28.8.07

Kesalahan

Semalam bertemu seseorang di simpang jalan. Tak nyaman juga akhirnya, membiarkan dia melihat saya sudah demikian tepuruk begini. Jatuh nyaris hingga ke dasar lubang. Orang kesekian yang kutemui yang memberikan tatapan iba untukku. Selalu saja bertanya kau baik-baik saja? Kau sehat-sehat saja? Kau harus baik-baik saja!

Malam tadi orang keberapa? Setelah beberapa siang sebelumnya seorang kawan lagi seolah menyediakan kedua tangannya untukku bertopang. Terima kasih untuk semuanya! Ya, aku terima ini semua. Nasib adalah kesunyian masing-masing, biar terpuji arwah Chairil. Aku tahu kesalahanku:

yang berjalan - telah jauh di depan meninggalkanku
yang mengangkasa - telah melesat memunggungiku
yang berlari - telah tak ingat akan aku

sementara aku
tetap di sini tak bergeser sejarak pun
menundukkan kepala untuk sesekali mendongak
setengah mati dalam usaha membohongi hati;
matahari ini masih sama dengan yang lalu
langit ini masih sama dengan yang waktu itu

8.8.07



kudapati


ke laut kupergi; kudapati badai
ke hutan kulari; kudapati sesat
ke lembah kusepi; kudapati hujan
ke kota kudiam; kudapati kejam
ke hatimu kuada; kudapati apa?


rindu dalam-dalam

sudah, sudah
pergi sana... biar sepi di sini, biar sunyi
biar angin kusambut sendiri
malam ini bintang sendiri. kaku diam.
dan sunyi mencuri malam

sudah... pergi sana
jauh. jangan di sini.
malam biar malam
jahat biar jahat
tak perlu malaikat.
nisan, upacara, kubur dalam-dalam semua.
jangan ada lagu. jangan ada puisi.
biar sepi
biar sunyi
aku senang sendiri
aku rindu diriku. rindu dalam.
dalam-dalam


kata-kata

kata-kata menjadi cermin-cermin masa-masa lalu
masa-masa depan cermin-cermin dari detik-detik
yang tercipta sebagai momentum-momentum
di saat-saat kehadirannya dalam hidup-hidup
tiap-tiap orang yang selalu saja menyisakan
makna-makna beragam yang kadang berseberang-
seberangan meski dalam momentum yang sama

kadang juga seperti ini: pengulangan-pengulangan yang memuakan!


sajak dekapan

mendekap harta kudekap miskin
mendekap sendawa kudekap lapar
mendekap gempita kudekap sunyi
mendekap cerita kudekap kosong
mendekap mayang kudekap jeruji
mendekap titah kudekap bungkam
mendekap mulia kudekap hina
mendekap ada kudekap tiada

mendekap cinta kudekap Engkau


apa lagi?

apa lagi? semua telah dituliskan telah dinyanyikan disyairkan menyerupai gubahan-gubahan teragung sepanjang usia tapi hati masih perih dan kepala melulu panas tangan masih kaku tanpa bisa berpaling menunduk menengadah mencari apa yang belum apa yang masih bisa dijadikan serangkaian kata hingga melati mawar dan seribu bunga lainnya tersamai harumnya wanginya terserupai keindahannya keanggunannya apa lagi apa lagi apa lagi masihkah ada yang terlewatkan yang terlupakan yang belum terbahasakan segenggam cinta yang bukan karena setangkup cinta yang walau bagaimanapun walau seperih apapun setajam apapun sayatan-sayatan kisahnya sekejam apapun akibat-akibatnya menjadi hingga memenjara mengerangkeng sejuta indra memakan apa yang tersisa hingga tanpa sisa tanpa jejak tanpa bekas apa lagi apa lagi apa lagi yang belum terucap terdengar terlihat tentangmu tentang bagaimana matamu menelanjangi mataku tentang hewan-hewan disekelilingku yang tertawa begitu renyah mengejek menghina menertawai memunggungi tentang cuaca yang tak pernah bersahabat tersenyum mengulurkan tangan memapah dan menerangi hingga ujung jalan ini apa lagi apa lagi apa lagi?


*Letupan-letupan masa lalu. Berjumpa begitu saja di laci-laci.

3.8.07

Sport! Sport!

Aku jarang olahraga! Dan betapa ini kenyataan yang menyebalkan. Di tengah-tengah pola hidup yang sama sekali tak sehat ini—merokok, jam tidur yang amburadul, dan menu makan yang tak menentu—aku merasa sangat kurang berolahraga. Berat badan semakin hari semakin terasa bertambah (meski kadang membingungkan juga: di pagi hari bertemu si A dan dia berkomentar, “kenapa semakin kurus?” lalu di malam harinya bertemu si B yang berkata, “makin gemuk, nih!”).

Aku pikir-pikir olahraga seharusnya menjadi kebutuhan setiap orang, orang miskin maupun orang kaya. Orang miskin butuh berolahraga karena olahraga memang menyehatkan. Mampu menghindari tubuh dari penyakit-penyakit yang aneh-aneh. Di negara dengan pemerintah yang tak sepeduli pemerintah Kuba dalam menyelenggarakan kesehatan warganya, adalah bijak untuk menjauhkan diri dari penyakit-penyakit terkutuk. Karena kalau sudah sakit, urusan bisa semakin panjang. Sebentar-sebentar bisa keluar uang. Untuk orang kaya, olahraga juga dibutuhkan. Meski bisa saja mengakses pelayanan kesehatan yang baik dan terjamin, kemewahan terkadang sasaran empuk bibit-bibit penyakit. Dan kalau penyakit sudah datang, betapa kekayaan-kekayaan yang dimiliki tak lagi senikmat saat kesehatan bukan hal asing dari tubuh. Apa artinya uang banyak kalau kena pendingin ruangan saja badan terasa mau rontok?

Dan olahraga sepertinya memang jauh dari gaya hidupku. Saat sekolah dulu satu-satunya nilah merahku adalah mata pelajaran olahraga. Entah kenapa guru olahraga itu—yang belakangan kutahu mengencani salah seorang temanku—memberikanku nilai merah. Apa pula pentingnya mata pelajaran itu sampai-sampai dia memberikan aku nilai merah? Seingatku, aku cukup rajin mengikuti pelajaran olahraga. Seandainya ternyata tak ahli dalam berolahraga, seharusnya dia memberi banyak pemakluman. Bagaimana bisa siswa-siswa yang belum tentu berbakat olahraga tertentu, sementara jam pelajaran tak lebih dari dua jam seminggu, dipaksa harus bisa melakukan teknik-teknik olahraga tertentu. Kalau aku jadi guru musik, aku tidak akan pernah memberi nilai merah kepada siswa yang tak bisa bermain gitar. Apa lagi kalau jam pelajarannya minim dan dia sama sekali tak tertarik untuk berurusan dengan nada-nada musik.

Meski begitu aku pernah rajin berolahraga. Sejak kelas lima SD aku ikut pencak silat. Berlatih dua kali seminggu. Pertama malam kamis, kedua minggu pagi. Saat-saat itu aku sering mengeluarkan keringat. Kebiasaan itu berlangsung terus sampai masa-masa awal SMA. Di masa-masa itu aku juga sering bermain basket atau sepakbola di sore hari. Kompleks rumahku menyediakan lapangan basket dan stadion sepakbola tak begitu jauh dari rumahku. Cukup berjalan kaki lima sampai sepuluh menit, sampai sudah. Aku biasa bermain dengan teman-teman tetangga rumah. Jika sedang musim bermain sepakbola, maka basket ditinggalkan. Ramai-ramai kami menuju stadion untuk bermain bola. Dan, percayalah, di antara kami banyak yang tak mengenakan sepatu. Maka, musim sepakbola berarti juga musim luka di kaki. Namun, belakangan kami sedikit serius untuk bermain bola. Mengenakan sepatu, melakukan pemanasan, dan... memanggil pelatih. Salah seorang tetanggaku mantan pelatih sepakbola. Memegang sertifikat dari PSSI kalau tak salah, dan dia bersedia melatih anak-anak kompleks.

Tapi lagi-lagi, olahraga memang sepertinya bukan duniaku. Aku tak seperti tetanggaku yang begitu serius menjadi atlet renang atau atlet bulutangkis atau atlet bola volley. Bertanding ke sana ke sini dan mendapat rezeki dari berolahraga. Saat teman-temanku sibuk berlatih dan tertib membayar iuran footsal—seiring maraknya olahraga ini—aku memilih menyirami tanaman di depan rumah jika sore tiba. Di Minggu pagi, saat stadion yang sepelemparan tangan jaraknya dari rumahku itu ramai dikunjungi orang-orang yang ingin berolahraga (senam, lari, bulutangkis, dan banyak lagi jenisnya), aku terkadang ke sana hanya untuk makan bubur atau melihat-lihat jajaran pedagang. Sungguh kemalasan yang luar biasa dan gaya hidup yang mengagumkan!

Dan masa-masa kuliah adalah masa-masa suram bagi tubuh ini. Tidak berolahraga, keluyuran malam hari, tidur justru pagi sudah menjelang, dan merokok. Belum lagi ditambah asupan makanan yang tak menentu. Jam makan, dalam pikiran ini, hanya berlaku untuk mereka yang punya jam kerja, jam tidur, dan jenis-jenis jam lainnya. Karena aku tidak punya jam-jam serupa itu, maku aku tak punya juga jam makan. Pernah dulu memang di sore hari bermain bola di lapangan kampus. Tapi itu dulu dan bisalah dihitung menggunakan jari berapa kali aku melakukannya. Tak butuh membuka-buka ingatan yang sudah disimpan jauh-jauh dalam kepala. Terlebih lagi di kampusku tidak ada mata kuliah olahraga. Beberapa kampus kudengar menyelenggarakan mata kuliah ini. ITB bahkan menyelenggarakan mata kuliah menyelam.

Kini, di akhir-akhir masa kuliah, kesadaran itu datang. Seperti sesuatu yang terlambat dan sia-sia. Aku merasa butuh berolahraga. Aku tak ingin tubuh ini kelak akan menjadi rumah seribu penyakit. Baiklah kalau aku menjadi orang berduit cukup, bisa untuk memasang balon di jantungku atau melakukan operasi di Australia. Kalau tidak? Cuma akan merepotkan orang-orang sekitarku! Aku ingin bermain bola di lapangan kampus, tapi ternyata tak ada yang aku kenal di tanah lapang itu. Agak sungkan juga untuk turut bergabung bersama mereka. Lalu aku ingin bermain bulutangkis. Ada beberapa gedung bulutangkis yang bisa disewa di sekitar kampusku, tapi aku tak punya raket. Bukan masalah besar, cukup menyisihkan uang bulanan, maka raket semestinya terbeli. Aku gulirkan ideku ini ke beberapa teman dekat, jawaban mereka sungguh mengecewakan, mereka malas bermain bulutangkis. Lalu beberapa orang mengajakku untuk membuat jadwal ke gym. Di sana bisa fitness atau treadmill. Ada beberapa memang di sini tempat-tempat semacam itu, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Tapi, seperti kutukan, jadwal itu tak lebih dari semacam omong kosong. Semangat ketika membicarakan dan merencanakan, tapi layu bahkan lupa ketika harus melaksanakannya.

Hah, Pramoedya pasti menertewakan generasi muda semacamku ini. Loyo, tak sehat, dan urakan. Dia bahkan semasa tuanya tetap rajin menggerakan badan dan pernah memilih berjalan kaki berkilo-kilo sementara keluarganya naik kendaraan.

Kini yang menjadi satu-satunya saluran hasrat berolahragaku adalah game komputer. Bermain bola bersama teman-teman, cukup menggerakan jempol tangan saja di atas joystick games. Sesekali menang sesekali kalah, berselang-seling. Tak apalah, cukup melatih sportivitas meski tubuh ini terasa semakin lapang untuk seribu macam penyakit!

29.7.07

Jadi, Apa yang Sedang Kita Lakukan?

“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)

Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.

Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”

Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”

Sekarang tinggal menerbangkan.

Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.

Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.

***

Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!

Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?

Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.

Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.

Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....

(printed version at Seputar Indonesia, 29 Juni 2007)
Kematian Seorang Kesepian



Setengah abad lebih kematiannya menjadi misteri, dan bulan ini seorang Belanda mengemukakannya ke publik. Link artikel:

Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap

Menguak Misteri Kematian Tan Malaka


Dan saya menemukan puisi ini. Dari si penulis Negara Kelima, Esito.

Dark Romance

Untuk Tan Malaka

Seperti kisah yang lama
Ada kenangan dari yang hilang
Setambat duka dari yang tidak disuka
Dan dirimu pun seperti bayang
Terhalang bintang-bintang
Yang menaungi sejarah

Ada apa Tan

Dengan hilangnya kau
Persis di tengah-tengah revolusi republik
Matikah kau Tan membawa petualangan tak terlupakan
Tidak ada yang tahu Tan
Semenjak tiga serangkai, sukarno hatta dan syahrir
Yakinkan engkau dan iwa kusuma sumantri kelak sebagai ban serep
Jika tiga mereka mati

Tetapi seperti kisah orang tersembunyi
Ada segelintir orang kagumi engkau punya diri
Jadikan madilog kitab suci
Tidak lupa juga puja pahlawan import
Che guevera namanya Tan

Tetapi aku mau bertanya pada mu Tan
Pada retorika romantisme yang sepi

Adakah kau dalam pelarian
Penuh sukacita fasilitas tiada tara
Seperti laku kini mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Keluar masuk hiburan malam

Adakah dalam ingatanmu
Dalam pelarian kau bercinta dengan segenap wanita
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Berpelukan mesra dengan wanita segala usia

Dan tan bisakah kau reka ulang
Dalam pelarian jhony walker jadi teman sepimu
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Tak sadarkan diri demi menenangkan diri

Hey..Tan

Yang kampung engkau jaraknya tidak lebih dari 33 kilo dari kampungku
Adakah semua itu kau laku
Di indochina
Siam
Singapura
Atau bahkan dalam penyamaranmu di jaman jepang?

Aku tidak tahu Tan
Tetapi dari engkau yang ku paham dari kisahmu
Engkau tidak begitu
Ada religiusme individu dalam sosialisme kolektif
Begitu yang kutahu

Ada apa dengan mereka yang mengagungkan madilog mu tan
Berpikir mereka di hutan amerika selatan
Hingga kenakan kaus che guevera
Tapi tak sekalipun merasakan di tengah medan aksi

Ada apa Tan?

3 Desember 2004

(link: ibu, aku ingin mengubah bintang)



27.7.07

Siapa yang Kangen?

"Hidup Kangen Band!"
(kata kawan saya suatu sore)

Iseng, saya coba search pendapat para blogger tentang Kangen Band. Ini di antaranya:

Fenomena Kangen Band

Kangen Band, Band Terbaik di Indonesia!


Kangen Band

Fenomena Kangen Band

Keberuntungan Tanpa Kualitas dari Kangen Band

Kangen Band dan Bakekok Lainnya

Kangen Band

Kangen Band

Fenomena Langka dan Aneh yang Membuat Saia Tidak Kangen!

25.7.07

Dari Akhir Minggu


"Tidakkah kau tahu kuselalu mencari waktu tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku bersinar resah dan jiwaku telah lelah"
(Di Relung Kamarku, Katon Bagaskara)

Sabtu siang yang membosankan dikejutkan dengan pesan pendek dari seorang teman lama, Andri. Mengabarkan bahwa ada undangan untukku: seorang teman menikah. Well, di tahun ini, satu orang lagi kawan menikah. Aku menjanjikan kehadiranku. Momen-momen seperti ini biasanya akan menjadi wahana interaksi kembali dengan kawan-kawan lama. Karena acaranya di Bandung, aku meminta Andri untuk mau menjemputku di Jatinangor sebelum ke tempat acara. Dia menolak, menurutnya Mila, mantan pacarnya, akan datang ke kostnya. Ya, tentu saja itu berarti merepotkan. Aku katakan tak apa, bertemu di tempat acara saja.

Namun, tiba-tiba di sore hari situasi berubah. Mila mengurungkan niatnya untuk datang ke Bandung. Untuk alasan yang entah, dia memilih tetap di Jakarta dan akan kembali akhir bulan nanti. Andri mengabariku perihal ini. Aku katakan, "Malam ini, aku ke tempatmu. Menginap di sana dan berangkat dari sana."

Hari Minggu ternyata tak seperti dugaanku. Beberapa orang teman tak bisa datang karena ada saja agenda-agenda personal yang tak bisa ditinggalkan. Ini menyebalkan, mengingat intensitas pertemuan kami yang semakin berkurang saja. Terlebih ketika Rumah Biru, tempat kami biasa berkumpul, habis masa kontrak. Dasuki harus menjaga bayi perempuannya yang baru lahir. Dahrun harus segera kembali ke Cimahi, tempatnya mengajar. Samsul di Jakarta dan tak bisa ke Bandung. Dan yang paling menyebalkan adalah Epul tak bisa karena harus bekerja di kantornya. Hari Minggu dan harus bekerja!

Jadi, hanya aku dan Andri yang datang. Berdua kami naik motor ke tempat acara. Menyampaikan salam teman-teman yang tak bisa hadir, mengucapkan selamat dan pulang. Kawanku yang menikah, berbahagia sekali. Roman mukanya tak bisa menutupi itu. Sementara, keesokan harinya, seorang kawanku yang lain di kota yang lain lugas bilang padaku, "Aku tak tahu apa gunanya menikah."

Sepulang dari tempat resepsi, aku dan Andri memutuskan untuk datang ke kantor tempat Epul bekerja. Sedang sibuk. Baru lima menit duduk di lobby, tiga cangkir kopi datang. Sesekali Epul datang untuk duduk minum kopi bersama. Berkali-kali dia kembali masuk ke dalam ruang kantornya menyelesaikan urusan ini itu. Bukan hanya Epul di hari Minggu itu yang bekerja. Dua orang perempuan juga kulihat sedang bekerja. Memeriksa dokumen-dokumen dan sibuk di depan layar monitor komputer. Pasti ini hari Minggu yang tak cerah untuk keluarga mereka, untuk anak dan istri Epul di rumah.

Menjelang sore, pekerjaan tampaknya selesai. Epul duduk bersama kami menikmati kopi. Dia bertanya, "Mila gak datang?" Andri hanya tersenyum. Aku yang sedari tadi diusili lantaran kisah rumit masa laluku bersama seorang teman, menyentil, "Jangan-jangan Mila dan Samsul pacaran di Jakarta?"

Semua tertawa. Dan Epul menyambung, "Masuk akal! Kemarin Samsul bilang ke aku kalau dia sudah punya pacar, 'baru, tapi tidak baru'." Pasti bukan orang baru. Hanya baru pacaran saja, maksudnya. Dan salah satu kemungkinannya memang mengarah ke sosok Mila. Dulu kami menghabiskan waktu bersama-sama di Panorama E 12. "Gak Menyangka, Samsul ternyata ikut-ikutan." Kami tertawa.

"Gak mungkin," kata Andri. "Gue mah beda sama loe," mukanya mengarah ke saya. Tertawa lagi.

Tiba-tiba hari Minggu itu jadi menyenangkan. Epul mengajak aku dan Andri ke rumahnya. Kami menyanggupi. Sampai rumah Epul, istrinya membuka pintu dan langsung mengembangkan senyum. Anaknya yang masih dua tahun bersembunyi di balik kaki ibunya. "Kalian harus makan malam di sini," kata istrinya. Belum ada sepuluh menit sejak kami datang, makanan sudah tersedia di depan kami. Nasi dan lauk-pauknya. Di rumah hangat itu, kami makan berramai-ramai. Selepas makan, kopi muncul dari dapur. Epul sekeluarga bersama aku dan Andri menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol.

Olok-olok soal 'Mila-Samsul' terus berlangsung di beranda rumah itu. "Ada kabar buruk, De," kata Epul pada Ade, istrinya. "Samsul pacaran sama Mila!" Ade tertawa-tawa. "Untung aja kita nikah," sambung Ade seraya tertawa. Andri jelas misuh-misuh. Dia mengeluarkan ponselnya, dengan speaker phone dia menelepon Mila. Telepon diangkat, suara Mila di Jakarta. "Mila, kamu bener pacaran sama Samsul?" Tanya Andri. Alih-alih menjawab, Mila malah tertawa-tawa. "Hahaha. Mila tuh maunya sama Imam, nungguin Imam dari dulu. Ada Imam gak di sana?" Jawab Mila sambil tertawa. "Ada nih," Jawab Andri. Lalu Mila berbicara padaku, "Mam, kapan atuh pendekatan ke Mila? Mila nungguin kamu terus nih." Aku tertawa saja, "Imam gak bisa, Mil," jawabku singkat. Yang tak disangka adalah Mila malah jadi mengolok-olokku, "Payahhh, masa gak bisa. Si itu aja bisa." Semua orang tertawa senang. Tentu saja, selain aku yang cuma bisa tertawa kecil. Di akhir pembicaraan, kami sepakat untuk merencanakan perjalanan bersama. Mungkin akan ke Ciwidey atau Pantai Batu Karas.

Pukul sepuluh malam Andri dan Epul berencana main ke kamar kostku yang baru. Tak satupun dari mereka yang tahu. Epul meminta izin ke istrinya dan pamit ke anaknya, "Mungkin pulang malam sekali." Bertiga kami ke Jatinangor, lima belas menit perjalanan. Dan terasa, malam itu menjadi malam yang panjang. Saling tertawa tak henti. Memutar kembali masa lalu: Bermain domino dengan winamp playlist Ari Lasso, Bintang dingin, dan Djarum Super. Sebuah kegiatan yang kami mulai bertahun-tahun lalu. Kalau bermain domino, ya harus memutar lagu-lagu Ari Lasso. Kalau ada yang kalah, ya memakai helm motor. Kalau memakai helm, ya tak bisa merokok Djarum Super. Dan Bintang dingin membuat semuanya menjadi ringan malam itu.

21.7.07

Pewaris Waktu

Pagi ini seorang kawan meminta rekomendasi blog yang bagus pada saya. Saya cuma ingat satu blog. Ini sekaligus mengingatkan saya akan keinginan saya untuk memberitahukan blog ini ke banyak orang. Ingin sekali. Sejak pertama kali membacanya saya langsung jatuh hati pada tulisan-tulisan di dalamnya. Mengingatkan saya pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar saya, pada pikiran-pikiran kecil, pada kisah-kisah hidup yang manis atau yang tak manis. Setelah membacanya, saya selalu saja dibuat untuk mengambil jeda untuk satu dua hela napas. Menikmatinya seperti saya menikmati secangkir capuccino mahal di foodcourt Pasaraya (yang cuma sekali saya rasakan dengan momen yang luar biasa) atau secangkir kopi Aroma. Saya tak tahu siapa penulisnya. Percayalah, bukan karena dia tak terkenal. Tapi, karena saya kurang bisa bergaul.

Blog itu, www.pewariswaktu.wordpress.com

18.6.07

‘més que un club’

Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan. Di antara sejenismu, kamu yang pertama kali menggetarkan hati saya.... Terima kasih!

10.6.07

Kepada Siapa Kita Menyerah

: yang bertanya ‘mengapa’ di satu senja di tepi jalan

Ketika begitu banyak duri yang tertancap di tapak kaki, atau ketika udara tiba-tiba menjadi begitu sulit dipilah mana yang bagus untuk paru-paru dan tidak, atau juga ketika mata menjadi enggan terpejam, meski rasa-rasanya telah bergantung beban berkilo-kilo beratnya di lentik bulu mata, kita tak tahu lagi apa harus kita perbuat. Kita menyerah. Menundukkan kepala, tanpa mengeluh atau tidak.

Matahari sementara itu selalu beredar pada garisnya. Tak hendak melenceng atau berontak barang sedikit. Menjadi pengingat yang mendera-dera kehidupan. Di tanah-tanah basah embun, di aspal-aspal buram, di pucuk daun muda, di tas kusam anak sekolah. Memancarkan sebuah semangat yang mesti ditelan tanpa dikunyah.

Kehidupan seolah-olah cuma sesuatu yang buruk rupa dan setengah mati ingin selalu kita hindari.

Lalu ingatan kita melayang kepada suatu pagi yang gagal sepuluh tahun lalu. Tak satu pun benih kita tanam di tanah belakang rumah kita. Tak secangkir pun minuman hangat tersaji di meja samping ranjang kita. Kita kosong – dan sepi. Di sudut kamar, ada terlihat arus cahaya menimpa baju-baju kumal kita. Bergeser senti demi senti mendekati selimut kaku.

Kita lantas tahu hari telah berganti lagi. Namun, betapa terkutuknya ia, betapa sialnya manusia, kita juga tahu itu adalah hari yang sama belaka seperti hari-hari yang sudah.

Keriuhan di luar kamar kita tak terdengar serupa lagu cinta lagi. Membuat kita semakin enggan untuk membuka telinga baik-baik. Di kamar ini, kita tahu, labirin ini tak akan dan tak akan pernah bisa kita pecahkan.

Tapi kita seperti terhukum untuk terus mencari. Membongkar-bongkar laci ingatan, meniti tiap-tiap senti kamar kita, melepaskan sprei kasur kumal kita, menurunkan bantal-bantalnya: berharap menemukan kunci pembuka pintu kepala kita yang kita yakini terselip entah di mana. Kita seperti tak pernah tahu itu adalah semacam laku sia-sia. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Dan dari sana, serupa monster, kemudian bermunculan bayang-bayang hitam buruk rupa yang mengejar-ngejar kita. Hendak menerkam kita justru saat kita terbaring lemah. Hendak melumat kita justru saat kita terkapar lelah. Hendak mencengkeram kita justru saat kita terjatuh-jatuh. Kita ketakutan. Ketakutan. Membekap telinga dan memejamkan mata. Air mata mengalir pelan dari pelupuk. Tak mampu lagi berteriak meski teramat ingin. Tak mampu lagi berlari meski teramat ingin. Hanya meringkuk dalam diam. Menundukkan kepala. Berupaya berpikir panjang dan dalam. Lalu mencoba lagi mendongakkan kepala dan menemukan bahwa ternyata tak ada sama sekali yang mengejar kita.

Dan kita tersadar: yang paling jahat dalam hidup ini adalah pikiran kita sendiri.

Matahari masih akan terus beredar. Matahari masih akan terus berpendar. Di tengah lapang, dengan sukacita kita angkat kedua tangan kita. Sebuah isyarat kekalahan. Sebuah isyarat untuk menyerah.

Kita tahu, betapa kita tahu, untuk hidup seabsurd ini, yang paling layak adalah menelan sekian kutukan dan lalu duduk diam.

Perempuan, saya kalah....

8.6.07

pada tepi sebuah sungai

mengapa di seberang
tangan kau lambaikan
sedang bermuka-muka
bayang saja kau adanya

mengapa di gemericik
senyum kau pendarkan
sedang serakit
cuma mimpi kau adanya

30.5.07

Seratus Tahun Tak Terlupakan

Sama sekali tak ada yang salah. Aku tahu, semua penulis pasti akan menyetujui ini.”

Itulah kalimat yang dilontarkan Anne Bernays, novelis yang juga istri Justin Kaplan, pemenang Pulitzer, ketika mengomentari Penghargaan Nobel Bidang Kesusastraan yang diberikan Komite Nobel Akademi Swedia kepada Gabriel Garcia Marquez. Jumat 22 Oktober 1982, harian Boston Globe mengabarkan itu. Diberitakan pula bahwa salah satu ruang kelas di Departemen Sastra Universitas Harvard mendadak riuh dengan suara tepuk tangan para mahasiswa sesaat setelah Profesor Juan Marichal mengabarkan ihwal penghargaan itu kepada isi kelas.

Marquez menjadi legenda baru yang dipuja begitu banyak kalangan. Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude), yang terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol pada 1967 sebagai Cien Anos de Soledad, kemudian dibaptis banyak kritikus sebagai novel terbaik di abadnya. Novel inilah yang mengantarkan Gabito, demikian ia biasa disapa, menjadi nobelis.

Di Amerika Latin, terutama di Kolombia dan Meksiko, konon novel ini lebih laris ketimbang Alkitab. Itu memang tanah kelahirannya. Ia lahir di Aracata, Kolombia pada 6 Maret 1928 (sedang ayahnya lebih yakin kalau ia lahir pada 1927). Di angkasa Amerika Latin pula namanya menjulang tinggi. Ketenarannya melampaui presiden dan hanya bisa ditandingi oleh bintang sepak bola atau ratu kecantikan. Silvana Paternostro, jurnalis yang sempat berguru pada Marquez, menuliskan dengan sangat apik ketenaran sang maestro, “Namanya muncul di kontes-kontes kecantikan kami sesering nama Paus. Jawaban para kontestan jadi repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Marquez. Siapa yang paling kamu kagumi? Ayahku, Paus, dan Garcia Marquez. Siapa yang ingin kau jumpai? Garcia Marquez dan Paus. Bila pertanyaan yang sama diajukan pada jurnalis Amerika latin, jawabannya bisa jadi sama—kecuali soal Paus barangkali.”

Suatu hari di tahun 1995, sekelompok gerilyawan menculik kerabat mantan presiden Kolombia. Tuntutan mereka: Gabriel Garcia Marquez menjadi presiden. Mereka menulis dalam permohonan mereka, “Nobel, tolong selamatkan Tanah Air!” Di tahun 1994, saat pertemuan Negara-Negara Non-Blok digelar di Cartagena, Marquez hadir bersama rombongan delegasi Kuba. Saat itu berkembang isu akan terjadi pembunuhan terhadap Fidel Castro, Presiden Kuba. Untuk melindungi Castro, Marquez menaiki delman yang sama dengan Castro dan berdesak-desakkan dengan tiga orang lainnya. “Di Kolombia sini bila aku naik panggung, tak seorang pun bakal menembak,” kata Marquez kepada Castro.


Semuanya bermula saat Marquez menjenguk kembali kota masa kecilnya, Aracataca. Di sini ia dibesarkan di rumah kakeknya yang begitu penuh cerita. Dan bersama inilah Marquez kecil tumbuh: rumah besar penuh hantu, percakapan-percakapan lewat kode-kode, mereka yang mampu meramalkan kematinan mereka sendiri, dan yang sangat membekas barangkali adalah pembantaian para pekerja perkebunan pisang. Nama perkebunan itu Macondo, sebuah nama yang kemudian diabadikan Marquez sebagai kota (imajiner) di Seratus Tahun Kesunyian. Sejarah pembantaian pekerja perkebunan pisang itu sendiri tak pernah tertulis di buku-buku teks sejarah, hal yang membuat Marquez terheran-heran di masa-masa sekolah. Nostalgia-nostalgia pada hal-hal itulah yang membuat Marquez menelantarkan istri dan keuangan rumah tangganya selama berbulan-bulan. Hasilnya? Seratus Tahun Kesunyian dan setumpuk tagihan.

Seratus Tahun Kesunyian bercerita soal sejarah keluarga besar Buendia dan segala macam hiruk-pikuknya di Macondo, sebuah kota yang tak akan pernah ditemukan di peta lanskap Amerika Latin. Ceritanya bermula dari kisah Jose Arcadio Buendia dan kedua anaknya yang untuk pertama kalinya melihat es balok yang dibawa gypsi ke Macondo. Saat itu Jose Arcadio Buendia menjadi begitu terpesona pada es yang awalnya ia sangka intan terbesar di dunia. “Ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah kita,” kata Jose Arcadio Buendia.

Itu, diakui Marquez, dilakukan setelah ia merasa mendapat visi (penglihatan) ketika ia bersama anak istrinya hendak menuju Acapulco. Ia teringat bagaimana neneknya seringkali mendongenginya cerita-cerita fantastis dengan gaya yang dingin. Dalam penglihatan itu ia melihat, “cerita itu harus diceritakan dengan cara bercerita yang biasa digunakan neneknya, dan dimulai dari suatu sore di mana seorang bapak membawa anaknya demi melihat es.”

Lalu cerita-cerita fantastis dan penemuan-penemuan “besar” tergelar: cerita soal usaha menciptakan emas, hantu-hantu korban pembantaian, karpet terbang, hujan berhari-hari, wabah lupa, kisah-kisah cinta yang rumit, anak yang memiliki kegemaran makan tanah, dan lain sebagainya. Semuanya diceritakan Marquez seolah hal-hal itu adalah perkara biasa saja. “Nenekku selalu mendongengkan hal-hal paling liar dengan nada yang sungguh alami.”

Seratus Tahun Kesunyian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan terjual lebih dari 8 juta kopi. Di Indonesia sendiri bahkan novel itu telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Seratus Tahun Kesunyian bukan lagi cuma sekadar novel tonggak Amerika Latin, tapi juga novel tonggak dunia. “Don Quixote-nya Amerika Latin,” kata Pablo Neruda.

Novel karangan seorang mahasiswa hukum drop-out ini, mampu membuat Jennifer Lopez berkomentar, “Apa yang membuaku bangga sebagai seorang latin adalah Seratus Tahun Kesunyian!” Sebuah novel yang barangkali sulit dihilangkan dalam buku-buku sejarah kesusastraan dunia.

13.5.07

Kejengkelan

Di akhir sebuah acara diskusi, pementasan teater, dan pemutaran film tentang penyair yang hilang, saya bersama beberapa orang kawan memutuskan untuk membantu memberes-bereskan tempat acara. Dispenser, galon air minum, dan karpet yang dipinjam dari tempat saya, bisa dibawa pulang langsung ke tempat saya. Oleh siapa? Ya, oleh saya.

Tentu saja ketiga barang itu tak bisa saya bawa sendirian. A bilang mau ikut membantu. R, tentu tak bisa saya minta bantuannya. Ia sendiri ragu, sepertinya ia akan pulang langsung ke Bandung. Maka aku bertanya pada D dan M, pasangan muda yang selalu bikin iri, “Kalian mau ke mana setelah ini?” Biasanya mereka akan singgah dan nongkrong sejenak di tempat saya. Saya berpikir untuk meminta bantuan mereka berdua.

“Yee, mau tahu aja!” Tiba-tiba suara dari orang yang tidak kuharapkan jawabannya terdengar. Kasar seperti mengejek. Nadanya menyakitkan dan sama sekali tak lucu. Menjengkelkan.

“Oh, begitu cara mainnya,” ujar saya dalam hati.

D saya lihat tersenyum pada saya, “Sip, saya bantu,” kata dia.

Setelah itu, sampai pagi saat saya menuliskan ini, kedongkolan menjadi-jadi.

11.5.07

Opa yang Lebih Kuat dari Soeharto


“Pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa dikerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”
(Pramoedya Ananta Toer kepada wartawan mahasiswa POLAR, Fisip Unpad)



Setahun sudah Pram pergi meninggalkan bumi manusia ini. Lagi dan lagi, rasa kehilangan itu menyusup ke dalam benak banyak pembaca karya-karyanya. 30 April 2006, setelah pesan-pesan pendek hiruk-pikuk membawa kabar kabur tentang kematian Pram di langit Indonesia, Pram benar-benar wafat ada pukul 08.55. Dua jam kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan lalu diantar ke Karet Bivak.

“Kehendak mulia di dalam dunia, senantiasa tambah besar,” sepenggal lirik lagu Internasionale berkumandang mengantar Pram ke liang lahat.

Seandainya dunia adalah pasar malam. Tentu tak ada perasaan ditinggalkan oleh sang maestro. Tapi dunia memang bukan pasar malam. Orang tak “ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati.” Pernah Pram menulis, “Manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.” Maka yang tertinggal bukan cuma merasa cemas menanti-nanti saat kepergian, tapi juga cemas merasa kehilangan ditinggal mereka yang lebih dulu pergi.

Setahun sudah. Dan apa pula arti hidup Pram yang 81 tahun itu? Buku-buku karyanya dilarang bangsanya sendiri, tak diajarkan dibangku sekolah, tak ada pemulihan nama baik, tak ada klarifikasi soal hukuman-hukuman yang ia telan, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Terbakar amarah sendirian?

Diterjemahkan lebih dari empat puluh bahasa dan jadi bacaan wajib di sekolah beberapa negara. Di negeri sendiri?

Terkenang-kenang orang-orang pada Pram. Pada Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, pada banyak karya-karyanya. Terkenang-kenang mereka di Australia yang membaca karya-karyanya dan lantas menyuratinya, mengabarinya bahwa betapa mereka menikmati karya-karyanya itu dan bagaimana hidup mereka berubah karena membacanya.

Pram datang membawa kisah dan menjadi kisah. Kepergiannya meninggalkan banyak hal untuk generasi sesudahnya. Melawan dan melawan. Orang kuat, lebih kuat dari jenderal besar yang melarang buku-bukunya. Jenderal besar takut pada kata-kata. Kata Pram, “Adalah tidak benar meninggalkan dunia ini dengan diam-diam” (Rumah Kaca).

“Dengan tangan satu memenangkan perjuangan rakyat, dengan tangan lain mengabdikannya dalam sastera.” Kalimat Pram tepat menggambarkan dirinya sendiri. Deposuit Potentes de Sede et Exaltvatat Humiles (Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina). Sebagaimana kalimat itu menutup tetralogi Buru, seperti itu pula hidup Pram ditutup.

Sampai jumpa, Pramoedya!

(printed version: klik pikiran rakyat)

10.5.07

Soal Mimpi-Mimpi Sore

Bisakah hidup melulu sore? Karena sore memang selalu sempurna menyimpan setiap yang ringan dan senang.

Tak pernah matahari terlalu terik, menyengat dan membuat susah. Dan di tanah lapang selalu saja kau pertaruhkan badan bersih sehabis mandi demi menyambut senja dengan sepak bola. Menukar kepenatan hari ini dengan keringat dan renyah tawa bersama sebaya.

Karena di sore hari angin begitu lembut, memagut rambut tanpa pernah ribut. Begitu tenang hingga membuat kau nyaman. Kau tersenyum, langkah demi langkah. Trotoar tak menyisakan apa-apa kecuali kedamaian yang membuat kau enggan untuk berhenti. Berjalan terus menjauhi malam.

Karena di sore hari kau suka bersama kawan-kawanmu. Mengitari gelas-gelas kopi dan teh hangat, bermain gitar dan bercanda lepas. Kau begitu gembira mendengar cerita kawanmu yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Kau lihat dia melepas kancing kemeja teratasnya dan meluruskan kaki. Di beranda kamarmu, kau berkhayal ada seribu bunga mekar di setiap sisi.

Dan jika kau sendiri, kau tak pernah lupa untuk membaca buku. Buku-buku yang menghadirkan dunia yang baru untukmu, sore yang baru untukmu. Kau memanaskan air demi segelas teh hangat. Kau menyiapkan kursi yang menghadap ke barat. Kau membasuh muka yang mulai letih. Kau menghirup udara yang tak lagi sesak. Kau duduk membaca dan menghirup aroma yang menguap dari gelasmu. Seperti kemarin saat kau lihat seorang anak kecil duduk bicara bersama dua sahabatnya yang sudah tua di reruntuhan gedung kesenian dalam sebuah buku.

Kau bermimpi. Terus bermimpi.

Bermimpi kau berada di pantai. Duduk di atas pasir hangat. Di samping seorang kawanmu yang mengalunkan gitar. Di hadapanmu, seorang kawanmu mengurai cerita-cerita. Sepuluh langkah di serong kirimu seorang kawanmu menari. Lima langkah di belakangnya seorang lagi kawanmu membuat istana pasir. Dan kau melihat kawan-kawanmu yang bermain ombak seraya bernyanyi-nyanyi.

Kau bermimpi berada di lembah. Lanskap yang membuatmu tak lagi menginginkan apapun. Di sebuah pondok tua yang selalu saja tak pernah kehabisan minuman-minuman hangat untuk teman berbagi cerita bersama siapa saja. Di samping kebun yang kau kelola sepanjang pagi. Di dekat sekolah tempat ramai anak kecil berlomba gaduh. Kau tak ingin berlari dari apapun, semua diterima dengan hangat di pondok kecil itu.

Kau terus bermimpi dan bermimpi. Sampai kau tersadar sore ini bukan yang pertama kali kau menginginkan hidup melulu sore.
Belakangan Ini

Saya tak tahu lagi sesungguhnya siapa saya dan mau apa saya. Utara. Selatan. Timur. Utara. Barat. Selatan. Utara. Seperti tak punya lagi energi untuk mengenali diri sendiri. Hanya bisa terpaku dan terdiam mendapati kenyataan ini menggenangi.

Saya kehilangan kompas.

Menghabiskan hari demi hari dalam labirin sunyi dan gelap. Tak ada benang untuk saya rentangkan sebagai petanda jejak-jejak.

Celakanya, saya tak tahu lagi situasi seperti apakah yang seharusnya terjadi dalam hidup saya. Jika saja diri saya adalah sebatang lilin, ingin betul saya mendapati diri saya sebagai lilin yang sisa sekian mili saja. Sumbunya telah menghitam dan nyaris habis, apinya hampir padam. Jika diri ini serupa tanaman, ingin saya temukan diri saya ini sebagai tanaman tanpa bunga dengan sehelai daun tua yang pasti luruh dimain-mainkan angin.

Saya sepi. Kesepian.

Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak bicara tentang hal-hal remeh yang ingin saya bicarakan. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya percayai untuk saya ceritakan rahasia-rahasia saya. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Saya ingin ada orang yang memaki saya, dan saya terpuaskan karenanya.

Saya tahu, barangkali saya telah melangkah terlalu jauh dan tanpa perhitungan masak-masak. Dan kini di sinilah saya, teronggok sebagai bangkai. Di tengah hutan, saya adalah bangkai domba yang babak belur dihantam harimau. Di pinggir jalan, saya adalah bangkai anjing yang selalu jadi sasaran kejahilan anak-anak. Di atas trotoar, saya adalah bangkai gelandangan yang tak sekali pun sempat menikmati roti yang ia lihat di etalase sebuah toko kue. Di dunia ini, saya adalah bangkai dengan mata yang jarang mau tertutup dan paru-paru yang enggan berhenti bernapas.

Seperti patung batu yang tak pernah juga mau tahu begini hukum hidup berlaku:

“Penderitaan diri sendiri itu pantas untuk ditukar dengan kesenangan orang lain.
Kesenangan orang lain itu pantas untuk ditukar dengan penderitaan diri sendiri.”

Hidup melulu mereguk kekalahan. Dunia paket plus dengan batas minimal usia untuk bersuara.

Hidup adalah sendiri. Tak ada kawan tak ada lawan. Hanya sendiri. Berkawan dengan diri sendiri dan berlawan dengan diri sendiri. Serupa Tuhan atau Nietszche. Bukan serupa Ratna atau Galih.

O, meledaklah bunga-bunga taman, berkejaranlah pohon-pohon tepi jalan, menyelamlah langit-langit, membuncahlah buih-buih. Buat sedikit kegaduhan, selayak pesta-pesta untuk perayaan perpisahan.

1.5.07

Mengapa May Day?

source pic: http://www.wilsonsalmanac.com/images/may1_children_joy_rabbit.gif



Mereka telah memiliki hari-hari mereka sendiri, dan cukup banyak. Hari Jadi TNI, Hari Kesaktian Pancasila, dan hari-hari lainnya. Dan kami juga memiliki hari kami sendiri, hanya satu memang, tetapi hari tersebut adalah milik kami. Hari-hari mereka memperingati peperangan, mengenang keagungan para Jenderal di atas darah mereka yang tak bernama, mengingatkan kekuasaan militeristik. Mereka menancapkan monumen mereka di berbagai tempat. Nama para Jenderal, para penakluk yang mati seperti lalat yang mengerubungi mereka, sementara rakyat jelata yang mati untuk mereka tetap saja tak bernama. Mereka selalu mengumandangkan kemenangan melalui para ulama dan pendeta untuk memperlihatkan betapa darah yang tertumpah demi para pemimpin adalah demi kesucian jalan menuju surga. Sementara kami punya hari kami sendiri, festival kami, milik kami yang harus bekerja siang dan malam. Ini adalah milik kami, para pekerja dan tak ada kaitannya dengan para pembesar tersebut di atas. Dan apabila kalian pikir hari milik kami ini adalah tradisi yang bukan berbasiskan lokalitas, pertanyakan, apakah etika kerja yang kami kenal dan hidupi sekarang ini adalah sebuah produk lokal?

Lantas, siapakah para pekerja itu sebenarnya? Pekerja adalah orang-orang seperti kami yang setiap harinya harus selalu hadir di tempat kerja, melakukan tugas yang seringkali tidak dipahami gunanya selain demi keuntungan perusahaan, makan siang, bergabung kembali dengan dan sebagai mesin, pulang sore atau malam hari untuk hanya merasa begitu letih dan tak mampu melakukan aktifitas apapun selain duduk menonton televisi, minum-minum di kafé, menonton film dan tertidur pulas. Dan itu semua bagi kami adalah demi di akhir atau awal bulan berharap upah akan diterima tepat pada waktunya—sementara bagi para pembesar artinya adalah uang yang selalu mengalir deras. Bangun, menjadi mesin, pulang, memulihkan tenaga, tidur, bangun, menjadi mesin... dan begitulah seterusnya hidup kami saat ini. Sedari lahir di dunia ini, kami semua dipersiapkan untuk bekerja. Sebagian dari kami memang masih bersekolah dan belum bekerja. Tapi sekolah bagi kami adalah sebuah pabrik yang mencetak kami yang awalnya terlahir bebas, untuk menjadi produk-produk impoten yang dapat engkau perjualbelikan di bursa kerja. Sebagian dari kami memang menganggur dan tersingkir dari bursa kerja, dan kami terpaksa berebut di antara kami sendiri demi agar seseorang mengucurkan upah bagi kerja-kerja kami. Bagi kami, tak ada pilihan yang tersedia selain hidup dengan cara bekerja, menghamba pada otoritas, mengikuti aturan dan tunduk sepenuhnya, demi mengharap upah. Kami terpaksa hidup sebagai seorang hamba.

Lantas, siapakah dirimu? Apakah isi hidupmu seperti hidup kami? Bila jawabnya ya, maka mari bergabung bersama kami, barisan pekerja dalam perayaan Hari Pekerja Internasional tanggal 1 Mei (M1), untuk bersama menghapuskan sistem penghambaan, selamanya.



Menghidupkan May Day – Menghidupkan Robin Hood

Dalam era permulaan tradisi pagan, May Day (yang secara harfiah berarti “Hari di Bulan Mei”) adalah sebuah festival fertiltitas (kesuburan), sebuah karnaval seksual yang membumi; Maypole, sebuah simbol falus dicemplungkan ke dalam sebuah lubang basah bundar yang digali di atas muka bumi—ritual perayaan yang menyimbolkan hari erotis ini. May Day adalah sebuah festival yang pada masa tersebut tak dapat dikontrol oleh otoritas apapun. Tradisinya, para lelaki dan perempuan muda masuk ke dalam hutan pada malam sebelum May Day, untuk memetik bunga, dan “menghadirkan Mei” serta menemukan falus yang dirasa tepat. Dan, dari kegelapan malam di bumi, dari “ratusan perawan yang memasuki hutan malam tersebut, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang kembali ke rumahnya dalam keadaan masih perawan”. Seks di bulan Mei tersebut diikuti dengan perayaan pernikahan di bulan Juni—alasan mengapa bulan purnama Juni diistilahkan dengan “bulan perawan” dan lantas lahir juga istilah “bulan madu” yang diasosiasikan dengan perayaan pernikahan tersebut.

May Day adalah juga sebuah hari keriangan dan berkembangnya bunga-bunga. Abad pertengahan, di hutan pinggiran kota London, sekelompok orang yang berpakaian dan bertudung hijau serta dipimpin oleh seseorang yang menggunakan nama Robin Hood (yang juga dikenal sebagai “Orang Inggris yang Ceria”) selalu mengadakan pesta di awal bulan Mei—setelah pada hari-hari lainnya merampok harta-harta para penguasa lalim untuk kemudian didistribusikan bagi rakyat jelata. Hal tersebut juga menandai awal “Bulan Mei yang Ceria”, di mana orang-orang yang ceria tersebut merayakannya dengan mengadakan pesta di hutan-hutan hijau, di tengah berkembangnya bunga-bunga.

May Day adalah hari penegasian, penjungkirbalikkan, yang merupakan karnaval untuk menjungkirbalikkan waktu kerja menjadi waktu bermain, menjungkirbalikkan status-quo, memahkotai Ratu Mei (Queen of May) yang dipilih dalam festival tersebut oleh rakyat jelata, saat festival dikomandoi oleh Raja Pembangkangan (King of Disobedience). Dan orang-orang berpakaian hijau memberikan lampu hijau bagi segala tindak pembangkangan pada keteraturan yang menyelimuti penindasan. Ini adalah juga hari di mana rakyat merayakan hari-hari rakyat di atas tanah-tanah rakyat. Mereka merayakan ritual-ritualnya di atas tanah, yang juga merayakan hak-hak rakyat atas tanah.

Tapi di akhir abad tersebut, ratusan orang dan festivalnya mulai melenyap akibat aksi perampokan yang dilakukan oleh rezim Puritan atas tanah-tanah dari para pengelolanya, dari situs-situs mereka, dari festival mereka. Dengan menghilangnya hak-hak atas tanah tempat mereka menghadirkan festival, tradisi tersebut juga turut lenyap. May Day secara virtual juga mulai dilarang. Tahun 1644, rezim Puritan Inggris mendeklarasikan bahwa tradisi May Day sesuatu yang ilegal. Tahun 1644 tersebut adalah tahun terburuk bagi keriangan May Day. Semua tokoh-tokoh yang dirayakan dalam May Day—Robin Hood, Ratu Mei, Raja Pembangkangan—ditransformasikan sebagai tokoh-tokoh kriminal.

Di abad-abad berikutnya, May Day dan semangat karnavalnya semakin direpresi oleh dua hal yang paling dibenci rakyat jelata kala tersebut: Revolusi Industri dan rezim moral Victorian. Semakin banyaknya kelas menengah di Inggris era Victorian memunguti apa yang ditinggalkan oleh rezim Puritan: penolakan atas keriangan yang tanpa izin, pesta-pesta yang tak berlisensi. Tak ada lagi pesta-pesta vulgar, tak ada lagi hari-hari raya rakyat. Semua diatur dengan aturan moral baru, moral yang bukan milik rakyat jelata, moral yang hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang untuk mendapatkan ijin, kaku, penuh basa-basi dan tekanan kepatuhan.

Revolusi Industri adalah sebuah revolusi yang mematikan keriangan. Di abad ke-12, rakyat jelata dalam satu tahun memiliki 8 minggu festival dan “hari-hari suci” (holy days yang kemudian dikenal menjadi holidays atau hari libur). Tapi bagi pabrik-pabrik yang dilahirkan oleh Revolusi Industri, ‘hari libur’ adalah bencana, dan karenanya hari-hari libur dan karnaval semakin dikikis dengan masif serta di sisi lain jam kerja semakin ditingkatkan—tak jarang pada masa tersebut yang berlaku adalah 18 jam kerja per hari atau bahkan seringkali lebih. (Hal ini juga dilegitimasi oleh kebohongan Benjamin Franklin yang menelurkan istilah terkenal “Waktu adalah Uang”, yang sampai saat ini mengesampingkan fakta yang mempertanyakan “Uang untuk siapa dan dari hasil kerja siapa?”).

Dalam abad ke-19 May Day menjadi sebuah fokus kampanye untuk mengurangi jumlah jam kerja. Sebuah pemogokan besar-besaran digelar di Amerika Serikat dan Kanada selama May Day tahun 1886. Setelah demonstrasi tanggal 4 Mei, 8 orang anarkis ditangkap dan 3 dari mereka dihukum gantung atas kampanye mereka yang menyerukan perubahan jam kerja menjadi 8 jam per hari—mereka yang kemudian dikenal sebagai “Martir-Martir Chicago”. Tahun 1889 May Day dideklarasikan sebagai Hari Pekerja Internasional untuk mengenang kematian para martir tersebut. Dan hasil perjuangan mereka adalah disetujuinya secara legal jumlah 8 jam kerja per hari yang kita rasakan sekarang ini. Fenomena May Day sebagai Hari Pekerja dibentuk juga oleh para pekerja yang menolak untuk bekerja pada tanggal 1 Mei, untuk membuktikan bahwa tanpa para pekerja, maka boss, pemerintah atau siapapun juga adalah bukan siapa-siapa.

Pertumbuhan industri berarti juga pengurangan waktu luang. Seorang filsuf, Aristoteles, menulis, “Alam memberikan pada kita bukan hanya kemampuan untuk bekerja, tetapi juga kemampuan untuk bersantai.” Bertrand Russel, dalam karyanya In Praise of Idleness (1935) berpendapat bahwa seseorang seharusnya bekerja tidak lebih dari 4 jam sehari agar hidup seseorang lebih sehat. Ia berkata, “Ada terlalu banyak kerja yang dilakukan di dunia ini dan berbagai kerusakan ditimbulkan akibat keyakinan bahwa kerja adalah sesuatu yang baik.” Waktu luang, sebagai kontrasnya, “adalah sesuatu yang esensial bagi peradaban.” Seperti seorang anak kecil yang bebas, etika bermain jauh lebih bermanfaat daripada etika kerja.

May Day di era modern kadang dipresentasikan sebagai sesuatu yang terpisah jauh dari tradisi awalnya, dan hanya mengutip sebagian saja dari tradisi bersejarahnya. Tradisi penuh bunga, yang masih digunakan oleh para sosialis yang berdemonstrasi di jalanan abad ke-19 lalu, kini justru melenyap di era modern ini. Tapi hal penting lain yang turut melenyap adalah semangat festival dan karnaval, semangat keceriaan. Karena May Day adalah tegangan antara perayaan dan kontrol, antara hasrat popular dan politik terorganisir, antara kenangan atas kematian tragis para martir sekaligus harapan akan masa depan yang timbul atas tragedi tersebut. May Day adalah tegangan antara kematian dan kehidupan, masa lalu dan masa depan, kepedihan dan harapan.

Tetapi bagaimanapun juga, May Day, tetaplah menjadi sebuah hari yang menandai universalitas; dari rakyat biasa yang merayakan hari-hari biasanya di tanah-tanah rakyat hingga internasionalisme May Day dalam terminologi pekerja. Dewasa ini, May Day seharusnya kembali pada tradisinya dengan lengkap, dengan alasan bahwa di mana-mana tanah-tanah harus dipertahankan dari kerakusan industri—industri yang sama yang memaksa para pekerjanya untuk hidup dan mati di dalamnya, industri yang memaksa ratusan hektar tanah, air, udara hancur berantakan serta menghasilkan bencana. Bulan Mei (May) dinamakan dari dewi Maia, akar terminologi yang menjelaskan hasrat tentang “pertumbuhan” dan “kesuburan”—sesuatu yang juga harus dimaknai sebagai sebuah hasrat untuk menyuburkan benih-benih masa depan harga diri manusia yang lebih bebas, lebih adil, dan berkembang bersama alam.

Apabila Robin Hood hidup hari ini, mungkin ia akan mengkampanyekan kebangkitan melawan kehancuran global. Moto yang dikumandangkannya, “merampok para penghisap untuk didistribusikan di antara kaum miskin dan sesama” akan menjadi moto yang melawan moto hidup modern yaitu “merampok para kaum miskin untuk memenuhi dompet para korporat”. Apabila semangat Robin Hood, yang melawan ketidakadilan dan penuh keceriaan, masih hidup, maka demikian juga semangat bulan Mei; penuh benih kehidupan, selalu subur, tak pernah tua, tak pernah mati dan selalu penuh dengan keceriaan. Semoga, semangat May Day tak akan pernah lagi dapat direpresi dan akan selalu hadir bagai kilatan terang bintang jatuh di tengah langit malam yang tergelap.


Semua tulisan di atas bisa didownload dan disebarluaskan dari www.apokalips.org

Download PDF verse klik di sini


26.4.07

6.4.07

Soal Pekerjaan

Rabu lalu seorang teman yang sedang bekerja di Jakarta mengirimi saya SMS, ''Bosen banget. Gak mood....'' Dia bilang dia ingin terbang. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung meminjam uang kepada saya untuk ibunya berobat, ''Gaji belum dibayar empat bulan.'' Kemarin malam seorang teman yang bekerja di Tangerang juga mengirimi saya SMS, ''Ini malam terakhir gue bekerja. Kontrak gue habis!'' Dan beberapa jam tadi, seorang teman yang mengambil cuti dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta, datang ke tempat saya. Disaksikan gelas-gelas kopi dia bercerita soal konflik-konflik batin yang dirasakannya dan kepusingannya melihat iklim kantor yang penuh intrik.

Barangkali, bukan cuma kolom agama yang harus dihilangkan dari KTP, tapi juga kolom pekerjaan. Apakah mungkin kita mengisinya dengan, "Kami Menolak Bekerja Lagi!"