Kehilangan
Senja telah jauh, udara dingin mencuri masuk dari sela-sela jendela tak berkaca, pintu tak rapat. Dua orang teman memilih pergi demi pertandingan sepakbola. Saya sendiri. Dan tiba-tiba kamar ini mengingatkan saya pada sekian rentetan kehilangan.
Entah apa sebab, kehilangan terasa akrab di hidup saya. Benda-benda, nama-nama, waktu-waktu, kesempatan-kesempatan. Pernah ada, lalu raib.
Saya tiba-tiba teringat gitar kesayangan saya. Gitar hadiah ayah saya saat saya sekolah dulu. Keinginan bermain gitar begitu menggebu dalam diri saya, membuat saya membeli sebuah gitar rusak milik kawan saya dengan harga lima ribu rupiah. Tabungnya telah kacau, lepas dan mengakibatkan gitar itu tak pernah bisa mengeluarkan suara sebagaimana gitar harusnya bersuara. Saya lalu membeli lem kayu, dempul, dan amplas. Dalam beberapa hari, gitar rusak itu berubah menjadi gitar dengan penuh dempulan. Bisa bersuara, tapi tak terlalu bagus. Saya belajar memainkan gitar. Sampai suatu hari, tak lama setelah masa gitar dempulan itu, ayah saya mengajak saya pergi ke toko buku dan menyuruh saya memilih sebuah gitar baru. Itu sore yang indah dan sulit untuk saya lupakan. Sore itu saya punya gitar baru, YAMAHA C-310. Dawainya berbahan nylon, lembut disentuh oleh jari. Suaranya, catnya, begitu nyaman didengar dan dilihat. Malamnya saya belajar menyetem gitar sendiri, dan bisa. Sejak malam itu, hingga malam-malam berikutnya, saya punya teman pengantar tidur: gitar. Beberapa lagu saya pelajari. Lambat laun, saya mulai menciptakan lagu, membuat liriknya, mengkhayalkan aransemennya, dan memberi tahu kawan-kawan saya. Jika sempat, saya dan kawan-kawan saya memainkannya dalam studio band sewaan.
Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, sebelum tidur, setelah bangun tidur, saat tak bisa tidur, saya kerap memetik gitar saya. Saya begitu disiplin dengan gitar itu: saya akan membersihkannya dengan lap bersih secara berkala dan saya tak akan menyentuh gitar saya itu setelah saya memegang makanan dan belum membersihkan tangan saya.
Hingga kemudian saya harus pergi ke luar kota demi bangku universitas. Gitar itu saya bawa dan tetap menjadi teman tidur saya yang setia. Di suatu hari minggu yang ramai, beberapa kawan yang menggelar aksi simpatik di tengah pasar, membawa gitar saya sebagai properti aksi. Mereka bernyanyi-nyanyi dan berorasi seraya membagi-bagikan selebaran. Itulah untuk pertama kalinya gitar saya punya luka di badannya. Luka kecil, tapi cukup membuat saya bersedih.
Lalu pernah juga saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan ber-camping. Kami naik ke dataran tinggi Bandung Selatan. Camping tanpa tenda. Udara dingin dan gerimis turun. Gitar itu sedikit basah dan bersuara parau. Sepulangnya, saya sibuk merawat gitar saya, menjemurnya di bawah matahari pagi, memasukkan kapur barus agar jamur tak tumbuh. Gitar itu kembali bugar.
Dan yang tak terlupakan adalah saat hujan turun begitu lebatnya dan saya tertidur di suatu siang. Kamar kost saya bocor tanpa saya ketahui. Sialnya, tetesan bocor itu jatuh tepat ke dalam lubang gitar saya. Bukan tetesan kecil, tapi tetesan deras. Gitar saya berubah menjadi wadah penampung air bocor. Saya sedih dan kesal.
Namun begitu, kenyataannya gitar itu masihlah gitar yang mampu mengeluarkan suara bagus. Seorang kawan pernah bertanya heran mengapa gitar saya masih saja bersuara bagus padahal usianya telah sepuluh tahun.
Sampai beberapa waktu lalu, di sebuah pagi yang tanpa firasat, seorang tetangga saya bercerita bahwa semalam ada pencuri yang masuk ke tempat tinggal saya dan kawan-kawan saya. Pencuri itu membuang barang curiannya berupa tas saat terlihat oleh tetangga saya itu dan lalu berlari. Tas itu milik kawan saya. Isinya utuh, buku-buku. Mungkin pencuri itu tak terlalu suka membaca. Saya cuma berkata, untunglah tak ada yang hilang. Beranjak siang, seorang teman saya yang baru datang hendak meminjam gitar saya. Pada saat itulah saya baru tersadar, gitar saya digondol pencuri malam tadi.
Saya kesal, tapi cuma bisa tertawa. Saya sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saya marah, tapi malah bertanya buat apa?
Itu salah satu kehilangan yang menyakitkan. Dua (atau tiga) pasang sepatu saya, entah berapa pasang sandal, sekian buku, belasan kaset, pakaian, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, pernah hilang dari hidup saya. Tapi kehilangan satu saja gitar, sudah cukup membuat sedih.
Di sore hari, di malam hari, terkadang saya merindukan gitar saya itu.
Dan dua malam lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk terlambat ke ponsel saya. Dari kawan baik saya. Isinya:
'temen2 bisa tlg beliin pulsa skrg ga ke nmrku ntar d ganti. mohon bgt yg 20 aja. arip bru kena musibah, kehilangan motor. doain ya mdh2 an bisa ketemu lagi.'
(23:38 arip pum).
Demi apapun, ada apa ini?! Minggu ini seorang kawan saya telah kehilangan kekasihnya, dan kini seorang kawan lagi kehilangan motornya!
19.4.06
15.4.06
Surat dari Agung
Imam sahabatku,
Dikau selalu kudoakan untuk bisa: bisa menjadi pasangan hidup Rescinta, bisa menjadi mahasiswa yang lolos juga akhirnya untuk dikerubuti toga (wisuda), bisa menjadi enterpreneur yang handal, bisa menjadi penulis yang flamboyan, bisa menjadi backpacker yang mampu menelusuri dunia dan menaklukkan Amerika Latin. Doa terbesarku adalah kamu bisa menjadi seorang bapak yang luar biasa bagi si kecilmu.
Imam tolong bangunkan aku pukul 11.00. Hidupku di tanganmu, teman. Saat ini KGB, CIA mengejar-ngejar diriku. Katanya, aku punya kesalahan besar yaitu susah tidur meski telah kututup rapat-rapat mata. Tetap saja pikiranku menembus langit-langit toko ini dan bermain ke mana dia inginkan.
Agung
(Agung temanku, semoga benar Tuhan baik hati dan menganugerahkan kita malam-malam nyenyak. Kita sudah terlalu berdosa pada raga ini: kapan terakhir kita lelapkan ia jam sepuluh malam?)
Imam sahabatku,
Dikau selalu kudoakan untuk bisa: bisa menjadi pasangan hidup Rescinta, bisa menjadi mahasiswa yang lolos juga akhirnya untuk dikerubuti toga (wisuda), bisa menjadi enterpreneur yang handal, bisa menjadi penulis yang flamboyan, bisa menjadi backpacker yang mampu menelusuri dunia dan menaklukkan Amerika Latin. Doa terbesarku adalah kamu bisa menjadi seorang bapak yang luar biasa bagi si kecilmu.
Imam tolong bangunkan aku pukul 11.00. Hidupku di tanganmu, teman. Saat ini KGB, CIA mengejar-ngejar diriku. Katanya, aku punya kesalahan besar yaitu susah tidur meski telah kututup rapat-rapat mata. Tetap saja pikiranku menembus langit-langit toko ini dan bermain ke mana dia inginkan.
Agung
(Agung temanku, semoga benar Tuhan baik hati dan menganugerahkan kita malam-malam nyenyak. Kita sudah terlalu berdosa pada raga ini: kapan terakhir kita lelapkan ia jam sepuluh malam?)
11.4.06
8.4.06
Roda Hidup
Di tengah keasyikan menonton sendirian sebuah film panjang italia, The Best of Youth, sebuah pesan pendek datang ke ponsel saya. Dari kawan lama. Kemarin dia berulang tahun, 24 tahun. Tiga tahun lalu ia menyelesaikan pendidikannya di IPB. Dan sejak tiga tahun lalu pula statusnya berubah tanpa pernah berganti: pengangguran.
Sore itu dia menanyakan kabar saya, sedang apa, kapan ke Bekasi. Dia bilang: gw baru pulang gawe, nih!
Anjrittt...! Itu kata pertama saya. Rasa-rasanya pengen banget berteriak di depan dia menyatakan rasa senang saya yang luar biasa. Dia diterima di sebuah perusahaan besar, PT JAPFA. Tenaga kontrak. Gimana gak senang: tiga tahun nganggur, diputusin pacar setelah tiga tahun pacaran (dan mau kawin lagi!), berjuang sendirian melewati krisis orientasi hidup setiap pagi-siang-sore-malam, dan tetap harus jadi anak sulung dengan adik-adik yang punya status ''jelas'' (PNS, mahasiswa, pelajar), dan kini dia... bekerja! Hari itu dua ucapan selamat buat dia: selamat ulang tahun dan selamat untuk sebuah pekerjaan.
Tapi mendadak saya punya perasaan aneh. Dia bekerja, di PT JAPFA, sebuah perusahaan besar yang pernah mem-PHK 1200 karyawannya lantaran flu burung. Dia bekerja, saat revisi undang-undang ketenagakerjaan begitu merisaukan. Dia bekerja. Bekerja. Bekerja.
Apakah benar begitu banyak orang yang memang tak bisa lagi hidup dengan kebebasan memilih? Sistem ekonomi ini, apakah benar-benar telah memaksa begitu banyak di antara kita sehingga kita tak lagi diizinkan punya mimpi indah untuk hidup kita sendiri? Karena satu-satunya obat untuk kawan baik saya itu, rasa-rasanya, ya mengambil pekerjaan kontrakan itu. Dan itu mengharuskan saya mengucapkan 'selamat' untuk dia.
Saya tiba-tiba tak tahu, apakah saya harus senang ataukah ngeri sendiri melihat kenyataan itu. Senja itu saya tak lagi mengerti apa surga apa neraka.
Di tengah keasyikan menonton sendirian sebuah film panjang italia, The Best of Youth, sebuah pesan pendek datang ke ponsel saya. Dari kawan lama. Kemarin dia berulang tahun, 24 tahun. Tiga tahun lalu ia menyelesaikan pendidikannya di IPB. Dan sejak tiga tahun lalu pula statusnya berubah tanpa pernah berganti: pengangguran.
Sore itu dia menanyakan kabar saya, sedang apa, kapan ke Bekasi. Dia bilang: gw baru pulang gawe, nih!
Anjrittt...! Itu kata pertama saya. Rasa-rasanya pengen banget berteriak di depan dia menyatakan rasa senang saya yang luar biasa. Dia diterima di sebuah perusahaan besar, PT JAPFA. Tenaga kontrak. Gimana gak senang: tiga tahun nganggur, diputusin pacar setelah tiga tahun pacaran (dan mau kawin lagi!), berjuang sendirian melewati krisis orientasi hidup setiap pagi-siang-sore-malam, dan tetap harus jadi anak sulung dengan adik-adik yang punya status ''jelas'' (PNS, mahasiswa, pelajar), dan kini dia... bekerja! Hari itu dua ucapan selamat buat dia: selamat ulang tahun dan selamat untuk sebuah pekerjaan.
Tapi mendadak saya punya perasaan aneh. Dia bekerja, di PT JAPFA, sebuah perusahaan besar yang pernah mem-PHK 1200 karyawannya lantaran flu burung. Dia bekerja, saat revisi undang-undang ketenagakerjaan begitu merisaukan. Dia bekerja. Bekerja. Bekerja.
Apakah benar begitu banyak orang yang memang tak bisa lagi hidup dengan kebebasan memilih? Sistem ekonomi ini, apakah benar-benar telah memaksa begitu banyak di antara kita sehingga kita tak lagi diizinkan punya mimpi indah untuk hidup kita sendiri? Karena satu-satunya obat untuk kawan baik saya itu, rasa-rasanya, ya mengambil pekerjaan kontrakan itu. Dan itu mengharuskan saya mengucapkan 'selamat' untuk dia.
Saya tiba-tiba tak tahu, apakah saya harus senang ataukah ngeri sendiri melihat kenyataan itu. Senja itu saya tak lagi mengerti apa surga apa neraka.
3.4.06
13 Saran Buat Para Aktivis Gerakan
Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan para aktivis yang telah banyak bekerja keras; mencurahkan waktu dan tenaganya demi permasalahan sosial dan sekitarnya. Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk saya sendiri. Jadi, tolong jangan tersinggung ya! (Yang mana masalah singgung-singgungan ini akan membawa kita pada pokok permasalahan yang pertama...)
I
Sisipkan sedikit sense of humor, jangan kelewat serius lah.
Semua orang sudah tahu, dunia tidak akan berubah dalam semalam. Terserah seberapa keras kalian berusaha. Tertawalah sesekali, buat guyonan soal betapa kacaunya situasi yang ada. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu untuk menertawakan diri sendiri dan kemajuan yang telah kalian perjuangkan selama ini. Tentunya kalian juga sudah sering kumpul dalam satu ruangan dan membicarakan tema-tema yang serius dengan menggunakan diplomasi buatan yang ditempa di dalam forum. Kita tidak musti mengerutkan dahi selama 24 jam sehari, bukan? Tertawa barang sejenak tentu tidak ada salahnya, betul tidak? Sedikit menyindir diri sendiri bisa membuat arah perjuangan tetap dalam perspektif yang benar dan mungkin bisa membuat kalian merasa lebih baik atas apa yang telah kalian selesaikan. Membuat guyonan soal diri sendiri dan kawan-kawan yang lain bisa jadi sarana kritik/otokritik dalam suasana yang lebih santai. Bahkan Emma Goldman pun pernah berkata: ''If I cant dance, I dont want your revolution.'' Ah, kalau itu sih kita semua sudah tahu...
II
Kritik itu perlu dan penting bagi perjuangan.
Menganalisa apa yang salah dan mana yang benar dalam aksi atau kampanye yang kalian lakukan bisa membantu kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengarkan masukan dari luar kelompok kalian, khususnya dari mereka yang berseberangan dengan kalian, yang mana bisa kalian antisipasi terlebih dulu seandainya saja itu dimaksudkan untuk menghalangi perjuangan kalian. Banyak aktifis dan revolusioner besar yang mengkritik keras dirinya sendiri untuk menyadari apakah yang mereka lakukan selama ini benar ataukah salah.
Untungnya, tidak seperti Che Guevara atau Buenaventura Durruti, kita tidak usah melakukan itu dibawah hujanan peluru (setidaknya belum lah).
III
Memperlakukan semuanya sebagai perorangan.
Saya sering kesal ketika para Marxis dan anarkis itu menyebut ''massa'' atau ketika para aktivis anti-korporasi mengejek teman-teman sebayanya sebagai ''anak nongkrong MTV''. Dengan men-dehumanisasi manusia ke dalam kategori-kategori yang kelewat menggeneralisir itu membuat kita lupa kalau kita sedang berhadapan dengan sosok yang miliki nama yang punya alasan atas apa yang mereka lakukan itu; entah itu karena turunan keluarga, pengaruh media atau propaganda negara, atau kebetulan terlahir dalam budaya yang memang sudah seperti itu. Tokh, tidak ada seorang pun yang bisa memilih Ia akan terlahir sebagai apa. Dengan mendekati semua orang sebagai perorangan, kalian akan bisa mengingat kembali bahwa pernah ada suatu masa dimana kalian juga tidak memiliki keyakinan seperti sekarang dan mungkin juga pernah merasa terasing ketika ada aktivis lain yang berusaha menyebarkan pesannya kepada kalian pada waktu itu. Jadi, faktor terpenting dalam mendekati ''massa'' itu (dalam terminologi yang kalian pakai itu ya) bisa jadi bukan apa yang HARUS kalian sampaikan tapi apa yang SEBENARNYA. Ingat, mereka juga manusia, mereka punya nama, mereka juga punya alasan... Berhentilah untuk selalu berusaha menjadi penggembala!
IV
Dengarkan apa yang orang lain katakan dan ketahuilah siapa yang kalian tuju.
Terkadang tanggapan orang atas apa yang telah kaian lakukan bisa jadi panduan paling baik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Ketika kalian tahu dengan siapa kalian berbicara, kalian bisa mengemas pesan kalian sesuai dengan siapa mereka sebenarnya.
Dengan mengetahui siapa yang kalian ajak bicara, kalian bisa mengemas pesan yang kalian angkat sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar faktor-faktor abstrak yang mereka sendiri tidak bisa mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Ketika kalian bicara soal penghapusan diskriminasi rasial para pendatang kepada orang-orang ''pribumi'' (maaf, saya terpaksa nih pake istilah ini), maka kalian bisa membahas bagaimana studi-studi antropologis membuktikan bahwa suku asli di Indonesia tidaklah ada dan dengan pengandaian seolah mereka berada dalam posisi yang menjadi objek perlakuan sewenang-wenang itu. Atau ketika kalian bicara soal dampak buruk penyeragaman yang dilakukan oleh MTV kepada anak-anak gaul yang sering nongkrong di Parkir Timur Senayan, kalian bisa membuktikan betapa menyenangkannya untuk menjadi unik dan tidak tergeneralisir jargon-jargon marketing semacam ''gue banget'' itu.
Tapi, maaf-maaf saja, ketika kalian berusaha meyakinkan para tukang becak bahwa dengan menjatuhkan seorang atau lebih tokoh puncak dalam hirarki politik tertentu dan menggantikannya dengan yang lain akan membuat segalanya menjadi lebih baik... saya tidak melihat adanya relevansi gontok-gontokan antara para elit politik dengan perbaikan kehidupan ekonomi mereka.
Dan, oh iya, jangan memakai bahasa aneh yang mengawang-awang nun jauh di atas sana. Kalau kalian tetap ngotot untuk membuat generalisasi seperti yang selama ini kalian lakukan dan terus berusaha mendekonstruksikan hegemoni kelas-kelas istimewa yang diuntungkan sistem sosial-ekonomi, ya jangan berharap banyak deh! Kalau kalian mengenal siapa yang kalian ajak bicara maka kalian bisa bicara dalam tingkatan yang sama dan menggunakan bahasa yang mereka pahami pula. Ingat, kalian tidak sedang berbicara dengan Michael Foucault atau Yasraf Amir Piliang! Lagipula, bahasa-bahasa akademis semacam itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang mampu memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya sampai ke bangku universitas. Bahkan saya pun tidak pernah berharap tulisan ini dan situs saya itu dibaca oleh buruh-buruh pabrik. Apa sih untungnya mempromosikan perubahan sosial kalau kalian menyampaikannya dengan gaya yang elitis?
V
Berisik, jangan teriak melulu dong!
Oke, kalian memang marah tapi kalau kalian terus-terusan berteriak ke semua orang dan bukannya berbicara, mereka tidak akan dengar. Kamu pikir mereka akan mau mendengarkan dengan seksama kalau kalian hanya berorasi dari atas Metromini sewaan dengan megaphone layaknya seorang rockstar... hahaha, dalam mimpi mungkin bisa. Jadi, sebelum turun buat demo, cobalah untuk jalan-jalan barang sebentaran dan cobalah berbincang-bincang dengan beberapa orang di jalan. Kalian akan lihat bagaimana respon mereka kalau kalian berbicara baik-baik, respon yang akan kalian dapat tidak hanya sekedar sorakan ''setuju,'' makian ''uh, bikin macet jalan aja,'' atau kepala yang menengok ke arah yang berlawanan dengan posisi kalian sebagai tanda tidak peduli. Ada saatnya untuk marah, dan ada pula saatnya untuk berbicara baik-baik. Jadi, pikir dulu sebelum teriak.
VI
Hanya mengangkat satu masalah malah bisa jadi masalah itu sendiri.
Sementara kalian punya beberapa masalah yang dianggap paling sreg di hati, tidak seharusnya kalian menutup mata atas kemungkinan adanya hubungan saling keterkaitan antara isu-isu itu atau dengan isu-isu yang lain dan jangan berhenti untuk terus mencari adanya akar-akar historis yang sama diantara isu-isu itu. Kadang memperjuangkan satu masalah saja bisa merusak perjuangan itu sendiri, misalnya perjuangan para feminis garis keras yang malah ingin membuat patriarki versi perempuan (untuk ini saya sering menjuluki mereka Feminazi) atau kiprah para anti-rasis yang malah tidak lebih baik dari pada kaum rasis itu sendiri (misalnya gerakan Black Planet yang malah jadi black people racists).
VII
Julukan keren sebagai aktivis tidak menutup kenyataan kalau kalian tetap berengsek.
Tidak bisa bohong, kenyataan membuktikan banyak aktivis progresif-revolusioner yang kelakuannya tidak lebih baik dari lumpen atau preman. Banyak kasus seperti ini, misalnya saja di kampus saya dimana seorang aktivis yang lumayan dianggap radikal ketika berada didepan barisan sambil memegang megaphone ternyata dalam kesehariannya tidak lebih dari seorang bangsat yang kerjanya hanya petantang-petenteng disana-sini hanya karena di jaket almamaternya banyak tertempel emblem gerakan dan Che Guevara dan memakai kaos bertuliskan ''revolusi'' atau kasus di tahun 98 dimana beberapa orang mahasiwa memaksa para supir angkot untuk membeli koran keluaran mereka yang isinya belum tentu dipahami semua orang dengan mudah. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap karyawati yang pulang kantor ketika kalian sedang demo di jalan-jalan ibukota. Untuk mengatasinya, setidaknya kalian bisa introspeksi diri dan membicarakan masalah ini secara terbuka dengan pemikiran yang dewasa termasuk dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
VIII
Dunia tidak bisa diselamatkan melalui e-mail.
Walaupun yang kalian lawan memang sistem bukan produknya, tidak peduli bagaimana efisiennya perjuangan kalian setelah adanya teknologi, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan dan keintiman yang dihasilkan oleh hubungan dan komunikasi antar manusia. Walaupun internet telah banyak meningkatkan intensitas komunikasi kalian dan membantu jaringan pergerakan-pergerakan global (seperti update email dari Zapatista dalam aksi-aksinya), kalian tidak bisa melupakan kenyataan bahwa penggunaan internet telah banyak memberi kontribusi bagi korporasi-korporasi besar di Amerika dan adanya fakta kuantitatif yang membuktikan bahwa lebih dari 98% penggunaan internet digunakan untuk mempercepat perputaran arus uang dalam kegiatan investasi spekulatif yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya di penjuru dunia. Kalian tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada teknologi, berikanlah perjuangan kalian sedikit sentuhan pribadi.
IX
Buang jauh ''isme-isme'' itu ke dalam toilet.
''Wah, keren. Kamu seorang ...-is (isi titik-titik itu dengan tipikal label ideologi aktivisme).'' Bagi sebagian besar orang yang tidak menganut ideologi-ideologi tersebut (kalian mungkin akan memberi penanda menghina seperti ''massa yang terilusi''), label-label itu penuh stereotipikal media korporasi dan propaganda negara yang mereduksi aspek-aspek positif yang dibawa label-label ini. Misalnya, ketika kawan saya -seorang vokalis band hardcore dari Kanada yang juga seorang aktifis ARA (Anti Racist Action)- berkata kepada seorang redneck kulit putih pengelola sebuah peternakan ''Aku seorang multikulturalis!'', Ia menjawab sambil mengayunkan garpu rumputnya ''Oh, jadi kamu benci orang kulit putih ya?!'' Supaya tidak mendapat praduga yang malah menyulitkan ruang geraknya akan jadi lebih baik seandainya saja Ia berkata ''Aku percaya ras adalah sebuah konstruksi historis; dimana memandangnya hanya sebatas fisik atau biologis tidaklah masuk akal bagiku, tapi kita telah dimanipulasi untuk mempercayai apa adanya dan memperlakukannya seperti itu (hmm... maaf, saya agak ribet untuk ngasih bahasa yang lebih down-to-earth lagi).'' Dan bisa saja itu akan memancing diskusi lebih lanjut.
Jadi, sebelum mulai mengumumkan diri kalian sebagai sayap kiri ''-isme,'' ''-is,'' atau ''-ian'' (contoh: Marxisme, Marxis, Marxian), pertimbangkan dulu apa yang mereka pikirkan soal label yang akan kalian pakai. Jangan terlalu norak untuk kepingin cepat-cepat orgasme hanya karena menyandang gelar ''anarkis'' atau ''komunis'' sebelum kamu benar-benar bisa menjelaskan: apa yang orang-orang sering dengar soal label-label itu dari media? Kalian tentu masih ingat kan bagaimana wajah media di Indonesia selama 32 tahun dibawah rezim OrBa itu (sampai sekarang juga masih sih)?
Biarkan tindakan yang mendefinisikan siapa kalian, bukan ''isme-isme'' itu.
X
''Fasisme gaya hidup'' sucks!
Kenapa sih kalau menjadi seorang aktivis sepertinya harus berpenampilan kucel dan old-school? Dalam sebuah kegiatan rekruitmen, pernah ada seorang aktivis yang seenaknya saja mencoret sebuah nama hanya karena penampilannya yang trendi dianggap kontra-revolusioner dan menyimpang dari garis perjuangan. Mencari keburukan dalam gaya hidup seseorang nampaknya sudah jadi hal yang sangat biasa di kalangan orang-orang progresif ini. Memang sih, menilai kulitnya saja jauh lebih mudah ketimbang harus menelaah lebih dalam pola konsumsi dan akar pemasalahannya. Kalian harus ingat bahwa hanya dengan mengidentifikasi beberapa aspek gaya hidup masyarakat ''barat'' (sialan, saya terpaksa lagi pakai istilah ini disaat saya sendiri sudah tidak percaya adanya pemilahan budaya timur-barat hanya sebatas hemisfer saja), kalian telah lupa bahwa kesalahan terletak pada keseluruhan sistemnya bukan hanya pada mereka yang merasa nyaman untuk mengenakannya. Kekuatan kita lebih dari sekedar sejauh mana kacamata dapat memandang dan jumlah halaman dalam scrapbook kita. Sebagai langkah awal menuju perubahan kita harus bisa menganalisa akar atas permasalahan kita semua, bukan mengasingkan mereka yang berbeda hanya karena masalah gaya hidup. Kenapa juga kalian masih saja mengulangi pola yang sama yang selalu dilakukan oleh gerakan-gerakan relijius-fasis dan korporasi-korporasi multinasional itu? Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka bisa atau tidak bisa boikot dan kalian keluarlah dari jebakan moralitas kotak sabun itu.
XI
Kalau kalian tidak beristirahat, kalian akan menjadi robot revolusi, zombie perubahan!
Dalam diri setiap aktivis pasti ada fase dimana kelelahan datang, rasa bosan menyerang, lalu biasanya dia akan butuh waktu barang sejenak untuk diri sendiri. Hey, itu wajar bukan? Dalam masa-masa ini siapapun akan lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi gairahnya sebuah ruang penyegaran temporer, melakukan hal-hal yang benar-benar menarik minatnya, bukan hanya sekedar demi peran historis kaum revolusioner muda atau apalah. Sialnya, dengan kejamnya beberapa orang biasanya akan menyebutnya sebagai ''demoral'' atau ''pengkhianat revolusi.'' Hahaha, perjuangan adalah hal yang sangat berat, revolusi bisa jadi baru akan terjadi dalam waktu yang tidak pendek ke depannya. Tuntutan-tuntutan bunuh diri kelas seperti ''mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya demi perubahan'' hanya akan melahirkan milisi-milisi tanpa hasrat. Bahkan dalam beberapa kasus, seorang aktivis bisa sampai memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kita tidak menginginkan itu, bukan? Bahkan seorang Assata Shakur pun pernah berkata bahwa yang terpenting adalah tumbuh secara personal, menjaga hubungan baik dan menyisihkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bisa menorehkan sebilah senyum di pipi. Revolusi tidak butuh robot, perubahan tidak butuh zombie... semua itu butuh MANUSIA untuk melakukannya.
XII
Jangan bersikap sektarian!
Ada kejadian bodoh yang sering sekali saya lihat di lapangan maupun dalam perdebatan di dalam mailing-list. Bagaikan dua kelompok anak kecil di mana yang satu berperan sebagai Mighty Morphin Power Ranger dan yang satu lagi sebagai Goggle V bermain perang-perangan, banyak dijumpai para aktivis yang saling gontok-gontokan hanya karena mereka berada di bawah bendera organisasi yang berbeda (oh tidak, kebanggaan buta ini lagi yang jadi masalahnya). Sama seperti kelompok anak-anak kecil tadi yang membuat simulasi atas kehebatan jagoannya di layar kaca padahal tujuan mereka hanya ingin bermain, para aktivis ini saling bermusuhan hanya karena perbedaan buku yang dibaca atau rebut-rebutan ''massa'' padahal tujuan mereka sama yaitu membuat perubahan. Kalau perubahan yang mereka inginkan dapat dengan mudah didefinisikan sebagai ''mengganti orang-orang dalam pemerintahan dengan orang lain,'' maka jelas sudah motif mereka: mereka sudah ngebet ingin jadi birokrat baru. Heheheh!
Selama ini sudah banyak kita lihat sendiri adanya perpecahan-perpecahan semacam ini. Sebabnya berkisar mulai dari adanya ketidakcocokan pribadi, sampai perdebatan soal ideologi dan strategi. Tidak heran, banyak para aktivis yang keluar dari gerakannya dan berakhir dengan mendirikan sebuah gerakan baru. Kalau kita mengatasnamakan multitude gerakan seperti yang ada di buku Empire-nya Hardt/Negri sih itu malah bagus, tapi kalau sampai gerakan baru itu malah menambah daftar musuh baru sih jadi lucu. Pergerakan malah jadi retak dan terfragmen ke dalam banyak klik-klik kecil yang saling mencibir kalau bertemu di lapangan sampai-sampai kita lupa akan kesamaan yang kita miliki dan hanya mempermasalahkan kebencian kita satu sama lain.
Untuk hal ini di antara kita, bisakah kita menyepakati beberapa hal yang penting? Apakah setidaknya kita punya musuh bersama? Bisakah kita melupakan perbedaan-perbedaan kita dan bekerjasama menuju sebuah konsensus sehingga kita tidak usah lagi main tikam dari belakang? Bagi kalian yang masih baru dalam gerakan, tetaplah berkonsentrasi dalam permasalahan yang ada dan jangan ikut larut dalam masalah-masalah seperti ini. Bagi kalian yang ''orang lama,'' perjuangan demi perubahan dimana pun juga tidak butuh warisan kebencian seperti itu (dulu saya pikir hanya anak-anak STM saja yang suka mewariskan kebenciannya terhadap sekolah lain kepada adik kelasnya. Ternyata...).
XIII
Mendefinisikan ulang aktivisme.
Menjadi aktivis adalah posisi kultural yang ada dalam masyarakat kita. Sudahlah, kita semua tahu stereotip-nya: tidak bisa bergaya, selalu merasa benar soal isu ini atau itu, kerjaannya teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi di jalanan, mengacung-acungkan plakat tuntutan, di seret-seret polisi, mengacungkan tangan sambil pegang megaphone, dan lain sebagainya. Tapi mengambil bagian dalam kultur aktivisme ini kita mengalienasikan banyak orang yang seharusnya berada di posisi yang sama dengan kita berdiri. Tapi berapa banyak orang yang tergerak hatinya ketika melihat pemberitaan kalian di media-media? Seberapa banyak kita mempengaruhi nilai-nilai stereotip ini?
Tapi lihat apa yang terjadi. Banyak, dan lebih banyak lagi orang yang turut berjuang demi perubahan sosial hanyalah orang ''biasa.'' Ada banyak aksi-aksi tanpa bentuk yang tidak akan pernah kita dengar: mereka yang membentuk kelompok diskusi, mereka yang mendefinisikan dirinya sendiri dan di mana posisi mereka dalam masyarakat, mereka yang memilih untuk memboikot beberapa produk dan tidak mengikuti tren, mereka yang tidak mempercayai uang dan melakukan aksi transaksi tanpa uang alias mencuri, mereka yang menempati bangunan kosong yang disia-siakan pemiliknya sebagai jawaban atas permasalahan tempat tinggal dan gentrifikasi, mereka yang muak dengan perintah bosnya dan memanfaatkan fasilitas di kantornya untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, mereka ada di mana saja dan tetap berjuang kapan pun mereka bisa.
Mereka hanyalah orang-orang biasa yang merespon stimulus dasar di mana hidupnya telah tercuri oleh sistem dan mereka tidak bisa duduk diam dan menerima begitu saja. Mereka juga aktivis, walaupun tidak mendapat privilese atas penanda itu. Revolusi juga akan datang dari tangan mereka. Mereka yang selalu menyebut dirinya ''aktivis'' harus keluar dari jebakan pengkotak-kotakan yang mengkungkung dan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh orang-orang, bukan hanya sekedar membaca habis semua buku yang ada di dalam perpustakaan ''radikal.'' Semua ''isme-isme'' yang sering kalian klaim sebagai identitas itu hanyalah nama yang diberikan oleh para teoris ideologi kalian atas kecenderungan yang sudah biasa ada dalam diri setiap manusia. Semua istilah itu hanya akan tetap menjadi kata-kata sampai tindakan kita memberi arti yang sebenarnya dan kita mendefinisikannya bagi diri kita sendiri seperti apa bentuk perjuangan kita. Sampai saat itu, aktivisme akan tetap mengalienasi manusia yang juga berusaha menggapainya.
(Tulisan ini saya temukan bertahun-tahun lalu di blog sayap-imaji. Blog itu telah hilang kini. Agak menyesal juga, karena begitu banyak tulisan-tulisan di blog itu yang menginspirasi diri saya dalam menjalani hidup sehari-hari).
Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan para aktivis yang telah banyak bekerja keras; mencurahkan waktu dan tenaganya demi permasalahan sosial dan sekitarnya. Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk saya sendiri. Jadi, tolong jangan tersinggung ya! (Yang mana masalah singgung-singgungan ini akan membawa kita pada pokok permasalahan yang pertama...)
I
Sisipkan sedikit sense of humor, jangan kelewat serius lah.
Semua orang sudah tahu, dunia tidak akan berubah dalam semalam. Terserah seberapa keras kalian berusaha. Tertawalah sesekali, buat guyonan soal betapa kacaunya situasi yang ada. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu untuk menertawakan diri sendiri dan kemajuan yang telah kalian perjuangkan selama ini. Tentunya kalian juga sudah sering kumpul dalam satu ruangan dan membicarakan tema-tema yang serius dengan menggunakan diplomasi buatan yang ditempa di dalam forum. Kita tidak musti mengerutkan dahi selama 24 jam sehari, bukan? Tertawa barang sejenak tentu tidak ada salahnya, betul tidak? Sedikit menyindir diri sendiri bisa membuat arah perjuangan tetap dalam perspektif yang benar dan mungkin bisa membuat kalian merasa lebih baik atas apa yang telah kalian selesaikan. Membuat guyonan soal diri sendiri dan kawan-kawan yang lain bisa jadi sarana kritik/otokritik dalam suasana yang lebih santai. Bahkan Emma Goldman pun pernah berkata: ''If I cant dance, I dont want your revolution.'' Ah, kalau itu sih kita semua sudah tahu...
II
Kritik itu perlu dan penting bagi perjuangan.
Menganalisa apa yang salah dan mana yang benar dalam aksi atau kampanye yang kalian lakukan bisa membantu kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengarkan masukan dari luar kelompok kalian, khususnya dari mereka yang berseberangan dengan kalian, yang mana bisa kalian antisipasi terlebih dulu seandainya saja itu dimaksudkan untuk menghalangi perjuangan kalian. Banyak aktifis dan revolusioner besar yang mengkritik keras dirinya sendiri untuk menyadari apakah yang mereka lakukan selama ini benar ataukah salah.
Untungnya, tidak seperti Che Guevara atau Buenaventura Durruti, kita tidak usah melakukan itu dibawah hujanan peluru (setidaknya belum lah).
III
Memperlakukan semuanya sebagai perorangan.
Saya sering kesal ketika para Marxis dan anarkis itu menyebut ''massa'' atau ketika para aktivis anti-korporasi mengejek teman-teman sebayanya sebagai ''anak nongkrong MTV''. Dengan men-dehumanisasi manusia ke dalam kategori-kategori yang kelewat menggeneralisir itu membuat kita lupa kalau kita sedang berhadapan dengan sosok yang miliki nama yang punya alasan atas apa yang mereka lakukan itu; entah itu karena turunan keluarga, pengaruh media atau propaganda negara, atau kebetulan terlahir dalam budaya yang memang sudah seperti itu. Tokh, tidak ada seorang pun yang bisa memilih Ia akan terlahir sebagai apa. Dengan mendekati semua orang sebagai perorangan, kalian akan bisa mengingat kembali bahwa pernah ada suatu masa dimana kalian juga tidak memiliki keyakinan seperti sekarang dan mungkin juga pernah merasa terasing ketika ada aktivis lain yang berusaha menyebarkan pesannya kepada kalian pada waktu itu. Jadi, faktor terpenting dalam mendekati ''massa'' itu (dalam terminologi yang kalian pakai itu ya) bisa jadi bukan apa yang HARUS kalian sampaikan tapi apa yang SEBENARNYA. Ingat, mereka juga manusia, mereka punya nama, mereka juga punya alasan... Berhentilah untuk selalu berusaha menjadi penggembala!
IV
Dengarkan apa yang orang lain katakan dan ketahuilah siapa yang kalian tuju.
Terkadang tanggapan orang atas apa yang telah kaian lakukan bisa jadi panduan paling baik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Ketika kalian tahu dengan siapa kalian berbicara, kalian bisa mengemas pesan kalian sesuai dengan siapa mereka sebenarnya.
Dengan mengetahui siapa yang kalian ajak bicara, kalian bisa mengemas pesan yang kalian angkat sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar faktor-faktor abstrak yang mereka sendiri tidak bisa mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Ketika kalian bicara soal penghapusan diskriminasi rasial para pendatang kepada orang-orang ''pribumi'' (maaf, saya terpaksa nih pake istilah ini), maka kalian bisa membahas bagaimana studi-studi antropologis membuktikan bahwa suku asli di Indonesia tidaklah ada dan dengan pengandaian seolah mereka berada dalam posisi yang menjadi objek perlakuan sewenang-wenang itu. Atau ketika kalian bicara soal dampak buruk penyeragaman yang dilakukan oleh MTV kepada anak-anak gaul yang sering nongkrong di Parkir Timur Senayan, kalian bisa membuktikan betapa menyenangkannya untuk menjadi unik dan tidak tergeneralisir jargon-jargon marketing semacam ''gue banget'' itu.
Tapi, maaf-maaf saja, ketika kalian berusaha meyakinkan para tukang becak bahwa dengan menjatuhkan seorang atau lebih tokoh puncak dalam hirarki politik tertentu dan menggantikannya dengan yang lain akan membuat segalanya menjadi lebih baik... saya tidak melihat adanya relevansi gontok-gontokan antara para elit politik dengan perbaikan kehidupan ekonomi mereka.
Dan, oh iya, jangan memakai bahasa aneh yang mengawang-awang nun jauh di atas sana. Kalau kalian tetap ngotot untuk membuat generalisasi seperti yang selama ini kalian lakukan dan terus berusaha mendekonstruksikan hegemoni kelas-kelas istimewa yang diuntungkan sistem sosial-ekonomi, ya jangan berharap banyak deh! Kalau kalian mengenal siapa yang kalian ajak bicara maka kalian bisa bicara dalam tingkatan yang sama dan menggunakan bahasa yang mereka pahami pula. Ingat, kalian tidak sedang berbicara dengan Michael Foucault atau Yasraf Amir Piliang! Lagipula, bahasa-bahasa akademis semacam itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang mampu memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya sampai ke bangku universitas. Bahkan saya pun tidak pernah berharap tulisan ini dan situs saya itu dibaca oleh buruh-buruh pabrik. Apa sih untungnya mempromosikan perubahan sosial kalau kalian menyampaikannya dengan gaya yang elitis?
V
Berisik, jangan teriak melulu dong!
Oke, kalian memang marah tapi kalau kalian terus-terusan berteriak ke semua orang dan bukannya berbicara, mereka tidak akan dengar. Kamu pikir mereka akan mau mendengarkan dengan seksama kalau kalian hanya berorasi dari atas Metromini sewaan dengan megaphone layaknya seorang rockstar... hahaha, dalam mimpi mungkin bisa. Jadi, sebelum turun buat demo, cobalah untuk jalan-jalan barang sebentaran dan cobalah berbincang-bincang dengan beberapa orang di jalan. Kalian akan lihat bagaimana respon mereka kalau kalian berbicara baik-baik, respon yang akan kalian dapat tidak hanya sekedar sorakan ''setuju,'' makian ''uh, bikin macet jalan aja,'' atau kepala yang menengok ke arah yang berlawanan dengan posisi kalian sebagai tanda tidak peduli. Ada saatnya untuk marah, dan ada pula saatnya untuk berbicara baik-baik. Jadi, pikir dulu sebelum teriak.
VI
Hanya mengangkat satu masalah malah bisa jadi masalah itu sendiri.
Sementara kalian punya beberapa masalah yang dianggap paling sreg di hati, tidak seharusnya kalian menutup mata atas kemungkinan adanya hubungan saling keterkaitan antara isu-isu itu atau dengan isu-isu yang lain dan jangan berhenti untuk terus mencari adanya akar-akar historis yang sama diantara isu-isu itu. Kadang memperjuangkan satu masalah saja bisa merusak perjuangan itu sendiri, misalnya perjuangan para feminis garis keras yang malah ingin membuat patriarki versi perempuan (untuk ini saya sering menjuluki mereka Feminazi) atau kiprah para anti-rasis yang malah tidak lebih baik dari pada kaum rasis itu sendiri (misalnya gerakan Black Planet yang malah jadi black people racists).
VII
Julukan keren sebagai aktivis tidak menutup kenyataan kalau kalian tetap berengsek.
Tidak bisa bohong, kenyataan membuktikan banyak aktivis progresif-revolusioner yang kelakuannya tidak lebih baik dari lumpen atau preman. Banyak kasus seperti ini, misalnya saja di kampus saya dimana seorang aktivis yang lumayan dianggap radikal ketika berada didepan barisan sambil memegang megaphone ternyata dalam kesehariannya tidak lebih dari seorang bangsat yang kerjanya hanya petantang-petenteng disana-sini hanya karena di jaket almamaternya banyak tertempel emblem gerakan dan Che Guevara dan memakai kaos bertuliskan ''revolusi'' atau kasus di tahun 98 dimana beberapa orang mahasiwa memaksa para supir angkot untuk membeli koran keluaran mereka yang isinya belum tentu dipahami semua orang dengan mudah. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap karyawati yang pulang kantor ketika kalian sedang demo di jalan-jalan ibukota. Untuk mengatasinya, setidaknya kalian bisa introspeksi diri dan membicarakan masalah ini secara terbuka dengan pemikiran yang dewasa termasuk dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
VIII
Dunia tidak bisa diselamatkan melalui e-mail.
Walaupun yang kalian lawan memang sistem bukan produknya, tidak peduli bagaimana efisiennya perjuangan kalian setelah adanya teknologi, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan dan keintiman yang dihasilkan oleh hubungan dan komunikasi antar manusia. Walaupun internet telah banyak meningkatkan intensitas komunikasi kalian dan membantu jaringan pergerakan-pergerakan global (seperti update email dari Zapatista dalam aksi-aksinya), kalian tidak bisa melupakan kenyataan bahwa penggunaan internet telah banyak memberi kontribusi bagi korporasi-korporasi besar di Amerika dan adanya fakta kuantitatif yang membuktikan bahwa lebih dari 98% penggunaan internet digunakan untuk mempercepat perputaran arus uang dalam kegiatan investasi spekulatif yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya di penjuru dunia. Kalian tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada teknologi, berikanlah perjuangan kalian sedikit sentuhan pribadi.
IX
Buang jauh ''isme-isme'' itu ke dalam toilet.
''Wah, keren. Kamu seorang ...-is (isi titik-titik itu dengan tipikal label ideologi aktivisme).'' Bagi sebagian besar orang yang tidak menganut ideologi-ideologi tersebut (kalian mungkin akan memberi penanda menghina seperti ''massa yang terilusi''), label-label itu penuh stereotipikal media korporasi dan propaganda negara yang mereduksi aspek-aspek positif yang dibawa label-label ini. Misalnya, ketika kawan saya -seorang vokalis band hardcore dari Kanada yang juga seorang aktifis ARA (Anti Racist Action)- berkata kepada seorang redneck kulit putih pengelola sebuah peternakan ''Aku seorang multikulturalis!'', Ia menjawab sambil mengayunkan garpu rumputnya ''Oh, jadi kamu benci orang kulit putih ya?!'' Supaya tidak mendapat praduga yang malah menyulitkan ruang geraknya akan jadi lebih baik seandainya saja Ia berkata ''Aku percaya ras adalah sebuah konstruksi historis; dimana memandangnya hanya sebatas fisik atau biologis tidaklah masuk akal bagiku, tapi kita telah dimanipulasi untuk mempercayai apa adanya dan memperlakukannya seperti itu (hmm... maaf, saya agak ribet untuk ngasih bahasa yang lebih down-to-earth lagi).'' Dan bisa saja itu akan memancing diskusi lebih lanjut.
Jadi, sebelum mulai mengumumkan diri kalian sebagai sayap kiri ''-isme,'' ''-is,'' atau ''-ian'' (contoh: Marxisme, Marxis, Marxian), pertimbangkan dulu apa yang mereka pikirkan soal label yang akan kalian pakai. Jangan terlalu norak untuk kepingin cepat-cepat orgasme hanya karena menyandang gelar ''anarkis'' atau ''komunis'' sebelum kamu benar-benar bisa menjelaskan: apa yang orang-orang sering dengar soal label-label itu dari media? Kalian tentu masih ingat kan bagaimana wajah media di Indonesia selama 32 tahun dibawah rezim OrBa itu (sampai sekarang juga masih sih)?
Biarkan tindakan yang mendefinisikan siapa kalian, bukan ''isme-isme'' itu.
X
''Fasisme gaya hidup'' sucks!
Kenapa sih kalau menjadi seorang aktivis sepertinya harus berpenampilan kucel dan old-school? Dalam sebuah kegiatan rekruitmen, pernah ada seorang aktivis yang seenaknya saja mencoret sebuah nama hanya karena penampilannya yang trendi dianggap kontra-revolusioner dan menyimpang dari garis perjuangan. Mencari keburukan dalam gaya hidup seseorang nampaknya sudah jadi hal yang sangat biasa di kalangan orang-orang progresif ini. Memang sih, menilai kulitnya saja jauh lebih mudah ketimbang harus menelaah lebih dalam pola konsumsi dan akar pemasalahannya. Kalian harus ingat bahwa hanya dengan mengidentifikasi beberapa aspek gaya hidup masyarakat ''barat'' (sialan, saya terpaksa lagi pakai istilah ini disaat saya sendiri sudah tidak percaya adanya pemilahan budaya timur-barat hanya sebatas hemisfer saja), kalian telah lupa bahwa kesalahan terletak pada keseluruhan sistemnya bukan hanya pada mereka yang merasa nyaman untuk mengenakannya. Kekuatan kita lebih dari sekedar sejauh mana kacamata dapat memandang dan jumlah halaman dalam scrapbook kita. Sebagai langkah awal menuju perubahan kita harus bisa menganalisa akar atas permasalahan kita semua, bukan mengasingkan mereka yang berbeda hanya karena masalah gaya hidup. Kenapa juga kalian masih saja mengulangi pola yang sama yang selalu dilakukan oleh gerakan-gerakan relijius-fasis dan korporasi-korporasi multinasional itu? Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka bisa atau tidak bisa boikot dan kalian keluarlah dari jebakan moralitas kotak sabun itu.
XI
Kalau kalian tidak beristirahat, kalian akan menjadi robot revolusi, zombie perubahan!
Dalam diri setiap aktivis pasti ada fase dimana kelelahan datang, rasa bosan menyerang, lalu biasanya dia akan butuh waktu barang sejenak untuk diri sendiri. Hey, itu wajar bukan? Dalam masa-masa ini siapapun akan lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi gairahnya sebuah ruang penyegaran temporer, melakukan hal-hal yang benar-benar menarik minatnya, bukan hanya sekedar demi peran historis kaum revolusioner muda atau apalah. Sialnya, dengan kejamnya beberapa orang biasanya akan menyebutnya sebagai ''demoral'' atau ''pengkhianat revolusi.'' Hahaha, perjuangan adalah hal yang sangat berat, revolusi bisa jadi baru akan terjadi dalam waktu yang tidak pendek ke depannya. Tuntutan-tuntutan bunuh diri kelas seperti ''mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya demi perubahan'' hanya akan melahirkan milisi-milisi tanpa hasrat. Bahkan dalam beberapa kasus, seorang aktivis bisa sampai memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kita tidak menginginkan itu, bukan? Bahkan seorang Assata Shakur pun pernah berkata bahwa yang terpenting adalah tumbuh secara personal, menjaga hubungan baik dan menyisihkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bisa menorehkan sebilah senyum di pipi. Revolusi tidak butuh robot, perubahan tidak butuh zombie... semua itu butuh MANUSIA untuk melakukannya.
XII
Jangan bersikap sektarian!
Ada kejadian bodoh yang sering sekali saya lihat di lapangan maupun dalam perdebatan di dalam mailing-list. Bagaikan dua kelompok anak kecil di mana yang satu berperan sebagai Mighty Morphin Power Ranger dan yang satu lagi sebagai Goggle V bermain perang-perangan, banyak dijumpai para aktivis yang saling gontok-gontokan hanya karena mereka berada di bawah bendera organisasi yang berbeda (oh tidak, kebanggaan buta ini lagi yang jadi masalahnya). Sama seperti kelompok anak-anak kecil tadi yang membuat simulasi atas kehebatan jagoannya di layar kaca padahal tujuan mereka hanya ingin bermain, para aktivis ini saling bermusuhan hanya karena perbedaan buku yang dibaca atau rebut-rebutan ''massa'' padahal tujuan mereka sama yaitu membuat perubahan. Kalau perubahan yang mereka inginkan dapat dengan mudah didefinisikan sebagai ''mengganti orang-orang dalam pemerintahan dengan orang lain,'' maka jelas sudah motif mereka: mereka sudah ngebet ingin jadi birokrat baru. Heheheh!
Selama ini sudah banyak kita lihat sendiri adanya perpecahan-perpecahan semacam ini. Sebabnya berkisar mulai dari adanya ketidakcocokan pribadi, sampai perdebatan soal ideologi dan strategi. Tidak heran, banyak para aktivis yang keluar dari gerakannya dan berakhir dengan mendirikan sebuah gerakan baru. Kalau kita mengatasnamakan multitude gerakan seperti yang ada di buku Empire-nya Hardt/Negri sih itu malah bagus, tapi kalau sampai gerakan baru itu malah menambah daftar musuh baru sih jadi lucu. Pergerakan malah jadi retak dan terfragmen ke dalam banyak klik-klik kecil yang saling mencibir kalau bertemu di lapangan sampai-sampai kita lupa akan kesamaan yang kita miliki dan hanya mempermasalahkan kebencian kita satu sama lain.
Untuk hal ini di antara kita, bisakah kita menyepakati beberapa hal yang penting? Apakah setidaknya kita punya musuh bersama? Bisakah kita melupakan perbedaan-perbedaan kita dan bekerjasama menuju sebuah konsensus sehingga kita tidak usah lagi main tikam dari belakang? Bagi kalian yang masih baru dalam gerakan, tetaplah berkonsentrasi dalam permasalahan yang ada dan jangan ikut larut dalam masalah-masalah seperti ini. Bagi kalian yang ''orang lama,'' perjuangan demi perubahan dimana pun juga tidak butuh warisan kebencian seperti itu (dulu saya pikir hanya anak-anak STM saja yang suka mewariskan kebenciannya terhadap sekolah lain kepada adik kelasnya. Ternyata...).
XIII
Mendefinisikan ulang aktivisme.
Menjadi aktivis adalah posisi kultural yang ada dalam masyarakat kita. Sudahlah, kita semua tahu stereotip-nya: tidak bisa bergaya, selalu merasa benar soal isu ini atau itu, kerjaannya teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi di jalanan, mengacung-acungkan plakat tuntutan, di seret-seret polisi, mengacungkan tangan sambil pegang megaphone, dan lain sebagainya. Tapi mengambil bagian dalam kultur aktivisme ini kita mengalienasikan banyak orang yang seharusnya berada di posisi yang sama dengan kita berdiri. Tapi berapa banyak orang yang tergerak hatinya ketika melihat pemberitaan kalian di media-media? Seberapa banyak kita mempengaruhi nilai-nilai stereotip ini?
Tapi lihat apa yang terjadi. Banyak, dan lebih banyak lagi orang yang turut berjuang demi perubahan sosial hanyalah orang ''biasa.'' Ada banyak aksi-aksi tanpa bentuk yang tidak akan pernah kita dengar: mereka yang membentuk kelompok diskusi, mereka yang mendefinisikan dirinya sendiri dan di mana posisi mereka dalam masyarakat, mereka yang memilih untuk memboikot beberapa produk dan tidak mengikuti tren, mereka yang tidak mempercayai uang dan melakukan aksi transaksi tanpa uang alias mencuri, mereka yang menempati bangunan kosong yang disia-siakan pemiliknya sebagai jawaban atas permasalahan tempat tinggal dan gentrifikasi, mereka yang muak dengan perintah bosnya dan memanfaatkan fasilitas di kantornya untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, mereka ada di mana saja dan tetap berjuang kapan pun mereka bisa.
Mereka hanyalah orang-orang biasa yang merespon stimulus dasar di mana hidupnya telah tercuri oleh sistem dan mereka tidak bisa duduk diam dan menerima begitu saja. Mereka juga aktivis, walaupun tidak mendapat privilese atas penanda itu. Revolusi juga akan datang dari tangan mereka. Mereka yang selalu menyebut dirinya ''aktivis'' harus keluar dari jebakan pengkotak-kotakan yang mengkungkung dan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh orang-orang, bukan hanya sekedar membaca habis semua buku yang ada di dalam perpustakaan ''radikal.'' Semua ''isme-isme'' yang sering kalian klaim sebagai identitas itu hanyalah nama yang diberikan oleh para teoris ideologi kalian atas kecenderungan yang sudah biasa ada dalam diri setiap manusia. Semua istilah itu hanya akan tetap menjadi kata-kata sampai tindakan kita memberi arti yang sebenarnya dan kita mendefinisikannya bagi diri kita sendiri seperti apa bentuk perjuangan kita. Sampai saat itu, aktivisme akan tetap mengalienasi manusia yang juga berusaha menggapainya.
(Tulisan ini saya temukan bertahun-tahun lalu di blog sayap-imaji. Blog itu telah hilang kini. Agak menyesal juga, karena begitu banyak tulisan-tulisan di blog itu yang menginspirasi diri saya dalam menjalani hidup sehari-hari).
29.3.06
Minesweeper
Setelah sekian lama menelantarkan begitu banyak rencana, nyaris menjadi orang yang tak peka dunia luar, nyaris autis dan memiliki dunia sendiri, menjadi orang tak acuh yang tak memandang lawan bicara, menjadi orang yang begitu sensitif jika ada sedikit saja gangguan, dan menjadi nyaris buram mata, semuanya tepat jika saya berada di depan layar monitor komputer....
rekor minesweeper saya mencapai puncak kegemilangannya:
beginner : 4 seconds
intermediate : 41 seconds
expert : 131 seconds
hah! kini saatnya melihat dunia lagi... :)
Setelah sekian lama menelantarkan begitu banyak rencana, nyaris menjadi orang yang tak peka dunia luar, nyaris autis dan memiliki dunia sendiri, menjadi orang tak acuh yang tak memandang lawan bicara, menjadi orang yang begitu sensitif jika ada sedikit saja gangguan, dan menjadi nyaris buram mata, semuanya tepat jika saya berada di depan layar monitor komputer....
rekor minesweeper saya mencapai puncak kegemilangannya:
beginner : 4 seconds
intermediate : 41 seconds
expert : 131 seconds
hah! kini saatnya melihat dunia lagi... :)
23.3.06
Satu Saja Batu...
Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.
Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.
Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.
Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?
tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?
Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.
Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.
Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.
Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.
Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.
Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?
tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?
Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.
Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.
14.3.06
Ke Duniamu
Jika memang mungkin, saya tak ingin menukar apapun lagi sekarang. Ini sudah cukup buat saya, teramat cukup. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Semuanya terlalu membuat menyenangkan. Kamu harusnya tahu, tak ada yang saya tunggu sejak dua minggu lalu selain hari-hari ini. Di halaman gedung tua, di bawah lukisan berumur seabad lebih, di kursi kereta, di kantin stasiun, bergelantungan di dalam busway, di trotoar-trotoar. Semuanya.
Dan kemarin. Saat saya menghabiskan senja di dalam bis kota yang cuma mampu merayap menuju tempatmu. Senja yang tak kalah indah dari senja yang pernah saya ceritakan kepadamu saat kamu menghabiskan malam di pantai utara Jakarta. Dan betapa ingin saya menceritakan lebih banyak lagi senja untuk kamu.
Atau malam tadi, saat saya menceritakan begitu banyak kegelisahan di beranda tempat tinggalmu. Terpatah-patah dan tak ada daya. Kamu malah memegang tangan saya, membawanya ke wajahmu dan memberikan senyum lagi untuk saya.
Kalau memang mungkin, Re, saya tak ingin waktu berjalan lagi. Cukup ini saja. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Jika memang mungkin, saya tak ingin menukar apapun lagi sekarang. Ini sudah cukup buat saya, teramat cukup. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
Semuanya terlalu membuat menyenangkan. Kamu harusnya tahu, tak ada yang saya tunggu sejak dua minggu lalu selain hari-hari ini. Di halaman gedung tua, di bawah lukisan berumur seabad lebih, di kursi kereta, di kantin stasiun, bergelantungan di dalam busway, di trotoar-trotoar. Semuanya.
Dan kemarin. Saat saya menghabiskan senja di dalam bis kota yang cuma mampu merayap menuju tempatmu. Senja yang tak kalah indah dari senja yang pernah saya ceritakan kepadamu saat kamu menghabiskan malam di pantai utara Jakarta. Dan betapa ingin saya menceritakan lebih banyak lagi senja untuk kamu.
Atau malam tadi, saat saya menceritakan begitu banyak kegelisahan di beranda tempat tinggalmu. Terpatah-patah dan tak ada daya. Kamu malah memegang tangan saya, membawanya ke wajahmu dan memberikan senyum lagi untuk saya.
Kalau memang mungkin, Re, saya tak ingin waktu berjalan lagi. Cukup ini saja. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.
10.3.06
To: Pemerintah dan DPR Republik Indonesia
Kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.
Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.
Lebih daripada itu, dalam menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, negara harus mampu membedakan mana "wilayah publik" yang boleh dan harus diatur oleh undang-undang, dan mana yang termasuk "wilayah pribadi (private)" yang tidak boleh dan tidak berhak untuk diatur oleh negara.
Sehubungan dengan maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan pornoaksi (RUU APP) di parlemen saat ini, kami mendukung sepenuhnya pengaturan akan hal pornografi/pornoaksi ini, selama itu masih di dalam wilayah publik, dan sama sekali tidak mencampuri hak pribadi seseorang untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dia pegang, selama pengekspresiannya itu dilakukan dengan cara yang tidak menganggu orang lain secara langsung.
Tapi, berhubung draft RUU APP ini terlihat sudah mulai memasuki wilayah pribadi warga negara, seperti misalnya memuat pengaturan bagaimana tata cara berpakaian seorang warga negara itu (seperti yang diatur secara tidak langsung di dalam pasal 25 RUU APP ini), maka kami dengan ini mengatakan :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MEMASUKI WILAYAH PRIBADI DARI SEORANG WARGA NEGARA.
Kami mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya.
Tapi TIDAK PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU DALAM PROSES BERKREATIVITAS SENI SESEORANG, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG.
Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya dengan yang mereka coba hakimi. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang maupun Batam beberapa hari yang lalu. Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.
Sekali lagi, dengan ini, kami nyatakan dengan tegas :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA DILAKUKANNYA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MENCOBA MENGATUR WILAYAH PRIBADI (PRIVATE) DARI WARGA NEGARANYA.
Semoga suara kami yang kecil ini bisa memiliki sedikit arti di hadapan yang terhormat Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
03 Maret 2006,
Sincerely,
(dan jika anda ingin ikut menandatangani petisi ini, anda bisa menandatanganinya di:
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html
Kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.
Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.
Lebih daripada itu, dalam menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, negara harus mampu membedakan mana "wilayah publik" yang boleh dan harus diatur oleh undang-undang, dan mana yang termasuk "wilayah pribadi (private)" yang tidak boleh dan tidak berhak untuk diatur oleh negara.
Sehubungan dengan maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan pornoaksi (RUU APP) di parlemen saat ini, kami mendukung sepenuhnya pengaturan akan hal pornografi/pornoaksi ini, selama itu masih di dalam wilayah publik, dan sama sekali tidak mencampuri hak pribadi seseorang untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dia pegang, selama pengekspresiannya itu dilakukan dengan cara yang tidak menganggu orang lain secara langsung.
Tapi, berhubung draft RUU APP ini terlihat sudah mulai memasuki wilayah pribadi warga negara, seperti misalnya memuat pengaturan bagaimana tata cara berpakaian seorang warga negara itu (seperti yang diatur secara tidak langsung di dalam pasal 25 RUU APP ini), maka kami dengan ini mengatakan :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MEMASUKI WILAYAH PRIBADI DARI SEORANG WARGA NEGARA.
Kami mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya.
Tapi TIDAK PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU DALAM PROSES BERKREATIVITAS SENI SESEORANG, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG.
Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya dengan yang mereka coba hakimi. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang maupun Batam beberapa hari yang lalu. Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.
Sekali lagi, dengan ini, kami nyatakan dengan tegas :
KAMI MENOLAK DAN MEMINTA DILAKUKANNYA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MENCOBA MENGATUR WILAYAH PRIBADI (PRIVATE) DARI WARGA NEGARANYA.
Semoga suara kami yang kecil ini bisa memiliki sedikit arti di hadapan yang terhormat Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
03 Maret 2006,
Sincerely,
(dan jika anda ingin ikut menandatangani petisi ini, anda bisa menandatanganinya di:
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html
9.3.06
Ya, Saya Kontra Revolusioner!
Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!
Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"
Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.
Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.
Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.
Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.
Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.
Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''
Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.
Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.
Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.
Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!
Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!
Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!
Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"
Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.
Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.
Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.
Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.
Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.
Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''
Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.
Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.
Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.
Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!
Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!
8.3.06
Pertemuan-pertemuan Kecil
Sejak kemarin hingga satu jam terakhir, saya mengalami banyak pertemuan kecil. Pertemuan-pertemuan ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang tentang berbagai hal. Aneh juga, mungkin pertemuan-pertemuan itu biasa saja dan lumrah jika dialami. Apanya yang luar biasa kalau cuma sekadar bertemu kawan-kawan?
Paling mula barangkali pertemuan dengan Butre. Itu pertemuan menyenangkan di tengah-tengah kesuntukkan duduk berjam-jam di kelilingi buku-buku di taman-bunga. Dia datang tiba-tiba dari arah kampus berjalan kaki. Biasanya dia datang ke Jatinangor pada hari Kamis, bukan Senin. Dia sibuk skripsi belakangan ini. Mungkin akan sampai Agustus nanti. Berkali-kali dia bilang tak mau mengerjakan apapun selain skripsi hingga Agustus.
Bercelana jeans dan berjaket hitam. Sebenarnya saya gak sendiri di taman-bunga waktu itu, ada Dasuki dan Epul yang juga baru datang entah dari mana. Berempat, kami ngobrol-ngobrol perkara banyak hal. Lalu Dasuki pergi ke luar. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang. Dewi Fadhiah, dia bisa dibilang pengunjung tetap taman-bunga. Biasanya seperti ini, dia meminjam buku untuk beberapa hari lalu mengembalikannya seraya meminjam buku lain. "Pusing kalau gak baca," dulu dia bilang begitu. Hehe. Kebalikan dengan saya yang seringkali pusing kalau membaca.
Dewi memperlihatkan buku Pianist, sebuah buku yang dijadikan film oleh Roman Polanski dengan judul yang sama. Pianist ditulis oleh Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yang turut jadi korban (meski tidak harus mati) akibat kekejaman fasis NAZI di Warsawa. Buku itu diberi kata pengantar oleh Andrzej Szpilman, anak Wladyslaw Szpilman yang menemukan buku yang ditulis ayahnya itu.
Namun, belakangan Dewi malah bicara soal lain. Dia bilang dia sedang asyik-asyiknya membaca trilogi Lord of the Rings. "Memangnya kamu belum nonton filmnya, yah?" Saya bertanya. "Sudah," kata dia, "Tapi baca bukunya juga seru banget. Asyik, ada silsilah keluarganya segala!" Lalu Butre nimbrung dan entah bagaimana tiba-tiba obrolan berubah menjadi... bacaan waktu kecil!
Ah, ini menyebalkan. Mereka berdua tertawa-tawa mengingat bacaan-bacaan masa kecil mereka, Little House, Alice in Wonderland, dlsb, dlsb, judul-judul dan penulis-penulis yang gak saya ngerti. Mereka berdua tertawa-tawa dan berteriak-teriak lantaran saling mengingat cerita-cerita lucu dari buku-buku itu. Beberapa orang di taman-bunga memerhatikan mereka dan ikut-ikutan tersenyum lucu.
Yang tambah aneh, mereka berdua iseng-isengnya coba-coba diskusiin buku-buku itu agak serius. Banding-bandingin dengan buku-buku sekarang, dan bahkan membandingkan dengan buku-buku karya Pram! Dewi, dan juga Butre, terlihat benar orang yang rajin membaca sejak kecil.
Lalu saya nyeletuk, bacaan waktu saya kecil dan masih berkesan buat saya hingga sekarang ada dua: komik mimin dan tom sawyer anak amerika.
Mimin itu komik yang dulu sempat beredar di Indonesia dalam rentang dekade 80-an. Sekarang komik itu rasa-rasanya gak pernah diterbitin lagi. Dibikin sama komikus Meksiko, Yolanda Vargas Dulche dan Sixto Valencia. Diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Djokolelono. Di zaman Soekarno dulu komik ini dilarang beredar. Yeah, ini memang komik politik. Bercerita tentang anak kulit hitam. Dengan cara yang manis, komik ini nunjukkin gimana parahnya rasialisme yang ada di lingkungan. George Bush sendiri pernah mengecam komik ini. Dari dulu sampai sekarang saya berusaha dapetin komik ini lagi, dan gak kesampaian terus. Susah carinya, dan gilirannya ada harganya mahal untuk ukuran kantong saya.
Kalau Tom Sawyer Anak Amerika itu novel klasik karangan Mark Twain. Bisa dibilang itu adalah presequel dari Petualangan Hucklebery Finn, karangan Mark Twain juga. Jika Hucklebery Finn saya baca bukunya beberapa bulan lalu saja (sedang filmnya sudah agak lama saya tonton, kalau gak salah yang main Elijah Wood waktu kecil), Tom Sawyer Anak Amerika saya baca waktu kelas dua SMP. Duh, dulu senang banget sama buku ini. Sampai-sampai waktu pergi ke dokter gigi saya nenteng-nenteng buku itu dan tetap dibaca sambil nunggu giliran periksa gigi. Tom Sawyer Anak Amerika diterjemahkan oleh A. Moeis.
Nah, kali ini saya nyambung sama Dewi. Dia juga penikmat Mark Twain meskipun dia belum pernah baca Tom Sawyer Anak Amerika dan hanya baru membaca Hucklebery Finn. Pertemuan dengan Dewi dan Butre yang saat itu asyik sekali membicarakan bacaan-bacaan waktu kecil membuat saya agak menyesal mengapa saya tidak membaca buku-buku cerita dunia sejak saya kecil. Sepanjang ingatan saya, saya cuma keranjingan baca cerpen-cerpen dan komik yang ada di majalah BOBO. Dan belakangan, saat kakak perempuan saya memulai kebiasaan membeli majalah remaja saya sering nyolong baca cerpen-cerpen remaja (dan lucunya dulu pernah menulis cerpen untuk salah satu majalah remaja itu. Gak dimuat! Padahal niatnya baik, kalau dimuat honornya bakal buat kakak ;p). Sesekali, lantaran di rumah juga sering ada majalah sastra Horison, saya membaca cerpen-cerpen horison. Salah satu cerpen yang saya masih ingat sampai sekarang adalah cerpen karangan Hermawan Aksan, judulnya Kalimusodo. Saya baca waktu SMP. Wah, itu cerita pewayangan yang benar-benar asyik. Sehingga sebagai orang yang tidak dibesarkan akrab dengan dunia pewayangan, saya juga masih bisa menikmatinya.
Lalu tiba-tiba sore dan malam hari. Minum kopi lagi dan ngobrol-ngobrol lagi. Kali ini dengan lebih banyak orang. Selepas senja, seorang mahasiswa Universitas Widyatama Bandung menelepon dan meminta bertemu. Dia panitia dari acara pameran toko buku alternatif di Bandung. Dia, diantar kawannya yang mahasiswa Unpad, membawa seberkas proposal dan undangan untuk berpartisipasi.
Terus saja seperti itu hingga tadi, pertemuan-pertemuan kecil dengan orang-orang baru yang membawa hal-hal baru. Kadang saya menikmati jika saya berada di taman-bunga. Orang-orang baru datang silih berganti, membawa cerita-cerita dan kesan-kesan baru.
Hingga kemudian saya online saat menuliskan ini, saya bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Cewek ini wartawan di salah satu media milik MNC, yang kalau dalam kata-kata dia, "banyak uangnya hingga kadang suka seenaknya!" Dia satu kampus, bedanya dia sudah lulus. Lucunya di kampus dulu saya gak kenal dia (saya memang gak terkenal!), dan jadi kenal lantaran dulu di media tempat dia bekerja tulisan saya dimuat.
Iseng-iseng saya wawancarai dia sedikit-sedikit. Saya tanya sama dia, besok akan ikut aksi hari perempuan atau nggak? Awalnya dia agak ragu menjawabnya dan malah bilang sekarang lagi malas berpikir soal-soal lain selain dirinya sendiri. Dia lantas nanya, "Egois yah?" Terus saya bilang, "Ya gak seperti itu. Saya malah kadang agak gak respect sama model-model perlawanan pola kawanan begitu. Mungkin beberapa jadi aksi perlawanan yang asyik, tapi yang sering terjadi justru cuma jadi kawanan gak jelas." Saya lalu bilang perlawanan khan gak mesti harus dipolakan dalam bentuk kawanan. Kayak gitu itu rasa-rasanya cuma mentalitas kawanan. Saya bilang saya juga naruh respect sama perlawanan-perlawanan di wilayah pribadi. Personal is political or political is personal. Siapa yang jamin, setelah kita keluar dari kawanan perlawanan kita ternyata tetap menjadi individu yang masih suka mengidealkan jalan ke mal, nonton tv berjam-jam dan mengamini setiap khutbah-khutbahnya, atau nikmatin coca-cola dingin yang memang enak itu?
Hehe, dan dia bilang, "Tadi gw mau jawab itu. Tapi gw takut malah jadi menyinggung loe. Kirain loe aktivis...." Sontak aja saya ketawa. Hei, ada apa dengan kalian para aktivis? Suka tersinggung, yah?
Ya, itu pikiran saya yang muncul setelah pertemuan dengan kawan saya yang wartawan itu. Apa betul aktivis itu suka tersinggung?
Sejak kemarin hingga satu jam terakhir, saya mengalami banyak pertemuan kecil. Pertemuan-pertemuan ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang tentang berbagai hal. Aneh juga, mungkin pertemuan-pertemuan itu biasa saja dan lumrah jika dialami. Apanya yang luar biasa kalau cuma sekadar bertemu kawan-kawan?
Paling mula barangkali pertemuan dengan Butre. Itu pertemuan menyenangkan di tengah-tengah kesuntukkan duduk berjam-jam di kelilingi buku-buku di taman-bunga. Dia datang tiba-tiba dari arah kampus berjalan kaki. Biasanya dia datang ke Jatinangor pada hari Kamis, bukan Senin. Dia sibuk skripsi belakangan ini. Mungkin akan sampai Agustus nanti. Berkali-kali dia bilang tak mau mengerjakan apapun selain skripsi hingga Agustus.
Bercelana jeans dan berjaket hitam. Sebenarnya saya gak sendiri di taman-bunga waktu itu, ada Dasuki dan Epul yang juga baru datang entah dari mana. Berempat, kami ngobrol-ngobrol perkara banyak hal. Lalu Dasuki pergi ke luar. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang. Dewi Fadhiah, dia bisa dibilang pengunjung tetap taman-bunga. Biasanya seperti ini, dia meminjam buku untuk beberapa hari lalu mengembalikannya seraya meminjam buku lain. "Pusing kalau gak baca," dulu dia bilang begitu. Hehe. Kebalikan dengan saya yang seringkali pusing kalau membaca.
Dewi memperlihatkan buku Pianist, sebuah buku yang dijadikan film oleh Roman Polanski dengan judul yang sama. Pianist ditulis oleh Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yang turut jadi korban (meski tidak harus mati) akibat kekejaman fasis NAZI di Warsawa. Buku itu diberi kata pengantar oleh Andrzej Szpilman, anak Wladyslaw Szpilman yang menemukan buku yang ditulis ayahnya itu.
Namun, belakangan Dewi malah bicara soal lain. Dia bilang dia sedang asyik-asyiknya membaca trilogi Lord of the Rings. "Memangnya kamu belum nonton filmnya, yah?" Saya bertanya. "Sudah," kata dia, "Tapi baca bukunya juga seru banget. Asyik, ada silsilah keluarganya segala!" Lalu Butre nimbrung dan entah bagaimana tiba-tiba obrolan berubah menjadi... bacaan waktu kecil!
Ah, ini menyebalkan. Mereka berdua tertawa-tawa mengingat bacaan-bacaan masa kecil mereka, Little House, Alice in Wonderland, dlsb, dlsb, judul-judul dan penulis-penulis yang gak saya ngerti. Mereka berdua tertawa-tawa dan berteriak-teriak lantaran saling mengingat cerita-cerita lucu dari buku-buku itu. Beberapa orang di taman-bunga memerhatikan mereka dan ikut-ikutan tersenyum lucu.
Yang tambah aneh, mereka berdua iseng-isengnya coba-coba diskusiin buku-buku itu agak serius. Banding-bandingin dengan buku-buku sekarang, dan bahkan membandingkan dengan buku-buku karya Pram! Dewi, dan juga Butre, terlihat benar orang yang rajin membaca sejak kecil.
Lalu saya nyeletuk, bacaan waktu saya kecil dan masih berkesan buat saya hingga sekarang ada dua: komik mimin dan tom sawyer anak amerika.
Mimin itu komik yang dulu sempat beredar di Indonesia dalam rentang dekade 80-an. Sekarang komik itu rasa-rasanya gak pernah diterbitin lagi. Dibikin sama komikus Meksiko, Yolanda Vargas Dulche dan Sixto Valencia. Diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Djokolelono. Di zaman Soekarno dulu komik ini dilarang beredar. Yeah, ini memang komik politik. Bercerita tentang anak kulit hitam. Dengan cara yang manis, komik ini nunjukkin gimana parahnya rasialisme yang ada di lingkungan. George Bush sendiri pernah mengecam komik ini. Dari dulu sampai sekarang saya berusaha dapetin komik ini lagi, dan gak kesampaian terus. Susah carinya, dan gilirannya ada harganya mahal untuk ukuran kantong saya.
Kalau Tom Sawyer Anak Amerika itu novel klasik karangan Mark Twain. Bisa dibilang itu adalah presequel dari Petualangan Hucklebery Finn, karangan Mark Twain juga. Jika Hucklebery Finn saya baca bukunya beberapa bulan lalu saja (sedang filmnya sudah agak lama saya tonton, kalau gak salah yang main Elijah Wood waktu kecil), Tom Sawyer Anak Amerika saya baca waktu kelas dua SMP. Duh, dulu senang banget sama buku ini. Sampai-sampai waktu pergi ke dokter gigi saya nenteng-nenteng buku itu dan tetap dibaca sambil nunggu giliran periksa gigi. Tom Sawyer Anak Amerika diterjemahkan oleh A. Moeis.
Nah, kali ini saya nyambung sama Dewi. Dia juga penikmat Mark Twain meskipun dia belum pernah baca Tom Sawyer Anak Amerika dan hanya baru membaca Hucklebery Finn. Pertemuan dengan Dewi dan Butre yang saat itu asyik sekali membicarakan bacaan-bacaan waktu kecil membuat saya agak menyesal mengapa saya tidak membaca buku-buku cerita dunia sejak saya kecil. Sepanjang ingatan saya, saya cuma keranjingan baca cerpen-cerpen dan komik yang ada di majalah BOBO. Dan belakangan, saat kakak perempuan saya memulai kebiasaan membeli majalah remaja saya sering nyolong baca cerpen-cerpen remaja (dan lucunya dulu pernah menulis cerpen untuk salah satu majalah remaja itu. Gak dimuat! Padahal niatnya baik, kalau dimuat honornya bakal buat kakak ;p). Sesekali, lantaran di rumah juga sering ada majalah sastra Horison, saya membaca cerpen-cerpen horison. Salah satu cerpen yang saya masih ingat sampai sekarang adalah cerpen karangan Hermawan Aksan, judulnya Kalimusodo. Saya baca waktu SMP. Wah, itu cerita pewayangan yang benar-benar asyik. Sehingga sebagai orang yang tidak dibesarkan akrab dengan dunia pewayangan, saya juga masih bisa menikmatinya.
Lalu tiba-tiba sore dan malam hari. Minum kopi lagi dan ngobrol-ngobrol lagi. Kali ini dengan lebih banyak orang. Selepas senja, seorang mahasiswa Universitas Widyatama Bandung menelepon dan meminta bertemu. Dia panitia dari acara pameran toko buku alternatif di Bandung. Dia, diantar kawannya yang mahasiswa Unpad, membawa seberkas proposal dan undangan untuk berpartisipasi.
Terus saja seperti itu hingga tadi, pertemuan-pertemuan kecil dengan orang-orang baru yang membawa hal-hal baru. Kadang saya menikmati jika saya berada di taman-bunga. Orang-orang baru datang silih berganti, membawa cerita-cerita dan kesan-kesan baru.
Hingga kemudian saya online saat menuliskan ini, saya bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Cewek ini wartawan di salah satu media milik MNC, yang kalau dalam kata-kata dia, "banyak uangnya hingga kadang suka seenaknya!" Dia satu kampus, bedanya dia sudah lulus. Lucunya di kampus dulu saya gak kenal dia (saya memang gak terkenal!), dan jadi kenal lantaran dulu di media tempat dia bekerja tulisan saya dimuat.
Iseng-iseng saya wawancarai dia sedikit-sedikit. Saya tanya sama dia, besok akan ikut aksi hari perempuan atau nggak? Awalnya dia agak ragu menjawabnya dan malah bilang sekarang lagi malas berpikir soal-soal lain selain dirinya sendiri. Dia lantas nanya, "Egois yah?" Terus saya bilang, "Ya gak seperti itu. Saya malah kadang agak gak respect sama model-model perlawanan pola kawanan begitu. Mungkin beberapa jadi aksi perlawanan yang asyik, tapi yang sering terjadi justru cuma jadi kawanan gak jelas." Saya lalu bilang perlawanan khan gak mesti harus dipolakan dalam bentuk kawanan. Kayak gitu itu rasa-rasanya cuma mentalitas kawanan. Saya bilang saya juga naruh respect sama perlawanan-perlawanan di wilayah pribadi. Personal is political or political is personal. Siapa yang jamin, setelah kita keluar dari kawanan perlawanan kita ternyata tetap menjadi individu yang masih suka mengidealkan jalan ke mal, nonton tv berjam-jam dan mengamini setiap khutbah-khutbahnya, atau nikmatin coca-cola dingin yang memang enak itu?
Hehe, dan dia bilang, "Tadi gw mau jawab itu. Tapi gw takut malah jadi menyinggung loe. Kirain loe aktivis...." Sontak aja saya ketawa. Hei, ada apa dengan kalian para aktivis? Suka tersinggung, yah?
Ya, itu pikiran saya yang muncul setelah pertemuan dengan kawan saya yang wartawan itu. Apa betul aktivis itu suka tersinggung?
7.3.06
Berminat Jadi Presiden? Turunkan Berat Badan Anda!

Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman
Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''
Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.
Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!
Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.
Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.
Mengapa opera sabun?
Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.
Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.
Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.
Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.
SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.
Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.
Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.
Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.
Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.
(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).

Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman
Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''
Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.
Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!
Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.
Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.
Mengapa opera sabun?
Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.
Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.
Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.
Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.
SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.
Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.
Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.
Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.
Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.
(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).
21.7.04
Revolusi Tidak Akan Disiarkan Melalui Televisi:
Bermain-main dengan Peri-peri Merah Muda
Bagi mereka yang mengenal akronim ini dapat mudah diuraikan: 20 Juli 2001, seruan aksi disampaikan kepada ratusan ribu orang dengan mengarahkan mouse: Genoa. Saya belajar tentang protes Genoa pertama kali melalui internet, sebagaimana kebanyakan mereka yang berkumpul di sana. Surat berantai dikirimkan kepada ribuan orang dan diteruskan kepada lebih dari ribuan orang, yang akhirnya sampai kepada saya. Perang maya (cyber war) dengan pesan jelas: ke sanalah, jika Anda berpikir globalisasi gagal. Ke sanalah jika Anda ingin protes menentang kapitalisme global. Ke sanalah jika Anda berpikir perusahaan-perusahaan multinasional terlalu kuat. Jika Anda tidak lagi mempercayai wakil-wakil terpilih Anda akan mendengar. Ke sanalah jika Anda ingin didengar.
Pada 20 Juli, Genoa adalah kota tuan rumah puncak pertemuan tahunan negara-negara G-8, tempat bagi kericuhan para ‘veteran’ Seattle, Melbourne, London, dan Parliament Square, bagi para veteran Washington, Prague, Nice, Quebec, dan Gohenburg (jika 11 veteran adalah istilah pantas yang bagi sebuah pergerakan yang baru berumur beberapa tahun). Mereka berkumpul di Genoa: peri-peri merah muda mengamuk, setan-setan merah mengacungkan spanduk ‘Boycott Baccardi’, para anarkis Italia membentuk perisai tubuh yang dilindungi permainan pertunjukkan, para pecinta lingkungan dengan telepon genggam, orang-orang kota pinggiran dengan jepretan kamera seolah-olah sedang dalam perjalanan liburan ke kota besar—suatu ungkapan bahasa dan tujuan berbeda berkumpul di bawah satu bendera “anti”, saya siap untuk gas air mata: saya telah membaca buku pegangan California-based Ruckus Society, bacaan wajib bagi pengunjuk rasa, dan membaca jeruk lemon dan cuka serta sebuah sapu tangan untuk menutupi muka, dan juga darah buatan dalam botol shampo (baik apabila Anda ingin menyelinap ke dalam suatu kerumunan).
Saya siap bentrok dengan polisi. Saya telah mempelajari taktik pembangkangan sipil dan aksi langsung di workshop non-kekerasan yang saya ikuti sebelum tahun itu di suatu gudang mirip tempat pertemuan di pinggiran barat laut Prague. Walaupun tidak ada hal yang sepenuhnya dapat memancing saya atas kebrutalan polisi Italia. Apa yang tidak siap bagi saya adalah tingkat rasa-komunitas di antara kepentingan berbeda dan sering berseberangan, rasa kesetiakawanan dan persatuan atas lawan bersama terhadap status-quo. Begitu juga saya tidak siap untuk kemarahan belaka, disulut oleh suara genderang terus-menerus dan barisan terompet dihiasi warna pelangi yang dijual dengan harga satu dollar per buah: para anarkis mazhab hitam asyik masyuk menghancurkan jendela depan toko; fokus kebanyakan mereka di sekitar saya merobek pagar yang dipasang penguasa Italia untuk menjaga para pemimpin dunia yang berada di dalam dan pengunjuk rasa yang di luar.
Barangkali, setidaknya, saya siap untuk tingkat di mana mereka yang berbicara dengan saya sangat kecewa terhadap politik dan politikus, terhadap perusahaan dan orang-orang sejenisnya, dan sepanjang mereka siap untuk membongkar konspirasi diam-diam. Pemuda bertelanjang dada dengan tangan terbentang sebagai tanda pecinta damai, yang tetap bertahan sekalipun semprotan meriam air menghantam punggungnya; Venus, seorang gadis dengan rambut merah muda dan bintang-bintang gemerlap menempel pada kelopak matanya, yang berbicara kepada saya dengan logat lembut Irlandia bahwa ia ‘rela mati demi perjuangan ini’.
Sepuluh tahun setelah tank-tank merangsek menuju Red Square, 20 tahun setelah Tembok Berlin runtuh, setelah periode terpanjang ledakan ekonomi, perlawanan terus tumbuh dengan percepatan luar biasa, yang disuarakan bukan hanya oleh ratusan ribu orang yang berkumpul di Genoa atau Gothenburg, Prague atau Seattle, bukan hanya barisan pelangi, namun juga oleh partai-partai putus asadan sering mengejutkan—orang-orang biasa dengan kehidupan biasa, ibu-ibu rumah tangga, guru-guru sekolah—kaum miskin kota dan warga kota. Kepedulian orang-orang di belahan dunia muncul berkenaan loyalitas pemerintah dan tujuan-tujuan perusahaan. Kepedulian bahwa pendulum kapitalisme hanya dapat sedikit bergeser; bahwa perselingkuhan kita dengan pasar bebas telah mengaburkan kebenaran sejati; bahwa terlalu banyak orang kalah. Bahwa negara tidak dipercaya lagi untuk melindungi kepentingan kita; dan bahwa kita akan membayar harga terlalu tinggi untuk pertumbuhan pesat ekonomi kita. Mereka khawatir pada kekuatan bisnis akan melenyapkan suara-suara rakyat.
Akhir kisah yang dimulai di Westminster pada 3 Mei 1979, saat Margaret Thatcher mulai berkuasa, dan kemudian direproduksi di AS, Asia Timur, sebagian besar negara-negara Afrika dan ujung Eropa—yaitu cerita tentang jalan-jalan yang sedang diaspal emas, dan realisasi mimpi amerika—tidak lagi diterima begitu saja. Mitos=mitos yang diabadikan selama era Perang Dingin, yang tanpa takut melemahkan posisi ‘kita’, mulai hilang. Kekayaan tidak selalu menetas ke bawah. Ada batas-batas pertumbuhan. Negara tidak akan melindungi kita. Masyarakat yang dituntun oleh konsep pasar invisible hand bukan hanya tidak sempurna, tetapi juga tidak adil. Dunia yang muncul dari perang dingin merupakan antitesis satu dunia para hiperglobalis yang terselubung. Dunia tersebut sebenarnya bingung, bertentangan dan tidak beraturan. Inilah sebuah dunia yang di dalamnya litani keragu-raguan mulai dipanjatkan. Sebuah dunia yang di dalamnya loyalitas tidak lagi ditentukan, dan aliansi tampak telah berganti.
Sementara BP sedang menjalankan program-program untuk dua ratus eksekutif papan atas tentang masa depan kapitalisme di mana keuntungan dan kerugian globalisasi diperdebatkan, pemerintah Partai Buruh Inggris sedang berjuang melakukan privatisasi terhadap kontrol lalu lintas udara. Dunia Space Odyssey 2001, dengan penuh bahaya, sedang mendekati visi-visi apokaliptik Rokerball, Network dan Soylent Green. Inilah dunia yang di dalamnya, seperti yang akan kita lihat, perusahaan-perusahaan besar mengambil alih negara, pengusaha menjadi lebih kuat ketimbang politikus, dan kepentingan komersial menjadi sangat penting. Seperti yang akan saya tunjukkan, unjuk rasa akan menjadi satu-satunya metode yang cepat untuk mempengaruhi kebijakan dan mengontrol ekses-ekses aktivitas perusahaan.
Gagasan Besar Benetton
Kita dapat memberi tanggal permulaan dunia ini, dunia Perampokan Diam-diam, dari kekuasaan Margaret Thatcher. Perempuan besi dengan rambut bercat ini, bersama kawannya Reagen, menganut bentuk khusus kapitalisme dengan memberi kekuasaan penuh kepada tangan-tangan perusahaan, dan memperoleh saham pasar dengan mengorbankan bukan hanya politik tetapi juga demokrasi. Bentuk khusus kapitalisme tersebut menjadi produk tahan lama. Terlepas dari gigitan yang perlahan, bentuk khusus kapitalisme mereka menjadi ideologi dominan sebagian besar negara dunia. Politik pasca-Perang Dingin menjadi suatu komoditas yang kian terhomogenisasi dan terstandarisasi. Benetton memberi metafor yang pas untuk politik saat ini.
Sekitar enam belas tahun lalu perusahaan pakaian kampanye mode Italia ini mengiklankan kampanye paling provokatif yang pernah terlihat. Dua puluh papan iklan berkaki dengan foto bayi kulit hitam yang sedang kelaparan; penderita AIDS yang sedang sekarat; seragam penuh darah prajurit Bosnia yang mati; kampanya “Serikat Pembunuh Benetton”; sisipan majalah 96 halaman yang berisi foto-foto para tahanan yang sedang berjejer meratapi kematian prajurit Amerika. Benetton mengejutkan perhatian kita, namun kejutan hanya kejutan. Kejutan tersebut tidak mendorong kita bergerak, berusaha, dan menyelesaikan persoalan itu. Iklan mereka tidak menjelaskan apa pun tentang moralitas perang, tidak ada upaya untuk mengurangi kemiskinan dan mengobati AIDS. Satu-satunya tujuan iklan tersebut adalah meningkatkan penjualan, bukan memulai diskusi tentang persoalan-persoalan di balik tingkah polah modal. Dan jika Benetton memperoleh keuntungan di atas kesengsaraan orang lain, lalu apa?
Kita sedang hidup di bawah gagasan besar Benetton. Kita dicekoki citra foto-foto mengejutkan oleh para politikus yang berusaha meraih dukungan kita dengan mengutuk lawan-lawannya dan menyoroti bahayanya representasi yang ‘salah’. Para politikus tersebut berkoar tentang perubahan dan upaya mengubah hidup kita. Partai-partai besar menawarkan solusi dan pilihan yang sangat berbeda kepada kita: orang-orang Demokrat menggembor-gemborkan kebijaksanaan liberal, orang-orang Republik menggembor-gemborkan konservatisme. Semua berupaya memperoleh suara kita. Namun retorika tidak sesuai dengan kenyataan. Solusi yang ditawarkan politkus kita sama palsunya dengan solusi Benetton: gadis China di samping pria Amerika, perempuan kulit hitam sedang berpegangan tangan dengan perempuan kulit putih. Model-model dengan wajah yang tidak biasa, wajah menyolok, kadang indah dan kadang tidak. Orang-orang dengan berbagai warna kulit berpakaian warna-warni. Jawaban-jawaban politik menjadi ilusi seperti halnya deretan pakaian yang diseragamkan, T-shirt standar, dan cardigan yang dipajang di toko Benetton lokal Anda. Konservatisme dan kompromi yang dikomersialisasikan par excelence. Para politikus hanya menawarkan solusi tunggal: sebuah sistem berdasarkan ekonomi laissez-faire, budaya konsumerisme, kekuatan uang, dan perdagangan bebas. Mereka memperjuangkannya, dan menjualnya dengan variasi corak biru, merah atau kuning. Namun semuanya masih dalam sistem, di mana perusahaan adalah raja, negara adalah subyeknya, dan warga negara konsumennya. Penelikungan diam-diam sebuah kontrak sosial.
Namun, saya akan berargumen, bahwa sistem tersebut benar-benar gagal. Di balik konsensus ideologis dan kemenangan telak kapitalisme, keretakan muncul. Jika segalanya begitu indah, mengapa, seperti yang akan kita lihat, orang-orang mengabaikan kotak suara, dan sebaliknya lebih suka di jalanan dan pusat-pusat perbelanjaan? Seberapa bermaknanya demokrasi jika hanya setengah yang memberikan suara, seperti dalam pemilihan presiden Gore-Bush, meskipun setiap orang tahu pemilihan tersebut akan menjadi pertarungan tertutup? Apa kelaikan perwakilan kita sekarang lebih patuh pada perintah perusahaan daripada amanat rakyat mereka sendiri?
Kapitalisme Tak Terbatas
Membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk bangkit melawan, untuk menyadari bahwa negara yang lemah tidak mungkin menciptakan dunia yang aman dan bersih yang mereka inginkan untuk tumbuh kembang anak-anak mereka. Sekian lama masyarakat tidak mempertanyakan dunia yang homogen dan dunia dengan ideologi tunggal. Mengapa?
Bagi kebanyakan orang, kehidupan telah cukup baik dan akan lebih baik lagi. Bagi sebagian besar orang pada dua puluh tahun lalu, pasar bursa meningkat dan tingkat suku bunga turun. Lebih banyak orang, dibanding sebelumnya, memiliki rumah sendiri. Dua pertiga dari kita, di negara maju, memiliki televisi. Kebanyakan kita, di Barat tepatnya, memiliki mobil. Anak-anak kita memakai Nike dan Babay Gap. Kelas menengah tumbuh dengan pesat. Kita adalah patung-patung yang diberi makan yang menguatkan impian kapitalis ini. Studio dan berbagai jaringan media memperindah esensi kapitalisme. Norma-norma yang berlaku dan pemikiran arus utama, direkam, diputar kembali, dan diperkuat dalam Technicolor, sementara berbagai kritik terhadap ortodoksi secara sadar ditarik kembali. Unsur damai dalam unjuk rasa Seattle, Gothenburg dan Genoa, sulit ditayangkan. Proctor dan Gambble secara terang-terangan melarang program iklan komersialnya “yang dengan berbagai cara dapat mendukung konsep bisnis menjadi dingin dan kejam”. Program-program yang dicari adalah program yang mendukung pesan-pesan pengiklan. “Setiap saat televisi dihidupkan, basis politik, ekonomi dan moral bagi tatanan sosial yang dikemudikan oleh profit, secara implisit dilegitimasi”.
Pada 1997 Adbuster, sebuah organisasi ‘pengacau kebudayaan’ Kanada, berusaha mengudarakan iklan counterconsumerism di mana babi aminasi yang melapisi bagian atas peta Amerika Utara mengecap-ngecapkan bibirnya sambil berkata, “Orang Amerika Utara mengkonsumsi rata-rata lima kali lebih daripada orang India... Berikanlah sisanya.”
Tanggal 28 November adalah hari tanpa belanja (Buy Nothing Day). Namun stasiun televisi AS seperti NBC, CBS, dan ABC dengan tegas menolak mengampanyekannya, kendatipun ada dana untuk biaya iklan itu. “Kami tidak ingin mengambil iklan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan bisnis sah kami,” kata Richard Gitter, wakil presiden standar pengiklan di General Electric Company milik NBC. CBS Westinghouse Electric Corporation, dalam suratnya, bahkan lebih keras menolak iklan komersial tersebut, sambil membenarkan keputusannya dengan alasan bahwa Buy Nothing Day, “Bertolak belakang dengan kebijakan ekonomi yang berlaku saat ini di AS.”
Raksasa-raksasa perusahaan yang demikian adalah warisan kami. Suatu dunia di mana kepentingan-kepentingan perusahaan merajai, perusahaan-perusahaan besar menyebarkan jargon melalui gelombang udara dan mencekik bangsa-bangsa lainnya dengan aturan imperialistik mereka. Perusahaan-perusahaan telah menjadi raksasa, raksasa global yang sangat besar yang memegang kekuatan politik sangat besar. Didorong kebijakan pemerintah tentang privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi perdagangan dan kemajuan teknologi dua puluh tahun yang lalu, pergeseran kekuasaan telah berlangsung.
Saat ini, ratusan perusahaan multinasional terbesar mengendalikan sekitar 20 persen aset asing global, dan 51 dari 100 kekuatan ekonomi paling besar di dunia adalah perusahaan. Penjualan General Motors dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara Afrika sub-Sahara; aset IBM, BP, dan General Electric, melebihi kemampuan ekonomi sebagian besar negara-negara kecil; dan Wal-Mart, sebuah supermarket, memiliki pendapatan lebih tinggi daripada sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan Tengah.
Ukuran perusahaan terus meningkat. Pada tahun pertama milenium kedua, Vodafone bergabung dengan Mannesman (harga jual $183 miliar), Chrysler dengan Daimler (perusahaan gabungan yang saat ini mempekerjakan sekitar 400.000 orang), Smith Mine Beecham dengan Glaxo Wellcome (yang keuntungan pra pajaknya $7,6 miliar seperti Glaxo Smith Kline), dan AOL dengan Time Warner dengan harga merjer $350 miliar. Jumlah total perusahaan yang merjer pada tahun 2000 adalah 5000 perusahaan, dan dua kali lipat tingkat merjer pada dekade sebelumnya. Mega merjer ini memukul aktivitas M&A tahun 1980-an. Setiap merjer baru selalu menjadi lebih besar dibanding sebelumnya, sementara jarang sekali pemerintah yang memiliki kekuasaan tetap. Seluruh barang yang kita beli atau gas yang kita gunakan, obat-obatan yang dianjurkan dokter, kebutuhan penting seperti air, kesehatan, transportasi, dan pendidikan, bahkan komputer-komputer sekolah baru dan peningkatan hasil panen sawah di sekitar komunitas kita—berada dalam genggaman perusahaan yang mungkin, sesuai kehendak mereka, merawat, menghidupi, atau mencekik kita.
Inilah dunia Perampokan Diam-diam, dunia pada fajar milienium baru. Kekuasaan pemerintah nampak terbelenggu dan kita semakin tergantung pada perusahaan. Bisnis berada di tempat duduk pengemudi, perusahaan menentukan aturan main, dan pemerintah mejadi wasit, yang menguatkan aturan yang didiktekan orang lain. Sekarang perusahaan yang mudah dipindah-pindah adalah pesta besar yang dapat dipindahkan, dan pemerintah berusaha keras menarik atau menahan perusahaan tersebut tetap berada di negerinya. Mata-mata buta dijebak kedalam lobang pajak. Para gembong bisnis memakai alasan pajak yang rumit untuk membiarkan kekayaannya tetap di luar negeri. Rupert Murdochs News Corporation hanya membayar 6 persen pajak di seluruh dunia. Dan di Inggris, sampai akhir 1998, perusahaan tersebut sama sekali tidak membayar pajak perusahaan, walaupun telah mengeruk keuntungan 1,4 miliar poundsterling sejak 1987.
Inilah sebuah dunia di mana, walaupun kita telah melihat tanda-tanda pengikisan dasar pajak yang meremukkan dalam pelayanan publik dan infrastruktur, para wakil terpilih kita menyembah-nyembab bisnis, takut tidak ikut menari mengikuti irama pemusik tiup. Dulu pemerintah berjuang demi teritori fisik. Sekarang mereka berjuang melawan penyakit demi kepentingan pasar. Salah satu tugas utama mereka adalah menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif, yang menarik bagi bisnis. Peran negara bangsa pada skala luas menyediakan sarana publik dan infrastruktur yang diperlukan bisnis pada harga paling rendah sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia.
Dipecah Kita Runtuh
Hal-hal berkenaan keadilan, persamaan, hak-hak, lingkungan, dan bahkan persoalan keamanan nasional, telah runtuh. Ambillah kasus Taliban—yang didukung AS sampai 1997 karena kepentingan perusahaan minyak, walaupun rekor rezim atas HAM suram. Keadilan sosial menjadi alat untuk mengakses pasar. Jaringan Pengaman Sosial diperlemah. Kekuatan serikat buruh dihancurkan. Tidak pernah sebelumnya di zaman modern ini jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin begitu lebar, juga tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang malang atau kalah. Empat puluh lima juta orang Amerika memiliki asuransi kesehatan. Di Manhattan orang-orang mengais kaleng dan botol minuman kosong dari tempat sampah untuk ditukar dengan harga lima sen, sementara di London, para pencuci kaca depan mobil dengan alat pembersih dan seember air kotor menghadang mobil-mobil di perempatan lampu lalu lintas. Orang-orang Amerika menghabiskan $8 miliar pertahun untuk membeli kosmetik, sementara dunia tidak dapat mencari uang $9 miliar, menurut hitungan PBB, yang dibutuhkan untuk memberikan akses air minuman bersih dan sanitasi kepada semua orang.
Partai Buruh Inggris dengan terus terang menyatakan bahwa sekarang ini menciptakan kekayaan jauh lebih penting daripada redistribusi kekayaan. Di Amerika, selama 10 tahun setelah 1988, pendapatan keluarga termiskin naik kurang dari 1 persen, sementara pendapatan seperlima keluarga terkaya melonjak 15 persen. Di New York City 20 persen keluarga termiskin berpendapatan rata-rata $10.700 per tahun, sementara 20 persen keluarga terkaya berpendapatan $152.350 per tahun. Upah bagi keluarga kelas bawah tersebut begitu rendah sehingga, walaupun gambaran pengangguran di negeri tersebut rendah, jutaan orang Amerika dipekerjakan , dan 1 dari 5 anak Amerika, hidup di bawah garis kemiskinan. Tidak pernah sebelumnya sejak 1920-an jurang pemisah antara yang kaya dan miskin begitu besar. Keuntungan bersih Bill Gates sendiri pada akhir abad lalu, misalnya, pada dasarnya sama dengan 50 persen pendapatan total keluarga Amerika.
Kapitalisme telah menang, namun kehancurannya tidak ditanggung bersama oleh semua orang. Kegagalan-kegagalannya diabaikan pemerintah yang, sambil berterima kasih atas ukuran-ukuran kebijakan yang diperkenalkan pemerintah, semakin tidak mampu menghadapi konsekuensi-konsekuensi sistem mereka. Dan sistem tersebut busuk. Skandal-skandal politik terlalu sering terbongkar: Kohl, Schmidt, dan Mitterland adalah di antara mereka yang telah kita kenal atau curigai. Bahkan para politikus yang tidak menanggung akibatnya tersebut semakin merasa berutang budi pada atau terlibat dengan bisnis. Tidak ada tempat yang lebih nampak jelas daripada di AS. Kepresidenan Clinton terjerembab skandal secara simultan: dari tuduhan Whitewater, lebih semalam tinggal di kamar tidur Lincoln demi para pemberi dana partai, sampai kebijakan final mengampuni para pengelak pajak dan pedagang senjata Marc Rich. Untuk para kandidat pemilihan presiden Amerika 2000, kemampuan mereka meraih suara terbanyak sangat tergantung pada pendanaan perusahaan kuat mereka. Kotak dana perang kampanye George W. Bush adalah $191 juta, Gore $133 juta. Dan keberatan-keberatan terhadap RUU McCain Feingold tentang reformasi keuangan kampanye, yang dampaknya akan menghambat bisnis, serikat dagang, dan individu-individu untuk menciptakan kontribusi ‘uang lunak’ tak terbatas bagi partai-partai politik, berasal dari demokrat dan republik. Tidak heran bintang politikus memudar. Rakyat mengetahui kepentingan yang bertentangan para politikus dan keengganan memenangkan mereka, dan memulai meninggalkan politik.
Sebaliknya, pada 1980-an demokrasi muncul di seluruh dunia sebagai bentuk pemerintah yang dominan, yang diperkuat legitimasi unik dan dukungan massa yang kuat. Pada 1990-an partisipasi pemilih di mana-mana turun, keanggotaan partai berkurang, para politikus dihargai di bawah ukuran pembantu yang layak dihormati. Di seluruh dunia, dari demokrasi tua AS dan Eropa Barat, sampai negara-negara Amerika Latin dan Timur Jauh, masyarakat kurang mempercayai institusi pemerintah saat ini daripada satu dekade yang lalu. Hanya 59 persen pemberi suara Inggir memberikan suara pada pemilihan umum 2001, turun dari 69 persen pada 1997, kemunduran terendah sejak Perang Dunia I. Di AS, tidak sampai dua abad, begitu banyak warga negara AS dengan sadar tidak memberikan suara seperti 6 tahun lalu. Produk yang dijual politikus dianggap rusak, tidak lagi dianggap layak beli.
Memecahkan Kebisuan
Inilah dunia Perampokan Diam-diam yang akan saya uraikan dalam buku ini. Tujuan saya adalah memahami dunia ini dan mengerti ke mana kita akan di bawa: sebuah dunia yang di dalamnya penghasilan perusahaan memperkecil penghasilan negara-negara, dan pengusaha lebih tinggi pangkatnya daripada politikus; yang di dalamnya tiga perempat rakyat AS sekarang berpikir bahwa bisnis memperoleh kekuasaan terlalu besar atas banyak aspek kehidupan mereka; dan yang di dalamnya, meskipun teknik menjual politik partai lebih kuat dan agresif, kian sulit untuk dipilih. Sekarang ekonomi dihargai lebih besar daripada politik. Rakyat telah ditinggalkan. Dan konsumen adalah segalanya. “Partisipasi dalam pasar telah menggantikan partisipasi dalam politik.”
Argumen saya tidak dimaksudkan antikapitalis. Kapitalisme jelas merupakan sistem terbaik untuk menghasilkan kekayaan. Perdagangan bebas dan pasar modal terbuka telah membawa pertumbuhan ekonomi luar biasa untuk kebanyakan, jika tidak semua orang di dunia. Begitu pula buku ini tidak bermaksud antibisnis. Perusahaan tidaklah amoral tetapi, saya berargumen, secara moral ambivalen. Sebenarnya di bawah kondisi pasar tertentu, bisnis lebih mampu dan lebih memiliki kemauan untuk menangani banyak persoalan di dunia daripada pemerintah. “Tanggung jawab sosial”, “Pembangunan berkelanjutan”, dan “Dampak lingkungan” adalah istilah-istilah yang saat ini kemungkinan lebih didengar dari CEOs daripada menteri-menteri pemerintah.
Demikian juga, saya tidak bermaksud mengagungkan pemerintah. Walaupun, seperti yang akan saya katakan, negara memiliki peran jelas dalam masyarakat, saya tetap sangat meragukan kemampuan pemerintah memainkan peran ini, terutama saat ini di mana batas-batas antara bisnis dan pemerintah sangat kabur, dan terdapat kesenjangan kepemimpinan atau kemauan politik.
Namun sejujurnya, tujuan buku ini adalah untuk mendukung rakyat, demokrasi, dam keadilan. Saya bermaksud mempersoalan justifikasi moral bentuk kapitalisme yang menganjurkan pemerintah menjual warga negaranya dengan harga yang sangat murah; menentang legitimasi dunia di mana banyak yang kalah dan sedikit yang menang; menjelaskan bagaimana pengambil-alihan ini membahayakan demokrasi; juga berargumen bahwa ada paradoks mendasar pada jiwa kapitalisme laissez-faire, bahwa dengan mereduksi negara pada tingkat paling rendah dan menempatkan perusahaan pada tingkat paling tinggi, negara mengancam legitimasinya sendiri. Saya akan menjelaskan implikasi-implikasi sebuah dunia yang di dalamnya pemerintah tidak bisa dipercaya untuk menjaga kepentingan-kepentingan kita, dan yang di dalamnya kekuasaan bukan hasil pemilihan (unelected powers)—yaitu perusahaan-perusahaan besar—mengambil peran pemerintah, dan meneliti konsekuensi-konsekuensi watak politik yang menghargai pengerjaan pasar di atas segalanya. Saya akan memetakan pengejaran keuntungan yang gesit ini, dan mengonfrontasikan mereka yang menjustifikasi politik uang sebagai sebuah ungkapan kebebasan berbicara, dan mereka yang membenarkan non-intervensi dalam urusan negara lain untuk alasan kepentingan dagang mereka sendiri. Sekitar dua dekade terakhir, keseimbangan kekuasaan antara politik dan komersial telah berubah secara radikal, yang meninggalkan politikus semakin menjadi subordinat kekuasaan ekonomi kolosal bisnis besar.
Disebarkan oleh poros Reagen-Thatcher, dan dipercepat oleh akhir Perang Dingin, proses ini telah menumbuhkan hidrolik sekitar dua dekade lalu dan sekarang mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk negatif dan positif. Bagaimanapun cara kita melihatnya, perusahaan sedang mengambil alih tanggung jawab pemerintah. Dan ketika bisnis meluaskan perannya, wilayah publik, seperti yang akan kita lihat, benar-benar akan ditentukan oleh bisnis. Negara politik telah menjadi negara perusahaan. Pemerintah, dengan tidak mengakui pengambilalihan pun, mengambil risiko hancurnya kontrak penuh antara negara dan rakyat yang menjadi inti masyarakat demokratik. Menolak kotak suara dan yang mencakup bentuk non-tradisional ungkapan politik menjadi alternatif yang kian menarik. Menjelaskan perkembangan proses-proses ini dan konsekuensinya merupakan isi buku ini. Keputusan saya menulis The Silent Takeover bukanlah tanpa kepentingan. Saya perlu memahami ketidakpuasan saya yang sedang tumbuh dan perasaan saya sendiri bahwa hal-hal tersebut menjadi serba salah. Apa sebabnya kehidupan dalam banyak hal tidak pernah lebih baik, sekalipun saya dan begitu banyak orang di sekitar saya sudah tampak begitu susah?
Bagaimana bisa demikian, saya, putri seorang perempuan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membawa perempuan ke dunia politik, sekarang menyaksikan dunia politik terkooptasi, seperti arena yang kian kehilangan makna—arena yang dagelan politik terbaiknya adalah pemilihan presiden AS terakhir? Bagaimana bisa, setelah 10 tahun mendarat di Leningrad untuk menata bursa saham Rusia yang pertama—seorang pelayan toko dengan gelar MBA dari Wharton di tas saya—sekarang merasa terbakar untuk mempertanyakan pendirian-pendirian saya? Mengapa di Fakultas Ekonomi Universitas Cambridge, tempat saya mengajar, ketika saya menjelaskan bahwa saya ingin mengawasi isu yang diuji buku ini, saya dibanjiri pertanyaan mahasiswa, yang saya gagal memberikan jawaban memuaskan kepada mereka?
Kita sekarang berdiri di titik waktu yang kritis. Jika kita tidak melakukan apa pun, jika kita tidak melawan perampokan diam-diam ini, jangan tanyakan sistem keimanan kita, jangan akui kebersalahan kita sendiri dalam rangka mencetak “tata dunia baru,” dan kemudian hilanglah semuanya.
Sebagaimana kita lihat, ketidaksetaraaan dalam pendapatan bukan hanya buruk bagi kaum miskin, namun juga bagi kaum kaya. Pengikisan terus menerus terhadap pemerintah dan politik berbahaya bagi semua, tidak peduli pada persuasi politik. Sebuah dunia di mana, George Bush mengesahkan Undang-Undang setelah disahkannya Undang-Undang yang mendukung kepentingan bisnis, Rupert Murdoch memiliki kekuasaan melampui Tony Blair, dan perusahaan mengatur agenda politik, merupakan dunia yang menakutkan dan tidak demokratik. Gagasan perusahaan mengambil alih peran pemerintah dalam banyak hal mungkin nampak sebagai seruan, naum risiko-risikonya semakin membiarkan kita tanpa sumber daya. Kisahnya akan diceritakan melalui beragam warna karakter yang akan kita temui. Granny D, nenek berusia 90 tahun, yang menyeberang ke AS untuk memenangkan reformasi dana kampanye; saudara putri Patricia Marshall, aktivis biarawati pemegang saham, yang membujuk PepsiCo menjual kebun pembotolan di Burma, Oskar Lafontaire, Menteri Keuangan Jerman, yang dalam pidato perpisahan pengunduran dirinya mengatakan, “Hati tentu tidak dijual di bursa saham.” Suara-suara tersebut merupakan sebagian kecil suara yang akan kita dengar. Namun buku ini bukanlah kumpulan kisah-kisah mereka yang berbeda-beda, buku ini merupakan kumpulan kisah kita semua. Kita semua tengah dalam perampokan diam-diam yang dilakukan perusahaan. Tujuan saya adalah menunjukkan bagaimana perampokan diam-diam ini merangkak di atas kita, mengapa ini bermasalah, dan apa yang dapat kita lakukan untuk ini.
Pendahuluan buku Noreena Hertz, The Silent Takeover, Global Capitalism, and the Death of Democracy, Associate Director pada Center for International Business, University of Cambridge. Diterjemahkan Farid Assifa, TRADEM YOGYAKARTA.
Bermain-main dengan Peri-peri Merah Muda
Bagi mereka yang mengenal akronim ini dapat mudah diuraikan: 20 Juli 2001, seruan aksi disampaikan kepada ratusan ribu orang dengan mengarahkan mouse: Genoa. Saya belajar tentang protes Genoa pertama kali melalui internet, sebagaimana kebanyakan mereka yang berkumpul di sana. Surat berantai dikirimkan kepada ribuan orang dan diteruskan kepada lebih dari ribuan orang, yang akhirnya sampai kepada saya. Perang maya (cyber war) dengan pesan jelas: ke sanalah, jika Anda berpikir globalisasi gagal. Ke sanalah jika Anda ingin protes menentang kapitalisme global. Ke sanalah jika Anda berpikir perusahaan-perusahaan multinasional terlalu kuat. Jika Anda tidak lagi mempercayai wakil-wakil terpilih Anda akan mendengar. Ke sanalah jika Anda ingin didengar.
Pada 20 Juli, Genoa adalah kota tuan rumah puncak pertemuan tahunan negara-negara G-8, tempat bagi kericuhan para ‘veteran’ Seattle, Melbourne, London, dan Parliament Square, bagi para veteran Washington, Prague, Nice, Quebec, dan Gohenburg (jika 11 veteran adalah istilah pantas yang bagi sebuah pergerakan yang baru berumur beberapa tahun). Mereka berkumpul di Genoa: peri-peri merah muda mengamuk, setan-setan merah mengacungkan spanduk ‘Boycott Baccardi’, para anarkis Italia membentuk perisai tubuh yang dilindungi permainan pertunjukkan, para pecinta lingkungan dengan telepon genggam, orang-orang kota pinggiran dengan jepretan kamera seolah-olah sedang dalam perjalanan liburan ke kota besar—suatu ungkapan bahasa dan tujuan berbeda berkumpul di bawah satu bendera “anti”, saya siap untuk gas air mata: saya telah membaca buku pegangan California-based Ruckus Society, bacaan wajib bagi pengunjuk rasa, dan membaca jeruk lemon dan cuka serta sebuah sapu tangan untuk menutupi muka, dan juga darah buatan dalam botol shampo (baik apabila Anda ingin menyelinap ke dalam suatu kerumunan).
Saya siap bentrok dengan polisi. Saya telah mempelajari taktik pembangkangan sipil dan aksi langsung di workshop non-kekerasan yang saya ikuti sebelum tahun itu di suatu gudang mirip tempat pertemuan di pinggiran barat laut Prague. Walaupun tidak ada hal yang sepenuhnya dapat memancing saya atas kebrutalan polisi Italia. Apa yang tidak siap bagi saya adalah tingkat rasa-komunitas di antara kepentingan berbeda dan sering berseberangan, rasa kesetiakawanan dan persatuan atas lawan bersama terhadap status-quo. Begitu juga saya tidak siap untuk kemarahan belaka, disulut oleh suara genderang terus-menerus dan barisan terompet dihiasi warna pelangi yang dijual dengan harga satu dollar per buah: para anarkis mazhab hitam asyik masyuk menghancurkan jendela depan toko; fokus kebanyakan mereka di sekitar saya merobek pagar yang dipasang penguasa Italia untuk menjaga para pemimpin dunia yang berada di dalam dan pengunjuk rasa yang di luar.
Barangkali, setidaknya, saya siap untuk tingkat di mana mereka yang berbicara dengan saya sangat kecewa terhadap politik dan politikus, terhadap perusahaan dan orang-orang sejenisnya, dan sepanjang mereka siap untuk membongkar konspirasi diam-diam. Pemuda bertelanjang dada dengan tangan terbentang sebagai tanda pecinta damai, yang tetap bertahan sekalipun semprotan meriam air menghantam punggungnya; Venus, seorang gadis dengan rambut merah muda dan bintang-bintang gemerlap menempel pada kelopak matanya, yang berbicara kepada saya dengan logat lembut Irlandia bahwa ia ‘rela mati demi perjuangan ini’.
Sepuluh tahun setelah tank-tank merangsek menuju Red Square, 20 tahun setelah Tembok Berlin runtuh, setelah periode terpanjang ledakan ekonomi, perlawanan terus tumbuh dengan percepatan luar biasa, yang disuarakan bukan hanya oleh ratusan ribu orang yang berkumpul di Genoa atau Gothenburg, Prague atau Seattle, bukan hanya barisan pelangi, namun juga oleh partai-partai putus asadan sering mengejutkan—orang-orang biasa dengan kehidupan biasa, ibu-ibu rumah tangga, guru-guru sekolah—kaum miskin kota dan warga kota. Kepedulian orang-orang di belahan dunia muncul berkenaan loyalitas pemerintah dan tujuan-tujuan perusahaan. Kepedulian bahwa pendulum kapitalisme hanya dapat sedikit bergeser; bahwa perselingkuhan kita dengan pasar bebas telah mengaburkan kebenaran sejati; bahwa terlalu banyak orang kalah. Bahwa negara tidak dipercaya lagi untuk melindungi kepentingan kita; dan bahwa kita akan membayar harga terlalu tinggi untuk pertumbuhan pesat ekonomi kita. Mereka khawatir pada kekuatan bisnis akan melenyapkan suara-suara rakyat.
Akhir kisah yang dimulai di Westminster pada 3 Mei 1979, saat Margaret Thatcher mulai berkuasa, dan kemudian direproduksi di AS, Asia Timur, sebagian besar negara-negara Afrika dan ujung Eropa—yaitu cerita tentang jalan-jalan yang sedang diaspal emas, dan realisasi mimpi amerika—tidak lagi diterima begitu saja. Mitos=mitos yang diabadikan selama era Perang Dingin, yang tanpa takut melemahkan posisi ‘kita’, mulai hilang. Kekayaan tidak selalu menetas ke bawah. Ada batas-batas pertumbuhan. Negara tidak akan melindungi kita. Masyarakat yang dituntun oleh konsep pasar invisible hand bukan hanya tidak sempurna, tetapi juga tidak adil. Dunia yang muncul dari perang dingin merupakan antitesis satu dunia para hiperglobalis yang terselubung. Dunia tersebut sebenarnya bingung, bertentangan dan tidak beraturan. Inilah sebuah dunia yang di dalamnya litani keragu-raguan mulai dipanjatkan. Sebuah dunia yang di dalamnya loyalitas tidak lagi ditentukan, dan aliansi tampak telah berganti.
Sementara BP sedang menjalankan program-program untuk dua ratus eksekutif papan atas tentang masa depan kapitalisme di mana keuntungan dan kerugian globalisasi diperdebatkan, pemerintah Partai Buruh Inggris sedang berjuang melakukan privatisasi terhadap kontrol lalu lintas udara. Dunia Space Odyssey 2001, dengan penuh bahaya, sedang mendekati visi-visi apokaliptik Rokerball, Network dan Soylent Green. Inilah dunia yang di dalamnya, seperti yang akan kita lihat, perusahaan-perusahaan besar mengambil alih negara, pengusaha menjadi lebih kuat ketimbang politikus, dan kepentingan komersial menjadi sangat penting. Seperti yang akan saya tunjukkan, unjuk rasa akan menjadi satu-satunya metode yang cepat untuk mempengaruhi kebijakan dan mengontrol ekses-ekses aktivitas perusahaan.
Gagasan Besar Benetton
Kita dapat memberi tanggal permulaan dunia ini, dunia Perampokan Diam-diam, dari kekuasaan Margaret Thatcher. Perempuan besi dengan rambut bercat ini, bersama kawannya Reagen, menganut bentuk khusus kapitalisme dengan memberi kekuasaan penuh kepada tangan-tangan perusahaan, dan memperoleh saham pasar dengan mengorbankan bukan hanya politik tetapi juga demokrasi. Bentuk khusus kapitalisme tersebut menjadi produk tahan lama. Terlepas dari gigitan yang perlahan, bentuk khusus kapitalisme mereka menjadi ideologi dominan sebagian besar negara dunia. Politik pasca-Perang Dingin menjadi suatu komoditas yang kian terhomogenisasi dan terstandarisasi. Benetton memberi metafor yang pas untuk politik saat ini.
Sekitar enam belas tahun lalu perusahaan pakaian kampanye mode Italia ini mengiklankan kampanye paling provokatif yang pernah terlihat. Dua puluh papan iklan berkaki dengan foto bayi kulit hitam yang sedang kelaparan; penderita AIDS yang sedang sekarat; seragam penuh darah prajurit Bosnia yang mati; kampanya “Serikat Pembunuh Benetton”; sisipan majalah 96 halaman yang berisi foto-foto para tahanan yang sedang berjejer meratapi kematian prajurit Amerika. Benetton mengejutkan perhatian kita, namun kejutan hanya kejutan. Kejutan tersebut tidak mendorong kita bergerak, berusaha, dan menyelesaikan persoalan itu. Iklan mereka tidak menjelaskan apa pun tentang moralitas perang, tidak ada upaya untuk mengurangi kemiskinan dan mengobati AIDS. Satu-satunya tujuan iklan tersebut adalah meningkatkan penjualan, bukan memulai diskusi tentang persoalan-persoalan di balik tingkah polah modal. Dan jika Benetton memperoleh keuntungan di atas kesengsaraan orang lain, lalu apa?
Kita sedang hidup di bawah gagasan besar Benetton. Kita dicekoki citra foto-foto mengejutkan oleh para politikus yang berusaha meraih dukungan kita dengan mengutuk lawan-lawannya dan menyoroti bahayanya representasi yang ‘salah’. Para politikus tersebut berkoar tentang perubahan dan upaya mengubah hidup kita. Partai-partai besar menawarkan solusi dan pilihan yang sangat berbeda kepada kita: orang-orang Demokrat menggembor-gemborkan kebijaksanaan liberal, orang-orang Republik menggembor-gemborkan konservatisme. Semua berupaya memperoleh suara kita. Namun retorika tidak sesuai dengan kenyataan. Solusi yang ditawarkan politkus kita sama palsunya dengan solusi Benetton: gadis China di samping pria Amerika, perempuan kulit hitam sedang berpegangan tangan dengan perempuan kulit putih. Model-model dengan wajah yang tidak biasa, wajah menyolok, kadang indah dan kadang tidak. Orang-orang dengan berbagai warna kulit berpakaian warna-warni. Jawaban-jawaban politik menjadi ilusi seperti halnya deretan pakaian yang diseragamkan, T-shirt standar, dan cardigan yang dipajang di toko Benetton lokal Anda. Konservatisme dan kompromi yang dikomersialisasikan par excelence. Para politikus hanya menawarkan solusi tunggal: sebuah sistem berdasarkan ekonomi laissez-faire, budaya konsumerisme, kekuatan uang, dan perdagangan bebas. Mereka memperjuangkannya, dan menjualnya dengan variasi corak biru, merah atau kuning. Namun semuanya masih dalam sistem, di mana perusahaan adalah raja, negara adalah subyeknya, dan warga negara konsumennya. Penelikungan diam-diam sebuah kontrak sosial.
Namun, saya akan berargumen, bahwa sistem tersebut benar-benar gagal. Di balik konsensus ideologis dan kemenangan telak kapitalisme, keretakan muncul. Jika segalanya begitu indah, mengapa, seperti yang akan kita lihat, orang-orang mengabaikan kotak suara, dan sebaliknya lebih suka di jalanan dan pusat-pusat perbelanjaan? Seberapa bermaknanya demokrasi jika hanya setengah yang memberikan suara, seperti dalam pemilihan presiden Gore-Bush, meskipun setiap orang tahu pemilihan tersebut akan menjadi pertarungan tertutup? Apa kelaikan perwakilan kita sekarang lebih patuh pada perintah perusahaan daripada amanat rakyat mereka sendiri?
Kapitalisme Tak Terbatas
Membutuhkan waktu bagi masyarakat untuk bangkit melawan, untuk menyadari bahwa negara yang lemah tidak mungkin menciptakan dunia yang aman dan bersih yang mereka inginkan untuk tumbuh kembang anak-anak mereka. Sekian lama masyarakat tidak mempertanyakan dunia yang homogen dan dunia dengan ideologi tunggal. Mengapa?
Bagi kebanyakan orang, kehidupan telah cukup baik dan akan lebih baik lagi. Bagi sebagian besar orang pada dua puluh tahun lalu, pasar bursa meningkat dan tingkat suku bunga turun. Lebih banyak orang, dibanding sebelumnya, memiliki rumah sendiri. Dua pertiga dari kita, di negara maju, memiliki televisi. Kebanyakan kita, di Barat tepatnya, memiliki mobil. Anak-anak kita memakai Nike dan Babay Gap. Kelas menengah tumbuh dengan pesat. Kita adalah patung-patung yang diberi makan yang menguatkan impian kapitalis ini. Studio dan berbagai jaringan media memperindah esensi kapitalisme. Norma-norma yang berlaku dan pemikiran arus utama, direkam, diputar kembali, dan diperkuat dalam Technicolor, sementara berbagai kritik terhadap ortodoksi secara sadar ditarik kembali. Unsur damai dalam unjuk rasa Seattle, Gothenburg dan Genoa, sulit ditayangkan. Proctor dan Gambble secara terang-terangan melarang program iklan komersialnya “yang dengan berbagai cara dapat mendukung konsep bisnis menjadi dingin dan kejam”. Program-program yang dicari adalah program yang mendukung pesan-pesan pengiklan. “Setiap saat televisi dihidupkan, basis politik, ekonomi dan moral bagi tatanan sosial yang dikemudikan oleh profit, secara implisit dilegitimasi”.
Pada 1997 Adbuster, sebuah organisasi ‘pengacau kebudayaan’ Kanada, berusaha mengudarakan iklan counterconsumerism di mana babi aminasi yang melapisi bagian atas peta Amerika Utara mengecap-ngecapkan bibirnya sambil berkata, “Orang Amerika Utara mengkonsumsi rata-rata lima kali lebih daripada orang India... Berikanlah sisanya.”
Tanggal 28 November adalah hari tanpa belanja (Buy Nothing Day). Namun stasiun televisi AS seperti NBC, CBS, dan ABC dengan tegas menolak mengampanyekannya, kendatipun ada dana untuk biaya iklan itu. “Kami tidak ingin mengambil iklan apa pun yang bertentangan dengan kepentingan bisnis sah kami,” kata Richard Gitter, wakil presiden standar pengiklan di General Electric Company milik NBC. CBS Westinghouse Electric Corporation, dalam suratnya, bahkan lebih keras menolak iklan komersial tersebut, sambil membenarkan keputusannya dengan alasan bahwa Buy Nothing Day, “Bertolak belakang dengan kebijakan ekonomi yang berlaku saat ini di AS.”
Raksasa-raksasa perusahaan yang demikian adalah warisan kami. Suatu dunia di mana kepentingan-kepentingan perusahaan merajai, perusahaan-perusahaan besar menyebarkan jargon melalui gelombang udara dan mencekik bangsa-bangsa lainnya dengan aturan imperialistik mereka. Perusahaan-perusahaan telah menjadi raksasa, raksasa global yang sangat besar yang memegang kekuatan politik sangat besar. Didorong kebijakan pemerintah tentang privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi perdagangan dan kemajuan teknologi dua puluh tahun yang lalu, pergeseran kekuasaan telah berlangsung.
Saat ini, ratusan perusahaan multinasional terbesar mengendalikan sekitar 20 persen aset asing global, dan 51 dari 100 kekuatan ekonomi paling besar di dunia adalah perusahaan. Penjualan General Motors dan Ford lebih besar daripada GDP seluruh negara Afrika sub-Sahara; aset IBM, BP, dan General Electric, melebihi kemampuan ekonomi sebagian besar negara-negara kecil; dan Wal-Mart, sebuah supermarket, memiliki pendapatan lebih tinggi daripada sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan Tengah.
Ukuran perusahaan terus meningkat. Pada tahun pertama milenium kedua, Vodafone bergabung dengan Mannesman (harga jual $183 miliar), Chrysler dengan Daimler (perusahaan gabungan yang saat ini mempekerjakan sekitar 400.000 orang), Smith Mine Beecham dengan Glaxo Wellcome (yang keuntungan pra pajaknya $7,6 miliar seperti Glaxo Smith Kline), dan AOL dengan Time Warner dengan harga merjer $350 miliar. Jumlah total perusahaan yang merjer pada tahun 2000 adalah 5000 perusahaan, dan dua kali lipat tingkat merjer pada dekade sebelumnya. Mega merjer ini memukul aktivitas M&A tahun 1980-an. Setiap merjer baru selalu menjadi lebih besar dibanding sebelumnya, sementara jarang sekali pemerintah yang memiliki kekuasaan tetap. Seluruh barang yang kita beli atau gas yang kita gunakan, obat-obatan yang dianjurkan dokter, kebutuhan penting seperti air, kesehatan, transportasi, dan pendidikan, bahkan komputer-komputer sekolah baru dan peningkatan hasil panen sawah di sekitar komunitas kita—berada dalam genggaman perusahaan yang mungkin, sesuai kehendak mereka, merawat, menghidupi, atau mencekik kita.
Inilah dunia Perampokan Diam-diam, dunia pada fajar milienium baru. Kekuasaan pemerintah nampak terbelenggu dan kita semakin tergantung pada perusahaan. Bisnis berada di tempat duduk pengemudi, perusahaan menentukan aturan main, dan pemerintah mejadi wasit, yang menguatkan aturan yang didiktekan orang lain. Sekarang perusahaan yang mudah dipindah-pindah adalah pesta besar yang dapat dipindahkan, dan pemerintah berusaha keras menarik atau menahan perusahaan tersebut tetap berada di negerinya. Mata-mata buta dijebak kedalam lobang pajak. Para gembong bisnis memakai alasan pajak yang rumit untuk membiarkan kekayaannya tetap di luar negeri. Rupert Murdochs News Corporation hanya membayar 6 persen pajak di seluruh dunia. Dan di Inggris, sampai akhir 1998, perusahaan tersebut sama sekali tidak membayar pajak perusahaan, walaupun telah mengeruk keuntungan 1,4 miliar poundsterling sejak 1987.
Inilah sebuah dunia di mana, walaupun kita telah melihat tanda-tanda pengikisan dasar pajak yang meremukkan dalam pelayanan publik dan infrastruktur, para wakil terpilih kita menyembah-nyembab bisnis, takut tidak ikut menari mengikuti irama pemusik tiup. Dulu pemerintah berjuang demi teritori fisik. Sekarang mereka berjuang melawan penyakit demi kepentingan pasar. Salah satu tugas utama mereka adalah menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif, yang menarik bagi bisnis. Peran negara bangsa pada skala luas menyediakan sarana publik dan infrastruktur yang diperlukan bisnis pada harga paling rendah sambil melindungi sistem perdagangan bebas dunia.
Dipecah Kita Runtuh
Hal-hal berkenaan keadilan, persamaan, hak-hak, lingkungan, dan bahkan persoalan keamanan nasional, telah runtuh. Ambillah kasus Taliban—yang didukung AS sampai 1997 karena kepentingan perusahaan minyak, walaupun rekor rezim atas HAM suram. Keadilan sosial menjadi alat untuk mengakses pasar. Jaringan Pengaman Sosial diperlemah. Kekuatan serikat buruh dihancurkan. Tidak pernah sebelumnya di zaman modern ini jurang pemisah antara kaum kaya dan kaum miskin begitu lebar, juga tidak pernah sebelumnya begitu banyak orang malang atau kalah. Empat puluh lima juta orang Amerika memiliki asuransi kesehatan. Di Manhattan orang-orang mengais kaleng dan botol minuman kosong dari tempat sampah untuk ditukar dengan harga lima sen, sementara di London, para pencuci kaca depan mobil dengan alat pembersih dan seember air kotor menghadang mobil-mobil di perempatan lampu lalu lintas. Orang-orang Amerika menghabiskan $8 miliar pertahun untuk membeli kosmetik, sementara dunia tidak dapat mencari uang $9 miliar, menurut hitungan PBB, yang dibutuhkan untuk memberikan akses air minuman bersih dan sanitasi kepada semua orang.
Partai Buruh Inggris dengan terus terang menyatakan bahwa sekarang ini menciptakan kekayaan jauh lebih penting daripada redistribusi kekayaan. Di Amerika, selama 10 tahun setelah 1988, pendapatan keluarga termiskin naik kurang dari 1 persen, sementara pendapatan seperlima keluarga terkaya melonjak 15 persen. Di New York City 20 persen keluarga termiskin berpendapatan rata-rata $10.700 per tahun, sementara 20 persen keluarga terkaya berpendapatan $152.350 per tahun. Upah bagi keluarga kelas bawah tersebut begitu rendah sehingga, walaupun gambaran pengangguran di negeri tersebut rendah, jutaan orang Amerika dipekerjakan , dan 1 dari 5 anak Amerika, hidup di bawah garis kemiskinan. Tidak pernah sebelumnya sejak 1920-an jurang pemisah antara yang kaya dan miskin begitu besar. Keuntungan bersih Bill Gates sendiri pada akhir abad lalu, misalnya, pada dasarnya sama dengan 50 persen pendapatan total keluarga Amerika.
Kapitalisme telah menang, namun kehancurannya tidak ditanggung bersama oleh semua orang. Kegagalan-kegagalannya diabaikan pemerintah yang, sambil berterima kasih atas ukuran-ukuran kebijakan yang diperkenalkan pemerintah, semakin tidak mampu menghadapi konsekuensi-konsekuensi sistem mereka. Dan sistem tersebut busuk. Skandal-skandal politik terlalu sering terbongkar: Kohl, Schmidt, dan Mitterland adalah di antara mereka yang telah kita kenal atau curigai. Bahkan para politikus yang tidak menanggung akibatnya tersebut semakin merasa berutang budi pada atau terlibat dengan bisnis. Tidak ada tempat yang lebih nampak jelas daripada di AS. Kepresidenan Clinton terjerembab skandal secara simultan: dari tuduhan Whitewater, lebih semalam tinggal di kamar tidur Lincoln demi para pemberi dana partai, sampai kebijakan final mengampuni para pengelak pajak dan pedagang senjata Marc Rich. Untuk para kandidat pemilihan presiden Amerika 2000, kemampuan mereka meraih suara terbanyak sangat tergantung pada pendanaan perusahaan kuat mereka. Kotak dana perang kampanye George W. Bush adalah $191 juta, Gore $133 juta. Dan keberatan-keberatan terhadap RUU McCain Feingold tentang reformasi keuangan kampanye, yang dampaknya akan menghambat bisnis, serikat dagang, dan individu-individu untuk menciptakan kontribusi ‘uang lunak’ tak terbatas bagi partai-partai politik, berasal dari demokrat dan republik. Tidak heran bintang politikus memudar. Rakyat mengetahui kepentingan yang bertentangan para politikus dan keengganan memenangkan mereka, dan memulai meninggalkan politik.
Sebaliknya, pada 1980-an demokrasi muncul di seluruh dunia sebagai bentuk pemerintah yang dominan, yang diperkuat legitimasi unik dan dukungan massa yang kuat. Pada 1990-an partisipasi pemilih di mana-mana turun, keanggotaan partai berkurang, para politikus dihargai di bawah ukuran pembantu yang layak dihormati. Di seluruh dunia, dari demokrasi tua AS dan Eropa Barat, sampai negara-negara Amerika Latin dan Timur Jauh, masyarakat kurang mempercayai institusi pemerintah saat ini daripada satu dekade yang lalu. Hanya 59 persen pemberi suara Inggir memberikan suara pada pemilihan umum 2001, turun dari 69 persen pada 1997, kemunduran terendah sejak Perang Dunia I. Di AS, tidak sampai dua abad, begitu banyak warga negara AS dengan sadar tidak memberikan suara seperti 6 tahun lalu. Produk yang dijual politikus dianggap rusak, tidak lagi dianggap layak beli.
Memecahkan Kebisuan
Inilah dunia Perampokan Diam-diam yang akan saya uraikan dalam buku ini. Tujuan saya adalah memahami dunia ini dan mengerti ke mana kita akan di bawa: sebuah dunia yang di dalamnya penghasilan perusahaan memperkecil penghasilan negara-negara, dan pengusaha lebih tinggi pangkatnya daripada politikus; yang di dalamnya tiga perempat rakyat AS sekarang berpikir bahwa bisnis memperoleh kekuasaan terlalu besar atas banyak aspek kehidupan mereka; dan yang di dalamnya, meskipun teknik menjual politik partai lebih kuat dan agresif, kian sulit untuk dipilih. Sekarang ekonomi dihargai lebih besar daripada politik. Rakyat telah ditinggalkan. Dan konsumen adalah segalanya. “Partisipasi dalam pasar telah menggantikan partisipasi dalam politik.”
Argumen saya tidak dimaksudkan antikapitalis. Kapitalisme jelas merupakan sistem terbaik untuk menghasilkan kekayaan. Perdagangan bebas dan pasar modal terbuka telah membawa pertumbuhan ekonomi luar biasa untuk kebanyakan, jika tidak semua orang di dunia. Begitu pula buku ini tidak bermaksud antibisnis. Perusahaan tidaklah amoral tetapi, saya berargumen, secara moral ambivalen. Sebenarnya di bawah kondisi pasar tertentu, bisnis lebih mampu dan lebih memiliki kemauan untuk menangani banyak persoalan di dunia daripada pemerintah. “Tanggung jawab sosial”, “Pembangunan berkelanjutan”, dan “Dampak lingkungan” adalah istilah-istilah yang saat ini kemungkinan lebih didengar dari CEOs daripada menteri-menteri pemerintah.
Demikian juga, saya tidak bermaksud mengagungkan pemerintah. Walaupun, seperti yang akan saya katakan, negara memiliki peran jelas dalam masyarakat, saya tetap sangat meragukan kemampuan pemerintah memainkan peran ini, terutama saat ini di mana batas-batas antara bisnis dan pemerintah sangat kabur, dan terdapat kesenjangan kepemimpinan atau kemauan politik.
Namun sejujurnya, tujuan buku ini adalah untuk mendukung rakyat, demokrasi, dam keadilan. Saya bermaksud mempersoalan justifikasi moral bentuk kapitalisme yang menganjurkan pemerintah menjual warga negaranya dengan harga yang sangat murah; menentang legitimasi dunia di mana banyak yang kalah dan sedikit yang menang; menjelaskan bagaimana pengambil-alihan ini membahayakan demokrasi; juga berargumen bahwa ada paradoks mendasar pada jiwa kapitalisme laissez-faire, bahwa dengan mereduksi negara pada tingkat paling rendah dan menempatkan perusahaan pada tingkat paling tinggi, negara mengancam legitimasinya sendiri. Saya akan menjelaskan implikasi-implikasi sebuah dunia yang di dalamnya pemerintah tidak bisa dipercaya untuk menjaga kepentingan-kepentingan kita, dan yang di dalamnya kekuasaan bukan hasil pemilihan (unelected powers)—yaitu perusahaan-perusahaan besar—mengambil peran pemerintah, dan meneliti konsekuensi-konsekuensi watak politik yang menghargai pengerjaan pasar di atas segalanya. Saya akan memetakan pengejaran keuntungan yang gesit ini, dan mengonfrontasikan mereka yang menjustifikasi politik uang sebagai sebuah ungkapan kebebasan berbicara, dan mereka yang membenarkan non-intervensi dalam urusan negara lain untuk alasan kepentingan dagang mereka sendiri. Sekitar dua dekade terakhir, keseimbangan kekuasaan antara politik dan komersial telah berubah secara radikal, yang meninggalkan politikus semakin menjadi subordinat kekuasaan ekonomi kolosal bisnis besar.
Disebarkan oleh poros Reagen-Thatcher, dan dipercepat oleh akhir Perang Dingin, proses ini telah menumbuhkan hidrolik sekitar dua dekade lalu dan sekarang mewujudkan dirinya dalam beragam bentuk negatif dan positif. Bagaimanapun cara kita melihatnya, perusahaan sedang mengambil alih tanggung jawab pemerintah. Dan ketika bisnis meluaskan perannya, wilayah publik, seperti yang akan kita lihat, benar-benar akan ditentukan oleh bisnis. Negara politik telah menjadi negara perusahaan. Pemerintah, dengan tidak mengakui pengambilalihan pun, mengambil risiko hancurnya kontrak penuh antara negara dan rakyat yang menjadi inti masyarakat demokratik. Menolak kotak suara dan yang mencakup bentuk non-tradisional ungkapan politik menjadi alternatif yang kian menarik. Menjelaskan perkembangan proses-proses ini dan konsekuensinya merupakan isi buku ini. Keputusan saya menulis The Silent Takeover bukanlah tanpa kepentingan. Saya perlu memahami ketidakpuasan saya yang sedang tumbuh dan perasaan saya sendiri bahwa hal-hal tersebut menjadi serba salah. Apa sebabnya kehidupan dalam banyak hal tidak pernah lebih baik, sekalipun saya dan begitu banyak orang di sekitar saya sudah tampak begitu susah?
Bagaimana bisa demikian, saya, putri seorang perempuan yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk membawa perempuan ke dunia politik, sekarang menyaksikan dunia politik terkooptasi, seperti arena yang kian kehilangan makna—arena yang dagelan politik terbaiknya adalah pemilihan presiden AS terakhir? Bagaimana bisa, setelah 10 tahun mendarat di Leningrad untuk menata bursa saham Rusia yang pertama—seorang pelayan toko dengan gelar MBA dari Wharton di tas saya—sekarang merasa terbakar untuk mempertanyakan pendirian-pendirian saya? Mengapa di Fakultas Ekonomi Universitas Cambridge, tempat saya mengajar, ketika saya menjelaskan bahwa saya ingin mengawasi isu yang diuji buku ini, saya dibanjiri pertanyaan mahasiswa, yang saya gagal memberikan jawaban memuaskan kepada mereka?
Kita sekarang berdiri di titik waktu yang kritis. Jika kita tidak melakukan apa pun, jika kita tidak melawan perampokan diam-diam ini, jangan tanyakan sistem keimanan kita, jangan akui kebersalahan kita sendiri dalam rangka mencetak “tata dunia baru,” dan kemudian hilanglah semuanya.
Sebagaimana kita lihat, ketidaksetaraaan dalam pendapatan bukan hanya buruk bagi kaum miskin, namun juga bagi kaum kaya. Pengikisan terus menerus terhadap pemerintah dan politik berbahaya bagi semua, tidak peduli pada persuasi politik. Sebuah dunia di mana, George Bush mengesahkan Undang-Undang setelah disahkannya Undang-Undang yang mendukung kepentingan bisnis, Rupert Murdoch memiliki kekuasaan melampui Tony Blair, dan perusahaan mengatur agenda politik, merupakan dunia yang menakutkan dan tidak demokratik. Gagasan perusahaan mengambil alih peran pemerintah dalam banyak hal mungkin nampak sebagai seruan, naum risiko-risikonya semakin membiarkan kita tanpa sumber daya. Kisahnya akan diceritakan melalui beragam warna karakter yang akan kita temui. Granny D, nenek berusia 90 tahun, yang menyeberang ke AS untuk memenangkan reformasi dana kampanye; saudara putri Patricia Marshall, aktivis biarawati pemegang saham, yang membujuk PepsiCo menjual kebun pembotolan di Burma, Oskar Lafontaire, Menteri Keuangan Jerman, yang dalam pidato perpisahan pengunduran dirinya mengatakan, “Hati tentu tidak dijual di bursa saham.” Suara-suara tersebut merupakan sebagian kecil suara yang akan kita dengar. Namun buku ini bukanlah kumpulan kisah-kisah mereka yang berbeda-beda, buku ini merupakan kumpulan kisah kita semua. Kita semua tengah dalam perampokan diam-diam yang dilakukan perusahaan. Tujuan saya adalah menunjukkan bagaimana perampokan diam-diam ini merangkak di atas kita, mengapa ini bermasalah, dan apa yang dapat kita lakukan untuk ini.
Pendahuluan buku Noreena Hertz, The Silent Takeover, Global Capitalism, and the Death of Democracy, Associate Director pada Center for International Business, University of Cambridge. Diterjemahkan Farid Assifa, TRADEM YOGYAKARTA.
25.3.04
sebuah tulisan setahun yang lalu:
obituari sunyi
sebuah catatan perjalanan di malam buta
:I O T
"Kenapa, Cintaku, ketika kau-aku bersekutu yang lahir justru benih-benih seteru"
(Sitok Srengenge, Gurit Rindu Dendam)
siapa sangka pada akhirnya begini. suatu malam, saya bayangkan saya di sampingmu, barangkali agak lelah, berjalan kaki di malam yang dingin, di sebuah pinggir kota tanpa tuan, mencari entah apa.
setumpuk puisi pernah menikam saya pelan-pelan. iseng sendiri, saya putuskan memulai sebuah perjalanan. tak satu pun yang saya bawa, kecuali seikat dendam pada diri sendiri. dendam batu dari hati yang membatu. malam itu, beberapa menit sebelumnya, ada semacam kemewahan luar biasa yang menghinggapi punggung-punggung saya (kamu tahu jumlah punggung saya?). mirip seikat bunga yang dulu pernah kau letakkan begitu saja di depan pintu kamar saya, katak bersuara berlomba, jangkrik, meski sesekali diam,
sempat mengejek saya, menyeret seenaknya ingatan saya menujumu.
ada yang lupa dari pembentukan kota-kota, ternyata. seperti ada yang lupa hendak kemana perjalanan diakhiri. apakah yang membuat kita --kamu dan saya-- lupa kalau dingin adalah hal biasa di kota ini, tapi mengapa justeru malam ini baru kita rasakan benar betapa dinginnya malam di sini. dingin seperti kalimat yang dilepaskan ibu-ibu kita saat kepergian kita. sebuah perjalanan, adakah ia mewajibkan akhir?
semalam, beberapa perhentian sengaja saya lewati. juga malam ini: saya ingin liar, dan di tangan minuman keras belum lagi habis. biar, sampai puas ingin saya susun keping diri di pinggir jalan ini. adakah dengan begitu kamu mengerti? bahwa perjalanan adalah keniscayaan, dan dendam adalah sesuatu yang alamiah, yang natural dan begitu sempurna? rasanya tak ada yang sempurna selain dendam yang membatu.
siapa sangka pada akhirnya begini. sekian dosa, sekian durhaka, sekian amarah dan tatap mata nyalang, belum cukup untuk membuatmu, sekali saja, melihat saya di sini, mengurai-urai waktu, menyusun keping diri. tak ada, jika bisa, niscaya saya buat dosa terbesar padamu, sekadar untuk menggores tubuhmu dan jiwamu, meninggalkan bekas untuk kau kenang segenap kebodohan saya.
juga catatan ini. catatan rapuh yang melulu hampa. biar bulan menetes di langit kamarmu, membentuk genangan darah bertuliskan nama saya, dan teman saya, yang dengannya seteru begitu indah dan dosa sesuatu yang lumrah.
karena dia, juga karena kamu, perjalanan ini begitu penuh dendam, penuh dosa, dan begitu sempurna.
terima kasih membuat saya menjadi manusia. jangan buat lagi perhentian buat saya....
23 februari 2003
obituari sunyi
sebuah catatan perjalanan di malam buta
:I O T
"Kenapa, Cintaku, ketika kau-aku bersekutu yang lahir justru benih-benih seteru"
(Sitok Srengenge, Gurit Rindu Dendam)
siapa sangka pada akhirnya begini. suatu malam, saya bayangkan saya di sampingmu, barangkali agak lelah, berjalan kaki di malam yang dingin, di sebuah pinggir kota tanpa tuan, mencari entah apa.
setumpuk puisi pernah menikam saya pelan-pelan. iseng sendiri, saya putuskan memulai sebuah perjalanan. tak satu pun yang saya bawa, kecuali seikat dendam pada diri sendiri. dendam batu dari hati yang membatu. malam itu, beberapa menit sebelumnya, ada semacam kemewahan luar biasa yang menghinggapi punggung-punggung saya (kamu tahu jumlah punggung saya?). mirip seikat bunga yang dulu pernah kau letakkan begitu saja di depan pintu kamar saya, katak bersuara berlomba, jangkrik, meski sesekali diam,
sempat mengejek saya, menyeret seenaknya ingatan saya menujumu.
ada yang lupa dari pembentukan kota-kota, ternyata. seperti ada yang lupa hendak kemana perjalanan diakhiri. apakah yang membuat kita --kamu dan saya-- lupa kalau dingin adalah hal biasa di kota ini, tapi mengapa justeru malam ini baru kita rasakan benar betapa dinginnya malam di sini. dingin seperti kalimat yang dilepaskan ibu-ibu kita saat kepergian kita. sebuah perjalanan, adakah ia mewajibkan akhir?
semalam, beberapa perhentian sengaja saya lewati. juga malam ini: saya ingin liar, dan di tangan minuman keras belum lagi habis. biar, sampai puas ingin saya susun keping diri di pinggir jalan ini. adakah dengan begitu kamu mengerti? bahwa perjalanan adalah keniscayaan, dan dendam adalah sesuatu yang alamiah, yang natural dan begitu sempurna? rasanya tak ada yang sempurna selain dendam yang membatu.
siapa sangka pada akhirnya begini. sekian dosa, sekian durhaka, sekian amarah dan tatap mata nyalang, belum cukup untuk membuatmu, sekali saja, melihat saya di sini, mengurai-urai waktu, menyusun keping diri. tak ada, jika bisa, niscaya saya buat dosa terbesar padamu, sekadar untuk menggores tubuhmu dan jiwamu, meninggalkan bekas untuk kau kenang segenap kebodohan saya.
juga catatan ini. catatan rapuh yang melulu hampa. biar bulan menetes di langit kamarmu, membentuk genangan darah bertuliskan nama saya, dan teman saya, yang dengannya seteru begitu indah dan dosa sesuatu yang lumrah.
karena dia, juga karena kamu, perjalanan ini begitu penuh dendam, penuh dosa, dan begitu sempurna.
terima kasih membuat saya menjadi manusia. jangan buat lagi perhentian buat saya....
23 februari 2003
Diposkan oleh
Imam Hidayah Usman
3.3.04
satu dari blog b' ivan:
Thursday, February 06, 2003
Buku
"Gila Ah. Apa gak ada hadiah lain?"
"Kenapa mesti buku sih, kan bisa aja kasih hadiah lain. Mobil kek, berlian kek, atau rumah BTN. Kenapa mesti buku? Memangnya Putri bakalan suka kalo dikasih buku?" tanya Gilang bertubi-tubi. Mukanya seperti orang heran.
"Cari hadiah lainlah. Gak usah buku."
"Bukan apa-apa Fan, hadiah perkawinan itu harus yang berharga, yang bernilai. Jadi, jangan sembarangan. Nanti, apa kata keluarganya Putri. Masak Ivan hanya ngasih buku? Inikan hadiah perkawinan, bukan kado ulang tahun." Gilang terus nyerocos. Nada tak setuju begitu terasa. Mendengar itu, saya hanya terdiam, meski berusaha untuk tetap tersenyum di depannya.
Gilang adalah orang keenam yang saya tanya soal ini. Sebelumnya, ada Agung, Lia, Nuke, Ari, dan Dika. Semuanya tidak setuju kalau saya memberi buku ke Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Jangan ngaco ah," kata Nuke, sambil tertawa.
"Sudahlah Van, jangan seperti orang linglung gitu. Apa perlu saya belikan tiket pesawat ke Bali untuk kalian berbulan madu. Nanti, bilang saja ke Putri, kalau tiket itu sebagai hadiah perkawinan dari kamu. Beres kan? Nuke benar-benar tidak memahami rencana saya.
Hanya Sinta yang sedikit memuji rencana saya. "Smart idea," katanya, datar. Tapi, kenapa harus buku sih?
Lho...?
Hari pernikahan semakin dekat, tinggal 30 hari lagi. Panitia juga sudah dibentuk. Setiap hari bapak mengecek segala persiapan. Dari tenda, pelaminan, undangan, cattering, hingga transportasi ke rumah Putri saat hari H. Dia tidak mau ada yang tertinggal. Apalagi, bapak mengundang kawan-kawannya untuk resepsi itu. Ada anggota DPR, pejabat pemerintahan, penegak hukum, dan rekan-rekan organisasinya. "Pokoknya, semua harus beres. Uang tidak usah dipikirkan," kata bapak. Maklumlah, ini adalah pertama kali bapak menikahkan anaknya. Itulah sebab, setelah pernikahan di tempat Putri, dia akan mengadakan resepsi di gedung dekat rumah.
Imam dan Iman, dua adik saya yang kuliah di Bandung dan Yogya juga sudah datang ke rumah. Biasanya mereka paling malas bila disuruh pulang ke rumah, kecuali jika Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat respons Imam ketika diberitahu bahwa abangnya akan menikah. "HAH, menikah...serius bang... Ahamdulillah....akhirnya menikah juga...he..he..he.." begitu ledeknya. Nah, gitu dong berani. Kan enak kalau sudah menikah, ada yang mengurus abang...he..he..he...
Waktu terus bergulir. Waktu membeli buku juga semakin sedikit. Tapi, keinginan membeli buku itu buat Putri semakin kuat. "Ya, saya harus membelikannya. Ini buka bagus. Putri pasti suka". Buku yang saya maksud adalah seri Dimata (Pribadi Manusia Hatta). Buku soal Bung Hatta, yang terdiri 489 kisah dalam 12 seri. Penulisnya ada 86 orang yang memiliki kedekatan dengan Bung Hatta dalam berbagai peran dan kesempatan.
Saya pernah membacanya. Bagus. Apalagi, ditulis dengan gaya cerita pendek sehingga cocok menjadi bacaan segala usia. Di sana ditulis secara utuh keistimewaan dan keunikan pribadi Bung Hatta yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Pembaca akan menemukan kisah tawa, kekaguman, dan keharuan di dalamnya. Tapi buat saya, yang paling penting dari buku itu adalah Bung Hatta mengajarkan kepada kita sikap santun, jujur, dan hemat. Karena itu, saya bernafsu memberikan buku ini kepada Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Tapi Van, belum tentu Putri suka. Bagaimana kalau dia gak suka? Mubazir kan," kata Sinta, ragu.
Rumah mulai ramai. Keluarga mama dari Pontianak mulai berdatangan. Tante Erma datang bersama Fela dan Roy, dua anaknya. Om Buyung beserta Tante Rita, istrinya. Tak ketinggalan adik mama paling bungsu, Om Zul yang datang bersama anak lelakinya, Dio. "Tante Wati tak bisa ikut Van. Dia kirim salam," kata Om Zul ketika saya tanya kenapa istrinya tak ikut ke Jakarta. Saya maklum, Tante Wati mungkin masih repot mengurus anaknya yang baru lahir dua bulan lalu.
Senang rasanya melihat keluarga besar berkumpul. Ada saja cerita-cerita lucu di setiap pembicaraan. Maklumlah, sudah lebih dari lima tahun kami tak berjumpa. Apalagi, mereka datang untuk acara pernikahan saya. Rumah di Bekasi terlihat sesak. Semua ruangan terlihat penuh. Padahal, biasanya, hanya ada saya, bapak, dan mamah di rumah. Cuma bertiga. Sedangkan si Ulfi dan Iman di Yogya. Imam di Bandung. Mereka berjuang menyelesaikan kuliahnya.
Pernikahan tinggal 15 hari lagi. Saya seperti menghitung waktu secara mundur. 15..14..13..12..10..7..3..Ups, buku Bung Hatta belum juga terbeli. Ada juga keinginan bertanya kepada Putri, "apakah dia suka buku itu? Tapi, nanti tidak supraise lagi. Gak seru ah.
Sebaiknya saya tetap membeli buku itu. Peduli, Putri suka atau tidak. Bukankah buku ini bagus? Bukankah sikap Bung Hatta patut diteladani?
Gerimis turun di Bekasi sore ini. Langit begitu pekat. Sesekali kilat menyambar. Tapi, saya memaksakan diri keluar rumah. Saya ingin membelikan buku buat Putri. Ya, buku hadiah perkawinan, yang sudah lama saya idam-idamkan. Pokoknya, kali ini tak boleh tertunda. Waktu tinggal sedikit, 12 hari lagi. Ibunya Putri juga sudah berulang kali mengingatkan soal waktu. "Van, jangan sering-sering keluar rumah. Istirahat saja, biar nanti tidak sakit. Pernikahan sebentar lagi loh," katanya di ujung telepon semalam.
Saya terus berjalan. Berkejaran dengan gerimis di sore hari. Ini adalah keempat kali saya melompat, menghidari genangan air di jalan. Sejumlah orang yang tengah berteduh di teras rumah terus memperhatikan. Saya tidak peduli. Terus berjalan. Melewati gang sempit di perumahan dan tanah becek. Saya terus berlari. Berkejaran dengan gerimis.
Tepat pukul 17.12 WIB, tiba di pelataran Metropolitan Mal Bekasi, dengan baju setengah kuyup. Gerimis juga membasahi rambut. Kusam. Saya berhenti sejenak untuk menyeka baju dan peluh. Setelah yakin kering, saya melangkah pasti ke dalam mal. Dua cewek manis di dekat lobi tersenyum. Sambil berbisik, mata mereka tak lepas ke baju dan celana saya. Saya tahu, pakaian dan celana belum kering benar. Kuyup masih terlihat jelas.
Ah, peduli amat. Saya terus melangkah menuju tangga jalan. Toko Buku Gramedia berada di lantai tiga. Beberapa orang yang ada di tangga jalan berusaha menghindar, ketika saya ada di sampingnya. Mereka (mungkin) takut basah. Atau juga takut kotor, karena sendal saya sudah bercampur lumpur.
Satpam di depan Gramedia bingung melihat saya. Ia menyuruh saya membersihkan sendal di keset. Saya ikuti saja maunya. Toh, bukankah buku sudah di depan mata? Putri pasti senang membaca buku itu.
Perlahan, saya kelilingi rak-rak buku di toko itu. Dari rak buku yang bertulisan laris hingga ke rak buku politik.
"Kok, tidak ada".
Saya penasaran. Kembali mengelilingi rak-rak buku. Satu-persatu judul buku saya baca. Tetap saja tidak ada.
"Tidak mungkin. Dua bulan lalu masih ada".
Saya hampiri seorang pramuniaga. Saya ceritakan dengan jelas buku yang dicari. Dia mengerti, dan ikut mencari. Tapi tetap tidak ada. Uhh..
Dia mengajak saya menuju sebuah komputer. "Ini bisa membantu," katanya. Ide bagus. Saya ucapkan sekali lagi judul buku itu. Dengan lugas, ia ketik judul buku dan penerbitnya. Saya menunggu sambil berdebar. Tapi, kok, gak ada juga?
Dia kembali memasukkan kata Bung Hatta. Keluar beberapa judul buku; Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, Memoir (autobiografi Hatta), Bung Hatta : Demokrasi Kita, Mendayung antara Dua Karang, Ekonomi Masa Depan; Alam Pikiran Yunani, dan Bung Hatta’s Words of Wisdom, dan Mengenang Bung Hatta. Tapi, buku Seri Dimata tetap tidak ada.
Seseorang karyawan Gramedia ikut membantu (entahlah, mungkin dia supervisor). "Oh, kalau buku itu sudah tidak ada lagi. Sudah ditarik minggu kemarin," katanya. Lemas rasanya mendengar penjelasan itu. Darah seperti berhenti mengalir.
Dengan langkah gontai, saya keluar dari toko itu. Pikiran terus menerawang. Baju di badan masih basah. Jejak sendal becek meninggalkan bekas kotor di lantai mal. Juga menyisakan sorot mata para pengunjung.
"Oh iya, kenapa tidak ke Hero. Kan di sana ada Gunung Agung." Pertokoan Hero berseberangan dengan Metropolitan Mal. Kedua bangunan ini hanya dibatasi jalan dan Kali Malang. Saya seperti menemukan semangat baru. Setengah berlari menuju lantai satu. Sial, gerimis belum juga berhenti. Saya nekat. Kembali berlari. Berkejaran dengan gerimis lagi.
Setelah mengubek-ubek toko, buku itu tetap tidak ada. Saya benar-benar lemas. Putus sudah harapan membelikan buku untuk Putri. Rasa capai membuat saya memilih duduk di depan pertokoan Hero. Gerimis mulai berhenti. Pelangi bersinar terang. Sebuah rokok saya nyalakan. Asapnya menembus udara sore. Dingin.
***
Jodoh, rezeki, dan maut memang sudah diatur sama yang Maha Kuasa. Di tengah lamunan di sore itu, tiba-tiba melintas seorang bapak bersama anak gadisnya. Mereka baru keluar dari toko. Yang tak terduga itu, sang bapak menenteng sejumlah bungkusan. Satu di antaranya adalah kantong buku Seri Dimata. Mata saya hampir keluar melihatnya. Tanpa banyak membuang waktu, saya kejar bapak itu. Mereka berdua kebingungan ketika saya hadang. Dia pikir, mungkin saya pemalak yang biasa meminta uang secara paksa.
"Pak, apa itu buku Bung Hatta?" tanya saya sambil menunjuk sebuah kantong plastik.
"Iya, kenapa?"
"Boleh saya membelinya"
"Ini tidak dijual"
"Saya memerlukannya, Pak. Penting"
"Maaf Dik, ini tidak dijual"
Saya tahu harga buku itu, Rp 150 ribu. Sebelum bapak itu pergi, saya langsung mengeluarkan uang dari dompet dan langsung menyerahkan kepadanya.
"Ini Pak, saya serius ingin membelinya"
"Dik, saya tak menjualnya. Saya juga perlu buku ini". Kesabarannya mulai hilang.
"Begini Pak, bagaimana kalau saya tambah menjadi Rp 170 ribu"
Bapak itu tak menghiraukan saya. Ia memilih menghindar, dan berusaha pergi dari hadapan saya.
"Pak...pak..."
Akhirnya, dengan muka memelas dan penuh harap, saya ceritakan alasan saya memiliki buku itu.
Sang bapak mendengarkan dengan seksama. Tapi, dia tetap enggan melepaskannya.
"Ya, sudah pak. Ini uang saya. Ambilah semuanya." Saya menyodorkan uang Rp 200 ribu. Satu lembar Rp 100 ribu dan dua lembar Rp 50 ribu. Saya benar-benar tak punya yang lagi. Habis.
Lama juga dia terdiam. Entah kasihan, atau karena harganya lebih mahal dari toko, buku itu dilepaskan juga. Ia mengambil uang Rp 200 ribu itu. Saya sudah tak peduli, yang penting bisa mendapatkan buku itu. Dengan langkah riang, saya melangkah pulang. Pelangi benar-benar bersinar terang.
Besok adalah hari pernikahan. Setiap malam saya selalu membaca buku itu di kamar. Selalu begitu, seperti tak pernah bosan. Di malam ini, saya pun masih membacanya. Bung Hatta begitu dekat di hati. "Putri pasti suka," batin saya.
***
"Saya terima nikahnya Jatnika Putri Bungsu dengan mas kaw...." Sayup-sayup terdengar isak tangis. Putri menangis. Haru. Prosesi pernikahan selalu meninggalkan kesan. Di ujung acara, setelah doa nikah ditambatkan, bapak mengambil mikrofon. Suaranya memecahkan keheningan masjid.
"Sebelumnya, saya mohon maaf. Anak saya, Ivan, ingin memberikan sebuah hadiah perkawinan buat istrinya. Saya harap, Putri mau menerimanya. Hayo Van." Bapak tersenyum. Saya juga. Matanya memandang ke arah saya. Semua yang hadir juga begitu.
Saya melirik ke arah mama. "Mana bukunya...?" Mama menggeleng. Bingung. Saya panik.
"Ma, mana bukunya?"
"Loh, bukannya kamu yang menyimpannya"
Ya, Allah...buku itu masih tersimpan di kamar. Di ujung tempat tidur. Tidak terbawa dan tak ada yang membawanya. Bung Hatta tertinggal sendiri di kamar sepi.
Dia lagi-lagi sendiri. Sunyi.
Bekasi, gerimis di sore Januari.
:: Ulfan :: 9:16 AM
Thursday, February 06, 2003
Buku
"Gila Ah. Apa gak ada hadiah lain?"
"Kenapa mesti buku sih, kan bisa aja kasih hadiah lain. Mobil kek, berlian kek, atau rumah BTN. Kenapa mesti buku? Memangnya Putri bakalan suka kalo dikasih buku?" tanya Gilang bertubi-tubi. Mukanya seperti orang heran.
"Cari hadiah lainlah. Gak usah buku."
"Bukan apa-apa Fan, hadiah perkawinan itu harus yang berharga, yang bernilai. Jadi, jangan sembarangan. Nanti, apa kata keluarganya Putri. Masak Ivan hanya ngasih buku? Inikan hadiah perkawinan, bukan kado ulang tahun." Gilang terus nyerocos. Nada tak setuju begitu terasa. Mendengar itu, saya hanya terdiam, meski berusaha untuk tetap tersenyum di depannya.
Gilang adalah orang keenam yang saya tanya soal ini. Sebelumnya, ada Agung, Lia, Nuke, Ari, dan Dika. Semuanya tidak setuju kalau saya memberi buku ke Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Jangan ngaco ah," kata Nuke, sambil tertawa.
"Sudahlah Van, jangan seperti orang linglung gitu. Apa perlu saya belikan tiket pesawat ke Bali untuk kalian berbulan madu. Nanti, bilang saja ke Putri, kalau tiket itu sebagai hadiah perkawinan dari kamu. Beres kan? Nuke benar-benar tidak memahami rencana saya.
Hanya Sinta yang sedikit memuji rencana saya. "Smart idea," katanya, datar. Tapi, kenapa harus buku sih?
Lho...?
Hari pernikahan semakin dekat, tinggal 30 hari lagi. Panitia juga sudah dibentuk. Setiap hari bapak mengecek segala persiapan. Dari tenda, pelaminan, undangan, cattering, hingga transportasi ke rumah Putri saat hari H. Dia tidak mau ada yang tertinggal. Apalagi, bapak mengundang kawan-kawannya untuk resepsi itu. Ada anggota DPR, pejabat pemerintahan, penegak hukum, dan rekan-rekan organisasinya. "Pokoknya, semua harus beres. Uang tidak usah dipikirkan," kata bapak. Maklumlah, ini adalah pertama kali bapak menikahkan anaknya. Itulah sebab, setelah pernikahan di tempat Putri, dia akan mengadakan resepsi di gedung dekat rumah.
Imam dan Iman, dua adik saya yang kuliah di Bandung dan Yogya juga sudah datang ke rumah. Biasanya mereka paling malas bila disuruh pulang ke rumah, kecuali jika Hari Raya Idul Fitri. Saya masih ingat respons Imam ketika diberitahu bahwa abangnya akan menikah. "HAH, menikah...serius bang... Ahamdulillah....akhirnya menikah juga...he..he..he.." begitu ledeknya. Nah, gitu dong berani. Kan enak kalau sudah menikah, ada yang mengurus abang...he..he..he...
Waktu terus bergulir. Waktu membeli buku juga semakin sedikit. Tapi, keinginan membeli buku itu buat Putri semakin kuat. "Ya, saya harus membelikannya. Ini buka bagus. Putri pasti suka". Buku yang saya maksud adalah seri Dimata (Pribadi Manusia Hatta). Buku soal Bung Hatta, yang terdiri 489 kisah dalam 12 seri. Penulisnya ada 86 orang yang memiliki kedekatan dengan Bung Hatta dalam berbagai peran dan kesempatan.
Saya pernah membacanya. Bagus. Apalagi, ditulis dengan gaya cerita pendek sehingga cocok menjadi bacaan segala usia. Di sana ditulis secara utuh keistimewaan dan keunikan pribadi Bung Hatta yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat. Pembaca akan menemukan kisah tawa, kekaguman, dan keharuan di dalamnya. Tapi buat saya, yang paling penting dari buku itu adalah Bung Hatta mengajarkan kepada kita sikap santun, jujur, dan hemat. Karena itu, saya bernafsu memberikan buku ini kepada Putri sebagai hadiah perkawinan.
"Tapi Van, belum tentu Putri suka. Bagaimana kalau dia gak suka? Mubazir kan," kata Sinta, ragu.
Rumah mulai ramai. Keluarga mama dari Pontianak mulai berdatangan. Tante Erma datang bersama Fela dan Roy, dua anaknya. Om Buyung beserta Tante Rita, istrinya. Tak ketinggalan adik mama paling bungsu, Om Zul yang datang bersama anak lelakinya, Dio. "Tante Wati tak bisa ikut Van. Dia kirim salam," kata Om Zul ketika saya tanya kenapa istrinya tak ikut ke Jakarta. Saya maklum, Tante Wati mungkin masih repot mengurus anaknya yang baru lahir dua bulan lalu.
Senang rasanya melihat keluarga besar berkumpul. Ada saja cerita-cerita lucu di setiap pembicaraan. Maklumlah, sudah lebih dari lima tahun kami tak berjumpa. Apalagi, mereka datang untuk acara pernikahan saya. Rumah di Bekasi terlihat sesak. Semua ruangan terlihat penuh. Padahal, biasanya, hanya ada saya, bapak, dan mamah di rumah. Cuma bertiga. Sedangkan si Ulfi dan Iman di Yogya. Imam di Bandung. Mereka berjuang menyelesaikan kuliahnya.
Pernikahan tinggal 15 hari lagi. Saya seperti menghitung waktu secara mundur. 15..14..13..12..10..7..3..Ups, buku Bung Hatta belum juga terbeli. Ada juga keinginan bertanya kepada Putri, "apakah dia suka buku itu? Tapi, nanti tidak supraise lagi. Gak seru ah.
Sebaiknya saya tetap membeli buku itu. Peduli, Putri suka atau tidak. Bukankah buku ini bagus? Bukankah sikap Bung Hatta patut diteladani?
Gerimis turun di Bekasi sore ini. Langit begitu pekat. Sesekali kilat menyambar. Tapi, saya memaksakan diri keluar rumah. Saya ingin membelikan buku buat Putri. Ya, buku hadiah perkawinan, yang sudah lama saya idam-idamkan. Pokoknya, kali ini tak boleh tertunda. Waktu tinggal sedikit, 12 hari lagi. Ibunya Putri juga sudah berulang kali mengingatkan soal waktu. "Van, jangan sering-sering keluar rumah. Istirahat saja, biar nanti tidak sakit. Pernikahan sebentar lagi loh," katanya di ujung telepon semalam.
Saya terus berjalan. Berkejaran dengan gerimis di sore hari. Ini adalah keempat kali saya melompat, menghidari genangan air di jalan. Sejumlah orang yang tengah berteduh di teras rumah terus memperhatikan. Saya tidak peduli. Terus berjalan. Melewati gang sempit di perumahan dan tanah becek. Saya terus berlari. Berkejaran dengan gerimis.
Tepat pukul 17.12 WIB, tiba di pelataran Metropolitan Mal Bekasi, dengan baju setengah kuyup. Gerimis juga membasahi rambut. Kusam. Saya berhenti sejenak untuk menyeka baju dan peluh. Setelah yakin kering, saya melangkah pasti ke dalam mal. Dua cewek manis di dekat lobi tersenyum. Sambil berbisik, mata mereka tak lepas ke baju dan celana saya. Saya tahu, pakaian dan celana belum kering benar. Kuyup masih terlihat jelas.
Ah, peduli amat. Saya terus melangkah menuju tangga jalan. Toko Buku Gramedia berada di lantai tiga. Beberapa orang yang ada di tangga jalan berusaha menghindar, ketika saya ada di sampingnya. Mereka (mungkin) takut basah. Atau juga takut kotor, karena sendal saya sudah bercampur lumpur.
Satpam di depan Gramedia bingung melihat saya. Ia menyuruh saya membersihkan sendal di keset. Saya ikuti saja maunya. Toh, bukankah buku sudah di depan mata? Putri pasti senang membaca buku itu.
Perlahan, saya kelilingi rak-rak buku di toko itu. Dari rak buku yang bertulisan laris hingga ke rak buku politik.
"Kok, tidak ada".
Saya penasaran. Kembali mengelilingi rak-rak buku. Satu-persatu judul buku saya baca. Tetap saja tidak ada.
"Tidak mungkin. Dua bulan lalu masih ada".
Saya hampiri seorang pramuniaga. Saya ceritakan dengan jelas buku yang dicari. Dia mengerti, dan ikut mencari. Tapi tetap tidak ada. Uhh..
Dia mengajak saya menuju sebuah komputer. "Ini bisa membantu," katanya. Ide bagus. Saya ucapkan sekali lagi judul buku itu. Dengan lugas, ia ketik judul buku dan penerbitnya. Saya menunggu sambil berdebar. Tapi, kok, gak ada juga?
Dia kembali memasukkan kata Bung Hatta. Keluar beberapa judul buku; Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat, Memoir (autobiografi Hatta), Bung Hatta : Demokrasi Kita, Mendayung antara Dua Karang, Ekonomi Masa Depan; Alam Pikiran Yunani, dan Bung Hatta’s Words of Wisdom, dan Mengenang Bung Hatta. Tapi, buku Seri Dimata tetap tidak ada.
Seseorang karyawan Gramedia ikut membantu (entahlah, mungkin dia supervisor). "Oh, kalau buku itu sudah tidak ada lagi. Sudah ditarik minggu kemarin," katanya. Lemas rasanya mendengar penjelasan itu. Darah seperti berhenti mengalir.
Dengan langkah gontai, saya keluar dari toko itu. Pikiran terus menerawang. Baju di badan masih basah. Jejak sendal becek meninggalkan bekas kotor di lantai mal. Juga menyisakan sorot mata para pengunjung.
"Oh iya, kenapa tidak ke Hero. Kan di sana ada Gunung Agung." Pertokoan Hero berseberangan dengan Metropolitan Mal. Kedua bangunan ini hanya dibatasi jalan dan Kali Malang. Saya seperti menemukan semangat baru. Setengah berlari menuju lantai satu. Sial, gerimis belum juga berhenti. Saya nekat. Kembali berlari. Berkejaran dengan gerimis lagi.
Setelah mengubek-ubek toko, buku itu tetap tidak ada. Saya benar-benar lemas. Putus sudah harapan membelikan buku untuk Putri. Rasa capai membuat saya memilih duduk di depan pertokoan Hero. Gerimis mulai berhenti. Pelangi bersinar terang. Sebuah rokok saya nyalakan. Asapnya menembus udara sore. Dingin.
***
Jodoh, rezeki, dan maut memang sudah diatur sama yang Maha Kuasa. Di tengah lamunan di sore itu, tiba-tiba melintas seorang bapak bersama anak gadisnya. Mereka baru keluar dari toko. Yang tak terduga itu, sang bapak menenteng sejumlah bungkusan. Satu di antaranya adalah kantong buku Seri Dimata. Mata saya hampir keluar melihatnya. Tanpa banyak membuang waktu, saya kejar bapak itu. Mereka berdua kebingungan ketika saya hadang. Dia pikir, mungkin saya pemalak yang biasa meminta uang secara paksa.
"Pak, apa itu buku Bung Hatta?" tanya saya sambil menunjuk sebuah kantong plastik.
"Iya, kenapa?"
"Boleh saya membelinya"
"Ini tidak dijual"
"Saya memerlukannya, Pak. Penting"
"Maaf Dik, ini tidak dijual"
Saya tahu harga buku itu, Rp 150 ribu. Sebelum bapak itu pergi, saya langsung mengeluarkan uang dari dompet dan langsung menyerahkan kepadanya.
"Ini Pak, saya serius ingin membelinya"
"Dik, saya tak menjualnya. Saya juga perlu buku ini". Kesabarannya mulai hilang.
"Begini Pak, bagaimana kalau saya tambah menjadi Rp 170 ribu"
Bapak itu tak menghiraukan saya. Ia memilih menghindar, dan berusaha pergi dari hadapan saya.
"Pak...pak..."
Akhirnya, dengan muka memelas dan penuh harap, saya ceritakan alasan saya memiliki buku itu.
Sang bapak mendengarkan dengan seksama. Tapi, dia tetap enggan melepaskannya.
"Ya, sudah pak. Ini uang saya. Ambilah semuanya." Saya menyodorkan uang Rp 200 ribu. Satu lembar Rp 100 ribu dan dua lembar Rp 50 ribu. Saya benar-benar tak punya yang lagi. Habis.
Lama juga dia terdiam. Entah kasihan, atau karena harganya lebih mahal dari toko, buku itu dilepaskan juga. Ia mengambil uang Rp 200 ribu itu. Saya sudah tak peduli, yang penting bisa mendapatkan buku itu. Dengan langkah riang, saya melangkah pulang. Pelangi benar-benar bersinar terang.
Besok adalah hari pernikahan. Setiap malam saya selalu membaca buku itu di kamar. Selalu begitu, seperti tak pernah bosan. Di malam ini, saya pun masih membacanya. Bung Hatta begitu dekat di hati. "Putri pasti suka," batin saya.
***
"Saya terima nikahnya Jatnika Putri Bungsu dengan mas kaw...." Sayup-sayup terdengar isak tangis. Putri menangis. Haru. Prosesi pernikahan selalu meninggalkan kesan. Di ujung acara, setelah doa nikah ditambatkan, bapak mengambil mikrofon. Suaranya memecahkan keheningan masjid.
"Sebelumnya, saya mohon maaf. Anak saya, Ivan, ingin memberikan sebuah hadiah perkawinan buat istrinya. Saya harap, Putri mau menerimanya. Hayo Van." Bapak tersenyum. Saya juga. Matanya memandang ke arah saya. Semua yang hadir juga begitu.
Saya melirik ke arah mama. "Mana bukunya...?" Mama menggeleng. Bingung. Saya panik.
"Ma, mana bukunya?"
"Loh, bukannya kamu yang menyimpannya"
Ya, Allah...buku itu masih tersimpan di kamar. Di ujung tempat tidur. Tidak terbawa dan tak ada yang membawanya. Bung Hatta tertinggal sendiri di kamar sepi.
Dia lagi-lagi sendiri. Sunyi.
Bekasi, gerimis di sore Januari.
:: Ulfan :: 9:16 AM
Subscribe to:
Posts (Atom)
