27.7.07
"Hidup Kangen Band!"
(kata kawan saya suatu sore)
Iseng, saya coba search pendapat para blogger tentang Kangen Band. Ini di antaranya:
Fenomena Kangen Band
Kangen Band, Band Terbaik di Indonesia!
Kangen Band
Fenomena Kangen Band
Keberuntungan Tanpa Kualitas dari Kangen Band
Kangen Band dan Bakekok Lainnya
Kangen Band
Kangen Band
Fenomena Langka dan Aneh yang Membuat Saia Tidak Kangen!
25.7.07

"Tidakkah kau tahu kuselalu mencari waktu tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku bersinar resah dan jiwaku telah lelah"
(Di Relung Kamarku, Katon Bagaskara)
Sabtu siang yang membosankan dikejutkan dengan pesan pendek dari seorang teman lama, Andri. Mengabarkan bahwa ada undangan untukku: seorang teman menikah. Well, di tahun ini, satu orang lagi kawan menikah. Aku menjanjikan kehadiranku. Momen-momen seperti ini biasanya akan menjadi wahana interaksi kembali dengan kawan-kawan lama. Karena acaranya di Bandung, aku meminta Andri untuk mau menjemputku di Jatinangor sebelum ke tempat acara. Dia menolak, menurutnya Mila, mantan pacarnya, akan datang ke kostnya. Ya, tentu saja itu berarti merepotkan. Aku katakan tak apa, bertemu di tempat acara saja.
Namun, tiba-tiba di sore hari situasi berubah. Mila mengurungkan niatnya untuk datang ke Bandung. Untuk alasan yang entah, dia memilih tetap di Jakarta dan akan kembali akhir bulan nanti. Andri mengabariku perihal ini. Aku katakan, "Malam ini, aku ke tempatmu. Menginap di sana dan berangkat dari sana."
Hari Minggu ternyata tak seperti dugaanku. Beberapa orang teman tak bisa datang karena ada saja agenda-agenda personal yang tak bisa ditinggalkan. Ini menyebalkan, mengingat intensitas pertemuan kami yang semakin berkurang saja. Terlebih ketika Rumah Biru, tempat kami biasa berkumpul, habis masa kontrak. Dasuki harus menjaga bayi perempuannya yang baru lahir. Dahrun harus segera kembali ke Cimahi, tempatnya mengajar. Samsul di Jakarta dan tak bisa ke Bandung. Dan yang paling menyebalkan adalah Epul tak bisa karena harus bekerja di kantornya. Hari Minggu dan harus bekerja!
Jadi, hanya aku dan Andri yang datang. Berdua kami naik motor ke tempat acara. Menyampaikan salam teman-teman yang tak bisa hadir, mengucapkan selamat dan pulang. Kawanku yang menikah, berbahagia sekali. Roman mukanya tak bisa menutupi itu. Sementara, keesokan harinya, seorang kawanku yang lain di kota yang lain lugas bilang padaku, "Aku tak tahu apa gunanya menikah."
Sepulang dari tempat resepsi, aku dan Andri memutuskan untuk datang ke kantor tempat Epul bekerja. Sedang sibuk. Baru lima menit duduk di lobby, tiga cangkir kopi datang. Sesekali Epul datang untuk duduk minum kopi bersama. Berkali-kali dia kembali masuk ke dalam ruang kantornya menyelesaikan urusan ini itu. Bukan hanya Epul di hari Minggu itu yang bekerja. Dua orang perempuan juga kulihat sedang bekerja. Memeriksa dokumen-dokumen dan sibuk di depan layar monitor komputer. Pasti ini hari Minggu yang tak cerah untuk keluarga mereka, untuk anak dan istri Epul di rumah.
Menjelang sore, pekerjaan tampaknya selesai. Epul duduk bersama kami menikmati kopi. Dia bertanya, "Mila gak datang?" Andri hanya tersenyum. Aku yang sedari tadi diusili lantaran kisah rumit masa laluku bersama seorang teman, menyentil, "Jangan-jangan Mila dan Samsul pacaran di Jakarta?"
Semua tertawa. Dan Epul menyambung, "Masuk akal! Kemarin Samsul bilang ke aku kalau dia sudah punya pacar, 'baru, tapi tidak baru'." Pasti bukan orang baru. Hanya baru pacaran saja, maksudnya. Dan salah satu kemungkinannya memang mengarah ke sosok Mila. Dulu kami menghabiskan waktu bersama-sama di Panorama E 12. "Gak Menyangka, Samsul ternyata ikut-ikutan." Kami tertawa.
"Gak mungkin," kata Andri. "Gue mah beda sama loe," mukanya mengarah ke saya. Tertawa lagi.
Tiba-tiba hari Minggu itu jadi menyenangkan. Epul mengajak aku dan Andri ke rumahnya. Kami menyanggupi. Sampai rumah Epul, istrinya membuka pintu dan langsung mengembangkan senyum. Anaknya yang masih dua tahun bersembunyi di balik kaki ibunya. "Kalian harus makan malam di sini," kata istrinya. Belum ada sepuluh menit sejak kami datang, makanan sudah tersedia di depan kami. Nasi dan lauk-pauknya. Di rumah hangat itu, kami makan berramai-ramai. Selepas makan, kopi muncul dari dapur. Epul sekeluarga bersama aku dan Andri menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol.
Olok-olok soal 'Mila-Samsul' terus berlangsung di beranda rumah itu. "Ada kabar buruk, De," kata Epul pada Ade, istrinya. "Samsul pacaran sama Mila!" Ade tertawa-tawa. "Untung aja kita nikah," sambung Ade seraya tertawa. Andri jelas misuh-misuh. Dia mengeluarkan ponselnya, dengan speaker phone dia menelepon Mila. Telepon diangkat, suara Mila di Jakarta. "Mila, kamu bener pacaran sama Samsul?" Tanya Andri. Alih-alih menjawab, Mila malah tertawa-tawa. "Hahaha. Mila tuh maunya sama Imam, nungguin Imam dari dulu. Ada Imam gak di sana?" Jawab Mila sambil tertawa. "Ada nih," Jawab Andri. Lalu Mila berbicara padaku, "Mam, kapan atuh pendekatan ke Mila? Mila nungguin kamu terus nih." Aku tertawa saja, "Imam gak bisa, Mil," jawabku singkat. Yang tak disangka adalah Mila malah jadi mengolok-olokku, "Payahhh, masa gak bisa. Si itu aja bisa." Semua orang tertawa senang. Tentu saja, selain aku yang cuma bisa tertawa kecil. Di akhir pembicaraan, kami sepakat untuk merencanakan perjalanan bersama. Mungkin akan ke Ciwidey atau Pantai Batu Karas.
Pukul sepuluh malam Andri dan Epul berencana main ke kamar kostku yang baru. Tak satupun dari mereka yang tahu. Epul meminta izin ke istrinya dan pamit ke anaknya, "Mungkin pulang malam sekali." Bertiga kami ke Jatinangor, lima belas menit perjalanan. Dan terasa, malam itu menjadi malam yang panjang. Saling tertawa tak henti. Memutar kembali masa lalu: Bermain domino dengan winamp playlist Ari Lasso, Bintang dingin, dan Djarum Super. Sebuah kegiatan yang kami mulai bertahun-tahun lalu. Kalau bermain domino, ya harus memutar lagu-lagu Ari Lasso. Kalau ada yang kalah, ya memakai helm motor. Kalau memakai helm, ya tak bisa merokok Djarum Super. Dan Bintang dingin membuat semuanya menjadi ringan malam itu.
21.7.07
Pagi ini seorang kawan meminta rekomendasi blog yang bagus pada saya. Saya cuma ingat satu blog. Ini sekaligus mengingatkan saya akan keinginan saya untuk memberitahukan blog ini ke banyak orang. Ingin sekali. Sejak pertama kali membacanya saya langsung jatuh hati pada tulisan-tulisan di dalamnya. Mengingatkan saya pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar saya, pada pikiran-pikiran kecil, pada kisah-kisah hidup yang manis atau yang tak manis. Setelah membacanya, saya selalu saja dibuat untuk mengambil jeda untuk satu dua hela napas. Menikmatinya seperti saya menikmati secangkir capuccino mahal di foodcourt Pasaraya (yang cuma sekali saya rasakan dengan momen yang luar biasa) atau secangkir kopi Aroma. Saya tak tahu siapa penulisnya. Percayalah, bukan karena dia tak terkenal. Tapi, karena saya kurang bisa bergaul.
Blog itu, www.pewariswaktu.wordpress.com
18.6.07
10.6.07
: yang bertanya ‘mengapa’ di satu senja di tepi jalan
Ketika begitu banyak duri yang tertancap di tapak kaki, atau ketika udara tiba-tiba menjadi begitu sulit dipilah mana yang bagus untuk paru-paru dan tidak, atau juga ketika mata menjadi enggan terpejam, meski rasa-rasanya telah bergantung beban berkilo-kilo beratnya di lentik bulu mata, kita tak tahu lagi apa harus kita perbuat. Kita menyerah. Menundukkan kepala, tanpa mengeluh atau tidak.
Matahari sementara itu selalu beredar pada garisnya. Tak hendak melenceng atau berontak barang sedikit. Menjadi pengingat yang mendera-dera kehidupan. Di tanah-tanah basah embun, di aspal-aspal buram, di pucuk daun muda, di tas kusam anak sekolah. Memancarkan sebuah semangat yang mesti ditelan tanpa dikunyah.
Kehidupan seolah-olah cuma sesuatu yang buruk rupa dan setengah mati ingin selalu kita hindari.
Lalu ingatan kita melayang kepada suatu pagi yang gagal sepuluh tahun lalu. Tak satu pun benih kita tanam di tanah belakang rumah kita. Tak secangkir pun minuman hangat tersaji di meja samping ranjang kita. Kita kosong – dan sepi. Di sudut kamar, ada terlihat arus cahaya menimpa baju-baju kumal kita. Bergeser senti demi senti mendekati selimut kaku.
Kita lantas tahu hari telah berganti lagi. Namun, betapa terkutuknya ia, betapa sialnya manusia, kita juga tahu itu adalah hari yang sama belaka seperti hari-hari yang sudah.
Keriuhan di luar kamar kita tak terdengar serupa lagu cinta lagi. Membuat kita semakin enggan untuk membuka telinga baik-baik. Di kamar ini, kita tahu, labirin ini tak akan dan tak akan pernah bisa kita pecahkan.
Tapi kita seperti terhukum untuk terus mencari. Membongkar-bongkar laci ingatan, meniti tiap-tiap senti kamar kita, melepaskan sprei kasur kumal kita, menurunkan bantal-bantalnya: berharap menemukan kunci pembuka pintu kepala kita yang kita yakini terselip entah di mana. Kita seperti tak pernah tahu itu adalah semacam laku sia-sia. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Dan dari sana, serupa monster, kemudian bermunculan bayang-bayang hitam buruk rupa yang mengejar-ngejar kita. Hendak menerkam kita justru saat kita terbaring lemah. Hendak melumat kita justru saat kita terkapar lelah. Hendak mencengkeram kita justru saat kita terjatuh-jatuh. Kita ketakutan. Ketakutan. Membekap telinga dan memejamkan mata. Air mata mengalir pelan dari pelupuk. Tak mampu lagi berteriak meski teramat ingin. Tak mampu lagi berlari meski teramat ingin. Hanya meringkuk dalam diam. Menundukkan kepala. Berupaya berpikir panjang dan dalam. Lalu mencoba lagi mendongakkan kepala dan menemukan bahwa ternyata tak ada sama sekali yang mengejar kita.
Dan kita tersadar: yang paling jahat dalam hidup ini adalah pikiran kita sendiri.
Matahari masih akan terus beredar. Matahari masih akan terus berpendar. Di tengah lapang, dengan sukacita kita angkat kedua tangan kita. Sebuah isyarat kekalahan. Sebuah isyarat untuk menyerah.
Kita tahu, betapa kita tahu, untuk hidup seabsurd ini, yang paling layak adalah menelan sekian kutukan dan lalu duduk diam.
Perempuan, saya kalah....
8.6.07
30.5.07
Seratus Tahun Tak Terlupakan
“Sama sekali tak ada yang salah. Aku tahu, semua penulis pasti akan menyetujui ini.”
Itulah kalimat yang dilontarkan Anne Bernays, novelis yang juga istri Justin Kaplan, pemenang Pulitzer, ketika mengomentari Penghargaan Nobel Bidang Kesusastraan yang diberikan Komite Nobel Akademi Swedia kepada Gabriel Garcia Marquez. Jumat 22 Oktober 1982, harian Boston Globe mengabarkan itu. Diberitakan pula bahwa salah satu ruang kelas di Departemen Sastra Universitas Harvard mendadak riuh dengan suara tepuk tangan para mahasiswa sesaat setelah Profesor Juan Marichal mengabarkan ihwal penghargaan itu kepada isi kelas.
Marquez menjadi legenda baru yang dipuja begitu banyak kalangan. Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude), yang terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol pada 1967 sebagai Cien Anos de Soledad, kemudian dibaptis banyak kritikus sebagai novel terbaik di abadnya. Novel inilah yang mengantarkan Gabito, demikian ia biasa disapa, menjadi nobelis.
Di Amerika Latin, terutama di Kolombia dan Meksiko, konon novel ini lebih laris ketimbang Alkitab. Itu memang tanah kelahirannya. Ia lahir di Aracata, Kolombia pada 6 Maret 1928 (sedang ayahnya lebih yakin kalau ia lahir pada 1927). Di angkasa Amerika Latin pula namanya menjulang tinggi. Ketenarannya melampaui presiden dan hanya bisa ditandingi oleh bintang sepak bola atau ratu kecantikan. Silvana Paternostro, jurnalis yang sempat berguru pada Marquez, menuliskan dengan sangat apik ketenaran sang maestro, “Namanya muncul di kontes-kontes kecantikan kami sesering nama Paus. Jawaban para kontestan jadi repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Marquez. Siapa yang paling kamu kagumi? Ayahku, Paus, dan Garcia Marquez. Siapa yang ingin kau jumpai? Garcia Marquez dan Paus. Bila pertanyaan yang sama diajukan pada jurnalis Amerika latin, jawabannya bisa jadi sama—kecuali soal Paus barangkali.”
Suatu hari di tahun 1995, sekelompok gerilyawan menculik kerabat mantan presiden Kolombia. Tuntutan mereka: Gabriel Garcia Marquez menjadi presiden. Mereka menulis dalam permohonan mereka, “Nobel, tolong selamatkan Tanah Air!” Di tahun 1994, saat pertemuan Negara-Negara Non-Blok digelar di Cartagena, Marquez hadir bersama rombongan delegasi Kuba. Saat itu berkembang isu akan terjadi pembunuhan terhadap Fidel Castro, Presiden Kuba. Untuk melindungi Castro, Marquez menaiki delman yang sama dengan Castro dan berdesak-desakkan dengan tiga orang lainnya. “Di Kolombia sini bila aku naik panggung, tak seorang pun bakal menembak,” kata Marquez kepada Castro.
Semuanya bermula saat Marquez menjenguk kembali kota masa kecilnya, Aracataca. Di sini ia dibesarkan di rumah kakeknya yang begitu penuh cerita. Dan bersama inilah Marquez kecil tumbuh: rumah besar penuh hantu, percakapan-percakapan lewat kode-kode, mereka yang mampu meramalkan kematinan mereka sendiri, dan yang sangat membekas barangkali adalah pembantaian para pekerja perkebunan pisang. Nama perkebunan itu Macondo, sebuah nama yang kemudian diabadikan Marquez sebagai kota (imajiner) di Seratus Tahun Kesunyian. Sejarah pembantaian pekerja perkebunan pisang itu sendiri tak pernah tertulis di buku-buku teks sejarah, hal yang membuat Marquez terheran-heran di masa-masa sekolah. Nostalgia-nostalgia pada hal-hal itulah yang membuat Marquez menelantarkan istri dan keuangan rumah tangganya selama berbulan-bulan. Hasilnya? Seratus Tahun Kesunyian dan setumpuk tagihan.
Seratus Tahun Kesunyian bercerita soal sejarah keluarga besar Buendia dan segala macam hiruk-pikuknya di Macondo, sebuah kota yang tak akan pernah ditemukan di peta lanskap Amerika Latin. Ceritanya bermula dari kisah Jose Arcadio Buendia dan kedua anaknya yang untuk pertama kalinya melihat es balok yang dibawa gypsi ke Macondo. Saat itu Jose Arcadio Buendia menjadi begitu terpesona pada es yang awalnya ia sangka intan terbesar di dunia. “Ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah kita,” kata Jose Arcadio Buendia.
Itu, diakui Marquez, dilakukan setelah ia merasa mendapat visi (penglihatan) ketika ia bersama anak istrinya hendak menuju Acapulco. Ia teringat bagaimana neneknya seringkali mendongenginya cerita-cerita fantastis dengan gaya yang dingin. Dalam penglihatan itu ia melihat, “cerita itu harus diceritakan dengan cara bercerita yang biasa digunakan neneknya, dan dimulai dari suatu sore di mana seorang bapak membawa anaknya demi melihat es.”
Lalu cerita-cerita fantastis dan penemuan-penemuan “besar” tergelar: cerita soal usaha menciptakan emas, hantu-hantu korban pembantaian, karpet terbang, hujan berhari-hari, wabah lupa, kisah-kisah cinta yang rumit, anak yang memiliki kegemaran makan tanah, dan lain sebagainya. Semuanya diceritakan Marquez seolah hal-hal itu adalah perkara biasa saja. “Nenekku selalu mendongengkan hal-hal paling liar dengan nada yang sungguh alami.”
Seratus Tahun Kesunyian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan terjual lebih dari 8 juta kopi. Di Indonesia sendiri bahkan novel itu telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Seratus Tahun Kesunyian bukan lagi cuma sekadar novel tonggak Amerika Latin, tapi juga novel tonggak dunia. “Don Quixote-nya Amerika Latin,” kata Pablo Neruda.
Novel karangan seorang mahasiswa hukum drop-out ini, mampu membuat Jennifer Lopez berkomentar, “Apa yang membuaku bangga sebagai seorang latin adalah Seratus Tahun Kesunyian!” Sebuah novel yang barangkali sulit dihilangkan dalam buku-buku sejarah kesusastraan dunia.
13.5.07
Di akhir sebuah acara diskusi, pementasan teater, dan pemutaran film tentang penyair yang hilang, saya bersama beberapa orang kawan memutuskan untuk membantu memberes-bereskan tempat acara. Dispenser, galon air minum, dan karpet yang dipinjam dari tempat saya, bisa dibawa pulang langsung ke tempat saya. Oleh siapa? Ya, oleh saya.
Tentu saja ketiga barang itu tak bisa saya bawa sendirian. A bilang mau ikut membantu. R, tentu tak bisa saya minta bantuannya. Ia sendiri ragu, sepertinya ia akan pulang langsung ke Bandung. Maka aku bertanya pada D dan M, pasangan muda yang selalu bikin iri, “Kalian mau ke mana setelah ini?” Biasanya mereka akan singgah dan nongkrong sejenak di tempat saya. Saya berpikir untuk meminta bantuan mereka berdua.
“Yee, mau tahu aja!” Tiba-tiba suara dari orang yang tidak kuharapkan jawabannya terdengar. Kasar seperti mengejek. Nadanya menyakitkan dan sama sekali tak lucu. Menjengkelkan.
“Oh, begitu cara mainnya,” ujar saya dalam hati.
D saya lihat tersenyum pada saya, “Sip, saya bantu,” kata dia.
Setelah itu, sampai pagi saat saya menuliskan ini, kedongkolan menjadi-jadi.
11.5.07

“Pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa dikerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”
(Pramoedya Ananta Toer kepada wartawan mahasiswa POLAR, Fisip Unpad)
Setahun sudah Pram pergi meninggalkan bumi manusia ini. Lagi dan lagi, rasa kehilangan itu menyusup ke dalam benak banyak pembaca karya-karyanya. 30 April 2006, setelah pesan-pesan pendek hiruk-pikuk membawa kabar kabur tentang kematian Pram di langit Indonesia, Pram benar-benar wafat ada pukul 08.55. Dua jam kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan lalu diantar ke Karet Bivak.
“Kehendak mulia di dalam dunia, senantiasa tambah besar,” sepenggal lirik lagu Internasionale berkumandang mengantar Pram ke liang lahat.
Seandainya dunia adalah pasar malam. Tentu tak ada perasaan ditinggalkan oleh sang maestro. Tapi dunia memang bukan pasar malam. Orang tak “ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati.” Pernah Pram menulis, “Manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.” Maka yang tertinggal bukan cuma merasa cemas menanti-nanti saat kepergian, tapi juga cemas merasa kehilangan ditinggal mereka yang lebih dulu pergi.
Setahun sudah. Dan apa pula arti hidup Pram yang 81 tahun itu? Buku-buku karyanya dilarang bangsanya sendiri, tak diajarkan dibangku sekolah, tak ada pemulihan nama baik, tak ada klarifikasi soal hukuman-hukuman yang ia telan, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Terbakar amarah sendirian?
Diterjemahkan lebih dari empat puluh bahasa dan jadi bacaan wajib di sekolah beberapa negara. Di negeri sendiri?
Terkenang-kenang orang-orang pada Pram. Pada Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, pada banyak karya-karyanya. Terkenang-kenang mereka di Australia yang membaca karya-karyanya dan lantas menyuratinya, mengabarinya bahwa betapa mereka menikmati karya-karyanya itu dan bagaimana hidup mereka berubah karena membacanya.
Pram datang membawa kisah dan menjadi kisah. Kepergiannya meninggalkan banyak hal untuk generasi sesudahnya. Melawan dan melawan. Orang kuat, lebih kuat dari jenderal besar yang melarang buku-bukunya. Jenderal besar takut pada kata-kata. Kata Pram, “Adalah tidak benar meninggalkan dunia ini dengan diam-diam” (Rumah Kaca).
“Dengan tangan satu memenangkan perjuangan rakyat, dengan tangan lain mengabdikannya dalam sastera.” Kalimat Pram tepat menggambarkan dirinya sendiri. Deposuit Potentes de Sede et Exaltvatat Humiles (Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina). Sebagaimana kalimat itu menutup tetralogi Buru, seperti itu pula hidup Pram ditutup.
Sampai jumpa, Pramoedya!
(printed version: klik pikiran rakyat)
10.5.07
Bisakah hidup melulu sore? Karena sore memang selalu sempurna menyimpan setiap yang ringan dan senang.
Tak pernah matahari terlalu terik, menyengat dan membuat susah. Dan di tanah lapang selalu saja kau pertaruhkan badan bersih sehabis mandi demi menyambut senja dengan sepak bola. Menukar kepenatan hari ini dengan keringat dan renyah tawa bersama sebaya.
Karena di sore hari angin begitu lembut, memagut rambut tanpa pernah ribut. Begitu tenang hingga membuat kau nyaman. Kau tersenyum, langkah demi langkah. Trotoar tak menyisakan apa-apa kecuali kedamaian yang membuat kau enggan untuk berhenti. Berjalan terus menjauhi malam.
Karena di sore hari kau suka bersama kawan-kawanmu. Mengitari gelas-gelas kopi dan teh hangat, bermain gitar dan bercanda lepas. Kau begitu gembira mendengar cerita kawanmu yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Kau lihat dia melepas kancing kemeja teratasnya dan meluruskan kaki. Di beranda kamarmu, kau berkhayal ada seribu bunga mekar di setiap sisi.
Dan jika kau sendiri, kau tak pernah lupa untuk membaca buku. Buku-buku yang menghadirkan dunia yang baru untukmu, sore yang baru untukmu. Kau memanaskan air demi segelas teh hangat. Kau menyiapkan kursi yang menghadap ke barat. Kau membasuh muka yang mulai letih. Kau menghirup udara yang tak lagi sesak. Kau duduk membaca dan menghirup aroma yang menguap dari gelasmu. Seperti kemarin saat kau lihat seorang anak kecil duduk bicara bersama dua sahabatnya yang sudah tua di reruntuhan gedung kesenian dalam sebuah buku.
Kau bermimpi. Terus bermimpi.
Bermimpi kau berada di pantai. Duduk di atas pasir hangat. Di samping seorang kawanmu yang mengalunkan gitar. Di hadapanmu, seorang kawanmu mengurai cerita-cerita. Sepuluh langkah di serong kirimu seorang kawanmu menari. Lima langkah di belakangnya seorang lagi kawanmu membuat istana pasir. Dan kau melihat kawan-kawanmu yang bermain ombak seraya bernyanyi-nyanyi.
Kau bermimpi berada di lembah. Lanskap yang membuatmu tak lagi menginginkan apapun. Di sebuah pondok tua yang selalu saja tak pernah kehabisan minuman-minuman hangat untuk teman berbagi cerita bersama siapa saja. Di samping kebun yang kau kelola sepanjang pagi. Di dekat sekolah tempat ramai anak kecil berlomba gaduh. Kau tak ingin berlari dari apapun, semua diterima dengan hangat di pondok kecil itu.
Kau terus bermimpi dan bermimpi. Sampai kau tersadar sore ini bukan yang pertama kali kau menginginkan hidup melulu sore.
Saya tak tahu lagi sesungguhnya siapa saya dan mau apa saya. Utara. Selatan. Timur. Utara. Barat. Selatan. Utara. Seperti tak punya lagi energi untuk mengenali diri sendiri. Hanya bisa terpaku dan terdiam mendapati kenyataan ini menggenangi.
Saya kehilangan kompas.
Menghabiskan hari demi hari dalam labirin sunyi dan gelap. Tak ada benang untuk saya rentangkan sebagai petanda jejak-jejak.
Celakanya, saya tak tahu lagi situasi seperti apakah yang seharusnya terjadi dalam hidup saya. Jika saja diri saya adalah sebatang lilin, ingin betul saya mendapati diri saya sebagai lilin yang sisa sekian mili saja. Sumbunya telah menghitam dan nyaris habis, apinya hampir padam. Jika diri ini serupa tanaman, ingin saya temukan diri saya ini sebagai tanaman tanpa bunga dengan sehelai daun tua yang pasti luruh dimain-mainkan angin.
Saya sepi. Kesepian.
Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak bicara tentang hal-hal remeh yang ingin saya bicarakan. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya percayai untuk saya ceritakan rahasia-rahasia saya. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Saya ingin ada orang yang memaki saya, dan saya terpuaskan karenanya.
Saya tahu, barangkali saya telah melangkah terlalu jauh dan tanpa perhitungan masak-masak. Dan kini di sinilah saya, teronggok sebagai bangkai. Di tengah hutan, saya adalah bangkai domba yang babak belur dihantam harimau. Di pinggir jalan, saya adalah bangkai anjing yang selalu jadi sasaran kejahilan anak-anak. Di atas trotoar, saya adalah bangkai gelandangan yang tak sekali pun sempat menikmati roti yang ia lihat di etalase sebuah toko kue. Di dunia ini, saya adalah bangkai dengan mata yang jarang mau tertutup dan paru-paru yang enggan berhenti bernapas.
Seperti patung batu yang tak pernah juga mau tahu begini hukum hidup berlaku:
“Penderitaan diri sendiri itu pantas untuk ditukar dengan kesenangan orang lain.
Kesenangan orang lain itu pantas untuk ditukar dengan penderitaan diri sendiri.”
Hidup melulu mereguk kekalahan. Dunia paket plus dengan batas minimal usia untuk bersuara.
Hidup adalah sendiri. Tak ada kawan tak ada lawan. Hanya sendiri. Berkawan dengan diri sendiri dan berlawan dengan diri sendiri. Serupa Tuhan atau Nietszche. Bukan serupa Ratna atau Galih.
O, meledaklah bunga-bunga taman, berkejaranlah pohon-pohon tepi jalan, menyelamlah langit-langit, membuncahlah buih-buih. Buat sedikit kegaduhan, selayak pesta-pesta untuk perayaan perpisahan.
1.5.07
Mereka telah memiliki hari-hari mereka sendiri, dan cukup banyak. Hari Jadi TNI, Hari Kesaktian Pancasila, dan hari-hari lainnya. Dan kami juga memiliki hari kami sendiri, hanya satu memang, tetapi hari tersebut adalah milik kami. Hari-hari mereka memperingati peperangan, mengenang keagungan para Jenderal di atas darah mereka yang tak bernama, mengingatkan kekuasaan militeristik. Mereka menancapkan monumen mereka di berbagai tempat. Nama para Jenderal, para penakluk yang mati seperti lalat yang mengerubungi mereka, sementara rakyat jelata yang mati untuk mereka tetap saja tak bernama. Mereka selalu mengumandangkan kemenangan melalui para ulama dan pendeta untuk memperlihatkan betapa darah yang tertumpah demi para pemimpin adalah demi kesucian jalan menuju surga. Sementara kami punya hari kami sendiri, festival kami, milik kami yang harus bekerja siang dan malam. Ini adalah milik kami, para pekerja dan tak ada kaitannya dengan para pembesar tersebut di atas. Dan apabila kalian pikir hari milik kami ini adalah tradisi yang bukan berbasiskan lokalitas, pertanyakan, apakah etika kerja yang kami kenal dan hidupi sekarang ini adalah sebuah produk lokal?
Lantas, siapakah para pekerja itu sebenarnya? Pekerja adalah orang-orang seperti kami yang setiap harinya harus selalu hadir di tempat kerja, melakukan tugas yang seringkali tidak dipahami gunanya selain demi keuntungan perusahaan, makan siang, bergabung kembali dengan dan sebagai mesin, pulang sore atau malam hari untuk hanya merasa begitu letih dan tak mampu melakukan aktifitas apapun selain duduk menonton televisi, minum-minum di kafé, menonton film dan tertidur pulas. Dan itu semua bagi kami adalah demi di akhir atau awal bulan berharap upah akan diterima tepat pada waktunya—sementara bagi para pembesar artinya adalah uang yang selalu mengalir deras. Bangun, menjadi mesin, pulang, memulihkan tenaga, tidur, bangun, menjadi mesin... dan begitulah seterusnya hidup kami saat ini. Sedari lahir di dunia ini, kami semua dipersiapkan untuk bekerja. Sebagian dari kami memang masih bersekolah dan belum bekerja. Tapi sekolah bagi kami adalah sebuah pabrik yang mencetak kami yang awalnya terlahir bebas, untuk menjadi produk-produk impoten yang dapat engkau perjualbelikan di bursa kerja. Sebagian dari kami memang menganggur dan tersingkir dari bursa kerja, dan kami terpaksa berebut di antara kami sendiri demi agar seseorang mengucurkan upah bagi kerja-kerja kami. Bagi kami, tak ada pilihan yang tersedia selain hidup dengan cara bekerja, menghamba pada otoritas, mengikuti aturan dan tunduk sepenuhnya, demi mengharap upah. Kami terpaksa hidup sebagai seorang hamba.
Lantas, siapakah dirimu? Apakah isi hidupmu seperti hidup kami? Bila jawabnya ya, maka mari bergabung bersama kami, barisan pekerja dalam perayaan Hari Pekerja Internasional tanggal 1 Mei (M1), untuk bersama menghapuskan sistem penghambaan, selamanya.
Menghidupkan May Day – Menghidupkan Robin Hood
Dalam era permulaan tradisi pagan, May Day (yang secara harfiah berarti “Hari di Bulan Mei”) adalah sebuah festival fertiltitas (kesuburan), sebuah karnaval seksual yang membumi; Maypole, sebuah simbol falus dicemplungkan ke dalam sebuah lubang basah bundar yang digali di atas muka bumi—ritual perayaan yang menyimbolkan hari erotis ini. May Day adalah sebuah festival yang pada masa tersebut tak dapat dikontrol oleh otoritas apapun. Tradisinya, para lelaki dan perempuan muda masuk ke dalam hutan pada malam sebelum May Day, untuk memetik bunga, dan “menghadirkan Mei” serta menemukan falus yang dirasa tepat. Dan, dari kegelapan malam di bumi, dari “ratusan perawan yang memasuki hutan malam tersebut, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang kembali ke rumahnya dalam keadaan masih perawan”. Seks di bulan Mei tersebut diikuti dengan perayaan pernikahan di bulan Juni—alasan mengapa bulan purnama Juni diistilahkan dengan “bulan perawan” dan lantas lahir juga istilah “bulan madu” yang diasosiasikan dengan perayaan pernikahan tersebut.
May Day adalah juga sebuah hari keriangan dan berkembangnya bunga-bunga. Abad pertengahan, di hutan pinggiran kota London, sekelompok orang yang berpakaian dan bertudung hijau serta dipimpin oleh seseorang yang menggunakan nama Robin Hood (yang juga dikenal sebagai “Orang Inggris yang Ceria”) selalu mengadakan pesta di awal bulan Mei—setelah pada hari-hari lainnya merampok harta-harta para penguasa lalim untuk kemudian didistribusikan bagi rakyat jelata. Hal tersebut juga menandai awal “Bulan Mei yang Ceria”, di mana orang-orang yang ceria tersebut merayakannya dengan mengadakan pesta di hutan-hutan hijau, di tengah berkembangnya bunga-bunga.
May Day adalah hari penegasian, penjungkirbalikkan, yang merupakan karnaval untuk menjungkirbalikkan waktu kerja menjadi waktu bermain, menjungkirbalikkan status-quo, memahkotai Ratu Mei (Queen of May) yang dipilih dalam festival tersebut oleh rakyat jelata, saat festival dikomandoi oleh Raja Pembangkangan (King of Disobedience). Dan orang-orang berpakaian hijau memberikan lampu hijau bagi segala tindak pembangkangan pada keteraturan yang menyelimuti penindasan. Ini adalah juga hari di mana rakyat merayakan hari-hari rakyat di atas tanah-tanah rakyat. Mereka merayakan ritual-ritualnya di atas tanah, yang juga merayakan hak-hak rakyat atas tanah.
Tapi di akhir abad tersebut, ratusan orang dan festivalnya mulai melenyap akibat aksi perampokan yang dilakukan oleh rezim Puritan atas tanah-tanah dari para pengelolanya, dari situs-situs mereka, dari festival mereka. Dengan menghilangnya hak-hak atas tanah tempat mereka menghadirkan festival, tradisi tersebut juga turut lenyap. May Day secara virtual juga mulai dilarang. Tahun 1644, rezim Puritan Inggris mendeklarasikan bahwa tradisi May Day sesuatu yang ilegal. Tahun 1644 tersebut adalah tahun terburuk bagi keriangan May Day. Semua tokoh-tokoh yang dirayakan dalam May Day—Robin Hood, Ratu Mei, Raja Pembangkangan—ditransformasikan sebagai tokoh-tokoh kriminal.
Di abad-abad berikutnya, May Day dan semangat karnavalnya semakin direpresi oleh dua hal yang paling dibenci rakyat jelata kala tersebut: Revolusi Industri dan rezim moral Victorian. Semakin banyaknya kelas menengah di Inggris era Victorian memunguti apa yang ditinggalkan oleh rezim Puritan: penolakan atas keriangan yang tanpa izin, pesta-pesta yang tak berlisensi. Tak ada lagi pesta-pesta vulgar, tak ada lagi hari-hari raya rakyat. Semua diatur dengan aturan moral baru, moral yang bukan milik rakyat jelata, moral yang hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang untuk mendapatkan ijin, kaku, penuh basa-basi dan tekanan kepatuhan.
Revolusi Industri adalah sebuah revolusi yang mematikan keriangan. Di abad ke-12, rakyat jelata dalam satu tahun memiliki 8 minggu festival dan “hari-hari suci” (holy days yang kemudian dikenal menjadi holidays atau hari libur). Tapi bagi pabrik-pabrik yang dilahirkan oleh Revolusi Industri, ‘hari libur’ adalah bencana, dan karenanya hari-hari libur dan karnaval semakin dikikis dengan masif serta di sisi lain jam kerja semakin ditingkatkan—tak jarang pada masa tersebut yang berlaku adalah 18 jam kerja per hari atau bahkan seringkali lebih. (Hal ini juga dilegitimasi oleh kebohongan Benjamin Franklin yang menelurkan istilah terkenal “Waktu adalah Uang”, yang sampai saat ini mengesampingkan fakta yang mempertanyakan “Uang untuk siapa dan dari hasil kerja siapa?”).
Dalam abad ke-19 May Day menjadi sebuah fokus kampanye untuk mengurangi jumlah jam kerja. Sebuah pemogokan besar-besaran digelar di Amerika Serikat dan Kanada selama May Day tahun 1886. Setelah demonstrasi tanggal 4 Mei, 8 orang anarkis ditangkap dan 3 dari mereka dihukum gantung atas kampanye mereka yang menyerukan perubahan jam kerja menjadi 8 jam per hari—mereka yang kemudian dikenal sebagai “Martir-Martir Chicago”. Tahun 1889 May Day dideklarasikan sebagai Hari Pekerja Internasional untuk mengenang kematian para martir tersebut. Dan hasil perjuangan mereka adalah disetujuinya secara legal jumlah 8 jam kerja per hari yang kita rasakan sekarang ini. Fenomena May Day sebagai Hari Pekerja dibentuk juga oleh para pekerja yang menolak untuk bekerja pada tanggal 1 Mei, untuk membuktikan bahwa tanpa para pekerja, maka boss, pemerintah atau siapapun juga adalah bukan siapa-siapa.
Pertumbuhan industri berarti juga pengurangan waktu luang. Seorang filsuf, Aristoteles, menulis, “Alam memberikan pada kita bukan hanya kemampuan untuk bekerja, tetapi juga kemampuan untuk bersantai.” Bertrand Russel, dalam karyanya In Praise of Idleness (1935) berpendapat bahwa seseorang seharusnya bekerja tidak lebih dari 4 jam sehari agar hidup seseorang lebih sehat. Ia berkata, “Ada terlalu banyak kerja yang dilakukan di dunia ini dan berbagai kerusakan ditimbulkan akibat keyakinan bahwa kerja adalah sesuatu yang baik.” Waktu luang, sebagai kontrasnya, “adalah sesuatu yang esensial bagi peradaban.” Seperti seorang anak kecil yang bebas, etika bermain jauh lebih bermanfaat daripada etika kerja.
May Day di era modern kadang dipresentasikan sebagai sesuatu yang terpisah jauh dari tradisi awalnya, dan hanya mengutip sebagian saja dari tradisi bersejarahnya. Tradisi penuh bunga, yang masih digunakan oleh para sosialis yang berdemonstrasi di jalanan abad ke-19 lalu, kini justru melenyap di era modern ini. Tapi hal penting lain yang turut melenyap adalah semangat festival dan karnaval, semangat keceriaan. Karena May Day adalah tegangan antara perayaan dan kontrol, antara hasrat popular dan politik terorganisir, antara kenangan atas kematian tragis para martir sekaligus harapan akan masa depan yang timbul atas tragedi tersebut. May Day adalah tegangan antara kematian dan kehidupan, masa lalu dan masa depan, kepedihan dan harapan.
Tetapi bagaimanapun juga, May Day, tetaplah menjadi sebuah hari yang menandai universalitas; dari rakyat biasa yang merayakan hari-hari biasanya di tanah-tanah rakyat hingga internasionalisme May Day dalam terminologi pekerja. Dewasa ini, May Day seharusnya kembali pada tradisinya dengan lengkap, dengan alasan bahwa di mana-mana tanah-tanah harus dipertahankan dari kerakusan industri—industri yang sama yang memaksa para pekerjanya untuk hidup dan mati di dalamnya, industri yang memaksa ratusan hektar tanah, air, udara hancur berantakan serta menghasilkan bencana. Bulan Mei (May) dinamakan dari dewi Maia, akar terminologi yang menjelaskan hasrat tentang “pertumbuhan” dan “kesuburan”—sesuatu yang juga harus dimaknai sebagai sebuah hasrat untuk menyuburkan benih-benih masa depan harga diri manusia yang lebih bebas, lebih adil, dan berkembang bersama alam.
Apabila Robin Hood hidup hari ini, mungkin ia akan mengkampanyekan kebangkitan melawan kehancuran global. Moto yang dikumandangkannya, “merampok para penghisap untuk didistribusikan di antara kaum miskin dan sesama” akan menjadi moto yang melawan moto hidup modern yaitu “merampok para kaum miskin untuk memenuhi dompet para korporat”. Apabila semangat Robin Hood, yang melawan ketidakadilan dan penuh keceriaan, masih hidup, maka demikian juga semangat bulan Mei; penuh benih kehidupan, selalu subur, tak pernah tua, tak pernah mati dan selalu penuh dengan keceriaan. Semoga, semangat May Day tak akan pernah lagi dapat direpresi dan akan selalu hadir bagai kilatan terang bintang jatuh di tengah langit malam yang tergelap.
Download PDF verse klik di sini
26.4.07
6.4.07
Rabu lalu seorang teman yang sedang bekerja di Jakarta mengirimi saya SMS, ''Bosen banget. Gak mood....'' Dia bilang dia ingin terbang. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung meminjam uang kepada saya untuk ibunya berobat, ''Gaji belum dibayar empat bulan.'' Kemarin malam seorang teman yang bekerja di Tangerang juga mengirimi saya SMS, ''Ini malam terakhir gue bekerja. Kontrak gue habis!'' Dan beberapa jam tadi, seorang teman yang mengambil cuti dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta, datang ke tempat saya. Disaksikan gelas-gelas kopi dia bercerita soal konflik-konflik batin yang dirasakannya dan kepusingannya melihat iklim kantor yang penuh intrik.
Barangkali, bukan cuma kolom agama yang harus dihilangkan dari KTP, tapi juga kolom pekerjaan. Apakah mungkin kita mengisinya dengan, "Kami Menolak Bekerja Lagi!"
26.3.07
Jadi seperti itu juga akhirnya, satu persatu kawan-kawanku berubah. Ada yang kasat mata, ada yang nyaris tak terasa. Tapi, mengapa terkadang ongkos-ongkos perubahan itu bisa pula sampai harus ditanggung oleh hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan itu sendiri?
Kalau memang berita dari Y itu benar, semakin tak mengertilah aku bagaimana caranya roda hidup berputar. Berkelok ke sana ke mari, tak jelas dan tak tercerna. Dan bodohnya aku tak pernah merasa bahwa keadaannya memang sudah begitu sejak lama.
Sulit rasanya untuk tidak mempercayai isi berita itu. Dari yang mampu kurasa-rasai, memang tampaknya dia sudah berubah. Berubah. Tapi, lagi-lagi, sedrastis itukah?
Ah, dunia, semakin rumit saja kau buat orang-orang menyeret-nyeret langkah.
24.3.07
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
22.3.07
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.


