SIKAT GIGI
Dewi Lestari
Ia kembali melongokkan kepalanya keluar jendela, menatap langit yang berantakan oleh bintang dan ribut sendiri. Ia selalu histeris akan hal-hal yang tak kumengerti. Setelah kami berdua duduk di atas rumput, ia pun menjelaskan dengan tabah. "Coba lihat…langit begitu hitam sampai batasnya dengan bumi hilang. Akibatnya kerlip bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang. Luar biasa kan?"
Egi selalu mampu menggambarkan segalanya dengan tepat, indah dan rasional. Atau mungkin itulah satu-satunya cara agar aku mampu mengerti keindahan yang ditangkap matanya. Aku bukan pujangga dan tidak pernah menyukai makna-makna konotatif. Monokrom dan kurang dimensi, begitu katanya selalu tentang diriku. Pragmatis dan realistis, demikian aku menerjemahkannya.
Dengan segala rasio dan akal, aku pun mencintai wanita di sampingku itu. Egi, yang telah lama kukenal, teman baikku, sosok yang dapat kubanggakan sekaligus kukagumi. Ia mampu berpanjang lebar menjelaskan filosofi cinta dan adieksistensinya, sementara aku sendiri tak akan pernah menganalisis cinta. Yang aku tahu, aku amat peduli dengannya, sebisa mungkin ingin selalu bersamanya, dan aku yakin kami dapat bekerja sama membina apa pun, termasuk rumah tangga. Itulah aplikasi substansi Cinta bagiku, dan cukup sekian. Egi juga tahu itu.
"Kamu nggak kedinginan?" tanyaku sambil siap-siap membuka jaket.
Mendengarnya Egi yang hanya memakai cardigan tipis menjadi sadar akan dinginnya cuaca. Ia pasti telah hanyut jauh dalam dunianya sendiri. Dalam balutan jaketku Egi pun meringkuk. Matanya masih menerawang. Aku tahu apa yang ia lamunkan apalagi setelah mendengar helaan nafasnya, tapi aku enggan bertanya. Untuk apa mengungkit sesuatu yang akan membuat pikiranku terganggu.
Tak lama kemudian kami kembali ke Jakarta.
***
"Sudah lama ya kita nggak jalan-jalan ke Puncak lagi," ujar Egi yang melengang dengan sikat gigi di tangan. "Terakhir kapan ya?"
"Fiuh, bulan yang lalu? Waktu langit dan bumi jadi satu itu."
Egi menatapku lucu. "Kamu punya ingatan hebat, tapi kamu mengatakannya sama datar dengan bilang ’1+1=2’…"
Suara sikat beradu dengan gigi pun menggema dari kamar mandi. Egi selalu lama kalau menyikat gigi. Aku pun kembali meneruskan bacaanku, dengan kaki berselonjor di sofa panjang.
Tiba-tiba suara gosokan itu berhenti. Malam yang heningh membuatku menjadi awas akan perubahan yang terjadi. Aku melirik sedikit, pintu kamar mandi terbuka dan Egi tengah berdiri mematung dengan sikat gigi penuh busa.
"Gi….kamu baik-baik saja?"
Cukup lama Egi tidak menjawab, sampai akhirnya perlahan ia berkumur.
"Tyo, saya kepingin pulang saja ya." Dengan lunglai ia menghampiriku.
"Sudahlah, kamu di sini saja, besok pagi saya antar pulang. Saya malas keluar lagi," kataku seraya menguap. Aku tak perlu berbasa-basi dengan Egi. Kami sudah cukup dewasa dan cukup dekat satu sama lain untuk tidak lagi canggung kalau Egi terpaksa menginap di tempat tidurku sementara aku tidur di sofa panjang ini, bangun pagi dan sarapan bersama, sampai aku mengantarkannya pulang atau langsung ke tempat kerjanya. Egi bahkan menginventariskan sebuah sikat gigi di kamar mandiku.
Tiba-tiba mata itu berkaca-kaca. "Saya merasa nggak karuan," gumamnya pelan.
Mendadak aku merasa bersalah. Seringkali aku bersikap terlalu kritis kalau Egi menangis. Aku selalu berusaha menginjeksikan logika yang kupikir perlu namun ternyata malah membuat ia makin sedih dan menganggap aku tak bisa atau tak suka menolongnya. Tak heran kalau ia lebih memilih pulang daripada harus meledakkan tangisnya di depanku.
"Kamu di sini saja. Menangis sesuka hati. Saya janji akan diam, oke?" Aku tersenyum dan menariknya duduk di sampingku, kembali membaca.
"Tyo…" panggilnya setelah sekian lama mematung.
"Hmmm?"
"Saya suka sekali menyikat gigi. Mau tahu kenapa?"
Ingin sekali kulontarkan jawaban spontan, seperti ‘supaya gigi tidak bolong’ atau ‘afeksi berlebihan akan rasa odol’, tapi kuputuskan untuk diam.
"Di saat saya menyikat gigi saya hampir tidak mendengar apa-apa selain bunyi sikat. Nyaris tidak memikirkan apa-apa karena berkonsentrasi penuh walaupun cuma dua atau tiga menit. Dunia saya mendadak sempit…hanya gigi, busa dan odol. Tidak ada ruang untuk yang lain. Hitungan menit, Tyo, tapi berarti sangat banyak."
Aku tahu apa yang kau maksud, wahai Egi, pujanggaku sayang. Untung sudah cukup lama aku terlatih membaca makna-makna tersirat dalam kalimatnya, walaupun belum cukup lama untuk mengerti alasan-alasan di balik itu semua. Seperti untuk apa ia memilih menikmati luka yang cuma bikin ia sedih dan menangis.
Aku menatapnya iba. Egi dengan air mata yang berlinangan di pipi, tangisannya yang tak pernah bersuara. Dan linangan itu menderas ketika aku menutup bukuku, memilih untuk merangkulnya.
"Kamu…pasti sebenarnya…sudah ingin ngomel-ngomel." Ia berbisik susah payah.
"Saya tetap tidak mengerti. Tapi semuanya terserah kamu…" Aku menghela nafas seraya menepuk-nepuk bahunya.
Saat seperti ini membuatku berpikir lagi, jangan-jangan aku terlahir cacat. Ada satu bahasa di semesta ini yang tidak masuk ke dalam paket kelahiranku, makanya aku selalu gagal mengerti, sekalipun seorang ahlinya ada sangat dekat di sini. Egi adalah guru besar bahasa aneh itu. Bahasa yang berasal dari planet tempat cinta adalah segala-galanya dan mempunyai logika dan hukumnya sendiri. Dan apa pun yang kupelajari selama ini tetap tak mampu mendekatkanku pada pengertian komprehensif akan hal satu itu.
***
Ulang tahunnya yang ke-27. Setelah makan malam bersama teman-teman kami yang dipenuhi tawa dan keceriaan, kini kami kembali berdua. Matanya yang menerawang jauh, kakinya yang meringkuk, nafasnya yang mulai ditarik-ulur. Demikianlah Egi, bahkan di hari seistimewa ini sekalipun.
Keheningan selalu membawanya ke perbatasan yang sama, batas antara dunia riil dan satu alam yang masih tak kumengerti itu. Dan hampir tak ada yang dapat menahannya menyeberang.
"Ini…hadiah untuk kamu." Aku membuyarkan lamunannya.
Egi agak terkejut melihat kotak yang disodorkan di depan amtanya. Ia pun tertawa kecil. "Sejak kapan kamu kasih kado segala?"
"Usia 27 adalah usia penting." jawabku sekenanya.
Tawanya semakin lebar ketika ia tahu apa isi kotak itu.
Aku langsung sibuk menjelaskan, "Sikat gigi elektronik. Bergaransi, watt kecil, anti plak, sikatnya banyak dan masing-masing beda fungsi. Seri ini punya kemasan khusus buat travelling, jadi kamu bisa pakai di rumah atau bawa ke tempat saya…tidak akan terlalu repot. Ini buku panduannya…"
"Tyo," potongnya geli seraya menahan tanganku. "Saya tahu kamu adalah manusia paling realistis yang pasti akan memilih hadiah praktis seperti ini, tapi…kenapa sikat gigi?"
Aku menatap kedua mata itu, dan untuk pertama kalinya ada kegugupan yang entah hinggap dari mana.
"Soalnya…ehm soalnya…" Aku gelagapan dan buru-buru menunduk.
Kuatur nafas sejenak dan mengusir jauh-jauh keparat yang telah menghambat lidahku, melirik sekilas dan mendapatkan Egi tengah menunggu jawabanku sambil tersenyum. Senyuman yang mampu mencairkan sel-sel kelabu otak. Senyuman Egi dari dunia nyata, bukan antah berantah itu.
"Saya tidak pernah mengerti dunia dalam lamunan kamu," kata-kata itu akhirnya meluncur keluar.
"Pengharapan apa yang kamu punya, dan kekuatan apa yang sanggup menahan kamu sekian lama di sana. Tapi kalau memang menyikat gigi adalah satu dari sedikit tiket yang bisa membawa kamu pulang, maka saya ingin kamu semakin asyik menyikat gigi, semakin lama menggosok. Karena berarti kamu lebih lama lagi di sini, di satu-satunya dunia yang saya tahu dan mengerti. Satu-satunya tempat di mana saya eksis bagi kamu."
Ia terperangah. Menjauh.
"Egi…jangan…" Langsung aku berkata was-was.
"Kamu tahu perasaan saya dan saya tidak pernah mau membahas soal ini lagi…"
"Saya juga tidak mau, tapi inilah kenyataanya. Kenyataannya saya tidak pernah berubah dari bertahun-tahun yang lalu… dan saya pikir kamu juga tahu itu. Ya, ampun, buka mata kamu sekali ini saja Egi!"
"Kamu sahabat saya… sahabat terbaik…" Ia makin menjauh. Bersiap menutup diri.
"Sampai kapan kamu terus mengharapkan dia?"
Tak tahan aku pun berseru, "Orang yang tidak pernah hadir di saat-saat kamu paling membutuhkan dukungan, orang yang mungkin memikirkan kamu hanya seperseribu dari seluruh waktu yang kamu habiskan untuk melamunkan dia, orang yang tidak tahu bahwa kamu bahkan harus menyikat gigi hanya untuk bisa melepaskan dia barang tiga menit dari pikiran kamu? Orang yang bahkan sudah punya kehidupannya sendiri?"
"Dia ingin datang. Biar itu cuma dalam hati. Dan dia akan menjemput saya, di kesempatan pertama yang dia punya. Saya juga bisa merasakan kalau dia selalu memikirkan saya."
"Kapan kamu akan bangun, Egi?" keluhku letih.
Ia menggeleng. "Ini yang namanya cinta sejati. Satu hal yang tidak kamu tahu."
Aku balik menggeleng. "Itu kebutaan sejati. Kamu memilih menjadi tuna netra padahal mata kamu sehat. Kamu tutup mata kamu sendiri. Dan kesedihan kamu pelihara seperti orang yang mengobati lukanya dengan cuka dan bukannya obat merah."
Egi menyentuh wajahku sekilas. "Semoga suatu saat kamu mengerti."
Kata-kataku habis sudah. Dalam hati aku menolak tegas pernyataanya dan ia pun bisa melihatnya jelas. Apa yang ia yakini tentang perasaannya berada di luar akalku. Mana mungkin aku bisa mengerti.
Kami berdua berdiri berhadapan, dua manusia yang telah bersahabat bertahun-tahun lamanya, namun malam ini kami merasa asing satu sama lain. Aku mencintai Egi. Egi mencintai pria lain, yang sekarang bahkan sudah berumah tangga. Demikianlah fakta sederhana yang telah kami ketahui bersama.
Kemalangan itu diperparah lagi karena keinginanku yang logis untuk memilikinya bukanlah cinta bagi Egi, sementara cintanya Egi adalah substansi ekstra-terestrial bagiku.
Kami tak mampu lagi berkomunikasi.
***
Hampir genap setahun tak ada Egi dalam hari-hariku. Tidak ada lagi yang menerjemahkan keindahan alam. Tidak ada lagi yang menunjukkan signifikasi di balik hal-hal remeh. Tidak ada lagi yang duduk di sofa panjangku untuk melalap buku-buku filsafat. Tapi yang paling aku kehilangan adalah mendengarkan ia menyikat gigi.
Hampir setiap saat aku berusaha merasionalkan semua ini dan kesimpulanku selalu sama…aku harus menemuinya lagi. Bukan satu hal yang sulit untuk menemukannya. Ia masih Egi yang dulu, yang dapat kutemui sore-sore sedang membaca buku di bangku taman berbukit-bukit di komples rumahnya. Yang sulit adalah mengungkapkan apa yang tak pernah aku sadari. Yang sulit adalah tidak punya harapan apa-apa sesudah aku selesai menyampaikannya nanti.
"Egi…"
Ia berbalik, kaget luar biasa ketika mendapatkanku muncul lagi dalam hidupnya begitu saja. Lebih kaget lagi ketika aku langsung duduk di hadapannya dan meraih jemarinay dnegan tanganku yang dingin karena tegang.
"Sebentar saja. Saya tidak akan lama," ucapku cepat untuk meredam rasa kagetnya.
Ia pun seperti tidak bisa berkata apa-apa, hanya jemarinya ikut jadi dingin.
"Saya tidak akan pernah jadi pujangga dan tetap ngantuk kalau baca buku filsafat. Saya tetap Tyo, si pragmatis realis yang melihat segalanya dengan tiga dimensi dan bukannya empat seperti kamu. Tapi sekarang saya mengerti kondisi aneh itu…" Aku menelan ludah. "Karena saya sudah mengalaminya.
Kebutaan itu. Dan saya tahu sekarang, saya mencintai kamu bukan hanya dengan logika dan rasio. Bukan karena sekadar kamu memenuhi standar saya, tapi…karena saya juga mencintai kamu di luar akal. Satu tahun saya menemukan cukup banyak alternatif yang masuk akal, tapi saya memang tidak ingin yang lain. Hanya kamu. Apa adanya, termasuk alam lamunan yang tidak pernah ada saya di dalamnya."
"Dan saya tetap Tyo yang kalkulatif dan tidak mau rugi. Tapi saya benar-benar tidak mengharap apa-apa kali ini. Saya hanya ingin mengatakan ini semua dan sudah. Habis perkara." Aku menutup pernyataanku dengan senyum semampunya. Berusaha bangkit berdiri, walau berat sekali. Tangan Egi yang sedingin es batu tiba-tiba menahanku.
"Kamu mau kemana?" tanyanya lirih.
"Mm..jalan-jalan…" jawabku tidak yakin.
"Ikut," ujarnya pendek seraya berdiri melipat buku.
Kami berdua berjalan meninggalkan taman. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Sama sekali tak ada jejak spasi kosong dari satu tahun yang sepi itu.
"Saya sendiri sudah banyak berpikir murni dengan sel-sel otak seperti yang kamu anjurkan, menerjemahkan apa yang kamu anggap absurditas. Dan kesimpulannya…" Ia berkata lamat-lamat, "Tidak akan ada orang lain yang mengerti alam itu selain kita sendiri. Tapi kemanapun yang saya pilih kamu tetap orang yang paling nyata dan paling berarti. Saya tidak harus menyikat gigi untuk bisa pulang. Kamu adalah jalan pulang, rumah yang nyaman dan tiket sekali jalan. Saya tidak ingin pergi lagi. Itu juga kalau kamu tidak keberatan kita menjalaninya pelan-pelan."
Perjalanaan singkat menuju mobilku sore itu adalah gerbang menuju sebuah perjalanan baru yang panjang.
***
Egi benar. Banyak hal yang tak bisa dipaksakan, tapi layak diberi kesempatan. Dan kesempatan itu harus ditawarkan setiap hari oleh kedua belah pihak. Aku pun benar, kami berdua mampu membangun apa saja, baik persahabatan belasan tahun maupun kebersamaan seumur hidup.
Setiap kali aku duduk di sofa dan memandang Egi yang asyik menyikat gigi, ketakutan itu kadang-kadang datang. Ketakutan kalau suatu hari aku terpaksa harus menariknya pulang dengan paksa, dan sikat gigi tak mampu lagi menjadi tiketnya. Ketakutan kalau aku harus kehilangan dunia absurd tempat perasaanku kepadanya bersemayam, dunia yang ternyata amat kusukai. Ketakutan yang timbul justru karena sekarang aku benar-benar mengerti perasaan Egi dan semua alasannya dulu. ***
25.12.03
ehm, tulisan ini sebenarnya adalah petikan dari sebuah diskusi di milis akademi jatinangor (rip). dulu, sudah lama juga. tentang inul. benar-benar sudah basi. awalnya adalah sebuah e-mail yang diforward Donny, sahabat saya. lalu, pelan-pelan saya menanggapinya (tulisan miring dan tebal adalah kutipan e-mail yang saya coba tanggapi-tulisan tegak adalah tanggung jawab saya).
Ada opini menarik, masih tentang kontroversi "Inul". This I got from a friend. Selamat beropini!
DN
----------------------
Liputan tentang kontroversi pernyataan Rhoma irama terhadap goyangan Inul di berbagai media cetak, elektronik bahkan online begitu luar biasa minggu-minggu ini. Pun pernyataan berbagai elemen masyarakat berhamburan menghiasi halaman muka dan tajuk-tajuk utama peliputan media, bahkan
kelompok-kelompok perempuan sampai merasa khusus perlu mengadakan aksi mendukung inul di bunderan HI.Luar biasa Rhoma Irama dan inul memang kontroversial!
Inul dan Rhoma bisa jadi memang kontroversial. Tapi, media kitalah yang mau saya sebut kontroversial. Dan kenyataan ini sama sekali tidak mengejutkan saya.
Kenyataan ini sangat mengejutkan bagi saya karena:
1. Media begitu bersemangat mengangkat kontroversi ini dibandingkan mengangkat isu penahan mahasiswa atau pemukulan wartawan Tempo oleh preman (jika isu yang diangkat adalah kebebasan berekspresi) atau isu pemerkosaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum perempuan di Aceh semasa DOM,jeda kemanusiaan maupun pasca penandatangan CoHA (jika isunya dalah isu perempuan) atau isu buruh-buruh perempuan dan para perempuan petani yang tanahnya diambil paksa untuk pembangunan atau tanahnya sempit (jika isunya adalah masalah pendapatan). Tidak itu saja bergam polling juga diluncurkan. Menurut pendapat saya Isu-isu tersebut lebih "penting" untuk diangkat karena posisinya jelas "ketidakmampuan negara untuk melindungi hak-hak warga negaranya". Untuk kasus Inul ini maaf saja, negara tidak mengahalang-halangi Inul berekspresi, tidak melakukan penganiayaan terhadap Inul, atau tidak memeras pendapatan Inul (kecuali pajak:)). Buat saya ini murni perdebatan warga civil dengan warga civil lainnya yang bisa diselesaikan lewat jalur pengadilan. Intinya Rhoma nggak mengerahkan massa seperti FPI yang merusak tempat-tempat hiburan, atau melarang media (sekalipun kalau iya, apa sih kekuatan hukum yang dia miliki buat melarang media?). So kenapa media begitu bernafsu mengangkat isu ini, apakah persoalan periuk nasi mereka yang terganggu (SCTV dikabarkan menagguk keuntungan iklan dari salah satu tayangan inul sebesar 500 juta rupiah hanya untuk satu jam tayang).
Mohon pencerahan untuk yang satu ini jika ada yang memiliki argumentasi lain.
Saya sama sekali tidak bertendensi untuk memberikan pencerahan. Hah, tidak capable! Tapi, sekali lagi, coba jangan terkejut dengan hal ini. Semua ini mestinya bisa kita prediksi sejak beberapa tahun lalu, ketika televisi swasta mulai bertumbuhan di Indonesia. Ada sebuah buku bagus karangan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, di Indonesia diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1995). Kali ini Neil Postman yang menjadi referensi saya. (Yah, you are what you read!)
Buku ini membuktikan kecenderungan kalau apa yang diramalkan George Orwell adalah salah dan apa yang diramakan Aldous Huxley adalah benar. Orwell, seorang marxis(?), memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedang Huxley justru mengatakan kalau manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai teknologi yang akan membutakan pikirannya. Postman memberikan contoh seperti ini: “Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh temeh… singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.”
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dlsb!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. “Di Amerika, Tuhan menganakemaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.”
Dan media sangat berperan dalam hal ini. SCTV, sebagai salah satu “media penyalur informasi”, dalam kasus Inul dan Rhoma telah menjadi media yang “Make News”. SCTV tidak mencari berita, melainkan membuat berita. Mungkin teman-teman dari FIKOM yang sangat mengerti dalam hal ini, atau juga Donny. S. Sos. Fresh graduate…. =)
2. Sudah sejak lama kelompok-kelompok perempuan melakukan perlawan terhadap komodifikasi keindahan perempuan dalam iklan-iklan yang ditayangkan televisi. Sejak dulu mereka berjuang menentang penggunaan tubuh perempuan sebagai komoditas untuk memasarkan produk bahkan dalam format pencintraan saja (tamagola secara khusus pernah membahas ini) atau saya yang salah menangkap perjuangan kelompok-kelompok perempuan tersebut? Seingat saya upaya gender mainstriming dalam dunia iklan sudah sejak lama dilakukan. Nah upaya mereka untuk membantu Inul hingga aksi turun ke jalan tidakkah bertentangan dengan hal tersebut? Atau dalam pandangan kelompok ini Inul tidak pernah menjadi korban komoditi media untuk memperoleh keuntungan.
Sekali lagi saya mohon dicerahkan dalam kebingungan saya yang kedua.
Saya jadi ingat kasus boneka barbie. Perempuan yang bukan perempuan. (Ternyata banyak jenis perempuan :p).
Di puncak popularitasnya Barbie berhasil membuat semacam kejutan manis. Saat itu kaum feminis terpolarisasi menjadi dua kutub: mereka yang sangat bahagia dan mendukung atas kemunculan Barbie dan satu lagi mereka yang menolak dan menyesal atas kemunculan Barbie. Lihatlah Barbie, perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ikon dunia. Perempuan akan cantik jika seperti Barbie: langsing, putih, blondie, bermata indah, berkaki panjang, wah. Dan, ini dia, Barbie ternyata bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi seorang dokter, astronot, guru, wanita berkarier tinggi, apa-apa yang muskil bagi seorang perempuan kebanyakan. Ini yang menjadi kebanggaan mereka yang mendukung Barbie.
Barbie punya popularitas yang luar biasa. Barangkali setiap wanita di sana punya Barbie. Mereka lahir dari sepasang ibu-bapak yang saya pikir luar biasa. Jangan kaget, pemasaran Barbie dikomandani oleh doktor psikologi lewat pendekatan Freudian! Dan jika saja Barbie disuruh rebahan dan diurut-urut, kaki yang satu menginjak kepala yang lain, maka Dunia akan menjadi lautan Barbie. Produksi mereka luar biasa.
Di urusan domestik, tentu saja, Barbie adalah ibu rumah tangga yang ideal: jago masak, menata rumah, dan… setia! Kent, pasangannya, bisa saja menjalin hubungan rahasia dengan wanita lain, tapi Barbie akan tetap setia berpasangan dengan Kent.
Mereka yang mengumpat Barbie punya alasan yang mirip dengan pertanyaan di atas. Bagi mereka, Barbie tidak pernah pro-perjuangan kesetaraan gender. Barbie mungkin menjadi astronot, dokter, dlsb, tapi Barbie tidak pernah mengangkat isue-isue khas perempuan: buruh wanita murah, kekerasan terhadap wanita, cuti hamil, dlsb. Juga tentang pencitraan cantik (seperti yang kini terjadi di iklan-iklan), mereka protes mengapa Barbie selalu berkulit putih dan tidak hitam. Tapi, oho, pasangan suami-istri itu ternyata cukup akomodatif menanggapi ini. Segera keluar-lah Barbie serie kulit hitam. Dan percayalah, beberapa tahun kemudian miss universe yang terpilih adalah seorang wanita berkulit hitam!
Mudah-mudahan tepat analoginya. =)
Tapi maksud saya sebenarnya tak banyak. Kemunculan media bukan saja berdampak semakin sulitnya mencari kebenaran dalam lautan informasi yang begitu bertebaran. (Untuk memenuhi kehausan anda dan menambah wawasan anda tentang kehidupan selebritis Indonesia, anda bisa menyaksikan infotainment setiap hari, bahkan di jam setengah lima subuh sekalipun! Tadi pagi saya menontonnya, jam setengah lima pagi! Dan bukan hanya satu stasiun teve yang memutarnya!!). Tapi juga semakin hilangnya wacana publik. Semuanya terperosok ke dalam seni pertunjukkan. (Bahkan TOYOTA dalam anggaran periklanannya menggarisbawahi bahwa bidang ekonomi lebih merupakan seni pertunjukkan). Dari sini, silakan Anda mulai analisis Anda, lewat serangkaian alat Marxisme, Smith, Freud, Religion, Levi Strauss? Terserah. Tapi, Marshall McLuhan sudah punya gagasan yang menurut saya sangat mengena, “The medium is the message”. Medium yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan adalah pesan itu sendiri. Lalu apakah patut disesali mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi? Sepertinya ini asyik jika kita diskusikan… (Donny, kamu bikin pengantarnya yah.. =)
3. Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita tidaklah homogen. ada "yang sudah" menyukai "keterbukaan" ada yang masih meyukai "ketertutupan". Menjustifikasi bahwa "keterbukaan" sebagai keniscayaan nilai-nilai yang benar, rasanya menghalangi Hak asasi orang yang suka "ketertutupan" pula untuk berekspresi.Dalam konteks media massa kita (televisi khusunya) hingga saat ini belum ada TV yang secara khusus melakukan segmentasi pasar berdasarkan isu. Misalnya televisi porno, televisi agama, atau televisi politik. Adalah hal yang berat memang ketika Televisi umum harus memformat acaranya sesuai dengan defenisi yang memuaskan semua orang. Namun tidakah lebih bijak juga jika media massa kita jika belum mampu melakukan segmentasi, ya minimal bisa sedikit memodifikasi ofrmatnya misalnya acara kekerasan dan yang "sedikit" berbau pornografi diletakan di atas jam 12. hanya saja yang paling bijak tentu saja jika kita menyediakan media TV kabel saluran porno yang hanya bisa diakses dengan biaya tertentu hingga hanya "orang-orang" terpilih saja yang menikmatinya, atau penualan VCD erotis dan porno di tempat-tempat yang telah disediakan negara hingga kita pun mampu mengontrol berapa populasi penikmat itu dan dampaknya.
Teguh Untuk Kita Semua
Pertanyaannya, mampukah negara yang seperti ini melakukan itu semua? Negara ini… apa yah? Males ah komentar tentang negara ini. Sebel melulu bawaannya. :p
Teguh Untuk Kita Semua!
Imam Gumam Dosa, Gak Gaul.
(Don, ditanggapi yah, skripsi kamu ngena gak sih? Bikin Media Watch dunks..)
Ada opini menarik, masih tentang kontroversi "Inul". This I got from a friend. Selamat beropini!
DN
----------------------
Liputan tentang kontroversi pernyataan Rhoma irama terhadap goyangan Inul di berbagai media cetak, elektronik bahkan online begitu luar biasa minggu-minggu ini. Pun pernyataan berbagai elemen masyarakat berhamburan menghiasi halaman muka dan tajuk-tajuk utama peliputan media, bahkan
kelompok-kelompok perempuan sampai merasa khusus perlu mengadakan aksi mendukung inul di bunderan HI.Luar biasa Rhoma Irama dan inul memang kontroversial!
Inul dan Rhoma bisa jadi memang kontroversial. Tapi, media kitalah yang mau saya sebut kontroversial. Dan kenyataan ini sama sekali tidak mengejutkan saya.
Kenyataan ini sangat mengejutkan bagi saya karena:
1. Media begitu bersemangat mengangkat kontroversi ini dibandingkan mengangkat isu penahan mahasiswa atau pemukulan wartawan Tempo oleh preman (jika isu yang diangkat adalah kebebasan berekspresi) atau isu pemerkosaan dan penganiayaan yang dialami oleh kaum perempuan di Aceh semasa DOM,jeda kemanusiaan maupun pasca penandatangan CoHA (jika isunya dalah isu perempuan) atau isu buruh-buruh perempuan dan para perempuan petani yang tanahnya diambil paksa untuk pembangunan atau tanahnya sempit (jika isunya adalah masalah pendapatan). Tidak itu saja bergam polling juga diluncurkan. Menurut pendapat saya Isu-isu tersebut lebih "penting" untuk diangkat karena posisinya jelas "ketidakmampuan negara untuk melindungi hak-hak warga negaranya". Untuk kasus Inul ini maaf saja, negara tidak mengahalang-halangi Inul berekspresi, tidak melakukan penganiayaan terhadap Inul, atau tidak memeras pendapatan Inul (kecuali pajak:)). Buat saya ini murni perdebatan warga civil dengan warga civil lainnya yang bisa diselesaikan lewat jalur pengadilan. Intinya Rhoma nggak mengerahkan massa seperti FPI yang merusak tempat-tempat hiburan, atau melarang media (sekalipun kalau iya, apa sih kekuatan hukum yang dia miliki buat melarang media?). So kenapa media begitu bernafsu mengangkat isu ini, apakah persoalan periuk nasi mereka yang terganggu (SCTV dikabarkan menagguk keuntungan iklan dari salah satu tayangan inul sebesar 500 juta rupiah hanya untuk satu jam tayang).
Mohon pencerahan untuk yang satu ini jika ada yang memiliki argumentasi lain.
Saya sama sekali tidak bertendensi untuk memberikan pencerahan. Hah, tidak capable! Tapi, sekali lagi, coba jangan terkejut dengan hal ini. Semua ini mestinya bisa kita prediksi sejak beberapa tahun lalu, ketika televisi swasta mulai bertumbuhan di Indonesia. Ada sebuah buku bagus karangan Neil Postman, Menghibur Diri Sampai Mati, di Indonesia diterbitkan Penerbit Sinar Harapan (1995). Kali ini Neil Postman yang menjadi referensi saya. (Yah, you are what you read!)
Buku ini membuktikan kecenderungan kalau apa yang diramalkan George Orwell adalah salah dan apa yang diramakan Aldous Huxley adalah benar. Orwell, seorang marxis(?), memperingatkan kita akan ancaman penindasan tirani penguasa. Sedang Huxley justru mengatakan kalau manusia justru akan semakin mencintai penindasnya, memuja berbagai teknologi yang akan membutakan pikirannya. Postman memberikan contoh seperti ini: “Orwell memprihatinkan pelarangan buku. Huxley memprihatinkan lenyapnya alasan untuk melarang penerbitan buku, karena minat baca telah punah. Orwell mencemaskan adanya pihak yang ingin menjauhkan kita dari informasi, sementara Huxley mengkhawatirkan mereka yang menjejali kita dengan begitu banyak informasi sampai kita menjadi pasif dan egois. Orwell mengkhawatirkan disembunyikannya kebenaran dari kita, Huxley mengkhawatirkan hilangnya kebenaran di dalam lautan informasi yang tidak relevan. Orwell mencemaskan datangnya masa di mana kita menjadi masyarakat yang terbelenggu. Huxley mencemaskan kemungkinan kita menjadi masyarakat remeh temeh… singkatnya, Orwell cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita benci. Huxley, sebaliknya, cemas akan kehancuran kita yang disebabkan oleh hal-hal yang kita sukai.”
Maka, mengapa saya tidak terkejut, karena apa yang kini terjadi di sini, sesungguhnya telah terjadi di, sebut saja, Amerika sana di waktu dulu. Di mana politik bahkan sudah dipengaruhi begitu jauh dengan sisi-sisi entertainment. (Menjadi presiden di sana berarti menjaga penampilan, berat badan, hindari kebotakan, dlsb!). Bukan hanya soal politik, bahkan juga soal agama. “Di Amerika, Tuhan menganakemaskan mereka yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru penghibur profesional yang tidak menghibur.”
Dan media sangat berperan dalam hal ini. SCTV, sebagai salah satu “media penyalur informasi”, dalam kasus Inul dan Rhoma telah menjadi media yang “Make News”. SCTV tidak mencari berita, melainkan membuat berita. Mungkin teman-teman dari FIKOM yang sangat mengerti dalam hal ini, atau juga Donny. S. Sos. Fresh graduate…. =)
2. Sudah sejak lama kelompok-kelompok perempuan melakukan perlawan terhadap komodifikasi keindahan perempuan dalam iklan-iklan yang ditayangkan televisi. Sejak dulu mereka berjuang menentang penggunaan tubuh perempuan sebagai komoditas untuk memasarkan produk bahkan dalam format pencintraan saja (tamagola secara khusus pernah membahas ini) atau saya yang salah menangkap perjuangan kelompok-kelompok perempuan tersebut? Seingat saya upaya gender mainstriming dalam dunia iklan sudah sejak lama dilakukan. Nah upaya mereka untuk membantu Inul hingga aksi turun ke jalan tidakkah bertentangan dengan hal tersebut? Atau dalam pandangan kelompok ini Inul tidak pernah menjadi korban komoditi media untuk memperoleh keuntungan.
Sekali lagi saya mohon dicerahkan dalam kebingungan saya yang kedua.
Saya jadi ingat kasus boneka barbie. Perempuan yang bukan perempuan. (Ternyata banyak jenis perempuan :p).
Di puncak popularitasnya Barbie berhasil membuat semacam kejutan manis. Saat itu kaum feminis terpolarisasi menjadi dua kutub: mereka yang sangat bahagia dan mendukung atas kemunculan Barbie dan satu lagi mereka yang menolak dan menyesal atas kemunculan Barbie. Lihatlah Barbie, perempuan itu tiba-tiba saja menjadi ikon dunia. Perempuan akan cantik jika seperti Barbie: langsing, putih, blondie, bermata indah, berkaki panjang, wah. Dan, ini dia, Barbie ternyata bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi seorang dokter, astronot, guru, wanita berkarier tinggi, apa-apa yang muskil bagi seorang perempuan kebanyakan. Ini yang menjadi kebanggaan mereka yang mendukung Barbie.
Barbie punya popularitas yang luar biasa. Barangkali setiap wanita di sana punya Barbie. Mereka lahir dari sepasang ibu-bapak yang saya pikir luar biasa. Jangan kaget, pemasaran Barbie dikomandani oleh doktor psikologi lewat pendekatan Freudian! Dan jika saja Barbie disuruh rebahan dan diurut-urut, kaki yang satu menginjak kepala yang lain, maka Dunia akan menjadi lautan Barbie. Produksi mereka luar biasa.
Di urusan domestik, tentu saja, Barbie adalah ibu rumah tangga yang ideal: jago masak, menata rumah, dan… setia! Kent, pasangannya, bisa saja menjalin hubungan rahasia dengan wanita lain, tapi Barbie akan tetap setia berpasangan dengan Kent.
Mereka yang mengumpat Barbie punya alasan yang mirip dengan pertanyaan di atas. Bagi mereka, Barbie tidak pernah pro-perjuangan kesetaraan gender. Barbie mungkin menjadi astronot, dokter, dlsb, tapi Barbie tidak pernah mengangkat isue-isue khas perempuan: buruh wanita murah, kekerasan terhadap wanita, cuti hamil, dlsb. Juga tentang pencitraan cantik (seperti yang kini terjadi di iklan-iklan), mereka protes mengapa Barbie selalu berkulit putih dan tidak hitam. Tapi, oho, pasangan suami-istri itu ternyata cukup akomodatif menanggapi ini. Segera keluar-lah Barbie serie kulit hitam. Dan percayalah, beberapa tahun kemudian miss universe yang terpilih adalah seorang wanita berkulit hitam!
Mudah-mudahan tepat analoginya. =)
Tapi maksud saya sebenarnya tak banyak. Kemunculan media bukan saja berdampak semakin sulitnya mencari kebenaran dalam lautan informasi yang begitu bertebaran. (Untuk memenuhi kehausan anda dan menambah wawasan anda tentang kehidupan selebritis Indonesia, anda bisa menyaksikan infotainment setiap hari, bahkan di jam setengah lima subuh sekalipun! Tadi pagi saya menontonnya, jam setengah lima pagi! Dan bukan hanya satu stasiun teve yang memutarnya!!). Tapi juga semakin hilangnya wacana publik. Semuanya terperosok ke dalam seni pertunjukkan. (Bahkan TOYOTA dalam anggaran periklanannya menggarisbawahi bahwa bidang ekonomi lebih merupakan seni pertunjukkan). Dari sini, silakan Anda mulai analisis Anda, lewat serangkaian alat Marxisme, Smith, Freud, Religion, Levi Strauss? Terserah. Tapi, Marshall McLuhan sudah punya gagasan yang menurut saya sangat mengena, “The medium is the message”. Medium yang dipakai untuk menyampaikan suatu pesan adalah pesan itu sendiri. Lalu apakah patut disesali mundurnya zaman tipografi dan munculnya zaman televisi? Sepertinya ini asyik jika kita diskusikan… (Donny, kamu bikin pengantarnya yah.. =)
3. Adalah sebuah kenyataan bahwa masyarakat kita tidaklah homogen. ada "yang sudah" menyukai "keterbukaan" ada yang masih meyukai "ketertutupan". Menjustifikasi bahwa "keterbukaan" sebagai keniscayaan nilai-nilai yang benar, rasanya menghalangi Hak asasi orang yang suka "ketertutupan" pula untuk berekspresi.Dalam konteks media massa kita (televisi khusunya) hingga saat ini belum ada TV yang secara khusus melakukan segmentasi pasar berdasarkan isu. Misalnya televisi porno, televisi agama, atau televisi politik. Adalah hal yang berat memang ketika Televisi umum harus memformat acaranya sesuai dengan defenisi yang memuaskan semua orang. Namun tidakah lebih bijak juga jika media massa kita jika belum mampu melakukan segmentasi, ya minimal bisa sedikit memodifikasi ofrmatnya misalnya acara kekerasan dan yang "sedikit" berbau pornografi diletakan di atas jam 12. hanya saja yang paling bijak tentu saja jika kita menyediakan media TV kabel saluran porno yang hanya bisa diakses dengan biaya tertentu hingga hanya "orang-orang" terpilih saja yang menikmatinya, atau penualan VCD erotis dan porno di tempat-tempat yang telah disediakan negara hingga kita pun mampu mengontrol berapa populasi penikmat itu dan dampaknya.
Teguh Untuk Kita Semua
Pertanyaannya, mampukah negara yang seperti ini melakukan itu semua? Negara ini… apa yah? Males ah komentar tentang negara ini. Sebel melulu bawaannya. :p
Teguh Untuk Kita Semua!
Imam Gumam Dosa, Gak Gaul.
(Don, ditanggapi yah, skripsi kamu ngena gak sih? Bikin Media Watch dunks..)
13.12.03
Anarchisme oleh: Ir. Soekarno
Salah satu faham dari socialisme ialah anarchisme. Perkataan anarchisme itu adalah terdiri dari perkataan A, archi dan isme. A artinya tidak. Archie artinya memerintah. Isme artinya faham. Jadi makna anarchisme ialah salah satu faham yang tidak suka sama pemerintahan. Anarchisme ialah salah satu faham atau aliran dari socialisme, oleh karenanya anarchisme itu adalah lawannya kapitalisme.
Seorang anarchist, ialah pemeluk faham anarchisme itu, tidak suka dengan milik (eigendom), oleh karena hak milik itu lahirnya dari kapitalisme. Selain daripada itu anarchisme itu tidak mufakat dengan tiap-tiap pemerintahan, oleh karena katanya bagaimana demokratis atau kerakyatan pula pemerintahan itu di dalam hakikatnya, tiap-tiap pemerintahan itu mengandung paksaan.
Menurut paham Anarchisme, seseorang yang hidup di dalam masyarakat itu berhak atas kemerdekaan seluas-luasnya. Hanyalah pergaulan hidup yang terdiri dari orang-orang yang merdeka itu bisa tentram dan
teratur betul. Menurut fahamnya, pergaulan hidup manusia itu bisa beres jika pemerintahan yang bersendi kepada kekuasaan, dan kekuasaan ini yang melahirkan wet-wet itu, dihapuskan. Oleh karena itu faham
anarchisme ini anti-gezag, ialah tidak mufakat dengan kekuasaan: antiwettisch, tidak mufakat dengan wet; dan antiregeering, tidak mufakat dengan pemerintahan.
Selain daripada itu faham anarchisme itu antimiliteris, ialah tidak mufakat dengan balatentara. Tidak mufakatnya itu oleh karena militerisme ini adalah suatu stelsel yang mengandung paksaan yang hebat sekali. Oleh karena militerisme ini maka pemuda-pemuda yang bisa bekerja di dalam pabrik-pabrik harus ditutup di dalam benteng-benteng. Anarchisme itu menentangi patriotisme yang hanya mengabdi kepada cinta tanah air.
Patriotisme yang kunstmatig yang dihidup-hidupkan di dalam sanubarinya orang-orang yang tidak bertanah-air, oleh karena di dalam tanah-airnya sendiri mereka menderita kelaparan, kesengsaraan dan
perbudakan. Patriotisme yang jadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah-air satu ialah menschheid. Juga mereka itu tidak mufakat dengan hakim dan polisi. Juga dengan wettelijk huwelijk, ialah perkawinan menurut wet, mereka tidak mufakat, oleh karena wettelijk huwelijk ini menjadi sebab orang perempuan tidak merdeka.
Mereka tidak mufakat dengan minum-minuman keras. Minuman keras ini merusakkan manusia lahir dan batin. Kaum Anarchist mufakat sekali dengan persamaan milik, oleh karena persamaan milik itu adalah
sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia.Hak persamaan milik itu menentukan hak-haknya seseorang atas alat-alat pembikinan barang dan atas syarat-syarat bagi kebutuhannya manusia. Dengan adanya, hak persamaan milik itu, maka aturan merampas pekerjaan lain orang akan lenyap, oleh karena semua sifat perburuhan itu tidak ada lagi. Seseorang bisa bekerja bagi dirinya sendiri.
Anarchisten itu mufakat sekali dengan persoonlikje vrijheid, ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan. Semua kemajuan itu terutama
membesarkan persoonlikje vrijheid itu, oleh karena persoonlikje vrijheid ini adalah satu alat yang terbaik bagi manusia untuk hidup bersama-sama yang rukun, tentram dan dimana seseorang itu bisa hidup
menurut wataknya sendiri-sendiri ialah pergaulan hidup yang harmonis.
Batasnya kemerdekaannya seseorang itu ialah kemerdekaannya orang dengan siapa ia itu hidup. Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya. Ketidakmerdekaannya
orang lain itu akan mengurangi sekali bahagianya sendiri dan oleh karena itu maka adalah kewajibannya seseorang bagi mencapai bahagianya sendiri haruslah menghormati kemerdekaannya lain orang.
Kaum Anarchist mufakat sekali dengan perhubungan merdeka antara lelaki dan perempuan, oleh karena hanyalah perhubungan merdeka antara kedua pihak itu itu mengasih ketentuan kepada orang perempuan hidup merdeka. Perhubungan yang bersendi atas cinta di antara perempuan dan lelaki bisalah mendatangkan kemerdekaan untuk bergaul dan untuk memilih ialah kedua syarat yang dapat melahirkan cinta yang sejati.
Cinta yang sejati ini tidak bisa lahir zonder kemerdekaan memilih. Kaum Anarchist itu setuju sekali dengan pendidikan yang merdeka, dengan vrije ontwikkeling, ialah tumbuh merdeka dengan kemerdekaan berbicara dan kemerdekaan berkumpul, oleh karena ini semua adalah syarat-syarat bagi hidupnya masyarakat yang bersendi atas rede ialah budi. Hanyalah sesudahnya kemerdekaan itu merajalela maka ilmu wetenschap dan seni bisa berkembang dan oleh karena mana mengasih bahagia dan kekuatan kepada masyarakat.
Kaum Anarchist adalah menganjuri persaudaraan yang kekal yang lahirnya dari batin, bukan oleh karena paksaan dan didikan yang kunstmatig. Menurut faham anarchisme orang itu adalah mahluk yang suka bercampurgaul dan tidak bisa dipisahkan dari keadaan dimana ia ditempatkan. Persaudaraan itu adalah lahirnya perasaan dan budi pekerti yang suci dan luhur, oleh karena manusia itu menurut natuurnya harus hidup bersama-sama.
Tetapi tiap-tiap orang itu merdeka memilih dengan siapa ia mau bergaul. Semua hal yang memisah-misahkan manusia seperti warnanya muka, bahasa, bangsa, agama, politik itu harus dilenyapkan dan harus
dicari apa yang bisa mempersatukan semua manusia. Menurut faham Anarchisme bukanlah masyarakat yang terpenting tetapi individu, ialah seseorang yang di dalam masyarakat itu yang terpenting. Tinggi dan
rendahnya tingkatannya masyarakat itu ditetapkan oleh kualitasnya seseorang dari siapa pergaulan hidup itu sendiri.
Seseorang hidup dan tumbuh menurut wataknya sendiri-sendiri dan juga menurut aanlegnya atau kodratnya sendiri-sendiri. Tiap-tiap kemajuan itu ialah terjadi dari tumbuhnya dan lahirnya benih-benih yang tersimpan dan hidup di dalam seseorang. Oleh karena itu anarchisme itu di dalam hakikatnya ialah teori individualisme, teori yang menghargakan manusia lebih dari masyarakat.
terima kasih untuk alfred ginting atas kiriman artikel ini.
Salah satu faham dari socialisme ialah anarchisme. Perkataan anarchisme itu adalah terdiri dari perkataan A, archi dan isme. A artinya tidak. Archie artinya memerintah. Isme artinya faham. Jadi makna anarchisme ialah salah satu faham yang tidak suka sama pemerintahan. Anarchisme ialah salah satu faham atau aliran dari socialisme, oleh karenanya anarchisme itu adalah lawannya kapitalisme.
Seorang anarchist, ialah pemeluk faham anarchisme itu, tidak suka dengan milik (eigendom), oleh karena hak milik itu lahirnya dari kapitalisme. Selain daripada itu anarchisme itu tidak mufakat dengan tiap-tiap pemerintahan, oleh karena katanya bagaimana demokratis atau kerakyatan pula pemerintahan itu di dalam hakikatnya, tiap-tiap pemerintahan itu mengandung paksaan.
Menurut paham Anarchisme, seseorang yang hidup di dalam masyarakat itu berhak atas kemerdekaan seluas-luasnya. Hanyalah pergaulan hidup yang terdiri dari orang-orang yang merdeka itu bisa tentram dan
teratur betul. Menurut fahamnya, pergaulan hidup manusia itu bisa beres jika pemerintahan yang bersendi kepada kekuasaan, dan kekuasaan ini yang melahirkan wet-wet itu, dihapuskan. Oleh karena itu faham
anarchisme ini anti-gezag, ialah tidak mufakat dengan kekuasaan: antiwettisch, tidak mufakat dengan wet; dan antiregeering, tidak mufakat dengan pemerintahan.
Selain daripada itu faham anarchisme itu antimiliteris, ialah tidak mufakat dengan balatentara. Tidak mufakatnya itu oleh karena militerisme ini adalah suatu stelsel yang mengandung paksaan yang hebat sekali. Oleh karena militerisme ini maka pemuda-pemuda yang bisa bekerja di dalam pabrik-pabrik harus ditutup di dalam benteng-benteng. Anarchisme itu menentangi patriotisme yang hanya mengabdi kepada cinta tanah air.
Patriotisme yang kunstmatig yang dihidup-hidupkan di dalam sanubarinya orang-orang yang tidak bertanah-air, oleh karena di dalam tanah-airnya sendiri mereka menderita kelaparan, kesengsaraan dan
perbudakan. Patriotisme yang jadi agama baru, yang memisah-misahkan rakyat yang seharusnya hanya mempunyai tanah-air satu ialah menschheid. Juga mereka itu tidak mufakat dengan hakim dan polisi. Juga dengan wettelijk huwelijk, ialah perkawinan menurut wet, mereka tidak mufakat, oleh karena wettelijk huwelijk ini menjadi sebab orang perempuan tidak merdeka.
Mereka tidak mufakat dengan minum-minuman keras. Minuman keras ini merusakkan manusia lahir dan batin. Kaum Anarchist mufakat sekali dengan persamaan milik, oleh karena persamaan milik itu adalah
sesuatu hak dari manusia yang dapat menyelamatkan pergaulan hidup manusia.Hak persamaan milik itu menentukan hak-haknya seseorang atas alat-alat pembikinan barang dan atas syarat-syarat bagi kebutuhannya manusia. Dengan adanya, hak persamaan milik itu, maka aturan merampas pekerjaan lain orang akan lenyap, oleh karena semua sifat perburuhan itu tidak ada lagi. Seseorang bisa bekerja bagi dirinya sendiri.
Anarchisten itu mufakat sekali dengan persoonlikje vrijheid, ialah kemerdekaan sendiri-sendiri, oleh karena kemerdekaan itu adalah haknya alam yang tidak bisa dihancurkan. Semua kemajuan itu terutama
membesarkan persoonlikje vrijheid itu, oleh karena persoonlikje vrijheid ini adalah satu alat yang terbaik bagi manusia untuk hidup bersama-sama yang rukun, tentram dan dimana seseorang itu bisa hidup
menurut wataknya sendiri-sendiri ialah pergaulan hidup yang harmonis.
Batasnya kemerdekaannya seseorang itu ialah kemerdekaannya orang dengan siapa ia itu hidup. Hanyalah di dalam keadaan merdeka seseorang itu bisa mendapat bahagia di hidupnya. Ketidakmerdekaannya
orang lain itu akan mengurangi sekali bahagianya sendiri dan oleh karena itu maka adalah kewajibannya seseorang bagi mencapai bahagianya sendiri haruslah menghormati kemerdekaannya lain orang.
Kaum Anarchist mufakat sekali dengan perhubungan merdeka antara lelaki dan perempuan, oleh karena hanyalah perhubungan merdeka antara kedua pihak itu itu mengasih ketentuan kepada orang perempuan hidup merdeka. Perhubungan yang bersendi atas cinta di antara perempuan dan lelaki bisalah mendatangkan kemerdekaan untuk bergaul dan untuk memilih ialah kedua syarat yang dapat melahirkan cinta yang sejati.
Cinta yang sejati ini tidak bisa lahir zonder kemerdekaan memilih. Kaum Anarchist itu setuju sekali dengan pendidikan yang merdeka, dengan vrije ontwikkeling, ialah tumbuh merdeka dengan kemerdekaan berbicara dan kemerdekaan berkumpul, oleh karena ini semua adalah syarat-syarat bagi hidupnya masyarakat yang bersendi atas rede ialah budi. Hanyalah sesudahnya kemerdekaan itu merajalela maka ilmu wetenschap dan seni bisa berkembang dan oleh karena mana mengasih bahagia dan kekuatan kepada masyarakat.
Kaum Anarchist adalah menganjuri persaudaraan yang kekal yang lahirnya dari batin, bukan oleh karena paksaan dan didikan yang kunstmatig. Menurut faham anarchisme orang itu adalah mahluk yang suka bercampurgaul dan tidak bisa dipisahkan dari keadaan dimana ia ditempatkan. Persaudaraan itu adalah lahirnya perasaan dan budi pekerti yang suci dan luhur, oleh karena manusia itu menurut natuurnya harus hidup bersama-sama.
Tetapi tiap-tiap orang itu merdeka memilih dengan siapa ia mau bergaul. Semua hal yang memisah-misahkan manusia seperti warnanya muka, bahasa, bangsa, agama, politik itu harus dilenyapkan dan harus
dicari apa yang bisa mempersatukan semua manusia. Menurut faham Anarchisme bukanlah masyarakat yang terpenting tetapi individu, ialah seseorang yang di dalam masyarakat itu yang terpenting. Tinggi dan
rendahnya tingkatannya masyarakat itu ditetapkan oleh kualitasnya seseorang dari siapa pergaulan hidup itu sendiri.
Seseorang hidup dan tumbuh menurut wataknya sendiri-sendiri dan juga menurut aanlegnya atau kodratnya sendiri-sendiri. Tiap-tiap kemajuan itu ialah terjadi dari tumbuhnya dan lahirnya benih-benih yang tersimpan dan hidup di dalam seseorang. Oleh karena itu anarchisme itu di dalam hakikatnya ialah teori individualisme, teori yang menghargakan manusia lebih dari masyarakat.
terima kasih untuk alfred ginting atas kiriman artikel ini.
11.12.03
Maaf Sampai Mati!
Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa. Remy Silado membuka Ca Bau Kan dengan kalimat itu. Saya tidak ke Jakarta pagi itu, saya ke Bekasi, sebuah kota tempat di mana saya pernah dibesarkan. Dan saya mencari jejak pendosa. Jejak saya sendiri…
“Hebat Sekali. Pada akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Bahkan dosa sekalipun!”
Saya minta maaf. Secepatnya saya harus pulang. Dan, rasanya saya harus menyalami teman-teman semua, terutama untuk sepatah-dua pengakuan dosa. Aih… dosa-dosa ini.
Saya mohon maaf kepada mereka yang yang tertidur di saat saya berangkat: Dasuki, Dahrun, Endrie, Chokie, dan Novan. (Betapa membingungkan jika saya harus membangunkan kalian semua). Lalu untuk teman-teman di Panorama, mashokis team. Barangkali benar, Drie, mestinya malam tadi kita pergi ke gerbang. Pepeng dan Ade, saya minta maaf. Sebisa mungkin saya terus berhubungan dengan kalian.
Juga untuk yang lainnya. Yang lainnya. Yang lainnya.
Maaf Sampai Mati!
# kalian dapat salam dari Eka. Dia sudah duluan. Pagi-pagi sekali, belum ada matahari!
Pesan itu saya tulis di sebuah kertas putih yang saya dapati begitu saja. Itu jam setengah delapan pagi, di hari Sabtu tanggal 15 November. Sebuah pagi yang mendung yang membuat saya sedikit ragu untuk memutuskan sebuah perjalanan pulang. Membuat saya sedikit berlama-lama terdiam di ruang tengah rumah biru, memandangi mereka yang tertidur begitu pulas, beberapa mendengkur halus, yang dengan segera mengingatkan saya kepada dengkur bayi-bayi. Di belakang saya, berdesakan buku-buku dalam rak, seolah berebutan dengan begitu tergesa-gesanya untuk ke luar, menjatuhkan dirinya dan kemudian membiarkan halaman-halamannya terbuka dimain-mainkan angin pagi. Buku-buku itu.
Semuanya pasti akan terkenang-kenang nanti, muncul begitu saja di kepala serupa gelombang-gelombang halus pantai, datang dan pergi silih berganti. Seperti misalnya kejadian semalam. Sebuah pesan saya kirim kepada seorang kawan baik di Yogya, “Demi tuhan, betapa menyebalkannya menjadi seorang pemimpi!” Tak sampai sepuluh detik, dia membalasnya, “Kau kenapa? Aku lagi on-line sekarang!” Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera pergi menuju warnet, menyerahkan diri dalam labirin maya yang begitu rumit. Dan dia menyapa, “Hai!” Malam itu, 14 Desember, adalah malam di mana kekesalan telah memuncak begitu rupa, di Jatinangor, tempat yang rasa-rasanya tak perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk mencapai kebusukannya. Sementara dia, dia sedang begitu tentramnya di sebuah rumah budaya, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, mengerjakan sesuatu yang dia cintai begitu liar: menulis. Di beranda, ceritanya, ada Puthut EA dan kawan-kawannya sedang melingkari gelas-gelas kopi, membicarakan begitu banyak hal seraya tertawa-tawa. Dia kembali bertanya, “kau kenapa?” Tak ada, kataku. Hanya sedang sebal kepada sederetan filsuf yang ternyata berkepala penuh bualan-bualan. Dia tertawa. Hanya tertawa. Lalu dia katakan, “Mam, aku jatuh cinta (lagi)” Itulah, jawabku, aku pikir aku pun begitu.
Ehm…
Tapi dia bahkan telah menulis dua belas prosa akibat rasa cintanya itu. Menulis! Saya ceritakan sedikit tentang dia. Dia saya kenal sekira dua tahun lalu, tidak, tiga tahun lalu. Di akhir tahun 2000 di sebuah ruang gelap maya. Malam itu dia menawakan diri untuk membacakan puisinya. Saya menghampirinya, bertanya begitu saja: kau senang puisi? Dia sekolah di negara yang lain dengan saya, di benua yang lain. Kelas tiga SMU. Yang mengejutkan, dia punya satu cita-cita yang rasa-rasanya tak pernah bisa saya mengerti sampai kapan pun: kuliah di Yogyakarta! Saya membujuknya untuk jangan pernah menyimpan keinginan bersekolah di Indonesia, dengan sistem pendidikan seperti ini, maka segenap potensi yang telah ada dalam dirinya akan menjadi percuma begitu saja. Kau sudah bagus di Australia, untuk apa ke Indonesia? Jawabnya, “Ada Eka Kurniawan di Yogya”. Menulis! Bahkan dia hanya ingin berkumpul dengan para penulis di Yogya. Eka Kurniawan adalah cerita lain lagi, seorang penulis yang novelnya baru terbit dan konon yang terpanjang yang pernah ditulis penulis Indonesia. Dan kelak, selama libur di rumah, pagi-pagi saya banyak diisi dengan membaca novelnya itu. Baca dan baca lagi.
Seperti itulah, hingga akhirnya dia benar-benar kuliah di Yogyakarta, dua tempat sekaligus: Sejarah Universitas Gadjah Mada dan Fotografi Institut Seni Indonesia. Dan menjadi penulis. Di malam saat saya mengirim pesan itu kepadanya, bahkan dia sempat menulis sebuah puisi untuk Puthut EA, penulis yang sama hebatnya dengan Eka Kurniawan, bagi saya. (Ini sungguhan, bahkan surat-surat Puthut dan Eka yang pernah saya baca di berbagai media mempunyai kekuatan yang membuat saya harus mengakui bahwa Puthut begitu menggetarkan. Puthut dan Eka yang Dahsyat). Ini puisinya:
Demi Yang Maha EA
:p.e.a.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
berapa banyak yang dibutuhkan seseorang untuk menggoncang dunia?
atau hanya dalam beberapa tangisan dalam satu malam?
kau sedang mencari kesepian dimana-mana, bahkan dalam sekeping obrolan dan segelas kopi pait.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
masih sangat.
dalam kursi bambu yang juga hangat.
yk, 141103
Malam itu, bagaimanapun, saya memimpikan untuk bisa tidur. Karena malam-malam sebelum malam itu, percayalah, sekalipun saya tak pernah bisa tidur sebelum langit timur mulai berwarna terang. Tapi gagal, selalu gagal. Karena tepat jam setengah dua dini hari, sebuah pagi yang buta, seorang kawan datang dengan buku-buku yang baru saja ia beli. Ditemani segelas sirup jahe pemberian seorang kawan, kami bicara, juga dengan kawan-kawan yang lain, tentang mimpi untuk membuat semacam media penulisan kreatif di Jatinangor. Lalu pembicaraan melompat-lompat, pertama kali ke wilayah cerpen, lalu penulis-penulis, gosip-gosip, dan akhirnya cinta-cinta. Cinta…
Itu berlangsung hingga pagi begitu ribut dengan suara-suara yang keluar dari surau-surau. Suara-suara yang diharapkan mampu membangunkan mereka yang tertidur untuk melaksanakan sahur. Jam tiga pagi, kesunyian dengan segera menyeret saya menuju warung mencari makan. Kenyataannya, saya tidak makan, melainkan membuat segelas kopi dan mengambil beberapa batang rokok. Sebuah pagi sahur tanpa makan. Hingga kemudian saya benar-benar tertidur pada pukul lima lebih sedikit. Dari jendela mungil yang agak tinggi, bersebelahan dengan photo Soekarno yang sedang tersenyum, saya melihat matahari telah mulai memutih. Tuhan, apa lagi, saya hanya ingin tertidur?!
Saya hanya ingin tertidur pagi itu. Karena nanti, jam delapan pagi, sudah seharusnya saya berada di dalam bus yang menuju kota saya dibesarkan. Tidak bisa tidak, sore hari nanti sebabnya. Sebuah janji telah saya sepakati dengan kawan-kawan di Bekasi. Janji yang tak pantas untuk disesatkan. Kami akan bertemu membunuh sore nanti, melewatinya dengan canda-canda yang dapat dipastikan akan begitu kelewatan, dan lalu berbuka puasa bersama. Yang membahagiakan: saya tertidur pagi itu. Yang menyebalkan: saya hanya tidur satu setengah jam lamanya.
Hingga kemudian saya terbangun di pukul setengah delapan pagi dan mengusir paksa kemalasan dengan menyegerakan diri berjalan ke kamar mandi. Lalu duduk membelakangi buku-buku yang berdesakan di dalam rak seraya mendengarkan dengkuran halus beberapa kawan. Menemukan sebuah kertas putih dan mulai menuliskan pesan tadi, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan plastik perekat yang saya ambil dari sepucuk undangan pernikahan. Saya pulang meski mungkin akan turun hujan. Sudah semestinya.
***
Sepanjang perjalanan saya mengusahakan diri untuk tetap terjaga. Sebuah perjalanan akan terasa percuma jika dilewatkan begitu saja karena pasti akan banyak yang dapat terlihat, yang mungkin dapat memberi perspektif lain bagi diri saya dalam menjalani hidup, tentu saja. Tapi percuma. Pagi, menjelang siang, yang sejuk dan sedikit mendung membuat saya benar-benar tertidur dalam perjalanan dan baru terjaga saat bus nyaris sampai di kota saya. Bekasi. Inilah sebuah kota yang begitu aneh. Saya merasa seperti turis yang datang berkunjung untuk pertama kalinya di kota ini. Bagi saya aneh, karena, seperti keajaiban yang terus terjadi berulang-ulang, setiap saya kembali datang ada saja yang berubah dari kota ini. Seperti dulu, beberapa bulan lalu. Dulu di tepi sungai kotor itu belum ada gedung parlemen kota, dan kini lihatlah, gedung itu berdiri begitu megahnya. Juga di perempatan ramai itu, dulu sisi sebelah barat jalan adalah sawah belaka, tapi betapa mengejutkannya, kini sebuah pusat perbelanjaan berdiri begitu sombongnya sementara sesungguhnya tak jauh dari sana telah ada pusat perbelanjaan serupa. Saya tidak tahu itu mal keberapa di kota ini, yang saya tahu pengemis, anak-anak jalanan menjadi begitu banyak di kota ini. Seperti siang itu, dari balik jendela angkot saya melihat beberapa “orang-orang jalanan” tengah istirahat di bawah pohon yang teduh di tepi sungai. Saya kira mereka adalah sebuah keluarga, ada seorang kakek, beberapa lelaki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak kecil. Mereka duduk melingkar tak teratur dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Sementara itu, di seberang sungai tempat mereka istirahat, berdiri pusat perbelanjaan megah dengan papan-papan iklan di setiap meter dindingnya. Inilah sebuah kota, di mana saya tak pernah merasa aman. Kehidupan saya terteror dengan selentingan-selentingan ketidaknyamanan yang bisa dipastikan setiap orang bisa menceritakannya.
Bagaimanapun, saya sampai di rumah. Sebuah rumah mungil yang menggairahkan. Berbeda dengan kota ini, rumah ini tak begitu banyak berubah, kecuali kini di timur beranda ada sebuah rak rotan yang dulu dipakai menyimpan koran dan majalah dan kini menjadi tempat bagi sepatu dan sandal. Lalu kursi-kursi yang berubah warna, menjadi warna hijau yang begitu saja mengingatkan saya pada agar-agar segar. Sebuah ingatan yang menjadi lelucon untuk saya dan keluarga.
Saya masih mengantuk dan berniat untuk meneruskan tidur di rumah ini. Kenyataannya saya tak pernah bisa kembali tidur, saya harus melayani semua pembicaraan yang dilancarkan oleh orang tua dan kakak saya. Mendiskusikan isi koran-koran pagi, tentang kuliah, tentang apa pun. Hingga jarum jam ternyata telah tepat berdiam di atas angka empat. Jam empat sore. Saya belum tidur. Saya belum mandi. Belum melakukan apapun meski saya ada janji sore ini. Maka saya mandi dan segera berpakaian.
Dan tuhan, apa artinya doa-doa jika tidur adalah sebuah perkara sulit?
***
Itulah sebuah sore yang menyenangkan, sebuah sore yang menyeret saya ke sebuah kenangan tiga tahun lampau, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama kawan-kawan yang membahagiakan, sebuah kenangan dengan peristiwa-peristiwa kecil yang tak akan lari sampai kapan juga dari ingatan. Kami, kawan-kawan sekolah dulu, berkumpul sore itu, berkumpul kembali. Dengan cerita-cerita baru, peristiwa-peristiwa baru, lelucon-lelucon baru, dan rambut-rambut baru. Dulu si itu pernah berkelahi di depan kelas dengan si ini, si dia pernah ketahuan membawa sebungkus rokok di saku baju sekolahnya begitu memasuki kelas oleh guru, si itu dulu rambutnya ikal dan kini saat mode berganti, rambutnya tiba-tiba menjadi selurus paku. Semua kenangan itu diputar kembali bersama-sama di sebuah beranda rumah seorang kawan. Dan kami tertawa-tawa. Begitu renyahnya, begitu akrabnya…
Sampai malam kemudian datang dan mengharuskan semuanya kembali kepada urusan masing-masing. Saya pulang, diantar tiga motor sekaligus. Mandi dan bersiap tidur. Dan seperti kabar buruk, tak lama berselang, seorang kawan menelepon. Apa kabar, kapan sampai, sedang apa, dan mengajak saya keluar. Apapun, kenyataannya malam itu saya urung tidur, saya keluar dengan sepeda motornya, berdua. Dia adalah seorang kawan yang lain lagi. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya saja kini dia telah lulus kuliah, hal yang mebuat risau ibu saya, “Kau masuk bareng dengannya, kenapa tidak lulus bareng?” Dan jika ibu saya sudah bertanya seperti itu, maka inilah jawaban yang terus saya ulang-ulang, yang saya kutip dari seorang kawan di Yogya yang telah saya ceritakan di atas: “Yah, orang kan beda-beda.” Salah satu kalimat favorit. Kami berputar-putar sambil bercerita banyak hal, dan terutama, lagi-lagi, tentang cinta!
***
Dari manakah semua kekejaman bermula? Kekejaman itu terjadi begitu saja di dini hari yang melelahkan. Dan sayalah pelaku kekejaman itu. Saya sedang menyelesaikan sebuah novel tua karangan penulis Rumania yang saya dapati di rak buku ayah saya, “Peradilan Terakhir” Petru Dimitriu. Sesungguhnya, sejak SMU saya telah berusaha menyelesaikan novel itu, tapi itu bukan perkara mudah, percayalah. Kertas-kertas di buku itu telah begitu menguning, bahkan kecoklat-coklatan, ditambah dengan ejaan bahasa Indonesia jauh sebelum disempurnakan. Belum lagi struktur cerita yang membingungkan: si ini bercerita tentang si itu yang kemudian dilanjutkan si itu menceritakan si dia yang lain lagi. Rasanya itu adalah cerita dari seorang penulis yang antikomunis. Banyak saya baca cerita-cerita yang menampilkan sisi buruk komunisme. Dan malam itu saya berjanji untuk membuat sebuah risalah tentang pengalaman membaca novel itu.
Kekejaman itu terjadi, begitu saja dengan mudahnya. Di telapak tangan saya tertinggal begitu banyak bercak darah. Merah. Saya yakinkan itu darah saya sendiri. Darah saya sendiri yang dihisap tanpa izin dari nyamuk yang rasanya begitu banyaknya hingga niscaya tak seorang pun yang akan sanggup menghitungnya. Haruskah saya membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan begitu kejamnya? Dan jika pertanyaan ini mulai muncul, ingatan saya dengan segera memunculkan sebuah dialektika buntu seorang tokoh dalam novel karangan Dwi Hendro Basuki, “Dari Pojok Kamar Paling Belakang”, yang diterbitkan secara indie oleh temannya sendiri. “Apakah harus dengan membunuhnya?” Itu pertanyaan tokoh tersebut saat menghadapi nyamuk-nyamuk di kamarnya, pertanyaan yang membingungkan karena ia teringat pula pada seorang tetangganya yang mati karena demam berdarah! Tahukah, saya telah membunuh begitu banyak nyamuk dini hari itu!
Mengapa di kamar ini terlalu banyak nyamuk? Mungkinkah seperti yang pernah diceritakan di sebuah film produksi pemerintah tentang pemberontakan partai komunis di negeri ini, saat seorang jenderal mendapati kamarnya begitu banyak nyamuk, tak seperti biasanya, dan beberapa jam kemudian, ia dibunuh. Semacam isyarat untuk berfirasat. Sesuatu pikiran yang mengada-ada. Yang saya putuskan: saya membakar rokok, memakai lotion antinyamuk, dan melanjutkan membaca. (Tapi, bagaimana nyamuk-nyamuk itu akan mendapatkan makanan jika saya memakai lotion antinyamuk, tidakkah ini bentuk kekekajaman yang lain lagi?)
Di sore keesokan harinya, 17 november, saya terbangun dari tidur dan mendapati langit yang menurunkan hujan begitu derasnya, hujan yang rasa-rasanya tak akan pernah berhenti untuk ratusan tahun lamanya dan akan menenggelamkan begitu banyak kota di negeri ini. Sore yang basah. Dan sendu. Pagi tadi, sesaat sebelum saya tertidur, saya telah membuat janji dalam hati untuk mengakrabi kembali benda-benda di rumah ini. Saya ingin kembali menyentuhnya, mengamati setiap detail sudut rumah dengan segala benda-bendanya. Tapi bohong, karena kenyataannya saya hanya bisa diam saat rak sepatu di timur beranda rumah menjadi basah oleh hujan yang menggila dan saya hanya melihatnya. Hanya melihatnya dan berkomentar, “kasihan sekali, pasti akan rusak tak lama lagi”.
Saya ingin mengakrabi kembali bermacam-macam benda di rumah ini, karena biasanya selalu saja ada kejutan yang datang menghampiri. Seperti dulu misalnya, saya mendapati rekaman kaset prosesi pernikahan orang tua saya, atau juga sekoper photo-photo tua, photo-photo leluhur dan kakak-kakak saat masih kecil dulu (sementara tak saya dapati satupun photo bergambar saya!). Atau saat saya menemui buku yang saya baca sekarang, “Peradilan Terakhir”, di rak buku ayah saya. Mengakrabi benda-benda, lalu mencoba menyelematkannya dari kerusakan yang mengancam, akan banyak manfaatnya, saya yakini itu.
Di malam harinya, juga malam-malam berikutnya, banyak saya habiskan bersama kawan-kawan lama. Seorang kawan, di hari ketiga saya di rumah, pulang dari Padang, tempat kuliahnya, dan mengundang saya untuk main ke rumahnya. Sebuah pertemuan yang mirip pada saat saya bertemu dengan kawan-kawan SMU dulu, menyeret saya ke rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi jauh di belakang. Dia banyak bercerita malam itu. Dan, lagi-lagi, yang saya dengar banyak yang berkisar di perkara cinta. Lagi-lagi cinta…
***
Barangkali satu-satunya yang saya sesali selama kepulangan di rumah adalah insomnia. Penyakit itu, terkutuklah dirinya. Sebenarnya kepulangan saya disertai harapan untuk dapat memperbaiki pola tidur yang menjadi semakin berantakan di beberapa bulan terakhir. Tapi gagal, karena ternyata tidur tiba-tiba menjadi suatu perkara rumit dan melelahkan. Selalu seperti ini: tertidur dua jam lalu terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga masa liburan benar-benar usai tanpa saya bisa memperbaiki pola tidur saya itu. Seolah-olah setiap hari adalah pengulangan hari-hari sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan terkutuknya hidup yang seperti itu. Suasana liburan membuat diri tak produktif sama sekali.
***
Di suatu pagi saya terbangun begitu rupa dengan kekesalan yang tumpah tak terkendali. Sebuah mimpi bagus telah rusak. Dan inilah mimpi itu:
Jakarta begitu gelap, senja baru saja berakhir dan hitam mulai memayungi Jakarta. Tapi di jalan-jalan begitu ramai orang-orang. Seketika Jakarta menjadi merah, merah api. Dalam mimpi itu saya adalah seorang wartawan. Dan di jalanan itu sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara dengan kekuatan penuh bersiaga dengan senjata di pundak mereka. Yang menyedihkan, mahasiswa-mahasiswa itu terpecah ke dalam beberapa tempat. Tidak, tidak terpecah, tapi dipecah oleh para tentara yang mulai memprovokasi mahasiswa agar marah dan bertindak brutal. Tentara mulai membakar benda-benda di tengah jalan, semakin memisahkan barisan mahasiswa demonstran. Di saat saya sibuk membujuk para pimpinan mahasiswa untuk tetap satu barisan, meski saya seorang wartawan, para mahasiswa mulai membawa beberapa truk sampah untuk di bakar di tengah jalan: mereka mulai terpancing tentara untuk bertindak brutal. Itulah saat-saat saya merasakan kemarahan terhadap tentara, seperti yang pernah saya lakukan saat dulu berdemonstrasi di depan gedung parlemen. Saya mencoba menghampiri tentara, menemui pimpinan mereka di sebuah pos di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah apa yang saya temui di dalam pos: saya menemui Jenderal Besar Soeharto, mantan presiden itu di dalam pos sedang memberi pengarahan pada pimpinan tentara yang hendak saya temui! Dia begitu renta namun sehat, berpakaian putih-putih selayaknya seorang haji, duduk berhadapan dengan pimpinan tentara itu. Ups. Saya putuskan untuk melaju ke tengah-tengah arena demonstrasi yang semakin panas merah api, naik ke atas mobil yang disulap menjadi panggung orasi. Saya mengambil pengeras suara dan berorasi dengan penuh kemarahan. Saya, dalam orasi saya itu, mengajak mahasiswa dan tentara untuk bersatu. Saya mengajak mereka untuk mempercayai bahwa kita semua adalah korban dari golongan-golongan korup yang merusak negeri ini, saya mengajak mereka untuk berhenti melakukan kekerasan dan menghindari perang saudara. Saya membujuk tentara untuk tidak menaati pimpinan-pimpinan yang memerintahkan mereka untuk menembaki rakyatnya sendiri, pimpinan-pimpinan yang korup dan hidup dengan fasilitas-fasilitas mewah. Dan saya terbangun!
Begitu saja. Bermenit-menit saya memikirkan mimpi itu di atas tempat tidur saya. Soeharto. Orang tua itu, siapa yang ingat dia sekarang? Sedang apa dia? Sejauh mana proses pengadilannya? Saya membayang-bayangkan diri saya ditembak saat saya sedang berorasi di atas mobil itu. Dan melihat negeri ini menjalani masa-masa revolusinya dengan damai menuju perbaikan. Tapi, mengapa saya terbangun?
Apapun, saya telah terbangun. Dan lagi-lagi tak bisa tidur sampai pagi hari meski itu baru saja jam setengah satu pagi. Saya ke dapur membuat segelas sirup, membakar sebatang rokok dan membaca. Soeharto…
***
Itulah saat saya menyelesaikan “Peradilan Terakhir” dan kemudian beralih ke buku lainnya lagi, “Cantik Itu Luka”, karangan Eka Kurniawan. Sesungguhnya saya telah membacanya sejak pertama beli beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, saya tak bisa tidak mengingat Gabriel Garcia Marquez yang menulis Seratus Tahun Kesunyian. Eka Kurniawan sendiri mengakui kalau dia sangat mengagumi Marquez dan kemudian terpengaruh olehnya. Berbeda dengan saat pertama kali saya membacanya, kali ini saya banyak menemui hal-hal berbau humor yang fantastis, atau barangkali ironis. Marquez dalam Seratus Tahun Kesunyian pernah menceritakan saat wabah lupa melanda Macondo, yang membuat keluarga Buendia kerepotan. Saat wabah itu menyerang untuk kedua kalinya, mereka telah mengantisipasinya dengan menuliskan nama-nama benda di atas kertas dan lalu menempelkannya di benda-benda tersebut. Tidak seperti saat wabah lupa pertama kali menyerang yang membuat mereka lumpuh dalam menjalani banyak roda kehidupan, kali ini mereka lebih siap menghadapi wabah lupa itu. Karena kini mereka tidak lupa mana yang namanya panci, kursi, bahkan sapi. Di atas meja kini tertulis, “ini namanya meja”, di atas kursi di tulis, “ini namanya kursi”. Di sapi bahkan ditulis, “ini namanya sapi, hewan berkaki empat, dan setiap pagi susunya harus di perah untuk kemudian di minum untuk menyehatkan badan”. Bahkan belakangan tulisan-tulisan itu menyentuh perkara ketuhanan, di dinding-dinding kini tertulis, “tuhan itu ada”. Begitulah, rumah keluarga Buendia menjadi penuh akan tulisan-tulisan untuk mencegah mereka dari wabah lupa. Humorkah ini?
Juga ada tipe-tipe seperti itu di Cantik Itu Luka. Seperti cerita tentang Shodanco, seorang pejuang gerilya yang begitu legendaris, yang untuk mereka yang jeli akan segera mengingatkan pada Supriyadi, gerilyawan alumnus PETA bentukan Jepang. Orang-orang Halimunda, latar novel tersebut, mempercayai bahwa jika saja Soekarno-Hatta tidak memproklamasikan Indonesia, maka Shondanco-lah yang akan memproklamasikannya. Bahkan, diceritakan pula bahwa sesungguhnya ia telah ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Panglima Tentara Indonesia. Apa daya, surat itu baru sampai berbulan-bulan setelah Indonesia merdeka, lagi pula, seandainya surat itu sampai tepat waktu, Shondaco pun tak menginginkan jabatan itu, ia lebih memilih Halimunda dan ngotot mempertahankan pangkat kolonelnya, meski ditawari pangkat yang lebih tinggi hingga kemudian Soekarno mengangkat gerilyawan yang lain lagi, Soedirman.
Ada yang lebih lucu (atau ironis), masyarakat Halimunda merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 23 September dan bukannya 17 Agustus, ini dikarenakan pada tanggal itulah Shondanco untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sebulan sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Ia mengetahuinya dari mulut sesosok mayat yang ia temukan di tepi pantai saat ia menghindar dari pembasmian gerilyawan oleh tentara Jepang. Mulut mayat itu menyimpan salinan naskah proklamasi. Berkali-kali pemerintah mencoba meluruskan hal ini, bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus dan bukannya 23 September kepada masyarakat Halimunda. Tapi bahkan itu selalu gagal, karena masyarakat Halimunda akan tetap melakukan upacara dan pesta pada setiap tanggal 23 September.
Kelucuan itu tak berhenti sampai situ. Ada kelucuan lain lagi, yaitu saat di mana Shondanco telah menjadi komandan rayon militer Halimunda dan saat tentara republik memperbaiki manajemen mereka. Seluruh laskar perang republik diharuskan untuk bergabung ke dalam satu badan, Tentara Keselamatan Rakyat, yang lalu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Shondanco yang merasa dipermainkan dengan hal ini berkata kepada para pengikutnya, jika berganti nama lagi, maka kita akan berperang melawan Indonesia. Sampai di suatu pagi saat ia bersama beberapa prajuritnya memasang papan nama di markas rayon militer Halimunda yang bertuliskan Tentara Republik Indonesia Rayon Militer Halimunda, datang seorang prajurit lainnya yang membawa kabar bahwa tentara Indonesia berganti nama lagi, kali ini menjadi Tentara Nasional Indonesia. Prajuritnya bertanya kepada Shondanco, “Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” Dan dijawab Shondanco, “Tidak, bahkan negeri ini baru belajar membuat nama.”
Banyak hal-hal yang membuat saya tertawa waktu itu. Tentang Kamerad Kliwon misalnya, seorang komunis yang saat hendak dihukum mati, dan ditanya apa keinginannya yang terakhir menjawab, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” Atau juga tentang Dewi Ayu sendiri, tokoh utama novel ini, yang mengatakan tuhan telah mencuri cincin-cincinnya yang telah ia sembunyikan sebelum ia diangkut Jepang menuju Bloddenkamp dan kemudian menjadi pelacur. Karena menurutnya, hanya ia dan tuhan-lah yang tahu tempat ia menyembunyikan cincin-cincin itu. Jadi, jika cincin-cincin itu lenyap, maka tuhan berarti telah mencurinya. Lalu tentang hantu-hantu komunis, ini tentu saja mengingatkan mereka yang telah membaca Marquez kepada Seratus Tahun Kesunyian.
***
Di suatu siang telepon tiba-tiba berdering. Itu dua hari sebelum lebaran. Sebuah telepon dari seorang kawan SMP dulu. Sebuah berita duka yang mengejutkan: seorang kawan telah meninggal dunia. Kematian, seperti halnya seribu kesedihan lain, seperti tak pernah jauh dari hidup ini. berkeliaran di mana-mana, menghampiri siapapun yang dikehendaki. Sesungguhnya ada semacam firasat beberapa hari sebelumnya, bahwa akan ada yang saya lihat untuk terakhir kalinya tanpa pernah melihatnya lagi sampai kapan juga. Seorang kawan saya kabari dan tak memercayainya. Lima menit setelah saya mengabarinya ia kembali menghubungi saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi bukan mimpi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Saya jawab, “itu benar” dan menyarankannya untuk mencoba menghubungi kawan yang memberi tahu saya untuk pertama kali. Sampai malam harinya, saat saya bertemu dengan kawan saya tersebut di rumah duka, ia bercerita bahwa ia telah menyusun janji dengan kawan saya yang meninggal tersebut, bahwa akhir bulan nanti, setalah masa gajian, mereka akan saling mentraktir. “Bahkan,” katanya kepada saya, “sesaat sebelum kau telepon, aku masih misscall dia!” Sesungguhnya, beberapa minggu sebelumnya, saya pernah mendapati kabar bahwa ia sedang dekat dengan kawan saya yang meninggal siang tadi.
Kawan saya itu, begitu mudanya, seumur dengan saya. Ibunya saya dapati di sisi jenazah dengan mata yang memerah dan sembab. Ia memohon maaf untuk anaknya yang kini terbujur kaku di hadapannya. Kejadian itu, bagaimanapun, memaksa saya untuk terus mengingat kematian karena ia bisa datang kapan ia mau menghampiri saya. Di dinding di hadapan saya, terpampang photo kawan saya itu dengan pakaian toga. Ia baru saja wisuda dan baru saja bekerja! Ia hanya dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Gatot Subroto, dan itu sama sekali tak menolongnya, ia tetap meninggal dunia, meninggalkan seorang Ibu yang kini menangis di samping saya.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang, karena ternyata begitu banyak kawan-kawan SMP dulu yang hadir di rumah duka, kawan-kawan yang saya kira tak akan pernah saya lihat lagi sesudah lulus SMP. Kabar-kabar berkeliaran begitu rupa. Ternyata ada yang telah menikah, ada yang telah memiliki anak, ada yang telah sembuh dari narkotika, ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, ada yang berpacaran dengan si anu, begitu rupa-rupa. Dan kami memutuskan untuk tidak berhenti di rumah duka, melainkan untuk berpindah tempat. Bagaimana juga, tetap ada “pesta” pertemuan malam itu. Seekor ayam dibakar dengan cerita-cerita segar dari kawan-kawan lama. Diakhiri dengan sebuah janji untuk turut ke pemakaman esok pagi. Kenyataannya, pagi esoknya janji itu cidera, hanya beberapa kawan saja yang berkumpul, dan tentu saja dengan mata yang redup karena semalaman berkumpul hingga nyaris pagi memutih. Saya sendiri datang tanpa tidur sebelumnya. Masuk ke kamar seorang kawan seraya menunggu kawan-kawan lainnya datang (dan tak pernah datang) sambil mendengarkan suara Bono U2 (I’m still haven’t found what I’m the looking for!) dari tape. Entah bagaimana, saya tertidur dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika terbangun. Saya harus pulang dan melanjutkan tidur, rasanya hampir dua puluh jam, kecuali dua jam barusan, saya tidak tidur. Tapi percuma, karena ditengah jalan, saat saya menunggu angkot, saya mendapati seorang kawan yang memanggil, dari rumah yang lain lagi, mengajak untuk mampir ke rumahnya. Saya singgah dengan harapan ini tak akan lama. Tapi kenyataannya adalah saya mendengarkan koleksi mp3-nya yang berjumlah seribu lebih lagu, lalu setelah bosan, kami menonton Ada Apa dengan Cinta yang rasanya telah ribuan kali saya tonton. Menyebalkan. Dan melelahkan. Sampai sore hari sayup-sayup terdengar takbir di masjid-masjid yang mebuat saya tersadar besok adalah lebaran. Saya pulang. Saya harus pulang, ingin tidur!
Begitulah, saya pulang dan tidur untuk waktu yang sama sekali tak bisa dikatakan lama. Di mulai setelah berbuka dan terbangun pukul sembilan malam. Lalu keluar rumah dan mendapati beberapa kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Bercerita tentang apa saja, mulai dari soal kuliah saya, pekerjaan mereka, teman-teman lain, dan, lagi-lagi, cinta!
***
Demi apapun, rasanya Ini semacam isyarat, atau apa, karena rasanya saya sedang jatuh cinta. Begitu banyak hal yang mengarah ke soal-soal percintaan sepanjang liburan, meski banyak juga hal-hal lainnya. Entahlah. Meski lebaran kali ini, juga bulan ramadhan, sama sekali membuat saya tak lebih religius (justru malah menyisakan keanehan beragama, bertuhan, (tuhan?), saya percaya, bahwa saya harus minta maaf kepada semuanya. Maaf sampai mati. Karena sama sekali tak pantas ada musuh dalam hidup ini! Begitulah rasa-rasanya, ya.
Maaf Sampai Mati!
Saya ke Jakarta mencari jejak pendosa. Remy Silado membuka Ca Bau Kan dengan kalimat itu. Saya tidak ke Jakarta pagi itu, saya ke Bekasi, sebuah kota tempat di mana saya pernah dibesarkan. Dan saya mencari jejak pendosa. Jejak saya sendiri…
“Hebat Sekali. Pada akhirnya kita tak punya apa-apa lagi. Bahkan dosa sekalipun!”
Saya minta maaf. Secepatnya saya harus pulang. Dan, rasanya saya harus menyalami teman-teman semua, terutama untuk sepatah-dua pengakuan dosa. Aih… dosa-dosa ini.
Saya mohon maaf kepada mereka yang yang tertidur di saat saya berangkat: Dasuki, Dahrun, Endrie, Chokie, dan Novan. (Betapa membingungkan jika saya harus membangunkan kalian semua). Lalu untuk teman-teman di Panorama, mashokis team. Barangkali benar, Drie, mestinya malam tadi kita pergi ke gerbang. Pepeng dan Ade, saya minta maaf. Sebisa mungkin saya terus berhubungan dengan kalian.
Juga untuk yang lainnya. Yang lainnya. Yang lainnya.
Maaf Sampai Mati!
# kalian dapat salam dari Eka. Dia sudah duluan. Pagi-pagi sekali, belum ada matahari!
Pesan itu saya tulis di sebuah kertas putih yang saya dapati begitu saja. Itu jam setengah delapan pagi, di hari Sabtu tanggal 15 November. Sebuah pagi yang mendung yang membuat saya sedikit ragu untuk memutuskan sebuah perjalanan pulang. Membuat saya sedikit berlama-lama terdiam di ruang tengah rumah biru, memandangi mereka yang tertidur begitu pulas, beberapa mendengkur halus, yang dengan segera mengingatkan saya kepada dengkur bayi-bayi. Di belakang saya, berdesakan buku-buku dalam rak, seolah berebutan dengan begitu tergesa-gesanya untuk ke luar, menjatuhkan dirinya dan kemudian membiarkan halaman-halamannya terbuka dimain-mainkan angin pagi. Buku-buku itu.
Semuanya pasti akan terkenang-kenang nanti, muncul begitu saja di kepala serupa gelombang-gelombang halus pantai, datang dan pergi silih berganti. Seperti misalnya kejadian semalam. Sebuah pesan saya kirim kepada seorang kawan baik di Yogya, “Demi tuhan, betapa menyebalkannya menjadi seorang pemimpi!” Tak sampai sepuluh detik, dia membalasnya, “Kau kenapa? Aku lagi on-line sekarang!” Tak butuh waktu lama bagi saya untuk segera pergi menuju warnet, menyerahkan diri dalam labirin maya yang begitu rumit. Dan dia menyapa, “Hai!” Malam itu, 14 Desember, adalah malam di mana kekesalan telah memuncak begitu rupa, di Jatinangor, tempat yang rasa-rasanya tak perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk mencapai kebusukannya. Sementara dia, dia sedang begitu tentramnya di sebuah rumah budaya, Akademi Kebudayaan Yogyakarta, mengerjakan sesuatu yang dia cintai begitu liar: menulis. Di beranda, ceritanya, ada Puthut EA dan kawan-kawannya sedang melingkari gelas-gelas kopi, membicarakan begitu banyak hal seraya tertawa-tawa. Dia kembali bertanya, “kau kenapa?” Tak ada, kataku. Hanya sedang sebal kepada sederetan filsuf yang ternyata berkepala penuh bualan-bualan. Dia tertawa. Hanya tertawa. Lalu dia katakan, “Mam, aku jatuh cinta (lagi)” Itulah, jawabku, aku pikir aku pun begitu.
Ehm…
Tapi dia bahkan telah menulis dua belas prosa akibat rasa cintanya itu. Menulis! Saya ceritakan sedikit tentang dia. Dia saya kenal sekira dua tahun lalu, tidak, tiga tahun lalu. Di akhir tahun 2000 di sebuah ruang gelap maya. Malam itu dia menawakan diri untuk membacakan puisinya. Saya menghampirinya, bertanya begitu saja: kau senang puisi? Dia sekolah di negara yang lain dengan saya, di benua yang lain. Kelas tiga SMU. Yang mengejutkan, dia punya satu cita-cita yang rasa-rasanya tak pernah bisa saya mengerti sampai kapan pun: kuliah di Yogyakarta! Saya membujuknya untuk jangan pernah menyimpan keinginan bersekolah di Indonesia, dengan sistem pendidikan seperti ini, maka segenap potensi yang telah ada dalam dirinya akan menjadi percuma begitu saja. Kau sudah bagus di Australia, untuk apa ke Indonesia? Jawabnya, “Ada Eka Kurniawan di Yogya”. Menulis! Bahkan dia hanya ingin berkumpul dengan para penulis di Yogya. Eka Kurniawan adalah cerita lain lagi, seorang penulis yang novelnya baru terbit dan konon yang terpanjang yang pernah ditulis penulis Indonesia. Dan kelak, selama libur di rumah, pagi-pagi saya banyak diisi dengan membaca novelnya itu. Baca dan baca lagi.
Seperti itulah, hingga akhirnya dia benar-benar kuliah di Yogyakarta, dua tempat sekaligus: Sejarah Universitas Gadjah Mada dan Fotografi Institut Seni Indonesia. Dan menjadi penulis. Di malam saat saya mengirim pesan itu kepadanya, bahkan dia sempat menulis sebuah puisi untuk Puthut EA, penulis yang sama hebatnya dengan Eka Kurniawan, bagi saya. (Ini sungguhan, bahkan surat-surat Puthut dan Eka yang pernah saya baca di berbagai media mempunyai kekuatan yang membuat saya harus mengakui bahwa Puthut begitu menggetarkan. Puthut dan Eka yang Dahsyat). Ini puisinya:
Demi Yang Maha EA
:p.e.a.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
berapa banyak yang dibutuhkan seseorang untuk menggoncang dunia?
atau hanya dalam beberapa tangisan dalam satu malam?
kau sedang mencari kesepian dimana-mana, bahkan dalam sekeping obrolan dan segelas kopi pait.
demi yang maha ea, kau masih mengaduk-aduk kata.
masih sangat.
dalam kursi bambu yang juga hangat.
yk, 141103
Malam itu, bagaimanapun, saya memimpikan untuk bisa tidur. Karena malam-malam sebelum malam itu, percayalah, sekalipun saya tak pernah bisa tidur sebelum langit timur mulai berwarna terang. Tapi gagal, selalu gagal. Karena tepat jam setengah dua dini hari, sebuah pagi yang buta, seorang kawan datang dengan buku-buku yang baru saja ia beli. Ditemani segelas sirup jahe pemberian seorang kawan, kami bicara, juga dengan kawan-kawan yang lain, tentang mimpi untuk membuat semacam media penulisan kreatif di Jatinangor. Lalu pembicaraan melompat-lompat, pertama kali ke wilayah cerpen, lalu penulis-penulis, gosip-gosip, dan akhirnya cinta-cinta. Cinta…
Itu berlangsung hingga pagi begitu ribut dengan suara-suara yang keluar dari surau-surau. Suara-suara yang diharapkan mampu membangunkan mereka yang tertidur untuk melaksanakan sahur. Jam tiga pagi, kesunyian dengan segera menyeret saya menuju warung mencari makan. Kenyataannya, saya tidak makan, melainkan membuat segelas kopi dan mengambil beberapa batang rokok. Sebuah pagi sahur tanpa makan. Hingga kemudian saya benar-benar tertidur pada pukul lima lebih sedikit. Dari jendela mungil yang agak tinggi, bersebelahan dengan photo Soekarno yang sedang tersenyum, saya melihat matahari telah mulai memutih. Tuhan, apa lagi, saya hanya ingin tertidur?!
Saya hanya ingin tertidur pagi itu. Karena nanti, jam delapan pagi, sudah seharusnya saya berada di dalam bus yang menuju kota saya dibesarkan. Tidak bisa tidak, sore hari nanti sebabnya. Sebuah janji telah saya sepakati dengan kawan-kawan di Bekasi. Janji yang tak pantas untuk disesatkan. Kami akan bertemu membunuh sore nanti, melewatinya dengan canda-canda yang dapat dipastikan akan begitu kelewatan, dan lalu berbuka puasa bersama. Yang membahagiakan: saya tertidur pagi itu. Yang menyebalkan: saya hanya tidur satu setengah jam lamanya.
Hingga kemudian saya terbangun di pukul setengah delapan pagi dan mengusir paksa kemalasan dengan menyegerakan diri berjalan ke kamar mandi. Lalu duduk membelakangi buku-buku yang berdesakan di dalam rak seraya mendengarkan dengkuran halus beberapa kawan. Menemukan sebuah kertas putih dan mulai menuliskan pesan tadi, dan menempelkannya di papan tulis putih dengan plastik perekat yang saya ambil dari sepucuk undangan pernikahan. Saya pulang meski mungkin akan turun hujan. Sudah semestinya.
***
Sepanjang perjalanan saya mengusahakan diri untuk tetap terjaga. Sebuah perjalanan akan terasa percuma jika dilewatkan begitu saja karena pasti akan banyak yang dapat terlihat, yang mungkin dapat memberi perspektif lain bagi diri saya dalam menjalani hidup, tentu saja. Tapi percuma. Pagi, menjelang siang, yang sejuk dan sedikit mendung membuat saya benar-benar tertidur dalam perjalanan dan baru terjaga saat bus nyaris sampai di kota saya. Bekasi. Inilah sebuah kota yang begitu aneh. Saya merasa seperti turis yang datang berkunjung untuk pertama kalinya di kota ini. Bagi saya aneh, karena, seperti keajaiban yang terus terjadi berulang-ulang, setiap saya kembali datang ada saja yang berubah dari kota ini. Seperti dulu, beberapa bulan lalu. Dulu di tepi sungai kotor itu belum ada gedung parlemen kota, dan kini lihatlah, gedung itu berdiri begitu megahnya. Juga di perempatan ramai itu, dulu sisi sebelah barat jalan adalah sawah belaka, tapi betapa mengejutkannya, kini sebuah pusat perbelanjaan berdiri begitu sombongnya sementara sesungguhnya tak jauh dari sana telah ada pusat perbelanjaan serupa. Saya tidak tahu itu mal keberapa di kota ini, yang saya tahu pengemis, anak-anak jalanan menjadi begitu banyak di kota ini. Seperti siang itu, dari balik jendela angkot saya melihat beberapa “orang-orang jalanan” tengah istirahat di bawah pohon yang teduh di tepi sungai. Saya kira mereka adalah sebuah keluarga, ada seorang kakek, beberapa lelaki dewasa, perempuan dewasa, dan anak-anak kecil. Mereka duduk melingkar tak teratur dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Sementara itu, di seberang sungai tempat mereka istirahat, berdiri pusat perbelanjaan megah dengan papan-papan iklan di setiap meter dindingnya. Inilah sebuah kota, di mana saya tak pernah merasa aman. Kehidupan saya terteror dengan selentingan-selentingan ketidaknyamanan yang bisa dipastikan setiap orang bisa menceritakannya.
Bagaimanapun, saya sampai di rumah. Sebuah rumah mungil yang menggairahkan. Berbeda dengan kota ini, rumah ini tak begitu banyak berubah, kecuali kini di timur beranda ada sebuah rak rotan yang dulu dipakai menyimpan koran dan majalah dan kini menjadi tempat bagi sepatu dan sandal. Lalu kursi-kursi yang berubah warna, menjadi warna hijau yang begitu saja mengingatkan saya pada agar-agar segar. Sebuah ingatan yang menjadi lelucon untuk saya dan keluarga.
Saya masih mengantuk dan berniat untuk meneruskan tidur di rumah ini. Kenyataannya saya tak pernah bisa kembali tidur, saya harus melayani semua pembicaraan yang dilancarkan oleh orang tua dan kakak saya. Mendiskusikan isi koran-koran pagi, tentang kuliah, tentang apa pun. Hingga jarum jam ternyata telah tepat berdiam di atas angka empat. Jam empat sore. Saya belum tidur. Saya belum mandi. Belum melakukan apapun meski saya ada janji sore ini. Maka saya mandi dan segera berpakaian.
Dan tuhan, apa artinya doa-doa jika tidur adalah sebuah perkara sulit?
***
Itulah sebuah sore yang menyenangkan, sebuah sore yang menyeret saya ke sebuah kenangan tiga tahun lampau, saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama kawan-kawan yang membahagiakan, sebuah kenangan dengan peristiwa-peristiwa kecil yang tak akan lari sampai kapan juga dari ingatan. Kami, kawan-kawan sekolah dulu, berkumpul sore itu, berkumpul kembali. Dengan cerita-cerita baru, peristiwa-peristiwa baru, lelucon-lelucon baru, dan rambut-rambut baru. Dulu si itu pernah berkelahi di depan kelas dengan si ini, si dia pernah ketahuan membawa sebungkus rokok di saku baju sekolahnya begitu memasuki kelas oleh guru, si itu dulu rambutnya ikal dan kini saat mode berganti, rambutnya tiba-tiba menjadi selurus paku. Semua kenangan itu diputar kembali bersama-sama di sebuah beranda rumah seorang kawan. Dan kami tertawa-tawa. Begitu renyahnya, begitu akrabnya…
Sampai malam kemudian datang dan mengharuskan semuanya kembali kepada urusan masing-masing. Saya pulang, diantar tiga motor sekaligus. Mandi dan bersiap tidur. Dan seperti kabar buruk, tak lama berselang, seorang kawan menelepon. Apa kabar, kapan sampai, sedang apa, dan mengajak saya keluar. Apapun, kenyataannya malam itu saya urung tidur, saya keluar dengan sepeda motornya, berdua. Dia adalah seorang kawan yang lain lagi. Rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya saja kini dia telah lulus kuliah, hal yang mebuat risau ibu saya, “Kau masuk bareng dengannya, kenapa tidak lulus bareng?” Dan jika ibu saya sudah bertanya seperti itu, maka inilah jawaban yang terus saya ulang-ulang, yang saya kutip dari seorang kawan di Yogya yang telah saya ceritakan di atas: “Yah, orang kan beda-beda.” Salah satu kalimat favorit. Kami berputar-putar sambil bercerita banyak hal, dan terutama, lagi-lagi, tentang cinta!
***
Dari manakah semua kekejaman bermula? Kekejaman itu terjadi begitu saja di dini hari yang melelahkan. Dan sayalah pelaku kekejaman itu. Saya sedang menyelesaikan sebuah novel tua karangan penulis Rumania yang saya dapati di rak buku ayah saya, “Peradilan Terakhir” Petru Dimitriu. Sesungguhnya, sejak SMU saya telah berusaha menyelesaikan novel itu, tapi itu bukan perkara mudah, percayalah. Kertas-kertas di buku itu telah begitu menguning, bahkan kecoklat-coklatan, ditambah dengan ejaan bahasa Indonesia jauh sebelum disempurnakan. Belum lagi struktur cerita yang membingungkan: si ini bercerita tentang si itu yang kemudian dilanjutkan si itu menceritakan si dia yang lain lagi. Rasanya itu adalah cerita dari seorang penulis yang antikomunis. Banyak saya baca cerita-cerita yang menampilkan sisi buruk komunisme. Dan malam itu saya berjanji untuk membuat sebuah risalah tentang pengalaman membaca novel itu.
Kekejaman itu terjadi, begitu saja dengan mudahnya. Di telapak tangan saya tertinggal begitu banyak bercak darah. Merah. Saya yakinkan itu darah saya sendiri. Darah saya sendiri yang dihisap tanpa izin dari nyamuk yang rasanya begitu banyaknya hingga niscaya tak seorang pun yang akan sanggup menghitungnya. Haruskah saya membunuh nyamuk-nyamuk itu dengan begitu kejamnya? Dan jika pertanyaan ini mulai muncul, ingatan saya dengan segera memunculkan sebuah dialektika buntu seorang tokoh dalam novel karangan Dwi Hendro Basuki, “Dari Pojok Kamar Paling Belakang”, yang diterbitkan secara indie oleh temannya sendiri. “Apakah harus dengan membunuhnya?” Itu pertanyaan tokoh tersebut saat menghadapi nyamuk-nyamuk di kamarnya, pertanyaan yang membingungkan karena ia teringat pula pada seorang tetangganya yang mati karena demam berdarah! Tahukah, saya telah membunuh begitu banyak nyamuk dini hari itu!
Mengapa di kamar ini terlalu banyak nyamuk? Mungkinkah seperti yang pernah diceritakan di sebuah film produksi pemerintah tentang pemberontakan partai komunis di negeri ini, saat seorang jenderal mendapati kamarnya begitu banyak nyamuk, tak seperti biasanya, dan beberapa jam kemudian, ia dibunuh. Semacam isyarat untuk berfirasat. Sesuatu pikiran yang mengada-ada. Yang saya putuskan: saya membakar rokok, memakai lotion antinyamuk, dan melanjutkan membaca. (Tapi, bagaimana nyamuk-nyamuk itu akan mendapatkan makanan jika saya memakai lotion antinyamuk, tidakkah ini bentuk kekekajaman yang lain lagi?)
Di sore keesokan harinya, 17 november, saya terbangun dari tidur dan mendapati langit yang menurunkan hujan begitu derasnya, hujan yang rasa-rasanya tak akan pernah berhenti untuk ratusan tahun lamanya dan akan menenggelamkan begitu banyak kota di negeri ini. Sore yang basah. Dan sendu. Pagi tadi, sesaat sebelum saya tertidur, saya telah membuat janji dalam hati untuk mengakrabi kembali benda-benda di rumah ini. Saya ingin kembali menyentuhnya, mengamati setiap detail sudut rumah dengan segala benda-bendanya. Tapi bohong, karena kenyataannya saya hanya bisa diam saat rak sepatu di timur beranda rumah menjadi basah oleh hujan yang menggila dan saya hanya melihatnya. Hanya melihatnya dan berkomentar, “kasihan sekali, pasti akan rusak tak lama lagi”.
Saya ingin mengakrabi kembali bermacam-macam benda di rumah ini, karena biasanya selalu saja ada kejutan yang datang menghampiri. Seperti dulu misalnya, saya mendapati rekaman kaset prosesi pernikahan orang tua saya, atau juga sekoper photo-photo tua, photo-photo leluhur dan kakak-kakak saat masih kecil dulu (sementara tak saya dapati satupun photo bergambar saya!). Atau saat saya menemui buku yang saya baca sekarang, “Peradilan Terakhir”, di rak buku ayah saya. Mengakrabi benda-benda, lalu mencoba menyelematkannya dari kerusakan yang mengancam, akan banyak manfaatnya, saya yakini itu.
Di malam harinya, juga malam-malam berikutnya, banyak saya habiskan bersama kawan-kawan lama. Seorang kawan, di hari ketiga saya di rumah, pulang dari Padang, tempat kuliahnya, dan mengundang saya untuk main ke rumahnya. Sebuah pertemuan yang mirip pada saat saya bertemu dengan kawan-kawan SMU dulu, menyeret saya ke rangkaian peristiwa-peristiwa yang telah terjadi jauh di belakang. Dia banyak bercerita malam itu. Dan, lagi-lagi, yang saya dengar banyak yang berkisar di perkara cinta. Lagi-lagi cinta…
***
Barangkali satu-satunya yang saya sesali selama kepulangan di rumah adalah insomnia. Penyakit itu, terkutuklah dirinya. Sebenarnya kepulangan saya disertai harapan untuk dapat memperbaiki pola tidur yang menjadi semakin berantakan di beberapa bulan terakhir. Tapi gagal, karena ternyata tidur tiba-tiba menjadi suatu perkara rumit dan melelahkan. Selalu seperti ini: tertidur dua jam lalu terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi. Begitu seterusnya hingga masa liburan benar-benar usai tanpa saya bisa memperbaiki pola tidur saya itu. Seolah-olah setiap hari adalah pengulangan hari-hari sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan terkutuknya hidup yang seperti itu. Suasana liburan membuat diri tak produktif sama sekali.
***
Di suatu pagi saya terbangun begitu rupa dengan kekesalan yang tumpah tak terkendali. Sebuah mimpi bagus telah rusak. Dan inilah mimpi itu:
Jakarta begitu gelap, senja baru saja berakhir dan hitam mulai memayungi Jakarta. Tapi di jalan-jalan begitu ramai orang-orang. Seketika Jakarta menjadi merah, merah api. Dalam mimpi itu saya adalah seorang wartawan. Dan di jalanan itu sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa. Tentara dengan kekuatan penuh bersiaga dengan senjata di pundak mereka. Yang menyedihkan, mahasiswa-mahasiswa itu terpecah ke dalam beberapa tempat. Tidak, tidak terpecah, tapi dipecah oleh para tentara yang mulai memprovokasi mahasiswa agar marah dan bertindak brutal. Tentara mulai membakar benda-benda di tengah jalan, semakin memisahkan barisan mahasiswa demonstran. Di saat saya sibuk membujuk para pimpinan mahasiswa untuk tetap satu barisan, meski saya seorang wartawan, para mahasiswa mulai membawa beberapa truk sampah untuk di bakar di tengah jalan: mereka mulai terpancing tentara untuk bertindak brutal. Itulah saat-saat saya merasakan kemarahan terhadap tentara, seperti yang pernah saya lakukan saat dulu berdemonstrasi di depan gedung parlemen. Saya mencoba menghampiri tentara, menemui pimpinan mereka di sebuah pos di pinggir jalan. Yang mengejutkan adalah apa yang saya temui di dalam pos: saya menemui Jenderal Besar Soeharto, mantan presiden itu di dalam pos sedang memberi pengarahan pada pimpinan tentara yang hendak saya temui! Dia begitu renta namun sehat, berpakaian putih-putih selayaknya seorang haji, duduk berhadapan dengan pimpinan tentara itu. Ups. Saya putuskan untuk melaju ke tengah-tengah arena demonstrasi yang semakin panas merah api, naik ke atas mobil yang disulap menjadi panggung orasi. Saya mengambil pengeras suara dan berorasi dengan penuh kemarahan. Saya, dalam orasi saya itu, mengajak mahasiswa dan tentara untuk bersatu. Saya mengajak mereka untuk mempercayai bahwa kita semua adalah korban dari golongan-golongan korup yang merusak negeri ini, saya mengajak mereka untuk berhenti melakukan kekerasan dan menghindari perang saudara. Saya membujuk tentara untuk tidak menaati pimpinan-pimpinan yang memerintahkan mereka untuk menembaki rakyatnya sendiri, pimpinan-pimpinan yang korup dan hidup dengan fasilitas-fasilitas mewah. Dan saya terbangun!
Begitu saja. Bermenit-menit saya memikirkan mimpi itu di atas tempat tidur saya. Soeharto. Orang tua itu, siapa yang ingat dia sekarang? Sedang apa dia? Sejauh mana proses pengadilannya? Saya membayang-bayangkan diri saya ditembak saat saya sedang berorasi di atas mobil itu. Dan melihat negeri ini menjalani masa-masa revolusinya dengan damai menuju perbaikan. Tapi, mengapa saya terbangun?
Apapun, saya telah terbangun. Dan lagi-lagi tak bisa tidur sampai pagi hari meski itu baru saja jam setengah satu pagi. Saya ke dapur membuat segelas sirup, membakar sebatang rokok dan membaca. Soeharto…
***
Itulah saat saya menyelesaikan “Peradilan Terakhir” dan kemudian beralih ke buku lainnya lagi, “Cantik Itu Luka”, karangan Eka Kurniawan. Sesungguhnya saya telah membacanya sejak pertama beli beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, saya tak bisa tidak mengingat Gabriel Garcia Marquez yang menulis Seratus Tahun Kesunyian. Eka Kurniawan sendiri mengakui kalau dia sangat mengagumi Marquez dan kemudian terpengaruh olehnya. Berbeda dengan saat pertama kali saya membacanya, kali ini saya banyak menemui hal-hal berbau humor yang fantastis, atau barangkali ironis. Marquez dalam Seratus Tahun Kesunyian pernah menceritakan saat wabah lupa melanda Macondo, yang membuat keluarga Buendia kerepotan. Saat wabah itu menyerang untuk kedua kalinya, mereka telah mengantisipasinya dengan menuliskan nama-nama benda di atas kertas dan lalu menempelkannya di benda-benda tersebut. Tidak seperti saat wabah lupa pertama kali menyerang yang membuat mereka lumpuh dalam menjalani banyak roda kehidupan, kali ini mereka lebih siap menghadapi wabah lupa itu. Karena kini mereka tidak lupa mana yang namanya panci, kursi, bahkan sapi. Di atas meja kini tertulis, “ini namanya meja”, di atas kursi di tulis, “ini namanya kursi”. Di sapi bahkan ditulis, “ini namanya sapi, hewan berkaki empat, dan setiap pagi susunya harus di perah untuk kemudian di minum untuk menyehatkan badan”. Bahkan belakangan tulisan-tulisan itu menyentuh perkara ketuhanan, di dinding-dinding kini tertulis, “tuhan itu ada”. Begitulah, rumah keluarga Buendia menjadi penuh akan tulisan-tulisan untuk mencegah mereka dari wabah lupa. Humorkah ini?
Juga ada tipe-tipe seperti itu di Cantik Itu Luka. Seperti cerita tentang Shodanco, seorang pejuang gerilya yang begitu legendaris, yang untuk mereka yang jeli akan segera mengingatkan pada Supriyadi, gerilyawan alumnus PETA bentukan Jepang. Orang-orang Halimunda, latar novel tersebut, mempercayai bahwa jika saja Soekarno-Hatta tidak memproklamasikan Indonesia, maka Shondanco-lah yang akan memproklamasikannya. Bahkan, diceritakan pula bahwa sesungguhnya ia telah ditunjuk Presiden Soekarno untuk menjadi Panglima Tentara Indonesia. Apa daya, surat itu baru sampai berbulan-bulan setelah Indonesia merdeka, lagi pula, seandainya surat itu sampai tepat waktu, Shondaco pun tak menginginkan jabatan itu, ia lebih memilih Halimunda dan ngotot mempertahankan pangkat kolonelnya, meski ditawari pangkat yang lebih tinggi hingga kemudian Soekarno mengangkat gerilyawan yang lain lagi, Soedirman.
Ada yang lebih lucu (atau ironis), masyarakat Halimunda merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 23 September dan bukannya 17 Agustus, ini dikarenakan pada tanggal itulah Shondanco untuk pertama kalinya mengetahui bahwa sebulan sebelumnya Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Ia mengetahuinya dari mulut sesosok mayat yang ia temukan di tepi pantai saat ia menghindar dari pembasmian gerilyawan oleh tentara Jepang. Mulut mayat itu menyimpan salinan naskah proklamasi. Berkali-kali pemerintah mencoba meluruskan hal ini, bahwa Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus dan bukannya 23 September kepada masyarakat Halimunda. Tapi bahkan itu selalu gagal, karena masyarakat Halimunda akan tetap melakukan upacara dan pesta pada setiap tanggal 23 September.
Kelucuan itu tak berhenti sampai situ. Ada kelucuan lain lagi, yaitu saat di mana Shondanco telah menjadi komandan rayon militer Halimunda dan saat tentara republik memperbaiki manajemen mereka. Seluruh laskar perang republik diharuskan untuk bergabung ke dalam satu badan, Tentara Keselamatan Rakyat, yang lalu berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat, lalu berubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia. Shondanco yang merasa dipermainkan dengan hal ini berkata kepada para pengikutnya, jika berganti nama lagi, maka kita akan berperang melawan Indonesia. Sampai di suatu pagi saat ia bersama beberapa prajuritnya memasang papan nama di markas rayon militer Halimunda yang bertuliskan Tentara Republik Indonesia Rayon Militer Halimunda, datang seorang prajurit lainnya yang membawa kabar bahwa tentara Indonesia berganti nama lagi, kali ini menjadi Tentara Nasional Indonesia. Prajuritnya bertanya kepada Shondanco, “Apakah kita akan berperang melawan Indonesia?” Dan dijawab Shondanco, “Tidak, bahkan negeri ini baru belajar membuat nama.”
Banyak hal-hal yang membuat saya tertawa waktu itu. Tentang Kamerad Kliwon misalnya, seorang komunis yang saat hendak dihukum mati, dan ditanya apa keinginannya yang terakhir menjawab, “kaum buruh sedunia, bersatulah!” Atau juga tentang Dewi Ayu sendiri, tokoh utama novel ini, yang mengatakan tuhan telah mencuri cincin-cincinnya yang telah ia sembunyikan sebelum ia diangkut Jepang menuju Bloddenkamp dan kemudian menjadi pelacur. Karena menurutnya, hanya ia dan tuhan-lah yang tahu tempat ia menyembunyikan cincin-cincin itu. Jadi, jika cincin-cincin itu lenyap, maka tuhan berarti telah mencurinya. Lalu tentang hantu-hantu komunis, ini tentu saja mengingatkan mereka yang telah membaca Marquez kepada Seratus Tahun Kesunyian.
***
Di suatu siang telepon tiba-tiba berdering. Itu dua hari sebelum lebaran. Sebuah telepon dari seorang kawan SMP dulu. Sebuah berita duka yang mengejutkan: seorang kawan telah meninggal dunia. Kematian, seperti halnya seribu kesedihan lain, seperti tak pernah jauh dari hidup ini. berkeliaran di mana-mana, menghampiri siapapun yang dikehendaki. Sesungguhnya ada semacam firasat beberapa hari sebelumnya, bahwa akan ada yang saya lihat untuk terakhir kalinya tanpa pernah melihatnya lagi sampai kapan juga. Seorang kawan saya kabari dan tak memercayainya. Lima menit setelah saya mengabarinya ia kembali menghubungi saya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi bukan mimpi karena ia baru saja terbangun dari tidur. Saya jawab, “itu benar” dan menyarankannya untuk mencoba menghubungi kawan yang memberi tahu saya untuk pertama kali. Sampai malam harinya, saat saya bertemu dengan kawan saya tersebut di rumah duka, ia bercerita bahwa ia telah menyusun janji dengan kawan saya yang meninggal tersebut, bahwa akhir bulan nanti, setalah masa gajian, mereka akan saling mentraktir. “Bahkan,” katanya kepada saya, “sesaat sebelum kau telepon, aku masih misscall dia!” Sesungguhnya, beberapa minggu sebelumnya, saya pernah mendapati kabar bahwa ia sedang dekat dengan kawan saya yang meninggal siang tadi.
Kawan saya itu, begitu mudanya, seumur dengan saya. Ibunya saya dapati di sisi jenazah dengan mata yang memerah dan sembab. Ia memohon maaf untuk anaknya yang kini terbujur kaku di hadapannya. Kejadian itu, bagaimanapun, memaksa saya untuk terus mengingat kematian karena ia bisa datang kapan ia mau menghampiri saya. Di dinding di hadapan saya, terpampang photo kawan saya itu dengan pakaian toga. Ia baru saja wisuda dan baru saja bekerja! Ia hanya dirawat selama empat hari di Rumah Sakit Gatot Subroto, dan itu sama sekali tak menolongnya, ia tetap meninggal dunia, meninggalkan seorang Ibu yang kini menangis di samping saya.
Malam itu menjadi malam yang begitu panjang, karena ternyata begitu banyak kawan-kawan SMP dulu yang hadir di rumah duka, kawan-kawan yang saya kira tak akan pernah saya lihat lagi sesudah lulus SMP. Kabar-kabar berkeliaran begitu rupa. Ternyata ada yang telah menikah, ada yang telah memiliki anak, ada yang telah sembuh dari narkotika, ada yang telah lulus kuliah dan bekerja, ada yang berpacaran dengan si anu, begitu rupa-rupa. Dan kami memutuskan untuk tidak berhenti di rumah duka, melainkan untuk berpindah tempat. Bagaimana juga, tetap ada “pesta” pertemuan malam itu. Seekor ayam dibakar dengan cerita-cerita segar dari kawan-kawan lama. Diakhiri dengan sebuah janji untuk turut ke pemakaman esok pagi. Kenyataannya, pagi esoknya janji itu cidera, hanya beberapa kawan saja yang berkumpul, dan tentu saja dengan mata yang redup karena semalaman berkumpul hingga nyaris pagi memutih. Saya sendiri datang tanpa tidur sebelumnya. Masuk ke kamar seorang kawan seraya menunggu kawan-kawan lainnya datang (dan tak pernah datang) sambil mendengarkan suara Bono U2 (I’m still haven’t found what I’m the looking for!) dari tape. Entah bagaimana, saya tertidur dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sepuluh siang ketika terbangun. Saya harus pulang dan melanjutkan tidur, rasanya hampir dua puluh jam, kecuali dua jam barusan, saya tidak tidur. Tapi percuma, karena ditengah jalan, saat saya menunggu angkot, saya mendapati seorang kawan yang memanggil, dari rumah yang lain lagi, mengajak untuk mampir ke rumahnya. Saya singgah dengan harapan ini tak akan lama. Tapi kenyataannya adalah saya mendengarkan koleksi mp3-nya yang berjumlah seribu lebih lagu, lalu setelah bosan, kami menonton Ada Apa dengan Cinta yang rasanya telah ribuan kali saya tonton. Menyebalkan. Dan melelahkan. Sampai sore hari sayup-sayup terdengar takbir di masjid-masjid yang mebuat saya tersadar besok adalah lebaran. Saya pulang. Saya harus pulang, ingin tidur!
Begitulah, saya pulang dan tidur untuk waktu yang sama sekali tak bisa dikatakan lama. Di mulai setelah berbuka dan terbangun pukul sembilan malam. Lalu keluar rumah dan mendapati beberapa kawan yang telah lama tidak saya jumpai. Bercerita tentang apa saja, mulai dari soal kuliah saya, pekerjaan mereka, teman-teman lain, dan, lagi-lagi, cinta!
***
Demi apapun, rasanya Ini semacam isyarat, atau apa, karena rasanya saya sedang jatuh cinta. Begitu banyak hal yang mengarah ke soal-soal percintaan sepanjang liburan, meski banyak juga hal-hal lainnya. Entahlah. Meski lebaran kali ini, juga bulan ramadhan, sama sekali membuat saya tak lebih religius (justru malah menyisakan keanehan beragama, bertuhan, (tuhan?), saya percaya, bahwa saya harus minta maaf kepada semuanya. Maaf sampai mati. Karena sama sekali tak pantas ada musuh dalam hidup ini! Begitulah rasa-rasanya, ya.
Maaf Sampai Mati!
aha!
aha, inilah kita berdua—aku dan kamu—kamar kontrakan mungil, berapa ukurannya? 2x3, 3x3, 3x4 meter persegi? Betapa sempitnya! Tembok-tembok yg menghimpit, lampu yang selalu saja lupa kita matikan, dan pintu tempat bergantung pakaian-pakaian kumal kita (kita tidak tahu lagi, pakaian mana yang telah dan belum kita cuci).
Di dekat kasur kita, masih menggantung gabus 1x1 meter yang kau curi entah dari mana. “untuk kita bebaskan diri kita!”, katamu waktu itu. Dan lalu kita melindas tiap-tiap sentinya dengan segala apa yang keluar dari dalam diri kita. Muntahan-muntahan puisi yang bersemburan dari mualnya otak dan hati kita. Ludahan-ludahan graffiti yang sepertinya dengan sukacita kau campakan, dimensi lain dirimu yang selalu saja kau terjemahkan lewat kasar jari-jarimu. (aku tak pernah bisa melukis, meski aku bisa lebih kasar ketimbang dirimu). Di lantai, masih saja terserak buku-buku kita, bukumu dan bukuku. Apa itu? “sarinah”, “five dialogue”, “filsafat ensie”, “strukturalisme”, ahh...kamar kita terlalu pengap dengan buku-buku fisafat(mu). Sketsa-sketsa hitam putih, milikmu, cerita-cerita yang tak pernah usai, milikku, nampak lebih mirip gang becek ujung kampung. Menyebabkan kita mesti bersejingkat, memilih ruang leluasa untuk sekadar tapak kaki.
Setengah satu pagi. Celana jeansmu masih sama seperti tiga hari lalu. Asbak yang hampir penuh masih saja kau hujani abu-abu kretekmu. Di atas kursi, aku menghadap meja, sesekali berbalik menghadapmu yang berbaring di kasur kumal kita. (kasur kita cuma satu). Entahlah, singletmu, jeansmu, tali yg melingkar di lehermu, selalu saja menusuk-nusukkan inspirasi segar ke kelanjar otakku. Gila! Harus bagaimana aku sumpahi tubuhmu itu, lambung yang kerap perih, paru-paru busuk, rumah seribu penyakit, dan entah dengan cara apa kukutuki hatiku yang tak menyisakan tempat selain untukmu, bibir kering yg selalu kau basahi lewat kecupan, telinga tak bergiwang, lubang masuk degup jantungmu saat aku kau peluk. (dan entah berapa kali mata ini menangis di situ, membasahi singletmu).
“Ga, puisi untukmu!” aku berdiri, bersejingkat, dan menghampirimu. Kau duduk membacanya, irama pertengahan. Suara lamat yang pasti:
“beginilah Ksatria:
aku mencintaimu, dengan
lima ribu rupiah yang selalu kita bagi dua—dan
makan malam yg selalu satu bungkus.
Karena mencintaimu adalah candu
Tanpa harta dan bola mata.
Lalu, jika malam telah lewat
Mari kita isi pagi dengan peluh;
Membakar kamar ini dengan tiap-tiap birahi
Yang kita punya. Lupakan kontrasepsi,
Biarkan rahimku menyimpan jejak detik ini;
Jejak yang akan menjadi sembilan bulan lagi.
Maka, matikan rokok itu, buat jejak untuk kita,
Cinta yang menjadi, birahi yang mengkristal,
Pancaran yang meledak lalu mengendap. Menerobos
Tiap-tiap lapisan, pemberontakan untuk hal kawin-mawin.
Sekarang juga. Sekarang...kita berontak!”
Kau tertawa, aku tersenyum, dan lampu lupa kita matikan, dan rokok lupa kau padamkan, dan puisi belum selesai dibaca, dan sketsa belum sempurna.
Dan kita bercinta, melepas semuanya. Semua-muanya! Semau-maunya!
25.01.02
aha, inilah kita berdua—aku dan kamu—kamar kontrakan mungil, berapa ukurannya? 2x3, 3x3, 3x4 meter persegi? Betapa sempitnya! Tembok-tembok yg menghimpit, lampu yang selalu saja lupa kita matikan, dan pintu tempat bergantung pakaian-pakaian kumal kita (kita tidak tahu lagi, pakaian mana yang telah dan belum kita cuci).
Di dekat kasur kita, masih menggantung gabus 1x1 meter yang kau curi entah dari mana. “untuk kita bebaskan diri kita!”, katamu waktu itu. Dan lalu kita melindas tiap-tiap sentinya dengan segala apa yang keluar dari dalam diri kita. Muntahan-muntahan puisi yang bersemburan dari mualnya otak dan hati kita. Ludahan-ludahan graffiti yang sepertinya dengan sukacita kau campakan, dimensi lain dirimu yang selalu saja kau terjemahkan lewat kasar jari-jarimu. (aku tak pernah bisa melukis, meski aku bisa lebih kasar ketimbang dirimu). Di lantai, masih saja terserak buku-buku kita, bukumu dan bukuku. Apa itu? “sarinah”, “five dialogue”, “filsafat ensie”, “strukturalisme”, ahh...kamar kita terlalu pengap dengan buku-buku fisafat(mu). Sketsa-sketsa hitam putih, milikmu, cerita-cerita yang tak pernah usai, milikku, nampak lebih mirip gang becek ujung kampung. Menyebabkan kita mesti bersejingkat, memilih ruang leluasa untuk sekadar tapak kaki.
Setengah satu pagi. Celana jeansmu masih sama seperti tiga hari lalu. Asbak yang hampir penuh masih saja kau hujani abu-abu kretekmu. Di atas kursi, aku menghadap meja, sesekali berbalik menghadapmu yang berbaring di kasur kumal kita. (kasur kita cuma satu). Entahlah, singletmu, jeansmu, tali yg melingkar di lehermu, selalu saja menusuk-nusukkan inspirasi segar ke kelanjar otakku. Gila! Harus bagaimana aku sumpahi tubuhmu itu, lambung yang kerap perih, paru-paru busuk, rumah seribu penyakit, dan entah dengan cara apa kukutuki hatiku yang tak menyisakan tempat selain untukmu, bibir kering yg selalu kau basahi lewat kecupan, telinga tak bergiwang, lubang masuk degup jantungmu saat aku kau peluk. (dan entah berapa kali mata ini menangis di situ, membasahi singletmu).
“Ga, puisi untukmu!” aku berdiri, bersejingkat, dan menghampirimu. Kau duduk membacanya, irama pertengahan. Suara lamat yang pasti:
“beginilah Ksatria:
aku mencintaimu, dengan
lima ribu rupiah yang selalu kita bagi dua—dan
makan malam yg selalu satu bungkus.
Karena mencintaimu adalah candu
Tanpa harta dan bola mata.
Lalu, jika malam telah lewat
Mari kita isi pagi dengan peluh;
Membakar kamar ini dengan tiap-tiap birahi
Yang kita punya. Lupakan kontrasepsi,
Biarkan rahimku menyimpan jejak detik ini;
Jejak yang akan menjadi sembilan bulan lagi.
Maka, matikan rokok itu, buat jejak untuk kita,
Cinta yang menjadi, birahi yang mengkristal,
Pancaran yang meledak lalu mengendap. Menerobos
Tiap-tiap lapisan, pemberontakan untuk hal kawin-mawin.
Sekarang juga. Sekarang...kita berontak!”
Kau tertawa, aku tersenyum, dan lampu lupa kita matikan, dan rokok lupa kau padamkan, dan puisi belum selesai dibaca, dan sketsa belum sempurna.
Dan kita bercinta, melepas semuanya. Semua-muanya! Semau-maunya!
25.01.02
Afeksi Satu Sisi
(catatan penggenapan)
baiklah. kujelaskan seterang-terangnya sekarang juga. apa, siapa, dan di mana diriku. barangkali ada pentingnya buatmu, dan juga barangkali buatku.
tutup matamu.
bacalah tidak dengan matamu, tapi bukalah hatimu, biarkan jendela-jendelanya dimasuki angin yang sengaja kudatangkan buatmu. aku adalah manusia. sekaligus iblis. sekaligus malaikat. sekaligus tuhan. aku adalah segala. segala yang menghujanimu dengan berkeranjang-keranjang cinta yang dengan penuh kesadaran kualirkan dari lubuk hatiku. yang mulutku, akan memuntahkannya, akan menyemburkannya, dan lantai-lantai itu, dinding-dinding itu, akan menyisakan bekasnya, menyimpan jejaknya. aku adalah raja. raja dari segenap penjuru mata angin, raja segala hutan yang berisikan binatang buas, juga pohon dengan semak paling belukar, dan akar paling membelit. aku adalah raja yang dengan segenap kuasaku keluar perintah agar terhenti semua waktu, beku semua ruang, dan abadilah rinduku kepadamu, meski tertuntaskan berkali-kali.
jangan buka matamu.
tutup pintu belakang hatimu, jangan biarkan angin-angin yang kutiupkan kepadamu tak mengendap di ruang tengah hatimu. aku adalah selembar wayang kulit, tak bernama, tak berwarna. dan aku adalah juga dalang, yang mengeluarkan suara paling menggelegar dari balik selembar putih tanpa pelita, karena sorot mataku, adalah cahaya paling benderang.
maka siapakah kamu…
tetap tutup matamu
kujelaskan kini di mana aku. sebuah sudut tanpa ruang. hampa. tempat newton diludahi, karena tak pernah ada apel yang jatuh karena terlalu matang di sini. di sini adalah tempat di mana einstein dijadikan berhala, karena absolutisme adalah omong kosong. semua yang benar, adalah semua yang salah. inilah sudut tanpa mata, karena dadamu akan tertekan, karena kakimu akan terjepit, karena tanganmu akan terikat. hanya hatimu yang merunduk. juga menggelinjang, sebuah kenikmatan paling sejati.
biarkan anginku berputar-putar di ruang tengah hatimu.
tunggulah sebentar lagi, kuajak kau nanti menari. dengarlah kini musiknya, pelajari tiap ketukannya, ketukan dari situasi yang kerap memojokkan. irama tanpa suara tanpa nada tanpa notasi yang berbaris teratur di partitur yang selalu saja terbentur. oh, berhati-hatilah, jangan terbentur. kau tidak di tempatku. tempatku satu-satunya keterbenturan diizinkan. karena di sini, semua sisi sama pendek, semua sisi menjadi begitu tak terpola, tak jelas terbaca, dan waktu, selalu saja menggeruskan titahnya dengan penghancuran-penghancuran.
tak kau rasakankah?
aku tak begitu jauh dari tempatmu, sebuah titik tempat berbungkus-bungkus nasi basi dibagikan, titik dua, bukan titik satu. titik di mana jarum panjang jam dinding berupa kematian, bergeser tanpa detakan, tanpa suara. di sini, kematian datang diam-diam. jangan sesekali kau tanya barat di sini, barat adalah masa lalu, barat adalah awal keberakhiran timur, di sini tak ada utara, di sini tak ada selatan. di sini yang ada hanya titik tengah, equalibrium tanpa variabel, keseimbangan tanpa unsur-unsur. inilah tempat di mana kosmologi adalah omong kosong. semua ada. semua tidak ada. serba ada karena serba tidak ada.
dan inilah tempatku bertahta.
bertahta atas seluruh sistem—jangan berpikir kosmologi, mikro atau makro, jangan berpikir rantai makanan, jangan berpikir reproduksi—yang berjalan lewat kedipan mataku, mata yang bukan cuma dua, tapi tiga, tapi empat, tapi lima, tapi juga satu. bertahta atas seluruh gerak tari, yeah, aku adalah penari, kuajarkan kau nanti bagaimana menari yang baik, karena yang benar itu tidak pasti baik, dan yang jahat bisa jadi baik. menari, dengan atau tanpa pakaian, adalah sistem bukan? respirasi, oksigen, karbondioksida, oksigen, karbondioksida, begitu seterusnya. dan ambillah kejutannya, bernapaslah dengan matamu, karena jika kau menari, kau harus menekan cuping hidungmu, menutup lubang gelapnya, dan kau harus membuka matamu.
jangan menghitung.
bukankah sudah kuperingatkan kepadamu, di sini hitungan cuma mainan anak-anak, dengan jenazah yang mereka temui di sisi-sisi jalan menuju rumah mereka, atau juga menuju sekolah mereka, yang kadang mereka ambil jantungnya sebagai taruhan bermain kelereng. membacalah dengan tidak menyebut nama apapun, sebutlah dirimu, dan rasakan diriku di dirimu. ulangi sekali lagi.
selamat malam. bermimpilah kau bisa melupakan aku.
esok, percayalah, aku akan berubah bentuk. kau kenali aku?
-Warung Kalde Jatinangor, 11 Mei 2002
(catatan penggenapan)
baiklah. kujelaskan seterang-terangnya sekarang juga. apa, siapa, dan di mana diriku. barangkali ada pentingnya buatmu, dan juga barangkali buatku.
tutup matamu.
bacalah tidak dengan matamu, tapi bukalah hatimu, biarkan jendela-jendelanya dimasuki angin yang sengaja kudatangkan buatmu. aku adalah manusia. sekaligus iblis. sekaligus malaikat. sekaligus tuhan. aku adalah segala. segala yang menghujanimu dengan berkeranjang-keranjang cinta yang dengan penuh kesadaran kualirkan dari lubuk hatiku. yang mulutku, akan memuntahkannya, akan menyemburkannya, dan lantai-lantai itu, dinding-dinding itu, akan menyisakan bekasnya, menyimpan jejaknya. aku adalah raja. raja dari segenap penjuru mata angin, raja segala hutan yang berisikan binatang buas, juga pohon dengan semak paling belukar, dan akar paling membelit. aku adalah raja yang dengan segenap kuasaku keluar perintah agar terhenti semua waktu, beku semua ruang, dan abadilah rinduku kepadamu, meski tertuntaskan berkali-kali.
jangan buka matamu.
tutup pintu belakang hatimu, jangan biarkan angin-angin yang kutiupkan kepadamu tak mengendap di ruang tengah hatimu. aku adalah selembar wayang kulit, tak bernama, tak berwarna. dan aku adalah juga dalang, yang mengeluarkan suara paling menggelegar dari balik selembar putih tanpa pelita, karena sorot mataku, adalah cahaya paling benderang.
maka siapakah kamu…
tetap tutup matamu
kujelaskan kini di mana aku. sebuah sudut tanpa ruang. hampa. tempat newton diludahi, karena tak pernah ada apel yang jatuh karena terlalu matang di sini. di sini adalah tempat di mana einstein dijadikan berhala, karena absolutisme adalah omong kosong. semua yang benar, adalah semua yang salah. inilah sudut tanpa mata, karena dadamu akan tertekan, karena kakimu akan terjepit, karena tanganmu akan terikat. hanya hatimu yang merunduk. juga menggelinjang, sebuah kenikmatan paling sejati.
biarkan anginku berputar-putar di ruang tengah hatimu.
tunggulah sebentar lagi, kuajak kau nanti menari. dengarlah kini musiknya, pelajari tiap ketukannya, ketukan dari situasi yang kerap memojokkan. irama tanpa suara tanpa nada tanpa notasi yang berbaris teratur di partitur yang selalu saja terbentur. oh, berhati-hatilah, jangan terbentur. kau tidak di tempatku. tempatku satu-satunya keterbenturan diizinkan. karena di sini, semua sisi sama pendek, semua sisi menjadi begitu tak terpola, tak jelas terbaca, dan waktu, selalu saja menggeruskan titahnya dengan penghancuran-penghancuran.
tak kau rasakankah?
aku tak begitu jauh dari tempatmu, sebuah titik tempat berbungkus-bungkus nasi basi dibagikan, titik dua, bukan titik satu. titik di mana jarum panjang jam dinding berupa kematian, bergeser tanpa detakan, tanpa suara. di sini, kematian datang diam-diam. jangan sesekali kau tanya barat di sini, barat adalah masa lalu, barat adalah awal keberakhiran timur, di sini tak ada utara, di sini tak ada selatan. di sini yang ada hanya titik tengah, equalibrium tanpa variabel, keseimbangan tanpa unsur-unsur. inilah tempat di mana kosmologi adalah omong kosong. semua ada. semua tidak ada. serba ada karena serba tidak ada.
dan inilah tempatku bertahta.
bertahta atas seluruh sistem—jangan berpikir kosmologi, mikro atau makro, jangan berpikir rantai makanan, jangan berpikir reproduksi—yang berjalan lewat kedipan mataku, mata yang bukan cuma dua, tapi tiga, tapi empat, tapi lima, tapi juga satu. bertahta atas seluruh gerak tari, yeah, aku adalah penari, kuajarkan kau nanti bagaimana menari yang baik, karena yang benar itu tidak pasti baik, dan yang jahat bisa jadi baik. menari, dengan atau tanpa pakaian, adalah sistem bukan? respirasi, oksigen, karbondioksida, oksigen, karbondioksida, begitu seterusnya. dan ambillah kejutannya, bernapaslah dengan matamu, karena jika kau menari, kau harus menekan cuping hidungmu, menutup lubang gelapnya, dan kau harus membuka matamu.
jangan menghitung.
bukankah sudah kuperingatkan kepadamu, di sini hitungan cuma mainan anak-anak, dengan jenazah yang mereka temui di sisi-sisi jalan menuju rumah mereka, atau juga menuju sekolah mereka, yang kadang mereka ambil jantungnya sebagai taruhan bermain kelereng. membacalah dengan tidak menyebut nama apapun, sebutlah dirimu, dan rasakan diriku di dirimu. ulangi sekali lagi.
selamat malam. bermimpilah kau bisa melupakan aku.
esok, percayalah, aku akan berubah bentuk. kau kenali aku?
-Warung Kalde Jatinangor, 11 Mei 2002
Puisi Jadi Peluru
“... tapi beri aku keberanian
merenggut topeng busana
telanjang menari berborok sekujur badan
di hadapan hadirin sahabat-sahabatku tercinta.”
(Sajak Hari demi Hari, Wiji Thukul)
Apa yang tersisa dari kehilangan yang panjang? Wiji Thukul, penyair, hilang begitu saja. Bukan untuk satu-dua malam, tapi nyaris lima tahun! Pertemuan terakhir Dyah Sujirah, biasa dipanggil Mbak Sipon, istrinya, dengan Thukul pada Desember 1998 bisa jadi akan menjadi pertemuan yang benar-benar terakhir. Tapi bersama dua anaknya, hingga kini, Mbak Sipon masih setia menunggu. “Kesetiaan itu mahal harganya, Pon,” kata Thukul dalam mimpi yang mendatangi Mbak Sipon pada hari ketiga bulan puasa lalu.
Tapi siapakah Thukul? Kejahatan macam apakah yang membuat dia menjadi tak biasa di negeri ini? Hilang? Dihilangkan? Atau...?
Namanya Wiji Widodo, orang lebih mengenalnya sebagai Wiji Thukul. Lahir di Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963. Sebuah kampung dengan mayoritas penduduk buruh dan penarik becak. Ayahnya, Pak Wito Kemis, juga penarik becak. Tentang ini Thukul punya sikap: Jangan lupa kekasihku / Jika kau ditanya siapa mertuamu / Jawablah: yang menarik becak itu / Itu bapakmu kekasihku. Puisi itu ditulis Thukul ketika dia berpacaran dengan Mbak Sipon yang kelak menjadi istrinya. “Suami saya,” kata Mbak Sipon, “selalu mengajarkan, kita tidak perlu malu mengungkapkan keadaan kita sebenarnya. Kami berasal dari keluarga miskin. Ayah Wiji Thukul, Pak Wito Kemis, penarik becak, dan kebetulan bapak saya juga penarik becak. Jadi buat apa malu, asal pekerjaan itu halal."
Tapi tentu ini yang membuatnya akan tetap dikenang: puisi yang lahir dari perihnya hidup di bawah tindasan tiran menjadi peluru yang mengarah pada sang tiran. Paling tidak akan selalu ada yang menilai seperti ini: Thukul melalui puisi-puisinya telah mengajak kaumnya untuk bangun memperjuangkan hak asasi! Ditulis secara sederhana, lugas, jujur, dan oleh karenanya mudah dipahami oleh orang kebanyakan.
Menulis sejak SD, tertarik pada teater di bangku SMP, masuk sekolah menengah karawitan, meski tidak tamat: kesenian memang jalan Thukul. Thukul tercatat pernah menjadi anggota Teater JAGAT (Jagalan Tengah), bersama kelompok ini ia keluar masuk kampung untuk berkesenian. Tapi pekerjaannya adalah tukang pelitur. Dan ia bangga dengan ini. Saat-saat menjadi tukang pelitur ini, Thukul kemudian dikenal sebagai penyair pelo (cadel), karena sering mendeklamasikan puisi untuk rekan sekerja. Thukul tidak main-main dengan puisi. Dia pernah diganjar WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra atas puisi-puisinya. Ganjarannya yang berupa uang -yang kepada Rendra dititpkan- tidak sempat ia terima hingga kini.
Tahun 2002, Thukul mendapat Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan untuk mereka yang dianggap berjasa bagi perjuangan penegakkan Hak Asasi Manusia. Meski tidak berbicara tentang konvensi, deklarasi, standar, dan lain-lain instrumen hak asasi manusia, tetapi sadar atau tidak sadar Wiji telah berjuang dalam memajukan nilai kemanusiaan yang menjadi awal dan akhir dari pemajuan hak asasi manusia. Bahkan lebih dari itu, dia tidak hanya bicara, melainkan juga berbuat. Tahun 1992, bersama warga Jagalan-Pucangsawit ia bertindak melawan pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil Sariwarna Asli. 1994 ia ikut bersama petani berjuang di Ngawi. 1995 ia memimpin pemogokan buruh PT. Sritex.
Pemerintah Orde Baru, melalui Menko Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman pada 28 Desember 1997 menyatakan Wiji Thukul sebagai buron aparat keamanan. Ini yang tak pernah bisa dimengerti Mbak Sipon. “Apa bahayanya Thukul?”, kata Mbak Sipon. “Suami Saya sehari-hari biasa saja. Ataukah mungkin karena pemerintah memang begitu bobroknya, seperti yang dibilang Thukul dalam puisinya, Peringatan, sehingga pemerintah berniat keras untuk menangkap dia,” lanjutnya.
Thukul, di manapun ia, ditangkap, hilang, dihilangkan, atau apapun, akan selalu dikenang menjadi seorang penyair yang puisinya menjadi peluru bagi mereka yang menindas. Ia akan memonumen di segenap hati yang merasa bersamanya. Terlebih bagi kedua anaknya Fitri Nganthi Wani (11) dan Fajar Merah (7) yang bersama ibunya masih senantiasa setia menunggunya pulang.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam,
kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
lawan!
Thukul, pulanglah.
“... tapi beri aku keberanian
merenggut topeng busana
telanjang menari berborok sekujur badan
di hadapan hadirin sahabat-sahabatku tercinta.”
(Sajak Hari demi Hari, Wiji Thukul)
Apa yang tersisa dari kehilangan yang panjang? Wiji Thukul, penyair, hilang begitu saja. Bukan untuk satu-dua malam, tapi nyaris lima tahun! Pertemuan terakhir Dyah Sujirah, biasa dipanggil Mbak Sipon, istrinya, dengan Thukul pada Desember 1998 bisa jadi akan menjadi pertemuan yang benar-benar terakhir. Tapi bersama dua anaknya, hingga kini, Mbak Sipon masih setia menunggu. “Kesetiaan itu mahal harganya, Pon,” kata Thukul dalam mimpi yang mendatangi Mbak Sipon pada hari ketiga bulan puasa lalu.
Tapi siapakah Thukul? Kejahatan macam apakah yang membuat dia menjadi tak biasa di negeri ini? Hilang? Dihilangkan? Atau...?
Namanya Wiji Widodo, orang lebih mengenalnya sebagai Wiji Thukul. Lahir di Kampung Sorogenen, Solo, 26 Agustus 1963. Sebuah kampung dengan mayoritas penduduk buruh dan penarik becak. Ayahnya, Pak Wito Kemis, juga penarik becak. Tentang ini Thukul punya sikap: Jangan lupa kekasihku / Jika kau ditanya siapa mertuamu / Jawablah: yang menarik becak itu / Itu bapakmu kekasihku. Puisi itu ditulis Thukul ketika dia berpacaran dengan Mbak Sipon yang kelak menjadi istrinya. “Suami saya,” kata Mbak Sipon, “selalu mengajarkan, kita tidak perlu malu mengungkapkan keadaan kita sebenarnya. Kami berasal dari keluarga miskin. Ayah Wiji Thukul, Pak Wito Kemis, penarik becak, dan kebetulan bapak saya juga penarik becak. Jadi buat apa malu, asal pekerjaan itu halal."
Tapi tentu ini yang membuatnya akan tetap dikenang: puisi yang lahir dari perihnya hidup di bawah tindasan tiran menjadi peluru yang mengarah pada sang tiran. Paling tidak akan selalu ada yang menilai seperti ini: Thukul melalui puisi-puisinya telah mengajak kaumnya untuk bangun memperjuangkan hak asasi! Ditulis secara sederhana, lugas, jujur, dan oleh karenanya mudah dipahami oleh orang kebanyakan.
Menulis sejak SD, tertarik pada teater di bangku SMP, masuk sekolah menengah karawitan, meski tidak tamat: kesenian memang jalan Thukul. Thukul tercatat pernah menjadi anggota Teater JAGAT (Jagalan Tengah), bersama kelompok ini ia keluar masuk kampung untuk berkesenian. Tapi pekerjaannya adalah tukang pelitur. Dan ia bangga dengan ini. Saat-saat menjadi tukang pelitur ini, Thukul kemudian dikenal sebagai penyair pelo (cadel), karena sering mendeklamasikan puisi untuk rekan sekerja. Thukul tidak main-main dengan puisi. Dia pernah diganjar WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra atas puisi-puisinya. Ganjarannya yang berupa uang -yang kepada Rendra dititpkan- tidak sempat ia terima hingga kini.
Tahun 2002, Thukul mendapat Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan untuk mereka yang dianggap berjasa bagi perjuangan penegakkan Hak Asasi Manusia. Meski tidak berbicara tentang konvensi, deklarasi, standar, dan lain-lain instrumen hak asasi manusia, tetapi sadar atau tidak sadar Wiji telah berjuang dalam memajukan nilai kemanusiaan yang menjadi awal dan akhir dari pemajuan hak asasi manusia. Bahkan lebih dari itu, dia tidak hanya bicara, melainkan juga berbuat. Tahun 1992, bersama warga Jagalan-Pucangsawit ia bertindak melawan pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil Sariwarna Asli. 1994 ia ikut bersama petani berjuang di Ngawi. 1995 ia memimpin pemogokan buruh PT. Sritex.
Pemerintah Orde Baru, melalui Menko Politik dan Keamanan Soesilo Soedarman pada 28 Desember 1997 menyatakan Wiji Thukul sebagai buron aparat keamanan. Ini yang tak pernah bisa dimengerti Mbak Sipon. “Apa bahayanya Thukul?”, kata Mbak Sipon. “Suami Saya sehari-hari biasa saja. Ataukah mungkin karena pemerintah memang begitu bobroknya, seperti yang dibilang Thukul dalam puisinya, Peringatan, sehingga pemerintah berniat keras untuk menangkap dia,” lanjutnya.
Thukul, di manapun ia, ditangkap, hilang, dihilangkan, atau apapun, akan selalu dikenang menjadi seorang penyair yang puisinya menjadi peluru bagi mereka yang menindas. Ia akan memonumen di segenap hati yang merasa bersamanya. Terlebih bagi kedua anaknya Fitri Nganthi Wani (11) dan Fajar Merah (7) yang bersama ibunya masih senantiasa setia menunggunya pulang.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam,
kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata:
lawan!
Thukul, pulanglah.
6.12.03
Pasar Kota
Tembok muram itu, masih menyimpan di tiap-tiap kelupasan catnya tentang kita. Hitam, kusam, legam. Retakannya seperti aliran sungai yang membawa cerita dari hulu gelap masa silam. Tembok pasar kota. Di bawahnya masih kita lihat pecahan-pecahan kaca, kaca jendela warna gelap. Pecah oleh batu yang dulu. Batu-batu yang digenggam. Batu-batu yang dicintai. Batu-batu yang bicara. Langit-langit itu pun seperti menontonkan kembali pada kita percintaan kita. Kau memunggunginya, aku tak melihatnya. Sprei itu, entah di mana ia sekarang. Tentunya dapat kita lihat bekas-bekas kita di situ. Bekas-bekas yang menjadi jejak semestinya, mengabadikan mutiara-mutiara yang jatuh lewat peluh-peluh kita.
Berapa tahun yang lalu itu? Sudah lama. Bahkan aku telah lupa bagaimana caramu mendesahkan nafasmu di sela-sela rambutku, bagaimana caramu menelanjangiku dengan dua matamu yang mulai sayu. Kamu takut. Apa lagi aku. Tapi cinta bukan linear, sesuatu yang rasional, bulat atau lurus, katamu. Dan kita memulainya.
Waktu itu senja. sore akan berakhir, sebentar lagi. Tapi toko sudah kamu tutup. Karena pembeli semakin jarang pikirku. Tapi bukan katamu, membuka toko itu berdagang, walau tak ada pembeli. Mungkin, tapi apa? Dan kau tidak menjelaskannya, melainkan mulai menyeret tirai jendela; dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Kau letakkan gelas yang sejak tadi kau genggam. Langit-langit mulai merunduk malu melihat kita berdua di kamar ini tanpa pakaian, di toko pasar kota.
Sadarkah kamu waktu itu? Aku adalah anak tuanmu, dan kau tak lebih dari sekadar hamba bapakku. Sadarkah aku? Tidak, aku tidak sadar, (cinta tidak linear, bukan?), kesadaran adalah apa yang kita raih sama-sama waktu itu. Di bawah langit-langit, di atas sprei merah muda, yang dengan sangat sempurna direfleksikan gelas yang kau taruh di samping ranjangku. Sudah hampir malam…
Lelaki. Pekerja. Hamba bapakku. Tapi juga malaikatku, teman tidurku kalau bapakku sedang tak ada di sini, mengurusi niaganya yang semakin terlihat asing bagiku. Kau bukan hambaku karena aku adalah hambamu, yang mengagumi tiap-tiap sel yang menghimpun menjadi tubuh, dan cahaya-cahaya yang menggumpal, memancarkan sinar yang menyilaukan. Tapi kau bukan tuanku, karena pernah juga kau ciumi ujung kakiku, dan kau berlindung di kedua sayapku. Aku juga malaikatmu, katamu.
***
Lalu cerita itu dimulai, cerita tentang bagaimana kita lupa terhadap siapa kita, dan binatang macam apakah kita. Cerita yang tersusun sendiri lewat warna hitam darah. Massa. Makhluk yang berkerumun dan meneriakan kata-kata sucinya. Batu yang mengeras menjadi doa, bukan lewat tengadahan tangan, tapi lontaran.
Bapak memang sedang tak ada. Tapi, kau tidak sedang menjadi teman tidurku kala itu. Di kamar aku merajut ait mata dan merendamkan kaki ke dalam api sambil bernyanyi. Ya, aku bernyanyi. Cuma ada asap dan lagu yang kudendangkan. Lagu tentangmu. Gelas itu masih ada di atas meja samping ranjangku.
Sampai sebuah batu memecahkannya. Jendela kamarku, lalu gelasmu. Massa: Makhluk yang berkerumun dan meneriakan kata-kata sucinya. Tapi, makhluk apakah itu? Karena mereka bukan cuma memecahkan jendelaku dan gelasmu, tapi juga mematahkan sayapku dan menghentikan nyanyianku. Lagu tentangmu berhenti sebelum selesai, karena ujung kakiku, yang dulu pernah kau ciumi, dilumati mereka. Malaikatku…
Langit-langit itu tak lagi merunduk malu. Padahal aku telanjang, ditelanjangi makhluk itu. Dan perlahan kudengar ia menangis, meruntuhkan tiap meter yang melekat di wajahnya. Satu-satu.
Lelaki. Atom sebuah gumpalan. Makhluk bukan manusia, menghimpun menjadi massa. Berkerumun dan berteriak. Memecahkan jendelaku dan gelasmu. Membakar dan mematahkan sayapku. Sejenismu. Malaikatku…
Aku bernyanyi. Lagu tentangmu. Di kamar sebuah rumah sakit jiwa.
***
Tembok pasar kota. Tempat di mana sayap kita saling mengadu, saling melindungi. Menyimpan baik-baik relief itu, berwarna hitam kusam. Relief yang bercerita tentang mutiara-mutiara dari peluh-peluh kita yang jatuh saat langit-langit merunduk malu. Juga cerita tentang tangisannya.
Tahun berapa itu? 1998? Mei? Sudah lama. Dan sayapku masih tak kujumpai. Di telingamukah, malaikatku… di sela-sela lagu tentangmu?
-cibiru, 17 maret 2002
Tembok muram itu, masih menyimpan di tiap-tiap kelupasan catnya tentang kita. Hitam, kusam, legam. Retakannya seperti aliran sungai yang membawa cerita dari hulu gelap masa silam. Tembok pasar kota. Di bawahnya masih kita lihat pecahan-pecahan kaca, kaca jendela warna gelap. Pecah oleh batu yang dulu. Batu-batu yang digenggam. Batu-batu yang dicintai. Batu-batu yang bicara. Langit-langit itu pun seperti menontonkan kembali pada kita percintaan kita. Kau memunggunginya, aku tak melihatnya. Sprei itu, entah di mana ia sekarang. Tentunya dapat kita lihat bekas-bekas kita di situ. Bekas-bekas yang menjadi jejak semestinya, mengabadikan mutiara-mutiara yang jatuh lewat peluh-peluh kita.
Berapa tahun yang lalu itu? Sudah lama. Bahkan aku telah lupa bagaimana caramu mendesahkan nafasmu di sela-sela rambutku, bagaimana caramu menelanjangiku dengan dua matamu yang mulai sayu. Kamu takut. Apa lagi aku. Tapi cinta bukan linear, sesuatu yang rasional, bulat atau lurus, katamu. Dan kita memulainya.
Waktu itu senja. sore akan berakhir, sebentar lagi. Tapi toko sudah kamu tutup. Karena pembeli semakin jarang pikirku. Tapi bukan katamu, membuka toko itu berdagang, walau tak ada pembeli. Mungkin, tapi apa? Dan kau tidak menjelaskannya, melainkan mulai menyeret tirai jendela; dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Kau letakkan gelas yang sejak tadi kau genggam. Langit-langit mulai merunduk malu melihat kita berdua di kamar ini tanpa pakaian, di toko pasar kota.
Sadarkah kamu waktu itu? Aku adalah anak tuanmu, dan kau tak lebih dari sekadar hamba bapakku. Sadarkah aku? Tidak, aku tidak sadar, (cinta tidak linear, bukan?), kesadaran adalah apa yang kita raih sama-sama waktu itu. Di bawah langit-langit, di atas sprei merah muda, yang dengan sangat sempurna direfleksikan gelas yang kau taruh di samping ranjangku. Sudah hampir malam…
Lelaki. Pekerja. Hamba bapakku. Tapi juga malaikatku, teman tidurku kalau bapakku sedang tak ada di sini, mengurusi niaganya yang semakin terlihat asing bagiku. Kau bukan hambaku karena aku adalah hambamu, yang mengagumi tiap-tiap sel yang menghimpun menjadi tubuh, dan cahaya-cahaya yang menggumpal, memancarkan sinar yang menyilaukan. Tapi kau bukan tuanku, karena pernah juga kau ciumi ujung kakiku, dan kau berlindung di kedua sayapku. Aku juga malaikatmu, katamu.
***
Lalu cerita itu dimulai, cerita tentang bagaimana kita lupa terhadap siapa kita, dan binatang macam apakah kita. Cerita yang tersusun sendiri lewat warna hitam darah. Massa. Makhluk yang berkerumun dan meneriakan kata-kata sucinya. Batu yang mengeras menjadi doa, bukan lewat tengadahan tangan, tapi lontaran.
Bapak memang sedang tak ada. Tapi, kau tidak sedang menjadi teman tidurku kala itu. Di kamar aku merajut ait mata dan merendamkan kaki ke dalam api sambil bernyanyi. Ya, aku bernyanyi. Cuma ada asap dan lagu yang kudendangkan. Lagu tentangmu. Gelas itu masih ada di atas meja samping ranjangku.
Sampai sebuah batu memecahkannya. Jendela kamarku, lalu gelasmu. Massa: Makhluk yang berkerumun dan meneriakan kata-kata sucinya. Tapi, makhluk apakah itu? Karena mereka bukan cuma memecahkan jendelaku dan gelasmu, tapi juga mematahkan sayapku dan menghentikan nyanyianku. Lagu tentangmu berhenti sebelum selesai, karena ujung kakiku, yang dulu pernah kau ciumi, dilumati mereka. Malaikatku…
Langit-langit itu tak lagi merunduk malu. Padahal aku telanjang, ditelanjangi makhluk itu. Dan perlahan kudengar ia menangis, meruntuhkan tiap meter yang melekat di wajahnya. Satu-satu.
Lelaki. Atom sebuah gumpalan. Makhluk bukan manusia, menghimpun menjadi massa. Berkerumun dan berteriak. Memecahkan jendelaku dan gelasmu. Membakar dan mematahkan sayapku. Sejenismu. Malaikatku…
Aku bernyanyi. Lagu tentangmu. Di kamar sebuah rumah sakit jiwa.
***
Tembok pasar kota. Tempat di mana sayap kita saling mengadu, saling melindungi. Menyimpan baik-baik relief itu, berwarna hitam kusam. Relief yang bercerita tentang mutiara-mutiara dari peluh-peluh kita yang jatuh saat langit-langit merunduk malu. Juga cerita tentang tangisannya.
Tahun berapa itu? 1998? Mei? Sudah lama. Dan sayapku masih tak kujumpai. Di telingamukah, malaikatku… di sela-sela lagu tentangmu?
-cibiru, 17 maret 2002
Dinamis yang Seperti Apa?
Jauh sebelum saya memasuki bangku kuliah seperti saat ini, saya sudah mengenal sesosok mahasiswa dengan reputasi yang mengagumkan bagi saya pribadi. Saya masih berseragam biru-putih waktu itu, bercelana pendek. Itu hari yang sedikit mendung, ketika di depan kelas seorang guru saya—guru bahasa Indonesia—bercerita tentang sosok tersebut. Sosok yang setengah mati saya akrabi lewat membaca catatan hariannya yang kebetulan dimiliki oleh abang saya. Sesungguhnya, saya tak pernah menyangka guru itu akan bercerita tentang dia di depan kelas. Bercerita tentang bagaimana mahasiswa itu mengkritik Soekarno dengan begitu pedasnya, tentang demonstrasi-demonstrasi yang ia ikuti (atau bahkan ia pimpin), juga tentang kisah-kisah cintanya yang tak pernah sukses. Setelah bercerita, guru saya itu menyarankan kepada murid-muridnya untuk mengikuti jejaknya: bukan untuk melawan presiden, tapi untuk membuat catatan harian. “Semua orang harus punya catatan harian. Dia, Hilman (si penulis ‘Lupus’), Rizal (si sutradara) memiliki catatan harian.” Catatan harian itu reflektif dan inspiratif, simpul saya.
Tapi saya tak begitu kagum mendengar cerita tentang mahasiswa tersebut dari guru saya. Saya sudah membacanya. Barangkali sudah lebih dari sekali. Baca dan baca lagi. Hingga, mau tak mau, sedemikan tertanamlah di benak saya tentang bagaimana kehidupan ideal seorang mahasiswa di dalam alam dunia kampus yang dinamis. Ada pesta, ada cinta, dan ada politik. Tiga hal yang rasanya kerap ada bagi seorang mahasiswa, mirip dengan apa yang pernah saya dengar tentang apa yang mesti dialami anak laki-laki: naik gunung, keluar dari rumah, dan ditolak wanita.
Tentang pesta lebih baik tidak usah terlalu saya ceritakan di sini, rasanya semua orang tahu maksudnya. Juga tentang cinta, ini urusan pirbadi, bukan? Saya hanya ingin menulis tentang politik. Yeah, politik. Maaf sebelumnya untuk yang membenci tujuh huruf ini.
Telah saya katakan sebelumnya bahwa gambaran ideal saya tentang kehidupan mahasiswa tertanam lewat pembacaan saya terhadap catatan harian mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa ini mahasiswa biasa, paling tidak ia mengaku begitu. Walau begitu, dia pernah menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI (Universitas Indonesia) periode 1967-1968. Juga dia seorang demonstran. Saya kira dia seorang sosialis (dia pernah bergabung dengan gerakan mahasiswa sosialis), tapi lebih dari itu saya yakin dia seorang humanis. Seorang manusia yang punya segerobak rasa kemanusiaan di saat banyak orang cuma punya segenggam. Kelak, ketika ia mati dengan begitu mengenaskan dan sepi di puncak mahameru, ia ditangisi oleh begitu banyak orang, mulai dari pilot yang membawa jenazahnya pulang hingga seorang kuli yang membuatkan peti mati untuknya. Mungkin dari tulisan-tulisannya yang tak kenal kompromi yang membuat orang-orang itu mengenalnya dan kemudian menangisinya.
Hingga kemudian saya menjadi mahasiswa… dan mendapati ternyata itu semua seperti dongeng. Dongeng tentang seorang mahasiswa yang kesepian hingga memiliki begitu banyak waktu luang untuk digunakan sendiri di dalam kamar remang bersama mesin ketik kuno dan nyamuk-nyamuk. Begitu setiap malam, mencaci-maki pemerintah yang korup, politikus-politikus barbar dan sistem-sistem yang memuakkan lewat tulisan-tulisan kaku, lurus, tak kenal kompromi, bahkan untuk urusan-urusan yang begitu sensitif seperti menyebut nama seseorang. Karena saya tidak mendapati apa yang saya dapati di buku catatan hariannya. Yang saya dapati adalah kehidupan kampus yang sepi, terseok-seok, yang berjalan gontai tanpa tahu ke arah mana hendak menuju. Yang saya dapati adalah “sisa” dari kebanggaan yang dibuat-buat atas keberhasilan mahasiswa-mahasiswa yang telah merobohkan rezim jahat Soeharto tahun 1998 lalu. Yang saya dapati adalah kata-kata “terkutuk” Herbert Marcuse tentang mahasiswa, “mahasiswa itu agen perubahan sosial”. Sementara itu, di dalam kampus “politik” begitu meriah. Mahasiswa kini tak lagi hanya bermain volley, sepak bola atau naik gunung, atau tidak hanya duduk melingkar diskusi, belajar kelompok, penelitian, atau tidak hanya berpacaran, bermain-main, berpesta, nonton film atau menggelar malam puisi, mahasiswa kini menjadi politikus (poltikus dengan ‘p’ kecil). Mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki hanya berisikan taktik-strategi politik, kursi-kursi eksekutif/legislatif mahasiswa diperebutkan persis seperti bagaimana para politikus negeri ini memperebutkan kursi presiden dan parlemen.
Betapa menjemukan menjadi mahasiswa di saat-saat seperti ini dan betapa menyegarkan dongeng yang saya baca sejak smp itu.
Ataukah zaman memang telah berganti, dan sudah semestinya kita melihat zaman ini dengan “roh zaman” ini sendiri? Atau memang inilah dinamika kampus di era milenium? Di mana permainan otot lewat volley atau naik gunung begitu primitif dan bermain politik begitu intelek karena memeras otak, mengasah taktik, merumusukan strategi? Dan saya begitu tertinggal jauh di belakang dengan romantisme naif hasil dari konsumsi dongeng yang berlebih, hingga sudah seharusnya saya bersiap-siap untuk tergilas roda zaman ini?
Atau… adakah saya sedemikian bencinya dengan politik? Saya telah berpikir sebelumnya, menimbang-nimbang soal-soal di atas. Dan saya pikir jawabannya tidak. Saya tak benci politik. Apalah politik. Yang saya benci adalah sesuatu yang telah kehilangan hakikatnya. Seperti para mahasiswa yang berpolitik itu, tidakkah itu namanya mengingkari hakikat kemahasiswaannya. Ataukah benar kata mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut, mereka bukan mahasiswa yang berpolitik, tapi politikus yang punya kartu mahasiswa!
Pertama, dua hal itu tentu saja berbeda. Ini menurut mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa yang berpolitik adalah Mahasiswa dengan ‘M’ besar (mahasiswa yang mengerti benar hakikatnya sebagai seorang pemuda yang sedang menuntut ilmu) dan Politikus dengan ‘P’ besar (mereka yang bertindak dengan sangat keras kepala demi menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah – tanpa memandang dari ideologi apa ia berasal, dari agama apa ia berangkat, atau dari organisasi mana ia bergerak). Semuanya terasa begitu alamiah. Di kelas-kelas kampus berjalan diskusi-diskusi yang sehat dan bebas, yang tidak asal main hantam demi kejayaan agama, ideologi atau organisasi. Di waktu-waktu tak ada kuliah mahasiswa sibuk membuat terbitan-terbitan, menggelar diskusi-diskusi, sampai merencanakan pendakian gunung, pertandingan basket atau volley, membuat pameran photo, pemutaran film-film dan malam-malam puisi. Begitu natural. Mereka yang berpolitik berjalan dengan begitu sehatnya, eksekutif sibuk melaksanakan program-programnya dan legistlatif begitu ketatnya mengawasi eksekutif. Mahasiswa-mahasiswa lainnya terwakili dan diapresiasi aspirasinya. Birokrat kampus berjalan di bawah pengawasan mahasiswa hingga begitu minim dosen yang tak masuk kelas, korupsi-korupsi uang mahasiswa begitu sulit dilakukan. Dan, jika sesuatu yang menyebalkan terjadi, mereka semua bersama-sama turun ke jalan-jalan, berteriak menyatakan yang salah adalah salah dan menyerukan perbaikan, menekan pihak penguasa yang dinilai korup dengan tanpa lelah. Atau mereka akan terjun ke masyarakat, hidup bersama petani, buruh, dan lainnya yang tertindas. Bersama-sama mereka memperjuangkan keadilan.
Kedua, kehidupan kampus memang sudah selayaknya dinamis. Saat-saat seseorang menjadi mahasiswa adalah saat-saat orang tersebut membentuk diri. Agak sulit rasanya jika yang terjadi ternyata hanyalah pergi ke kampus, kembali ke kost/rumah untuk keesokan harinya kembali lagi ke kampus. Begitu berulang-ulang dengan tidak dinamisnya. Mahasiswa, dan dunianya saya kira, adalah pihak yang begitu banyak orang menaruh harapan-harapan kepadanya. Dengan semangat muda dan ilmu yang terus diasah, seperti kata Soekarno, mereka mampu “mengguncangkan dunia”.
Begitu alamiah, dan begitu seperti dongeng, bukan? Tidak seperti kehidupan kampus yang saya temui saat ini, di mana begitu banyak politkus-politikus masuk ke kelas-kelas kampus, mencari-cari massa mahasiswa untuk mendukungnya bermain-main politik. Di mana begitu banyaknya agenda-agenda aksi di jalan-jalan dengan isue-isue sembarangan yang justru terkesan jauh dari kejujuran membela kebenaran, menaikkan si itu dan kemudian menaikkan si ini, mencela hal itu dan mengagung-agungkan hal ini. Di mana itu?
Jauh sebelum saya memasuki bangku kuliah seperti saat ini, saya sudah mengenal sesosok mahasiswa dengan reputasi yang mengagumkan bagi saya pribadi. Saya masih berseragam biru-putih waktu itu, bercelana pendek. Itu hari yang sedikit mendung, ketika di depan kelas seorang guru saya—guru bahasa Indonesia—bercerita tentang sosok tersebut. Sosok yang setengah mati saya akrabi lewat membaca catatan hariannya yang kebetulan dimiliki oleh abang saya. Sesungguhnya, saya tak pernah menyangka guru itu akan bercerita tentang dia di depan kelas. Bercerita tentang bagaimana mahasiswa itu mengkritik Soekarno dengan begitu pedasnya, tentang demonstrasi-demonstrasi yang ia ikuti (atau bahkan ia pimpin), juga tentang kisah-kisah cintanya yang tak pernah sukses. Setelah bercerita, guru saya itu menyarankan kepada murid-muridnya untuk mengikuti jejaknya: bukan untuk melawan presiden, tapi untuk membuat catatan harian. “Semua orang harus punya catatan harian. Dia, Hilman (si penulis ‘Lupus’), Rizal (si sutradara) memiliki catatan harian.” Catatan harian itu reflektif dan inspiratif, simpul saya.
Tapi saya tak begitu kagum mendengar cerita tentang mahasiswa tersebut dari guru saya. Saya sudah membacanya. Barangkali sudah lebih dari sekali. Baca dan baca lagi. Hingga, mau tak mau, sedemikan tertanamlah di benak saya tentang bagaimana kehidupan ideal seorang mahasiswa di dalam alam dunia kampus yang dinamis. Ada pesta, ada cinta, dan ada politik. Tiga hal yang rasanya kerap ada bagi seorang mahasiswa, mirip dengan apa yang pernah saya dengar tentang apa yang mesti dialami anak laki-laki: naik gunung, keluar dari rumah, dan ditolak wanita.
Tentang pesta lebih baik tidak usah terlalu saya ceritakan di sini, rasanya semua orang tahu maksudnya. Juga tentang cinta, ini urusan pirbadi, bukan? Saya hanya ingin menulis tentang politik. Yeah, politik. Maaf sebelumnya untuk yang membenci tujuh huruf ini.
Telah saya katakan sebelumnya bahwa gambaran ideal saya tentang kehidupan mahasiswa tertanam lewat pembacaan saya terhadap catatan harian mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa ini mahasiswa biasa, paling tidak ia mengaku begitu. Walau begitu, dia pernah menjabat sebagai ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI (Universitas Indonesia) periode 1967-1968. Juga dia seorang demonstran. Saya kira dia seorang sosialis (dia pernah bergabung dengan gerakan mahasiswa sosialis), tapi lebih dari itu saya yakin dia seorang humanis. Seorang manusia yang punya segerobak rasa kemanusiaan di saat banyak orang cuma punya segenggam. Kelak, ketika ia mati dengan begitu mengenaskan dan sepi di puncak mahameru, ia ditangisi oleh begitu banyak orang, mulai dari pilot yang membawa jenazahnya pulang hingga seorang kuli yang membuatkan peti mati untuknya. Mungkin dari tulisan-tulisannya yang tak kenal kompromi yang membuat orang-orang itu mengenalnya dan kemudian menangisinya.
Hingga kemudian saya menjadi mahasiswa… dan mendapati ternyata itu semua seperti dongeng. Dongeng tentang seorang mahasiswa yang kesepian hingga memiliki begitu banyak waktu luang untuk digunakan sendiri di dalam kamar remang bersama mesin ketik kuno dan nyamuk-nyamuk. Begitu setiap malam, mencaci-maki pemerintah yang korup, politikus-politikus barbar dan sistem-sistem yang memuakkan lewat tulisan-tulisan kaku, lurus, tak kenal kompromi, bahkan untuk urusan-urusan yang begitu sensitif seperti menyebut nama seseorang. Karena saya tidak mendapati apa yang saya dapati di buku catatan hariannya. Yang saya dapati adalah kehidupan kampus yang sepi, terseok-seok, yang berjalan gontai tanpa tahu ke arah mana hendak menuju. Yang saya dapati adalah “sisa” dari kebanggaan yang dibuat-buat atas keberhasilan mahasiswa-mahasiswa yang telah merobohkan rezim jahat Soeharto tahun 1998 lalu. Yang saya dapati adalah kata-kata “terkutuk” Herbert Marcuse tentang mahasiswa, “mahasiswa itu agen perubahan sosial”. Sementara itu, di dalam kampus “politik” begitu meriah. Mahasiswa kini tak lagi hanya bermain volley, sepak bola atau naik gunung, atau tidak hanya duduk melingkar diskusi, belajar kelompok, penelitian, atau tidak hanya berpacaran, bermain-main, berpesta, nonton film atau menggelar malam puisi, mahasiswa kini menjadi politikus (poltikus dengan ‘p’ kecil). Mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki hanya berisikan taktik-strategi politik, kursi-kursi eksekutif/legislatif mahasiswa diperebutkan persis seperti bagaimana para politikus negeri ini memperebutkan kursi presiden dan parlemen.
Betapa menjemukan menjadi mahasiswa di saat-saat seperti ini dan betapa menyegarkan dongeng yang saya baca sejak smp itu.
Ataukah zaman memang telah berganti, dan sudah semestinya kita melihat zaman ini dengan “roh zaman” ini sendiri? Atau memang inilah dinamika kampus di era milenium? Di mana permainan otot lewat volley atau naik gunung begitu primitif dan bermain politik begitu intelek karena memeras otak, mengasah taktik, merumusukan strategi? Dan saya begitu tertinggal jauh di belakang dengan romantisme naif hasil dari konsumsi dongeng yang berlebih, hingga sudah seharusnya saya bersiap-siap untuk tergilas roda zaman ini?
Atau… adakah saya sedemikian bencinya dengan politik? Saya telah berpikir sebelumnya, menimbang-nimbang soal-soal di atas. Dan saya pikir jawabannya tidak. Saya tak benci politik. Apalah politik. Yang saya benci adalah sesuatu yang telah kehilangan hakikatnya. Seperti para mahasiswa yang berpolitik itu, tidakkah itu namanya mengingkari hakikat kemahasiswaannya. Ataukah benar kata mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut, mereka bukan mahasiswa yang berpolitik, tapi politikus yang punya kartu mahasiswa!
Pertama, dua hal itu tentu saja berbeda. Ini menurut mahasiswa yang diceritakan guru saya tersebut. Mahasiswa yang berpolitik adalah Mahasiswa dengan ‘M’ besar (mahasiswa yang mengerti benar hakikatnya sebagai seorang pemuda yang sedang menuntut ilmu) dan Politikus dengan ‘P’ besar (mereka yang bertindak dengan sangat keras kepala demi menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah – tanpa memandang dari ideologi apa ia berasal, dari agama apa ia berangkat, atau dari organisasi mana ia bergerak). Semuanya terasa begitu alamiah. Di kelas-kelas kampus berjalan diskusi-diskusi yang sehat dan bebas, yang tidak asal main hantam demi kejayaan agama, ideologi atau organisasi. Di waktu-waktu tak ada kuliah mahasiswa sibuk membuat terbitan-terbitan, menggelar diskusi-diskusi, sampai merencanakan pendakian gunung, pertandingan basket atau volley, membuat pameran photo, pemutaran film-film dan malam-malam puisi. Begitu natural. Mereka yang berpolitik berjalan dengan begitu sehatnya, eksekutif sibuk melaksanakan program-programnya dan legistlatif begitu ketatnya mengawasi eksekutif. Mahasiswa-mahasiswa lainnya terwakili dan diapresiasi aspirasinya. Birokrat kampus berjalan di bawah pengawasan mahasiswa hingga begitu minim dosen yang tak masuk kelas, korupsi-korupsi uang mahasiswa begitu sulit dilakukan. Dan, jika sesuatu yang menyebalkan terjadi, mereka semua bersama-sama turun ke jalan-jalan, berteriak menyatakan yang salah adalah salah dan menyerukan perbaikan, menekan pihak penguasa yang dinilai korup dengan tanpa lelah. Atau mereka akan terjun ke masyarakat, hidup bersama petani, buruh, dan lainnya yang tertindas. Bersama-sama mereka memperjuangkan keadilan.
Kedua, kehidupan kampus memang sudah selayaknya dinamis. Saat-saat seseorang menjadi mahasiswa adalah saat-saat orang tersebut membentuk diri. Agak sulit rasanya jika yang terjadi ternyata hanyalah pergi ke kampus, kembali ke kost/rumah untuk keesokan harinya kembali lagi ke kampus. Begitu berulang-ulang dengan tidak dinamisnya. Mahasiswa, dan dunianya saya kira, adalah pihak yang begitu banyak orang menaruh harapan-harapan kepadanya. Dengan semangat muda dan ilmu yang terus diasah, seperti kata Soekarno, mereka mampu “mengguncangkan dunia”.
Begitu alamiah, dan begitu seperti dongeng, bukan? Tidak seperti kehidupan kampus yang saya temui saat ini, di mana begitu banyak politkus-politikus masuk ke kelas-kelas kampus, mencari-cari massa mahasiswa untuk mendukungnya bermain-main politik. Di mana begitu banyaknya agenda-agenda aksi di jalan-jalan dengan isue-isue sembarangan yang justru terkesan jauh dari kejujuran membela kebenaran, menaikkan si itu dan kemudian menaikkan si ini, mencela hal itu dan mengagung-agungkan hal ini. Di mana itu?
Si Parasit Mashokis
“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”
(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)
Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. Begitu saya memasuki kamar seorang kakak, saya mendapati buku itu tergeletak di atas meja, beberapa senti saja dari tape, berhimpitan dengan album kaset penyanyi wanita. Buku itu berwarna biru terang, dengan cover yang bagi saya agak terasa tak biasa. Judul buku itu Si Parasit Lajang – Seks, Sketsa, dan Cerita, penulisnya Ayu Utami, penulis yang telah mengeluarkan dua buah novel yang saya kagumi. Sambul buku itu bukan bergambar hasil rekayasa komputer saya kira, dan benar saja, itu gambar tangan Ayu Utami sendiri, si penulis buku. Ternyata selain pandai menulis, ia juga pandai membuat gambar, ia tidak hanya membuat gambar untuk sampul buku itu, tapi juga untuk isi dalam buku. Saya hitung ada sekira lima puluh delapan gambar di buku itu, termasuk gambar sampul.
Sementara itu, ramadhan tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya agak lupa) adalah saat pertama kali saya bertatap muka dengan Ayu Utami. (Ia begitu pandai menggambar dirinya sendiri, begitu mirip, padahal setengah mati saya pernah mencoba untuk menggambar diri saya sendiri. Dan selalu gagal). Waktu itu digelar acara Ngabuburit Bareng Ayu Utami di aula Pusat Studi Bahasa Jepang di fakultas saya, Sastra, mendiskusikan novel fragmen akhirnya yang baru terbit, Larung. Yang menarik saya untuk mengikuti diskusi itu sebenarnya adalah pertama, Ayu Utami akan datang ke fakultas saya (dan saya ingin benar melihat wajahnya secara langsung - kegenitan seorang pembaca saya pikir). Dan kedua, publikasi yang lumayan membuat saya terhenyak. Di baligho tertulis: “90% wanita mashokis”. Belakangan saya tahu, itu adalah kalimat kutipan dari novel Larung.
Mashokis sendiri sebenarnya adalah istilah penyimpangan seksual dalam ranah psikologi. Kira-kira artinya begini: orang yang menemukan kenikmatan lewat penyiksaan=penyiksaan yang didapatkannya. Berkebalikan dengan sadistis, yaitu orang yang menemukan kenikmatan dengan menyiksa. Ayu Utami waktu itu menjelaskan kira-kira seperti ini: hal itu (mashokis maksudnya) terjadi lewat sekian panjang proses internalisasi yang menerus terhadap siksaan hingga siksaan-siksaan itu perlahan menjadi bagian dari diri, maka diri tanpa siksaan, akan menjadi tidak lengkap (tidak terpuaskan). Di alam yang sangat tidak menguntungkan wanita seperti saat ini, “90% wanita adalah mashokis”. Apa benar? Lalu masuk jenis apakah yang sepuluh persen sisanya?, tanya seorang peserta diskusi. “Yang sepuluh persennya… frigid!” kata Ayu Utami seraya tertawa.
Saya juga tertawa waktu itu. Di dalam benak, saya sedikit membenarkan apa kata Ayu.
Tapi, masuk golongan manakah seorang Ayu Utami? Seorang mashok atau seorang frigid? Jawaban itu, secara serampangan, saya temui di buku yang saya temui di kamar kakak saya barusan. Membaca beberapa essainya (itu buku kumpulan essai pertamanya, sebenarnya dikumpulkan dari tulisan-tulisannya di Majalah djakarta! dan JAKARTA-JAKARTA).
Ada tiga puluh tiga essai di buku itu plus satu epilog tentang alasannya tidak menikah. Dipecah menjadi tiga bagian besar: bagian pertama Kehidupan, bagian kedua Seks, Jender dan Kapitalisme, bagian ketiga Politik dan Negara. Aroma kekalahan dari seorang wanita yang merasa capek terus-menerus bicara patriarkhi dan menjadi korban dari sistem yang kapitalistik segera tercium oleh saya. Barangkali ada juga beberapa upaya perlawanan (tak berarti) yang coba digulirkan, seperti kehendak untuk menjadikan laki-laki sebagai obyek seksual untuk memutar apa yang selama ini terjadi di mana wanita selalu menjadi obyek seksual. Maka, ditulislah komentar-komentar soal film-film porno, termasuk bintang-bintangnya. Ditulis dengan gaya yang lugas – untuk tidak menyebutnya vulgar. “Pahlawan saya dalam hal ini adalah Rocco Siffredi. Dia adalah bintang porno yang paling tenar belakangan ini. pernah jadi model di Inggris, tinggi 185 cm, kulit matang kena matahari, otot-ototnya mengkal. Tentu, yang membuat pria Italia kelahiran 1964 ini melejit adalah ukuran penisnya, 23 cm, dan kesegaran ereksinya…” (“Rocco Sriffedi”, hal.54). Ayu Utami, dalam hal ini, terlihat benar sebagai seorang konsumen film-film biru.
Ayu Utami rasanya tak terlihat risih dengan sistem kapitalisme. Barangkali ini karena ia berasal dari keluarga menengah dan bersekolah sejak SD di sekolah mahal (tapi, apakah ada hubungannya?). Beberapa kali ia saya tangkap begitu gigih membela kapitalisme. Siapa yang ingat percakapan antara Larung dan salah seorang aktivis yang dilarikannya di atas geladak sebuah kapal? Itu perdebatan antara orang yang sama sekali tak kagum dengan ide-ide sosialistis dan aktivis yang sampai ubun-ubun membenci kapitalisme dan melawannya. “Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi” Itu juga yang ia tulis di novel Larung. Ada pertanyaan yang sempat membuat saya sendiri berpikir lama: jika kita mau memaafkan ide-ide berbau marx dengan beberapa kekurangan-kekurangannya, mengapa kita tak mencoba memaafkan kapitalisme karena kekurangan-kekurangannya?
Tapi, saya tak mau berlarut-larut dalam soal itu. Karena sudah jelas bagi saya, keyakinan, ide-ide, atau apapun yang telah kita coba imani sudah semestinya kita berteguh dengannya, tentunya tidak dengan cara-cara yang selama ini diperlihatkan kaum fundamentalis, frigid-kaku-dan pada akhirnya tidak taktis-strategis – sekaligus dialektis. Karena partai komunis sekalipun, yang sesungguhnya sangat benci dengan demokrasi, tidak menutup kemungkinan untuk beraliansi dengan partai demokrat, bukan?
Personal is a political. Saya pernah membaca rangkaian kata itu di buku yang ditulis Mansour Faqih tentang gender. Ia mencoba memaparkan beberapa ragam feminisme. Rangkaian kata itu muncul saat ia menguraikan tentang feminisme radikal. Seperti itulah feminisme radikal, ia akan mencoba melakukan perlawanan dari diri sendiri. Apa-apa yang ideologis menjadi sangat pribadi. Perlawanan sistem adalah perlawanan lewat diri sendiri. Apakah ayu Utami seseorang feminis radikal (sementara saya pernah mendengar, konon, Ayu Utami satu-satunya orang di sini yang pernah mengaplikasikan feminisme postkolonial di novel-novelnya). Karena ia mencoba melawan struktur patriarkhi yang didukung kapitalisme seperti ini lewat gerakan-gerakan pribadinya, seperti untuk tidak menikah. Tapi, di sisi lain, saya justru melihat Ayu seperti sedang menikmati benar kekalahan yang dideritanya. Ia menjadi begitu malas ngomel-ngomel tentang patriarkhi (yang saya sendiri tak tahu adakah gunanya). Ia juga tak mau mengampanyekan kesetaraan di segala hal, termasuk soal seksual. Yang ia inginkan malah menjadikan laki-laki sebagai obyek seksual. Ia juga, sekali lagi, tak ribut-ribut soal peradaban kapitalistik yang jahat ini, ia merasa nyaman sekali dengannya, asal “minus monopoli”. Tapi apakah hanya itu dosa satu-satunya kapitalisme? Tak tahu juga saya, yang saya tahu ia mempercayai apa-apa kata Darwin, tanpa mengimaninya.
Apapun, saya kira Ayu Utami telah bersikap lewat tulisan-tulisannya. Karena bukankah itu yang terpenting, sebuah sikap yang jelas dari rangkaian sistem yang tidak memuaskan ini?
Apakah Ayu seorang mashokis?
Apakah saya, dan juga barangkali kita semua, adalah seorang mashokis? Karena saya sangat suka dengan kaos bermerk Nike punya saya, dan saya sangat suka Coca Cola dingin saat saya menghabiskan jam-jam libur saya bersama teman-teman saya di rumah.
Entahlah.
“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”
(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)
Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. Begitu saya memasuki kamar seorang kakak, saya mendapati buku itu tergeletak di atas meja, beberapa senti saja dari tape, berhimpitan dengan album kaset penyanyi wanita. Buku itu berwarna biru terang, dengan cover yang bagi saya agak terasa tak biasa. Judul buku itu Si Parasit Lajang – Seks, Sketsa, dan Cerita, penulisnya Ayu Utami, penulis yang telah mengeluarkan dua buah novel yang saya kagumi. Sambul buku itu bukan bergambar hasil rekayasa komputer saya kira, dan benar saja, itu gambar tangan Ayu Utami sendiri, si penulis buku. Ternyata selain pandai menulis, ia juga pandai membuat gambar, ia tidak hanya membuat gambar untuk sampul buku itu, tapi juga untuk isi dalam buku. Saya hitung ada sekira lima puluh delapan gambar di buku itu, termasuk gambar sampul.
Sementara itu, ramadhan tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya agak lupa) adalah saat pertama kali saya bertatap muka dengan Ayu Utami. (Ia begitu pandai menggambar dirinya sendiri, begitu mirip, padahal setengah mati saya pernah mencoba untuk menggambar diri saya sendiri. Dan selalu gagal). Waktu itu digelar acara Ngabuburit Bareng Ayu Utami di aula Pusat Studi Bahasa Jepang di fakultas saya, Sastra, mendiskusikan novel fragmen akhirnya yang baru terbit, Larung. Yang menarik saya untuk mengikuti diskusi itu sebenarnya adalah pertama, Ayu Utami akan datang ke fakultas saya (dan saya ingin benar melihat wajahnya secara langsung - kegenitan seorang pembaca saya pikir). Dan kedua, publikasi yang lumayan membuat saya terhenyak. Di baligho tertulis: “90% wanita mashokis”. Belakangan saya tahu, itu adalah kalimat kutipan dari novel Larung.
Mashokis sendiri sebenarnya adalah istilah penyimpangan seksual dalam ranah psikologi. Kira-kira artinya begini: orang yang menemukan kenikmatan lewat penyiksaan=penyiksaan yang didapatkannya. Berkebalikan dengan sadistis, yaitu orang yang menemukan kenikmatan dengan menyiksa. Ayu Utami waktu itu menjelaskan kira-kira seperti ini: hal itu (mashokis maksudnya) terjadi lewat sekian panjang proses internalisasi yang menerus terhadap siksaan hingga siksaan-siksaan itu perlahan menjadi bagian dari diri, maka diri tanpa siksaan, akan menjadi tidak lengkap (tidak terpuaskan). Di alam yang sangat tidak menguntungkan wanita seperti saat ini, “90% wanita adalah mashokis”. Apa benar? Lalu masuk jenis apakah yang sepuluh persen sisanya?, tanya seorang peserta diskusi. “Yang sepuluh persennya… frigid!” kata Ayu Utami seraya tertawa.
Saya juga tertawa waktu itu. Di dalam benak, saya sedikit membenarkan apa kata Ayu.
Tapi, masuk golongan manakah seorang Ayu Utami? Seorang mashok atau seorang frigid? Jawaban itu, secara serampangan, saya temui di buku yang saya temui di kamar kakak saya barusan. Membaca beberapa essainya (itu buku kumpulan essai pertamanya, sebenarnya dikumpulkan dari tulisan-tulisannya di Majalah djakarta! dan JAKARTA-JAKARTA).
Ada tiga puluh tiga essai di buku itu plus satu epilog tentang alasannya tidak menikah. Dipecah menjadi tiga bagian besar: bagian pertama Kehidupan, bagian kedua Seks, Jender dan Kapitalisme, bagian ketiga Politik dan Negara. Aroma kekalahan dari seorang wanita yang merasa capek terus-menerus bicara patriarkhi dan menjadi korban dari sistem yang kapitalistik segera tercium oleh saya. Barangkali ada juga beberapa upaya perlawanan (tak berarti) yang coba digulirkan, seperti kehendak untuk menjadikan laki-laki sebagai obyek seksual untuk memutar apa yang selama ini terjadi di mana wanita selalu menjadi obyek seksual. Maka, ditulislah komentar-komentar soal film-film porno, termasuk bintang-bintangnya. Ditulis dengan gaya yang lugas – untuk tidak menyebutnya vulgar. “Pahlawan saya dalam hal ini adalah Rocco Siffredi. Dia adalah bintang porno yang paling tenar belakangan ini. pernah jadi model di Inggris, tinggi 185 cm, kulit matang kena matahari, otot-ototnya mengkal. Tentu, yang membuat pria Italia kelahiran 1964 ini melejit adalah ukuran penisnya, 23 cm, dan kesegaran ereksinya…” (“Rocco Sriffedi”, hal.54). Ayu Utami, dalam hal ini, terlihat benar sebagai seorang konsumen film-film biru.
Ayu Utami rasanya tak terlihat risih dengan sistem kapitalisme. Barangkali ini karena ia berasal dari keluarga menengah dan bersekolah sejak SD di sekolah mahal (tapi, apakah ada hubungannya?). Beberapa kali ia saya tangkap begitu gigih membela kapitalisme. Siapa yang ingat percakapan antara Larung dan salah seorang aktivis yang dilarikannya di atas geladak sebuah kapal? Itu perdebatan antara orang yang sama sekali tak kagum dengan ide-ide sosialistis dan aktivis yang sampai ubun-ubun membenci kapitalisme dan melawannya. “Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi” Itu juga yang ia tulis di novel Larung. Ada pertanyaan yang sempat membuat saya sendiri berpikir lama: jika kita mau memaafkan ide-ide berbau marx dengan beberapa kekurangan-kekurangannya, mengapa kita tak mencoba memaafkan kapitalisme karena kekurangan-kekurangannya?
Tapi, saya tak mau berlarut-larut dalam soal itu. Karena sudah jelas bagi saya, keyakinan, ide-ide, atau apapun yang telah kita coba imani sudah semestinya kita berteguh dengannya, tentunya tidak dengan cara-cara yang selama ini diperlihatkan kaum fundamentalis, frigid-kaku-dan pada akhirnya tidak taktis-strategis – sekaligus dialektis. Karena partai komunis sekalipun, yang sesungguhnya sangat benci dengan demokrasi, tidak menutup kemungkinan untuk beraliansi dengan partai demokrat, bukan?
Personal is a political. Saya pernah membaca rangkaian kata itu di buku yang ditulis Mansour Faqih tentang gender. Ia mencoba memaparkan beberapa ragam feminisme. Rangkaian kata itu muncul saat ia menguraikan tentang feminisme radikal. Seperti itulah feminisme radikal, ia akan mencoba melakukan perlawanan dari diri sendiri. Apa-apa yang ideologis menjadi sangat pribadi. Perlawanan sistem adalah perlawanan lewat diri sendiri. Apakah ayu Utami seseorang feminis radikal (sementara saya pernah mendengar, konon, Ayu Utami satu-satunya orang di sini yang pernah mengaplikasikan feminisme postkolonial di novel-novelnya). Karena ia mencoba melawan struktur patriarkhi yang didukung kapitalisme seperti ini lewat gerakan-gerakan pribadinya, seperti untuk tidak menikah. Tapi, di sisi lain, saya justru melihat Ayu seperti sedang menikmati benar kekalahan yang dideritanya. Ia menjadi begitu malas ngomel-ngomel tentang patriarkhi (yang saya sendiri tak tahu adakah gunanya). Ia juga tak mau mengampanyekan kesetaraan di segala hal, termasuk soal seksual. Yang ia inginkan malah menjadikan laki-laki sebagai obyek seksual. Ia juga, sekali lagi, tak ribut-ribut soal peradaban kapitalistik yang jahat ini, ia merasa nyaman sekali dengannya, asal “minus monopoli”. Tapi apakah hanya itu dosa satu-satunya kapitalisme? Tak tahu juga saya, yang saya tahu ia mempercayai apa-apa kata Darwin, tanpa mengimaninya.
Apapun, saya kira Ayu Utami telah bersikap lewat tulisan-tulisannya. Karena bukankah itu yang terpenting, sebuah sikap yang jelas dari rangkaian sistem yang tidak memuaskan ini?
Apakah Ayu seorang mashokis?
Apakah saya, dan juga barangkali kita semua, adalah seorang mashokis? Karena saya sangat suka dengan kaos bermerk Nike punya saya, dan saya sangat suka Coca Cola dingin saat saya menghabiskan jam-jam libur saya bersama teman-teman saya di rumah.
Entahlah.
Peluru Itu Candu
Kami hanya berdua malam itu. Sebuah malam dengan bulan yang tampak setengah. Dia masih mengenakan sarung kesayangannya. Di luar, suara jangkrik terasa seperti tak biasa. Seperti sedang menyenandungkan puja-puji dengan bahasa yang rasanya pernah kumengerti. Belum lewat tengah malam. Sesekali ada terdengar suara burung hantu. Semacam isyarat entah untuk siapa. Ini malam kedua aku di kotanya. Malam pertama tak ada dia. Hanya setengah bungkus rokok dan secangkir kopi yang kutemukan di dapur. Rumah ini semakin asing bagiku. Dapur dengan sudut-sudut yang tak lagi kupahami. Dulu kopi bukan di laci dan gula selalu di atas meja, di samping termos air panas. Jam berdetak. Perkawinan cicak.
Beberapa tahun lalu aku hapal betul apa isi puja-puji jangkrik itu, rasanya. Dan bila tengah malam telah datang, mereka akan diam sejenak. Barangkali menyambut pagi. Barangkali semacam kesedihan: hari baru datang lagi, sementara nasib musykil untuk berubah. Entah di mana jangkrik-jangkrik itu berdiam. Pernah kusangka mereka menguasai kebun di belakang rumah. Tapi ternyata tidak. Hanya ada sunyi di sana. Begitulah seterusnya, tidak juga di samping rumah atau di depan rumah. Hanya kutahu di mana burung hantu itu akan mulai bersuara, di pohon nangka milik tetangga. Dia akan datang ketika para jangkrik memulai kidungnya. Lalu beberapa saat mendengarkan. Hening tanpa suara. Hingga tiga perempat sebelum tengah malam, saat para jangkrik akan jeda, dia akan mulai bersuara. Panjang, kadang parau, dan terasa menusuk. Lalu dari ruang tengah akan datang dentang dari jam yang tergantung. Dua belas kali. Sebuah jam tua impor hadiah perkawinan.
Jumlah jangkrik-jangkrik itu masih merupakan misteri bagiku. Dan biarlah itu lestari sebagai misteri. Populasi yang tak ingin kucoba persepsi. Satu atau seribu tak akan mengubah ketidaktahuanku atas tempat tinggal mereka. Pernah suatu senja kurayapi setiap meter pekarangan, mencari di manakah mereka akan mempersiapkan pesta mereka, atau altar mereka untuk melantunkan kidung yang tanpa sengaja kumengerti itu. Nihil. Dan sejak itu, kubiarkan mereka dan kunikmati kidung-kidungnya. Kidung jangkrik di bukan malam natal. Kidung sunyi dengan jeda suara merdu burung hantu. Beberapa tahun lalu, aku masih bersamanya. Membicarakan mengapa pilihannya hanya siang dan malam, atau pagi dan sore, dan mengapa matahari begitu teratur berputar, mengapa harus ada pilihan, mengapa tidak enam, tidak dua belas, sesuka hati, dan bukan cuma dua?
Sarungnya masih yang dulu. Rokoknya masih yang dulu, masih sama kuatnya. Hanya mampu berhenti paling lama lima belas menit. Dan suara jangkrik tak lagi kumengerti. Dari ruang tengah datang dentang sebelas kali. Sudah tiga jam. Tiga gelas kopi dan dua setengah bungkus rokok. Dan aku hanya mendengar. Hanya bisa mendengar.
Kali ini ceritanya tentang perang. Dia memulainya dengan kalimat tanya retorik lugas kau mau tahu rasanya kehabisan peluru dan kehilangan seorang teman. Lalu dia memulainya dari kisah bagaimana dia menjadi prajurit rendahan angkatan perang. Sebuah kisah yang menyedihkan menurutku: Menjadi prajurit adalah pilihanku. Hah, tidakkah terlihat gagah, menyandang senjata di bahu kanan, dan memperlihatkan pangkat yang terpampang di bahu kiri. Tak ada orang tua yang menolak gadisnya dipinang tentara. Memenuhi tugas panggilan negara dan dimakamkan di taman makam pahlawan. Apalagi perekonomian telah terporosok ke dalam jurang kepayahan. Kau bertani, maka kau akan kecap kerugian akibat mahalnya ongkos produksi. Kau melaut, maka kau akan berhadapan dengan kapal-kapal besar bermodal besar. Maka aku mendaftar di sebuah sekolah calon prajurit rendahan, suap sana-sini, dan lulus.
Kemudian dia bercerita tentang sebuah negeri warisan kolonial yang kerap berontak. Negeri dengan orang-orangnya yang tak mirip denganku, berbahasa beda denganku, dan beragama beda denganku. Dia telah menjadi prajurit waktu datang penugasan ke negeri tersebut. Satu pengalaman pertama. Setelah bertahun-tahun berlatih menggunakan senjata, akhirnya tiba saatnya dia akan menggunakan senjata itu sebagaimana mestinya: menghancurkan mereka yang memusuhi negara.
Kau tak akan tahu bagaimana rasanya meninggalkan rumah, menciumi pipi istrimu dan menghapus air matanya dengan jemarimu. Mengucapkan janji kau akan pulang dengan selamat, lalu membesarkan anak bersama, dan berkata, Ini tugas negara. Tenanglah. Tapi kau tak akan menangis. Tidak, tidak, itu tidak boleh. Yang kau lakukan adalah tetap memanggul senjata di bahu kananmu. Dan kau akan melambaikan tanganmu dari atas geladak, melihat istrimu memeluk anakmu. Dan juga akan segera kau rasakan ketegangan area medan tempur beberapa menit sesudahnya. Serangkaian upacara, komando-komando.
Burung hantu mulai bersuara. Jangkrik terdiam. Hampir tengah malam. Hening.
Oh, bagaimanakah aku harus menjelaskan ini kepadamu. Ngeri yang tak pernah datang sebelumnya kepadaku. Kau tahu, malam itu aku dengan lima orang rekanku, tentu saja, mendapat tugas patroli keliling. Sebuah desa yang baru saja beberapa hari kukenal dengan penduduk yang tak satu pun kukenal. Entah apa, mata mereka cukup untuk membuktikan bahwa mereka sangat takut kepada kami. Atau benci. Yah, ketakutan dan kebencian akan sangat serupa jika dipancarkan lewat tatapan mata. Hingga datang rentetan tembakan itu. Dan kami tak sempat sembunyi, kecuali berlindung di balik tiga buah pohon besar. Baru kali itu aku benar-benar mengutuki kegelapan. Kami baku tembak. Seorang rekan berusaha menghubungi markas. Kami terus baku tembak, saling memuntahkan peluru. Dan rekan di sebelahku, seseorang yang kepadanya baru saja kuperlihatkan gambar istriku dan anakku, tertembak. Di dadanya, ehm, tidak, di perutnya, hampir di dadanya. Darah mengalir. Dan dia mati. Begitu saja. Tapi aku tidak menangis melainkan mengeluarkan badan menghadapi mereka yang menembaki kami, dan, sial, peluruku habis. Tak ada amunisi cadangan karena kami hanya patroli. Hingga kemudian datang pasukan dari markas.
Dia menghirup kopinya. Gelas ketiga sisa setengah. Dari ruang tengah datang dentang dua belas kali. Dia menyalakan rokoknya dan tidak melanjutkan ceritanya.
Aku pernah kenal suara jangkrik-jangkrik itu. Juga suara burung hantu di atas pohon nangka milik tetanggaku itu. Malam akan semakin terasa larut jika mereka mulai tersendat-sendat bernyanyi. Aku tidak merokok di hadapannya. Dan aku meminta diri sebentar untuk pergi ke dapur membuat kopi lagi. Dapur ini semakin tertata dengan tata yang tak kumengerti lagi. Tempat gelas menjadi sangat jauh dari termos air panas. Meja makan menjadi lebih ke depan dan akan lekas kosong. Setelah makan malam, makanan akan dengan segera masuk kembali ke lemari yang letaknya tak lagi berjauhan dari meja makan. Tak akan ada lagi yang pulang telat dan makan. Di dapur kucoba mengerti kembali suara-suara itu. Suara malam jika mulai larut. Dulu ada salah satu kidung mereka yang kumengerti, kidung tentang kematian dari pembunuhan-pembunuhan tanpa arti. Berdurasi panjang dan sama sekali tidak berisi hal-hal remeh-temeh. Semacam kebijakan dari makhluk-makhluk malam. Terdengar dia batuk. Semakin hari, sepertiku, dia semakin tua. Hanya terlihat sekali tubuhnya mulai peka terhadap sakit-sakit kecil yang dulu seperti tak pernah hinggap di tubuhnya. Aku keluar dengan secangkir kopi panas.
Ini kepulanganku setelah beberapa tahun tak pulang. Sebuah kota yang tak lagi kumiliki dengan rumah yang semakin tak kupahami.
Dia lalu kembali bercerita dengan rupa gumaman panjang. Tentang perang yang masih saja terjadi di mana-mana. Tentang keserakahan. Tentang bagaimana membawa kepala teman sendiri di dalam sebuah kaleng bekas.
Malam itu aku kehabisan peluru hingga tak sempat membalaskan tembakan itu. Dia tertembak tepat di sampingku. Aku melihat bagaimana bajunya mulai merah perlahan. Aku melihat bagaimana keringat dingin membasahi wajahnya, melewati matanya yang menjadi tajam. Tangannya masih menggenggam senjatanya. Peluruku habis, tak satu pun tersisa. Beruntung pasukan dari markas segera tiba, jika tidak maka akulah korban selanjutnya. Kau tahu, dua tahun! Dua tahun setelah itu aku masih harus bergelut dengan kengerian-kengerian seperti itu. Patroli-patroli rutin, pertempuran-pertempuran, razia-razia, menatap mata-mata yang ketakutan, yang penuh kebencian. Apa yang tersisa? Tak ada. Kosong. Kosong. Kecuali serangkaian kengerian yang niscaya tak akan bisa kau lupakan.
Dia bercerita kembali. Ini kali tentang orang-orang yang pernah dia bunuh. Beberapa hanya dengan tangan kosong, tentu saja setelah si musuh tak berdaya. Mereka, pasukan-pasukan itu, akan bergilir memukuli si musuh dengan senang hati. Dan dia mengatakan kalau cara-cara semacam itu menjadi arena baginya melampiaskan segenap kesumatnya, juga barangkali rindunya kepada rumahnya. Dia akan semakin menikmati ketika si musuh benar-benar tak berdaya. Dan beberapa kali dia beruntung, di tepat gilirannya adalah nafas-nafas terakhir si musuh. Sekali pukulan dan beberapa kali tendangan, si musuh tewas seketika. Malam-malamnya menjadi akan terasa lebih seru ketika dia harus berpatroli, karena dia akan selalu melebihkan bekal amunisinya. Dia akan berangkat dengan segumpal dendam di hatinya. Matanya menjadi lebih awas dan peka lagi terhadap kegelapan. Dia mulai mengangkrabkan diri kepada gelap, sesuatu yang aku lakukan sejak usiaku menginjak belasan hingga kumengerti suara-suara jangkrik.
Dan kosong. Kau tak akan pernah merasa dendammu terlampiaskan. Juga rindumu terpecahkan. Melainkan penyesalan atas kesia-siaan waktu.
Aku tak pernah tahu, dia selalu saja seperti ini, berdiri dengan kaki yang satu berjauhan dengan kaki yang lain. Kadang kusangka dia amat menyesali jalan hidupnya menjadi tentara, tapi bahkan hingga kini dia masih membiarkan photo-photo yang menunjukkan ketentaraannya di ruang tamu. Di pintu depan rumah juga masih tertera stiker ketentaraan. Aku tak pernah tahu, sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu, bagaimanakah dia mengisi hari-harinya. Di ruang tengah koran memang banyak bertumpuk. Dan setiap hari selalu saja ada berita tentang perang. Adakah dia membacanya dan lalu barangkali menangis, menyadari kalau dulu dia pernah melakukan hal serupa, dan lalu menyesalinya?
Aku hanya terdiam mendengarnya. Seperti semula hanya bisa mendengarnya.
Kau tahu, ada kesenangan tersendiri ketika kau pergi dari rumah ini. Paling tidak dalam benakku, aku yakin kau tidak akan menempuh jalan yang telah kutempuh. Tidak, anakku, tidak. Kau tidak akan menjadi tentara, menjadi prajurit maupun perwira. Peluru itu candu. Kau tidak boleh! Cukup aku yang tahu apa rasanya membaca berita-berita tentang perang di koran-koran di satu hari tuamu. Kau harus tetap kuliah. Kalau kau mau, kau bisa sambil bekerja. Tidak menjadi tentara!
Aku masih hanya bisa mendengarnya. Kuhirup kopiku. Dan kudengar jangkrik bernyanyi kembali, sebuah lagu yang akhirnya kumengerti, lagu cinta termanis seorang ayah kepada anaknya.
Jatinangor, 18 Juni 2003
Kami hanya berdua malam itu. Sebuah malam dengan bulan yang tampak setengah. Dia masih mengenakan sarung kesayangannya. Di luar, suara jangkrik terasa seperti tak biasa. Seperti sedang menyenandungkan puja-puji dengan bahasa yang rasanya pernah kumengerti. Belum lewat tengah malam. Sesekali ada terdengar suara burung hantu. Semacam isyarat entah untuk siapa. Ini malam kedua aku di kotanya. Malam pertama tak ada dia. Hanya setengah bungkus rokok dan secangkir kopi yang kutemukan di dapur. Rumah ini semakin asing bagiku. Dapur dengan sudut-sudut yang tak lagi kupahami. Dulu kopi bukan di laci dan gula selalu di atas meja, di samping termos air panas. Jam berdetak. Perkawinan cicak.
Beberapa tahun lalu aku hapal betul apa isi puja-puji jangkrik itu, rasanya. Dan bila tengah malam telah datang, mereka akan diam sejenak. Barangkali menyambut pagi. Barangkali semacam kesedihan: hari baru datang lagi, sementara nasib musykil untuk berubah. Entah di mana jangkrik-jangkrik itu berdiam. Pernah kusangka mereka menguasai kebun di belakang rumah. Tapi ternyata tidak. Hanya ada sunyi di sana. Begitulah seterusnya, tidak juga di samping rumah atau di depan rumah. Hanya kutahu di mana burung hantu itu akan mulai bersuara, di pohon nangka milik tetangga. Dia akan datang ketika para jangkrik memulai kidungnya. Lalu beberapa saat mendengarkan. Hening tanpa suara. Hingga tiga perempat sebelum tengah malam, saat para jangkrik akan jeda, dia akan mulai bersuara. Panjang, kadang parau, dan terasa menusuk. Lalu dari ruang tengah akan datang dentang dari jam yang tergantung. Dua belas kali. Sebuah jam tua impor hadiah perkawinan.
Jumlah jangkrik-jangkrik itu masih merupakan misteri bagiku. Dan biarlah itu lestari sebagai misteri. Populasi yang tak ingin kucoba persepsi. Satu atau seribu tak akan mengubah ketidaktahuanku atas tempat tinggal mereka. Pernah suatu senja kurayapi setiap meter pekarangan, mencari di manakah mereka akan mempersiapkan pesta mereka, atau altar mereka untuk melantunkan kidung yang tanpa sengaja kumengerti itu. Nihil. Dan sejak itu, kubiarkan mereka dan kunikmati kidung-kidungnya. Kidung jangkrik di bukan malam natal. Kidung sunyi dengan jeda suara merdu burung hantu. Beberapa tahun lalu, aku masih bersamanya. Membicarakan mengapa pilihannya hanya siang dan malam, atau pagi dan sore, dan mengapa matahari begitu teratur berputar, mengapa harus ada pilihan, mengapa tidak enam, tidak dua belas, sesuka hati, dan bukan cuma dua?
Sarungnya masih yang dulu. Rokoknya masih yang dulu, masih sama kuatnya. Hanya mampu berhenti paling lama lima belas menit. Dan suara jangkrik tak lagi kumengerti. Dari ruang tengah datang dentang sebelas kali. Sudah tiga jam. Tiga gelas kopi dan dua setengah bungkus rokok. Dan aku hanya mendengar. Hanya bisa mendengar.
Kali ini ceritanya tentang perang. Dia memulainya dengan kalimat tanya retorik lugas kau mau tahu rasanya kehabisan peluru dan kehilangan seorang teman. Lalu dia memulainya dari kisah bagaimana dia menjadi prajurit rendahan angkatan perang. Sebuah kisah yang menyedihkan menurutku: Menjadi prajurit adalah pilihanku. Hah, tidakkah terlihat gagah, menyandang senjata di bahu kanan, dan memperlihatkan pangkat yang terpampang di bahu kiri. Tak ada orang tua yang menolak gadisnya dipinang tentara. Memenuhi tugas panggilan negara dan dimakamkan di taman makam pahlawan. Apalagi perekonomian telah terporosok ke dalam jurang kepayahan. Kau bertani, maka kau akan kecap kerugian akibat mahalnya ongkos produksi. Kau melaut, maka kau akan berhadapan dengan kapal-kapal besar bermodal besar. Maka aku mendaftar di sebuah sekolah calon prajurit rendahan, suap sana-sini, dan lulus.
Kemudian dia bercerita tentang sebuah negeri warisan kolonial yang kerap berontak. Negeri dengan orang-orangnya yang tak mirip denganku, berbahasa beda denganku, dan beragama beda denganku. Dia telah menjadi prajurit waktu datang penugasan ke negeri tersebut. Satu pengalaman pertama. Setelah bertahun-tahun berlatih menggunakan senjata, akhirnya tiba saatnya dia akan menggunakan senjata itu sebagaimana mestinya: menghancurkan mereka yang memusuhi negara.
Kau tak akan tahu bagaimana rasanya meninggalkan rumah, menciumi pipi istrimu dan menghapus air matanya dengan jemarimu. Mengucapkan janji kau akan pulang dengan selamat, lalu membesarkan anak bersama, dan berkata, Ini tugas negara. Tenanglah. Tapi kau tak akan menangis. Tidak, tidak, itu tidak boleh. Yang kau lakukan adalah tetap memanggul senjata di bahu kananmu. Dan kau akan melambaikan tanganmu dari atas geladak, melihat istrimu memeluk anakmu. Dan juga akan segera kau rasakan ketegangan area medan tempur beberapa menit sesudahnya. Serangkaian upacara, komando-komando.
Burung hantu mulai bersuara. Jangkrik terdiam. Hampir tengah malam. Hening.
Oh, bagaimanakah aku harus menjelaskan ini kepadamu. Ngeri yang tak pernah datang sebelumnya kepadaku. Kau tahu, malam itu aku dengan lima orang rekanku, tentu saja, mendapat tugas patroli keliling. Sebuah desa yang baru saja beberapa hari kukenal dengan penduduk yang tak satu pun kukenal. Entah apa, mata mereka cukup untuk membuktikan bahwa mereka sangat takut kepada kami. Atau benci. Yah, ketakutan dan kebencian akan sangat serupa jika dipancarkan lewat tatapan mata. Hingga datang rentetan tembakan itu. Dan kami tak sempat sembunyi, kecuali berlindung di balik tiga buah pohon besar. Baru kali itu aku benar-benar mengutuki kegelapan. Kami baku tembak. Seorang rekan berusaha menghubungi markas. Kami terus baku tembak, saling memuntahkan peluru. Dan rekan di sebelahku, seseorang yang kepadanya baru saja kuperlihatkan gambar istriku dan anakku, tertembak. Di dadanya, ehm, tidak, di perutnya, hampir di dadanya. Darah mengalir. Dan dia mati. Begitu saja. Tapi aku tidak menangis melainkan mengeluarkan badan menghadapi mereka yang menembaki kami, dan, sial, peluruku habis. Tak ada amunisi cadangan karena kami hanya patroli. Hingga kemudian datang pasukan dari markas.
Dia menghirup kopinya. Gelas ketiga sisa setengah. Dari ruang tengah datang dentang dua belas kali. Dia menyalakan rokoknya dan tidak melanjutkan ceritanya.
Aku pernah kenal suara jangkrik-jangkrik itu. Juga suara burung hantu di atas pohon nangka milik tetanggaku itu. Malam akan semakin terasa larut jika mereka mulai tersendat-sendat bernyanyi. Aku tidak merokok di hadapannya. Dan aku meminta diri sebentar untuk pergi ke dapur membuat kopi lagi. Dapur ini semakin tertata dengan tata yang tak kumengerti lagi. Tempat gelas menjadi sangat jauh dari termos air panas. Meja makan menjadi lebih ke depan dan akan lekas kosong. Setelah makan malam, makanan akan dengan segera masuk kembali ke lemari yang letaknya tak lagi berjauhan dari meja makan. Tak akan ada lagi yang pulang telat dan makan. Di dapur kucoba mengerti kembali suara-suara itu. Suara malam jika mulai larut. Dulu ada salah satu kidung mereka yang kumengerti, kidung tentang kematian dari pembunuhan-pembunuhan tanpa arti. Berdurasi panjang dan sama sekali tidak berisi hal-hal remeh-temeh. Semacam kebijakan dari makhluk-makhluk malam. Terdengar dia batuk. Semakin hari, sepertiku, dia semakin tua. Hanya terlihat sekali tubuhnya mulai peka terhadap sakit-sakit kecil yang dulu seperti tak pernah hinggap di tubuhnya. Aku keluar dengan secangkir kopi panas.
Ini kepulanganku setelah beberapa tahun tak pulang. Sebuah kota yang tak lagi kumiliki dengan rumah yang semakin tak kupahami.
Dia lalu kembali bercerita dengan rupa gumaman panjang. Tentang perang yang masih saja terjadi di mana-mana. Tentang keserakahan. Tentang bagaimana membawa kepala teman sendiri di dalam sebuah kaleng bekas.
Malam itu aku kehabisan peluru hingga tak sempat membalaskan tembakan itu. Dia tertembak tepat di sampingku. Aku melihat bagaimana bajunya mulai merah perlahan. Aku melihat bagaimana keringat dingin membasahi wajahnya, melewati matanya yang menjadi tajam. Tangannya masih menggenggam senjatanya. Peluruku habis, tak satu pun tersisa. Beruntung pasukan dari markas segera tiba, jika tidak maka akulah korban selanjutnya. Kau tahu, dua tahun! Dua tahun setelah itu aku masih harus bergelut dengan kengerian-kengerian seperti itu. Patroli-patroli rutin, pertempuran-pertempuran, razia-razia, menatap mata-mata yang ketakutan, yang penuh kebencian. Apa yang tersisa? Tak ada. Kosong. Kosong. Kecuali serangkaian kengerian yang niscaya tak akan bisa kau lupakan.
Dia bercerita kembali. Ini kali tentang orang-orang yang pernah dia bunuh. Beberapa hanya dengan tangan kosong, tentu saja setelah si musuh tak berdaya. Mereka, pasukan-pasukan itu, akan bergilir memukuli si musuh dengan senang hati. Dan dia mengatakan kalau cara-cara semacam itu menjadi arena baginya melampiaskan segenap kesumatnya, juga barangkali rindunya kepada rumahnya. Dia akan semakin menikmati ketika si musuh benar-benar tak berdaya. Dan beberapa kali dia beruntung, di tepat gilirannya adalah nafas-nafas terakhir si musuh. Sekali pukulan dan beberapa kali tendangan, si musuh tewas seketika. Malam-malamnya menjadi akan terasa lebih seru ketika dia harus berpatroli, karena dia akan selalu melebihkan bekal amunisinya. Dia akan berangkat dengan segumpal dendam di hatinya. Matanya menjadi lebih awas dan peka lagi terhadap kegelapan. Dia mulai mengangkrabkan diri kepada gelap, sesuatu yang aku lakukan sejak usiaku menginjak belasan hingga kumengerti suara-suara jangkrik.
Dan kosong. Kau tak akan pernah merasa dendammu terlampiaskan. Juga rindumu terpecahkan. Melainkan penyesalan atas kesia-siaan waktu.
Aku tak pernah tahu, dia selalu saja seperti ini, berdiri dengan kaki yang satu berjauhan dengan kaki yang lain. Kadang kusangka dia amat menyesali jalan hidupnya menjadi tentara, tapi bahkan hingga kini dia masih membiarkan photo-photo yang menunjukkan ketentaraannya di ruang tamu. Di pintu depan rumah juga masih tertera stiker ketentaraan. Aku tak pernah tahu, sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu, bagaimanakah dia mengisi hari-harinya. Di ruang tengah koran memang banyak bertumpuk. Dan setiap hari selalu saja ada berita tentang perang. Adakah dia membacanya dan lalu barangkali menangis, menyadari kalau dulu dia pernah melakukan hal serupa, dan lalu menyesalinya?
Aku hanya terdiam mendengarnya. Seperti semula hanya bisa mendengarnya.
Kau tahu, ada kesenangan tersendiri ketika kau pergi dari rumah ini. Paling tidak dalam benakku, aku yakin kau tidak akan menempuh jalan yang telah kutempuh. Tidak, anakku, tidak. Kau tidak akan menjadi tentara, menjadi prajurit maupun perwira. Peluru itu candu. Kau tidak boleh! Cukup aku yang tahu apa rasanya membaca berita-berita tentang perang di koran-koran di satu hari tuamu. Kau harus tetap kuliah. Kalau kau mau, kau bisa sambil bekerja. Tidak menjadi tentara!
Aku masih hanya bisa mendengarnya. Kuhirup kopiku. Dan kudengar jangkrik bernyanyi kembali, sebuah lagu yang akhirnya kumengerti, lagu cinta termanis seorang ayah kepada anaknya.
Jatinangor, 18 Juni 2003
Subscribe to:
Posts (Atom)