Mengapa saya (sebaiknya) tidak makan di McDonald’s
Pernah suatu masa, terutama saat-saat sekolah dulu, saya dan beberapa teman dekat sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman se-“dunia”, paling “gaul”, dan paling “gengsi”, McDonald’s. Dan jika kami sudah berada di dalamnya, jangan ditanya berapa lama kami bisa bertahan duduk di sana, berjam-jam! Kami menghabiskan waktu yang lewat begitu saja, biasanya kami menjahili orang-orang yang kebetulan merayakan ulang tahun di tempat itu, atau menggoda anak-anak kecil yang asyik bermain di sana. Kadang kami juga sering mendapat kenalan wanita-wanita, biasanya anak sekolahan juga, di tempat itu. Tempat itu benar-benar mengasyikkan meski sesungguhnya jika kamu duduk di dalamnya, dan terutama di dekat jendela kacanya, kamu bisa menatap landscape manis realita kehidupan: anak-anak jalanan dengan tatapan kosong, juga ibu-ibu pengemis yang begitu setia duduk menggendong bayi-bayi mereka, mengharap belas kasih mereka yang menghabiskan waktu di McDonald’s.
Sampai suatu hari saya membaca sebuah tulisan tentang McD (begitu biasa orang-orang menyebutnya) yang mengatakan bahwa Ronald McDonald’s tak selucu dan tak seramah yang kita sangka. Hal ini kemudian membawa saya kepada suatu pilihan untuk (sebisa mungkin) tidak lagi makan dan nongkrong di warung milik korporasi internasional tersebut. Sebuah pilihan dasar yang kamu juga punya (seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India, untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaitu memilih untuk tidak membeli lagi produk-produk korporasi internasional!).
Yang pertama kali mengejutkan saya adalah proses produksi yang mereka lakukan. Itu adalah horor yang menakutkan. Dalam proses produksi itu McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia. Oke, saya paparkan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.
Menurutnya, kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekadar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44 persen ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut “dibunuh” dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa!
Mungkin sebagian manusia akan berkomentar, “lalu kenapa, itu cuma ayam?!” Memang itu cuma ayam, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak akan pernah merasa tersiksa karena penderitaannya seperti manusia? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunya sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada keuntungan! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!
Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja, yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan pempromosian produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut: (1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya. (2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan. (3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar. (4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga. (5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang. (London Greenpeace pressrelease, 14th April 1998)
Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD!
Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini, tuhan tahu ini, di jalanan-jalanan, dan bahkan di sisi jendela kaca McD, gelandangan dan pengemis menahan lapar di perut dan matanya setiap hari! McD memilih memusnahkan kelebihan stok makanannya ketimbang membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka!
Inilah mitos yang perlu kita kembangkan tentang McD:
- Penyebab kanker (McCancer): merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah bahan awetan dan bukan makanan segar.
- Pembunuh (McMurder): pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan.
- Perusak (McDestructor): menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi) menambah keuntungannya tanpa memedulikan hak rakyat, hak adat, pada tanah untuk melanjutkan hidup.
- Penyia-nyiaan bahan (McWaste): membuat produk yang tidak bisa di daur ulang.
- Rakus (McGreedy): mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah.
Kesemuanya itu demi menambah keuntungan!
Ini semua berarti bahwa kunjungan kamu ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang dan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.
Kamu bisa memilih seperti yang dianjurkan Arundhati Roy, memilih tidak membeli produk-produk korporasi yang kejam!
Dan, tentu saja, di era konsumerisme seperti saat ini (yang bahkan untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukan satu-satunya produk yang mesti kita tolak! Cari, buat daftar, dan STOP MEMBELINYA!
(dengan hutang budi yang banyak pada Submissive Riot – Non Profit Anarcho Newsletter)
28.2.04
25.2.04
Manifesto
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).
Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.
Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.
Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?
Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.
Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan 'amal'. Pola pikir 'amal' telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus 'budaya barat'nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.
Untuk Anarkisme
Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul "Declaration Of Independent" sebagai berikut: "Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen."
Dia juga menambahkan, "Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap."
Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, "FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya."
Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?
Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)
Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi - dan juga komunitas dan tatanan masyarakat - yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.
Anarkisme dan Vegetarianisme
Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.
Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.
Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan
Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, "Negara - yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif - adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir." Lebih lanjut Day menyatakan, "Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara."
Dalam buku FNB yang berjudul 'Feeding The Hungry and Building Community' dijelaskan, "Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan."
Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.
Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.
Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul 'Native (Born) American Anarchism' yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai "bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya". Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.
Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul 'Non-Violence In Theory and Practice' menuliskan, "Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang."
Dalam kata pengantar dari buku berjudul 'Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism' karangan Leo Tolstoy tertulis, "Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan... Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa."
Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, "40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul 'The Kingdom Of God Is Within You' dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)... dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini."
Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul 'Gandhi Today', Mark Shepard menjelaskan: "India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini - menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal."
Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.
Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.
Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir 'No Conscription League'. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: "No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka." Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama 'Espionage Act' yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.
Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya 'American Radical' menulis tentang gerakan tersebut, "Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas."
Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, "perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima." Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul 'The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism', James Farrell menulis, "Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya." Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.
Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai 'saksi tanpa kekerasan' yang memiliki 'pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat'.
Dorothy Day yang selalu dijuluki 'Head Anarch' oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai 'First Lady of American Catholism' dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, "Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara."
Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan 'aksi duduk' yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari 'Jim Crow Laws'. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi "Freedom Rides", sebuah kampanye 1964 "Freedom Summer", yang merupakan sebuah formasi dari partai politik 'Mississippi Freedom Democratic Party' yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.
Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun 'Southern Christian Leadership Conference' dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: "Women In The Civil Rights Movement": Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: "Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an".
Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.
Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.
Dalam bukunya yang berjudul "Anarchism and Black Revolution", Lorenzo Ervin menulis: "Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan".
Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.
Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.
Info mengenai gerakan Food Not Bombs-Internasional bisa diakses di http://www.foodnotbombs.net
Sementara jaringan komunikasi dan informasi gerakan Food Not Bombs lokal bisa diikuti dengan bergabung dalam mailing-list Food Not Bombs-Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/fnbind
diambil paksa dari http://sayap-imaji.blogspot.com
Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena ada cukup makanan untuk semua orang dimana-mana!
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!
Karena disaat kita lapar atau kedinginan kita punya hak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara meminta, mengamen, atau menempati bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh lingkungan bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!
Di berbagai penjuru dunia saat ini telah terbangun puluhan kelompok-kelompok yang aktivitasnya adalah membagi-bagikan makanan vegetarian gratis untuk orang-orang miskin dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan. Kelompok-kelompok ini selain mengkampanyekan sikap anti-kemiskinan mereka, secara lebih jauhnya bertujuan untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang non-kekerasan. Dan walaupun memang banyak kelompok-kelompok yang melakukan aktivitas tersebut dalam berbagai nama, namun ada satu organisasi akar-rumput yang sangat konsisten melakukan aktivitas tersebut dan organisasi ini telah berkembang secara internasional, Food Not Bombs (FNB).
Bermula dari San Fransisco, FNB dengan aktifitasnya begitu cepat menyebar, dari Amerika Utara, Eropa, bahkan hingga ke negara-negara Asia seperti Malaysia dan Indonesia (seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa kota). Kebanyakan dari kita benar-benar percaya bahwa FNB dan strukturnya beserta seluruh tujuannya sangat berkaitan erat dengan orientasi anarkis. Masalah ideologis ini sendiri pada akhirnya menjadi elemen formal dari politik FNB dan sebuah statement akan visi yang diadopsi secara terbuka oleh seluruh grup dan menempatkan aksi-aksi harian ke dalam konteks politik yang lebih radikal. Statement visi ini meliputi segalanya, dari dedikasi grup terhadap perjuangan anti-seksis, hingga pembangunan kebun komunitas dan pembuatan kompos sebagai sebuah aksi yang langsung menuju sebuah tatanan masyarakat yang seimbang dengan lingkungannya.
Diharapkan tulisan ini akan membuka diskusi tentang masa depan politis dari FNB dan gerakan-gerakan sejenis sebagai sebuah gerakan transnasional yang bekerja keras melawan dominasi global dari korporasi dan kemiskinan dunia. Tulisan ini juga diharapkan dapat membantu yang lainnya dalam gerakan sosial untuk mengerti aksi-aksi seperti diatas dan sisi politisnya. Adalah politik radikal yang telah membuat kita, mengisi aktifitas kita dengan sesuatu yang berarti, yang memberi energi dan vitalitas kepada usaha-usaha harian. Disaat kita melihat bagaimana aktifitas harian berkaitan dengan gerakan yang lebih besar demi keadilan sosial dan ekonomi, hal tersebut membantu memberikan inspirasi dan motivasi yang kita butuhkan untuk terus mengumpulkan dan membagi-bagikan makanan atau juga bergumul dengan kompos atau sekedar bangun tidur lebih awal, membuat kopi dan sepotong roti yang kita miliki untuk kemudian dibagikan kepada mereka yang melakukan pemogokan. Perubahan sosial yang radikal dibangun dari hari ke hari dengan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri, akan dapat membantu kita untuk melewati hari-hari dengan aktifitas yang lebih berguna.
Jadi apalagi yang perlu untuk dibahas?
Adalah sesuatu yang penting bagi sebuah grup dan gerakan untuk mempunyai pengertian yang luas tentang dimana posisi kita dan apa visi terbaiknya tentang sebuah dunia idaman. Membagi-bagikan makanan dengan gratis memiliki beberapa definisi prinsipil yang sangat jelas dan konteks politis yang lebih luas serta memberi tempat bagi prinsip-prinsip tersebut sebuah makna dan arti yang lebih dalam.
Anarkis membayangkan dunia bebas dimana tindakan diambil atas keputusan bersama, dunia yang tanpa kekerasan. Konsep-konsep itu sendiri cenderung ambigu dan sangat terbuka untuk diinterpretasikan dengan lebih luas. Saat kita menyadari bahwa dengan menempatkan prinsip-prinsip kita secara fleksibel dan inklusif, sangatlah baik, tetapi disaat yang sama sangatlah penting juga untuk menjaga agar ide-ide kita tidak termoderasi dan terkooptasi. FNB sendiri memiliki tiga prinsip, yang selain dua prinsip diatas (keputusan bersama dan dunia tanpa kekerasan) mereka menambahkan satu point lagi, yaitu vegetarianisme. Dan dengan bersikap seperti diatas tadi, mereka meletakkan prinsip-prinsip mereka ke dalam aksi, dan hal itulah yang memberi ide-ide mereka sebuah arti dan nilai yang mendalam. FNB mengkombinasikan ide-ide tersebut dengan prinsip desentralisasi, penguatan kolektif dan individual, feminisme dan strategi pengorganisiran anti hirarkis. Dengan ini kita juga harus mulai meniadakan konsep-konsep yang mendefinisikan aktifitas pembagian makanan gratis sebagai tindakan 'amal'. Pola pikir 'amal' telah gagal menemukan inti penyebab kelaparan dan kemiskinan, serta cenderung membantu mendanai sebuah krisis tanpa pernah berusaha menyerang struktur institusional yang menghasilkan ketidakadilan tersebut. Kita seharusnya lebih memfokuskan pada penentangan terhadap struktur kekuasaan yang patriarkis, didominasi kulit putih plus 'budaya barat'nya dan berbagai bentuk dominasi lainnya -baik dalam masyarakat kita, dalam organisasi kita dan dalam kesadaran kita sendiri. Ide-ide dan keyakinan seperti itulah yang harus diekspresikan dalam berbagai pertemuan, dituliskan dalam literatur-literatur dan disuntikkan ke dalam cara kita mengorganisir kelompok kita sendiri, serta dalam membangun solidaritas dengan grup, organisasi ataupun perjuangan lain. Ini semua adalah tentang diri kita, tentang pandangan politis kita yang memiliki visi akan sebuah dunia yang lebih baik, sebuah dunia yang berusaha kita bangun saat ini. Dan inilah alasan mengapa pembahasan masalah seperti ini menjadi sangat penting.
Untuk Anarkisme
Fokus pertama soal anarkisme biasanya berkutat disekitar kesalahpahaman atas pengertian anarkisme yang diartikan tidak lebih dari chaos dan perusakan. Prof. Howard Zinn, seorang pendukung FNB mendeskripsikan anarkisme dalam bukunya yang berjudul "Declaration Of Independent" sebagai berikut: "Anarkis, seperti yang saya amati dan pelajari, tidaklah percaya pada anarki seperti yang biasa dideskripsikan oleh banyak orang dan media -kekacauan, disorganisasi, chaos, kebingungan dan setiap orang bertindak semaunya. Sebagai kontrasnya, mereka percaya bahwa tatanan masyarakat dapat dan seharusnya terorganisir dalam berbagai bentuknya dimana orang-orang akan bekerja sama saat bermain dan bekerja, untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik. Tapi anarkis juga menekankan bahwa setiap organisasi harus menghindari hirarki dan perintah dari atas; harus demokratis, keputusan bersama, meraih keputusan tersebut melalui diskusi yang konstan dan berbagi argumen."
Dia juga menambahkan, "Apa yang membuat saya tertarik dengan anarkisme adalah juga bahwa penolakannya bersifat total terhadap segala bentuk otoritas-otoritas negara, gereja dan dalam dunia kerja. Anarkis percaya bahwa jika kita bisa membangun sebuah tatanan masyarakat egaliter tanpa kemiskinan dan kemakmuran yang jauh terpisah, kita tak akan membutuhkan polisi, penjara, tentara, ataupun perang, karena penyebab utama semua masalah tersebut sudah lenyap."
Howard Zinn menulis beberapa pendahuluan dalam beberapa buku FNB dan secara konsisten terus menentang serangan polisi dan tindakan brutal dari pemerintah kota terhadap para anggota FNB di San Fransisco. Dalam beberapa artikel di koran-koran tentang kebrutalan pemerintah kota terhadap FNB, Zinn selalu tercantum di harian tersebut. Statement yang dia bacakan antara lain berkata, "FNB memprotes sebuah sistem yang gagal untuk memberi orang-orang kebutuhan dasarnya."
Anarkisme adalah sebuah gerakan demi sebuah dunia dimana kekerasan rasis, seksis, homofobik, kapitalisme dan sejenisnya dilenyapkan dari kehidupan kita sehari-hari. Anarkisme adalah sebuah keyakinan akan terbentuknya sebuah dunia dimana perang dan kemiskinan tak akan ada lagi. Anarkisme adalah filosofi dan gerakan yang bertujuan membangun sebuah struktur ko-operasi, egaliter dan struktur sosial yang mempromosikan mutual-aid, kontrol demokrasi radikal atas keputusan politik dan ekonomi, serta berwawasan lingkungan. Jadi bagaimana hal-hal seperti diatas dapat diterapkan secara langsung melalui aksi-aksi FNB?
Anarkisme dan Konsensus (Pengambilan Keputusan Bersama)
Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang berdasarkan pada prinsip-prinsip anarkis. Konsensus adalah sebuah bentuk pengambilan keputusan yang dalam prosesnya bertujuan untuk membagi kekuatan diantara orang-orang agar semua dapat berpartisipasi dalam memperkuat dan mengimplementasikan keputusan kolektif. Konsensus juga bertujuan untuk membangun sebuah organisasi non-hirarkis yang mengkounter rasisme, seksisme, homofobia dan berbagai bentuk penindasan serta dominasi yang hanya menguntungkan sebagian orang saja dan memposisikan orang lain tanpa memiliki kekuatan dan suara. Karena kita bertujuan membangun sebuah organisasi - dan juga komunitas dan tatanan masyarakat - yang saling berbagi kekuatan dan memapankan kesetaraan, kita harus terus melawan hirarki. Anarkisme dan konsensus berjalan beriringan seperti layaknya sop hangat dan roti yang baru.
Anarkisme dan Vegetarianisme
Organisasi-organisasi yang membagi-bagikan makanan gratis seperti FNB hanya menyediakan makanan vegetarian sebagai aksi politis melawan industri daging beserta variannya, serta mempromosikan pendekatan lingkungan, distribusi makanan serta sumber bahan pangan ke seluruh dunia dengan merata, mempromosikan hidup lebih sehat, serta mendukung pembebasan hewan.
Komitmen kelompok-kelompok seperti FNB terhadap isu-isu seperti itu telah membangun koalisi yang kuat dengan organisasi lingkungan seperti Earth First! dan berbagai macam lainnya dan juga dengan organisasi-organisasi pembebasan hewan seperti ALF (Animal Liberation Front). Anarkisme menentang eksploitasi dan dominasi dunia yang merupakan karakteristik dari ekspansi kapitalisme. Anarkisme bertujuan tidak hanya merubah hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan antara manusia dengan bumi dan lingkungannya.
Anarkisme dan Sikap Tanpa Kekerasan
Banyak orang mulai memperdebatkan apakah anarkisme dan sikap tanpa kekerasan saling berkaitan. Sebagian anarkis berpendapat bahwa anarkisme dan sikap tanpa kekerasan tidak dapat dipisahkan. Untuk membahas masalah diatas mari kita lihat kembali pada sejarah tentang terjadinya negara. Christopher Day dari Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation menulis, "Negara - yang kita artikan dengan keberadaan polisi, tentara, penjara, pengadilan, berbagai birokrasi pemerintah baik legislatif dan eksekutif - adalah alat pengontrol dan penekan dari yang berkuasa. Negara mempertahankan kekerasan yang legal dan terorganisir." Lebih lanjut Day menyatakan, "Negara telah selalu menjadi instrumen perang. Adalah sesuatu yang tak mungkin untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat tanpa peperangan dalam sebuah tatanan masyarakat yang masih didominasi oleh negara."
Dalam buku FNB yang berjudul 'Feeding The Hungry and Building Community' dijelaskan, "Nama FNB menyatakan prinsip kami yang paling fundamental; tatanan masyarakat harus mempromosikan kehidupan bukan kematian. Tatanan masyarakat sudah mentolerir bahkan mempromosikan kekerasan dan dominasi. Kekuatan penguasa adalah hasil dari ancaman dan penggunaan kekerasan."
Negara dan bentuk representasi dari kapitalisme, dominasi dan patriarki, mengkonsentrasikan kekuatan kepada beberapa orang saja yang secara sistematis mengesampingkan kekuatan mayoritas umat manusia. Kekerasan yang eksis dalam kehidupan sehari-hari merupakan hasil dari pengingkaran kekuatan atas hidup seseorang. Kekerasan terjadi dengan banyak cara, setiap hari, sebagai hasil dari ketidakaadilan sistem. Baik itu hadir melalui sistem sewa, makanan dengan pestisida dan label harga yang menyembunyikan penindasan terhadap para buruhnya, sistem pajak, bekerja pada seseorang yang sudah kaya, malnutrisi, sweeping polisi terhadap gelandangan, pemaksaan sterilisasi pada perempuan di negara Dunia Ketiga, pengasingan sosial terhadap orang miskin dan masih banyak problem lainnya.
Jadi apa hubungan antara anarkisme dan sikap tanpa kekerasan? Kita harus menelaah kembali sejarah yang panjang dari gerakan dan perlawanan anarkis yang pernah eksis dan kita akan menemukan fakta bahwa anarkisme dan perjuangan demi sebuah dunia yang tanpa kekerasan mempunyai sejarah yang panjang.
Dalam penelitian yang ditulis tahun 1932 dengan judul 'Native (Born) American Anarchism' yang mendiskusikan tentang pengaruh Henry David Thoreau yang dikembangkan melalui pembangkangan sipil, Eunice Schuster menyebut Thoreau sebagai "bukan hanya anarkis dalam pemikirannya, tapi juga dalam aksinya". Aksi pembangkangan sipil yang dilakukan Thoreau selama perang Amerika melawan Meksiko telah mempengaruhi banyak teori-teori dan praktek tanpa kekerasan.
Leo Tolstoy juga mengambil inspirasi dari Thoreau dan mengembangkan ide-idenya sendiri dalam sikap yang tanpa kekerasan. Robert L. Holmes dalam bukunya yang berjudul 'Non-Violence In Theory and Practice' menuliskan, "Tolstoy menggabungkan pemahaman agama Kristen kepada apa yang dia lihat sebagai kesimpulan logis: pengingkaran ini bukan hanya berasal dari perang yang merupakan kekerasan terorganisir, tetapi juga dari pemerintah yang merupakan kekerasan institusional, dan hal inilah yang menimbulkan perang."
Dalam kata pengantar dari buku berjudul 'Government Is Violence: Essays on Anarchism and Pacifism' karangan Leo Tolstoy tertulis, "Tolstoy menyarankan cara pencapaian anarki dengan sesuatu yang sekarang dikenal sebagai pembangkangan sipil dan aksi langsung tanpa kekerasan... Tolstoy mengadvokasikan perlawanan moral yang tanpa kompromi terhadap penguasa."
Gandhi menulis tentang Tolstoy dalam autobiografinya, "40 tahun yang lalu, ketika saya melewati masa krisis skeptis dan keraguan yang hebat, saya membaca buku Tolstoy yang berjudul 'The Kingdom Of God Is Within You' dan sangat terkesan. Saat itu saya masih percaya dengan kekerasan. Buku itu menyembuhkan sikap skeptis saya dan membuat saya menjadi seorang yang yakin akan ahimsa (tanpa kekerasan)... dia adalah tokoh anti kekerasan yang hebat yang lahir di abad ini."
Ide-ide anarkis juga terinspirasi oleh ide-ide Gandhi tentang bentuk tatanan masyarakat yang diidam-idamkan. Dalam buku berjudul 'Gandhi Today', Mark Shepard menjelaskan: "India dapat menjadi kuat dan sehat hanya dengan merevitalisasi desa-desa dimana empat dari lima orang tinggal, seperti yang dituntut oleh Gandhi. Dia memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang terdiri dari desa-desa yang kuat, dimana setiap desa memiliki otonomi politik dan ekonomi sendiri. Dalam kenyataannya Gandhi adalah tokoh terbesar dari desentralisasi di abad ini - menempatkan kekuatan politik dan ekonomi pada level lokal."
Setelah Gandhi dibunuh, orang yang dikenal sebagai pewaris spiritual Gandhi, Vinoba Bhave memimpin beberapa kampanye besar untuk mengklaim kembali tanah bagi kaum miskin. Tahun 1951 Bhave dan banyak buruh dari Sarva Seva Sangh, memulai gerakan Bhoodon (Hadiah Tanah). Banyak yang menganggap bahwa Bhave adalah orang suci dalam tradisi Hindu, dan saat dia memulai perjalanan keliling negara untuk menuntut beberapa akre tanah dari para tuan tanah, dia menerima hadiah berupa tanah yang kemudian diberikan pada kaum miskin. Satu sepertiga juta akre yang diklaim oleh kaum miskin (lebih dari sekedar manajemen program Land-Reform yang diusulkan oleh pemerintah India). Bhave juga terlibat dalam proyek-proyek dan kampanye lainnya yang mempunyai prinsip revolusi tanpa kekerasan. Bhave adalah seorang anarkis.
Amerika mempunyai sejarah panjang tentang anarkisme tanpa kekerasan. Salah satu kelompok pertama yang tertulis dalam sejarah adalah New England Non-Resistance Society. Mereka menegaskan bahwa pemerintah, hukuman mati, perang dan ketidakadilan sangat bertentangan dengan ajaran Kristen. Kelompok tersebut, termasuk didalamnya William Llyod Garrison, terlibat dalam gerakan abolisionis yang berjuang untuk mengakhiri perbudakan di Amerika.
Saat Amerika memasuki Perang Dunia I, anarkis berada di garis depan gerakan anti perang. Tahun 1016, Emma Goldman, Alexander Berkman dan yang lainnya mengorganisir 'No Conscription League'. Dengan kelompok tersebut mereka mengorganisir demostrasi, protes dan march. Mereka mempublikasikan sebuah manifesto yang didalamnya tertulis: "No Conscription League dibentuk dengan tujuan mendorong para anti wajib militer untuk menolak berpartisipasi dalam membunuh sesama mereka." Berkman dan Goldman ditangkap karena dianggap melanggar hukum. Tahun 1918 pemerintah mengeluarkan undang-undang bernama 'Espionage Act' yang membuat literatur anti-perang menjadi ilegal, dan undang-undang ini digunakan untuk melawan sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang anarkis termasuk Mollie Steimer. Kelompok tersebut mendistribusikan koran dengan cara menyelipkan koran-koran tersebut ke kotak pos di setiap rumah pada malam hari, dan menulis beberapa leaflet yang isinya menentang UU tersebut. Salah satu dari terdakwa, Jacob Schwartez, tidak pernah diajukan ke pengadilan. Dia disiksa polisi selama interogasi dan meninggal saat dibawa ke rumah sakit. Sisa dari kelompok tersebut dianggap bersalah dan dideportasi ke Russia pada tahun 1921 atas aktivitas anti-perang mereka.
Selain mereka, masih ada yang menentang perang, antara lain Dorothy Day. Dia bersama dengan Peter Maurin, mempelopori gerakan buruh Katolik. Nancy Robert dalam anthologinya 'American Radical' menulis tentang gerakan tersebut, "Mereka mempunyai rencana yang berdasarkan tiga point yang sesuai dengan nilai-nilai Kristen untuk melakukan aksi-aksi sosial yang radikal. Maurin memimpikan sebuah komunitarian, gerakan anarkis yang menawarkan diskusi, forum-forum dan ceramah, rumah sakit di setiap kota yang memberi makan dan tempat tinggal bagi kaum miskin dan gelandangan, dan peternakan komunal yang akan menghancurkan tatanan masyarakat industri dan membentuk unit-unti organik dimana semua orang hidup dan belajar dalam sebuah komunitas."
Pada akhirnya, sekitar 200 rumah yang dijadikan rumah sakit dibuka di banyak negara khususnya di Amerika Serikat. Ide yang mendasari berdirinya rumah-rumah tersebut diterangkan oleh Walter Brueggman sebagai berikut, "perasaan kasihan mengangkat sebuah bentuk kritik yang radikal dimana mereka yang miskin dan kelaparan harus diperhatikan dengan serius, kondisi dimana mereka seharusnya tidak dianggap normal dan alami, tetapi dianggap sebagai kondisi yang tidak manusiawi yang tidak dapat diterima." Rumah-rumah tersebut dalam struktur masyarakat yang berorientasi profit bukan hanya merupakan sebuah bentuk perlawanan tetapi juga merupakan sebuah alternatif. Pada 1 Mei 1933, gerakan buruh Katolik tersebut menerbitkan koran yang dijual dengan sangat murah. Koran tersebut menjelaskan kaitan antara perdamaian dan keadilan sosial, serta meliput banyak aksi-aksi pembangkangan sipil yang dilakukan oleh gerakan buruh Katolik dan berbagai kelompok buruh radikal lainnya melawan militerisme. Dalam bukunya yang berjudul 'The Spirit of The Sixtiest: The Making of Post-War Radicalism', James Farrell menulis, "Pasifisme, personalisme dan anarkisme dari gerakan buruh Katolik menempati halaman pertama koran mereka. Dan koran tersebut mempromosikan sebuah revolusi dengan ide-idenya." Farrel menulis bahwa dalam beberapa tahun, sirkulasi koran tersebut mencapai oplah 100.000 eksemplar dan tahun 1938 oplah mereka mencapai 190.000 eksemplar. Selama Perang Dunia II gerakan buruh Katolik tersebut dilarang karena sikap pasifis mereka dan beberapa aktifisnya dipukuli di jalanan saat mendistribusikan korannya.
Selama lebih dari 50 tahun, Dorothy Day berkomitmen penuh terhadap perdamaian, keadilan sosial dan revolusi tanpa kekerasan. Pada tahun 1983, uskup Katolik Amerika melihat adanya indikasi pergeseran sejarah dalam pelajaran tentang perang dan perdamaian saat tertulis bahwa pasifisme tidak dapat diterima baik secara moral ataupun politik bagi umat Katolik. Dulu Day bersama dengan Martin Luther King Jr. dikenal sebagai 'saksi tanpa kekerasan' yang memiliki 'pengaruh kuat dalam kehidupan gereja di Amerika Serikat'.
Dorothy Day yang selalu dijuluki 'Head Anarch' oleh editor koran gerakan buruh Katolik, dijuluki juga sebagai 'First Lady of American Catholism' dan beberapa malah memberi petisi kepada Vatikan agar mendeklarasikan dia sebagai seorang Santa. Anarkisme menurut Day adalah, "Ditingkatkannya tanggung jawab seseorang kepada orang lain, dari individu kepada komunitas, dan disaat yang sama mengurangi ketergantungan terhadap sentralisme negara."
Salah satu dari gerakan yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Amerika Serikat adalah gerakan Civil Rights. Satu dari grup-grup kunci gerakan tersebut adalah Student Non-Violent Coordinating Committee (SNCC). Kelompok tersebut lahir dari gerakan 'aksi duduk' yang pernah sempat populer di daerah selatan pada tahun 1060 dalam aksi protes menentang sistem Apartheid dari 'Jim Crow Laws'. Saat SNCC tidak pernah secara formal mendeklarasikan diri mereka sebagai sebuah grup anarkis, struktur organisasi mereka bermodelkan anti-otoritarian, desentralisasikan dan demokrasi serta mereka menggunakan aksi langsung dalam perjuangan mereka bagi masyarakat egaliter. SNCC memainkan sebuah peran penting dalam aksi "Freedom Rides", sebuah kampanye 1964 "Freedom Summer", yang merupakan sebuah formasi dari partai politik 'Mississippi Freedom Democratic Party' yang menentang rasisme dalam tubuh partai demokratik. Mereka telah meninggalkan sebuah ide dari aktivisme dan pengorganisiran radikal yang penting bagi siapapun yang berjuang demi perubahan sosial saat ini. Pola gerak mereka seperti pembangunan komunitas merupakan taktik aksi langsung tanpa kekerasan yang banyak digunakan oleh kelompok-kelompok seperti FNB.
Ella Baker adalah salah seorang yang menolong membentuk SNCC. Dia adalah seorang organisator selama bertahun-tahun dalam partai komunis NAACP dan membantu membangun 'Southern Christian Leadership Conference' dimana Martin Luther King Jr. terpilih sebagai presidennya. Baker yakin akan dibutuhkannya aksi-aksi langsung dan demokrasi partisipatoris dalam membentuk sebuah perubahan sosial. Dia juga yakin bahwa sebuah grup yang sukses harus menerapkan pola kepemimpinan yang datang dari grup itu sendiri, bukannya kepemimpinan yang datang dari seorang pemimpin: orang yang kuat tidak membutuhkan pemimpin yang kuat. Dalam bukunya yang berjudul: "Women In The Civil Rights Movement": Trailblazers dan Torchbearers, Carol Mueller menampilkan sebuah chapter tentang Ella Baker dan pengembangan demokrasi partisipatoris. Mueller mengidentifikasikan ide-ide Baker tentang demokrasi partisipatoris sebagai berikut: 1. Seruan bagi orang-orang yang bergerak di level grass root dalam masyarakat dimana mereka memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. 2. Meminimalisir hirarki dan profesionalisme yang selalu menjadi dasar bagi masalah kepemimpinan. 3. Sebuah seruan akan perlunya aksi langsung sebagai sebuah jawaban atas ketakutan dan alienasi yang eksis dalam masyarakat. Eksperimentasi dari demokrasi partisipatoris dalam SNCC dipengaruhi oleh gerakan sosial yang sangat luas. Mueller juga menulis: "Demokrasi partisipatoris dan pengambilan keputusan secara konsensus dilakukan dari proyek pendaftaran pemilih bagi SNCC di Mississippi dan Georgia hingga proyek SDS (Student for a Democratic Society) yang berkembang di daerah kumuh kota-kota daerah utara pada pertengahan tahun 60-an, hingga kelompok kepedulian pembebasan perempuan di akhir tahun 60 dan awal 70-an, hingga group-group afinity yang tergabung dalam gerakan anti-nuklir di akhir 70-an dan awal 80-an".
Anarkisme dan sebuah dunia tanpa kekerasan bukan hanya saling berkaitan tapi juga tidak dapat dipisahkan. Saat bagian ini didiskusikan dengan melihat berbagai contoh dari sejarah yang harus di klaim kembali dan di ingat bahwa contoh-contoh tersebut telah menawarkan kita inspirasi dalam perjuangan demi sebuah tatanan dunia baru saat ini. Tidak seharusnya kita mengesampingkan berbagai gerakan yang diwarnai dengan kekerasan dalam sejarah anarkisme, tapi selama ini taktik pasifis tertutupi oleh contoh-contoh aksi revolusioner yang penuh kekerasan. Lebih jauhnya lagi aksi-aksi dengan kekerasan harus dilihat dan diletakkan dalam konteks situasi dan waktu sehingga kita dapat mengerti kaitan gerakan tersebut dengan perlawanan terhadap institusi sistem yang penuh kekerasan. Kita tidak akan pernah menemukan perdamaian selama kekuatan tiap orang dipisahkan dari hidup mereka.
Tetapi anarkisme sangat tidak populer dan selalu di salah artikan. Ya. Hal tersebut memang tidak populer dan selalu di salah artikan, tetapi dengan tetap diam dan tidak mau menyatakan keyakinan akan politik yang kita miliki tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya memperkuat struktur sistem saat ini. Saat orang-orang menentang perbudakan, saat orang-orang menuntut persamaan bagi perempuan dan kulit berwarna, saat orang-orang mengorganisir diri mereka menentang perang, saat orang-orang berjuang untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, saat orang-orang mulai berdiri mempertahankan hak-hak mereka yang ditindas, diserang, dipenjarakan, dan bahkan dibunuh, saat itulah kekuatan itu kembali pada diri kita.
Dalam bukunya yang berjudul "Anarchism and Black Revolution", Lorenzo Ervin menulis: "Sebagai sebuah bentuk praktek, anarkis-komunis percaya bahwa kita harus membangun tatanan masyarakat baru saat ini juga disamping terus berusaha untuk menghancurkan kapitalisme. Kita harus terus berusaha menciptakan organisasi-organisasi mutual aid anti-otoritarian untuk makanan, pakaian, perumahan, pengumpulan dana bagi proyek komunitas, dan sebagainya diantara lingkungan bertetangga kita tanpa perlu berafiliasi dengan pemerintah atau korporasi bisnis, dan tidak menjalankannya dengan tujuan meraih profit, melainkan demi kebutuhan sosial. Beberapa organisasi telah terbangun saat ini dan memberikan kepada anggota-anggotanya pengalaman praktek manajemen diri yang akan mengurangi ketergantungan orang-orang pada sistem. Pendeknya kita dapat mulai membangun infrastruktur bagi masyarakat komunal, sehingga orang-orang dapat melihat apa yang mereka perjuangkan dan untuk apa, bukan hanya sekedar ide di kepala seseorang. Dan itulah jalan menuju kebebasan".
Kita dapat membuat ide-ide ko-operasi, mutual-aid, solidaritas, egalitarianisme dan tatanan masyarakat tanpa kekerasan menjadi popular, tapi hanya melalui aksi yang kita lakukan dan politik yang kita terapkan yaitu politik dalam kehidupan sehari-hari. Politik yang dekat dengan realita dalam kehidupan yang dijalani oleh masyarakat kita, karena semakin jauh politik kita dengan yang kita hadapi sehari-hari maka semakin tidak dapat di mengerti dan tidak berhubungannya politik tersebut dengan hidup kita.
Salah satu cara menerapkan politik radikal dalam tatanan masyarakat di mana masih terdapat banyak sekali kemiskinan dan kelaparan, adalah dengan menyediakan makanan gratis.
Info mengenai gerakan Food Not Bombs-Internasional bisa diakses di http://www.foodnotbombs.net
Sementara jaringan komunikasi dan informasi gerakan Food Not Bombs lokal bisa diikuti dengan bergabung dalam mailing-list Food Not Bombs-Indonesia di http://groups.yahoo.com/group/fnbind
diambil paksa dari http://sayap-imaji.blogspot.com
14.2.04
Ular-ular dalam Rumah
Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002
Musim hujan tahun ini terasa lain di sini. Tak seperti tahun lalu, tahun ini hujan seperti mengusik ular-ular di dunianya di bawah sana. Jauh, jauh di bawah sana, tempat seribu ular bersemayam, beranak-pinak, menyusun kerajaannya. Tapi hujan seperti membanjiri mereka dengan air, menyebabkan mereka, kini, menyerbu rumah ini. Tiap sudut rumah ini kini dikuasai ular, di atas kasur, di jalan menuju kamar mandi, di depan pintu masuk, di ruang tengah, di halaman rumah, di kebun samping, di langit-langit, dan itu…bahkan di atas meja makan.
Aku tak tahu apakah ular begitu takut dengan genangan air. Hujan rasanya biasa saja, tak lebih hebat dari tahun lalu. Dimulai bulan kesembilan dan—biasanya—selesai bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, ular-ular itu seperti terusik benar. Adakah air hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali, atau lebih panas, sehingga membuat kulit-kulit ular itu melepuh dan mengelupas? Atau terasa asam, membuat lidah ular-ular itu kecut dan membikin mual perutnya?
Yang jelas ular-ular itu kini membuatku beranak-pinak meninggalkan rumahku sendiri untuk sekian waktu. Mengungsi ke rumah tetangga. Iya, rumah tetangga, sesuatu yang membuatku gusar, karena kenapa hanya rumahku di kampung ini yang diserbu ular. Ular seribu macam. Ular seibu warna. Ular yang menggelikan sekaligus mengerikan. Hal yang kemudian membuat sebagaian penduduk iba kepadaku, dan sebagian lainnya marah dan menuduhku macam-macam. Yang menyakitkan ialah mereka yang menuduh kami sekeluarga sebagai pemuja iblis dan lalu berkhianat kepadanya sehingga iblis itu mengirimkan ular-ular itu ke rumah kami sebagai suatu hukuman. Mereka—yang marah kepadaku—menyesaliku karena takut ular-ular itu akan berkelana juga ke rumah-rumah mereka, masuk ke dalamnya, atau memakan ternak-ternaknya. Anak-anakku lantas dijauhi oleh teman-temannya, istriku menjadi bahan gunjingan tetangga, dan aku, aku selalu menjadi sasaran kemarahan para tetanggaku yang marah itu.
Tapi Sukidi, kawan baikku, rumahnya tempat kumengungsi sekarang, kupikir ialah satu-satunya manusia di kampung ini. Ular tak masuk ke rumahnya, padahal jarak rumahku ke rumahnya hanya dibatasi sebidang kebun singkong yang kini dikuasai ular-ular. Kebunku dan kebunnya hanya dibatasi pagar bambu, pagar bambu jarang-jarang.
Kenapa? Kenapa pikirku, kenapa dengan rumahku, kenapa ular-ular itu hanya memilih rumahku, bukan Rusdi si penjudi itu, atau Subhan yang suka main perempuan itu. Kenapa?
Ini hari keenam sejak rumahku dikuasai ular-ular itu. Hampir seminggu. Dan aku hampir putus asa dengan usahaku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Aku dan Sukidi, juga tetangga-tetangga lain yang peduli, menyingkirkan ular-ular itu. Satu hal yang kupegang teguh, aku tak akan membunuh salah satu di antara ular-ular itu. Biar mereka membunuhnya, aku tak mau. Bagiku, pembunuhan tetap pembunuhan, sekalipun ular-ular itu sudah sedemikian merepotkanku. Ini barangkali yang membuat beberapa tetangga merasa heran dan akhirnya berhenti membantuku untuk menyingkirkan ular-ular itu. Selama ini, bagiku cukup dengan menangkap ular-ular itu, memasukannya ke dalam karung, dan kemudian dilepaskan di tengah hutan sana. Tapi tidak bagi mereka, ular-ular itu harus mati, harus dibunuh, agar tak kembali lagi, “lagian, mereka sudah mulai meresahkan seisi kampung”, kata Subhan.
Dan begitulah. Sampai kemudian beberapa minggu setelah itu, ular-ular itu masih tetap menguasai rumahku. Jumlahnya memang berkurang, setidaknya tidak sebanyak ketika minggu pertama, tapi—ini yang kusesali—mereka masih saja menguasai tempat-tempat yang bagiku strategis. Bagaimana aku bisa menempati rumah itu, kalau jalan menuju kamar mandi masih dipenuhi ular-ular, atau di kamar tidurku dan istriku, atau juga di dekat bak mandi, ular-ular itu masih di sana, seakan bertahta.
Tentunya usahaku bukan hanya menyingkirkan ular-ular itu, beberapa orang pintar pun sudah aku hubungi, mereka hanya melihat rumahku, tapi semua orang pintar yang kuhubungi selalu berkata itu ular biasa, bukan santet, bukan ular kiriman, usir saja, atau dibunuh saja.
Heran, bagiku ini sangat mengherankan. Bagaimana mungkin ular-ular itu adalah sejenis ular biasa, mengapa hanya di rumahku, padahal rumah Sukidi yang jaraknya tak lebih dari limabelas meter dari rumahku aman-aman saja, bahkan kebunnya, yang berbatasan langsung dengan kebunku, tidak disinggahi ular-ular itu.
Perlahan aku yakin, ular-ular itu adalah ular-ular kiriman, atau ular-ular santet, atau ular-ular yang dikirimkan iblis kepadaku sebagai hukuman. Tapi apa salahku? Pekerjaanku sebagai seorang pegawai rendahan di kantor pemerintahan tentunya bukan suatu yang pantas untuk dimusuhi, sehingga aku harus disantet, diteluh, dikirimi ular-ular. Lalu sejak kapan aku menjadi pemuja iblis? Tidak, tidak pernah, orangtuaku adalah guru ngaji di kampung kelahiranku. Atau istriku? Ah tidak, tidak mungkin, seorang wanita baik-baik dari keluarga yang baik-baik pula, juga cukup berada. Dialah yang selama ini selalu menasihatiku agar bersabar dalam menjalani hidup sebagai pegawai rendahan, “toh, kita masih punya kebun untuk kita makan hasilnya”, katanya setiapku mengeluh. Anak-anakku? Segera kusingkirkan pikiran ini, anakku yang terbesar baru berumur delapan tahun.
***
Musim hujan tahun ini memang terasa lain, padahal hujan datang seperti biasanya, mulai di bulan kesembilan dan selesai—biasanya—di bulan ketiga tahun berikutnya. Tapi entahlah, sejak kematian kepala operasional di kantorku, dan kemudian diganti oleh seorang muda dari pusat, musim hujan kali ini seperti menyisakan banyak hal di kantor ini. Mulai dari pemutasian-pemutasian yang terlihat tak wajar, lalu proyek-proyek yang datang tak seperti biasa, juga datangnya orang-orang baru yang kemudian langsung menempati posisi-posisi straregis di kantorku. Semuanya berkesan aneh.
Adakah hujan kali ini berasa lain? Lebih dingin barangkali?
Jatinangor, April 2002
25.12.03
SIKAT GIGI
Dewi Lestari
Ia kembali melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap langit yang berantakan oleh bintang dan ribut sendiri. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti. Setelah kami berdua duduk di atas rumput, ia pun menjelaskan dengan tabah. "Coba lihat…langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya kerlip bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Luar biasa kan?"
Egi selalu mampu menggambarkan segalanya dengan tepat, indah dan rasional. Atau mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tidak pernah menyukai makna-makna konotatif. Monokrom dan kurang dimensi, begitu katanya selalu tentang diriku. Pragmatis dan realistis, demikian aku menerjemahkannya.
Dengan segala rasio dan akal, aku pun mencintai wanita di sampingku itu. Egi, yang telah lama kukenal, teman baikku, sosok yang dapat kubanggakan sekaligus kukagumi. Ia mampu berpanjang lebar menjelaskan filosofi cinta dan adieksistensinya, sementara aku sendiri tak akan pernah menganalisis cinta. Yang aku tahu, aku amat peduli dengannya, sebisa mungkin ingin selalu bersamanya, dan aku yakin kami dapat bekerja sama membina apa pun, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi Cinta bagiku, dan cukup sekian. Egi juga tahu itu.
"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku sambil siap-siap membuka jaket.
Mendengarnya Egi yang hanya memakai cardigan tipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca. Ia pasti telah hanyut jauh dalam dunianya sendiri. Dalam balutan jaketku Egi pun meringkuk. Matanya masih menerawang. Aku tahu apa yang ia lamunkan apalagi setelah mendengar helaan nafasnya, tapi aku enggan bertanya. Untuk apa mengungkit sesuatu yang akan membuat pikiranku terganggu.
Tak lama kemudian kami kembali ke Jakarta.
***
"Sudah lama ya kita nggak jalan-jalan ke Puncak lagi," ujar Egi yang melengang dengan sikat gigi di tangan. "Terakhir kapan ya?"
"Fiuh, bulan yang lalu? Waktu langit dan bumi jadi satu itu."
Egi menatapku lucu. "Kamu punya ingatan hebat, tapi kamu mengatakannya sama datar dengan bilang ’1+1=2’…"
Suara sikat beradu dengan gigi pun menggema dari kamar mandi. Egi selalu lama kalau menyikat gigi. Aku pun kembali meneruskan bacaanku, dengan kaki berselonjor di sofa panjang.
Tiba-tiba suara gosokan itu berhenti. Malam yang heningh membuatku menjadi awas akan perubahan yang terjadi. Aku melirik sedikit, pintu kamar mandi terbuka dan Egi tengah berdiri mematung dengan sikat gigi penuh busa.
"Gi….kamu baik-baik saja?"
Cukup lama Egi tidak menjawab, sampai akhirnya perlahan ia berkumur.
"Tyo, saya kepingin pulang saja ya." Dengan lunglai ia menghampiriku.
"Sudahlah, kamu di sini saja, besok pagi saya antar pulang. Saya malas keluar lagi," kataku seraya menguap. Aku tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekat satu sama lain untuk tidak lagi canggung kalau Egi terpaksa menginap di tempat tidurku sementara aku tidur di sofa panjang ini, bangun pagi dan sarapan bersama, sampai aku mengantarkannya pulang atau langsung ke tempat kerjanya. Egi bahkan menginventariskan sebuah sikat gigi di kamar mandiku.
Tiba-tiba mata itu berkaca-kaca. "Saya merasa nggak karuan," gumamnya pelan.
Mendadak aku merasa bersalah. Seringkali aku bersikap terlalu kritis kalau Egi menangis. Aku selalu berusaha menginjeksikan logika yang kupikir perlu namun ternyata malah membuat ia makin sedih dan menganggap aku tak bisa atau tak suka menolongnya. Tak heran kalau ia lebih memilih pulang daripada harus meledakkan tangisnya di depanku.
"Kamu di sini saja. Menangis sesuka hati. Saya janji akan diam, oke?" Aku tersenyum dan menariknya duduk di sampingku, kembali membaca.
"Tyo…" panggilnya setelah sekian lama mematung.
"Hmmm?"
"Saya suka sekali menyikat gigi. Mau tahu kenapa?"
Ingin sekali kulontarkan jawaban spontan, seperti ‘supaya gigi tidak bolong’ atau ‘afeksi berlebihan akan rasa odol’, tapi kuputuskan untuk diam.
"Di saat saya menyikat gigi saya hampir tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Nyaris tidak memikirkan apa-apa karena berkonsentrasi penuh walaupun cuma dua atau tiga menit. Dunia saya mendadak sempit…hanya gigi, busa dan odol. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tyo, tapi berarti sangat banyak."
Aku tahu apa yang kau maksud, wahai Egi, pujanggaku sayang. Untung sudah cukup lama aku terlatih membaca makna-makna tersirat dalam kalimatnya, walaupun belum cukup lama untuk mengerti alasan-alasan di balik itu semua. Seperti untuk apa ia memilih menikmati luka yang cuma bikin ia sedih dan menangis.
Aku menatapnya iba. Egi dengan air mata yang berlinangan di pipi, tangisannya yang tak pernah bersuara. Dan linangan itu menderas ketika aku menutup bukuku, memilih untuk merangkulnya.
"Kamu…pasti sebenarnya…sudah ingin ngomel-ngomel." Ia berbisik susah payah.
"Saya tetap tidak mengerti. Tapi semuanya terserah kamu…" Aku menghela nafas seraya menepuk-nepuk bahunya.
Saat seperti ini membuatku berpikir lagi, jangan-jangan aku terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak masuk ke dalam paket kelahiranku, makanya aku selalu gagal mengerti, sekalipun seorang ahlinya ada sangat dekat di sini. Egi adalah guru besar bahasa aneh itu. Bahasa yang berasal dari planet tempat cinta adalah segala-galanya dan mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Dan apa pun yang kupelajari selama ini tetap tak mampu mendekatkanku pada pengertian komprehensif akan hal satu itu.
***
Ulang tahunnya yang ke-27. Setelah makan malam bersama teman-teman kami yang dipenuhi tawa dan keceriaan, kini kami kembali berdua. Matanya yang menerawang jauh, kakinya yang meringkuk, nafasnya yang mulai ditarik-ulur. Demikianlah Egi, bahkan di hari seistimewa ini sekalipun.
Keheningan selalu membawanya ke perbatasan yang sama, batas antara dunia riil dan satu alam yang masih tak kumengerti itu. Dan hampir tak ada yang dapat menahannya menyeberang.
"Ini…hadiah untuk kamu." Aku membuyarkan lamunannya.
Egi agak terkejut melihat kotak yang disodorkan di depan amtanya. Ia pun tertawa kecil. "Sejak kapan kamu kasih kado segala?"
"Usia 27 adalah usia penting." jawabku sekenanya.
Tawanya semakin lebar ketika ia tahu apa isi kotak itu.
Aku langsung sibuk menjelaskan, "Sikat gigi elektronik. Bergaransi, watt kecil, anti plak, sikatnya banyak dan masing-masing beda fungsi. Seri ini punya kemasan khusus buat travelling, jadi kamu bisa pakai di rumah atau bawa ke tempat saya…tidak akan terlalu repot. Ini buku panduannya…"
"Tyo," potongnya geli seraya menahan tanganku. "Saya tahu kamu adalah manusia paling realistis yang pasti akan memilih hadiah praktis seperti ini, tapi…kenapa sikat gigi?"
Aku menatap kedua mata itu, dan untuk pertama kalinya ada kegugupan yang entah hinggap dari mana.
"Soalnya…ehm soalnya…" Aku gelagapan dan buru-buru menunduk.
Kuatur nafas sejenak dan mengusir jauh-jauh keparat yang telah menghambat lidahku, melirik sekilas dan mendapatkan Egi tengah menunggu jawabanku sambil tersenyum. Senyuman yang mampu mencairkan sel-sel kelabu otak. Senyuman Egi dari dunia nyata, bukan antah berantah itu.
"Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu," kata-kata itu akhirnya meluncur keluar.
"Pengharapan apa yang kamu punya, dan kekuatan apa yang sanggup menahan kamu sekian lama di sana. Tapi kalau memang menyikat gigi adalah satu dari sedikit tiket yang bisa membawa kamu pulang, maka saya ingin kamu semakin asyik menyikat gigi, semakin lama menggosok. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di satu-satunya dunia yang saya tahu dan mengerti. Satu-satunya tempat di mana saya eksis bagi kamu."
Ia terperangah. Menjauh.
"Egi…jangan…" Langsung aku berkata was-was.
"Kamu tahu perasaan saya dan saya tidak pernah mau membahas soal ini lagi…"
"Saya juga tidak mau, tapi inilah kenyataanya. Kenyataannya saya tidak pernah berubah dari bertahun-tahun yang lalu… dan saya pikir kamu juga tahu itu. Ya, ampun, buka mata kamu sekali ini saja Egi!"
"Kamu sahabat saya… sahabat terbaik…" Ia makin menjauh. Bersiap menutup diri.
"Sampai kapan kamu terus mengharapkan dia?"
Tak tahan aku pun berseru, "Orang yang tidak pernah hadir di saat-saat kamu paling membutuhkan dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia, orang yang tidak tahu bahwa kamu bahkan harus menyikat gigi hanya untuk bisa melepaskan dia barang tiga menit dari pikiran kamu? Orang yang bahkan sudah punya kehidupannya sendiri?"
"Dia ingin datang. Biar itu cuma dalam hati. Dan dia akan menjemput saya, di kesempatan pertama yang dia punya. Saya juga bisa merasakan kalau dia selalu memikirkan saya."
"Kapan kamu akan bangun, Egi?" keluhku letih.
Ia menggeleng. "Ini yang namanya cinta sejati. Satu hal yang tidak kamu tahu."
Aku balik menggeleng. "Itu kebutaan sejati. Kamu memilih menjadi tuna netra padahal mata kamu sehat. Kamu tutup mata kamu sendiri. Dan kesedihan kamu pelihara seperti orang yang mengobati lukanya dengan cuka dan bukannya obat merah."
Egi menyentuh wajahku sekilas. "Semoga suatu saat kamu mengerti."
Kata-kataku habis sudah. Dalam hati aku menolak tegas pernyataanya dan ia pun bisa melihatnya jelas. Apa yang ia yakini tentang perasaannya berada di luar akalku. Mana mungkin aku bisa mengerti.
Kami berdua berdiri berhadapan, dua manusia yang telah bersahabat bertahun-tahun lamanya, namun malam ini kami merasa asing satu sama lain. Aku mencintai Egi. Egi mencintai pria lain, yang sekarang bahkan sudah berumah tangga. Demikianlah fakta sederhana yang telah kami ketahui bersama.
Kemalangan itu diperparah lagi karena keinginanku yang logis untuk memilikinya bukanlah cinta bagi Egi, sementara cintanya Egi adalah substansi ekstra-terestrial bagiku.
Kami tak mampu lagi berkomunikasi.
***
Hampir genap setahun tak ada Egi dalam hari-hariku. Tidak ada lagi yang menerjemahkan keindahan alam. Tidak ada lagi yang menunjukkan signifikasi di balik hal-hal remeh. Tidak ada lagi yang duduk di sofa panjangku untuk melalap buku-buku filsafat. Tapi yang paling aku kehilangan adalah mendengarkan ia menyikat gigi.
Hampir setiap saat aku berusaha merasionalkan semua ini dan kesimpulanku selalu sama…aku harus menemuinya lagi. Bukan satu hal yang sulit untuk menemukannya. Ia masih Egi yang dulu, yang dapat kutemui sore-sore sedang membaca buku di bangku taman berbukit-bukit di komples rumahnya. Yang sulit adalah mengungkapkan apa yang tak pernah aku sadari. Yang sulit adalah tidak punya harapan apa-apa sesudah aku selesai menyampaikannya nanti.
"Egi…"
Ia berbalik, kaget luar biasa ketika mendapatkanku muncul lagi dalam hidupnya begitu saja. Lebih kaget lagi ketika aku langsung duduk di hadapannya dan meraih jemarinay dnegan tanganku yang dingin karena tegang.
"Sebentar saja. Saya tidak akan lama," ucapku cepat untuk meredam rasa kagetnya.
Ia pun seperti tidak bisa berkata apa-apa, hanya jemarinya ikut jadi dingin.
"Saya tidak akan pernah jadi pujangga dan tetap ngantuk kalau baca buku filsafat. Saya tetap Tyo, si pragmatis realis yang melihat segalanya dengan tiga dimensi dan bukannya empat seperti kamu. Tapi sekarang saya mengerti kondisi aneh itu…" Aku menelan ludah. "Karena saya sudah mengalaminya.
Kebutaan itu. Dan saya tahu sekarang, saya mencintai kamu bukan hanya dengan logika dan rasio. Bukan karena sekadar kamu memenuhi standar saya, tapi…karena saya juga mencintai kamu di luar akal. Satu tahun saya menemukan cukup banyak alternatif yang masuk akal, tapi saya memang tidak ingin yang lain. Hanya kamu. Apa adanya, termasuk alam lamunan yang tidak pernah ada saya di dalamnya."
"Dan saya tetap Tyo yang kalkulatif dan tidak mau rugi. Tapi saya benar-benar tidak mengharap apa-apa kali ini. Saya hanya ingin mengatakan ini semua dan sudah. Habis perkara." Aku menutup pernyataanku dengan senyum semampunya. Berusaha bangkit berdiri, walau berat sekali. Tangan Egi yang sedingin es batu tiba-tiba menahanku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lirih.
"Mm..jalan-jalan…" jawabku tidak yakin.
"Ikut," ujarnya pendek seraya berdiri melipat buku.
Kami berdua berjalan meninggalkan taman. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sama sekali tak ada jejak spasi kosong dari satu tahun yang sepi itu.
"Saya sendiri sudah banyak berpikir murni dengan sel-sel otak seperti yang kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya…" Ia berkata lamat-lamat, "Tidak akan ada orang lain yang mengerti alam itu selain kita sendiri. Tapi kemanapun yang saya pilih kamu tetap orang yang paling nyata dan paling berarti. Saya tidak harus menyikat gigi untuk bisa pulang. Kamu adalah jalan pulang, rumah yang nyaman dan tiket sekali jalan. Saya tidak ingin pergi lagi. Itu juga kalau kamu tidak keberatan kita menjalaninya pelan-pelan."
Perjalanaan singkat menuju mobilku sore itu adalah gerbang menuju sebuah perjalanan baru yang panjang.
***
Egi benar. Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. Dan kesempatan itu harus ditawarkan setiap hari oleh kedua belah pihak. Aku pun benar, kami berdua mampu membangun apa saja, baik persahabatan belasan tahun maupun kebersamaan seumur hidup.
Setiap kali aku duduk di sofa dan memandang Egi yang asyik menyikat gigi, ketakutan itu kadang-kadang datang. Ketakutan kalau suatu hari aku terpaksa harus menariknya pulang dengan paksa, dan sikat gigi tak mampu lagi menjadi tiketnya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd tempat perasaanku kepadanya bersemayam, dunia yang ternyata amat kusukai. Ketakutan yang timbul justru karena sekarang aku benar-benar mengerti perasaan Egi dan semua alasannya dulu. ***
Dewi Lestari
Ia kembali melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap langit yang berantakan oleh bintang dan ribut sendiri. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti. Setelah kami berdua duduk di atas rumput, ia pun menjelaskan dengan tabah. "Coba lihat…langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya kerlip bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Luar biasa kan?"
Egi selalu mampu menggambarkan segalanya dengan tepat, indah dan rasional. Atau mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tidak pernah menyukai makna-makna konotatif. Monokrom dan kurang dimensi, begitu katanya selalu tentang diriku. Pragmatis dan realistis, demikian aku menerjemahkannya.
Dengan segala rasio dan akal, aku pun mencintai wanita di sampingku itu. Egi, yang telah lama kukenal, teman baikku, sosok yang dapat kubanggakan sekaligus kukagumi. Ia mampu berpanjang lebar menjelaskan filosofi cinta dan adieksistensinya, sementara aku sendiri tak akan pernah menganalisis cinta. Yang aku tahu, aku amat peduli dengannya, sebisa mungkin ingin selalu bersamanya, dan aku yakin kami dapat bekerja sama membina apa pun, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi Cinta bagiku, dan cukup sekian. Egi juga tahu itu.
"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku sambil siap-siap membuka jaket.
Mendengarnya Egi yang hanya memakai cardigan tipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca. Ia pasti telah hanyut jauh dalam dunianya sendiri. Dalam balutan jaketku Egi pun meringkuk. Matanya masih menerawang. Aku tahu apa yang ia lamunkan apalagi setelah mendengar helaan nafasnya, tapi aku enggan bertanya. Untuk apa mengungkit sesuatu yang akan membuat pikiranku terganggu.
Tak lama kemudian kami kembali ke Jakarta.
***
"Sudah lama ya kita nggak jalan-jalan ke Puncak lagi," ujar Egi yang melengang dengan sikat gigi di tangan. "Terakhir kapan ya?"
"Fiuh, bulan yang lalu? Waktu langit dan bumi jadi satu itu."
Egi menatapku lucu. "Kamu punya ingatan hebat, tapi kamu mengatakannya sama datar dengan bilang ’1+1=2’…"
Suara sikat beradu dengan gigi pun menggema dari kamar mandi. Egi selalu lama kalau menyikat gigi. Aku pun kembali meneruskan bacaanku, dengan kaki berselonjor di sofa panjang.
Tiba-tiba suara gosokan itu berhenti. Malam yang heningh membuatku menjadi awas akan perubahan yang terjadi. Aku melirik sedikit, pintu kamar mandi terbuka dan Egi tengah berdiri mematung dengan sikat gigi penuh busa.
"Gi….kamu baik-baik saja?"
Cukup lama Egi tidak menjawab, sampai akhirnya perlahan ia berkumur.
"Tyo, saya kepingin pulang saja ya." Dengan lunglai ia menghampiriku.
"Sudahlah, kamu di sini saja, besok pagi saya antar pulang. Saya malas keluar lagi," kataku seraya menguap. Aku tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekat satu sama lain untuk tidak lagi canggung kalau Egi terpaksa menginap di tempat tidurku sementara aku tidur di sofa panjang ini, bangun pagi dan sarapan bersama, sampai aku mengantarkannya pulang atau langsung ke tempat kerjanya. Egi bahkan menginventariskan sebuah sikat gigi di kamar mandiku.
Tiba-tiba mata itu berkaca-kaca. "Saya merasa nggak karuan," gumamnya pelan.
Mendadak aku merasa bersalah. Seringkali aku bersikap terlalu kritis kalau Egi menangis. Aku selalu berusaha menginjeksikan logika yang kupikir perlu namun ternyata malah membuat ia makin sedih dan menganggap aku tak bisa atau tak suka menolongnya. Tak heran kalau ia lebih memilih pulang daripada harus meledakkan tangisnya di depanku.
"Kamu di sini saja. Menangis sesuka hati. Saya janji akan diam, oke?" Aku tersenyum dan menariknya duduk di sampingku, kembali membaca.
"Tyo…" panggilnya setelah sekian lama mematung.
"Hmmm?"
"Saya suka sekali menyikat gigi. Mau tahu kenapa?"
Ingin sekali kulontarkan jawaban spontan, seperti ‘supaya gigi tidak bolong’ atau ‘afeksi berlebihan akan rasa odol’, tapi kuputuskan untuk diam.
"Di saat saya menyikat gigi saya hampir tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Nyaris tidak memikirkan apa-apa karena berkonsentrasi penuh walaupun cuma dua atau tiga menit. Dunia saya mendadak sempit…hanya gigi, busa dan odol. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tyo, tapi berarti sangat banyak."
Aku tahu apa yang kau maksud, wahai Egi, pujanggaku sayang. Untung sudah cukup lama aku terlatih membaca makna-makna tersirat dalam kalimatnya, walaupun belum cukup lama untuk mengerti alasan-alasan di balik itu semua. Seperti untuk apa ia memilih menikmati luka yang cuma bikin ia sedih dan menangis.
Aku menatapnya iba. Egi dengan air mata yang berlinangan di pipi, tangisannya yang tak pernah bersuara. Dan linangan itu menderas ketika aku menutup bukuku, memilih untuk merangkulnya.
"Kamu…pasti sebenarnya…sudah ingin ngomel-ngomel." Ia berbisik susah payah.
"Saya tetap tidak mengerti. Tapi semuanya terserah kamu…" Aku menghela nafas seraya menepuk-nepuk bahunya.
Saat seperti ini membuatku berpikir lagi, jangan-jangan aku terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak masuk ke dalam paket kelahiranku, makanya aku selalu gagal mengerti, sekalipun seorang ahlinya ada sangat dekat di sini. Egi adalah guru besar bahasa aneh itu. Bahasa yang berasal dari planet tempat cinta adalah segala-galanya dan mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Dan apa pun yang kupelajari selama ini tetap tak mampu mendekatkanku pada pengertian komprehensif akan hal satu itu.
***
Ulang tahunnya yang ke-27. Setelah makan malam bersama teman-teman kami yang dipenuhi tawa dan keceriaan, kini kami kembali berdua. Matanya yang menerawang jauh, kakinya yang meringkuk, nafasnya yang mulai ditarik-ulur. Demikianlah Egi, bahkan di hari seistimewa ini sekalipun.
Keheningan selalu membawanya ke perbatasan yang sama, batas antara dunia riil dan satu alam yang masih tak kumengerti itu. Dan hampir tak ada yang dapat menahannya menyeberang.
"Ini…hadiah untuk kamu." Aku membuyarkan lamunannya.
Egi agak terkejut melihat kotak yang disodorkan di depan amtanya. Ia pun tertawa kecil. "Sejak kapan kamu kasih kado segala?"
"Usia 27 adalah usia penting." jawabku sekenanya.
Tawanya semakin lebar ketika ia tahu apa isi kotak itu.
Aku langsung sibuk menjelaskan, "Sikat gigi elektronik. Bergaransi, watt kecil, anti plak, sikatnya banyak dan masing-masing beda fungsi. Seri ini punya kemasan khusus buat travelling, jadi kamu bisa pakai di rumah atau bawa ke tempat saya…tidak akan terlalu repot. Ini buku panduannya…"
"Tyo," potongnya geli seraya menahan tanganku. "Saya tahu kamu adalah manusia paling realistis yang pasti akan memilih hadiah praktis seperti ini, tapi…kenapa sikat gigi?"
Aku menatap kedua mata itu, dan untuk pertama kalinya ada kegugupan yang entah hinggap dari mana.
"Soalnya…ehm soalnya…" Aku gelagapan dan buru-buru menunduk.
Kuatur nafas sejenak dan mengusir jauh-jauh keparat yang telah menghambat lidahku, melirik sekilas dan mendapatkan Egi tengah menunggu jawabanku sambil tersenyum. Senyuman yang mampu mencairkan sel-sel kelabu otak. Senyuman Egi dari dunia nyata, bukan antah berantah itu.
"Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu," kata-kata itu akhirnya meluncur keluar.
"Pengharapan apa yang kamu punya, dan kekuatan apa yang sanggup menahan kamu sekian lama di sana. Tapi kalau memang menyikat gigi adalah satu dari sedikit tiket yang bisa membawa kamu pulang, maka saya ingin kamu semakin asyik menyikat gigi, semakin lama menggosok. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di satu-satunya dunia yang saya tahu dan mengerti. Satu-satunya tempat di mana saya eksis bagi kamu."
Ia terperangah. Menjauh.
"Egi…jangan…" Langsung aku berkata was-was.
"Kamu tahu perasaan saya dan saya tidak pernah mau membahas soal ini lagi…"
"Saya juga tidak mau, tapi inilah kenyataanya. Kenyataannya saya tidak pernah berubah dari bertahun-tahun yang lalu… dan saya pikir kamu juga tahu itu. Ya, ampun, buka mata kamu sekali ini saja Egi!"
"Kamu sahabat saya… sahabat terbaik…" Ia makin menjauh. Bersiap menutup diri.
"Sampai kapan kamu terus mengharapkan dia?"
Tak tahan aku pun berseru, "Orang yang tidak pernah hadir di saat-saat kamu paling membutuhkan dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia, orang yang tidak tahu bahwa kamu bahkan harus menyikat gigi hanya untuk bisa melepaskan dia barang tiga menit dari pikiran kamu? Orang yang bahkan sudah punya kehidupannya sendiri?"
"Dia ingin datang. Biar itu cuma dalam hati. Dan dia akan menjemput saya, di kesempatan pertama yang dia punya. Saya juga bisa merasakan kalau dia selalu memikirkan saya."
"Kapan kamu akan bangun, Egi?" keluhku letih.
Ia menggeleng. "Ini yang namanya cinta sejati. Satu hal yang tidak kamu tahu."
Aku balik menggeleng. "Itu kebutaan sejati. Kamu memilih menjadi tuna netra padahal mata kamu sehat. Kamu tutup mata kamu sendiri. Dan kesedihan kamu pelihara seperti orang yang mengobati lukanya dengan cuka dan bukannya obat merah."
Egi menyentuh wajahku sekilas. "Semoga suatu saat kamu mengerti."
Kata-kataku habis sudah. Dalam hati aku menolak tegas pernyataanya dan ia pun bisa melihatnya jelas. Apa yang ia yakini tentang perasaannya berada di luar akalku. Mana mungkin aku bisa mengerti.
Kami berdua berdiri berhadapan, dua manusia yang telah bersahabat bertahun-tahun lamanya, namun malam ini kami merasa asing satu sama lain. Aku mencintai Egi. Egi mencintai pria lain, yang sekarang bahkan sudah berumah tangga. Demikianlah fakta sederhana yang telah kami ketahui bersama.
Kemalangan itu diperparah lagi karena keinginanku yang logis untuk memilikinya bukanlah cinta bagi Egi, sementara cintanya Egi adalah substansi ekstra-terestrial bagiku.
Kami tak mampu lagi berkomunikasi.
***
Hampir genap setahun tak ada Egi dalam hari-hariku. Tidak ada lagi yang menerjemahkan keindahan alam. Tidak ada lagi yang menunjukkan signifikasi di balik hal-hal remeh. Tidak ada lagi yang duduk di sofa panjangku untuk melalap buku-buku filsafat. Tapi yang paling aku kehilangan adalah mendengarkan ia menyikat gigi.
Hampir setiap saat aku berusaha merasionalkan semua ini dan kesimpulanku selalu sama…aku harus menemuinya lagi. Bukan satu hal yang sulit untuk menemukannya. Ia masih Egi yang dulu, yang dapat kutemui sore-sore sedang membaca buku di bangku taman berbukit-bukit di komples rumahnya. Yang sulit adalah mengungkapkan apa yang tak pernah aku sadari. Yang sulit adalah tidak punya harapan apa-apa sesudah aku selesai menyampaikannya nanti.
"Egi…"
Ia berbalik, kaget luar biasa ketika mendapatkanku muncul lagi dalam hidupnya begitu saja. Lebih kaget lagi ketika aku langsung duduk di hadapannya dan meraih jemarinay dnegan tanganku yang dingin karena tegang.
"Sebentar saja. Saya tidak akan lama," ucapku cepat untuk meredam rasa kagetnya.
Ia pun seperti tidak bisa berkata apa-apa, hanya jemarinya ikut jadi dingin.
"Saya tidak akan pernah jadi pujangga dan tetap ngantuk kalau baca buku filsafat. Saya tetap Tyo, si pragmatis realis yang melihat segalanya dengan tiga dimensi dan bukannya empat seperti kamu. Tapi sekarang saya mengerti kondisi aneh itu…" Aku menelan ludah. "Karena saya sudah mengalaminya.
Kebutaan itu. Dan saya tahu sekarang, saya mencintai kamu bukan hanya dengan logika dan rasio. Bukan karena sekadar kamu memenuhi standar saya, tapi…karena saya juga mencintai kamu di luar akal. Satu tahun saya menemukan cukup banyak alternatif yang masuk akal, tapi saya memang tidak ingin yang lain. Hanya kamu. Apa adanya, termasuk alam lamunan yang tidak pernah ada saya di dalamnya."
"Dan saya tetap Tyo yang kalkulatif dan tidak mau rugi. Tapi saya benar-benar tidak mengharap apa-apa kali ini. Saya hanya ingin mengatakan ini semua dan sudah. Habis perkara." Aku menutup pernyataanku dengan senyum semampunya. Berusaha bangkit berdiri, walau berat sekali. Tangan Egi yang sedingin es batu tiba-tiba menahanku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lirih.
"Mm..jalan-jalan…" jawabku tidak yakin.
"Ikut," ujarnya pendek seraya berdiri melipat buku.
Kami berdua berjalan meninggalkan taman. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sama sekali tak ada jejak spasi kosong dari satu tahun yang sepi itu.
"Saya sendiri sudah banyak berpikir murni dengan sel-sel otak seperti yang kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya…" Ia berkata lamat-lamat, "Tidak akan ada orang lain yang mengerti alam itu selain kita sendiri. Tapi kemanapun yang saya pilih kamu tetap orang yang paling nyata dan paling berarti. Saya tidak harus menyikat gigi untuk bisa pulang. Kamu adalah jalan pulang, rumah yang nyaman dan tiket sekali jalan. Saya tidak ingin pergi lagi. Itu juga kalau kamu tidak keberatan kita menjalaninya pelan-pelan."
Perjalanaan singkat menuju mobilku sore itu adalah gerbang menuju sebuah perjalanan baru yang panjang.
***
Egi benar. Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. Dan kesempatan itu harus ditawarkan setiap hari oleh kedua belah pihak. Aku pun benar, kami berdua mampu membangun apa saja, baik persahabatan belasan tahun maupun kebersamaan seumur hidup.
Setiap kali aku duduk di sofa dan memandang Egi yang asyik menyikat gigi, ketakutan itu kadang-kadang datang. Ketakutan kalau suatu hari aku terpaksa harus menariknya pulang dengan paksa, dan sikat gigi tak mampu lagi menjadi tiketnya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd tempat perasaanku kepadanya bersemayam, dunia yang ternyata amat kusukai. Ketakutan yang timbul justru karena sekarang aku benar-benar mengerti perasaan Egi dan semua alasannya dulu. ***
ehm, tulisan ini sebenarnya adalah petikan dari sebuah diskusi di milis akademi jatinangor (rip). dulu, sudah lama juga. tentang inul. benar-benar sudah basi. awalnya adalah sebuah e-mail yang diforward Donny, sahabat saya. lalu, pelan-pelan saya menanggapinya (tulisan miring dan tebal adalah kutipan e-mail yang saya coba tanggapi-tulisan tegak adalah tanggung jawab saya).
Ada opini menarik, masih tentang kontroversi "Inul". This I got from a friend. Selamat beropini!
DN
----------------------
Liputan tentang kontroversi pernyataan Rhoma irama terhadap goyangan Inul di berbagai media cetak, elektronik bahkan online begitu luar biasa minggu-minggu ini. Pun pernyataan berbagai elemen masyarakat berhamburan menghiasi halaman muka dan tajuk-tajuk utama peliputan media, bahkan
kelompok-kelompok perempuan sampai merasa khusus perlu mengadakan aksi mendukung inul di bunderan HI.Luar biasa Rhoma Irama dan inul memang kontroversial!
Inul dan Rhoma bisa jadi memang kontroversial. Tapi, media kitalah yang mau saya sebut kontroversial. Dan kenyataan ini sama sekali tidak mengejutkan saya.
Kenyataan ini sangat mengejutkan bagi saya karena:
1. Media begitu bersemangat mengangkat kontroversi ini dibandingkan mengangkat isu penahan mahasiswa atau pemukulan wartawan Tempo oleh preman (jika isu yang diangkat adalah kebebasan berekspresi) atau isu pemerkosaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum perempuan di Aceh semasa DOM,jeda kemanusiaan maupun pasca penandatangan CoHA (jika isunya dalah isu perempuan) atau isu buruh-buruh perempuan dan para perempuan petani yang tanahnya diambil paksa untuk pembangunan atau tanahnya sempit (jika isunya adalah masalah pendapatan). Tidak itu saja bergam polling juga diluncurkan. Menurut pendapat saya Isu-isu tersebut lebih "penting" untuk diangkat karena posisinya jelas "ketidakmampuan negara untuk melindungi hak-hak warga negaranya". Untuk kasus Inul ini maaf saja, negara tidak mengahalang-halangi Inul berekspresi, tidak melakukan penganiayaan terhadap Inul, atau tidak memeras pendapatan Inul (kecuali pajak:)). Buat saya ini murni perdebatan warga civil dengan warga civil lainnya yang bisa diselesaikan lewat jalur pengadilan. Intinya Rhoma nggak mengerahkan massa seperti FPI yang merusak tempat-tempat hiburan, atau melarang media (sekalipun kalau iya, apa sih kekuatan hukum yang dia miliki buat melarang media?). So kenapa media begitu bernafsu mengangkat isu ini, apakah persoalan periuk nasi mereka yang terganggu (SCTV dikabarkan menagguk keuntungan iklan dari salah satu tayangan inul sebesar 500 juta rupiah hanya untuk satu jam tayang).
Mohon pencerahan untuk yang satu ini jika ada yang memiliki argumentasi lain.
Saya sama sekali tidak bertendensi untuk memberikan pencerahan. Hah, tidak capable! Tapi, sekali lagi, coba jangan terkejut dengan hal ini. Semua ini mestinya bisa kita prediksi sejak beberapa tahun lalu, ketika televisi swasta mulai bertumbuhan di Indonesia. Ada sebuah buku bagus karangan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, di Indonesia diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1995). Kali ini Neil Postman yang menjadi referensi saya. (Yah, you are what you read!)
Buku ini membuktikan kecenderungan kalau apa yang diramalkan George Orwell adalah salah dan apa yang diramakan Aldous Huxley adalah benar. Orwell, seorang marxis(?), memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedang Huxley justru mengatakan kalau manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai teknologi yang akan membutakan pikirannya. Postman memberikan contoh seperti ini: “Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh temeh… singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.”
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dlsb!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. “Di Amerika, Tuhan menganakemaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.”
Dan media sangat berperan dalam hal ini. SCTV, sebagai salah satu “media penyalur informasi”, dalam kasus Inul dan Rhoma telah menjadi media yang “Make News”. SCTV tidak mencari berita, melainkan membuat berita. Mungkin teman-teman dari FIKOM yang sangat mengerti dalam hal ini, atau juga Donny. S. Sos. Fresh graduate…. =)
2. Sudah sejak lama kelompok-kelompok perempuan melakukan perlawan terhadap komodifikasi keindahan perempuan dalam iklan-iklan yang ditayangkan televisi. Sejak dulu mereka berjuang menentang penggunaan tubuh perempuan sebagai komoditas untuk memasarkan produk bahkan dalam format pencintraan saja (tamagola secara khusus pernah membahas ini) atau saya yang salah menangkap perjuangan kelompok-kelompok perempuan tersebut? Seingat saya upaya gender mainstriming dalam dunia iklan sudah sejak lama dilakukan. Nah upaya mereka untuk membantu Inul hingga aksi turun ke jalan tidakkah bertentangan dengan hal tersebut? Atau dalam pandangan kelompok ini Inul tidak pernah menjadi korban komoditi media untuk memperoleh keuntungan.
Sekali lagi saya mohon dicerahkan dalam kebingungan saya yang kedua.
Saya jadi ingat kasus boneka barbie. Perempuan yang bukan perempuan. (Ternyata banyak jenis perempuan :p).
Di puncak popularitasnya Barbie berhasil membuat semacam kejutan manis. Saat itu kaum feminis terpolarisasi menjadi dua kutub: mereka yang sangat bahagia dan mendukung atas kemunculan Barbie dan satu lagi mereka yang menolak dan menyesal atas kemunculan Barbie. Lihatlah Barbie, perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ikon dunia. Perempuan akan cantik jika seperti Barbie: langsing, putih, blondie, bermata indah, berkaki panjang, wah. Dan, ini dia, Barbie ternyata bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi seorang dokter, astronot, guru, wanita berkarier tinggi, apa-apa yang muskil bagi seorang perempuan kebanyakan. Ini yang menjadi kebanggaan mereka yang mendukung Barbie.
Barbie punya popularitas yang luar biasa. Barangkali setiap wanita di sana punya Barbie. Mereka lahir dari sepasang ibu-bapak yang saya pikir luar biasa. Jangan kaget, pemasaran Barbie dikomandani oleh doktor psikologi lewat pendekatan Freudian! Dan jika saja Barbie disuruh rebahan dan diurut-urut, kaki yang satu menginjak kepala yang lain, maka Dunia akan menjadi lautan Barbie. Produksi mereka luar biasa.
Di urusan domestik, tentu saja, Barbie adalah ibu rumah tangga yang ideal: jago masak, menata rumah, dan… setia! Kent, pasangannya, bisa saja menjalin hubungan rahasia dengan wanita lain, tapi Barbie akan tetap setia berpasangan dengan Kent.
Mereka yang mengumpat Barbie punya alasan yang mirip dengan pertanyaan di atas. Bagi mereka, Barbie tidak pernah pro-perjuangan kesetaraan gender. Barbie mungkin menjadi astronot, dokter, dlsb, tapi Barbie tidak pernah mengangkat isue-isue khas perempuan: buruh wanita murah, kekerasan terhadap wanita, cuti hamil, dlsb. Juga tentang pencitraan cantik (seperti yang kini terjadi di iklan-iklan), mereka protes mengapa Barbie selalu berkulit putih dan tidak hitam. Tapi, oho, pasangan suami-istri itu ternyata cukup akomodatif menanggapi ini. Segera keluar-lah Barbie serie kulit hitam. Dan percayalah, beberapa tahun kemudian miss universe yang terpilih adalah seorang wanita berkulit hitam!
Mudah-mudahan tepat analoginya. =)
Tapi maksud saya sebenarnya tak banyak. Kemunculan media bukan saja berdampak semakin sulitnya mencari kebenaran dalam lautan informasi yang begitu bertebaran. (Untuk memenuhi kehausan anda dan menambah wawasan anda tentang kehidupan selebritis Indonesia, anda bisa menyaksikan infotainment setiap hari, bahkan di jam setengah lima subuh sekalipun! Tadi pagi saya menontonnya, jam setengah lima pagi! Dan bukan hanya satu stasiun teve yang memutarnya!!). Tapi juga semakin hilangnya wacana publik. Semuanya terperosok ke dalam seni pertunjukkan. (Bahkan TOYOTA dalam anggaran periklanannya menggarisbawahi bahwa bidang ekonomi lebih merupakan seni pertunjukkan). Dari sini, silakan Anda mulai analisis Anda, lewat serangkaian alat Marxisme, Smith, Freud, Religion, Levi Strauss? Terserah. Tapi, Marshall McLuhan sudah punya gagasan yang menurut saya sangat mengena, “The medium is the message”. Medium yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan adalah pesan itu sendiri. Lalu apakah patut disesali mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi? Sepertinya ini asyik jika kita diskusikan… (Donny, kamu bikin pengantarnya yah.. =)
3. Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita tidaklah homogen. ada "yang sudah" menyukai "keterbukaan" ada yang masih meyukai "ketertutupan". Menjustifikasi bahwa "keterbukaan" sebagai keniscayaan nilai-nilai yang benar, rasanya menghalangi Hak asasi orang yang suka "ketertutupan" pula untuk berekspresi.Dalam konteks media massa kita (televisi khusunya) hingga saat ini belum ada TV yang secara khusus melakukan segmentasi pasar berdasarkan isu. Misalnya televisi porno, televisi agama, atau televisi politik. Adalah hal yang berat memang ketika Televisi umum harus memformat acaranya sesuai dengan defenisi yang memuaskan semua orang. Namun tidakah lebih bijak juga jika media massa kita jika belum mampu melakukan segmentasi, ya minimal bisa sedikit memodifikasi ofrmatnya misalnya acara kekerasan dan yang "sedikit" berbau pornografi diletakan di atas jam 12. hanya saja yang paling bijak tentu saja jika kita menyediakan media TV kabel saluran porno yang hanya bisa diakses dengan biaya tertentu hingga hanya "orang-orang" terpilih saja yang menikmatinya, atau penualan VCD erotis dan porno di tempat-tempat yang telah disediakan negara hingga kita pun mampu mengontrol berapa populasi penikmat itu dan dampaknya.
Teguh Untuk Kita Semua
Pertanyaannya, mampukah negara yang seperti ini melakukan itu semua? Negara ini… apa yah? Males ah komentar tentang negara ini. Sebel melulu bawaannya. :p
Teguh Untuk Kita Semua!
Imam Gumam Dosa, Gak Gaul.
(Don, ditanggapi yah, skripsi kamu ngena gak sih? Bikin Media Watch dunks..)
Ada opini menarik, masih tentang kontroversi "Inul". This I got from a friend. Selamat beropini!
DN
----------------------
Liputan tentang kontroversi pernyataan Rhoma irama terhadap goyangan Inul di berbagai media cetak, elektronik bahkan online begitu luar biasa minggu-minggu ini. Pun pernyataan berbagai elemen masyarakat berhamburan menghiasi halaman muka dan tajuk-tajuk utama peliputan media, bahkan
kelompok-kelompok perempuan sampai merasa khusus perlu mengadakan aksi mendukung inul di bunderan HI.Luar biasa Rhoma Irama dan inul memang kontroversial!
Inul dan Rhoma bisa jadi memang kontroversial. Tapi, media kitalah yang mau saya sebut kontroversial. Dan kenyataan ini sama sekali tidak mengejutkan saya.
Kenyataan ini sangat mengejutkan bagi saya karena:
1. Media begitu bersemangat mengangkat kontroversi ini dibandingkan mengangkat isu penahan mahasiswa atau pemukulan wartawan Tempo oleh preman (jika isu yang diangkat adalah kebebasan berekspresi) atau isu pemerkosaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum perempuan di Aceh semasa DOM,jeda kemanusiaan maupun pasca penandatangan CoHA (jika isunya dalah isu perempuan) atau isu buruh-buruh perempuan dan para perempuan petani yang tanahnya diambil paksa untuk pembangunan atau tanahnya sempit (jika isunya adalah masalah pendapatan). Tidak itu saja bergam polling juga diluncurkan. Menurut pendapat saya Isu-isu tersebut lebih "penting" untuk diangkat karena posisinya jelas "ketidakmampuan negara untuk melindungi hak-hak warga negaranya". Untuk kasus Inul ini maaf saja, negara tidak mengahalang-halangi Inul berekspresi, tidak melakukan penganiayaan terhadap Inul, atau tidak memeras pendapatan Inul (kecuali pajak:)). Buat saya ini murni perdebatan warga civil dengan warga civil lainnya yang bisa diselesaikan lewat jalur pengadilan. Intinya Rhoma nggak mengerahkan massa seperti FPI yang merusak tempat-tempat hiburan, atau melarang media (sekalipun kalau iya, apa sih kekuatan hukum yang dia miliki buat melarang media?). So kenapa media begitu bernafsu mengangkat isu ini, apakah persoalan periuk nasi mereka yang terganggu (SCTV dikabarkan menagguk keuntungan iklan dari salah satu tayangan inul sebesar 500 juta rupiah hanya untuk satu jam tayang).
Mohon pencerahan untuk yang satu ini jika ada yang memiliki argumentasi lain.
Saya sama sekali tidak bertendensi untuk memberikan pencerahan. Hah, tidak capable! Tapi, sekali lagi, coba jangan terkejut dengan hal ini. Semua ini mestinya bisa kita prediksi sejak beberapa tahun lalu, ketika televisi swasta mulai bertumbuhan di Indonesia. Ada sebuah buku bagus karangan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, di Indonesia diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1995). Kali ini Neil Postman yang menjadi referensi saya. (Yah, you are what you read!)
Buku ini membuktikan kecenderungan kalau apa yang diramalkan George Orwell adalah salah dan apa yang diramakan Aldous Huxley adalah benar. Orwell, seorang marxis(?), memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedang Huxley justru mengatakan kalau manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai teknologi yang akan membutakan pikirannya. Postman memberikan contoh seperti ini: “Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh temeh… singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.”
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dlsb!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. “Di Amerika, Tuhan menganakemaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.”
Dan media sangat berperan dalam hal ini. SCTV, sebagai salah satu “media penyalur informasi”, dalam kasus Inul dan Rhoma telah menjadi media yang “Make News”. SCTV tidak mencari berita, melainkan membuat berita. Mungkin teman-teman dari FIKOM yang sangat mengerti dalam hal ini, atau juga Donny. S. Sos. Fresh graduate…. =)
2. Sudah sejak lama kelompok-kelompok perempuan melakukan perlawan terhadap komodifikasi keindahan perempuan dalam iklan-iklan yang ditayangkan televisi. Sejak dulu mereka berjuang menentang penggunaan tubuh perempuan sebagai komoditas untuk memasarkan produk bahkan dalam format pencintraan saja (tamagola secara khusus pernah membahas ini) atau saya yang salah menangkap perjuangan kelompok-kelompok perempuan tersebut? Seingat saya upaya gender mainstriming dalam dunia iklan sudah sejak lama dilakukan. Nah upaya mereka untuk membantu Inul hingga aksi turun ke jalan tidakkah bertentangan dengan hal tersebut? Atau dalam pandangan kelompok ini Inul tidak pernah menjadi korban komoditi media untuk memperoleh keuntungan.
Sekali lagi saya mohon dicerahkan dalam kebingungan saya yang kedua.
Saya jadi ingat kasus boneka barbie. Perempuan yang bukan perempuan. (Ternyata banyak jenis perempuan :p).
Di puncak popularitasnya Barbie berhasil membuat semacam kejutan manis. Saat itu kaum feminis terpolarisasi menjadi dua kutub: mereka yang sangat bahagia dan mendukung atas kemunculan Barbie dan satu lagi mereka yang menolak dan menyesal atas kemunculan Barbie. Lihatlah Barbie, perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ikon dunia. Perempuan akan cantik jika seperti Barbie: langsing, putih, blondie, bermata indah, berkaki panjang, wah. Dan, ini dia, Barbie ternyata bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi seorang dokter, astronot, guru, wanita berkarier tinggi, apa-apa yang muskil bagi seorang perempuan kebanyakan. Ini yang menjadi kebanggaan mereka yang mendukung Barbie.
Barbie punya popularitas yang luar biasa. Barangkali setiap wanita di sana punya Barbie. Mereka lahir dari sepasang ibu-bapak yang saya pikir luar biasa. Jangan kaget, pemasaran Barbie dikomandani oleh doktor psikologi lewat pendekatan Freudian! Dan jika saja Barbie disuruh rebahan dan diurut-urut, kaki yang satu menginjak kepala yang lain, maka Dunia akan menjadi lautan Barbie. Produksi mereka luar biasa.
Di urusan domestik, tentu saja, Barbie adalah ibu rumah tangga yang ideal: jago masak, menata rumah, dan… setia! Kent, pasangannya, bisa saja menjalin hubungan rahasia dengan wanita lain, tapi Barbie akan tetap setia berpasangan dengan Kent.
Mereka yang mengumpat Barbie punya alasan yang mirip dengan pertanyaan di atas. Bagi mereka, Barbie tidak pernah pro-perjuangan kesetaraan gender. Barbie mungkin menjadi astronot, dokter, dlsb, tapi Barbie tidak pernah mengangkat isue-isue khas perempuan: buruh wanita murah, kekerasan terhadap wanita, cuti hamil, dlsb. Juga tentang pencitraan cantik (seperti yang kini terjadi di iklan-iklan), mereka protes mengapa Barbie selalu berkulit putih dan tidak hitam. Tapi, oho, pasangan suami-istri itu ternyata cukup akomodatif menanggapi ini. Segera keluar-lah Barbie serie kulit hitam. Dan percayalah, beberapa tahun kemudian miss universe yang terpilih adalah seorang wanita berkulit hitam!
Mudah-mudahan tepat analoginya. =)
Tapi maksud saya sebenarnya tak banyak. Kemunculan media bukan saja berdampak semakin sulitnya mencari kebenaran dalam lautan informasi yang begitu bertebaran. (Untuk memenuhi kehausan anda dan menambah wawasan anda tentang kehidupan selebritis Indonesia, anda bisa menyaksikan infotainment setiap hari, bahkan di jam setengah lima subuh sekalipun! Tadi pagi saya menontonnya, jam setengah lima pagi! Dan bukan hanya satu stasiun teve yang memutarnya!!). Tapi juga semakin hilangnya wacana publik. Semuanya terperosok ke dalam seni pertunjukkan. (Bahkan TOYOTA dalam anggaran periklanannya menggarisbawahi bahwa bidang ekonomi lebih merupakan seni pertunjukkan). Dari sini, silakan Anda mulai analisis Anda, lewat serangkaian alat Marxisme, Smith, Freud, Religion, Levi Strauss? Terserah. Tapi, Marshall McLuhan sudah punya gagasan yang menurut saya sangat mengena, “The medium is the message”. Medium yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan adalah pesan itu sendiri. Lalu apakah patut disesali mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi? Sepertinya ini asyik jika kita diskusikan… (Donny, kamu bikin pengantarnya yah.. =)
3. Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita tidaklah homogen. ada "yang sudah" menyukai "keterbukaan" ada yang masih meyukai "ketertutupan". Menjustifikasi bahwa "keterbukaan" sebagai keniscayaan nilai-nilai yang benar, rasanya menghalangi Hak asasi orang yang suka "ketertutupan" pula untuk berekspresi.Dalam konteks media massa kita (televisi khusunya) hingga saat ini belum ada TV yang secara khusus melakukan segmentasi pasar berdasarkan isu. Misalnya televisi porno, televisi agama, atau televisi politik. Adalah hal yang berat memang ketika Televisi umum harus memformat acaranya sesuai dengan defenisi yang memuaskan semua orang. Namun tidakah lebih bijak juga jika media massa kita jika belum mampu melakukan segmentasi, ya minimal bisa sedikit memodifikasi ofrmatnya misalnya acara kekerasan dan yang "sedikit" berbau pornografi diletakan di atas jam 12. hanya saja yang paling bijak tentu saja jika kita menyediakan media TV kabel saluran porno yang hanya bisa diakses dengan biaya tertentu hingga hanya "orang-orang" terpilih saja yang menikmatinya, atau penualan VCD erotis dan porno di tempat-tempat yang telah disediakan negara hingga kita pun mampu mengontrol berapa populasi penikmat itu dan dampaknya.
Teguh Untuk Kita Semua
Pertanyaannya, mampukah negara yang seperti ini melakukan itu semua? Negara ini… apa yah? Males ah komentar tentang negara ini. Sebel melulu bawaannya. :p
Teguh Untuk Kita Semua!
Imam Gumam Dosa, Gak Gaul.
(Don, ditanggapi yah, skripsi kamu ngena gak sih? Bikin Media Watch dunks..)
13.12.03
Anarchisme oleh: Ir. Soekarno
Salah satu faham dari socialisme ialah anarchisme. Perkataan anarchisme itu adalah terdiri dari perkataan A, archi dan isme. A artinya tidak. Archie artinya memerintah. Isme artinya faham. Jadi makna anarchisme ialah salah satu faham yang tidak suka sama pemerintahan. Anarchisme ialah salah satu faham atau aliran dari socialisme, oleh karenanya anarchisme itu adalah lawannya kapitalisme.
Seorang anarchist, ialah pemeluk faham anarchisme itu, tidak suka dengan milik (eigendom), oleh karena hak milik itu lahirnya dari kapitalisme. Selain daripada itu anarchisme itu tidak mufakat dengan tiap-tiap pemerintahan, oleh karena katanya bagaimana demokratis atau kerakyatan pula pemerintahan itu di dalam hakikatnya, tiap-tiap pemerintahan itu mengandung paksaan.
Menurut paham Anarchisme, seseorang yang hidup di dalam masyarakat itu berhak atas kemerdekaan seluas-luasnya. Hanyalah pergaulan hidup yang terdiri dari orang-orang yang merdeka itu bisa tentram dan
teratur betul. Menurut fahamnya, pergaulan hidup manusia itu bisa beres jika pemerintahan yang bersendi kepada kekuasaan, dan kekuasaan ini yang melahirkan wet-wet itu, dihapuskan. Oleh karena itu faham
anarchisme ini anti-gezag, ialah tidak mufakat dengan kekuasaan: antiwettisch, tidak mufakat dengan wet; dan antiregeering, tidak mufakat dengan pemerintahan.
Selain daripada itu faham anarchisme itu antimiliteris, ialah tidak mufakat dengan balatentara. Tidak mufakatnya itu oleh karena militerisme ini adalah suatu stelsel yang mengandung paksaan yang hebat sekali. Oleh karena militerisme ini maka pemuda-pemuda yang bisa bekerja di dalam pabrik-pabrik harus ditutup di dalam benteng-benteng. Anarchisme itu menentangi patriotisme yang hanya mengabdi kepada cinta tanah air.
Patriotisme yang kunstmatig yang dihidup-hidupkan di dalam sanubarinya orang-orang yang tidak bertanah-air, oleh karena di dalam tanah-airnya sendiri mereka menderita kelaparan, kesengsaraan dan
perbudakan. Patriotisme yang jadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah-air satu ialah menschheid. Juga mereka itu tidak mufakat dengan hakim dan polisi. Juga dengan wettelijk huwelijk, ialah perkawinan menurut wet, mereka tidak mufakat, oleh karena wettelijk huwelijk ini menjadi sebab orang perempuan tidak merdeka.
Mereka tidak mufakat dengan minum-minuman keras. Minuman keras ini merusakkan manusia lahir dan batin. Kaum Anarchist mufakat sekali dengan persamaan milik, oleh karena persamaan milik itu adalah
sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia.Hak persamaan milik itu menentukan hak-haknya seseorang atas alat-alat pembikinan barang dan atas syarat-syarat bagi kebutuhannya manusia. Dengan adanya, hak persamaan milik itu, maka aturan merampas pekerjaan lain orang akan lenyap, oleh karena semua sifat perburuhan itu tidak ada lagi. Seseorang bisa bekerja bagi dirinya sendiri.
Anarchisten itu mufakat sekali dengan persoonlikje vrijheid, ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan. Semua kemajuan itu terutama
membesarkan persoonlikje vrijheid itu, oleh karena persoonlikje vrijheid ini adalah satu alat yang terbaik bagi manusia untuk hidup bersama-sama yang rukun, tentram dan dimana seseorang itu bisa hidup
menurut wataknya sendiri-sendiri ialah pergaulan hidup yang harmonis.
Batasnya kemerdekaannya seseorang itu ialah kemerdekaannya orang dengan siapa ia itu hidup. Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya. Ketidakmerdekaannya
orang lain itu akan mengurangi sekali bahagianya sendiri dan oleh karena itu maka adalah kewajibannya seseorang bagi mencapai bahagianya sendiri haruslah menghormati kemerdekaannya lain orang.
Kaum Anarchist mufakat sekali dengan perhubungan merdeka antara lelaki dan perempuan, oleh karena hanyalah perhubungan merdeka antara kedua pihak itu itu mengasih ketentuan kepada orang perempuan hidup merdeka. Perhubungan yang bersendi atas cinta di antara perempuan dan lelaki bisalah mendatangkan kemerdekaan untuk bergaul dan untuk memilih ialah kedua syarat yang dapat melahirkan cinta yang sejati.
Cinta yang sejati ini tidak bisa lahir zonder kemerdekaan memilih. Kaum Anarchist itu setuju sekali dengan pendidikan yang merdeka, dengan vrije ontwikkeling, ialah tumbuh merdeka dengan kemerdekaan berbicara dan kemerdekaan berkumpul, oleh karena ini semua adalah syarat-syarat bagi hidupnya masyarakat yang bersendi atas rede ialah budi. Hanyalah sesudahnya kemerdekaan itu merajalela maka ilmu wetenschap dan seni bisa berkembang dan oleh karena mana mengasih bahagia dan kekuatan kepada masyarakat.
Kaum Anarchist adalah menganjuri persaudaraan yang kekal yang lahirnya dari batin, bukan oleh karena paksaan dan didikan yang kunstmatig. Menurut faham anarchisme orang itu adalah mahluk yang suka bercampurgaul dan tidak bisa dipisahkan dari keadaan dimana ia ditempatkan. Persaudaraan itu adalah lahirnya perasaan dan budi pekerti yang suci dan luhur, oleh karena manusia itu menurut natuurnya harus hidup bersama-sama.
Tetapi tiap-tiap orang itu merdeka memilih dengan siapa ia mau bergaul. Semua hal yang memisah-misahkan manusia seperti warnanya muka, bahasa, bangsa, agama, politik itu harus dilenyapkan dan harus
dicari apa yang bisa mempersatukan semua manusia. Menurut faham Anarchisme bukanlah masyarakat yang terpenting tetapi individu, ialah seseorang yang di dalam masyarakat itu yang terpenting. Tinggi dan
rendahnya tingkatannya masyarakat itu ditetapkan oleh kualitasnya seseorang dari siapa pergaulan hidup itu sendiri.
Seseorang hidup dan tumbuh menurut wataknya sendiri-sendiri dan juga menurut aanlegnya atau kodratnya sendiri-sendiri. Tiap-tiap kemajuan itu ialah terjadi dari tumbuhnya dan lahirnya benih-benih yang tersimpan dan hidup di dalam seseorang. Oleh karena itu anarchisme itu di dalam hakikatnya ialah teori individualisme, teori yang menghargakan manusia lebih dari masyarakat.
terima kasih untuk alfred ginting atas kiriman artikel ini.
Salah satu faham dari socialisme ialah anarchisme. Perkataan anarchisme itu adalah terdiri dari perkataan A, archi dan isme. A artinya tidak. Archie artinya memerintah. Isme artinya faham. Jadi makna anarchisme ialah salah satu faham yang tidak suka sama pemerintahan. Anarchisme ialah salah satu faham atau aliran dari socialisme, oleh karenanya anarchisme itu adalah lawannya kapitalisme.
Seorang anarchist, ialah pemeluk faham anarchisme itu, tidak suka dengan milik (eigendom), oleh karena hak milik itu lahirnya dari kapitalisme. Selain daripada itu anarchisme itu tidak mufakat dengan tiap-tiap pemerintahan, oleh karena katanya bagaimana demokratis atau kerakyatan pula pemerintahan itu di dalam hakikatnya, tiap-tiap pemerintahan itu mengandung paksaan.
Menurut paham Anarchisme, seseorang yang hidup di dalam masyarakat itu berhak atas kemerdekaan seluas-luasnya. Hanyalah pergaulan hidup yang terdiri dari orang-orang yang merdeka itu bisa tentram dan
teratur betul. Menurut fahamnya, pergaulan hidup manusia itu bisa beres jika pemerintahan yang bersendi kepada kekuasaan, dan kekuasaan ini yang melahirkan wet-wet itu, dihapuskan. Oleh karena itu faham
anarchisme ini anti-gezag, ialah tidak mufakat dengan kekuasaan: antiwettisch, tidak mufakat dengan wet; dan antiregeering, tidak mufakat dengan pemerintahan.
Selain daripada itu faham anarchisme itu antimiliteris, ialah tidak mufakat dengan balatentara. Tidak mufakatnya itu oleh karena militerisme ini adalah suatu stelsel yang mengandung paksaan yang hebat sekali. Oleh karena militerisme ini maka pemuda-pemuda yang bisa bekerja di dalam pabrik-pabrik harus ditutup di dalam benteng-benteng. Anarchisme itu menentangi patriotisme yang hanya mengabdi kepada cinta tanah air.
Patriotisme yang kunstmatig yang dihidup-hidupkan di dalam sanubarinya orang-orang yang tidak bertanah-air, oleh karena di dalam tanah-airnya sendiri mereka menderita kelaparan, kesengsaraan dan
perbudakan. Patriotisme yang jadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah-air satu ialah menschheid. Juga mereka itu tidak mufakat dengan hakim dan polisi. Juga dengan wettelijk huwelijk, ialah perkawinan menurut wet, mereka tidak mufakat, oleh karena wettelijk huwelijk ini menjadi sebab orang perempuan tidak merdeka.
Mereka tidak mufakat dengan minum-minuman keras. Minuman keras ini merusakkan manusia lahir dan batin. Kaum Anarchist mufakat sekali dengan persamaan milik, oleh karena persamaan milik itu adalah
sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia.Hak persamaan milik itu menentukan hak-haknya seseorang atas alat-alat pembikinan barang dan atas syarat-syarat bagi kebutuhannya manusia. Dengan adanya, hak persamaan milik itu, maka aturan merampas pekerjaan lain orang akan lenyap, oleh karena semua sifat perburuhan itu tidak ada lagi. Seseorang bisa bekerja bagi dirinya sendiri.
Anarchisten itu mufakat sekali dengan persoonlikje vrijheid, ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan. Semua kemajuan itu terutama
membesarkan persoonlikje vrijheid itu, oleh karena persoonlikje vrijheid ini adalah satu alat yang terbaik bagi manusia untuk hidup bersama-sama yang rukun, tentram dan dimana seseorang itu bisa hidup
menurut wataknya sendiri-sendiri ialah pergaulan hidup yang harmonis.
Batasnya kemerdekaannya seseorang itu ialah kemerdekaannya orang dengan siapa ia itu hidup. Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya. Ketidakmerdekaannya
orang lain itu akan mengurangi sekali bahagianya sendiri dan oleh karena itu maka adalah kewajibannya seseorang bagi mencapai bahagianya sendiri haruslah menghormati kemerdekaannya lain orang.
Kaum Anarchist mufakat sekali dengan perhubungan merdeka antara lelaki dan perempuan, oleh karena hanyalah perhubungan merdeka antara kedua pihak itu itu mengasih ketentuan kepada orang perempuan hidup merdeka. Perhubungan yang bersendi atas cinta di antara perempuan dan lelaki bisalah mendatangkan kemerdekaan untuk bergaul dan untuk memilih ialah kedua syarat yang dapat melahirkan cinta yang sejati.
Cinta yang sejati ini tidak bisa lahir zonder kemerdekaan memilih. Kaum Anarchist itu setuju sekali dengan pendidikan yang merdeka, dengan vrije ontwikkeling, ialah tumbuh merdeka dengan kemerdekaan berbicara dan kemerdekaan berkumpul, oleh karena ini semua adalah syarat-syarat bagi hidupnya masyarakat yang bersendi atas rede ialah budi. Hanyalah sesudahnya kemerdekaan itu merajalela maka ilmu wetenschap dan seni bisa berkembang dan oleh karena mana mengasih bahagia dan kekuatan kepada masyarakat.
Kaum Anarchist adalah menganjuri persaudaraan yang kekal yang lahirnya dari batin, bukan oleh karena paksaan dan didikan yang kunstmatig. Menurut faham anarchisme orang itu adalah mahluk yang suka bercampurgaul dan tidak bisa dipisahkan dari keadaan dimana ia ditempatkan. Persaudaraan itu adalah lahirnya perasaan dan budi pekerti yang suci dan luhur, oleh karena manusia itu menurut natuurnya harus hidup bersama-sama.
Tetapi tiap-tiap orang itu merdeka memilih dengan siapa ia mau bergaul. Semua hal yang memisah-misahkan manusia seperti warnanya muka, bahasa, bangsa, agama, politik itu harus dilenyapkan dan harus
dicari apa yang bisa mempersatukan semua manusia. Menurut faham Anarchisme bukanlah masyarakat yang terpenting tetapi individu, ialah seseorang yang di dalam masyarakat itu yang terpenting. Tinggi dan
rendahnya tingkatannya masyarakat itu ditetapkan oleh kualitasnya seseorang dari siapa pergaulan hidup itu sendiri.
Seseorang hidup dan tumbuh menurut wataknya sendiri-sendiri dan juga menurut aanlegnya atau kodratnya sendiri-sendiri. Tiap-tiap kemajuan itu ialah terjadi dari tumbuhnya dan lahirnya benih-benih yang tersimpan dan hidup di dalam seseorang. Oleh karena itu anarchisme itu di dalam hakikatnya ialah teori individualisme, teori yang menghargakan manusia lebih dari masyarakat.
terima kasih untuk alfred ginting atas kiriman artikel ini.
11.12.03
Maaf Sampai Mati!
Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa. Remy Silado membuka Ca Bau Kan dengan kalimat itu. Saya tidak ke Jakarta pagi itu, saya ke Bekasi, sebuah kota tempat di mana saya pernah dibesarkan. Dan saya mencari jejak pendosa. Jejak saya sendiri…
“Hebat Sekali. Pada akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Bahkan dosa sekalipun!”
Saya minta maaf. Secepatnya saya harus pulang. Dan, rasanya saya harus menyalami teman-teman semua, terutama untuk sepatah-dua pengakuan dosa. Aih… dosa-dosa ini.
Saya mohon maaf kepada mereka yang yang tertidur di saat saya berangkat: Dasuki, Dahrun, Endrie, Chokie, dan Novan. (Betapa membingungkan jika saya harus membangunkan kalian semua). Lalu untuk teman-teman di Panorama, mashokis team. Barangkali benar, Drie, mestinya malam tadi kita pergi ke gerbang. Pepeng dan Ade, saya minta maaf. Sebisa mungkin saya terus berhubungan dengan kalian.
Juga untuk yang lainnya. Yang lainnya. Yang lainnya.
Maaf Sampai Mati!
# kalian dapat salam dari Eka. Dia sudah duluan. Pagi-pagi sekali, belum ada matahari!
Pesan itu saya tulis di sebuah kertas putih yang saya dapati begitu saja. Itu jam setengah delapan pagi, di hari Sabtu tanggal 15 November. Sebuah pagi yang mendung yang membuat saya sedikit ragu untuk memutuskan sebuah perjalanan pulang. Membuat saya sedikit berlama-lama terdiam di ruang tengah rumah biru, memandangi mereka yang tertidur begitu pulas, beberapa mendengkur halus, yang dengan segera mengingatkan saya kepada dengkur bayi-bayi. Di belakang saya, berdesakan buku-buku dalam rak, seolah berebutan dengan begitu tergesa-gesanya untuk ke luar, menjatuhkan dirinya dan kemudian membiarkan halaman-halamannya terbuka dimain-mainkan angin pagi. Buku-buku itu.
Semuanya pasti akan terkenang-kenang nanti, muncul begitu saja di kepala serupa gelombang-gelombang halus pantai, datang dan pergi silih berganti. Seperti misalnya kejadian semalam. Sebuah pesan saya kirim kepada seorang kawan baik di Yogya, “Demi tuhan, betapa menyebalkannya menjadi seorang pemimpi!” Tak sampai sepuluh detik, dia membalasnya, “Kau kenapa? Aku lagi on-line sekarang!” Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera pergi menuju warnet, menyerahkan diri dalam labirin maya yang begitu rumit. Dan dia menyapa, “Hai!” Malam itu, 14 Desember, adalah malam di mana kekesalan telah memuncak begitu rupa, di Jatinangor, tempat yang rasa-rasanya tak perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk mencapai kebusukannya. Sementara dia, dia sedang begitu tentramnya di sebuah rumah budaya, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, mengerjakan sesuatu yang dia cintai begitu liar: menulis. Di beranda, ceritanya, ada Puthut EA dan kawan-kawannya sedang melingkari gelas-gelas kopi, membicarakan begitu banyak hal seraya tertawa-tawa. Dia kembali bertanya, “kau kenapa?” Tak ada, kataku. Hanya sedang sebal kepada sederetan filsuf yang ternyata berkepala penuh bualan-bualan. Dia tertawa. Hanya tertawa. Lalu dia katakan, “Mam, aku jatuh cinta (lagi)” Itulah, jawabku, aku pikir aku pun begitu.
Ehm…
Tapi dia bahkan telah menulis dua belas prosa akibat rasa cintanya itu. Menulis! Saya ceritakan sedikit tentang dia. Dia saya kenal sekira dua tahun lalu, tidak, tiga tahun lalu. Di akhir tahun 2000 di sebuah ruang gelap maya. Malam itu dia menawakan diri untuk membacakan puisinya. Saya menghampirinya, bertanya begitu saja: kau senang puisi? Dia sekolah di negara yang lain dengan saya, di benua yang lain. Kelas tiga SMU. Yang mengejutkan, dia punya satu cita-cita yang rasa-rasanya tak pernah bisa saya mengerti sampai kapan pun: kuliah di Yogyakarta! Saya membujuknya untuk jangan pernah menyimpan keinginan bersekolah di Indonesia, dengan sistem pendidikan seperti ini, maka segenap potensi yang telah ada dalam dirinya akan menjadi percuma begitu saja. Kau sudah bagus di Australia, untuk apa ke Indonesia? Jawabnya, “Ada Eka Kurniawan di Yogya”. Menulis! Bahkan dia hanya ingin berkumpul dengan para penulis di Yogya. Eka Kurniawan adalah cerita lain lagi, seorang penulis yang novelnya baru terbit dan konon yang terpanjang yang pernah ditulis penulis Indonesia. Dan kelak, selama libur di rumah, pagi-pagi saya banyak diisi dengan membaca novelnya itu. Baca dan baca lagi.
Seperti itulah, hingga akhirnya dia benar-benar kuliah di Yogyakarta, dua tempat sekaligus: Sejarah Universitas Gadjah Mada dan Fotografi Institut Seni Indonesia. Dan menjadi penulis. Di malam saat saya mengirim pesan itu kepadanya, bahkan dia sempat menulis sebuah puisi untuk Puthut EA, penulis yang sama hebatnya dengan Eka Kurniawan, bagi saya. (Ini sungguhan, bahkan surat-surat Puthut dan Eka yang pernah saya baca di berbagai media mempunyai kekuatan yang membuat saya harus mengakui bahwa Puthut begitu menggetarkan. Puthut dan Eka yang Dahsyat). Ini puisinya:
Demi Yang Maha EA
:p.e.a.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
berapa banyak yang dibutuhkan seseorang untuk menggoncang dunia?
atau hanya dalam beberapa tangisan dalam satu malam?
kau sedang mencari kesepian dimana-mana, bahkan dalam sekeping obrolan dan segelas kopi pait.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
masih sangat.
dalam kursi bambu yang juga hangat.
yk, 141103
Malam itu, bagaimanapun, saya memimpikan untuk bisa tidur. Karena malam-malam sebelum malam itu, percayalah, sekalipun saya tak pernah bisa tidur sebelum langit timur mulai berwarna terang. Tapi gagal, selalu gagal. Karena tepat jam setengah dua dini hari, sebuah pagi yang buta, seorang kawan datang dengan buku-buku yang baru saja ia beli. Ditemani segelas sirup jahe pemberian seorang kawan, kami bicara, juga dengan kawan-kawan yang lain, tentang mimpi untuk membuat semacam media penulisan kreatif di Jatinangor. Lalu pembicaraan melompat-lompat, pertama kali ke wilayah cerpen, lalu penulis-penulis, gosip-gosip, dan akhirnya cinta-cinta. Cinta…
Itu berlangsung hingga pagi begitu ribut dengan suara-suara yang keluar dari surau-surau. Suara-suara yang diharapkan mampu membangunkan mereka yang tertidur untuk melaksanakan sahur. Jam tiga pagi, kesunyian dengan segera menyeret saya menuju warung mencari makan. Kenyataannya, saya tidak makan, melainkan membuat segelas kopi dan mengambil beberapa batang rokok. Sebuah pagi sahur tanpa makan. Hingga kemudian saya benar-benar tertidur pada pukul lima lebih sedikit. Dari jendela mungil yang agak tinggi, bersebelahan dengan photo Soekarno yang sedang tersenyum, saya melihat matahari telah mulai memutih. Tuhan, apa lagi, saya hanya ingin tertidur?!
Saya hanya ingin tertidur pagi itu. Karena nanti, jam delapan pagi, sudah seharusnya saya berada di dalam bus yang menuju kota saya dibesarkan. Tidak bisa tidak, sore hari nanti sebabnya. Sebuah janji telah saya sepakati dengan kawan-kawan di Bekasi. Janji yang tak pantas untuk disesatkan. Kami akan bertemu membunuh sore nanti, melewatinya dengan canda-canda yang dapat dipastikan akan begitu kelewatan, dan lalu berbuka puasa bersama. Yang membahagiakan: saya tertidur pagi itu. Yang menyebalkan: saya hanya tidur satu setengah jam lamanya.
Hingga kemudian saya terbangun di pukul setengah delapan pagi dan mengusir paksa kemalasan dengan menyegerakan diri berjalan ke kamar mandi. Lalu duduk membelakangi buku-buku yang berdesakan di dalam rak seraya mendengarkan dengkuran halus beberapa kawan. Menemukan sebuah kertas putih dan mulai menuliskan pesan tadi, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan plastik perekat yang saya ambil dari sepucuk undangan pernikahan. Saya pulang meski mungkin akan turun hujan. Sudah semestinya.
***
Sepanjang perjalanan saya mengusahakan diri untuk tetap terjaga. Sebuah perjalanan akan terasa percuma jika dilewatkan begitu saja karena pasti akan banyak yang dapat terlihat, yang mungkin dapat memberi perspektif lain bagi diri saya dalam menjalani hidup, tentu saja. Tapi percuma. Pagi, menjelang siang, yang sejuk dan sedikit mendung membuat saya benar-benar tertidur dalam perjalanan dan baru terjaga saat bus nyaris sampai di kota saya. Bekasi. Inilah sebuah kota yang begitu aneh. Saya merasa seperti turis yang datang berkunjung untuk pertama kalinya di kota ini. Bagi saya aneh, karena, seperti keajaiban yang terus terjadi berulang-ulang, setiap saya kembali datang ada saja yang berubah dari kota ini. Seperti dulu, beberapa bulan lalu. Dulu di tepi sungai kotor itu belum ada gedung parlemen kota, dan kini lihatlah, gedung itu berdiri begitu megahnya. Juga di perempatan ramai itu, dulu sisi sebelah barat jalan adalah sawah belaka, tapi betapa mengejutkannya, kini sebuah pusat perbelanjaan berdiri begitu sombongnya sementara sesungguhnya tak jauh dari sana telah ada pusat perbelanjaan serupa. Saya tidak tahu itu mal keberapa di kota ini, yang saya tahu pengemis, anak-anak jalanan menjadi begitu banyak di kota ini. Seperti siang itu, dari balik jendela angkot saya melihat beberapa “orang-orang jalanan” tengah istirahat di bawah pohon yang teduh di tepi sungai. Saya kira mereka adalah sebuah keluarga, ada seorang kakek, beberapa lelaki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak kecil. Mereka duduk melingkar tak teratur dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Sementara itu, di seberang sungai tempat mereka istirahat, berdiri pusat perbelanjaan megah dengan papan-papan iklan di setiap meter dindingnya. Inilah sebuah kota, di mana saya tak pernah merasa aman. Kehidupan saya terteror dengan selentingan-selentingan ketidaknyamanan yang bisa dipastikan setiap orang bisa menceritakannya.
Bagaimanapun, saya sampai di rumah. Sebuah rumah mungil yang menggairahkan. Berbeda dengan kota ini, rumah ini tak begitu banyak berubah, kecuali kini di timur beranda ada sebuah rak rotan yang dulu dipakai menyimpan koran dan majalah dan kini menjadi tempat bagi sepatu dan sandal. Lalu kursi-kursi yang berubah warna, menjadi warna hijau yang begitu saja mengingatkan saya pada agar-agar segar. Sebuah ingatan yang menjadi lelucon untuk saya dan keluarga.
Saya masih mengantuk dan berniat untuk meneruskan tidur di rumah ini. Kenyataannya saya tak pernah bisa kembali tidur, saya harus melayani semua pembicaraan yang dilancarkan oleh orang tua dan kakak saya. Mendiskusikan isi koran-koran pagi, tentang kuliah, tentang apa pun. Hingga jarum jam ternyata telah tepat berdiam di atas angka empat. Jam empat sore. Saya belum tidur. Saya belum mandi. Belum melakukan apapun meski saya ada janji sore ini. Maka saya mandi dan segera berpakaian.
Dan tuhan, apa artinya doa-doa jika tidur adalah sebuah perkara sulit?
***
Itulah sebuah sore yang menyenangkan, sebuah sore yang menyeret saya ke sebuah kenangan tiga tahun lampau, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama kawan-kawan yang membahagiakan, sebuah kenangan dengan peristiwa-peristiwa kecil yang tak akan lari sampai kapan juga dari ingatan. Kami, kawan-kawan sekolah dulu, berkumpul sore itu, berkumpul kembali. Dengan cerita-cerita baru, peristiwa-peristiwa baru, lelucon-lelucon baru, dan rambut-rambut baru. Dulu si itu pernah berkelahi di depan kelas dengan si ini, si dia pernah ketahuan membawa sebungkus rokok di saku baju sekolahnya begitu memasuki kelas oleh guru, si itu dulu rambutnya ikal dan kini saat mode berganti, rambutnya tiba-tiba menjadi selurus paku. Semua kenangan itu diputar kembali bersama-sama di sebuah beranda rumah seorang kawan. Dan kami tertawa-tawa. Begitu renyahnya, begitu akrabnya…
Sampai malam kemudian datang dan mengharuskan semuanya kembali kepada urusan masing-masing. Saya pulang, diantar tiga motor sekaligus. Mandi dan bersiap tidur. Dan seperti kabar buruk, tak lama berselang, seorang kawan menelepon. Apa kabar, kapan sampai, sedang apa, dan mengajak saya keluar. Apapun, kenyataannya malam itu saya urung tidur, saya keluar dengan sepeda motornya, berdua. Dia adalah seorang kawan yang lain lagi. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya saja kini dia telah lulus kuliah, hal yang mebuat risau ibu saya, “Kau masuk bareng dengannya, kenapa tidak lulus bareng?” Dan jika ibu saya sudah bertanya seperti itu, maka inilah jawaban yang terus saya ulang-ulang, yang saya kutip dari seorang kawan di Yogya yang telah saya ceritakan di atas: “Yah, orang kan beda-beda.” Salah satu kalimat favorit. Kami berputar-putar sambil bercerita banyak hal, dan terutama, lagi-lagi, tentang cinta!
***
Dari manakah semua kekejaman bermula? Kekejaman itu terjadi begitu saja di dini hari yang melelahkan. Dan sayalah pelaku kekejaman itu. Saya sedang menyelesaikan sebuah novel tua karangan penulis Rumania yang saya dapati di rak buku ayah saya, “Peradilan Terakhir” Petru Dimitriu. Sesungguhnya, sejak SMU saya telah berusaha menyelesaikan novel itu, tapi itu bukan perkara mudah, percayalah. Kertas-kertas di buku itu telah begitu menguning, bahkan kecoklat-coklatan, ditambah dengan ejaan bahasa Indonesia jauh sebelum disempurnakan. Belum lagi struktur cerita yang membingungkan: si ini bercerita tentang si itu yang kemudian dilanjutkan si itu menceritakan si dia yang lain lagi. Rasanya itu adalah cerita dari seorang penulis yang antikomunis. Banyak saya baca cerita-cerita yang menampilkan sisi buruk komunisme. Dan malam itu saya berjanji untuk membuat sebuah risalah tentang pengalaman membaca novel itu.
Kekejaman itu terjadi, begitu saja dengan mudahnya. Di telapak tangan saya tertinggal begitu banyak bercak darah. Merah. Saya yakinkan itu darah saya sendiri. Darah saya sendiri yang dihisap tanpa izin dari nyamuk yang rasanya begitu banyaknya hingga niscaya tak seorang pun yang akan sanggup menghitungnya. Haruskah saya membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan begitu kejamnya? Dan jika pertanyaan ini mulai muncul, ingatan saya dengan segera memunculkan sebuah dialektika buntu seorang tokoh dalam novel karangan Dwi Hendro Basuki, “Dari Pojok Kamar Paling Belakang”, yang diterbitkan secara indie oleh temannya sendiri. “Apakah harus dengan membunuhnya?” Itu pertanyaan tokoh tersebut saat menghadapi nyamuk-nyamuk di kamarnya, pertanyaan yang membingungkan karena ia teringat pula pada seorang tetangganya yang mati karena demam berdarah! Tahukah, saya telah membunuh begitu banyak nyamuk dini hari itu!
Mengapa di kamar ini terlalu banyak nyamuk? Mungkinkah seperti yang pernah diceritakan di sebuah film produksi pemerintah tentang pemberontakan partai komunis di negeri ini, saat seorang jenderal mendapati kamarnya begitu banyak nyamuk, tak seperti biasanya, dan beberapa jam kemudian, ia dibunuh. Semacam isyarat untuk berfirasat. Sesuatu pikiran yang mengada-ada. Yang saya putuskan: saya membakar rokok, memakai lotion antinyamuk, dan melanjutkan membaca. (Tapi, bagaimana nyamuk-nyamuk itu akan mendapatkan makanan jika saya memakai lotion antinyamuk, tidakkah ini bentuk kekekajaman yang lain lagi?)
Di sore keesokan harinya, 17 november, saya terbangun dari tidur dan mendapati langit yang menurunkan hujan begitu derasnya, hujan yang rasa-rasanya tak akan pernah berhenti untuk ratusan tahun lamanya dan akan menenggelamkan begitu banyak kota di negeri ini. Sore yang basah. Dan sendu. Pagi tadi, sesaat sebelum saya tertidur, saya telah membuat janji dalam hati untuk mengakrabi kembali benda-benda di rumah ini. Saya ingin kembali menyentuhnya, mengamati setiap detail sudut rumah dengan segala benda-bendanya. Tapi bohong, karena kenyataannya saya hanya bisa diam saat rak sepatu di timur beranda rumah menjadi basah oleh hujan yang menggila dan saya hanya melihatnya. Hanya melihatnya dan berkomentar, “kasihan sekali, pasti akan rusak tak lama lagi”.
Saya ingin mengakrabi kembali bermacam-macam benda di rumah ini, karena biasanya selalu saja ada kejutan yang datang menghampiri. Seperti dulu misalnya, saya mendapati rekaman kaset prosesi pernikahan orang tua saya, atau juga sekoper photo-photo tua, photo-photo leluhur dan kakak-kakak saat masih kecil dulu (sementara tak saya dapati satupun photo bergambar saya!). Atau saat saya menemui buku yang saya baca sekarang, “Peradilan Terakhir”, di rak buku ayah saya. Mengakrabi benda-benda, lalu mencoba menyelematkannya dari kerusakan yang mengancam, akan banyak manfaatnya, saya yakini itu.
Di malam harinya, juga malam-malam berikutnya, banyak saya habiskan bersama kawan-kawan lama. Seorang kawan, di hari ketiga saya di rumah, pulang dari Padang, tempat kuliahnya, dan mengundang saya untuk main ke rumahnya. Sebuah pertemuan yang mirip pada saat saya bertemu dengan kawan-kawan SMU dulu, menyeret saya ke rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi jauh di belakang. Dia banyak bercerita malam itu. Dan, lagi-lagi, yang saya dengar banyak yang berkisar di perkara cinta. Lagi-lagi cinta…
***
Barangkali satu-satunya yang saya sesali selama kepulangan di rumah adalah insomnia. Penyakit itu, terkutuklah dirinya. Sebenarnya kepulangan saya disertai harapan untuk dapat memperbaiki pola tidur yang menjadi semakin berantakan di beberapa bulan terakhir. Tapi gagal, karena ternyata tidur tiba-tiba menjadi suatu perkara rumit dan melelahkan. Selalu seperti ini: tertidur dua jam lalu terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga masa liburan benar-benar usai tanpa saya bisa memperbaiki pola tidur saya itu. Seolah-olah setiap hari adalah pengulangan hari-hari sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan terkutuknya hidup yang seperti itu. Suasana liburan membuat diri tak produktif sama sekali.
***
Di suatu pagi saya terbangun begitu rupa dengan kekesalan yang tumpah tak terkendali. Sebuah mimpi bagus telah rusak. Dan inilah mimpi itu:
Jakarta begitu gelap, senja baru saja berakhir dan hitam mulai memayungi Jakarta. Tapi di jalan-jalan begitu ramai orang-orang. Seketika Jakarta menjadi merah, merah api. Dalam mimpi itu saya adalah seorang wartawan. Dan di jalanan itu sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara dengan kekuatan penuh bersiaga dengan senjata di pundak mereka. Yang menyedihkan, mahasiswa-mahasiswa itu terpecah ke dalam beberapa tempat. Tidak, tidak terpecah, tapi dipecah oleh para tentara yang mulai memprovokasi mahasiswa agar marah dan bertindak brutal. Tentara mulai membakar benda-benda di tengah jalan, semakin memisahkan barisan mahasiswa demonstran. Di saat saya sibuk membujuk para pimpinan mahasiswa untuk tetap satu barisan, meski saya seorang wartawan, para mahasiswa mulai membawa beberapa truk sampah untuk di bakar di tengah jalan: mereka mulai terpancing tentara untuk bertindak brutal. Itulah saat-saat saya merasakan kemarahan terhadap tentara, seperti yang pernah saya lakukan saat dulu berdemonstrasi di depan gedung parlemen. Saya mencoba menghampiri tentara, menemui pimpinan mereka di sebuah pos di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah apa yang saya temui di dalam pos: saya menemui Jenderal Besar Soeharto, mantan presiden itu di dalam pos sedang memberi pengarahan pada pimpinan tentara yang hendak saya temui! Dia begitu renta namun sehat, berpakaian putih-putih selayaknya seorang haji, duduk berhadapan dengan pimpinan tentara itu. Ups. Saya putuskan untuk melaju ke tengah-tengah arena demonstrasi yang semakin panas merah api, naik ke atas mobil yang disulap menjadi panggung orasi. Saya mengambil pengeras suara dan berorasi dengan penuh kemarahan. Saya, dalam orasi saya itu, mengajak mahasiswa dan tentara untuk bersatu. Saya mengajak mereka untuk mempercayai bahwa kita semua adalah korban dari golongan-golongan korup yang merusak negeri ini, saya mengajak mereka untuk berhenti melakukan kekerasan dan menghindari perang saudara. Saya membujuk tentara untuk tidak menaati pimpinan-pimpinan yang memerintahkan mereka untuk menembaki rakyatnya sendiri, pimpinan-pimpinan yang korup dan hidup dengan fasilitas-fasilitas mewah. Dan saya terbangun!
Begitu saja. Bermenit-menit saya memikirkan mimpi itu di atas tempat tidur saya. Soeharto. Orang tua itu, siapa yang ingat dia sekarang? Sedang apa dia? Sejauh mana proses pengadilannya? Saya membayang-bayangkan diri saya ditembak saat saya sedang berorasi di atas mobil itu. Dan melihat negeri ini menjalani masa-masa revolusinya dengan damai menuju perbaikan. Tapi, mengapa saya terbangun?
Apapun, saya telah terbangun. Dan lagi-lagi tak bisa tidur sampai pagi hari meski itu baru saja jam setengah satu pagi. Saya ke dapur membuat segelas sirup, membakar sebatang rokok dan membaca. Soeharto…
***
Itulah saat saya menyelesaikan “Peradilan Terakhir” dan kemudian beralih ke buku lainnya lagi, “Cantik Itu Luka”, karangan Eka Kurniawan. Sesungguhnya saya telah membacanya sejak pertama beli beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, saya tak bisa tidak mengingat Gabriel Garcia Marquez yang menulis Seratus Tahun Kesunyian. Eka Kurniawan sendiri mengakui kalau dia sangat mengagumi Marquez dan kemudian terpengaruh olehnya. Berbeda dengan saat pertama kali saya membacanya, kali ini saya banyak menemui hal-hal berbau humor yang fantastis, atau barangkali ironis. Marquez dalam Seratus Tahun Kesunyian pernah menceritakan saat wabah lupa melanda Macondo, yang membuat keluarga Buendia kerepotan. Saat wabah itu menyerang untuk kedua kalinya, mereka telah mengantisipasinya dengan menuliskan nama-nama benda di atas kertas dan lalu menempelkannya di benda-benda tersebut. Tidak seperti saat wabah lupa pertama kali menyerang yang membuat mereka lumpuh dalam menjalani banyak roda kehidupan, kali ini mereka lebih siap menghadapi wabah lupa itu. Karena kini mereka tidak lupa mana yang namanya panci, kursi, bahkan sapi. Di atas meja kini tertulis, “ini namanya meja”, di atas kursi di tulis, “ini namanya kursi”. Di sapi bahkan ditulis, “ini namanya sapi, hewan berkaki empat, dan setiap pagi susunya harus di perah untuk kemudian di minum untuk menyehatkan badan”. Bahkan belakangan tulisan-tulisan itu menyentuh perkara ketuhanan, di dinding-dinding kini tertulis, “tuhan itu ada”. Begitulah, rumah keluarga Buendia menjadi penuh akan tulisan-tulisan untuk mencegah mereka dari wabah lupa. Humorkah ini?
Juga ada tipe-tipe seperti itu di Cantik Itu Luka. Seperti cerita tentang Shodanco, seorang pejuang gerilya yang begitu legendaris, yang untuk mereka yang jeli akan segera mengingatkan pada Supriyadi, gerilyawan alumnus PETA bentukan Jepang. Orang-orang Halimunda, latar novel tersebut, mempercayai bahwa jika saja Soekarno-Hatta tidak memproklamasikan Indonesia, maka Shondanco-lah yang akan memproklamasikannya. Bahkan, diceritakan pula bahwa sesungguhnya ia telah ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Panglima Tentara Indonesia. Apa daya, surat itu baru sampai berbulan-bulan setelah Indonesia merdeka, lagi pula, seandainya surat itu sampai tepat waktu, Shondaco pun tak menginginkan jabatan itu, ia lebih memilih Halimunda dan ngotot mempertahankan pangkat kolonelnya, meski ditawari pangkat yang lebih tinggi hingga kemudian Soekarno mengangkat gerilyawan yang lain lagi, Soedirman.
Ada yang lebih lucu (atau ironis), masyarakat Halimunda merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 23 September dan bukannya 17 Agustus, ini dikarenakan pada tanggal itulah Shondanco untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sebulan sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Ia mengetahuinya dari mulut sesosok mayat yang ia temukan di tepi pantai saat ia menghindar dari pembasmian gerilyawan oleh tentara Jepang. Mulut mayat itu menyimpan salinan naskah proklamasi. Berkali-kali pemerintah mencoba meluruskan hal ini, bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus dan bukannya 23 September kepada masyarakat Halimunda. Tapi bahkan itu selalu gagal, karena masyarakat Halimunda akan tetap melakukan upacara dan pesta pada setiap tanggal 23 September.
Kelucuan itu tak berhenti sampai situ. Ada kelucuan lain lagi, yaitu saat di mana Shondanco telah menjadi komandan rayon militer Halimunda dan saat tentara republik memperbaiki manajemen mereka. Seluruh laskar perang republik diharuskan untuk bergabung ke dalam satu badan, Tentara Keselamatan Rakyat, yang lalu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Shondanco yang merasa dipermainkan dengan hal ini berkata kepada para pengikutnya, jika berganti nama lagi, maka kita akan berperang melawan Indonesia. Sampai di suatu pagi saat ia bersama beberapa prajuritnya memasang papan nama di markas rayon militer Halimunda yang bertuliskan Tentara Republik Indonesia Rayon Militer Halimunda, datang seorang prajurit lainnya yang membawa kabar bahwa tentara Indonesia berganti nama lagi, kali ini menjadi Tentara Nasional Indonesia. Prajuritnya bertanya kepada Shondanco, “Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” Dan dijawab Shondanco, “Tidak, bahkan negeri ini baru belajar membuat nama.”
Banyak hal-hal yang membuat saya tertawa waktu itu. Tentang Kamerad Kliwon misalnya, seorang komunis yang saat hendak dihukum mati, dan ditanya apa keinginannya yang terakhir menjawab, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” Atau juga tentang Dewi Ayu sendiri, tokoh utama novel ini, yang mengatakan tuhan telah mencuri cincin-cincinnya yang telah ia sembunyikan sebelum ia diangkut Jepang menuju Bloddenkamp dan kemudian menjadi pelacur. Karena menurutnya, hanya ia dan tuhan-lah yang tahu tempat ia menyembunyikan cincin-cincin itu. Jadi, jika cincin-cincin itu lenyap, maka tuhan berarti telah mencurinya. Lalu tentang hantu-hantu komunis, ini tentu saja mengingatkan mereka yang telah membaca Marquez kepada Seratus Tahun Kesunyian.
***
Di suatu siang telepon tiba-tiba berdering. Itu dua hari sebelum lebaran. Sebuah telepon dari seorang kawan SMP dulu. Sebuah berita duka yang mengejutkan: seorang kawan telah meninggal dunia. Kematian, seperti halnya seribu kesedihan lain, seperti tak pernah jauh dari hidup ini. berkeliaran di mana-mana, menghampiri siapapun yang dikehendaki. Sesungguhnya ada semacam firasat beberapa hari sebelumnya, bahwa akan ada yang saya lihat untuk terakhir kalinya tanpa pernah melihatnya lagi sampai kapan juga. Seorang kawan saya kabari dan tak memercayainya. Lima menit setelah saya mengabarinya ia kembali menghubungi saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi bukan mimpi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Saya jawab, “itu benar” dan menyarankannya untuk mencoba menghubungi kawan yang memberi tahu saya untuk pertama kali. Sampai malam harinya, saat saya bertemu dengan kawan saya tersebut di rumah duka, ia bercerita bahwa ia telah menyusun janji dengan kawan saya yang meninggal tersebut, bahwa akhir bulan nanti, setalah masa gajian, mereka akan saling mentraktir. “Bahkan,” katanya kepada saya, “sesaat sebelum kau telepon, aku masih misscall dia!” Sesungguhnya, beberapa minggu sebelumnya, saya pernah mendapati kabar bahwa ia sedang dekat dengan kawan saya yang meninggal siang tadi.
Kawan saya itu, begitu mudanya, seumur dengan saya. Ibunya saya dapati di sisi jenazah dengan mata yang memerah dan sembab. Ia memohon maaf untuk anaknya yang kini terbujur kaku di hadapannya. Kejadian itu, bagaimanapun, memaksa saya untuk terus mengingat kematian karena ia bisa datang kapan ia mau menghampiri saya. Di dinding di hadapan saya, terpampang photo kawan saya itu dengan pakaian toga. Ia baru saja wisuda dan baru saja bekerja! Ia hanya dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Gatot Subroto, dan itu sama sekali tak menolongnya, ia tetap meninggal dunia, meninggalkan seorang Ibu yang kini menangis di samping saya.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang, karena ternyata begitu banyak kawan-kawan SMP dulu yang hadir di rumah duka, kawan-kawan yang saya kira tak akan pernah saya lihat lagi sesudah lulus SMP. Kabar-kabar berkeliaran begitu rupa. Ternyata ada yang telah menikah, ada yang telah memiliki anak, ada yang telah sembuh dari narkotika, ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, ada yang berpacaran dengan si anu, begitu rupa-rupa. Dan kami memutuskan untuk tidak berhenti di rumah duka, melainkan untuk berpindah tempat. Bagaimana juga, tetap ada “pesta” pertemuan malam itu. Seekor ayam dibakar dengan cerita-cerita segar dari kawan-kawan lama. Diakhiri dengan sebuah janji untuk turut ke pemakaman esok pagi. Kenyataannya, pagi esoknya janji itu cidera, hanya beberapa kawan saja yang berkumpul, dan tentu saja dengan mata yang redup karena semalaman berkumpul hingga nyaris pagi memutih. Saya sendiri datang tanpa tidur sebelumnya. Masuk ke kamar seorang kawan seraya menunggu kawan-kawan lainnya datang (dan tak pernah datang) sambil mendengarkan suara Bono U2 (I’m still haven’t found what I’m the looking for!) dari tape. Entah bagaimana, saya tertidur dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika terbangun. Saya harus pulang dan melanjutkan tidur, rasanya hampir dua puluh jam, kecuali dua jam barusan, saya tidak tidur. Tapi percuma, karena ditengah jalan, saat saya menunggu angkot, saya mendapati seorang kawan yang memanggil, dari rumah yang lain lagi, mengajak untuk mampir ke rumahnya. Saya singgah dengan harapan ini tak akan lama. Tapi kenyataannya adalah saya mendengarkan koleksi mp3-nya yang berjumlah seribu lebih lagu, lalu setelah bosan, kami menonton Ada Apa dengan Cinta yang rasanya telah ribuan kali saya tonton. Menyebalkan. Dan melelahkan. Sampai sore hari sayup-sayup terdengar takbir di masjid-masjid yang mebuat saya tersadar besok adalah lebaran. Saya pulang. Saya harus pulang, ingin tidur!
Begitulah, saya pulang dan tidur untuk waktu yang sama sekali tak bisa dikatakan lama. Di mulai setelah berbuka dan terbangun pukul sembilan malam. Lalu keluar rumah dan mendapati beberapa kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Bercerita tentang apa saja, mulai dari soal kuliah saya, pekerjaan mereka, teman-teman lain, dan, lagi-lagi, cinta!
***
Demi apapun, rasanya Ini semacam isyarat, atau apa, karena rasanya saya sedang jatuh cinta. Begitu banyak hal yang mengarah ke soal-soal percintaan sepanjang liburan, meski banyak juga hal-hal lainnya. Entahlah. Meski lebaran kali ini, juga bulan ramadhan, sama sekali membuat saya tak lebih religius (justru malah menyisakan keanehan beragama, bertuhan, (tuhan?), saya percaya, bahwa saya harus minta maaf kepada semuanya. Maaf sampai mati. Karena sama sekali tak pantas ada musuh dalam hidup ini! Begitulah rasa-rasanya, ya.
Maaf Sampai Mati!
Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa. Remy Silado membuka Ca Bau Kan dengan kalimat itu. Saya tidak ke Jakarta pagi itu, saya ke Bekasi, sebuah kota tempat di mana saya pernah dibesarkan. Dan saya mencari jejak pendosa. Jejak saya sendiri…
“Hebat Sekali. Pada akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Bahkan dosa sekalipun!”
Saya minta maaf. Secepatnya saya harus pulang. Dan, rasanya saya harus menyalami teman-teman semua, terutama untuk sepatah-dua pengakuan dosa. Aih… dosa-dosa ini.
Saya mohon maaf kepada mereka yang yang tertidur di saat saya berangkat: Dasuki, Dahrun, Endrie, Chokie, dan Novan. (Betapa membingungkan jika saya harus membangunkan kalian semua). Lalu untuk teman-teman di Panorama, mashokis team. Barangkali benar, Drie, mestinya malam tadi kita pergi ke gerbang. Pepeng dan Ade, saya minta maaf. Sebisa mungkin saya terus berhubungan dengan kalian.
Juga untuk yang lainnya. Yang lainnya. Yang lainnya.
Maaf Sampai Mati!
# kalian dapat salam dari Eka. Dia sudah duluan. Pagi-pagi sekali, belum ada matahari!
Pesan itu saya tulis di sebuah kertas putih yang saya dapati begitu saja. Itu jam setengah delapan pagi, di hari Sabtu tanggal 15 November. Sebuah pagi yang mendung yang membuat saya sedikit ragu untuk memutuskan sebuah perjalanan pulang. Membuat saya sedikit berlama-lama terdiam di ruang tengah rumah biru, memandangi mereka yang tertidur begitu pulas, beberapa mendengkur halus, yang dengan segera mengingatkan saya kepada dengkur bayi-bayi. Di belakang saya, berdesakan buku-buku dalam rak, seolah berebutan dengan begitu tergesa-gesanya untuk ke luar, menjatuhkan dirinya dan kemudian membiarkan halaman-halamannya terbuka dimain-mainkan angin pagi. Buku-buku itu.
Semuanya pasti akan terkenang-kenang nanti, muncul begitu saja di kepala serupa gelombang-gelombang halus pantai, datang dan pergi silih berganti. Seperti misalnya kejadian semalam. Sebuah pesan saya kirim kepada seorang kawan baik di Yogya, “Demi tuhan, betapa menyebalkannya menjadi seorang pemimpi!” Tak sampai sepuluh detik, dia membalasnya, “Kau kenapa? Aku lagi on-line sekarang!” Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera pergi menuju warnet, menyerahkan diri dalam labirin maya yang begitu rumit. Dan dia menyapa, “Hai!” Malam itu, 14 Desember, adalah malam di mana kekesalan telah memuncak begitu rupa, di Jatinangor, tempat yang rasa-rasanya tak perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk mencapai kebusukannya. Sementara dia, dia sedang begitu tentramnya di sebuah rumah budaya, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, mengerjakan sesuatu yang dia cintai begitu liar: menulis. Di beranda, ceritanya, ada Puthut EA dan kawan-kawannya sedang melingkari gelas-gelas kopi, membicarakan begitu banyak hal seraya tertawa-tawa. Dia kembali bertanya, “kau kenapa?” Tak ada, kataku. Hanya sedang sebal kepada sederetan filsuf yang ternyata berkepala penuh bualan-bualan. Dia tertawa. Hanya tertawa. Lalu dia katakan, “Mam, aku jatuh cinta (lagi)” Itulah, jawabku, aku pikir aku pun begitu.
Ehm…
Tapi dia bahkan telah menulis dua belas prosa akibat rasa cintanya itu. Menulis! Saya ceritakan sedikit tentang dia. Dia saya kenal sekira dua tahun lalu, tidak, tiga tahun lalu. Di akhir tahun 2000 di sebuah ruang gelap maya. Malam itu dia menawakan diri untuk membacakan puisinya. Saya menghampirinya, bertanya begitu saja: kau senang puisi? Dia sekolah di negara yang lain dengan saya, di benua yang lain. Kelas tiga SMU. Yang mengejutkan, dia punya satu cita-cita yang rasa-rasanya tak pernah bisa saya mengerti sampai kapan pun: kuliah di Yogyakarta! Saya membujuknya untuk jangan pernah menyimpan keinginan bersekolah di Indonesia, dengan sistem pendidikan seperti ini, maka segenap potensi yang telah ada dalam dirinya akan menjadi percuma begitu saja. Kau sudah bagus di Australia, untuk apa ke Indonesia? Jawabnya, “Ada Eka Kurniawan di Yogya”. Menulis! Bahkan dia hanya ingin berkumpul dengan para penulis di Yogya. Eka Kurniawan adalah cerita lain lagi, seorang penulis yang novelnya baru terbit dan konon yang terpanjang yang pernah ditulis penulis Indonesia. Dan kelak, selama libur di rumah, pagi-pagi saya banyak diisi dengan membaca novelnya itu. Baca dan baca lagi.
Seperti itulah, hingga akhirnya dia benar-benar kuliah di Yogyakarta, dua tempat sekaligus: Sejarah Universitas Gadjah Mada dan Fotografi Institut Seni Indonesia. Dan menjadi penulis. Di malam saat saya mengirim pesan itu kepadanya, bahkan dia sempat menulis sebuah puisi untuk Puthut EA, penulis yang sama hebatnya dengan Eka Kurniawan, bagi saya. (Ini sungguhan, bahkan surat-surat Puthut dan Eka yang pernah saya baca di berbagai media mempunyai kekuatan yang membuat saya harus mengakui bahwa Puthut begitu menggetarkan. Puthut dan Eka yang Dahsyat). Ini puisinya:
Demi Yang Maha EA
:p.e.a.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
berapa banyak yang dibutuhkan seseorang untuk menggoncang dunia?
atau hanya dalam beberapa tangisan dalam satu malam?
kau sedang mencari kesepian dimana-mana, bahkan dalam sekeping obrolan dan segelas kopi pait.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
masih sangat.
dalam kursi bambu yang juga hangat.
yk, 141103
Malam itu, bagaimanapun, saya memimpikan untuk bisa tidur. Karena malam-malam sebelum malam itu, percayalah, sekalipun saya tak pernah bisa tidur sebelum langit timur mulai berwarna terang. Tapi gagal, selalu gagal. Karena tepat jam setengah dua dini hari, sebuah pagi yang buta, seorang kawan datang dengan buku-buku yang baru saja ia beli. Ditemani segelas sirup jahe pemberian seorang kawan, kami bicara, juga dengan kawan-kawan yang lain, tentang mimpi untuk membuat semacam media penulisan kreatif di Jatinangor. Lalu pembicaraan melompat-lompat, pertama kali ke wilayah cerpen, lalu penulis-penulis, gosip-gosip, dan akhirnya cinta-cinta. Cinta…
Itu berlangsung hingga pagi begitu ribut dengan suara-suara yang keluar dari surau-surau. Suara-suara yang diharapkan mampu membangunkan mereka yang tertidur untuk melaksanakan sahur. Jam tiga pagi, kesunyian dengan segera menyeret saya menuju warung mencari makan. Kenyataannya, saya tidak makan, melainkan membuat segelas kopi dan mengambil beberapa batang rokok. Sebuah pagi sahur tanpa makan. Hingga kemudian saya benar-benar tertidur pada pukul lima lebih sedikit. Dari jendela mungil yang agak tinggi, bersebelahan dengan photo Soekarno yang sedang tersenyum, saya melihat matahari telah mulai memutih. Tuhan, apa lagi, saya hanya ingin tertidur?!
Saya hanya ingin tertidur pagi itu. Karena nanti, jam delapan pagi, sudah seharusnya saya berada di dalam bus yang menuju kota saya dibesarkan. Tidak bisa tidak, sore hari nanti sebabnya. Sebuah janji telah saya sepakati dengan kawan-kawan di Bekasi. Janji yang tak pantas untuk disesatkan. Kami akan bertemu membunuh sore nanti, melewatinya dengan canda-canda yang dapat dipastikan akan begitu kelewatan, dan lalu berbuka puasa bersama. Yang membahagiakan: saya tertidur pagi itu. Yang menyebalkan: saya hanya tidur satu setengah jam lamanya.
Hingga kemudian saya terbangun di pukul setengah delapan pagi dan mengusir paksa kemalasan dengan menyegerakan diri berjalan ke kamar mandi. Lalu duduk membelakangi buku-buku yang berdesakan di dalam rak seraya mendengarkan dengkuran halus beberapa kawan. Menemukan sebuah kertas putih dan mulai menuliskan pesan tadi, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan plastik perekat yang saya ambil dari sepucuk undangan pernikahan. Saya pulang meski mungkin akan turun hujan. Sudah semestinya.
***
Sepanjang perjalanan saya mengusahakan diri untuk tetap terjaga. Sebuah perjalanan akan terasa percuma jika dilewatkan begitu saja karena pasti akan banyak yang dapat terlihat, yang mungkin dapat memberi perspektif lain bagi diri saya dalam menjalani hidup, tentu saja. Tapi percuma. Pagi, menjelang siang, yang sejuk dan sedikit mendung membuat saya benar-benar tertidur dalam perjalanan dan baru terjaga saat bus nyaris sampai di kota saya. Bekasi. Inilah sebuah kota yang begitu aneh. Saya merasa seperti turis yang datang berkunjung untuk pertama kalinya di kota ini. Bagi saya aneh, karena, seperti keajaiban yang terus terjadi berulang-ulang, setiap saya kembali datang ada saja yang berubah dari kota ini. Seperti dulu, beberapa bulan lalu. Dulu di tepi sungai kotor itu belum ada gedung parlemen kota, dan kini lihatlah, gedung itu berdiri begitu megahnya. Juga di perempatan ramai itu, dulu sisi sebelah barat jalan adalah sawah belaka, tapi betapa mengejutkannya, kini sebuah pusat perbelanjaan berdiri begitu sombongnya sementara sesungguhnya tak jauh dari sana telah ada pusat perbelanjaan serupa. Saya tidak tahu itu mal keberapa di kota ini, yang saya tahu pengemis, anak-anak jalanan menjadi begitu banyak di kota ini. Seperti siang itu, dari balik jendela angkot saya melihat beberapa “orang-orang jalanan” tengah istirahat di bawah pohon yang teduh di tepi sungai. Saya kira mereka adalah sebuah keluarga, ada seorang kakek, beberapa lelaki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak kecil. Mereka duduk melingkar tak teratur dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Sementara itu, di seberang sungai tempat mereka istirahat, berdiri pusat perbelanjaan megah dengan papan-papan iklan di setiap meter dindingnya. Inilah sebuah kota, di mana saya tak pernah merasa aman. Kehidupan saya terteror dengan selentingan-selentingan ketidaknyamanan yang bisa dipastikan setiap orang bisa menceritakannya.
Bagaimanapun, saya sampai di rumah. Sebuah rumah mungil yang menggairahkan. Berbeda dengan kota ini, rumah ini tak begitu banyak berubah, kecuali kini di timur beranda ada sebuah rak rotan yang dulu dipakai menyimpan koran dan majalah dan kini menjadi tempat bagi sepatu dan sandal. Lalu kursi-kursi yang berubah warna, menjadi warna hijau yang begitu saja mengingatkan saya pada agar-agar segar. Sebuah ingatan yang menjadi lelucon untuk saya dan keluarga.
Saya masih mengantuk dan berniat untuk meneruskan tidur di rumah ini. Kenyataannya saya tak pernah bisa kembali tidur, saya harus melayani semua pembicaraan yang dilancarkan oleh orang tua dan kakak saya. Mendiskusikan isi koran-koran pagi, tentang kuliah, tentang apa pun. Hingga jarum jam ternyata telah tepat berdiam di atas angka empat. Jam empat sore. Saya belum tidur. Saya belum mandi. Belum melakukan apapun meski saya ada janji sore ini. Maka saya mandi dan segera berpakaian.
Dan tuhan, apa artinya doa-doa jika tidur adalah sebuah perkara sulit?
***
Itulah sebuah sore yang menyenangkan, sebuah sore yang menyeret saya ke sebuah kenangan tiga tahun lampau, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama kawan-kawan yang membahagiakan, sebuah kenangan dengan peristiwa-peristiwa kecil yang tak akan lari sampai kapan juga dari ingatan. Kami, kawan-kawan sekolah dulu, berkumpul sore itu, berkumpul kembali. Dengan cerita-cerita baru, peristiwa-peristiwa baru, lelucon-lelucon baru, dan rambut-rambut baru. Dulu si itu pernah berkelahi di depan kelas dengan si ini, si dia pernah ketahuan membawa sebungkus rokok di saku baju sekolahnya begitu memasuki kelas oleh guru, si itu dulu rambutnya ikal dan kini saat mode berganti, rambutnya tiba-tiba menjadi selurus paku. Semua kenangan itu diputar kembali bersama-sama di sebuah beranda rumah seorang kawan. Dan kami tertawa-tawa. Begitu renyahnya, begitu akrabnya…
Sampai malam kemudian datang dan mengharuskan semuanya kembali kepada urusan masing-masing. Saya pulang, diantar tiga motor sekaligus. Mandi dan bersiap tidur. Dan seperti kabar buruk, tak lama berselang, seorang kawan menelepon. Apa kabar, kapan sampai, sedang apa, dan mengajak saya keluar. Apapun, kenyataannya malam itu saya urung tidur, saya keluar dengan sepeda motornya, berdua. Dia adalah seorang kawan yang lain lagi. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya saja kini dia telah lulus kuliah, hal yang mebuat risau ibu saya, “Kau masuk bareng dengannya, kenapa tidak lulus bareng?” Dan jika ibu saya sudah bertanya seperti itu, maka inilah jawaban yang terus saya ulang-ulang, yang saya kutip dari seorang kawan di Yogya yang telah saya ceritakan di atas: “Yah, orang kan beda-beda.” Salah satu kalimat favorit. Kami berputar-putar sambil bercerita banyak hal, dan terutama, lagi-lagi, tentang cinta!
***
Dari manakah semua kekejaman bermula? Kekejaman itu terjadi begitu saja di dini hari yang melelahkan. Dan sayalah pelaku kekejaman itu. Saya sedang menyelesaikan sebuah novel tua karangan penulis Rumania yang saya dapati di rak buku ayah saya, “Peradilan Terakhir” Petru Dimitriu. Sesungguhnya, sejak SMU saya telah berusaha menyelesaikan novel itu, tapi itu bukan perkara mudah, percayalah. Kertas-kertas di buku itu telah begitu menguning, bahkan kecoklat-coklatan, ditambah dengan ejaan bahasa Indonesia jauh sebelum disempurnakan. Belum lagi struktur cerita yang membingungkan: si ini bercerita tentang si itu yang kemudian dilanjutkan si itu menceritakan si dia yang lain lagi. Rasanya itu adalah cerita dari seorang penulis yang antikomunis. Banyak saya baca cerita-cerita yang menampilkan sisi buruk komunisme. Dan malam itu saya berjanji untuk membuat sebuah risalah tentang pengalaman membaca novel itu.
Kekejaman itu terjadi, begitu saja dengan mudahnya. Di telapak tangan saya tertinggal begitu banyak bercak darah. Merah. Saya yakinkan itu darah saya sendiri. Darah saya sendiri yang dihisap tanpa izin dari nyamuk yang rasanya begitu banyaknya hingga niscaya tak seorang pun yang akan sanggup menghitungnya. Haruskah saya membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan begitu kejamnya? Dan jika pertanyaan ini mulai muncul, ingatan saya dengan segera memunculkan sebuah dialektika buntu seorang tokoh dalam novel karangan Dwi Hendro Basuki, “Dari Pojok Kamar Paling Belakang”, yang diterbitkan secara indie oleh temannya sendiri. “Apakah harus dengan membunuhnya?” Itu pertanyaan tokoh tersebut saat menghadapi nyamuk-nyamuk di kamarnya, pertanyaan yang membingungkan karena ia teringat pula pada seorang tetangganya yang mati karena demam berdarah! Tahukah, saya telah membunuh begitu banyak nyamuk dini hari itu!
Mengapa di kamar ini terlalu banyak nyamuk? Mungkinkah seperti yang pernah diceritakan di sebuah film produksi pemerintah tentang pemberontakan partai komunis di negeri ini, saat seorang jenderal mendapati kamarnya begitu banyak nyamuk, tak seperti biasanya, dan beberapa jam kemudian, ia dibunuh. Semacam isyarat untuk berfirasat. Sesuatu pikiran yang mengada-ada. Yang saya putuskan: saya membakar rokok, memakai lotion antinyamuk, dan melanjutkan membaca. (Tapi, bagaimana nyamuk-nyamuk itu akan mendapatkan makanan jika saya memakai lotion antinyamuk, tidakkah ini bentuk kekekajaman yang lain lagi?)
Di sore keesokan harinya, 17 november, saya terbangun dari tidur dan mendapati langit yang menurunkan hujan begitu derasnya, hujan yang rasa-rasanya tak akan pernah berhenti untuk ratusan tahun lamanya dan akan menenggelamkan begitu banyak kota di negeri ini. Sore yang basah. Dan sendu. Pagi tadi, sesaat sebelum saya tertidur, saya telah membuat janji dalam hati untuk mengakrabi kembali benda-benda di rumah ini. Saya ingin kembali menyentuhnya, mengamati setiap detail sudut rumah dengan segala benda-bendanya. Tapi bohong, karena kenyataannya saya hanya bisa diam saat rak sepatu di timur beranda rumah menjadi basah oleh hujan yang menggila dan saya hanya melihatnya. Hanya melihatnya dan berkomentar, “kasihan sekali, pasti akan rusak tak lama lagi”.
Saya ingin mengakrabi kembali bermacam-macam benda di rumah ini, karena biasanya selalu saja ada kejutan yang datang menghampiri. Seperti dulu misalnya, saya mendapati rekaman kaset prosesi pernikahan orang tua saya, atau juga sekoper photo-photo tua, photo-photo leluhur dan kakak-kakak saat masih kecil dulu (sementara tak saya dapati satupun photo bergambar saya!). Atau saat saya menemui buku yang saya baca sekarang, “Peradilan Terakhir”, di rak buku ayah saya. Mengakrabi benda-benda, lalu mencoba menyelematkannya dari kerusakan yang mengancam, akan banyak manfaatnya, saya yakini itu.
Di malam harinya, juga malam-malam berikutnya, banyak saya habiskan bersama kawan-kawan lama. Seorang kawan, di hari ketiga saya di rumah, pulang dari Padang, tempat kuliahnya, dan mengundang saya untuk main ke rumahnya. Sebuah pertemuan yang mirip pada saat saya bertemu dengan kawan-kawan SMU dulu, menyeret saya ke rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi jauh di belakang. Dia banyak bercerita malam itu. Dan, lagi-lagi, yang saya dengar banyak yang berkisar di perkara cinta. Lagi-lagi cinta…
***
Barangkali satu-satunya yang saya sesali selama kepulangan di rumah adalah insomnia. Penyakit itu, terkutuklah dirinya. Sebenarnya kepulangan saya disertai harapan untuk dapat memperbaiki pola tidur yang menjadi semakin berantakan di beberapa bulan terakhir. Tapi gagal, karena ternyata tidur tiba-tiba menjadi suatu perkara rumit dan melelahkan. Selalu seperti ini: tertidur dua jam lalu terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga masa liburan benar-benar usai tanpa saya bisa memperbaiki pola tidur saya itu. Seolah-olah setiap hari adalah pengulangan hari-hari sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan terkutuknya hidup yang seperti itu. Suasana liburan membuat diri tak produktif sama sekali.
***
Di suatu pagi saya terbangun begitu rupa dengan kekesalan yang tumpah tak terkendali. Sebuah mimpi bagus telah rusak. Dan inilah mimpi itu:
Jakarta begitu gelap, senja baru saja berakhir dan hitam mulai memayungi Jakarta. Tapi di jalan-jalan begitu ramai orang-orang. Seketika Jakarta menjadi merah, merah api. Dalam mimpi itu saya adalah seorang wartawan. Dan di jalanan itu sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara dengan kekuatan penuh bersiaga dengan senjata di pundak mereka. Yang menyedihkan, mahasiswa-mahasiswa itu terpecah ke dalam beberapa tempat. Tidak, tidak terpecah, tapi dipecah oleh para tentara yang mulai memprovokasi mahasiswa agar marah dan bertindak brutal. Tentara mulai membakar benda-benda di tengah jalan, semakin memisahkan barisan mahasiswa demonstran. Di saat saya sibuk membujuk para pimpinan mahasiswa untuk tetap satu barisan, meski saya seorang wartawan, para mahasiswa mulai membawa beberapa truk sampah untuk di bakar di tengah jalan: mereka mulai terpancing tentara untuk bertindak brutal. Itulah saat-saat saya merasakan kemarahan terhadap tentara, seperti yang pernah saya lakukan saat dulu berdemonstrasi di depan gedung parlemen. Saya mencoba menghampiri tentara, menemui pimpinan mereka di sebuah pos di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah apa yang saya temui di dalam pos: saya menemui Jenderal Besar Soeharto, mantan presiden itu di dalam pos sedang memberi pengarahan pada pimpinan tentara yang hendak saya temui! Dia begitu renta namun sehat, berpakaian putih-putih selayaknya seorang haji, duduk berhadapan dengan pimpinan tentara itu. Ups. Saya putuskan untuk melaju ke tengah-tengah arena demonstrasi yang semakin panas merah api, naik ke atas mobil yang disulap menjadi panggung orasi. Saya mengambil pengeras suara dan berorasi dengan penuh kemarahan. Saya, dalam orasi saya itu, mengajak mahasiswa dan tentara untuk bersatu. Saya mengajak mereka untuk mempercayai bahwa kita semua adalah korban dari golongan-golongan korup yang merusak negeri ini, saya mengajak mereka untuk berhenti melakukan kekerasan dan menghindari perang saudara. Saya membujuk tentara untuk tidak menaati pimpinan-pimpinan yang memerintahkan mereka untuk menembaki rakyatnya sendiri, pimpinan-pimpinan yang korup dan hidup dengan fasilitas-fasilitas mewah. Dan saya terbangun!
Begitu saja. Bermenit-menit saya memikirkan mimpi itu di atas tempat tidur saya. Soeharto. Orang tua itu, siapa yang ingat dia sekarang? Sedang apa dia? Sejauh mana proses pengadilannya? Saya membayang-bayangkan diri saya ditembak saat saya sedang berorasi di atas mobil itu. Dan melihat negeri ini menjalani masa-masa revolusinya dengan damai menuju perbaikan. Tapi, mengapa saya terbangun?
Apapun, saya telah terbangun. Dan lagi-lagi tak bisa tidur sampai pagi hari meski itu baru saja jam setengah satu pagi. Saya ke dapur membuat segelas sirup, membakar sebatang rokok dan membaca. Soeharto…
***
Itulah saat saya menyelesaikan “Peradilan Terakhir” dan kemudian beralih ke buku lainnya lagi, “Cantik Itu Luka”, karangan Eka Kurniawan. Sesungguhnya saya telah membacanya sejak pertama beli beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, saya tak bisa tidak mengingat Gabriel Garcia Marquez yang menulis Seratus Tahun Kesunyian. Eka Kurniawan sendiri mengakui kalau dia sangat mengagumi Marquez dan kemudian terpengaruh olehnya. Berbeda dengan saat pertama kali saya membacanya, kali ini saya banyak menemui hal-hal berbau humor yang fantastis, atau barangkali ironis. Marquez dalam Seratus Tahun Kesunyian pernah menceritakan saat wabah lupa melanda Macondo, yang membuat keluarga Buendia kerepotan. Saat wabah itu menyerang untuk kedua kalinya, mereka telah mengantisipasinya dengan menuliskan nama-nama benda di atas kertas dan lalu menempelkannya di benda-benda tersebut. Tidak seperti saat wabah lupa pertama kali menyerang yang membuat mereka lumpuh dalam menjalani banyak roda kehidupan, kali ini mereka lebih siap menghadapi wabah lupa itu. Karena kini mereka tidak lupa mana yang namanya panci, kursi, bahkan sapi. Di atas meja kini tertulis, “ini namanya meja”, di atas kursi di tulis, “ini namanya kursi”. Di sapi bahkan ditulis, “ini namanya sapi, hewan berkaki empat, dan setiap pagi susunya harus di perah untuk kemudian di minum untuk menyehatkan badan”. Bahkan belakangan tulisan-tulisan itu menyentuh perkara ketuhanan, di dinding-dinding kini tertulis, “tuhan itu ada”. Begitulah, rumah keluarga Buendia menjadi penuh akan tulisan-tulisan untuk mencegah mereka dari wabah lupa. Humorkah ini?
Juga ada tipe-tipe seperti itu di Cantik Itu Luka. Seperti cerita tentang Shodanco, seorang pejuang gerilya yang begitu legendaris, yang untuk mereka yang jeli akan segera mengingatkan pada Supriyadi, gerilyawan alumnus PETA bentukan Jepang. Orang-orang Halimunda, latar novel tersebut, mempercayai bahwa jika saja Soekarno-Hatta tidak memproklamasikan Indonesia, maka Shondanco-lah yang akan memproklamasikannya. Bahkan, diceritakan pula bahwa sesungguhnya ia telah ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Panglima Tentara Indonesia. Apa daya, surat itu baru sampai berbulan-bulan setelah Indonesia merdeka, lagi pula, seandainya surat itu sampai tepat waktu, Shondaco pun tak menginginkan jabatan itu, ia lebih memilih Halimunda dan ngotot mempertahankan pangkat kolonelnya, meski ditawari pangkat yang lebih tinggi hingga kemudian Soekarno mengangkat gerilyawan yang lain lagi, Soedirman.
Ada yang lebih lucu (atau ironis), masyarakat Halimunda merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 23 September dan bukannya 17 Agustus, ini dikarenakan pada tanggal itulah Shondanco untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sebulan sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Ia mengetahuinya dari mulut sesosok mayat yang ia temukan di tepi pantai saat ia menghindar dari pembasmian gerilyawan oleh tentara Jepang. Mulut mayat itu menyimpan salinan naskah proklamasi. Berkali-kali pemerintah mencoba meluruskan hal ini, bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus dan bukannya 23 September kepada masyarakat Halimunda. Tapi bahkan itu selalu gagal, karena masyarakat Halimunda akan tetap melakukan upacara dan pesta pada setiap tanggal 23 September.
Kelucuan itu tak berhenti sampai situ. Ada kelucuan lain lagi, yaitu saat di mana Shondanco telah menjadi komandan rayon militer Halimunda dan saat tentara republik memperbaiki manajemen mereka. Seluruh laskar perang republik diharuskan untuk bergabung ke dalam satu badan, Tentara Keselamatan Rakyat, yang lalu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Shondanco yang merasa dipermainkan dengan hal ini berkata kepada para pengikutnya, jika berganti nama lagi, maka kita akan berperang melawan Indonesia. Sampai di suatu pagi saat ia bersama beberapa prajuritnya memasang papan nama di markas rayon militer Halimunda yang bertuliskan Tentara Republik Indonesia Rayon Militer Halimunda, datang seorang prajurit lainnya yang membawa kabar bahwa tentara Indonesia berganti nama lagi, kali ini menjadi Tentara Nasional Indonesia. Prajuritnya bertanya kepada Shondanco, “Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” Dan dijawab Shondanco, “Tidak, bahkan negeri ini baru belajar membuat nama.”
Banyak hal-hal yang membuat saya tertawa waktu itu. Tentang Kamerad Kliwon misalnya, seorang komunis yang saat hendak dihukum mati, dan ditanya apa keinginannya yang terakhir menjawab, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” Atau juga tentang Dewi Ayu sendiri, tokoh utama novel ini, yang mengatakan tuhan telah mencuri cincin-cincinnya yang telah ia sembunyikan sebelum ia diangkut Jepang menuju Bloddenkamp dan kemudian menjadi pelacur. Karena menurutnya, hanya ia dan tuhan-lah yang tahu tempat ia menyembunyikan cincin-cincin itu. Jadi, jika cincin-cincin itu lenyap, maka tuhan berarti telah mencurinya. Lalu tentang hantu-hantu komunis, ini tentu saja mengingatkan mereka yang telah membaca Marquez kepada Seratus Tahun Kesunyian.
***
Di suatu siang telepon tiba-tiba berdering. Itu dua hari sebelum lebaran. Sebuah telepon dari seorang kawan SMP dulu. Sebuah berita duka yang mengejutkan: seorang kawan telah meninggal dunia. Kematian, seperti halnya seribu kesedihan lain, seperti tak pernah jauh dari hidup ini. berkeliaran di mana-mana, menghampiri siapapun yang dikehendaki. Sesungguhnya ada semacam firasat beberapa hari sebelumnya, bahwa akan ada yang saya lihat untuk terakhir kalinya tanpa pernah melihatnya lagi sampai kapan juga. Seorang kawan saya kabari dan tak memercayainya. Lima menit setelah saya mengabarinya ia kembali menghubungi saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi bukan mimpi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Saya jawab, “itu benar” dan menyarankannya untuk mencoba menghubungi kawan yang memberi tahu saya untuk pertama kali. Sampai malam harinya, saat saya bertemu dengan kawan saya tersebut di rumah duka, ia bercerita bahwa ia telah menyusun janji dengan kawan saya yang meninggal tersebut, bahwa akhir bulan nanti, setalah masa gajian, mereka akan saling mentraktir. “Bahkan,” katanya kepada saya, “sesaat sebelum kau telepon, aku masih misscall dia!” Sesungguhnya, beberapa minggu sebelumnya, saya pernah mendapati kabar bahwa ia sedang dekat dengan kawan saya yang meninggal siang tadi.
Kawan saya itu, begitu mudanya, seumur dengan saya. Ibunya saya dapati di sisi jenazah dengan mata yang memerah dan sembab. Ia memohon maaf untuk anaknya yang kini terbujur kaku di hadapannya. Kejadian itu, bagaimanapun, memaksa saya untuk terus mengingat kematian karena ia bisa datang kapan ia mau menghampiri saya. Di dinding di hadapan saya, terpampang photo kawan saya itu dengan pakaian toga. Ia baru saja wisuda dan baru saja bekerja! Ia hanya dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Gatot Subroto, dan itu sama sekali tak menolongnya, ia tetap meninggal dunia, meninggalkan seorang Ibu yang kini menangis di samping saya.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang, karena ternyata begitu banyak kawan-kawan SMP dulu yang hadir di rumah duka, kawan-kawan yang saya kira tak akan pernah saya lihat lagi sesudah lulus SMP. Kabar-kabar berkeliaran begitu rupa. Ternyata ada yang telah menikah, ada yang telah memiliki anak, ada yang telah sembuh dari narkotika, ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, ada yang berpacaran dengan si anu, begitu rupa-rupa. Dan kami memutuskan untuk tidak berhenti di rumah duka, melainkan untuk berpindah tempat. Bagaimana juga, tetap ada “pesta” pertemuan malam itu. Seekor ayam dibakar dengan cerita-cerita segar dari kawan-kawan lama. Diakhiri dengan sebuah janji untuk turut ke pemakaman esok pagi. Kenyataannya, pagi esoknya janji itu cidera, hanya beberapa kawan saja yang berkumpul, dan tentu saja dengan mata yang redup karena semalaman berkumpul hingga nyaris pagi memutih. Saya sendiri datang tanpa tidur sebelumnya. Masuk ke kamar seorang kawan seraya menunggu kawan-kawan lainnya datang (dan tak pernah datang) sambil mendengarkan suara Bono U2 (I’m still haven’t found what I’m the looking for!) dari tape. Entah bagaimana, saya tertidur dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika terbangun. Saya harus pulang dan melanjutkan tidur, rasanya hampir dua puluh jam, kecuali dua jam barusan, saya tidak tidur. Tapi percuma, karena ditengah jalan, saat saya menunggu angkot, saya mendapati seorang kawan yang memanggil, dari rumah yang lain lagi, mengajak untuk mampir ke rumahnya. Saya singgah dengan harapan ini tak akan lama. Tapi kenyataannya adalah saya mendengarkan koleksi mp3-nya yang berjumlah seribu lebih lagu, lalu setelah bosan, kami menonton Ada Apa dengan Cinta yang rasanya telah ribuan kali saya tonton. Menyebalkan. Dan melelahkan. Sampai sore hari sayup-sayup terdengar takbir di masjid-masjid yang mebuat saya tersadar besok adalah lebaran. Saya pulang. Saya harus pulang, ingin tidur!
Begitulah, saya pulang dan tidur untuk waktu yang sama sekali tak bisa dikatakan lama. Di mulai setelah berbuka dan terbangun pukul sembilan malam. Lalu keluar rumah dan mendapati beberapa kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Bercerita tentang apa saja, mulai dari soal kuliah saya, pekerjaan mereka, teman-teman lain, dan, lagi-lagi, cinta!
***
Demi apapun, rasanya Ini semacam isyarat, atau apa, karena rasanya saya sedang jatuh cinta. Begitu banyak hal yang mengarah ke soal-soal percintaan sepanjang liburan, meski banyak juga hal-hal lainnya. Entahlah. Meski lebaran kali ini, juga bulan ramadhan, sama sekali membuat saya tak lebih religius (justru malah menyisakan keanehan beragama, bertuhan, (tuhan?), saya percaya, bahwa saya harus minta maaf kepada semuanya. Maaf sampai mati. Karena sama sekali tak pantas ada musuh dalam hidup ini! Begitulah rasa-rasanya, ya.
Maaf Sampai Mati!
Subscribe to:
Posts (Atom)