langit sementara hasil kerjamu cuma pantas diletakkan di kamarmu sendiri.
Kamu mencari. Dan terus mencari.
Kamu merasa tak memiliki apa-apa kecuali kekalahan demi kekalahan. Kamu menghimpun kekuatan, menyusuri setiap lanskap, menggumam-gumam bahwa kamu hanya pantas untuk sebuah kemenangan dan bukan kekalahan. Kamu merasa semuanya adalah lawan tandingmu. Kamu mencurigai mereka. Kamu berkata, 'kau. atau aku. itu saja!' Dan yang kamu temui ternyata adalah melulu mereka yang selalu saja ada di saat kamu membutuhkan mereka. Yang selalu saja kamu jumpai adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kamu terjatuh dulu. Adalah mereka yang menunggumu saat kamu tertinggal di belakang. Adalah mereka yang selalu saja tak pernah letih mendengarkan kamu, tak pernah bosan memperhatikan hasil kerjamu dan memberi pujian kebanggaan, tak pernah jemu menyemangatimu saat kamu rapuh. Mereka yang ada dan selalu ada.
Kamu membuat peta perjalanan penaklukan. Kamu mengumpulkan bekal-bekal perjalanan terjauh. Kamu berkata, 'selamat tinggal. lihatlah, aku menaklukkan dunia!' Dan lalu kamu pergi. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kamu meninggalkan rumahmu, meninggalkan jalinan-jalinan kasih: yang melahirkanmu, yang mengasuhmu, yang menjadi teman bermainmu, yang menjadi teman sekolahmu, teman mimpimu, temanmu saat melompati pagar sekolah, temanmu saat mencuri mangga, temanmu saat menangis, saat tertawa, saat memiliki segala, saat tak memiliki segala. Kamu melupakan dan meninggalkan mereka. Sampai suatu sore kamu pulang, begitu letih, begitu mencemaskan. Tak satupun yang kamu temui. Tak satupun yang kamu taklukkan. Kamu marah dan bersedih dan terluka dan berputus asa. Tapi mereka, yang telah kamu tinggalkan dan lupakan, beramai-ramai menjengukmu. Memelukmu dan menangis untukmu. Merawatmu dan berkata, 'tenanglah. kami menjagamu. kami menjagamu. kami menjagamu.'
Selalu seperti itu. Kamu benar-benar menjadi tak mengerti apa-apa lagi. Semuanya terjadi dan memang bisa terjadi. Cuma itu yang kamu pahami. Kamu selalu kembali menangis. Kamu selalu kembali menyesal. Kamu selalu kembali merutuk-rutuk. Tapi kamu selalu kembali salah. Salah merunut-runut, salah mengambil langkah, salah memilih jalan, salah membaca peta, salah membawa bekal, salah, salah, salah.
Sampai di suatu malam, kamu teringat sesuatu. Dan kamu merasa inilah akar segala yang kamu alami. Kamu teringat sesuatu, dan kamu menyesalinya dengan sangat. Mengapa ingatan ini datang terlambat? Kamu teringat sesuatu, sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele.
Kamu teringat sesuatu: selama ini kamu melupakan sebuah puisi!
Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sapardi Djoko Damono
Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.
(1992)
Tiba-tiba saja kamu tak mengerti apa-apa lagi.
Kamu mengira kamu telah mengetahui segalanya. Kamu merunut-runut semua yang ada di kepalamu, seribu macam persimpangan rumit yang telah kamu lewati. Kamu begitu yakin, begitu yakin dan pasti dan percaya diri. Kamu memilih. Dan ternyata kamu salah. Salah memilih dan salah merunut. Kamu kecewa.
Kamu mengira kamu telah tepat berada di jalan ini. Kamu melangkah dengan begitu riangnya. Begitu ringan dan begitu lapang. Kamu melompat-lompat kecil. Dari bibirmu, senandung siul terdengar lepas. Sampai sebuah batu menghalangi langkahmu. Kamu terjatuh. Terluka. Ingin menangis namun tak tahu apakah pantas. Kamu salah memilih jalan. Kamu tahu itu, kamu salah mengambil langkah.
Kamu mengira kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Kamu begitu bersungguh-sungguh. Kamu mengorbankan hal-hal remeh di sekitarmu. Kamu katakan, 'inilah hidup, selalu seperti masa kecil dulu, bermain-main bersuka cita bersenda-gurau, selalu bikin lupa waktu lupa diri.' Sampai kemudian kamu tersesat. Tak punya lagi teman bermain yang satu-persatu telah tumbuh dan melesat: menjadi bintang, menjadi hijau daun, menjadi embun pagi, menjadi matahari, menjadi segala. Sedang kamu merasa sepi di tanah lapang itu. Kamu menyesal untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu merasa telah melakukan kesalahan tak perlu.
Kamu mengira kamu telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Kamu merasa puas dan berbangga hati. Di tepi jalan, kamu memperlihatkan pekerjaanmu itu. Kepalamu menantang udara. Tanganmu terkepal. Matamu berbinar. Kamu percaya bahwa kamu telah menemukan diri kamu sendiri. Hingga pada suatu sore di ujung jalan, kamu mendapati diri kamu bukan apa-apa. Seseorang, tak terlihat, tak masuk hitungan, tak menantang udara, membawa pekerjaannya dengan rendah hati. Dan kamu tahu belaka, seseorang itu bekerja dengan hasil yang hanya pantas diletakkan di langit sementara hasil kerjamu cuma pantas diletakkan di kamarmu sendiri.
Kamu mencari. Dan terus mencari.
Kamu merasa tak memiliki apa-apa kecuali kekalahan demi kekalahan. Kamu menghimpun kekuatan, menyusuri setiap lanskap, menggumam-gumam bahwa kamu hanya pantas untuk sebuah kemenangan dan bukan kekalahan. Kamu merasa semuanya adalah lawan tandingmu. Kamu mencurigai mereka. Kamu berkata, 'kau. atau aku. itu saja!' Dan yang kamu temui ternyata adalah melulu mereka yang selalu saja ada di saat kamu membutuhkan mereka. Yang selalu saja kamu jumpai adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kamu terjatuh dulu. Adalah mereka yang menunggumu saat kamu tertinggal di belakang. Adalah mereka yang selalu saja tak pernah letih mendengarkan kamu, tak pernah bosan memperhatikan hasil kerjamu dan memberi pujian kebanggaan, tak pernah jemu menyemangatimu saat kamu rapuh. Mereka yang ada dan selalu ada.
Kamu membuat peta perjalanan penaklukan. Kamu mengumpulkan bekal-bekal perjalanan terjauh. Kamu berkata, 'selamat tinggal. lihatlah, aku menaklukkan dunia!' Dan lalu kamu pergi. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kamu meninggalkan rumahmu, meninggalkan jalinan-jalinan kasih: yang melahirkanmu, yang mengasuhmu, yang menjadi teman bermainmu, yang menjadi teman sekolahmu, teman mimpimu, temanmu saat melompati pagar sekolah, temanmu saat mencuri mangga, temanmu saat menangis, saat tertawa, saat memiliki segala, saat tak memiliki segala. Kamu melupakan dan meninggalkan mereka. Sampai suatu sore kamu pulang, begitu letih, begitu mencemaskan. Tak satupun yang kamu temui. Tak satupun yang kamu taklukkan. Kamu marah dan bersedih dan terluka dan berputus asa. Tapi mereka, yang telah kamu tinggalkan dan lupakan, beramai-ramai menjengukmu. Memelukmu dan menangis untukmu. Merawatmu dan berkata, 'tenanglah. kami menjagamu. kami menjagamu. kami menjagamu.'
Selalu seperti itu. Kamu benar-benar menjadi tak mengerti apa-apa lagi. Semuanya terjadi dan memang bisa terjadi. Cuma itu yang kamu pahami. Kamu selalu kembali menangis. Kamu selalu kembali menyesal. Kamu selalu kembali merutuk-rutuk. Tapi kamu selalu kembali salah. Salah merunut-runut, salah mengambil langkah, salah memilih jalan, salah membaca peta, salah membawa bekal, salah, salah, salah.
Sampai di suatu malam, kamu teringat sesuatu. Dan kamu merasa inilah akar segala yang kamu alami. Kamu teringat sesuatu, dan kamu menyesalinya dengan sangat. Mengapa ingatan ini datang terlambat? Kamu teringat sesuatu, sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele.
Kamu teringat sesuatu: selama ini kamu melupakan sebuah puisi!
Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sapardi Djoko Damono
Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.
(1992)
14.5.06
11.5.06
Bukan Jalanan, Tuan Jusuf
-- Surat Terbuka untuk Jusuf Kalla
''Seratus orang tanpa pendidikan adalah awal sebuah pemberontakan. Satu orang dengan pendidikan adalah awal sebuah gerakan!'' Chico Mendez (1944-1988)
SENANG sekali membaca berita tentang bagaimana Anda, Tuan Jusuf, menerima beberapa perwakilan mahasiswa pada 2 Mei 2006 lalu di istana Anda (Media Indonesia, 03/05). Tak banyak pejabat di negara ini yang melakukan hal semacam itu. Membukakan pintu dan lalu mengajak para demonstran berdialog. Dan Anda melakukannya dengan baik sekali. Demokratisasi mungkin memang perlu dimulai dari hal-hal kecil semacam membukakan pintu bagi para demonstran.
Para mahasiswa itu sebelumnya berunjuk rasa di jalanan depan istana Anda. Hari itu 2 Mei 2006. Seratus tujuh belas tahun sebelumnya Ki Hajar Dewantara lahir. Mungkin tak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah penerjemah lirik lagu Internationale (sebuah mars kaum Marxis internasional). Di Jakarta, beberapa hari sebelum ini, lagu itu kembali dikumandangkan sebagai pengantar jenazah Pak Pram. Kita, saya dan Anda Tuan Jusuf, tentu lebih mengenal Ki Hajar sebagai Bapak Pendidikan. Sesuatu yang barangkali tak ia sukai. Pernahkah Tuan Jusuf membaca surat Ki Hajar Dewantara kepada Gubernur Jenderal de Jonge, 26 Oktober 1932? Ki Hajar Dewantara menulis, ''Gambar saya misalnya, tak boleh dipajang di mana pun. Pertama, batin saya tak menghendaki penghormatan atas gambar saya. Darinya akan timbul dampak yang tidak baik. Kalau kalian mendewa-dewakan saya, habislah Taman Siswa sesudah saya mati.''
Bahkan, tahukah Tuan, Ki Hajar Dewantara pernah berwasiat agar keluarganya jangan sampai menulis biografi dirinya. ''Tak akan jujur. Sepenuhnya subjektif,'' katanya.
Betapa kita mengenalnya sebagai seorang pintar nan rendah hati. Ah, Tuan Jusuf, berapa banyak lagi orang yang seperti Ki Hajar Dewantara di negara ini?
**
TAPI saya sedikit terganggu, Tuan Jusuf. Jawaban Anda kepada perwakilan mahasiswa yang menuntut agar pemerintah segera melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar, yakni menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, terlalu membuat resah. Anda mungkin orang baik, Tuan. Tapi, pasti bukan bagi 69% dari 203.456.005 penduduk Indonesia, angka statistik bagi mereka yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun (Media Indonesia, 03/05).
Tuan Jusuf berkata bahwa pendidikan itu penting. Namun, ''Kesehatan juga penting, jalan yang rusak juga penting diperbaiki'' (Media Indonesia, 03/05). Dan Tuan Jusuf memilih untuk mendahulukan kesehatan dan perbaikan jalan. Tuan bahkan sampai bertanya, ''Apakah kita rela anggaran kesehatan langsung dikurangi atau anggaran jalan langsung dikurangi?''
Menteri Pendidikan Nasional kita, Bambang Sudibyo, lebih membuat resah. Beliau bilang realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN diharapkan bisa terpenuhi pada 2009 nanti. 2009, Tuan Jusuf, itu tiga tahun lagi! Bayangkanlah, apa yang bisa kita peroleh tiga tahun ke depan ketika kita memberi pendidikan dasar bagi mereka 69% penduduk negeri ini sekarang?
**
TUAN Jusuf, sudahkah Tuan menyaksikan Burning Season? Itu sebuah film bagus yang mengangkat cerita Chico Mendez, seorang pejuang lingkungan Brasil yang begitu keras kepala. Sejak kecil ia hidup di hutan hujan Amazon, besar dan mencari nafkah sebagai penyadap karet. Chico Mendez, bersama penduduk yang terbiasa mencari nafkah di hutan hujan Amazon melawan pembuatan jalan yang hendak menembus hutan Amazon (dan ia mati karena perjuangannya ini).
Chico Mendez, sebagaimana juga banyak orang lainnya, di Brasil atau di Indonesia, tahu belaka: acapkali perbaikan dan pembuatan jalanan dilakukan guna kepentingan modal.
Pembuatan jalanan memang baik. Transformasi dan transportasi lebih memungkinkan. Tapi terkadang kita memang melihat ini: pembuatan jalan tak lebih dari sekadar pembentukan infrastruktur demi, sekali lagi, kepentingan akumulasi modal.
Bukankah begitu, Tuan? Jalanan yang bagus tentu akan membuat barang-barang hasil produksi di pabrik-pabrik --yang buruh-buruhnya bekerja dengan ancaman revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan-- akan lebih cepat terdistribusikan. Jalanan yang mulus dan menjangkau penjuru pedalaman akan lebih membuat ''modern'' mereka yang selama ini tak tersentuh riuh modal. Dengan adanya jalanan, mungkin mereka tak perlu lagi selamanya mengenakan pakaian khas mereka yang unik itu. Tapi mereka bisa mencoba tekstil-tekstil Cina yang berkualitas bagus dan berharga murah.
Dengan begitu, Tuan mungkin bisa mengatakan bahwa perekonomian Indonesia mengindikasikan kemajuan yang menggembirakan. Produksi meningkat, distribusi meluas, dan konsumsi melonjak.
Tapi Tuan, apa artinya itu jika 69% penduduk kita tak selesai pendidikan wajib sembilan tahun? Apa artinya itu jika guru mesti memilah waktu antara memeriksa hasil ujian siswa dan mengasapi dapurnya? Apa artinya itu jika, sebut saja peristiwa setahun lalu, begitu banyak siswa sekolah menengah kita tak lulus ujian nasional?
Lagi pula, tentu Tuan Jusuf masih ingat ucapan Tuan Jusuf setahun lalu ketika menanggapi tingginya angka ketidaklulusan peserta UAN. Tuan katakan, ''Sejak dulu kualitas pendidikan kita rendah.'' (Pontianak Post, 2 Juli 2005).
Lalu apa artinya jalanan yang hendak Tuan perbaiki itu jika kualitas pendidikan bangsa ini terus rendah?
Tuan Jusuf, lihatlah Kuba. Di saat kita masih bermasalah dengan pendidikan wajib sembilan tahun, pada tahun 2000 Kuba telah mencanangkan gerakan ''University for All''. Mereka hendak mencapai, ''a nation becomes a university''.
Apakah mereka mengurangi anggaran kesehatan? Coba tengok, angka kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian untuk 1000 kelahiran dalam satu tahun. Angka yang rendah bahkan jika dibandingkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Jumlah dokter per kapita mereka juga jauh lebih banyak jika dibandingkan negara manapun. Sebuah indikasi yang menggambarkan bahwa mereka juga tidak melupakan sektor kesehatan (Coen Husain Pontoh, 2006)
Saya takut, Tuan Jusuf, bahwa ketidaksiapan pemerintah untuk memenuhi tuntutan konstitusional anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lantaran hal-hal semacam perbaikan kesejahteraan umum atau pembangunan infrastuktur-infrastruktur perekonomian bangsa ini. Tapi karena kita selama ini ternyata telah salah meletakkan posisi pendidikan.
Kita telah terbiasa untuk tak perlu resah saat mengetahui ada sekira12% penduduk kita yang buta huruf. Kita telah terbiasa untuk tak terlalu khawatir dengan fakta bahwa 45% gedung sekolah di Indonesia rusak (Republika, 25 April 2006).
Kita merasa lebih mementingkan terbentangnya jalanan ketimbang memugar gedung-gedung sekolah, memerhatikan kesejahteraan guru, menekan biaya pendidikan, meningkatkan standar kelulusan sekaligus angka siswa yang lulus, membuat lebih banyak lagi rakyat Indonesia membaca, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
Ya, kita mungkin memang terbiasa seperti itu. Seperti Tuan Jusuf katakan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, bulan April lalu, nilai pendidikan tak tergantung pada fasilitas. Tuan bilang, ''Yang pasti kecerdasan tak bisa dibeli. Kepandaian tak bisa dibayar, yang bisa dibeli hanya fasilitasnya. Namun selama tak ada niat dari guru-gurunya dan pengelolanya tak ada hasilnya.''
Semoga Tuan Jusuf sehat selalu.
-- Surat Terbuka untuk Jusuf Kalla
''Seratus orang tanpa pendidikan adalah awal sebuah pemberontakan. Satu orang dengan pendidikan adalah awal sebuah gerakan!'' Chico Mendez (1944-1988)
SENANG sekali membaca berita tentang bagaimana Anda, Tuan Jusuf, menerima beberapa perwakilan mahasiswa pada 2 Mei 2006 lalu di istana Anda (Media Indonesia, 03/05). Tak banyak pejabat di negara ini yang melakukan hal semacam itu. Membukakan pintu dan lalu mengajak para demonstran berdialog. Dan Anda melakukannya dengan baik sekali. Demokratisasi mungkin memang perlu dimulai dari hal-hal kecil semacam membukakan pintu bagi para demonstran.
Para mahasiswa itu sebelumnya berunjuk rasa di jalanan depan istana Anda. Hari itu 2 Mei 2006. Seratus tujuh belas tahun sebelumnya Ki Hajar Dewantara lahir. Mungkin tak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah penerjemah lirik lagu Internationale (sebuah mars kaum Marxis internasional). Di Jakarta, beberapa hari sebelum ini, lagu itu kembali dikumandangkan sebagai pengantar jenazah Pak Pram. Kita, saya dan Anda Tuan Jusuf, tentu lebih mengenal Ki Hajar sebagai Bapak Pendidikan. Sesuatu yang barangkali tak ia sukai. Pernahkah Tuan Jusuf membaca surat Ki Hajar Dewantara kepada Gubernur Jenderal de Jonge, 26 Oktober 1932? Ki Hajar Dewantara menulis, ''Gambar saya misalnya, tak boleh dipajang di mana pun. Pertama, batin saya tak menghendaki penghormatan atas gambar saya. Darinya akan timbul dampak yang tidak baik. Kalau kalian mendewa-dewakan saya, habislah Taman Siswa sesudah saya mati.''
Bahkan, tahukah Tuan, Ki Hajar Dewantara pernah berwasiat agar keluarganya jangan sampai menulis biografi dirinya. ''Tak akan jujur. Sepenuhnya subjektif,'' katanya.
Betapa kita mengenalnya sebagai seorang pintar nan rendah hati. Ah, Tuan Jusuf, berapa banyak lagi orang yang seperti Ki Hajar Dewantara di negara ini?
**
TAPI saya sedikit terganggu, Tuan Jusuf. Jawaban Anda kepada perwakilan mahasiswa yang menuntut agar pemerintah segera melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar, yakni menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, terlalu membuat resah. Anda mungkin orang baik, Tuan. Tapi, pasti bukan bagi 69% dari 203.456.005 penduduk Indonesia, angka statistik bagi mereka yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun (Media Indonesia, 03/05).
Tuan Jusuf berkata bahwa pendidikan itu penting. Namun, ''Kesehatan juga penting, jalan yang rusak juga penting diperbaiki'' (Media Indonesia, 03/05). Dan Tuan Jusuf memilih untuk mendahulukan kesehatan dan perbaikan jalan. Tuan bahkan sampai bertanya, ''Apakah kita rela anggaran kesehatan langsung dikurangi atau anggaran jalan langsung dikurangi?''
Menteri Pendidikan Nasional kita, Bambang Sudibyo, lebih membuat resah. Beliau bilang realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN diharapkan bisa terpenuhi pada 2009 nanti. 2009, Tuan Jusuf, itu tiga tahun lagi! Bayangkanlah, apa yang bisa kita peroleh tiga tahun ke depan ketika kita memberi pendidikan dasar bagi mereka 69% penduduk negeri ini sekarang?
**
TUAN Jusuf, sudahkah Tuan menyaksikan Burning Season? Itu sebuah film bagus yang mengangkat cerita Chico Mendez, seorang pejuang lingkungan Brasil yang begitu keras kepala. Sejak kecil ia hidup di hutan hujan Amazon, besar dan mencari nafkah sebagai penyadap karet. Chico Mendez, bersama penduduk yang terbiasa mencari nafkah di hutan hujan Amazon melawan pembuatan jalan yang hendak menembus hutan Amazon (dan ia mati karena perjuangannya ini).
Chico Mendez, sebagaimana juga banyak orang lainnya, di Brasil atau di Indonesia, tahu belaka: acapkali perbaikan dan pembuatan jalanan dilakukan guna kepentingan modal.
Pembuatan jalanan memang baik. Transformasi dan transportasi lebih memungkinkan. Tapi terkadang kita memang melihat ini: pembuatan jalan tak lebih dari sekadar pembentukan infrastruktur demi, sekali lagi, kepentingan akumulasi modal.
Bukankah begitu, Tuan? Jalanan yang bagus tentu akan membuat barang-barang hasil produksi di pabrik-pabrik --yang buruh-buruhnya bekerja dengan ancaman revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan-- akan lebih cepat terdistribusikan. Jalanan yang mulus dan menjangkau penjuru pedalaman akan lebih membuat ''modern'' mereka yang selama ini tak tersentuh riuh modal. Dengan adanya jalanan, mungkin mereka tak perlu lagi selamanya mengenakan pakaian khas mereka yang unik itu. Tapi mereka bisa mencoba tekstil-tekstil Cina yang berkualitas bagus dan berharga murah.
Dengan begitu, Tuan mungkin bisa mengatakan bahwa perekonomian Indonesia mengindikasikan kemajuan yang menggembirakan. Produksi meningkat, distribusi meluas, dan konsumsi melonjak.
Tapi Tuan, apa artinya itu jika 69% penduduk kita tak selesai pendidikan wajib sembilan tahun? Apa artinya itu jika guru mesti memilah waktu antara memeriksa hasil ujian siswa dan mengasapi dapurnya? Apa artinya itu jika, sebut saja peristiwa setahun lalu, begitu banyak siswa sekolah menengah kita tak lulus ujian nasional?
Lagi pula, tentu Tuan Jusuf masih ingat ucapan Tuan Jusuf setahun lalu ketika menanggapi tingginya angka ketidaklulusan peserta UAN. Tuan katakan, ''Sejak dulu kualitas pendidikan kita rendah.'' (Pontianak Post, 2 Juli 2005).
Lalu apa artinya jalanan yang hendak Tuan perbaiki itu jika kualitas pendidikan bangsa ini terus rendah?
Tuan Jusuf, lihatlah Kuba. Di saat kita masih bermasalah dengan pendidikan wajib sembilan tahun, pada tahun 2000 Kuba telah mencanangkan gerakan ''University for All''. Mereka hendak mencapai, ''a nation becomes a university''.
Apakah mereka mengurangi anggaran kesehatan? Coba tengok, angka kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian untuk 1000 kelahiran dalam satu tahun. Angka yang rendah bahkan jika dibandingkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Jumlah dokter per kapita mereka juga jauh lebih banyak jika dibandingkan negara manapun. Sebuah indikasi yang menggambarkan bahwa mereka juga tidak melupakan sektor kesehatan (Coen Husain Pontoh, 2006)
Saya takut, Tuan Jusuf, bahwa ketidaksiapan pemerintah untuk memenuhi tuntutan konstitusional anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lantaran hal-hal semacam perbaikan kesejahteraan umum atau pembangunan infrastuktur-infrastruktur perekonomian bangsa ini. Tapi karena kita selama ini ternyata telah salah meletakkan posisi pendidikan.
Kita telah terbiasa untuk tak perlu resah saat mengetahui ada sekira12% penduduk kita yang buta huruf. Kita telah terbiasa untuk tak terlalu khawatir dengan fakta bahwa 45% gedung sekolah di Indonesia rusak (Republika, 25 April 2006).
Kita merasa lebih mementingkan terbentangnya jalanan ketimbang memugar gedung-gedung sekolah, memerhatikan kesejahteraan guru, menekan biaya pendidikan, meningkatkan standar kelulusan sekaligus angka siswa yang lulus, membuat lebih banyak lagi rakyat Indonesia membaca, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
Ya, kita mungkin memang terbiasa seperti itu. Seperti Tuan Jusuf katakan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, bulan April lalu, nilai pendidikan tak tergantung pada fasilitas. Tuan bilang, ''Yang pasti kecerdasan tak bisa dibeli. Kepandaian tak bisa dibayar, yang bisa dibeli hanya fasilitasnya. Namun selama tak ada niat dari guru-gurunya dan pengelolanya tak ada hasilnya.''
Semoga Tuan Jusuf sehat selalu.
10.5.06
Garis Batas
Maka inilah garis batas yang aku tebalkan antara aku dengan kalian. Antara kebingungan buta dan kepura-puraan tolol. Garis batas yang cuma kuciptakan untuk kemunafikan-kemunafikan borjuasi yang berfilsafat dan berekonomi-politik di seputar altar korporasi.
Dan kalian akan lihat nanti segantang racun air tawar di tepi batas kalian dan aku. Sampai nanti tak akan berkurang satupun komposisinya, telah kubuang jauh di ujung jurang berbotol-botol penawarnya.
Garis batas yang meretas lima belas cadas dan melintas tanpa jalan pintas.
Dari sini aku melenyapkan sejarah!
Maka inilah garis batas yang aku tebalkan antara aku dengan kalian. Antara kebingungan buta dan kepura-puraan tolol. Garis batas yang cuma kuciptakan untuk kemunafikan-kemunafikan borjuasi yang berfilsafat dan berekonomi-politik di seputar altar korporasi.
Dan kalian akan lihat nanti segantang racun air tawar di tepi batas kalian dan aku. Sampai nanti tak akan berkurang satupun komposisinya, telah kubuang jauh di ujung jurang berbotol-botol penawarnya.
Garis batas yang meretas lima belas cadas dan melintas tanpa jalan pintas.
Dari sini aku melenyapkan sejarah!
Subscribe to:
Posts (Atom)



