29.7.07
“You know, happiness is in the doing, right, not in the... getting what you want.”
(Jesse Wallace, tokoh film Before Sunset)
Film itu saya tonton berkali-kali, Before Sunrise dan Before Sunset. Dua film yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dibuat dengan biaya rendah oleh sutradara terkenal Richard Linklater, Before Sunrise mengambil tempat di Wina, Austria. Dan sembilan tahun kemudian, Before Sunset dibuat di Paris sebagai sekuel Before Sunrise. Dua film itu dibintangi oleh Ethan Hawke (bermain sebagai Jesse Wallace) dan Julie Delpy (sebagai Celine). “Seperti kembali bersatunya sebuah band,” kata Ethan Hawke mengomentari soal pembuatan sekuel itu kepada Los Angeles Times. Dalam Before Sunset, tidak hanya sebagai bintang, Ethan Hawke dan Julie Delpy juga turut ambil bagian menjadi penulis skenario.
Banyak yang bisa saya petik dari dialog-dialog menarik dalam dua film itu. Film itu memang menampilkan kekuatannya dalam dialog-dialog sepanjang adegan. Nyaris tanpa putus dari awal hingga akhir. Tapi, ketika malam tadi saya menonton sekali lagi Before Sunset, betapa saya terkesima dengan kalimat yang dilontarkan Jesse Wallace yang saya kutipkan di atas. Dan, walhasil, setelah nonton film itu, saya berpikir-pikir panjang dan lama. “Rasa-rasanya memang benar,” ujar saya dalam hati, “Kebahagiaan bukan karena apa yang kita dapatkan, tapi karena apa yang kita lakukan....”
Siang tadi, misalnya. Siang tadi saya mendapati anak kecil tetangga saya sedang membuat layang-layang sendiri. Sekolahnya baru menginjak kelas dua SD, seragam olahraga sekolahnya belum dia lepaskan. Saya duduk di dekatnya dan memperhatikan. “Lidinya terlalu besar, pasti akan susah terbang,” kata saya berkomentar. Tak membalas ucapan saya, dia malah semakin serius mengerjakan layang-layangnya sendiri. Dia masuk ke dalam rumah dan lalu keluar lagi dengan membawa lem kertas. Selembar halaman koran yang berisi iklan kredit motor dia gunting sesuai ukuran rangka layangan yang telah berhasil ia buat. Dengan lem kertas, dia merekatkan guntingan koran tersebut ke benang di rangka layangan. Tak lama kemudian bibirnya melempar senyum puas, seraya tertawa kecil dia bilang, “Jadi!”
Sekarang tinggal menerbangkan.
Tapi layangan itu tidak pernah terbang. Tidak pernah bisa. Dicoba berkali-kali tetap tak bisa. Dia lalu menggunting benang dari layangan tersebut, dan mengambil layangan lamanya yang dia dapatkan dari membeli. Dia sambungkan benang, dan layangan lamanya terbang. Layangan yang dia buat sendiri, dia biarkan tergeletak di samping kakinya.
Dan sama sekali saya tak menemukan guratan kekecewaan di wajah anak kecil tetangga saya tersebut. Tawanya tetap lepas ketika yang terbang ternyata adalah layang-layang yang didapatkan karena membeli, bukan hasil buatannya sendiri. Mendadak saya menjadi semakin mengerti akan kalimat milik Jesse Walace yang saya kutip di atas, yang membahagiakan adalah karena dia telah mencoba melakukan membuat layang-layang sendiri. Dia telah berpikir untuk membuat sebuah layangan, merancangnya dalam kepala, mencari lidi, kertas koran, dan benang lalu berusaha mewujudukan apa yang ada di dalam pikirannya. Mungkin dia tidak mendapatkan layang-layang baru, tapi dia telah melakukannya. Jika sudah begitu, tentulah dia pantas untuk tidak kecewa dan tetap bahagia. Tak peduli yang dimainkan adalah layang-layang lama.
***
Seandainya kita tahu apa yang kita lakukan. Bukankah banyak di antara kita yang tak benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah kita lakukan? Kita berbuat begini berbuat begitu sering tanpa kita tahu untuk apa atau mengapa? Yang lebih parah lagi, betapa sering kita melakukan sesuatu karena... orang lain melakukannya!
Banyak hal. Seakan-akan kita tak tahu apa yang sesungguhnya benar-benar ingin kita lakukan untuk diri kita sendiri, sebagai diri kita sendiri. Terkadang kita melakukannya hanya karena orang lain telah melakukannya, atau karena orang lain ingin kita melakukannya, situasi ingin kita melakukannya. Kita tak lagi tahu diri kita sendiri, apa keinginan kita dan siapa sesungguhnya kita. Jika sudah seperti itu, seberapa banyak kebahagiaan bisa kita raih?
Seorang teman saya yang sejak kecil ingin belajar menari balet tidak pernah bisa melakukannya keinginannya itu karena orangtuanya tak mengizinkan. Seorang teman lagi yang pandai memintal, malah dihardik orangtuanya dengan kalimat, “Kamu disekolahkan bukan untuk jadi penjahit!” Seorang teman lagi menjadi pengikut tren habis-habisan karena, kata dia, “Ya, namanya juga anak muda!” Lalu ada pula yang setengah mati diet karena merasa bahwa yang ideal adalah yang seperti bintang iklan. Ada yang bolak-balik ke salon meniru artis ini atau artis itu.
Semuanya menjadi serba seragam, kita kehilangan keunikan kita. Seolah-olah ada begitu banyak komando yang datang dari luar diri kita untuk kita turuti. Tak lagi bebas mengekspresikan diri kita hanya sebagai diri kita sendiri, kita seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Tak lebih dari sekadar ‘pengikut’. Lucunya, terkadang kita bisa merasa bahagia.
Ah, seandainya kita tahu apa yang sedang kita lakukan....
(printed version at Seputar Indonesia, 29 Juni 2007)

Setengah abad lebih kematiannya menjadi misteri, dan bulan ini seorang Belanda mengemukakannya ke publik. Link artikel:
Misteri Kematian Tan Malaka Terungkap
Menguak Misteri Kematian Tan Malaka
Dan saya menemukan puisi ini. Dari si penulis Negara Kelima, Esito.
Dark Romance
Untuk Tan Malaka
Seperti kisah yang lama
Ada kenangan dari yang hilang
Setambat duka dari yang tidak disuka
Dan dirimu pun seperti bayang
Terhalang bintang-bintang
Yang menaungi sejarah
Ada apa Tan
Dengan hilangnya kau
Persis di tengah-tengah revolusi republik
Matikah kau Tan membawa petualangan tak terlupakan
Tidak ada yang tahu Tan
Semenjak tiga serangkai, sukarno hatta dan syahrir
Yakinkan engkau dan iwa kusuma sumantri kelak sebagai ban serep
Jika tiga mereka mati
Tetapi seperti kisah orang tersembunyi
Ada segelintir orang kagumi engkau punya diri
Jadikan madilog kitab suci
Tidak lupa juga puja pahlawan import
Che guevera namanya Tan
Tetapi aku mau bertanya pada mu Tan
Pada retorika romantisme yang sepi
Adakah kau dalam pelarian
Penuh sukacita fasilitas tiada tara
Seperti laku kini mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Keluar masuk hiburan malam
Adakah dalam ingatanmu
Dalam pelarian kau bercinta dengan segenap wanita
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Berpelukan mesra dengan wanita segala usia
Dan tan bisakah kau reka ulang
Dalam pelarian jhony walker jadi teman sepimu
Seperti laku mereka yang memujamu
Dengan madilog dan kaos che guevera
Tak sadarkan diri demi menenangkan diri
Hey..Tan
Yang kampung engkau jaraknya tidak lebih dari 33 kilo dari kampungku
Adakah semua itu kau laku
Di indochina
Siam
Singapura
Atau bahkan dalam penyamaranmu di jaman jepang?
Aku tidak tahu Tan
Tetapi dari engkau yang ku paham dari kisahmu
Engkau tidak begitu
Ada religiusme individu dalam sosialisme kolektif
Begitu yang kutahu
Ada apa dengan mereka yang mengagungkan madilog mu tan
Berpikir mereka di hutan amerika selatan
Hingga kenakan kaus che guevera
Tapi tak sekalipun merasakan di tengah medan aksi
Ada apa Tan?
3 Desember 2004
(link: ibu, aku ingin mengubah bintang)27.7.07
"Hidup Kangen Band!"
(kata kawan saya suatu sore)
Iseng, saya coba search pendapat para blogger tentang Kangen Band. Ini di antaranya:
Fenomena Kangen Band
Kangen Band, Band Terbaik di Indonesia!
Kangen Band
Fenomena Kangen Band
Keberuntungan Tanpa Kualitas dari Kangen Band
Kangen Band dan Bakekok Lainnya
Kangen Band
Kangen Band
Fenomena Langka dan Aneh yang Membuat Saia Tidak Kangen!
25.7.07

"Tidakkah kau tahu kuselalu mencari waktu tuk bertemu denganmu
Lihatlah kedua mataku bersinar resah dan jiwaku telah lelah"
(Di Relung Kamarku, Katon Bagaskara)
Sabtu siang yang membosankan dikejutkan dengan pesan pendek dari seorang teman lama, Andri. Mengabarkan bahwa ada undangan untukku: seorang teman menikah. Well, di tahun ini, satu orang lagi kawan menikah. Aku menjanjikan kehadiranku. Momen-momen seperti ini biasanya akan menjadi wahana interaksi kembali dengan kawan-kawan lama. Karena acaranya di Bandung, aku meminta Andri untuk mau menjemputku di Jatinangor sebelum ke tempat acara. Dia menolak, menurutnya Mila, mantan pacarnya, akan datang ke kostnya. Ya, tentu saja itu berarti merepotkan. Aku katakan tak apa, bertemu di tempat acara saja.
Namun, tiba-tiba di sore hari situasi berubah. Mila mengurungkan niatnya untuk datang ke Bandung. Untuk alasan yang entah, dia memilih tetap di Jakarta dan akan kembali akhir bulan nanti. Andri mengabariku perihal ini. Aku katakan, "Malam ini, aku ke tempatmu. Menginap di sana dan berangkat dari sana."
Hari Minggu ternyata tak seperti dugaanku. Beberapa orang teman tak bisa datang karena ada saja agenda-agenda personal yang tak bisa ditinggalkan. Ini menyebalkan, mengingat intensitas pertemuan kami yang semakin berkurang saja. Terlebih ketika Rumah Biru, tempat kami biasa berkumpul, habis masa kontrak. Dasuki harus menjaga bayi perempuannya yang baru lahir. Dahrun harus segera kembali ke Cimahi, tempatnya mengajar. Samsul di Jakarta dan tak bisa ke Bandung. Dan yang paling menyebalkan adalah Epul tak bisa karena harus bekerja di kantornya. Hari Minggu dan harus bekerja!
Jadi, hanya aku dan Andri yang datang. Berdua kami naik motor ke tempat acara. Menyampaikan salam teman-teman yang tak bisa hadir, mengucapkan selamat dan pulang. Kawanku yang menikah, berbahagia sekali. Roman mukanya tak bisa menutupi itu. Sementara, keesokan harinya, seorang kawanku yang lain di kota yang lain lugas bilang padaku, "Aku tak tahu apa gunanya menikah."
Sepulang dari tempat resepsi, aku dan Andri memutuskan untuk datang ke kantor tempat Epul bekerja. Sedang sibuk. Baru lima menit duduk di lobby, tiga cangkir kopi datang. Sesekali Epul datang untuk duduk minum kopi bersama. Berkali-kali dia kembali masuk ke dalam ruang kantornya menyelesaikan urusan ini itu. Bukan hanya Epul di hari Minggu itu yang bekerja. Dua orang perempuan juga kulihat sedang bekerja. Memeriksa dokumen-dokumen dan sibuk di depan layar monitor komputer. Pasti ini hari Minggu yang tak cerah untuk keluarga mereka, untuk anak dan istri Epul di rumah.
Menjelang sore, pekerjaan tampaknya selesai. Epul duduk bersama kami menikmati kopi. Dia bertanya, "Mila gak datang?" Andri hanya tersenyum. Aku yang sedari tadi diusili lantaran kisah rumit masa laluku bersama seorang teman, menyentil, "Jangan-jangan Mila dan Samsul pacaran di Jakarta?"
Semua tertawa. Dan Epul menyambung, "Masuk akal! Kemarin Samsul bilang ke aku kalau dia sudah punya pacar, 'baru, tapi tidak baru'." Pasti bukan orang baru. Hanya baru pacaran saja, maksudnya. Dan salah satu kemungkinannya memang mengarah ke sosok Mila. Dulu kami menghabiskan waktu bersama-sama di Panorama E 12. "Gak Menyangka, Samsul ternyata ikut-ikutan." Kami tertawa.
"Gak mungkin," kata Andri. "Gue mah beda sama loe," mukanya mengarah ke saya. Tertawa lagi.
Tiba-tiba hari Minggu itu jadi menyenangkan. Epul mengajak aku dan Andri ke rumahnya. Kami menyanggupi. Sampai rumah Epul, istrinya membuka pintu dan langsung mengembangkan senyum. Anaknya yang masih dua tahun bersembunyi di balik kaki ibunya. "Kalian harus makan malam di sini," kata istrinya. Belum ada sepuluh menit sejak kami datang, makanan sudah tersedia di depan kami. Nasi dan lauk-pauknya. Di rumah hangat itu, kami makan berramai-ramai. Selepas makan, kopi muncul dari dapur. Epul sekeluarga bersama aku dan Andri menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol.
Olok-olok soal 'Mila-Samsul' terus berlangsung di beranda rumah itu. "Ada kabar buruk, De," kata Epul pada Ade, istrinya. "Samsul pacaran sama Mila!" Ade tertawa-tawa. "Untung aja kita nikah," sambung Ade seraya tertawa. Andri jelas misuh-misuh. Dia mengeluarkan ponselnya, dengan speaker phone dia menelepon Mila. Telepon diangkat, suara Mila di Jakarta. "Mila, kamu bener pacaran sama Samsul?" Tanya Andri. Alih-alih menjawab, Mila malah tertawa-tawa. "Hahaha. Mila tuh maunya sama Imam, nungguin Imam dari dulu. Ada Imam gak di sana?" Jawab Mila sambil tertawa. "Ada nih," Jawab Andri. Lalu Mila berbicara padaku, "Mam, kapan atuh pendekatan ke Mila? Mila nungguin kamu terus nih." Aku tertawa saja, "Imam gak bisa, Mil," jawabku singkat. Yang tak disangka adalah Mila malah jadi mengolok-olokku, "Payahhh, masa gak bisa. Si itu aja bisa." Semua orang tertawa senang. Tentu saja, selain aku yang cuma bisa tertawa kecil. Di akhir pembicaraan, kami sepakat untuk merencanakan perjalanan bersama. Mungkin akan ke Ciwidey atau Pantai Batu Karas.
Pukul sepuluh malam Andri dan Epul berencana main ke kamar kostku yang baru. Tak satupun dari mereka yang tahu. Epul meminta izin ke istrinya dan pamit ke anaknya, "Mungkin pulang malam sekali." Bertiga kami ke Jatinangor, lima belas menit perjalanan. Dan terasa, malam itu menjadi malam yang panjang. Saling tertawa tak henti. Memutar kembali masa lalu: Bermain domino dengan winamp playlist Ari Lasso, Bintang dingin, dan Djarum Super. Sebuah kegiatan yang kami mulai bertahun-tahun lalu. Kalau bermain domino, ya harus memutar lagu-lagu Ari Lasso. Kalau ada yang kalah, ya memakai helm motor. Kalau memakai helm, ya tak bisa merokok Djarum Super. Dan Bintang dingin membuat semuanya menjadi ringan malam itu.
21.7.07
Pagi ini seorang kawan meminta rekomendasi blog yang bagus pada saya. Saya cuma ingat satu blog. Ini sekaligus mengingatkan saya akan keinginan saya untuk memberitahukan blog ini ke banyak orang. Ingin sekali. Sejak pertama kali membacanya saya langsung jatuh hati pada tulisan-tulisan di dalamnya. Mengingatkan saya pada hal-hal sederhana yang ada di sekitar saya, pada pikiran-pikiran kecil, pada kisah-kisah hidup yang manis atau yang tak manis. Setelah membacanya, saya selalu saja dibuat untuk mengambil jeda untuk satu dua hela napas. Menikmatinya seperti saya menikmati secangkir capuccino mahal di foodcourt Pasaraya (yang cuma sekali saya rasakan dengan momen yang luar biasa) atau secangkir kopi Aroma. Saya tak tahu siapa penulisnya. Percayalah, bukan karena dia tak terkenal. Tapi, karena saya kurang bisa bergaul.
Blog itu, www.pewariswaktu.wordpress.com
18.6.07
10.6.07
: yang bertanya ‘mengapa’ di satu senja di tepi jalan
Ketika begitu banyak duri yang tertancap di tapak kaki, atau ketika udara tiba-tiba menjadi begitu sulit dipilah mana yang bagus untuk paru-paru dan tidak, atau juga ketika mata menjadi enggan terpejam, meski rasa-rasanya telah bergantung beban berkilo-kilo beratnya di lentik bulu mata, kita tak tahu lagi apa harus kita perbuat. Kita menyerah. Menundukkan kepala, tanpa mengeluh atau tidak.
Matahari sementara itu selalu beredar pada garisnya. Tak hendak melenceng atau berontak barang sedikit. Menjadi pengingat yang mendera-dera kehidupan. Di tanah-tanah basah embun, di aspal-aspal buram, di pucuk daun muda, di tas kusam anak sekolah. Memancarkan sebuah semangat yang mesti ditelan tanpa dikunyah.
Kehidupan seolah-olah cuma sesuatu yang buruk rupa dan setengah mati ingin selalu kita hindari.
Lalu ingatan kita melayang kepada suatu pagi yang gagal sepuluh tahun lalu. Tak satu pun benih kita tanam di tanah belakang rumah kita. Tak secangkir pun minuman hangat tersaji di meja samping ranjang kita. Kita kosong – dan sepi. Di sudut kamar, ada terlihat arus cahaya menimpa baju-baju kumal kita. Bergeser senti demi senti mendekati selimut kaku.
Kita lantas tahu hari telah berganti lagi. Namun, betapa terkutuknya ia, betapa sialnya manusia, kita juga tahu itu adalah hari yang sama belaka seperti hari-hari yang sudah.
Keriuhan di luar kamar kita tak terdengar serupa lagu cinta lagi. Membuat kita semakin enggan untuk membuka telinga baik-baik. Di kamar ini, kita tahu, labirin ini tak akan dan tak akan pernah bisa kita pecahkan.
Tapi kita seperti terhukum untuk terus mencari. Membongkar-bongkar laci ingatan, meniti tiap-tiap senti kamar kita, melepaskan sprei kasur kumal kita, menurunkan bantal-bantalnya: berharap menemukan kunci pembuka pintu kepala kita yang kita yakini terselip entah di mana. Kita seperti tak pernah tahu itu adalah semacam laku sia-sia. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Dan dari sana, serupa monster, kemudian bermunculan bayang-bayang hitam buruk rupa yang mengejar-ngejar kita. Hendak menerkam kita justru saat kita terbaring lemah. Hendak melumat kita justru saat kita terkapar lelah. Hendak mencengkeram kita justru saat kita terjatuh-jatuh. Kita ketakutan. Ketakutan. Membekap telinga dan memejamkan mata. Air mata mengalir pelan dari pelupuk. Tak mampu lagi berteriak meski teramat ingin. Tak mampu lagi berlari meski teramat ingin. Hanya meringkuk dalam diam. Menundukkan kepala. Berupaya berpikir panjang dan dalam. Lalu mencoba lagi mendongakkan kepala dan menemukan bahwa ternyata tak ada sama sekali yang mengejar kita.
Dan kita tersadar: yang paling jahat dalam hidup ini adalah pikiran kita sendiri.
Matahari masih akan terus beredar. Matahari masih akan terus berpendar. Di tengah lapang, dengan sukacita kita angkat kedua tangan kita. Sebuah isyarat kekalahan. Sebuah isyarat untuk menyerah.
Kita tahu, betapa kita tahu, untuk hidup seabsurd ini, yang paling layak adalah menelan sekian kutukan dan lalu duduk diam.
Perempuan, saya kalah....
8.6.07
30.5.07
Seratus Tahun Tak Terlupakan
“Sama sekali tak ada yang salah. Aku tahu, semua penulis pasti akan menyetujui ini.”
Itulah kalimat yang dilontarkan Anne Bernays, novelis yang juga istri Justin Kaplan, pemenang Pulitzer, ketika mengomentari Penghargaan Nobel Bidang Kesusastraan yang diberikan Komite Nobel Akademi Swedia kepada Gabriel Garcia Marquez. Jumat 22 Oktober 1982, harian Boston Globe mengabarkan itu. Diberitakan pula bahwa salah satu ruang kelas di Departemen Sastra Universitas Harvard mendadak riuh dengan suara tepuk tangan para mahasiswa sesaat setelah Profesor Juan Marichal mengabarkan ihwal penghargaan itu kepada isi kelas.
Marquez menjadi legenda baru yang dipuja begitu banyak kalangan. Seratus Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Solitude), yang terbit pertama kali dalam bahasa Spanyol pada 1967 sebagai Cien Anos de Soledad, kemudian dibaptis banyak kritikus sebagai novel terbaik di abadnya. Novel inilah yang mengantarkan Gabito, demikian ia biasa disapa, menjadi nobelis.
Di Amerika Latin, terutama di Kolombia dan Meksiko, konon novel ini lebih laris ketimbang Alkitab. Itu memang tanah kelahirannya. Ia lahir di Aracata, Kolombia pada 6 Maret 1928 (sedang ayahnya lebih yakin kalau ia lahir pada 1927). Di angkasa Amerika Latin pula namanya menjulang tinggi. Ketenarannya melampaui presiden dan hanya bisa ditandingi oleh bintang sepak bola atau ratu kecantikan. Silvana Paternostro, jurnalis yang sempat berguru pada Marquez, menuliskan dengan sangat apik ketenaran sang maestro, “Namanya muncul di kontes-kontes kecantikan kami sesering nama Paus. Jawaban para kontestan jadi repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Marquez. Siapa yang paling kamu kagumi? Ayahku, Paus, dan Garcia Marquez. Siapa yang ingin kau jumpai? Garcia Marquez dan Paus. Bila pertanyaan yang sama diajukan pada jurnalis Amerika latin, jawabannya bisa jadi sama—kecuali soal Paus barangkali.”
Suatu hari di tahun 1995, sekelompok gerilyawan menculik kerabat mantan presiden Kolombia. Tuntutan mereka: Gabriel Garcia Marquez menjadi presiden. Mereka menulis dalam permohonan mereka, “Nobel, tolong selamatkan Tanah Air!” Di tahun 1994, saat pertemuan Negara-Negara Non-Blok digelar di Cartagena, Marquez hadir bersama rombongan delegasi Kuba. Saat itu berkembang isu akan terjadi pembunuhan terhadap Fidel Castro, Presiden Kuba. Untuk melindungi Castro, Marquez menaiki delman yang sama dengan Castro dan berdesak-desakkan dengan tiga orang lainnya. “Di Kolombia sini bila aku naik panggung, tak seorang pun bakal menembak,” kata Marquez kepada Castro.
Semuanya bermula saat Marquez menjenguk kembali kota masa kecilnya, Aracataca. Di sini ia dibesarkan di rumah kakeknya yang begitu penuh cerita. Dan bersama inilah Marquez kecil tumbuh: rumah besar penuh hantu, percakapan-percakapan lewat kode-kode, mereka yang mampu meramalkan kematinan mereka sendiri, dan yang sangat membekas barangkali adalah pembantaian para pekerja perkebunan pisang. Nama perkebunan itu Macondo, sebuah nama yang kemudian diabadikan Marquez sebagai kota (imajiner) di Seratus Tahun Kesunyian. Sejarah pembantaian pekerja perkebunan pisang itu sendiri tak pernah tertulis di buku-buku teks sejarah, hal yang membuat Marquez terheran-heran di masa-masa sekolah. Nostalgia-nostalgia pada hal-hal itulah yang membuat Marquez menelantarkan istri dan keuangan rumah tangganya selama berbulan-bulan. Hasilnya? Seratus Tahun Kesunyian dan setumpuk tagihan.
Seratus Tahun Kesunyian bercerita soal sejarah keluarga besar Buendia dan segala macam hiruk-pikuknya di Macondo, sebuah kota yang tak akan pernah ditemukan di peta lanskap Amerika Latin. Ceritanya bermula dari kisah Jose Arcadio Buendia dan kedua anaknya yang untuk pertama kalinya melihat es balok yang dibawa gypsi ke Macondo. Saat itu Jose Arcadio Buendia menjadi begitu terpesona pada es yang awalnya ia sangka intan terbesar di dunia. “Ini adalah penemuan terbesar dalam sejarah kita,” kata Jose Arcadio Buendia.
Itu, diakui Marquez, dilakukan setelah ia merasa mendapat visi (penglihatan) ketika ia bersama anak istrinya hendak menuju Acapulco. Ia teringat bagaimana neneknya seringkali mendongenginya cerita-cerita fantastis dengan gaya yang dingin. Dalam penglihatan itu ia melihat, “cerita itu harus diceritakan dengan cara bercerita yang biasa digunakan neneknya, dan dimulai dari suatu sore di mana seorang bapak membawa anaknya demi melihat es.”
Lalu cerita-cerita fantastis dan penemuan-penemuan “besar” tergelar: cerita soal usaha menciptakan emas, hantu-hantu korban pembantaian, karpet terbang, hujan berhari-hari, wabah lupa, kisah-kisah cinta yang rumit, anak yang memiliki kegemaran makan tanah, dan lain sebagainya. Semuanya diceritakan Marquez seolah hal-hal itu adalah perkara biasa saja. “Nenekku selalu mendongengkan hal-hal paling liar dengan nada yang sungguh alami.”
Seratus Tahun Kesunyian telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan terjual lebih dari 8 juta kopi. Di Indonesia sendiri bahkan novel itu telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh dua penerbit berbeda. Seratus Tahun Kesunyian bukan lagi cuma sekadar novel tonggak Amerika Latin, tapi juga novel tonggak dunia. “Don Quixote-nya Amerika Latin,” kata Pablo Neruda.
Novel karangan seorang mahasiswa hukum drop-out ini, mampu membuat Jennifer Lopez berkomentar, “Apa yang membuaku bangga sebagai seorang latin adalah Seratus Tahun Kesunyian!” Sebuah novel yang barangkali sulit dihilangkan dalam buku-buku sejarah kesusastraan dunia.
13.5.07
Di akhir sebuah acara diskusi, pementasan teater, dan pemutaran film tentang penyair yang hilang, saya bersama beberapa orang kawan memutuskan untuk membantu memberes-bereskan tempat acara. Dispenser, galon air minum, dan karpet yang dipinjam dari tempat saya, bisa dibawa pulang langsung ke tempat saya. Oleh siapa? Ya, oleh saya.
Tentu saja ketiga barang itu tak bisa saya bawa sendirian. A bilang mau ikut membantu. R, tentu tak bisa saya minta bantuannya. Ia sendiri ragu, sepertinya ia akan pulang langsung ke Bandung. Maka aku bertanya pada D dan M, pasangan muda yang selalu bikin iri, “Kalian mau ke mana setelah ini?” Biasanya mereka akan singgah dan nongkrong sejenak di tempat saya. Saya berpikir untuk meminta bantuan mereka berdua.
“Yee, mau tahu aja!” Tiba-tiba suara dari orang yang tidak kuharapkan jawabannya terdengar. Kasar seperti mengejek. Nadanya menyakitkan dan sama sekali tak lucu. Menjengkelkan.
“Oh, begitu cara mainnya,” ujar saya dalam hati.
D saya lihat tersenyum pada saya, “Sip, saya bantu,” kata dia.
Setelah itu, sampai pagi saat saya menuliskan ini, kedongkolan menjadi-jadi.
11.5.07

“Pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa dikerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”
(Pramoedya Ananta Toer kepada wartawan mahasiswa POLAR, Fisip Unpad)
Setahun sudah Pram pergi meninggalkan bumi manusia ini. Lagi dan lagi, rasa kehilangan itu menyusup ke dalam benak banyak pembaca karya-karyanya. 30 April 2006, setelah pesan-pesan pendek hiruk-pikuk membawa kabar kabur tentang kematian Pram di langit Indonesia, Pram benar-benar wafat ada pukul 08.55. Dua jam kemudian jenazahnya dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan lalu diantar ke Karet Bivak.
“Kehendak mulia di dalam dunia, senantiasa tambah besar,” sepenggal lirik lagu Internasionale berkumandang mengantar Pram ke liang lahat.
Seandainya dunia adalah pasar malam. Tentu tak ada perasaan ditinggalkan oleh sang maestro. Tapi dunia memang bukan pasar malam. Orang tak “ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati.” Pernah Pram menulis, “Manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi.” Maka yang tertinggal bukan cuma merasa cemas menanti-nanti saat kepergian, tapi juga cemas merasa kehilangan ditinggal mereka yang lebih dulu pergi.
Setahun sudah. Dan apa pula arti hidup Pram yang 81 tahun itu? Buku-buku karyanya dilarang bangsanya sendiri, tak diajarkan dibangku sekolah, tak ada pemulihan nama baik, tak ada klarifikasi soal hukuman-hukuman yang ia telan, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Terbakar amarah sendirian?
Diterjemahkan lebih dari empat puluh bahasa dan jadi bacaan wajib di sekolah beberapa negara. Di negeri sendiri?
Terkenang-kenang orang-orang pada Pram. Pada Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, pada banyak karya-karyanya. Terkenang-kenang mereka di Australia yang membaca karya-karyanya dan lantas menyuratinya, mengabarinya bahwa betapa mereka menikmati karya-karyanya itu dan bagaimana hidup mereka berubah karena membacanya.
Pram datang membawa kisah dan menjadi kisah. Kepergiannya meninggalkan banyak hal untuk generasi sesudahnya. Melawan dan melawan. Orang kuat, lebih kuat dari jenderal besar yang melarang buku-bukunya. Jenderal besar takut pada kata-kata. Kata Pram, “Adalah tidak benar meninggalkan dunia ini dengan diam-diam” (Rumah Kaca).
“Dengan tangan satu memenangkan perjuangan rakyat, dengan tangan lain mengabdikannya dalam sastera.” Kalimat Pram tepat menggambarkan dirinya sendiri. Deposuit Potentes de Sede et Exaltvatat Humiles (Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina). Sebagaimana kalimat itu menutup tetralogi Buru, seperti itu pula hidup Pram ditutup.
Sampai jumpa, Pramoedya!
(printed version: klik pikiran rakyat)
10.5.07
Bisakah hidup melulu sore? Karena sore memang selalu sempurna menyimpan setiap yang ringan dan senang.
Tak pernah matahari terlalu terik, menyengat dan membuat susah. Dan di tanah lapang selalu saja kau pertaruhkan badan bersih sehabis mandi demi menyambut senja dengan sepak bola. Menukar kepenatan hari ini dengan keringat dan renyah tawa bersama sebaya.
Karena di sore hari angin begitu lembut, memagut rambut tanpa pernah ribut. Begitu tenang hingga membuat kau nyaman. Kau tersenyum, langkah demi langkah. Trotoar tak menyisakan apa-apa kecuali kedamaian yang membuat kau enggan untuk berhenti. Berjalan terus menjauhi malam.
Karena di sore hari kau suka bersama kawan-kawanmu. Mengitari gelas-gelas kopi dan teh hangat, bermain gitar dan bercanda lepas. Kau begitu gembira mendengar cerita kawanmu yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Kau lihat dia melepas kancing kemeja teratasnya dan meluruskan kaki. Di beranda kamarmu, kau berkhayal ada seribu bunga mekar di setiap sisi.
Dan jika kau sendiri, kau tak pernah lupa untuk membaca buku. Buku-buku yang menghadirkan dunia yang baru untukmu, sore yang baru untukmu. Kau memanaskan air demi segelas teh hangat. Kau menyiapkan kursi yang menghadap ke barat. Kau membasuh muka yang mulai letih. Kau menghirup udara yang tak lagi sesak. Kau duduk membaca dan menghirup aroma yang menguap dari gelasmu. Seperti kemarin saat kau lihat seorang anak kecil duduk bicara bersama dua sahabatnya yang sudah tua di reruntuhan gedung kesenian dalam sebuah buku.
Kau bermimpi. Terus bermimpi.
Bermimpi kau berada di pantai. Duduk di atas pasir hangat. Di samping seorang kawanmu yang mengalunkan gitar. Di hadapanmu, seorang kawanmu mengurai cerita-cerita. Sepuluh langkah di serong kirimu seorang kawanmu menari. Lima langkah di belakangnya seorang lagi kawanmu membuat istana pasir. Dan kau melihat kawan-kawanmu yang bermain ombak seraya bernyanyi-nyanyi.
Kau bermimpi berada di lembah. Lanskap yang membuatmu tak lagi menginginkan apapun. Di sebuah pondok tua yang selalu saja tak pernah kehabisan minuman-minuman hangat untuk teman berbagi cerita bersama siapa saja. Di samping kebun yang kau kelola sepanjang pagi. Di dekat sekolah tempat ramai anak kecil berlomba gaduh. Kau tak ingin berlari dari apapun, semua diterima dengan hangat di pondok kecil itu.
Kau terus bermimpi dan bermimpi. Sampai kau tersadar sore ini bukan yang pertama kali kau menginginkan hidup melulu sore.
Saya tak tahu lagi sesungguhnya siapa saya dan mau apa saya. Utara. Selatan. Timur. Utara. Barat. Selatan. Utara. Seperti tak punya lagi energi untuk mengenali diri sendiri. Hanya bisa terpaku dan terdiam mendapati kenyataan ini menggenangi.
Saya kehilangan kompas.
Menghabiskan hari demi hari dalam labirin sunyi dan gelap. Tak ada benang untuk saya rentangkan sebagai petanda jejak-jejak.
Celakanya, saya tak tahu lagi situasi seperti apakah yang seharusnya terjadi dalam hidup saya. Jika saja diri saya adalah sebatang lilin, ingin betul saya mendapati diri saya sebagai lilin yang sisa sekian mili saja. Sumbunya telah menghitam dan nyaris habis, apinya hampir padam. Jika diri ini serupa tanaman, ingin saya temukan diri saya ini sebagai tanaman tanpa bunga dengan sehelai daun tua yang pasti luruh dimain-mainkan angin.
Saya sepi. Kesepian.
Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak bicara tentang hal-hal remeh yang ingin saya bicarakan. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya percayai untuk saya ceritakan rahasia-rahasia saya. Saya tak tahu lagi siapa yang dapat saya ajak tertawa, menertawakan diri sendiri. Saya ingin ada orang yang memaki saya, dan saya terpuaskan karenanya.
Saya tahu, barangkali saya telah melangkah terlalu jauh dan tanpa perhitungan masak-masak. Dan kini di sinilah saya, teronggok sebagai bangkai. Di tengah hutan, saya adalah bangkai domba yang babak belur dihantam harimau. Di pinggir jalan, saya adalah bangkai anjing yang selalu jadi sasaran kejahilan anak-anak. Di atas trotoar, saya adalah bangkai gelandangan yang tak sekali pun sempat menikmati roti yang ia lihat di etalase sebuah toko kue. Di dunia ini, saya adalah bangkai dengan mata yang jarang mau tertutup dan paru-paru yang enggan berhenti bernapas.
Seperti patung batu yang tak pernah juga mau tahu begini hukum hidup berlaku:
“Penderitaan diri sendiri itu pantas untuk ditukar dengan kesenangan orang lain.
Kesenangan orang lain itu pantas untuk ditukar dengan penderitaan diri sendiri.”
Hidup melulu mereguk kekalahan. Dunia paket plus dengan batas minimal usia untuk bersuara.
Hidup adalah sendiri. Tak ada kawan tak ada lawan. Hanya sendiri. Berkawan dengan diri sendiri dan berlawan dengan diri sendiri. Serupa Tuhan atau Nietszche. Bukan serupa Ratna atau Galih.
O, meledaklah bunga-bunga taman, berkejaranlah pohon-pohon tepi jalan, menyelamlah langit-langit, membuncahlah buih-buih. Buat sedikit kegaduhan, selayak pesta-pesta untuk perayaan perpisahan.
1.5.07
Mereka telah memiliki hari-hari mereka sendiri, dan cukup banyak. Hari Jadi TNI, Hari Kesaktian Pancasila, dan hari-hari lainnya. Dan kami juga memiliki hari kami sendiri, hanya satu memang, tetapi hari tersebut adalah milik kami. Hari-hari mereka memperingati peperangan, mengenang keagungan para Jenderal di atas darah mereka yang tak bernama, mengingatkan kekuasaan militeristik. Mereka menancapkan monumen mereka di berbagai tempat. Nama para Jenderal, para penakluk yang mati seperti lalat yang mengerubungi mereka, sementara rakyat jelata yang mati untuk mereka tetap saja tak bernama. Mereka selalu mengumandangkan kemenangan melalui para ulama dan pendeta untuk memperlihatkan betapa darah yang tertumpah demi para pemimpin adalah demi kesucian jalan menuju surga. Sementara kami punya hari kami sendiri, festival kami, milik kami yang harus bekerja siang dan malam. Ini adalah milik kami, para pekerja dan tak ada kaitannya dengan para pembesar tersebut di atas. Dan apabila kalian pikir hari milik kami ini adalah tradisi yang bukan berbasiskan lokalitas, pertanyakan, apakah etika kerja yang kami kenal dan hidupi sekarang ini adalah sebuah produk lokal?
Lantas, siapakah para pekerja itu sebenarnya? Pekerja adalah orang-orang seperti kami yang setiap harinya harus selalu hadir di tempat kerja, melakukan tugas yang seringkali tidak dipahami gunanya selain demi keuntungan perusahaan, makan siang, bergabung kembali dengan dan sebagai mesin, pulang sore atau malam hari untuk hanya merasa begitu letih dan tak mampu melakukan aktifitas apapun selain duduk menonton televisi, minum-minum di kafé, menonton film dan tertidur pulas. Dan itu semua bagi kami adalah demi di akhir atau awal bulan berharap upah akan diterima tepat pada waktunya—sementara bagi para pembesar artinya adalah uang yang selalu mengalir deras. Bangun, menjadi mesin, pulang, memulihkan tenaga, tidur, bangun, menjadi mesin... dan begitulah seterusnya hidup kami saat ini. Sedari lahir di dunia ini, kami semua dipersiapkan untuk bekerja. Sebagian dari kami memang masih bersekolah dan belum bekerja. Tapi sekolah bagi kami adalah sebuah pabrik yang mencetak kami yang awalnya terlahir bebas, untuk menjadi produk-produk impoten yang dapat engkau perjualbelikan di bursa kerja. Sebagian dari kami memang menganggur dan tersingkir dari bursa kerja, dan kami terpaksa berebut di antara kami sendiri demi agar seseorang mengucurkan upah bagi kerja-kerja kami. Bagi kami, tak ada pilihan yang tersedia selain hidup dengan cara bekerja, menghamba pada otoritas, mengikuti aturan dan tunduk sepenuhnya, demi mengharap upah. Kami terpaksa hidup sebagai seorang hamba.
Lantas, siapakah dirimu? Apakah isi hidupmu seperti hidup kami? Bila jawabnya ya, maka mari bergabung bersama kami, barisan pekerja dalam perayaan Hari Pekerja Internasional tanggal 1 Mei (M1), untuk bersama menghapuskan sistem penghambaan, selamanya.
Menghidupkan May Day – Menghidupkan Robin Hood
Dalam era permulaan tradisi pagan, May Day (yang secara harfiah berarti “Hari di Bulan Mei”) adalah sebuah festival fertiltitas (kesuburan), sebuah karnaval seksual yang membumi; Maypole, sebuah simbol falus dicemplungkan ke dalam sebuah lubang basah bundar yang digali di atas muka bumi—ritual perayaan yang menyimbolkan hari erotis ini. May Day adalah sebuah festival yang pada masa tersebut tak dapat dikontrol oleh otoritas apapun. Tradisinya, para lelaki dan perempuan muda masuk ke dalam hutan pada malam sebelum May Day, untuk memetik bunga, dan “menghadirkan Mei” serta menemukan falus yang dirasa tepat. Dan, dari kegelapan malam di bumi, dari “ratusan perawan yang memasuki hutan malam tersebut, hanya sekitar sepertiga dari mereka yang kembali ke rumahnya dalam keadaan masih perawan”. Seks di bulan Mei tersebut diikuti dengan perayaan pernikahan di bulan Juni—alasan mengapa bulan purnama Juni diistilahkan dengan “bulan perawan” dan lantas lahir juga istilah “bulan madu” yang diasosiasikan dengan perayaan pernikahan tersebut.
May Day adalah juga sebuah hari keriangan dan berkembangnya bunga-bunga. Abad pertengahan, di hutan pinggiran kota London, sekelompok orang yang berpakaian dan bertudung hijau serta dipimpin oleh seseorang yang menggunakan nama Robin Hood (yang juga dikenal sebagai “Orang Inggris yang Ceria”) selalu mengadakan pesta di awal bulan Mei—setelah pada hari-hari lainnya merampok harta-harta para penguasa lalim untuk kemudian didistribusikan bagi rakyat jelata. Hal tersebut juga menandai awal “Bulan Mei yang Ceria”, di mana orang-orang yang ceria tersebut merayakannya dengan mengadakan pesta di hutan-hutan hijau, di tengah berkembangnya bunga-bunga.
May Day adalah hari penegasian, penjungkirbalikkan, yang merupakan karnaval untuk menjungkirbalikkan waktu kerja menjadi waktu bermain, menjungkirbalikkan status-quo, memahkotai Ratu Mei (Queen of May) yang dipilih dalam festival tersebut oleh rakyat jelata, saat festival dikomandoi oleh Raja Pembangkangan (King of Disobedience). Dan orang-orang berpakaian hijau memberikan lampu hijau bagi segala tindak pembangkangan pada keteraturan yang menyelimuti penindasan. Ini adalah juga hari di mana rakyat merayakan hari-hari rakyat di atas tanah-tanah rakyat. Mereka merayakan ritual-ritualnya di atas tanah, yang juga merayakan hak-hak rakyat atas tanah.
Tapi di akhir abad tersebut, ratusan orang dan festivalnya mulai melenyap akibat aksi perampokan yang dilakukan oleh rezim Puritan atas tanah-tanah dari para pengelolanya, dari situs-situs mereka, dari festival mereka. Dengan menghilangnya hak-hak atas tanah tempat mereka menghadirkan festival, tradisi tersebut juga turut lenyap. May Day secara virtual juga mulai dilarang. Tahun 1644, rezim Puritan Inggris mendeklarasikan bahwa tradisi May Day sesuatu yang ilegal. Tahun 1644 tersebut adalah tahun terburuk bagi keriangan May Day. Semua tokoh-tokoh yang dirayakan dalam May Day—Robin Hood, Ratu Mei, Raja Pembangkangan—ditransformasikan sebagai tokoh-tokoh kriminal.
Di abad-abad berikutnya, May Day dan semangat karnavalnya semakin direpresi oleh dua hal yang paling dibenci rakyat jelata kala tersebut: Revolusi Industri dan rezim moral Victorian. Semakin banyaknya kelas menengah di Inggris era Victorian memunguti apa yang ditinggalkan oleh rezim Puritan: penolakan atas keriangan yang tanpa izin, pesta-pesta yang tak berlisensi. Tak ada lagi pesta-pesta vulgar, tak ada lagi hari-hari raya rakyat. Semua diatur dengan aturan moral baru, moral yang bukan milik rakyat jelata, moral yang hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang untuk mendapatkan ijin, kaku, penuh basa-basi dan tekanan kepatuhan.
Revolusi Industri adalah sebuah revolusi yang mematikan keriangan. Di abad ke-12, rakyat jelata dalam satu tahun memiliki 8 minggu festival dan “hari-hari suci” (holy days yang kemudian dikenal menjadi holidays atau hari libur). Tapi bagi pabrik-pabrik yang dilahirkan oleh Revolusi Industri, ‘hari libur’ adalah bencana, dan karenanya hari-hari libur dan karnaval semakin dikikis dengan masif serta di sisi lain jam kerja semakin ditingkatkan—tak jarang pada masa tersebut yang berlaku adalah 18 jam kerja per hari atau bahkan seringkali lebih. (Hal ini juga dilegitimasi oleh kebohongan Benjamin Franklin yang menelurkan istilah terkenal “Waktu adalah Uang”, yang sampai saat ini mengesampingkan fakta yang mempertanyakan “Uang untuk siapa dan dari hasil kerja siapa?”).
Dalam abad ke-19 May Day menjadi sebuah fokus kampanye untuk mengurangi jumlah jam kerja. Sebuah pemogokan besar-besaran digelar di Amerika Serikat dan Kanada selama May Day tahun 1886. Setelah demonstrasi tanggal 4 Mei, 8 orang anarkis ditangkap dan 3 dari mereka dihukum gantung atas kampanye mereka yang menyerukan perubahan jam kerja menjadi 8 jam per hari—mereka yang kemudian dikenal sebagai “Martir-Martir Chicago”. Tahun 1889 May Day dideklarasikan sebagai Hari Pekerja Internasional untuk mengenang kematian para martir tersebut. Dan hasil perjuangan mereka adalah disetujuinya secara legal jumlah 8 jam kerja per hari yang kita rasakan sekarang ini. Fenomena May Day sebagai Hari Pekerja dibentuk juga oleh para pekerja yang menolak untuk bekerja pada tanggal 1 Mei, untuk membuktikan bahwa tanpa para pekerja, maka boss, pemerintah atau siapapun juga adalah bukan siapa-siapa.
Pertumbuhan industri berarti juga pengurangan waktu luang. Seorang filsuf, Aristoteles, menulis, “Alam memberikan pada kita bukan hanya kemampuan untuk bekerja, tetapi juga kemampuan untuk bersantai.” Bertrand Russel, dalam karyanya In Praise of Idleness (1935) berpendapat bahwa seseorang seharusnya bekerja tidak lebih dari 4 jam sehari agar hidup seseorang lebih sehat. Ia berkata, “Ada terlalu banyak kerja yang dilakukan di dunia ini dan berbagai kerusakan ditimbulkan akibat keyakinan bahwa kerja adalah sesuatu yang baik.” Waktu luang, sebagai kontrasnya, “adalah sesuatu yang esensial bagi peradaban.” Seperti seorang anak kecil yang bebas, etika bermain jauh lebih bermanfaat daripada etika kerja.
May Day di era modern kadang dipresentasikan sebagai sesuatu yang terpisah jauh dari tradisi awalnya, dan hanya mengutip sebagian saja dari tradisi bersejarahnya. Tradisi penuh bunga, yang masih digunakan oleh para sosialis yang berdemonstrasi di jalanan abad ke-19 lalu, kini justru melenyap di era modern ini. Tapi hal penting lain yang turut melenyap adalah semangat festival dan karnaval, semangat keceriaan. Karena May Day adalah tegangan antara perayaan dan kontrol, antara hasrat popular dan politik terorganisir, antara kenangan atas kematian tragis para martir sekaligus harapan akan masa depan yang timbul atas tragedi tersebut. May Day adalah tegangan antara kematian dan kehidupan, masa lalu dan masa depan, kepedihan dan harapan.
Tetapi bagaimanapun juga, May Day, tetaplah menjadi sebuah hari yang menandai universalitas; dari rakyat biasa yang merayakan hari-hari biasanya di tanah-tanah rakyat hingga internasionalisme May Day dalam terminologi pekerja. Dewasa ini, May Day seharusnya kembali pada tradisinya dengan lengkap, dengan alasan bahwa di mana-mana tanah-tanah harus dipertahankan dari kerakusan industri—industri yang sama yang memaksa para pekerjanya untuk hidup dan mati di dalamnya, industri yang memaksa ratusan hektar tanah, air, udara hancur berantakan serta menghasilkan bencana. Bulan Mei (May) dinamakan dari dewi Maia, akar terminologi yang menjelaskan hasrat tentang “pertumbuhan” dan “kesuburan”—sesuatu yang juga harus dimaknai sebagai sebuah hasrat untuk menyuburkan benih-benih masa depan harga diri manusia yang lebih bebas, lebih adil, dan berkembang bersama alam.
Apabila Robin Hood hidup hari ini, mungkin ia akan mengkampanyekan kebangkitan melawan kehancuran global. Moto yang dikumandangkannya, “merampok para penghisap untuk didistribusikan di antara kaum miskin dan sesama” akan menjadi moto yang melawan moto hidup modern yaitu “merampok para kaum miskin untuk memenuhi dompet para korporat”. Apabila semangat Robin Hood, yang melawan ketidakadilan dan penuh keceriaan, masih hidup, maka demikian juga semangat bulan Mei; penuh benih kehidupan, selalu subur, tak pernah tua, tak pernah mati dan selalu penuh dengan keceriaan. Semoga, semangat May Day tak akan pernah lagi dapat direpresi dan akan selalu hadir bagai kilatan terang bintang jatuh di tengah langit malam yang tergelap.
Download PDF verse klik di sini
26.4.07
6.4.07
Rabu lalu seorang teman yang sedang bekerja di Jakarta mengirimi saya SMS, ''Bosen banget. Gak mood....'' Dia bilang dia ingin terbang. Dua hari lalu seorang teman yang bekerja di Bandung meminjam uang kepada saya untuk ibunya berobat, ''Gaji belum dibayar empat bulan.'' Kemarin malam seorang teman yang bekerja di Tangerang juga mengirimi saya SMS, ''Ini malam terakhir gue bekerja. Kontrak gue habis!'' Dan beberapa jam tadi, seorang teman yang mengambil cuti dari tempatnya bekerja, sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta, datang ke tempat saya. Disaksikan gelas-gelas kopi dia bercerita soal konflik-konflik batin yang dirasakannya dan kepusingannya melihat iklim kantor yang penuh intrik.
Barangkali, bukan cuma kolom agama yang harus dihilangkan dari KTP, tapi juga kolom pekerjaan. Apakah mungkin kita mengisinya dengan, "Kami Menolak Bekerja Lagi!"
26.3.07
Jadi seperti itu juga akhirnya, satu persatu kawan-kawanku berubah. Ada yang kasat mata, ada yang nyaris tak terasa. Tapi, mengapa terkadang ongkos-ongkos perubahan itu bisa pula sampai harus ditanggung oleh hal-hal yang tak ada sangkut-pautnya dengan perubahan itu sendiri?
Kalau memang berita dari Y itu benar, semakin tak mengertilah aku bagaimana caranya roda hidup berputar. Berkelok ke sana ke mari, tak jelas dan tak tercerna. Dan bodohnya aku tak pernah merasa bahwa keadaannya memang sudah begitu sejak lama.
Sulit rasanya untuk tidak mempercayai isi berita itu. Dari yang mampu kurasa-rasai, memang tampaknya dia sudah berubah. Berubah. Tapi, lagi-lagi, sedrastis itukah?
Ah, dunia, semakin rumit saja kau buat orang-orang menyeret-nyeret langkah.
24.3.07
Berlarut-larut membaca semalam, selesai sudah nyaris subuh. Aku pikir ada benarnya kata-kata Takashi Shiraisi:
''Surat-surat kabar, rapat-rapat umum, dan pemogokan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang betul-betul baru. Partai-partai dilihat sudah begitu adanya sejak mulanya. Tokoh pergerakan dilihat sebagai tokoh partai dan beberapa dari mereka selanjutnya menjadi pahlawan nasional Indonesia. Boedi Oetomo, perkumpulan priyayi jawa, menjadi nasionalis, dan hari berdirinya ditetapkan sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia. SI menjadi perkumpulan Islam, sebagai nenek moyang PSI bukancikal bakal PKI maupun SR. Tirtoadhisoerjo dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama musuhnya, Dr. Radjiman, R.M.A. Woerjaningrat, dan Pangeran Hadiwidjojo. Tjokroaminoto dan Soerjopranoto, para theosofis, menjadi Islam, seislam K.H. Ahmad Dahlan, H. Fachrodin, dan H. Agoes Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yang ''menyusup'' ke dalam SI. Dan meskipun menjadi anggota PKI hanya 3 tahun pada akhir karirnya sebagai pemimpin pergerakan, Marco menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.''
''Tetapi,'' tambah Takashi, ''Ini semua pikiran yang keliru.''
Sejarah begitu abu-abu. Sekehendak hati penguasa. Butre minggu lalu memberi pengantar analisa yang menarik tentang rivalitas Minang-Jawa yang sempat mesra lewat dwitinggal Soekarno-Hatta. Hal-hal semacam ini tampaknya memang ditutup-tutupi. Jika mau jujur, tampak benar Jawa menghegemoni di alam pikir banyak manusia Indonesia. Baiklah Jawa lebih maju. Tapi itu pasti ada sebab-musababnya. Apakah sebab yang baik atau sebab yang buruk haruslah dikaji dengan cermat. Bagaimana mungkin hari kelahiran Boedi Oetomo, yang berisi pangeran-pangeran Jawa, priyayi-priyayi Jawa, dan hanya berpikir dan bertindak atas kepentingan Jawa dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasional Indonesia? Bagaimana mungkin seorang Kartini, yang anak bupati dan selalu saja hanya bisa mengeluh tentang dirinya yang mengalami pingitan, menjadi pahlawan emansipasi wanita, sementara ada banyak perempuan lain yang nyata-nyata turun ke medan juang, di lapangan perang, di tengah-tengah masyarakat?
Matahari masih akan beredar bagi yang hendak belajar.
tulisanku tentang supersemar: rumahkiri.net
Tak kusangka begini senang aku jadinya pagi buta begini. Selepas makan malam, aku singgah di warnet. Si penjaga warnet menyilakanku untuk memakai bilik nomor enam. Tapi kemudian aku komplain karena komputer nomor enam ternyata tak menyediakanYahoo Messengger. Ia lalu menyilakanku untuk pindah ke bilik nomor sembilan. Ada Yahoo Messengger di situ. Aku nyalakan. Dan... bertemu dia.
Ah, dia. Serupa apa dia? Mengaku selalu senang jika berbicara denganku berpanjang-lebar. “Barang langka,” katanya. Dan aku pun senang pula menghabiskan waktu berbicara dengannya. Bercerita soal buku-buku yang sedang dibaca, bercerita soal perkembangan dunia yang digeluti sehari-hari. Dia berkisah soal pekerjaannya dalam tiga hari ini dan aku bercerita soal kesulitan di kampus. “Enak kerja?” Tanyaku. Dia jawab, “Enaakkkkk....” Dia menyuruh aku segera ke Jakarta dan bekerja. Ya, barangkali memang enak. Aku sendiri beberapa kali agak jatuh iri jika melihat di film-film atau televisi ada adegan seseorang yang sedang bersibuk dengan pekerjaannya. “Aku rindu rutinitas,” terangku.
Beberapa tulisannya yang terakhir sempat terbaca olehku. Semakin membuatku ingin pergi meninggalkan Jatinangor untuk sekadar mengganti drama hidup sehari-hari. Aku berpikiran pantai. Barang beberapa hari lalu aku ada mengirimkan pesan singkat ke beberapa orang kawan untuk mengajak mereka ke pantai. Duduk-duduk sampai malam jatuh di pantai rasanya melegakan. Membuat lupa perkara hidup sehari-hari. Hanya bicara hal-hal yang menyenangkan dan tertawa-tawa. Tapi, tampaknya kawan-kawanku memang selalu sibuk. Hanya aku yang sedikit bebas. Tak ada reaksi yang memuaskan dari kawan-kawanku itu.
Ada juga dia cerita di akhir pembicaraan kalau dia sudah berlatih capoeira. Sungguh menyenangkan. Aku sendiri sudah lama tak berolahraga. Yakinlah aku bahwa tubuh ini memang sarang penyakit. Jarang digerakkan dan tak banyak makanan bergizi masuk ke lambungnya. Perokok dan tukang tidur malam pula. Jika memang harus berkelahi, sudah pasti aku akan rubuh dengan lekas.
Kupikir berlatih capoeira adalah hal yang menyenangkan. Seni Brasil itu pun cukup indah jika ditonton. Bela diri namun tak ada body contact. Diiringi musik pula. Melihat pemain capoeira seperti melihat orang dengan tubuh seringan bulu ayam, bebas berloncat-loncatan seperti hendak terbang. Teringat pada budak-budak di Brasil, mereka yang pertama kali menemukan kesenian bela diri ini. Mereka memadukan bela diri dengan tarian agar para baron, tuan-tuan mereka, tak pernah menyangka mereka sedang berlatih bela diri. Upaya perlawanan terhadap kekuasaan lalim.
Pembicaraan dengan dia memang menyenangkan. Bukan sekali dua. Beberapa kali sudah ini terjadi. Membuatku berpikir: apa guna merasa hidup susah? Semua bisa susah jika memang dibikin-bikin susah. Semua bisa gampang dan lapang jika memang mau berpikir demikian.
Hidup tak hanya melulu menunda kekalahan.
Bangun tidur sudah agak siang. Matahari sudah hampir tepat di atas kepala. Mengalun dari kejauhan suara rekaman orang mengaji. Hari jumat, persiapan sholat jumat. Tapi aku tak sholat jumat. Entah untuk yang keberapa kali (ada kudengar jika seorang muslim tak melaksanakan sholat jumat tiga kali berturut-turut maka ia termasuk golongan kafir). Aku sendiri begitu bangun memilih melanjutkan membaca Pram, Jejak Langkah. Agri tengah asyik bermain game. Rupa-rupanya ia kurang pandai menjadi panglima perang China, ia terus-menerus menelan kekalahan sejak beberapa hari lalu dalam permainannya.
Maka seperti itulah siang hari aku lewatkan. Sebotol minuman dingin, tiga batang rokok, dan Jejak Langkah.
Jam dua siang Agri mengajak keluar makan siang. Lagi-lagi, berhutang! Tentu saja berhutang. Minuman dingin dan rokok sebelumnya pun aku dapatkan dengan berhutang. Sudah beberapa hari diri tak memegang uang.
Kemiskinan memang sedang mendera-dera kami: Aku, Agri dan Opik. Berhari-hari kami harus pandai bersiasat untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jangan berpikir untuk berbelanja, untuk berpergi-pergian pun tak ada ongkosnya. Yang paling mungkin ya membaca buku, ngobrol panjang lebar, tertawa-tawa, atau iseng di depan komputer. Tapi rasa-rasanya perlu pula membesarkan hati, mengusir rasa kecil hati: orang sukses biasanya memang kerap menderita di mulanya.
Suatu pengharapan? Barangkali.
Aku sendiri tak membayangkan diriku akan menjadi apa kelak. Yang aku bayangkan diriku mampu memenuhi kebutuhan hidup ini sendiri, tak merepotkan orang, tak bergantung dan menyusahkan sekitar, dan bisa berbuat apa saja yang menyenang-nyenangkan diri dan perasaan.
Tapi, ah, jika melihat hari ini, mungkinkah aku akan menggapai itu semua?
22.3.07
Sebelum tertidur tadi malam ada pula sempat kulanjutkan pekerjaanku membaca Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer). Kurasa aku agak-agak terlarut dengan tetralogi Pram. Tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap satu-satu tetralogi Pulau Buru. Pertama Bumi Manusia. Untuk Bumi Manusia memang agak sedikit lama, maklum harus terpotong bencana banjir di Bekasi. Anak Semua Bangsa kuselesaikan cepat. Terhitung cepat untuk buku setebal 400 halaman lebih. Terbawa-bawa au oleh suasana kolonial yang digambarkan Pram. Sederhana namun memikat. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Pram barangkali akan sulit kulupakan: Minke, Nyai Ontosoroh, Annelies. Aku bahkan belakangan seringkali memfantasikan Annelies, Si Bunga Akhir Abad. Kiranya dia mampu kulihat zaman ini, secantik apakah dia?
Jam setengah empat pagi aku benar-benar tertidur. Kali ini tidur di kamar Agri. Di kamar atas tertidur Opik dan Butre.
28.2.07
23.2.07
20.1.07
Seorang teman akhirnya pergi setelah berjam-jam mendengarkan celotehan saya dua malam lalu. Ini agak aneh. Biasanya dia yang datang dan kemudian berceloteh tentang hasrat-hasratnya yang terhitung ganjil. Ya, tentu saja ganjil menurut parameter ''keumuman''. Tapi dua malam lalu, dia hanya menjadi pembuka bagi celotehan-celotehan celaka dari mulut saya. Tak sampai lima belas menit dia bercerita soal hasrat-hasratnya. Selebihnya, sampai kemudian dia menyuruh saya tidur dan pergi, saya yang berceloteh.
Barangkali dia benar, sudah saatnya saya tidur. Saya sendiri agak gemetar mendengar kalimat-kalimat saya sendiri. Kenyataannya saya tak tidur sampai matahari benar-benar datang menjemput. Saya katakan pada dia, ''Seharusnya saya sudah memperhitungkan ini sejak semula....''
Kemudian saya membaca Pramoedya. Menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Sampai di sore harinya seorang kawan lama mengirim sms, mengajak bertemu di rumah seorang kawan. Baiklah, saya pergi.
Saya mandi dan berpakaian agak rapi. Jaket jeans saya kenakan. Agak dingin lantaran mungkin mau hujan. Mendung tebal menutup senja yang beberapa hari sebelumnya selalu tampak bagus. Saya mampir ke tempat penjualan pulsa sebelum akhirnya memberhentikan angkot.
Dan, demi langit senja, saya tersadar kalau ini adalah perjalanan pertama yang saya lakukan setelah tiga minggu saya hanya berdiam diri di kamar. Dan betapa malam tadi begitu berbeda.
Saya melihat lampu-lampu dari kios-kios, pusat perbelanjaan baru, pasangan muda-mudi bergandengan tangan, anak-anak nongkrong. Tak ada bintang di langit, tapi banyak kerlap-kerlip di bawah sini.
Rute angkot pertama selesai ditempuh. Seharusnya naik angkot lagi. Tapi jalanan ternyata macet, membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri trotoar. Di samping kiri, toko elektronik begitu benderang. Di samping kanan, bus besar dengan kondektur yang letih mengantri macet. Ini tak biasa. Seharusnya jalan ini tak pernah macet sepanjang ini.
Saya berjalan dan terus berjalan. Orang-orang begitu sibuk seperti hendak mengejar-ngejar sesuatu di depan sana. Seorang ibu menggandeng anaknya yang, entah mengapa, terus saja menangis. Tukang ojeg berkerumun di depan televisi menunggu penumpang.
Saya berjalan. Jaket jeans saya terasa lusuh dengan bau minyak kayu putih. Saya menyalakan rokok dan teringat kalimat milik joshua: ''kalau punya pistol... gaya jalan gue juga beda!''
12.12.06
Diambil dari FreeAcheh!
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30 4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
Preparatory Committee of The Free Acheh Democratic
E-mail: committee@freeacheh .info
www.freeacheh. info
AMANAT MILAD ACHEH MERDEKA YANG KE-30
4 DESEMBER 1976 - 4 DESEMBER 2006
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hari ini, tanggal 4 Desember 2006, merupakan hari yang paling bersejarah dalam hidup dan kehidupan bangsa Acheh, dimana pada hari yang mulia ini kita bangsa Acheh yang sudah sadar akan sejarah perjuangan para endatu kita dahulu, memperingati Milad Kemerdekaan Acheh yang ke-30, yang diproklamirkan kembali kepada dunia oleh DR. Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Perayaan kemerdekaan ini merupakan simbol daripada tali penyambung masa lalu kita yang merdeka dan berdaulat dengan masa sekarang dan masa depan kita, yang juga ingin hidup bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajajahan bangsa luar.
Sempena menyambut Milad Acheh Merdeka yang ke-30 ini, kami dari Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik ingin menyampaikan salam sejahtera dan penghormatan kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh bangsa Acheh yang telah memberikan pengorbanan yang tidak ternilai untuk perjuangan suci ini, dan juga telah membuktikan kepada dunia bahwa bangsa Acheh masih tetap istiqamah dengan keputusannya untuk merdeka walau dalam keadaan bagaimanpun jua. Kami juga ingin menyampaikan rasa simpati kami yang tak terhingga kepada seluruh ahli waris dan handai taulan daripada korban-korban kedhaliman dan kekejaman serdadu Indonesia terhadap bangsa kita yang tidak bersalah.
Bangsa Acheh yang dicintai!
Selama 30 tahun ini, tidak terhitung darah segar bangsa kita yang sudah mengalir di seantero penjuru bumi Acheh; ribuan mayat pejuang dan syuhada yang tak berpusara; puluhan ribu anak yang kehilangan ibu-ayah yang terbengkalai; dan berbagai pengorbanan lainnya yang tak ternilai, yang telah kita hibahkan demi untuk mendapatkan kembali hak-hak kemerdekaan kita dan mengembalikan kedaulatan Negara Acheh dari tangan musuh kita - Indonesia.
Harga merdeka yang telah kita bayar dengan darah kita sendiri dan pengorbanan yang telah kita berikan dengan ikhlas, dengan memilih sendiri atas kesadaran politik ingin hidup bebas dan merdeka, kesemua ini hendaknya kita jadikan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan suci yang belum selesai ini.
Perlu kita akui, bahwa dalam proses menuju kemerdekaan, masih banyak kesulitan yang menggunung di hadapan kita yang sedang kita hadapi. Selama 30 tahun kita berjuang, kita telah berulang kali mengalami pasang-surut, timbul-tenggelam, maju-mundur. Akan tetapi Komite percaya bangsa kita akan sanggup menyingkirkan setiap aral melintang. Sebab para endatu kita dahulu, para pejuang kita belum lama ini dan generasi kita sekarang telah membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang tahan uji, bangsa yang besar kemampuan, tahu harga diri dan memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang luar biasa.
Bangsa Acheh yang dimuliakan!
Kita sekarang sedang menghadapi saat-saat yang paling menentukan dalam sejarah untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa luar. Inilah saat-saat yang paling menentukan dalam hidup kita, apakah kita ingin hidup sebagai satu bangsa yang merdeka dan mulia atau terus hidup dijajah dan dihina.
Untuk bisa mengambil keputusan penting ini, kita perlu mengkaji dengan teliti kehadiran MoU Helsinki yang di tandantangi tanggal 15 Agustus 2005, oleh segelintir orang Acheh yang mengklaim atasnama seluruh bangsa kita. Sebab, polemik MoU ini akan terus menurus digunakan oleh RI dan kolaborator- nya di Acheh untuk melumpuhkan perjuangan suci bangsa Acheh tentang penentuan nasib dirinya sendiri yang bebas dan berdaulat.
Sekarang kita sudah bisa melihat dengan jelas bahwa perjanjian Helsinki itu hanya tipu muslihat politik penjajah, dan para pihak yang terlibat di dalamnya hanya bekerja untuk kepentingan pribadi dan kerabatnya untuk mendapat keuntungan pribadi dari pangkat dan kekuasaan yang akan diperoleh nanti. Sedangkan masalah keadilan yang di dalamnya juga tertuang perkara-perkara pelanggaran HAM oleh para pihak yang bertikai, terlebih yang dilakukan serdadu penjajah, tidak mendapat perhatian sama sekali. Dengan demikian, perjanjian Helsinki tersebut secara jelas telah mengkhianati puluhan ribu korban konflik Acheh selama 30 tahun ini.
Di samping itu, perjanjian Helsinki juga dengan terang telah mengkhianati sumpah Acheh Merdeka dan melanggar Proklamasi Acheh Merdeka 1976 sebagai fondasi tempat didirikan perjuangan kemerdekaan kita dan sebagai referensi tempat rujukan kita. Oleh sebab itu, Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik, sebagai wadah pemersatu kembali bangsa Acheh untuk merealisasi tujuan dan cita-citanya untuk bebas dan merdeka, berharap kepada seluruh bangsa kami supaya berhati-hati dari penipuan pernjanjian MoU tersebut.
Penipuan ini semakin jelas terlihat di mana Perundangan tentang Pemerintah Otonomi Acheh yang baru disahkan sebagai UUPA tersebut, adalah tidak memenuhi standar yang tercantum dalam MoU Helsinki. Perihal ini adalah salah satu contoh betapa kolonialis Indonesia dengan segala cara mencoba mengkhianati perjanjian yang dibuatnya sendiri, dan oleh karena itu mereka tidak dapat dipercaya sampai kapan pun.
Akan tetapi, dengan UUPA tersebut, para pemimpin dan pengikut GAM oligarkhi di bawah kepemimpinan Malik Mahmud, yang telah menjual kedaulatan kita kepada penjajah, sekarang tengah berusaha memenuhi ambisi pribadi dan golongan untuk menjadi kakitangan kolonial Indonesia dengan maju sebagai kandidat kepala pemerintahan provinsi dan kabupaten di Acheh. Meskipun mereka beralasan bahwa langkah tersebut adalah masih dalam usaha memperjuangankan kemerdekaan, argumen ini wajib kita tolak secara bersama, karena tidak sesuai dengan asas perjuangan dan konstitusi Acheh Merdeka serta tidak berdasarkan logika self-determination dan kaedah revolusi. Bangsa Acheh perlu memahami sepenuhnya bahwa siapapun yang akan terpilih dalam PILKADA mendatang adalah tidak memberi keuntungan kepada perjuang bangsa kita dalam meraih kemerdekaan, sebaliknya adalah halangan untuk mencapai tujuan dimaksud.
Oleh sebab itu, untuk menolak setiap usaha kolonial Indonesia, kakitangan dan koloborator- nya dalam melegitimasi pendudukan Indonesia di Acheh, maka adalah tanggung jawab seluruh Bangsa Acheh yang cinta kemerdekaan untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa kita sebagai Bangsa yang sedang menuntut kemerdekaan adalah tidak dapat menerima keberadaan segala bentuk pemerintahan kolonial yang berstatus illegal di bumi Acheh, dan kita tidak tertarik untuk memilih para kandidat atau calon kepala pemerintah kolonial Indonesia di Acheh baik itu dari calon independen atau dari partai kolonial. Usaha ini dapat saudara lakukan dengan memilih lebih dari sepasang calon atau kandidat gubernur maupun bupati/walikota agar surat suara tersebut tidak dapat digunakan untuk kepentingan penjajah dalam mengekalkan pendudukannya di Acheh.
Bangsa Acheh sekalian, teruskan perjuangan kita dan manfaatkan PILKADA untuk membuktikan kepada dunia bahwa kemauan dan hati nurani bangsa kita yang sebenarnya adalah untuk MERDEKA, yaitu dengan cara men-delegitamasi surat suara. Insya Allah, kita akan terbebas. MERDEKA!
Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh.
New York, 4 Disember 2006
Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik
8.12.06
5.12.06
''The most serious parody I have ever heard was this: In the beginning was nonsense, and the nonsense was with God, and the nonsense was God''
-Friedrich Nietzsche
Saya menemukan email ini di sebuah milis:
Mohon dicamkan baik-baik: Para pembakar bendera PKS akan masuk neraka jahanam! Ya, pasalnya mereka telah membakar salah satu simbol Islam yang maha agung. Hanya dari berkat rahmat Allah SWT, PKS dapat berdiri di negeri ini dengan misi suci untuk membersihkan negeri ini dari segala kemunkaran dan kekufuran. Siapa sahaja yang menentang PKS dan partai-partai bernuansa Islam lainnya pastilah mereka antek-antek kaum kafirun dan agen-agen zionis.
Ana tidak ingin kasus pembakaran bendera PKS di kampus UI Depok akan merembet ke kampus-kampus lain di seluruh Indonesia dimana para akhwan ikhwan getol berjuang disana.
Berikut penjelasan ketua DPD PKS Depok tentang kasus tersebut (kiriman dari sohib NC):
[PKS] Pembakaran Bendera PKS
Berikut saya kirimkan penjelasan dari ketua DPD PKS Depok mengenai dibakarnya bendera PKS oleh sekeompok mahasiswa di kampus UI.
nc.
************ ********* ********* *******
Assalamu'alaikum wr wb.
Hari sabtu 2 des 2006 bidang kewanitaan DPD menyelenggarakan acara
lokakarya kewanitaan. Ini kegiatan internal DPD PKS untuk
mengevaluasi dan menyusun program kerja 2007. Kegiatan ini hanya
dihadiri oleh fungsionaris PKS. Karena ia merupakan kegiatan
internal, tidak ada upaya utk mempengaruhi mhs atau mengintervensi
kampus. Juga tidak ada usaha utk penggalangan massa mhs atau
semacamnya.
Kebetulan utk kegiatan kali ini kami menggunakan tempat di PSJ yg
disewakan utk umum. PSJ hanyalah salah satu alternatif tempat yang
biasa kami gunakan utk rapat-rapat internal. Kami beberapa kali sdh
menggunakan tempat tsb selain di tempat lain spt Graha Insan Cita.
Ini professional matter, ada kuitansi penyewaan resmi menggunakan
nama DPD PKS.
Yg melakukan demo senin lalu sekitar 10-an org mengatasnamakan
Komite Mhs UI, lembaga yg ternyata tidak tercatat sbg lembaga formal
mhs di UI.
Kami sangat menyesali respon yg diambil oleh rekan2 mhs UI tsb,
dengan cara membakar bendera PKS. Respon ini terlalu berlebihan dan
over reactive. Jika memang ada hal yg ingin disampaikan, kami siap
utk memberi penjelasan mengenai agenda acara dimaksud. Sbg kaum
intelek dan berpendidikan, kami mengharapkan rekan2 mhs dpt
mengedepankan sikap2 elegan dan bermartabat dlm menyampaikan
aspirasi dan pendapatnya.
Allahu a'lam,
Wassalamu'alaikum wr wb.
Prihandoko
============ ========= ========= ========= ========= ======
From: ''Deddy Ardianto''
Date: Tue, 5 Dec 2006 12:59:17 +0700
Subject: Re: [PKS] Pembakaran Bendera PKS
tadi pagi saya posting beritanya dari koran tapi nggak lolos sensor
oleh yg empunya milis ini....he... .he...
''Gara-gara PKS memasang atribut partainya di sekitar Pusat Studi Jepang
(PSJ) Universitas Indonesia, Mpuluhan mahasiswa yang berasal dari
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Front Aksi Mahasiswa UI (FAM-UI), HMI Komisariat Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UI dan LMND membakar bendera PKS, Sabtu (2/12).
Dalam aksinya, mahasiswa yang mengenakan almamater kuning itu menggelar
spanduk bertuliskan ''Stop! Partai Masuk Kampus'' dan ''Sterilisasi
Kampus Dari Partai Manapun''. *JPNN*
berita lengkap www.rakyatmerdeka. co.id
28.11.06
21.11.06
7.11.06
...Kita pernah bernazar untuk menantang awan.
Kita berangkat dengan rima kopi secawan
berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
di mana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
mengkafani kawanan srupa lalat dari pusat pembuangan sampah
menyisakan potongan kalimat profan berceceran
bernazar membuat tiran berjatuhan
dengan luka sayat dari medan perang puputan
kita tantang kutukan
kita kutuk pantangan
sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
serupa komando yang meluncur dari Mabes hingga Koramil
serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
pada pantai, pada bumi yang dipenuhi oleh barcode dan kasir
yang menghibahkan filsafat pada para vampir
pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
pada mereka yang datang pada malam terkelam
saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
pikulan beban serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
kau dan aku tahu pahlawan tak lagi datang dari kurusetra
namun dalam bentuk donasi mie instan di tengah bencana
sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
semua muslihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
kita belajar membaca gejala dari jelaga
pada malam-malam terhunus dan waras kita terjaga
memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
menahan pitam tanpa riak serupa telaga
serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
pada setengah hidup kita yang mengalir mencari muara
serupa udara membutuhkan amis darah
agar sirine tetap mengalun
agar waras diingatkan tentang wabah akut yang menahun
tentang pagut yang santun
yang memusuhi pantun
yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
mungkin kau ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
waktu singkat berubah menjadi rahmat
merubah alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
sekarang merubahmu kasat
di depan deretan kalimat
bergabung dengan para mata yang terbiasa terang bersama pekat
serupa kepastian, serupa asuransi, serupa janji yang memprediksi di mana kau suatu hari nanti dengan pasti, sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati, sehingga rimaku dan terompet israfil dapat bertukar posisi
dan menantang mentari....
-homicide
6.11.06
''Aku mendapatkan inspirasi pagi ini; segalanya adalah salahku. Kesalahanku yang terburuk adalah kegagalanku untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan. Waktu terus berjalan dan aku tetap berada di sana....''
-Simone de Beauvoir
Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi. Setelah semuanya: rangkaian netralisasi segenap amarah, sekian mutilasi afeksi satu sisi, gugus pembungkaman ketidaknyamanan, tangan terbuka untuk sejuta umpatan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tolong catat ini sebagai ketololanku yang lain lagi.
Prophetic syndrome. Kuasa Tuhan. Omong kosong paling besar dari peradaban kreasi si waktu luang.
Catat ini sebagai ketololanku. Dan izinkan aku menundukkan kepala di depan teman-temanku yang menukar religiusitas dengan nasi setanak dan susu sebotol. Izinkan aku merendahkan diri di kaki mereka yang membuat api penerang jalan dengan membakar kitab-kitab petunjuk jalan menuju surga.
Jangan hibur aku dan katakan saja ini ketololanku. Tak ada artinya rumah-Mu di bumi tanpa tanah.
1.11.06
10.10.06
Tadi pagi saya menulis surat ke BMG, bertanya soal kapan hujan turun di Bandung dan sekitarnya.
bapak-bapak yang baik,
saya mau tanya, kapan ya pak kira-kira akan turun
hujan lagi di bandung dan sekitarnya. ya, ampun...
pak. saya kangen hujan!
bisa beri penjelasan tentang kapan akan turun hujan,
pak? dan mengapa sih cuaca bisa tidak terlalu teratur?
terima kasih banyak sebelumnya, pak. semoga surat ini
tak mengganggu bapak-bapak.
salam,
imam h usman
dan malam ini saya mendapat jawaban menyenangkan:
sabar ya bapak, hujan akan turun kok. untuk daerah bandung akan ada hujan sekitar bulan nopember tapi untuk bandung bagian selatan dan utara akan turun hujan sekitar akhir bulan oktober 2006.
bmg
sang ali
(terima kasih, pak)
9.10.06
22.9.06
kami menginginkan ''kesempatan hidup yang sepenuhnya''
http://www.bopsecrets.org/indonesian/jobless.htm
4.9.06
Sialnya, rangkaian diskusi dua malam bersama beberapa kawan dan begelas-gelas cappucino dingin beberapa malam lalu, membuat saya kembali keras kepala. Tulisan ini saya baca kembali sendirian di malam buta selepas diskusi. Tentu saja pengalaman membaca yang saya dapatkan berbeda dengan pengalaman ketika menuliskan tulisan ini empat tahun lalu: jika empat tahun lalu saya merasa telah membuat manifesto kebertuhanan saya, malam kemarin ketika saya membacanya, tulisan ini hanya cukup untuk membuat saya berkomentar singkat seraya senyum-senyum gak jelas: ''Dewh, gaya pissannnn urang teh....'' ;p)
Tulisan ini pernah dimuat di ON/OFF (#08/2002), media orang biasa yang diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).
ratusan ribu waktu
sepetak ubin, jika kau mau tahu, ternyata tak lebih besar dari porsi hidupku 'tuk melumatimu. tak kusesali, biar saja. dan serupa ladang ilalalng, kau adalah kekeringan yang niscaya kubakar tiap waktu agar tetap kulihat merah tanah: sejatinya, merah tanah jauh lebih kuhargai ketimbang merah hatimu - juga merah mawar di depan rumahku yang selalu kau sirami di tiap senja.
tuhan, maaf kutak ada waktu buatmu....
pernah dulu memang, saat tepat rinduku yang keseratus sembilan puluh satu - rindu ternaif, menurut seorang kawan - kau terlihat seperti sosok paling liar yang siap menyantap habis semua umurku kelak. tapi hidup cuma main-main nyatanya, karena setelah itu, seperti apa dan bagaimana harummu, tuhan, aku lupa. kau segara begitu saja hilang di tiap anak akar otakku.
***
ada satu waktu dulu di mana ruang menjadi tak berpintu-tak berjendela, sedang di dalamnya cuma suara napasku dan suara napasmu beradu. tak ada yang lain, tak ada cahaya, tak ada udara, hanya napasku dan napasmu yang tak pernah berisi udara, melainkan segumpal emosi beku tak cerdas (dan naif). entah apa yang menghubungkan kita waktu itu. sedang rasanya tak pernah kuyakini sebuah kesepakatan pernyataan cinta antara kita.
atau barangkali seperti ini, seperti hijau rumput yang pucuknya selalu menyeretku ke titik awal interaksi kita. perkenalan singkat penuh basa-basi di mana kau begitu banyak bicara dan begitu saja membuatku sedikit terpukau terpesona hingga memaksaku memeras keringat berjerih payah merasionalisasikan tiap detik yang, meski kelak kuhancurkan sendiri, menjadi monumen tersendiri di diriku. kau dulu sanggup memamah lumat segenap diri. tubuh dan jiwa. ruang dan waktu.
ataukah karena matamu yang terasa liar di mataku, menelanjangiku di manapun dan kapanpun. kuakui, dalam beberapa hal kau memang tepat untuk dikatakan nakal, binal, hingga sempat tak ingin kulihat sosok-sosok di luar dirimu. keluarbiasaan pernah menghinggapiku, jeritan-jeritan, sorak-sorak, dengan selingan rintihan-rintihan, menahan silau kilau cahaya matamu.
seribu jenis panji aneka warna pernah menyerangku, masuk menyelinap lewat jendela kamarku, juga celah bocor atap dengan tiga belas titiknya. kesialannya, semua bukan cuma untuk singgah, melainkan melekat menyatu sempurna di pusat pertemuan darah di simpang tulang tubuh. ah, betapa hebatnya cinta. kuingatkan yang terparah, adalah panji kusam yang berhasil masuk melalui kolong pintu coklat tua kamarku. terlihat semakin pudar warnanya mengingat kamarku masih saja berlantai tanah. terbilang parah karena, pernah, semakin dekat kurasa kulitmu di sekitarku, hingga beberapa malam sempat kurasa kita bersentuhan. tapi, ingat juga, kau mesti tahu ini, tak ada kehangatan di situ, barangkali ada sebentar, yang justru terasa dan terngiang hingga kini lebih merupakan kepatuhan tak lazim akibat mantera yang kau alirkan lewat sekian detik persentuhan kulitku dan kulitmu. dan aku tak peduli....
biar saja, seperti kataku.
karena dulu, saat matahari keenam belas muncul di bulan terakhir tahun lalu, aku mampu melewatinya dengan tidur sedikit panjang. tidur yang bukan untuk istirahat, memejamkan mata menahan silau kilau matamu, melainkan tidur sebagai upaya penghindaran diri dari pertemuan-pertemuan kecil dengan makhluk-makhluk ternaif. makhluk-makhluk yang hidup bersamaku dalam hitungan ribuan waktu, yang selalu saja merasa sah berbuat apa kata perutnya ketimbang apa kata jiwanya, makhluk-makhluk gembalamu yang mengaku mendapat kesegaran air yang kausirami di hari itu. beberapa dengan sempurna kuhindari, beberapa tak sempat kujauhi. aku terluka dan memutuskan kembali tidur untuk istirahat, untuk menahan silau kilau matamu.
pernah pula kubuat semacam catatan rapi dengan pita niat kupersembahkan untukmu sebagai sebuah kenangan kalau aku pernah mengenalmu. aku akan pergi jauh, begitu kalimat pertamanya. tapi catatan itu, seperti kau tahu, tak pernah kusampaikan padamu. bukan tak ingin, tapi masih kucari hingga kini paragraf akhirnya. sebuah perjalanan panjang kemudian kurencanakan sebagai upaya penemuan jalinan kata yang niscaya kususun sebagai pelengkap catatanku. perjalanan dengan ratusan ton bahan bakar yang kuambil paksa hingga menyisakan luka-luka tubuh dan luka-luka jiwa. perjalanan dengan peta-peta buram.
lalu di tepat waktu keseribu. saat bumi kurasakan di momentum terpanasnya. panas yang melebihi matahari-matahari yang pernah berlalu di atas tubuhku. rasanya, seperti berkumpul seribu matahari di atas kepalaku yang nyaris membuat isi kepalaku mendidih, menegangkan jalinan urat syaraf yang melingkar berputar di dalamnya. satu yang tersisa: kengerian panjang yang tetap hidup bahkan di saat jam-jam tidurku. mimpi-mimpi buruk, atau serupa mimpi-mimpi buruk, berdatangan dengan rutin. berganti-ganti tema, berganti-ganti kemasan, berganti-ganti latar. yang pertama kali datang adalah cerita berisi pengerdilan makhluk-makhluk dengan harga-harga yang melambung tinggi. kenaikan yang, entah bagaimana, berhubungan dengan mulut-mulut yang mengucap-ucap namamu di jalan-jalan dan di meja-meja biliar. lalu ada cerita dengan pemeran tunggal, seseorang di depanku begitu tekunnya menatah kata-katamu dan nama-namamu di sisi-sisi pedangnya. mulutnya terkunci, kepalanya tertunduk, begitu khusuknya, begitu heningnya. yang ini kucurigai juga masih berhubungan dengan yang pertama.
keduanya menyisakan kegelisahan panjang di pagi hari bagiku. dan ternyata, begitu dekat rupanya engkau dengan kenaikan harga....
luka-luka semakin menganga. semakin melebar tanpa kutahu juga obat macam apakah penawarnya. karena pertemuan-pertemuan denganmu yang begitu terjadwal (karena janji-janji) ternyata tidak begitu membawa suasana lain untukku. kuputuskan untuk membatalkan sepihak janji-janji. mudah-mudahan kau tak kecewa. aku tak kecewa.
serangkaian kenaikan harga membuatku membatalkan bilangan janji-janji, gumpalan-gumpalan merah darah membuatku mencoba menghilangkanmu, tuhanku.
persekutuan bersama ratusan himpunan iblis kemudian kugagas. iblis-iblis timur, iblis-iblis barat, yang setengah iblis dari utara, yang setengah iblis dari selatan. persengkokolan yang bukan cuma sakit hati, tapi juga sakit badan, sakit jiwa. bagi kami kau ternyata tak mengenyangkan, tak menenangkan. karena hampir di segenap hamparan peta, warna-warna menjadi merah semata. merah darah. merah luka. merah senja darah air mata. merah yang mengalir dari pedang-pedang dan tombak-tombak berukiran namamu. dengan huruf-huruf aneh yang hanya dimengerti mereka yang berilmu. (sungguh, betapa tak mengertinya kami). tanah-tanah lapang kami menjadi bukan lagi milik kami. tapi punya mereka yang terus saja memuntahkan cinta-cinta berbentuk menyeramkan untukmu. jalan-jalan kami sesak dengan kepala-kepala musuh mereka, beberapa tak lagi utuh, tak punya mata, tak punya telinga, dan kami lihat mereka mengenakannya sebagai liontin di kalung rantai yang melingkar di dada-dada mereka. kami lihat, kami dengar, kami tahu, itu dipersembahkan untukmu. yang mahabesar, yang mahakasih, yang mahacinta, yang maha....
labirin-labirin gelap memang kemudian cukup memusingkan kami. karena ternyata betapa sedikitnya kami, betapa tidak seberapanya. tapi perlawanan telah rampung kami siapkan. hingga detail-detail tak terduga. kami bahkan telah menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarmu, dengan cara apapun, yang pasti tak terduga oleh para pembawa pedang itu. penyamar-penyamar kami telah terlatih. kami akan mencoba merayumu untuk menggunakan sedikit saja kekuasaanmu yang kami yakini. yang benar-benar kami yakini.
tuhanku, bapakkah kau? ibukah kau? anakkah kau? lelakikah kau? perempuankah kau?
karena sebagian dari kami adalah bapak, sebagian lain adalah ibu. dan dari mereka menjelma kerumunan anak yang menjadi begitu menakutkan dengan perut-perut yang jarang terisi, tapi tak pernah gelap mata buta cita dan memakan jantung kerabatnya. dan apakah ini justru menakutkanmu? kuharap iya. karena ini bagian awal dari rencana panjang kami. mudah-mudahan kau terkecoh....
anak-anak itu, yang aku temui di waktuku yang kesembilan ribu sekian, pernah menyodorkan pertanyaan maharumit untuk kucerna. tak pernah kujawab. tak mampuku. sebuah (hanya sebuah!) pertanyaan yang sejatinya untukmu: mengapa kami harus ada? kemudian ratusan pertanyaan turunan beranak-pinak di benakku. iya, untuk apa? apa yang mau kau dapatkan? sedang waktu-waktu yang kusediakan untuk kita saling bercinta dulu terasa tak begitu berkesan sekarang. rencana macam apa yang kau gelar, kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan? dan, ini yang membuatku semakin terluka, mau apa kau sebenarnya?
sampai kemudian kota-kita di negeri-negeri jauh menjadi ladang api. api nyala yang melalap bukan saja pintu-pintu rumah kerabat, tapi juga tangan-tangan mereka, kaki-kaki mereka, rambut-rambut mereka, hati-hati mereka... dan lalu entah lewat tangan siapa, api itu kemudian sampai pula ke depan pintu rumahku, rumah tetanggaku. membakar semua yang ada, semua yang cinta. sampai sini, kuputuskan, betapa sulitnya kau untuk kupercayai....
tidak. aku takut untuk mempercayaimu kembali. biarlah kau tetap di sana dan tidak di samping kami. rencana kami adalah mundur ke desa-desa. sebuah komuni yang kususun bersama iblis-iblis, setengah iblis-setengah iblis, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak akan kami mulai wujudkan. kami tidak akan menambang suatu dari tanahmu, biar tak kami jumpai sebiji besi pun. kami tak butuh parang. kami tak butuh peluru. karena kami merasa indah berkalung dengan mata liontin daun. daun-daun yang selalu menjadi cermin dan semangat bahwa ternyata hidup berwarna hijau, bukan merah. bukan api.
***
malam lagi sunyi, lagi nyinyir. setelah sebelumnya selalu saja ada suara napasmu dan suara napasku yang beradu. o, betapa kau pencemburu. betapa kau pencemburu....
tapi aku benar-benar tak peduli.
pun ketika sembilan duka turut masuk ke dalam segi empat kamarku. yang mengambil apa-apa yang sebelumnya selalu mengiringi jatuhnya peluh-peluh dari ubun-ubunku. yang pertama adalah kepergian. yang kedua adalah pelarian. yang ketiga adalah kematian. yang keempat adalah keniscayaan. yang kelima adalah kemutlakkan. selanjutnya, sampai yang kesembilan adalah kebencian yang barangkali semacam cinta yang berlebihan. ataukah itu semua bukan duka? melainkan momen-momen yang menuntut perayaan? tak mengerti, dan tak mau mengerti.
labirin, di waktuku kesekian, masih saja menyudutkanku. sementara dalam jiwaku, dalam tubuhku, tak ada peta penunjuk kau ada di sekitarku, kau ada di sel-selku. kau luruh dalam segenap kepergian akibat pelarian-pelarian yang kulakukan. pelarian-pelarian ke desa-desa tanpa api. dan paragraf terakhir dalam sebuah catatan hadiah untukmu yang kususun, belum juga berhasil kutemukan....
ratusan iblis membantu, ratusan kelaparan menemani, ratusan kota api menerangi, sama sekali tidak memberi apa-apa. kecuali pertanyaan anak-anak dari timur yang tak juga bisa terjawab: kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan?
11.8.06
Dia tiba-tiba membuka pintu taman-bunga yang sesungguhnya ditutup. Kepalanya muncul, ''boleh masuk?'' Pembicaraan saya dengan seorang teman berhenti. ''Silakan,'' kata saya. ''Tapi maaf, sedang beres-beres. Jadi agak berantakan.'' ''Tak apa,'' jawab dia, ''cuma mau lihat-lihat buku.''
Dia memainkan jari tangan kirinya di punggung-punggung buku, jari tangan kanannya merapat di bibirnya. ''Buku tentang ilmu komunikasi di mana, mas?'' Saya belum menjawabnya, tapi dia sudah memegang buku karangan Romo Magnis tentang Karl Marx. ''Kamu baru pulang semester pendek, yah?'' tanya saya. ''Ah, nggak kok. Saya mahasiswa baru. Ilmu Komunikasi 2006. Makanya mau cari tahu soal buku-buku ilmu komunikasi.'' ''Kok malah megang buku tentang Marx?'' tanya saya. ''Iya, tentang sistem ekonomi yang utopis yah,'' kata dia seraya tertawa.
Dia terus melihat-lihat buku. ''Nama kamu siapa?'' saya bertanya. ''Kasih,'' kata dia. ''Wah, keren namanya,'' komentar saya. ''Terima kasih,'' dia menanggapi. ''Nama lengkapnya Kasih apa?'' Dia menjawab, ''Kasih Kisah''. ''Bapak kamu sastrawan, yah?'' tanya saya bercanda. ''Bukan, Bapak saya mantan preman.''
Dia tertawa. Saya dan teman saya ikutan tertawa.
Dia mahasiswa baru dan merasa tertipu karena dia pikir Unpad berada di Bandung dengan lingkungan yang nyaman. ''Gak tahunya di Jatinangor dan panas gini. Bikin bibir pecah-pecah.''
Dan dia tiba-tiba bercerita soal RUU APP:
''Waktu SMA di Lampung dulu saya pernah dihampiri seorang aktivis LSM yang menolak pengesahan RUU APP. Aktivis itu bilang pada saya bahwa RUU APP berbahaya. RUU itu misalnya, bisa menjerat seorang ibu yang menyusui anaknya di tengah umum. Seteleh mendengar penjelasan aktivis itu saya memutuskan untuk ikut menandatangani petisi penolakan RUU APP. Di rumah saya bertemu kakak saya yang juga aktivis. Saya ceritakan pada dia soal penandatanganan petisi penolakan itu. Tapi dia malah berpesan pada saya untuk hati-hati. Jangan asal tanda tangan. Kata kakak saya, bagaimanapun seorang perempuan tidak bisa memperlihatkan auratnya di muka umum, sekalipun itu dalam rangka menyusui anaknya. Perempuan itu harus mencari tempat yang aman untuk menyusui. Saya mengiyakan. Saya tanya ke kakak saya, bagaimana ini saya sudah tanda tangan? Kakak saya bilang, ya sudah lain kali hati-hati. Sekarang istighfar saja. Saya jadi takut. Ya sudah, saya istighfar saja. Astagfirullah.''
Ah, siang yang menyenangkan setelah lama tak di taman-bunga.







