4.9.06

(Agak aneh dan ngeri rasanya mendapati tulisan ini tanpa sengaja di tumpukkan arsip lama. Ini tulisan yang saya buat empat tahun lalu, saat saya baru saja menginjak usia kepala dua, usia di mana kesombongan dan kekeraskepalaan menjadi identitas yang tak tertolakkan, usia yang saya pikir akan menjadi masa-masa hebat dalam hidup saya. Meski pada kenyataannya yang sering terjadi justru kebalikan dari itu semua, saya acap merasa ingin mati saja setelah lelah dihajar rasa bosan yang terus-menerus.

Sialnya, rangkaian diskusi dua malam bersama beberapa kawan dan begelas-gelas cappucino dingin beberapa malam lalu, membuat saya kembali keras kepala. Tulisan ini saya baca kembali sendirian di malam buta selepas diskusi. Tentu saja pengalaman membaca yang saya dapatkan berbeda dengan pengalaman ketika menuliskan tulisan ini empat tahun lalu: jika empat tahun lalu saya merasa telah membuat manifesto kebertuhanan saya, malam kemarin ketika saya membacanya, tulisan ini hanya cukup untuk membuat saya berkomentar singkat seraya senyum-senyum gak jelas: ''Dewh, gaya pissannnn urang teh....'' ;p)

Tulisan ini pernah dimuat di ON/OFF (#08/2002), media orang biasa yang diterbitkan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).


ratusan ribu waktu

sepetak ubin, jika kau mau tahu, ternyata tak lebih besar dari porsi hidupku 'tuk melumatimu. tak kusesali, biar saja. dan serupa ladang ilalalng, kau adalah kekeringan yang niscaya kubakar tiap waktu agar tetap kulihat merah tanah: sejatinya, merah tanah jauh lebih kuhargai ketimbang merah hatimu - juga merah mawar di depan rumahku yang selalu kau sirami di tiap senja.

tuhan, maaf kutak ada waktu buatmu....

pernah dulu memang, saat tepat rinduku yang keseratus sembilan puluh satu - rindu ternaif, menurut seorang kawan - kau terlihat seperti sosok paling liar yang siap menyantap habis semua umurku kelak. tapi hidup cuma main-main nyatanya, karena setelah itu, seperti apa dan bagaimana harummu, tuhan, aku lupa. kau segara begitu saja hilang di tiap anak akar otakku.

***

ada satu waktu dulu di mana ruang menjadi tak berpintu-tak berjendela, sedang di dalamnya cuma suara napasku dan suara napasmu beradu. tak ada yang lain, tak ada cahaya, tak ada udara, hanya napasku dan napasmu yang tak pernah berisi udara, melainkan segumpal emosi beku tak cerdas (dan naif). entah apa yang menghubungkan kita waktu itu. sedang rasanya tak pernah kuyakini sebuah kesepakatan pernyataan cinta antara kita.

atau barangkali seperti ini, seperti hijau rumput yang pucuknya selalu menyeretku ke titik awal interaksi kita. perkenalan singkat penuh basa-basi di mana kau begitu banyak bicara dan begitu saja membuatku sedikit terpukau terpesona hingga memaksaku memeras keringat berjerih payah merasionalisasikan tiap detik yang, meski kelak kuhancurkan sendiri, menjadi monumen tersendiri di diriku. kau dulu sanggup memamah lumat segenap diri. tubuh dan jiwa. ruang dan waktu.

ataukah karena matamu yang terasa liar di mataku, menelanjangiku di manapun dan kapanpun. kuakui, dalam beberapa hal kau memang tepat untuk dikatakan nakal, binal, hingga sempat tak ingin kulihat sosok-sosok di luar dirimu. keluarbiasaan pernah menghinggapiku, jeritan-jeritan, sorak-sorak, dengan selingan rintihan-rintihan, menahan silau kilau cahaya matamu.

seribu jenis panji aneka warna pernah menyerangku, masuk menyelinap lewat jendela kamarku, juga celah bocor atap dengan tiga belas titiknya. kesialannya, semua bukan cuma untuk singgah, melainkan melekat menyatu sempurna di pusat pertemuan darah di simpang tulang tubuh. ah, betapa hebatnya cinta. kuingatkan yang terparah, adalah panji kusam yang berhasil masuk melalui kolong pintu coklat tua kamarku. terlihat semakin pudar warnanya mengingat kamarku masih saja berlantai tanah. terbilang parah karena, pernah, semakin dekat kurasa kulitmu di sekitarku, hingga beberapa malam sempat kurasa kita bersentuhan. tapi, ingat juga, kau mesti tahu ini, tak ada kehangatan di situ, barangkali ada sebentar, yang justru terasa dan terngiang hingga kini lebih merupakan kepatuhan tak lazim akibat mantera yang kau alirkan lewat sekian detik persentuhan kulitku dan kulitmu. dan aku tak peduli....

biar saja, seperti kataku.

karena dulu, saat matahari keenam belas muncul di bulan terakhir tahun lalu, aku mampu melewatinya dengan tidur sedikit panjang. tidur yang bukan untuk istirahat, memejamkan mata menahan silau kilau matamu, melainkan tidur sebagai upaya penghindaran diri dari pertemuan-pertemuan kecil dengan makhluk-makhluk ternaif. makhluk-makhluk yang hidup bersamaku dalam hitungan ribuan waktu, yang selalu saja merasa sah berbuat apa kata perutnya ketimbang apa kata jiwanya, makhluk-makhluk gembalamu yang mengaku mendapat kesegaran air yang kausirami di hari itu. beberapa dengan sempurna kuhindari, beberapa tak sempat kujauhi. aku terluka dan memutuskan kembali tidur untuk istirahat, untuk menahan silau kilau matamu.

pernah pula kubuat semacam catatan rapi dengan pita niat kupersembahkan untukmu sebagai sebuah kenangan kalau aku pernah mengenalmu. aku akan pergi jauh, begitu kalimat pertamanya. tapi catatan itu, seperti kau tahu, tak pernah kusampaikan padamu. bukan tak ingin, tapi masih kucari hingga kini paragraf akhirnya. sebuah perjalanan panjang kemudian kurencanakan sebagai upaya penemuan jalinan kata yang niscaya kususun sebagai pelengkap catatanku. perjalanan dengan ratusan ton bahan bakar yang kuambil paksa hingga menyisakan luka-luka tubuh dan luka-luka jiwa. perjalanan dengan peta-peta buram.

lalu di tepat waktu keseribu. saat bumi kurasakan di momentum terpanasnya. panas yang melebihi matahari-matahari yang pernah berlalu di atas tubuhku. rasanya, seperti berkumpul seribu matahari di atas kepalaku yang nyaris membuat isi kepalaku mendidih, menegangkan jalinan urat syaraf yang melingkar berputar di dalamnya. satu yang tersisa: kengerian panjang yang tetap hidup bahkan di saat jam-jam tidurku. mimpi-mimpi buruk, atau serupa mimpi-mimpi buruk, berdatangan dengan rutin. berganti-ganti tema, berganti-ganti kemasan, berganti-ganti latar. yang pertama kali datang adalah cerita berisi pengerdilan makhluk-makhluk dengan harga-harga yang melambung tinggi. kenaikan yang, entah bagaimana, berhubungan dengan mulut-mulut yang mengucap-ucap namamu di jalan-jalan dan di meja-meja biliar. lalu ada cerita dengan pemeran tunggal, seseorang di depanku begitu tekunnya menatah kata-katamu dan nama-namamu di sisi-sisi pedangnya. mulutnya terkunci, kepalanya tertunduk, begitu khusuknya, begitu heningnya. yang ini kucurigai juga masih berhubungan dengan yang pertama.

keduanya menyisakan kegelisahan panjang di pagi hari bagiku. dan ternyata, begitu dekat rupanya engkau dengan kenaikan harga....

luka-luka semakin menganga. semakin melebar tanpa kutahu juga obat macam apakah penawarnya. karena pertemuan-pertemuan denganmu yang begitu terjadwal (karena janji-janji) ternyata tidak begitu membawa suasana lain untukku. kuputuskan untuk membatalkan sepihak janji-janji. mudah-mudahan kau tak kecewa. aku tak kecewa.

serangkaian kenaikan harga membuatku membatalkan bilangan janji-janji, gumpalan-gumpalan merah darah membuatku mencoba menghilangkanmu, tuhanku.

persekutuan bersama ratusan himpunan iblis kemudian kugagas. iblis-iblis timur, iblis-iblis barat, yang setengah iblis dari utara, yang setengah iblis dari selatan. persengkokolan yang bukan cuma sakit hati, tapi juga sakit badan, sakit jiwa. bagi kami kau ternyata tak mengenyangkan, tak menenangkan. karena hampir di segenap hamparan peta, warna-warna menjadi merah semata. merah darah. merah luka. merah senja darah air mata. merah yang mengalir dari pedang-pedang dan tombak-tombak berukiran namamu. dengan huruf-huruf aneh yang hanya dimengerti mereka yang berilmu. (sungguh, betapa tak mengertinya kami). tanah-tanah lapang kami menjadi bukan lagi milik kami. tapi punya mereka yang terus saja memuntahkan cinta-cinta berbentuk menyeramkan untukmu. jalan-jalan kami sesak dengan kepala-kepala musuh mereka, beberapa tak lagi utuh, tak punya mata, tak punya telinga, dan kami lihat mereka mengenakannya sebagai liontin di kalung rantai yang melingkar di dada-dada mereka. kami lihat, kami dengar, kami tahu, itu dipersembahkan untukmu. yang mahabesar, yang mahakasih, yang mahacinta, yang maha....

labirin-labirin gelap memang kemudian cukup memusingkan kami. karena ternyata betapa sedikitnya kami, betapa tidak seberapanya. tapi perlawanan telah rampung kami siapkan. hingga detail-detail tak terduga. kami bahkan telah menyusun rencana untuk menyelinap ke kamarmu, dengan cara apapun, yang pasti tak terduga oleh para pembawa pedang itu. penyamar-penyamar kami telah terlatih. kami akan mencoba merayumu untuk menggunakan sedikit saja kekuasaanmu yang kami yakini. yang benar-benar kami yakini.

tuhanku, bapakkah kau? ibukah kau? anakkah kau? lelakikah kau? perempuankah kau?

karena sebagian dari kami adalah bapak, sebagian lain adalah ibu. dan dari mereka menjelma kerumunan anak yang menjadi begitu menakutkan dengan perut-perut yang jarang terisi, tapi tak pernah gelap mata buta cita dan memakan jantung kerabatnya. dan apakah ini justru menakutkanmu? kuharap iya. karena ini bagian awal dari rencana panjang kami. mudah-mudahan kau terkecoh....

anak-anak itu, yang aku temui di waktuku yang kesembilan ribu sekian, pernah menyodorkan pertanyaan maharumit untuk kucerna. tak pernah kujawab. tak mampuku. sebuah (hanya sebuah!) pertanyaan yang sejatinya untukmu: mengapa kami harus ada? kemudian ratusan pertanyaan turunan beranak-pinak di benakku. iya, untuk apa? apa yang mau kau dapatkan? sedang waktu-waktu yang kusediakan untuk kita saling bercinta dulu terasa tak begitu berkesan sekarang. rencana macam apa yang kau gelar, kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan? dan, ini yang membuatku semakin terluka, mau apa kau sebenarnya?

sampai kemudian kota-kita di negeri-negeri jauh menjadi ladang api. api nyala yang melalap bukan saja pintu-pintu rumah kerabat, tapi juga tangan-tangan mereka, kaki-kaki mereka, rambut-rambut mereka, hati-hati mereka... dan lalu entah lewat tangan siapa, api itu kemudian sampai pula ke depan pintu rumahku, rumah tetanggaku. membakar semua yang ada, semua yang cinta. sampai sini, kuputuskan, betapa sulitnya kau untuk kupercayai....

tidak. aku takut untuk mempercayaimu kembali. biarlah kau tetap di sana dan tidak di samping kami. rencana kami adalah mundur ke desa-desa. sebuah komuni yang kususun bersama iblis-iblis, setengah iblis-setengah iblis, laki-laki, perempuan-perempuan, anak-anak akan kami mulai wujudkan. kami tidak akan menambang suatu dari tanahmu, biar tak kami jumpai sebiji besi pun. kami tak butuh parang. kami tak butuh peluru. karena kami merasa indah berkalung dengan mata liontin daun. daun-daun yang selalu menjadi cermin dan semangat bahwa ternyata hidup berwarna hijau, bukan merah. bukan api.

***

malam lagi sunyi, lagi nyinyir. setelah sebelumnya selalu saja ada suara napasmu dan suara napasku yang beradu. o, betapa kau pencemburu. betapa kau pencemburu....

tapi aku benar-benar tak peduli.

pun ketika sembilan duka turut masuk ke dalam segi empat kamarku. yang mengambil apa-apa yang sebelumnya selalu mengiringi jatuhnya peluh-peluh dari ubun-ubunku. yang pertama adalah kepergian. yang kedua adalah pelarian. yang ketiga adalah kematian. yang keempat adalah keniscayaan. yang kelima adalah kemutlakkan. selanjutnya, sampai yang kesembilan adalah kebencian yang barangkali semacam cinta yang berlebihan. ataukah itu semua bukan duka? melainkan momen-momen yang menuntut perayaan? tak mengerti, dan tak mau mengerti.

labirin, di waktuku kesekian, masih saja menyudutkanku. sementara dalam jiwaku, dalam tubuhku, tak ada peta penunjuk kau ada di sekitarku, kau ada di sel-selku. kau luruh dalam segenap kepergian akibat pelarian-pelarian yang kulakukan. pelarian-pelarian ke desa-desa tanpa api. dan paragraf terakhir dalam sebuah catatan hadiah untukmu yang kususun, belum juga berhasil kutemukan....

ratusan iblis membantu, ratusan kelaparan menemani, ratusan kota api menerangi, sama sekali tidak memberi apa-apa. kecuali pertanyaan anak-anak dari timur yang tak juga bisa terjawab: kehebatan macam apa yang ingin kau tunjukkan?

11.8.06

Siang Ini

Dia tiba-tiba membuka pintu taman-bunga yang sesungguhnya ditutup. Kepalanya muncul, ''boleh masuk?'' Pembicaraan saya dengan seorang teman berhenti. ''Silakan,'' kata saya. ''Tapi maaf, sedang beres-beres. Jadi agak berantakan.'' ''Tak apa,'' jawab dia, ''cuma mau lihat-lihat buku.''

Dia memainkan jari tangan kirinya di punggung-punggung buku, jari tangan kanannya merapat di bibirnya. ''Buku tentang ilmu komunikasi di mana, mas?'' Saya belum menjawabnya, tapi dia sudah memegang buku karangan Romo Magnis tentang Karl Marx. ''Kamu baru pulang semester pendek, yah?'' tanya saya. ''Ah, nggak kok. Saya mahasiswa baru. Ilmu Komunikasi 2006. Makanya mau cari tahu soal buku-buku ilmu komunikasi.'' ''Kok malah megang buku tentang Marx?'' tanya saya. ''Iya, tentang sistem ekonomi yang utopis yah,'' kata dia seraya tertawa.

Dia terus melihat-lihat buku. ''Nama kamu siapa?'' saya bertanya. ''Kasih,'' kata dia. ''Wah, keren namanya,'' komentar saya. ''Terima kasih,'' dia menanggapi. ''Nama lengkapnya Kasih apa?'' Dia menjawab, ''Kasih Kisah''. ''Bapak kamu sastrawan, yah?'' tanya saya bercanda. ''Bukan, Bapak saya mantan preman.''

Dia tertawa. Saya dan teman saya ikutan tertawa.

Dia mahasiswa baru dan merasa tertipu karena dia pikir Unpad berada di Bandung dengan lingkungan yang nyaman. ''Gak tahunya di Jatinangor dan panas gini. Bikin bibir pecah-pecah.''

Dan dia tiba-tiba bercerita soal RUU APP:

''Waktu SMA di Lampung dulu saya pernah dihampiri seorang aktivis LSM yang menolak pengesahan RUU APP. Aktivis itu bilang pada saya bahwa RUU APP berbahaya. RUU itu misalnya, bisa menjerat seorang ibu yang menyusui anaknya di tengah umum. Seteleh mendengar penjelasan aktivis itu saya memutuskan untuk ikut menandatangani petisi penolakan RUU APP. Di rumah saya bertemu kakak saya yang juga aktivis. Saya ceritakan pada dia soal penandatanganan petisi penolakan itu. Tapi dia malah berpesan pada saya untuk hati-hati. Jangan asal tanda tangan. Kata kakak saya, bagaimanapun seorang perempuan tidak bisa memperlihatkan auratnya di muka umum, sekalipun itu dalam rangka menyusui anaknya. Perempuan itu harus mencari tempat yang aman untuk menyusui. Saya mengiyakan. Saya tanya ke kakak saya, bagaimana ini saya sudah tanda tangan? Kakak saya bilang, ya sudah lain kali hati-hati. Sekarang istighfar saja. Saya jadi takut. Ya sudah, saya istighfar saja. Astagfirullah.''

Ah, siang yang menyenangkan setelah lama tak di taman-bunga.

13.6.06

Hai... Nadya!

''Semoga orang Jakarta jadi lebih senang belanja.''
Nadya Hutagalung, KOMPAS Minggu 11 Juni 2006




Hai! Apa kabar, Nadya? Lama tak melihat kamu dan betapa masih cantiknya kamu meski tahun ini kamu 32 tahun dan punya dua anak! Di SMP dulu pertama kali saya melihat kamu, di layar kaca tengah rumah. Kamu mantap berdiri di sana, di MTV allaihissalam. Baik-baik sajakah kamu? Ya, kamu si indo ceria yang keren banget jika duet dengan Jamie.

Kamu datang lagi hari ini dengan keglamoran seorang model catwalk. Dan kamu menjadi duta bagi mal Senayan City yang akan dibuka akhir bulan ini. Menambah satu lagi biara Smith-ian di Jakarta. Ya, ya, kamu memang cantik dan masih menarik.

Tapi maafkan saya, Nadya. Saya bukan lagi anak SMP yang terpesona dengan mantapnya cara kamu berdiri. Itu semacam kegenitan tak perlu anak SMP yang jika sekarang saya ingat kembali, selalu saja membuat saya tersenyum.

Saya, Nadya, tidak akan menjadi lebih senang belanja seperti doa yang kamu panjatkan itu. Ada berapa banyak doa-doa kamu yang tak terkabul, Nadya?

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan mati jika tak menginjakkan kaki di mal-mal gemerlap itu.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia mati jika tak makan, namun manusia tidak mati jika tak memakai benetton.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu manusia tidak akan kesepian jika tidak menonton MTV seharian, tapi manusia akan kesepian jika interaksi personal dengan orang-orang terdekat tereduksi menjadi interaksi atas nama properti dan ekonomi.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu saya lebih senang diterima apa adanya saya dan bukan diterima lantaran saya mengendarai mobil seri terbaru keluaran Honda Coorporation.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu sesungguhnya begitu banyak yang tidak kita butuhkan dalam hidup ini. Benar-benar tidak kita butuhkan.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu gizi yang baik, makanan yang murah, dan tempat makan yang hangat bukan cuma disediakan gerai-gerai fastfood yang buka 'kapan saja di mana saja', tapi juga di rumah makan-rumah makan kecil yang dikelola dengan penuh suka cita oleh sebuah keluarga kecil demi menjaga kelangsungan hidupnya.

Saya tak akan menjadi lebih senang belanja karena saya tahu bermain di lapangan bisa menjadi lebih asyik dan seru ketimbang harus bermain di bowling center setelah sebelumnya menghabiskan sekian rupiah demi segelas kopi dan sekantung harga diri di starbucks.

Satu lagi doa kamu tak terkabul, Nadya. Saya tak akan menjadi lebih senang belanja. Karena yang kalian tawarkan tak lebih dari apa-apa yang sesungguhnya telah kalian curi dari saya: kehidupan saya sendiri!

26.5.06

Pada Suatu Sore

Semuanya menjadi begitu mudah. Lebih mudah. Udara lapang, jalanan lengang, orang lalu-lalang. Anak-anak tersisir rapi selepas mandi yang serupa tamasya. Serangga. Daun kering. Cangkir kopi. Debu di atas meja. Sore ini semuanya terasa berbeda.

Di barat langit mulai memerah. Sebuah provokasi untuk hati jadi lebih ramah. Ah. Ini berbeda. Begitu mudah dan lumrah. Begitu ramah dan merah. Seperti bayi. Seperti pipi. Seperti bunga lili.

Membuat satu-satu kenangan muncul.

Di sore hari waktu kecil dulu.

Kau baru saja terluka. Ada darah mengalir keluar dari tubuhmu. Kau menangis kecil tak henti. Memegangi baju ibumu yang sibuk mengobati lukamu. Kakakmu hanya diam menunggu seraya mengisyaratkan rasa khawatir. Kau merasa ia juga ingin menangis. Lalu ibumu membawamu ke beranda, menyuruhmu duduk dengan tenang dan nyaman. Ibumu kembali masuk menuju dapur dan kembali dengan membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup panas. Tangismu telah terhenti. Ibumu menyuapimu. Satu sendok. Dua sendok. Dari matanya kau melihat kasih. Dari dadanya kau mendengar cinta. Kau membaik dan merasa hangat. Ibumu melepasmu bermain lagi. Ia katakan berhati-hatilah. Dan kau melihat kakakmu menjagamu di tanah lapang.

Di sore hari di sekolah dasar.

Kau jemu upacara sabtu sore. Kau ingin pergi namun tak bisa. Teman-temanmu pun begitu. Kau bosan. Kau letih. Kau ingin terus bermain dan bermain. Sampai doa telah selesai dipanjatkan dan upacara kemudian dibubarkan, kau berlari. Kencang. Mengambil tas sekolahmu dan sepedamu. Kau bermain-main lagi dengan teman-temanmu. Kau membawa kelereng. Satu plastik kecil dalam genggaman, satu plastik besar tersembunyi dalam tas. Kau memasang taruhan kelereng. Kau menang, kau tertawa senang. Kau kalah, kau tertawa riang. Kau bersenang-senang dengan teman-temanmu. Sampai gelap benar-benar datang dan kau harus pulang.

Di sore hari di sekolah menengah pertama.

Kau menghindari teman-temanmu sendiri. Teman-temanmu yang mulai terbiasa memasukkan narkotika ke tubuh mereka. Tapi kau tetap berteman baik dengan mereka. Bersenda gurau bersama, menggoda wanita bersama, berolah raga bersama. Kau menghindari mereka hanya ketika kau tahu mereka akan pergi menuju dunia yang mereka ciptakan bersama narkotika. Teman-temanmu tak memusuhimu. Sebagaimana kau mengerti mereka, mereka mengerti dirimu. Dan kau tahu, di suatu sore kau akan kehilangan mereka. Satu-satu. Drop-out. Over dosis. Keluar dari rumah. Tak sekolah lagi. Ke luar kota. Entah ada di mana. Kau menyesalinya.

Di sore hari di sekolah menengah umum.

Kau terkejut. Kaca jendela kelasmu pecah. Lalu sebuah bola jatuh di tengah meja yang sedang kau pakai bermain domino bersama teman-temanmu. Segalanya menjadi begitu kisruh. Kartu-kartu tak lagi rapi tersusun. Pecahan kaca berserakan. Tak ada yang terluka, tapi cukup membuat seisi kelas panik. Sore itu guru seperti biasa tak datang. Lalu kelas tertawa. Tak ada yang saling menyalahkan, hanya tertawa. Tertawa-tawa. Guru kelas tetangga kemudian datang, bertanya ada apa dan mengapa bisa terjadi. Sampai kemudian terdengar bel tanda usai jam sekolah. Save by the bell!

Kau bermain. Terus bermain. Bersenang-senang dengan teman-temanmu. Saat berangkat sekolah, saat belajar di kelas, saat pulang sekolah. Dan semuanya muncul sore ini. Berkelebatan.

Kau merasa seperti melihat kunang-kunang. Kunang-kunang terbang saat malam melayang di langit mengawang. Merah kuning hijau biru ungu. Lalu kau ingat bunga-bunga.

Kau mengingat kekasihmu.

Kekasihmu. Si pipi bunga lili. Si mawar kenanga melati. Di tempat jauh. Di luar kota. Kau mengingatnya dan ingin menyentuhnya. Kau mereka wajahnya yang tersenyum, siswa teladan sekolah dasarmu dulu, si gadis pengoleksi perangko. Kau tahu betapa dungu hanya diam menunggu. Tapi kau tak kuasa untuk mengemas pakaian dan buku-buku untuk gegas ke barat. Menghirup udara jalanan di kotanya, melihat pohon-pohon rambutan, tersenyum menyeberang jalan, membuka pagar depan tempat tinggalnya, menyapa kawan-kawannya, mengetuk pintu kamarnya, menatap matanya dan melempar senyum tak henti.

Kau ingin tertawa karena kau mengingat saat di mana kau tertawa dengannya. Kau ingin tersenyum karena kau tak bisa melupakan saat di mana kau tersenyum dengannya. Kau ingin menangis karena kau sadar mengapa malam begitu lekas.

Kau merasakan cinta.

Bukan yang pertama, tapi kau tahu bedanya. Kau ingin menyentuhnya, kekasih bunga lilimu itu. Melepas sebuah kalimat, sebuah tatap mata, sebuah impresi dari dalam hati. Kau ingin mengalirkannya seperti dulu kau melihat empat air terjun. Begitu pasti, begitu rendah hati. Air yang jatuh menyentuh daun-daun kecil dari tumbuhan-tumbuhan kecil tanpa hasrat mencabutnya dari tanah tempatnya tertanam. Hanya menyentuhnya dan membasahinya. Bahasa-bahasa alam yang kau kagumi. Kau ingin menghembuskannya seperti dulu kau merasakan semilir di suatu pesisir. Angin-angin tak berwarna namun bermakna. Angin-angin tak bernama namun penuh irama. Angin-angin yang tak kau ketahui asalnya namun kau rasakan kehadirannya.

Sebuah sore yang cerah. Kau melamun. Melamun lagi. Sendiri dengan gelas kopi. Tergenang. Terkenang.

Hingga kau tersadar bahwa segala sesuatu selalu ada akhirnya. Selayak penyanyi solo selepas lagu terakhir, kau tersenyum ringkas, kau katakan, ''seandainya hidup hanya ada sore.''

23.5.06

Karena Semuanya Memang Bisa Terjadi

Tiba-tiba saja kamu tak mengerti apa-apa lagi.

Kamu mengira kamu telah mengetahui segalanya. Kamu merunut-runut semua yang ada di kepalamu, seribu macam persimpangan rumit yang telah kamu lewati. Kamu begitu yakin, begitu yakin dan pasti dan percaya diri. Kamu memilih. Dan ternyata kamu salah. Salah memilih dan salah merunut. Kamu kecewa.

Kamu mengira kamu telah tepat berada di jalan ini. Kamu melangkah dengan begitu riangnya. Begitu ringan dan begitu lapang. Kamu melompat-lompat kecil. Dari bibirmu, senandung siul terdengar lepas. Sampai sebuah batu menghalangi langkahmu. Kamu terjatuh. Terluka. Ingin menangis namun tak tahu apakah pantas. Kamu salah memilih jalan. Kamu tahu itu, kamu salah mengambil langkah.

Kamu mengira kamu telah melakukan sesuatu yang benar. Kamu begitu bersungguh-sungguh. Kamu mengorbankan hal-hal remeh di sekitarmu. Kamu katakan, 'inilah hidup, selalu seperti masa kecil dulu, bermain-main bersuka cita bersenda-gurau, selalu bikin lupa waktu lupa diri.' Sampai kemudian kamu tersesat. Tak punya lagi teman bermain yang satu-persatu telah tumbuh dan melesat: menjadi bintang, menjadi hijau daun, menjadi embun pagi, menjadi matahari, menjadi segala. Sedang kamu merasa sepi di tanah lapang itu. Kamu menyesal untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu merasa telah melakukan kesalahan tak perlu.

Kamu mengira kamu telah berhasil mengerjakan sesuatu dengan sempurna. Kamu merasa puas dan berbangga hati. Di tepi jalan, kamu memperlihatkan pekerjaanmu itu. Kepalamu menantang udara. Tanganmu terkepal. Matamu berbinar. Kamu percaya bahwa kamu telah menemukan diri kamu sendiri. Hingga pada suatu sore di ujung jalan, kamu mendapati diri kamu bukan apa-apa. Seseorang, tak terlihat, tak masuk hitungan, tak menantang udara, membawa pekerjaannya dengan rendah hati. Dan kamu tahu belaka, seseorang itu bekerja dengan hasil yang hanya pantas diletakkan di langit sementara hasil kerjamu cuma pantas diletakkan di kamarmu sendiri.


Kamu mencari. Dan terus mencari.

Kamu merasa tak memiliki apa-apa kecuali kekalahan demi kekalahan. Kamu menghimpun kekuatan, menyusuri setiap lanskap, menggumam-gumam bahwa kamu hanya pantas untuk sebuah kemenangan dan bukan kekalahan. Kamu merasa semuanya adalah lawan tandingmu. Kamu mencurigai mereka. Kamu berkata, 'kau. atau aku. itu saja!' Dan yang kamu temui ternyata adalah melulu mereka yang selalu saja ada di saat kamu membutuhkan mereka. Yang selalu saja kamu jumpai adalah mereka yang mengulurkan tangannya saat kamu terjatuh dulu. Adalah mereka yang menunggumu saat kamu tertinggal di belakang. Adalah mereka yang selalu saja tak pernah letih mendengarkan kamu, tak pernah bosan memperhatikan hasil kerjamu dan memberi pujian kebanggaan, tak pernah jemu menyemangatimu saat kamu rapuh. Mereka yang ada dan selalu ada.

Kamu membuat peta perjalanan penaklukan. Kamu mengumpulkan bekal-bekal perjalanan terjauh. Kamu berkata, 'selamat tinggal. lihatlah, aku menaklukkan dunia!' Dan lalu kamu pergi. Meninggalkan semuanya. Semuanya. Kamu meninggalkan rumahmu, meninggalkan jalinan-jalinan kasih: yang melahirkanmu, yang mengasuhmu, yang menjadi teman bermainmu, yang menjadi teman sekolahmu, teman mimpimu, temanmu saat melompati pagar sekolah, temanmu saat mencuri mangga, temanmu saat menangis, saat tertawa, saat memiliki segala, saat tak memiliki segala. Kamu melupakan dan meninggalkan mereka. Sampai suatu sore kamu pulang, begitu letih, begitu mencemaskan. Tak satupun yang kamu temui. Tak satupun yang kamu taklukkan. Kamu marah dan bersedih dan terluka dan berputus asa. Tapi mereka, yang telah kamu tinggalkan dan lupakan, beramai-ramai menjengukmu. Memelukmu dan menangis untukmu. Merawatmu dan berkata, 'tenanglah. kami menjagamu. kami menjagamu. kami menjagamu.'


Selalu seperti itu. Kamu benar-benar menjadi tak mengerti apa-apa lagi. Semuanya terjadi dan memang bisa terjadi. Cuma itu yang kamu pahami. Kamu selalu kembali menangis. Kamu selalu kembali menyesal. Kamu selalu kembali merutuk-rutuk. Tapi kamu selalu kembali salah. Salah merunut-runut, salah mengambil langkah, salah memilih jalan, salah membaca peta, salah membawa bekal, salah, salah, salah.

Sampai di suatu malam, kamu teringat sesuatu. Dan kamu merasa inilah akar segala yang kamu alami. Kamu teringat sesuatu, dan kamu menyesalinya dengan sangat. Mengapa ingatan ini datang terlambat? Kamu teringat sesuatu, sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan. Sesuatu yang tampak remeh dan sepele.

Kamu teringat sesuatu: selama ini kamu melupakan sebuah puisi!

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu
Sapardi Djoko Damono

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

(1992)

14.5.06

11.5.06

Bukan Jalanan, Tuan Jusuf
-- Surat Terbuka untuk Jusuf Kalla

''Seratus orang tanpa pendidikan adalah awal sebuah pemberontakan. Satu orang dengan pendidikan adalah awal sebuah gerakan!'' Chico Mendez (1944-1988)

SENANG sekali membaca berita tentang bagaimana Anda, Tuan Jusuf, menerima beberapa perwakilan mahasiswa pada 2 Mei 2006 lalu di istana Anda (Media Indonesia, 03/05). Tak banyak pejabat di negara ini yang melakukan hal semacam itu. Membukakan pintu dan lalu mengajak para demonstran berdialog. Dan Anda melakukannya dengan baik sekali. Demokratisasi mungkin memang perlu dimulai dari hal-hal kecil semacam membukakan pintu bagi para demonstran.

Para mahasiswa itu sebelumnya berunjuk rasa di jalanan depan istana Anda. Hari itu 2 Mei 2006. Seratus tujuh belas tahun sebelumnya Ki Hajar Dewantara lahir. Mungkin tak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah penerjemah lirik lagu Internationale (sebuah mars kaum Marxis internasional). Di Jakarta, beberapa hari sebelum ini, lagu itu kembali dikumandangkan sebagai pengantar jenazah Pak Pram. Kita, saya dan Anda Tuan Jusuf, tentu lebih mengenal Ki Hajar sebagai Bapak Pendidikan. Sesuatu yang barangkali tak ia sukai. Pernahkah Tuan Jusuf membaca surat Ki Hajar Dewantara kepada Gubernur Jenderal de Jonge, 26 Oktober 1932? Ki Hajar Dewantara menulis, ''Gambar saya misalnya, tak boleh dipajang di mana pun. Pertama, batin saya tak menghendaki penghormatan atas gambar saya. Darinya akan timbul dampak yang tidak baik. Kalau kalian mendewa-dewakan saya, habislah Taman Siswa sesudah saya mati.''

Bahkan, tahukah Tuan, Ki Hajar Dewantara pernah berwasiat agar keluarganya jangan sampai menulis biografi dirinya. ''Tak akan jujur. Sepenuhnya subjektif,'' katanya.

Betapa kita mengenalnya sebagai seorang pintar nan rendah hati. Ah, Tuan Jusuf, berapa banyak lagi orang yang seperti Ki Hajar Dewantara di negara ini?

**

TAPI saya sedikit terganggu, Tuan Jusuf. Jawaban Anda kepada perwakilan mahasiswa yang menuntut agar pemerintah segera melaksanakan amanat Undang-Undang Dasar, yakni menyediakan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN, terlalu membuat resah. Anda mungkin orang baik, Tuan. Tapi, pasti bukan bagi 69% dari 203.456.005 penduduk Indonesia, angka statistik bagi mereka yang belum menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun (Media Indonesia, 03/05).

Tuan Jusuf berkata bahwa pendidikan itu penting. Namun, ''Kesehatan juga penting, jalan yang rusak juga penting diperbaiki'' (Media Indonesia, 03/05). Dan Tuan Jusuf memilih untuk mendahulukan kesehatan dan perbaikan jalan. Tuan bahkan sampai bertanya, ''Apakah kita rela anggaran kesehatan langsung dikurangi atau anggaran jalan langsung dikurangi?''

Menteri Pendidikan Nasional kita, Bambang Sudibyo, lebih membuat resah. Beliau bilang realisasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN diharapkan bisa terpenuhi pada 2009 nanti. 2009, Tuan Jusuf, itu tiga tahun lagi! Bayangkanlah, apa yang bisa kita peroleh tiga tahun ke depan ketika kita memberi pendidikan dasar bagi mereka 69% penduduk negeri ini sekarang?

**

TUAN Jusuf, sudahkah Tuan menyaksikan Burning Season? Itu sebuah film bagus yang mengangkat cerita Chico Mendez, seorang pejuang lingkungan Brasil yang begitu keras kepala. Sejak kecil ia hidup di hutan hujan Amazon, besar dan mencari nafkah sebagai penyadap karet. Chico Mendez, bersama penduduk yang terbiasa mencari nafkah di hutan hujan Amazon melawan pembuatan jalan yang hendak menembus hutan Amazon (dan ia mati karena perjuangannya ini).

Chico Mendez, sebagaimana juga banyak orang lainnya, di Brasil atau di Indonesia, tahu belaka: acapkali perbaikan dan pembuatan jalanan dilakukan guna kepentingan modal.

Pembuatan jalanan memang baik. Transformasi dan transportasi lebih memungkinkan. Tapi terkadang kita memang melihat ini: pembuatan jalan tak lebih dari sekadar pembentukan infrastruktur demi, sekali lagi, kepentingan akumulasi modal.

Bukankah begitu, Tuan? Jalanan yang bagus tentu akan membuat barang-barang hasil produksi di pabrik-pabrik --yang buruh-buruhnya bekerja dengan ancaman revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan-- akan lebih cepat terdistribusikan. Jalanan yang mulus dan menjangkau penjuru pedalaman akan lebih membuat ''modern'' mereka yang selama ini tak tersentuh riuh modal. Dengan adanya jalanan, mungkin mereka tak perlu lagi selamanya mengenakan pakaian khas mereka yang unik itu. Tapi mereka bisa mencoba tekstil-tekstil Cina yang berkualitas bagus dan berharga murah.

Dengan begitu, Tuan mungkin bisa mengatakan bahwa perekonomian Indonesia mengindikasikan kemajuan yang menggembirakan. Produksi meningkat, distribusi meluas, dan konsumsi melonjak.

Tapi Tuan, apa artinya itu jika 69% penduduk kita tak selesai pendidikan wajib sembilan tahun? Apa artinya itu jika guru mesti memilah waktu antara memeriksa hasil ujian siswa dan mengasapi dapurnya? Apa artinya itu jika, sebut saja peristiwa setahun lalu, begitu banyak siswa sekolah menengah kita tak lulus ujian nasional?

Lagi pula, tentu Tuan Jusuf masih ingat ucapan Tuan Jusuf setahun lalu ketika menanggapi tingginya angka ketidaklulusan peserta UAN. Tuan katakan, ''Sejak dulu kualitas pendidikan kita rendah.'' (Pontianak Post, 2 Juli 2005).

Lalu apa artinya jalanan yang hendak Tuan perbaiki itu jika kualitas pendidikan bangsa ini terus rendah?

Tuan Jusuf, lihatlah Kuba. Di saat kita masih bermasalah dengan pendidikan wajib sembilan tahun, pada tahun 2000 Kuba telah mencanangkan gerakan ''University for All''. Mereka hendak mencapai, ''a nation becomes a university''.

Apakah mereka mengurangi anggaran kesehatan? Coba tengok, angka kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian untuk 1000 kelahiran dalam satu tahun. Angka yang rendah bahkan jika dibandingkan dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Jumlah dokter per kapita mereka juga jauh lebih banyak jika dibandingkan negara manapun. Sebuah indikasi yang menggambarkan bahwa mereka juga tidak melupakan sektor kesehatan (Coen Husain Pontoh, 2006)

Saya takut, Tuan Jusuf, bahwa ketidaksiapan pemerintah untuk memenuhi tuntutan konstitusional anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lantaran hal-hal semacam perbaikan kesejahteraan umum atau pembangunan infrastuktur-infrastruktur perekonomian bangsa ini. Tapi karena kita selama ini ternyata telah salah meletakkan posisi pendidikan.

Kita telah terbiasa untuk tak perlu resah saat mengetahui ada sekira12% penduduk kita yang buta huruf. Kita telah terbiasa untuk tak terlalu khawatir dengan fakta bahwa 45% gedung sekolah di Indonesia rusak (Republika, 25 April 2006).

Kita merasa lebih mementingkan terbentangnya jalanan ketimbang memugar gedung-gedung sekolah, memerhatikan kesejahteraan guru, menekan biaya pendidikan, meningkatkan standar kelulusan sekaligus angka siswa yang lulus, membuat lebih banyak lagi rakyat Indonesia membaca, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Ya, kita mungkin memang terbiasa seperti itu. Seperti Tuan Jusuf katakan di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, bulan April lalu, nilai pendidikan tak tergantung pada fasilitas. Tuan bilang, ''Yang pasti kecerdasan tak bisa dibeli. Kepandaian tak bisa dibayar, yang bisa dibeli hanya fasilitasnya. Namun selama tak ada niat dari guru-gurunya dan pengelolanya tak ada hasilnya.''

Semoga Tuan Jusuf sehat selalu.

10.5.06

Garis Batas

Maka inilah garis batas yang aku tebalkan antara aku dengan kalian. Antara kebingungan buta dan kepura-puraan tolol. Garis batas yang cuma kuciptakan untuk kemunafikan-kemunafikan borjuasi yang berfilsafat dan berekonomi-politik di seputar altar korporasi.

Dan kalian akan lihat nanti segantang racun air tawar di tepi batas kalian dan aku. Sampai nanti tak akan berkurang satupun komposisinya, telah kubuang jauh di ujung jurang berbotol-botol penawarnya.

Garis batas yang meretas lima belas cadas dan melintas tanpa jalan pintas.

Dari sini aku melenyapkan sejarah!

19.4.06

Saya Inginkan Seorang Istri

Saya termasuk dalam golongan yang dikenal banyak orang sebagai Istri. Saya seorang istri. Dan, bukan sambil lalu, saya juga seorang ibu.

Beberapa waktu lalu seorang kawan pria yang baru saja bercerai muncul. Ia memiliki seorang anak yang, tentu saja, dari mantan istrinya. Ia terlihat begitu antusias mencari seorang istri baru. Ketika memikirkan dia saat saya menyetrika pakaian, saya begitu saja terpikir untuk menginginkan hal yang sama dengannya: saya ingin seorang istri. Mengapa saya menginginkan seorang istri?

Saya begitu ingin kembali lagi ke kampus, yang mana dengan begitu saya dapat mandiri secara ekonomi, mampu untuk membantu diri saya sendiri, dan jika memang dibutuhkan, mampu membantu orang-orang yang menjadi tanggungan saya. Saya inginkan seorang istri yang akan bekerja dan mengirimkan saya ke universitas. Dan sementara saya sedang kuliah, saya ingin istri saya itu memerhatikan anak-anak. Saya inginkan seorang istri yang selalu bisa membuat janji ke dokter atau dokter gigi untuk anak-anak saya. Dan lalu menepatinya. Saya inginkan seorang istri yang akan memastikan anak-anak saya hanya memakan makanan yang pantas dan bersih. Saya inginkan seorang istri yang akan mencuci pakaian anak-anak saya dan akan segera memperbaikinya jika pakaian-pakaian itu ternyata rusak. Saya inginkan seorang istri yang bisa menjadi pengasuh yang baik untuk anak-anak saya, yang akan merencanakan dengan matang pendidikan mereka, yang bisa memastikan bahwa mereka memiliki kehidupan sosial yang baik dengan kawan sebayanya, membawa mereka ke taman-taman, ke kebun binatang, dan lain sebagainya. Saya inginkan seorang istri yang akan merawat anak-anak saya jika mereka jatuh sakit, seorang istri yang selalu ada di sekitar mereka jika mereka membutuhkan perawatan khusus, karena, tentu saja, saya tak bisa meninggalkan kelas di kampus saya. Istri saya itu harus bisa mencuri waktu saat ia bekerja tanpa harus kehilangan pekerjaannya. Itu mungkin akan berarti kehilangan sedikit pendapatan, tapi saya pikir saya bisa mentolerir itu. Tiada gunanya mengatakan istri saya akan mengatur dan membayar perawatan anak saya sementara istri saya bekerja.

Saya inginkan seorang istri yang akan menjaga kebutuhan fisik saya. saya inginkan seorang istri yang menjaga rumah saya tetap bersih. Seorang istri yang selalu siap di belakang saya. Saya inginkan seorang istri yang menjaga pakaian-pakaian saya tetap bersih, tersetrika rapi, tidak rusak, dan terletak pada tempatnya. Istri yang selalu memastikan bahwa semua barang-barang personal saya diletakkan pada tempatnya yang benar sehingga saya bisa menemukannya dengan cepat ketika saya membutuhkan barang-barang itu. Saya inginkan seorang istri yang memasakkan saya makanan, ya, istri saya haruslah seorang koki yang handal. Saya inginkan seorang istri yang pandai merencanakan menu, kemudian pandai berbelanja bahan-bahannya, menyiapkannya, dan lalu menyajikannya dengan begitu menyenangkan, dan setelah itu semua, ia akan membersihkannya sementara saya akan belajar. Saya inginkan seorang istri yang akan merawat saya ketika saya sakit dan ikut merasakan rasa sakit yang saya derita yang menyebabkan saya tak bisa pergi ke kampus. Saya inginkan seorang istri yang akan pergi jauh ketika keluarga saya akan mengambil liburan sehingga seseorang yang lain akan memerhatikan saya dan anak saya ketika saya butuh istirahat dan suasana baru.

Saya inginkan seorang istri yang tidak akan menyusahkan saya dengan ocehan-ocehan protesnya soal kewajiban-kewajiban seorang istri. Yang saya inginkan, seorang istri yang akan mendengarkan saya ketika saya merasa butuh untuk menjelaskan kesulitan-kesulitan yang saya temui dalam kuliah-kuliah saya. Dan saya inginkan seorang istri yang akan mengetikkan tugas-tugas kuliah saya.

Saya inginkan seorang istri yang akan memerhatikan detail-detail kehidupan sosial saya. Ketika saya dan istri saya diundang keluar oleh kawan-kawan saya, saya ingin istri saya itu akan mengatur perawatan anak saya. Ketika saya bertemu kawan-kawan kampus saya yang saya suka dan ingin sekali hiburan, saya ingin istri saya memastikan rumah saya tetap terjaga kebersihannya. Ia akan menyiapkan makanan spesial dan lalu melayani saya dan kawan saya serta tidak akan menyela ketika saya sedang berbicara tentang hal-hal yang menarik bagi saya dan kawan saya. saya ingin seorang istri yang akan memastikan anak saya sudah diberi makan dan siap untuk tidur sehingga anak saya itu tidak akan mengganggu saya dan kawan saya.

Dan saya inginkan seorang istri yang tahu bahwa sesekali saya butuh untuk berjalan-jalan sendirian saja di malam hari.

Saya inginkan seorang istri yang peka terhadap kebutuhan seksual saya. Seorang istri yang penuh gairah dan lebih bernafsu ketimbang saya justru ketika saya menginginkannya. Seorang istri yang memastikan bahwa saya merasa terpuaskan. Dan, tentu saja, saya inginkan seorang istri yang tidak butuh perhatian seksual ketika saya sedang tidak mood untuk hal-hal semacam itu. Saya menginginkan seorang istri yang mengerti betul permasalahan-permasalahan pengendalian angka kelahiran karena saya tidak menginginkan banyak anak. Saya inginkan seorang istri yang setia secara seksual sehingga kehidupan intelektual saya tidak akan terganggu oleh perasaan cemburu. Dan saya inginkan seorang istri yang mengerti bahwa kebutuhan seksual saya tidak hanya cenderung pada monogami. Setelah itu semua, saya harus mampu menjalin hubungan dengan orang lain sebanyak mungkin.

Jika dalam suatu kesempatan lain saya menjumpai seseorang yang lebih cocok ketimbang istri saya yang sekarang, saya ingin kebebasan untuk menjadikan orang lain itu sebagai istri saya. Hal yang alamiah, saya mengharapkan hidup baru yang fresh. Istri saya akan memelihara anak saya dan bertanggung jawab untuk mereka sehingga saya bebas.

Ketika saya telah menyelesaikan kuliah dan mempunyai pekerjaan, saya ingin istri saya keluar dari pekerjaannya dan tetap tinggal di rumah agar dapat menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri secara utuh.

Tuhanku, siapakah yang tidak menginginkan seorang istri?

Judy Syfers

(Artikel ini ditulis oleh Judy Syfers pada dekade 70-an. Pertama kali dimuat oleh majalah ‘Ms.’, sebuah majalah yang diterbitkan di New York oleh Ms. Foundation for Education and Communication Inc. Segmen majalah ini adalah perempuan muda. Majalah ini menjalankan kampanye-kampanye soal kesetaraan gender. Artikel ini terbit pertama kali di majalah Ms. pada tahun 1972. Tujuh tahun kemudian, artikel ini diterbitkan sebagai A Feminist Classic from the Early ‘70s. Saya menerjemahkannya di bulan April 2006. Catatannya, artikel ini diterjemahkan bukan dalam rangka memperingati Hari Kartini yang bagi saya lebih baik ditiadakan).
Kehilangan

Senja telah jauh, udara dingin mencuri masuk dari sela-sela jendela tak berkaca, pintu tak rapat. Dua orang teman memilih pergi demi pertandingan sepakbola. Saya sendiri. Dan tiba-tiba kamar ini mengingatkan saya pada sekian rentetan kehilangan.

Entah apa sebab, kehilangan terasa akrab di hidup saya. Benda-benda, nama-nama, waktu-waktu, kesempatan-kesempatan. Pernah ada, lalu raib.

Saya tiba-tiba teringat gitar kesayangan saya. Gitar hadiah ayah saya saat saya sekolah dulu. Keinginan bermain gitar begitu menggebu dalam diri saya, membuat saya membeli sebuah gitar rusak milik kawan saya dengan harga lima ribu rupiah. Tabungnya telah kacau, lepas dan mengakibatkan gitar itu tak pernah bisa mengeluarkan suara sebagaimana gitar harusnya bersuara. Saya lalu membeli lem kayu, dempul, dan amplas. Dalam beberapa hari, gitar rusak itu berubah menjadi gitar dengan penuh dempulan. Bisa bersuara, tapi tak terlalu bagus. Saya belajar memainkan gitar. Sampai suatu hari, tak lama setelah masa gitar dempulan itu, ayah saya mengajak saya pergi ke toko buku dan menyuruh saya memilih sebuah gitar baru. Itu sore yang indah dan sulit untuk saya lupakan. Sore itu saya punya gitar baru, YAMAHA C-310. Dawainya berbahan nylon, lembut disentuh oleh jari. Suaranya, catnya, begitu nyaman didengar dan dilihat. Malamnya saya belajar menyetem gitar sendiri, dan bisa. Sejak malam itu, hingga malam-malam berikutnya, saya punya teman pengantar tidur: gitar. Beberapa lagu saya pelajari. Lambat laun, saya mulai menciptakan lagu, membuat liriknya, mengkhayalkan aransemennya, dan memberi tahu kawan-kawan saya. Jika sempat, saya dan kawan-kawan saya memainkannya dalam studio band sewaan.

Sebelum berangkat sekolah, setelah pulang sekolah, sebelum tidur, setelah bangun tidur, saat tak bisa tidur, saya kerap memetik gitar saya. Saya begitu disiplin dengan gitar itu: saya akan membersihkannya dengan lap bersih secara berkala dan saya tak akan menyentuh gitar saya itu setelah saya memegang makanan dan belum membersihkan tangan saya.

Hingga kemudian saya harus pergi ke luar kota demi bangku universitas. Gitar itu saya bawa dan tetap menjadi teman tidur saya yang setia. Di suatu hari minggu yang ramai, beberapa kawan yang menggelar aksi simpatik di tengah pasar, membawa gitar saya sebagai properti aksi. Mereka bernyanyi-nyanyi dan berorasi seraya membagi-bagikan selebaran. Itulah untuk pertama kalinya gitar saya punya luka di badannya. Luka kecil, tapi cukup membuat saya bersedih.

Lalu pernah juga saya dan kawan-kawan saya memutuskan untuk menghabiskan malam tahun baru dengan ber-camping. Kami naik ke dataran tinggi Bandung Selatan. Camping tanpa tenda. Udara dingin dan gerimis turun. Gitar itu sedikit basah dan bersuara parau. Sepulangnya, saya sibuk merawat gitar saya, menjemurnya di bawah matahari pagi, memasukkan kapur barus agar jamur tak tumbuh. Gitar itu kembali bugar.

Dan yang tak terlupakan adalah saat hujan turun begitu lebatnya dan saya tertidur di suatu siang. Kamar kost saya bocor tanpa saya ketahui. Sialnya, tetesan bocor itu jatuh tepat ke dalam lubang gitar saya. Bukan tetesan kecil, tapi tetesan deras. Gitar saya berubah menjadi wadah penampung air bocor. Saya sedih dan kesal.

Namun begitu, kenyataannya gitar itu masihlah gitar yang mampu mengeluarkan suara bagus. Seorang kawan pernah bertanya heran mengapa gitar saya masih saja bersuara bagus padahal usianya telah sepuluh tahun.

Sampai beberapa waktu lalu, di sebuah pagi yang tanpa firasat, seorang tetangga saya bercerita bahwa semalam ada pencuri yang masuk ke tempat tinggal saya dan kawan-kawan saya. Pencuri itu membuang barang curiannya berupa tas saat terlihat oleh tetangga saya itu dan lalu berlari. Tas itu milik kawan saya. Isinya utuh, buku-buku. Mungkin pencuri itu tak terlalu suka membaca. Saya cuma berkata, untunglah tak ada yang hilang. Beranjak siang, seorang teman saya yang baru datang hendak meminjam gitar saya. Pada saat itulah saya baru tersadar, gitar saya digondol pencuri malam tadi.

Saya kesal, tapi cuma bisa tertawa. Saya sedih, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Saya marah, tapi malah bertanya buat apa?

Itu salah satu kehilangan yang menyakitkan. Dua (atau tiga) pasang sepatu saya, entah berapa pasang sandal, sekian buku, belasan kaset, pakaian, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya, pernah hilang dari hidup saya. Tapi kehilangan satu saja gitar, sudah cukup membuat sedih.

Di sore hari, di malam hari, terkadang saya merindukan gitar saya itu.


Dan dua malam lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk terlambat ke ponsel saya. Dari kawan baik saya. Isinya:

'temen2 bisa tlg beliin pulsa skrg ga ke nmrku ntar d ganti. mohon bgt yg 20 aja. arip bru kena musibah, kehilangan motor. doain ya mdh2 an bisa ketemu lagi.'
(23:38 arip pum).



Demi apapun, ada apa ini?! Minggu ini seorang kawan saya telah kehilangan kekasihnya, dan kini seorang kawan lagi kehilangan motornya!

15.4.06

Surat dari Agung

Imam sahabatku,

Dikau selalu kudoakan untuk bisa: bisa menjadi pasangan hidup Rescinta, bisa menjadi mahasiswa yang lolos juga akhirnya untuk dikerubuti toga (wisuda), bisa menjadi enterpreneur yang handal, bisa menjadi penulis yang flamboyan, bisa menjadi backpacker yang mampu menelusuri dunia dan menaklukkan Amerika Latin. Doa terbesarku adalah kamu bisa menjadi seorang bapak yang luar biasa bagi si kecilmu.

Imam tolong bangunkan aku pukul 11.00. Hidupku di tanganmu, teman. Saat ini KGB, CIA mengejar-ngejar diriku. Katanya, aku punya kesalahan besar yaitu susah tidur meski telah kututup rapat-rapat mata. Tetap saja pikiranku menembus langit-langit toko ini dan bermain ke mana dia inginkan.

Agung

(Agung temanku, semoga benar Tuhan baik hati dan menganugerahkan kita malam-malam nyenyak. Kita sudah terlalu berdosa pada raga ini: kapan terakhir kita lelapkan ia jam sepuluh malam?)

11.4.06

8.4.06

Roda Hidup

Di tengah keasyikan menonton sendirian sebuah film panjang italia, The Best of Youth, sebuah pesan pendek datang ke ponsel saya. Dari kawan lama. Kemarin dia berulang tahun, 24 tahun. Tiga tahun lalu ia menyelesaikan pendidikannya di IPB. Dan sejak tiga tahun lalu pula statusnya berubah tanpa pernah berganti: pengangguran.

Sore itu dia menanyakan kabar saya, sedang apa, kapan ke Bekasi. Dia bilang: gw baru pulang gawe, nih!

Anjrittt...! Itu kata pertama saya. Rasa-rasanya pengen banget berteriak di depan dia menyatakan rasa senang saya yang luar biasa. Dia diterima di sebuah perusahaan besar, PT JAPFA. Tenaga kontrak. Gimana gak senang: tiga tahun nganggur, diputusin pacar setelah tiga tahun pacaran (dan mau kawin lagi!), berjuang sendirian melewati krisis orientasi hidup setiap pagi-siang-sore-malam, dan tetap harus jadi anak sulung dengan adik-adik yang punya status ''jelas'' (PNS, mahasiswa, pelajar), dan kini dia... bekerja! Hari itu dua ucapan selamat buat dia: selamat ulang tahun dan selamat untuk sebuah pekerjaan.

Tapi mendadak saya punya perasaan aneh. Dia bekerja, di PT JAPFA, sebuah perusahaan besar yang pernah mem-PHK 1200 karyawannya lantaran flu burung. Dia bekerja, saat revisi undang-undang ketenagakerjaan begitu merisaukan. Dia bekerja. Bekerja. Bekerja.


Apakah benar begitu banyak orang yang memang tak bisa lagi hidup dengan kebebasan memilih? Sistem ekonomi ini, apakah benar-benar telah memaksa begitu banyak di antara kita sehingga kita tak lagi diizinkan punya mimpi indah untuk hidup kita sendiri? Karena satu-satunya obat untuk kawan baik saya itu, rasa-rasanya, ya mengambil pekerjaan kontrakan itu. Dan itu mengharuskan saya mengucapkan 'selamat' untuk dia.

Saya tiba-tiba tak tahu, apakah saya harus senang ataukah ngeri sendiri melihat kenyataan itu. Senja itu saya tak lagi mengerti apa surga apa neraka.

3.4.06

13 Saran Buat Para Aktivis Gerakan

Catatan: Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan para aktivis yang telah banyak bekerja keras; mencurahkan waktu dan tenaganya demi permasalahan sosial dan sekitarnya. Ini adalah kritik atas hal-hal yang menghalangi kita untuk membangun gerakan aktual. Banyak orang yang merasa bersalah dengan hal-hal yang disebutkan dibawah ini, termasuk saya sendiri. Jadi, tolong jangan tersinggung ya! (Yang mana masalah singgung-singgungan ini akan membawa kita pada pokok permasalahan yang pertama...)


I
Sisipkan sedikit sense of humor, jangan kelewat serius lah.

Semua orang sudah tahu, dunia tidak akan berubah dalam semalam. Terserah seberapa keras kalian berusaha. Tertawalah sesekali, buat guyonan soal betapa kacaunya situasi yang ada. Jangan lupa untuk menyisihkan sedikit waktu untuk menertawakan diri sendiri dan kemajuan yang telah kalian perjuangkan selama ini. Tentunya kalian juga sudah sering kumpul dalam satu ruangan dan membicarakan tema-tema yang serius dengan menggunakan diplomasi buatan yang ditempa di dalam forum. Kita tidak musti mengerutkan dahi selama 24 jam sehari, bukan? Tertawa barang sejenak tentu tidak ada salahnya, betul tidak? Sedikit menyindir diri sendiri bisa membuat arah perjuangan tetap dalam perspektif yang benar dan mungkin bisa membuat kalian merasa lebih baik atas apa yang telah kalian selesaikan. Membuat guyonan soal diri sendiri dan kawan-kawan yang lain bisa jadi sarana kritik/otokritik dalam suasana yang lebih santai. Bahkan Emma Goldman pun pernah berkata: ''If I cant dance, I dont want your revolution.'' Ah, kalau itu sih kita semua sudah tahu...


II
Kritik itu perlu dan penting bagi perjuangan.

Menganalisa apa yang salah dan mana yang benar dalam aksi atau kampanye yang kalian lakukan bisa membantu kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengarkan masukan dari luar kelompok kalian, khususnya dari mereka yang berseberangan dengan kalian, yang mana bisa kalian antisipasi terlebih dulu seandainya saja itu dimaksudkan untuk menghalangi perjuangan kalian. Banyak aktifis dan revolusioner besar yang mengkritik keras dirinya sendiri untuk menyadari apakah yang mereka lakukan selama ini benar ataukah salah.

Untungnya, tidak seperti Che Guevara atau Buenaventura Durruti, kita tidak usah melakukan itu dibawah hujanan peluru (setidaknya belum lah).


III
Memperlakukan semuanya sebagai perorangan.

Saya sering kesal ketika para Marxis dan anarkis itu menyebut ''massa'' atau ketika para aktivis anti-korporasi mengejek teman-teman sebayanya sebagai ''anak nongkrong MTV''. Dengan men-dehumanisasi manusia ke dalam kategori-kategori yang kelewat menggeneralisir itu membuat kita lupa kalau kita sedang berhadapan dengan sosok yang miliki nama yang punya alasan atas apa yang mereka lakukan itu; entah itu karena turunan keluarga, pengaruh media atau propaganda negara, atau kebetulan terlahir dalam budaya yang memang sudah seperti itu. Tokh, tidak ada seorang pun yang bisa memilih Ia akan terlahir sebagai apa. Dengan mendekati semua orang sebagai perorangan, kalian akan bisa mengingat kembali bahwa pernah ada suatu masa dimana kalian juga tidak memiliki keyakinan seperti sekarang dan mungkin juga pernah merasa terasing ketika ada aktivis lain yang berusaha menyebarkan pesannya kepada kalian pada waktu itu. Jadi, faktor terpenting dalam mendekati ''massa'' itu (dalam terminologi yang kalian pakai itu ya) bisa jadi bukan apa yang HARUS kalian sampaikan tapi apa yang SEBENARNYA. Ingat, mereka juga manusia, mereka punya nama, mereka juga punya alasan... Berhentilah untuk selalu berusaha menjadi penggembala!


IV
Dengarkan apa yang orang lain katakan dan ketahuilah siapa yang kalian tuju.

Terkadang tanggapan orang atas apa yang telah kaian lakukan bisa jadi panduan paling baik untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Ketika kalian tahu dengan siapa kalian berbicara, kalian bisa mengemas pesan kalian sesuai dengan siapa mereka sebenarnya.

Dengan mengetahui siapa yang kalian ajak bicara, kalian bisa mengemas pesan yang kalian angkat sedemikian rupa sehingga tidak hanya sekedar faktor-faktor abstrak yang mereka sendiri tidak bisa mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: Ketika kalian bicara soal penghapusan diskriminasi rasial para pendatang kepada orang-orang ''pribumi'' (maaf, saya terpaksa nih pake istilah ini), maka kalian bisa membahas bagaimana studi-studi antropologis membuktikan bahwa suku asli di Indonesia tidaklah ada dan dengan pengandaian seolah mereka berada dalam posisi yang menjadi objek perlakuan sewenang-wenang itu. Atau ketika kalian bicara soal dampak buruk penyeragaman yang dilakukan oleh MTV kepada anak-anak gaul yang sering nongkrong di Parkir Timur Senayan, kalian bisa membuktikan betapa menyenangkannya untuk menjadi unik dan tidak tergeneralisir jargon-jargon marketing semacam ''gue banget'' itu.

Tapi, maaf-maaf saja, ketika kalian berusaha meyakinkan para tukang becak bahwa dengan menjatuhkan seorang atau lebih tokoh puncak dalam hirarki politik tertentu dan menggantikannya dengan yang lain akan membuat segalanya menjadi lebih baik... saya tidak melihat adanya relevansi gontok-gontokan antara para elit politik dengan perbaikan kehidupan ekonomi mereka.

Dan, oh iya, jangan memakai bahasa aneh yang mengawang-awang nun jauh di atas sana. Kalau kalian tetap ngotot untuk membuat generalisasi seperti yang selama ini kalian lakukan dan terus berusaha mendekonstruksikan hegemoni kelas-kelas istimewa yang diuntungkan sistem sosial-ekonomi, ya jangan berharap banyak deh! Kalau kalian mengenal siapa yang kalian ajak bicara maka kalian bisa bicara dalam tingkatan yang sama dan menggunakan bahasa yang mereka pahami pula. Ingat, kalian tidak sedang berbicara dengan Michael Foucault atau Yasraf Amir Piliang! Lagipula, bahasa-bahasa akademis semacam itu hanya bisa dipahami oleh mereka yang cukup beruntung bisa lahir di tengah keluarga yang mampu memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya sampai ke bangku universitas. Bahkan saya pun tidak pernah berharap tulisan ini dan situs saya itu dibaca oleh buruh-buruh pabrik. Apa sih untungnya mempromosikan perubahan sosial kalau kalian menyampaikannya dengan gaya yang elitis?


V
Berisik, jangan teriak melulu dong!

Oke, kalian memang marah tapi kalau kalian terus-terusan berteriak ke semua orang dan bukannya berbicara, mereka tidak akan dengar. Kamu pikir mereka akan mau mendengarkan dengan seksama kalau kalian hanya berorasi dari atas Metromini sewaan dengan megaphone layaknya seorang rockstar... hahaha, dalam mimpi mungkin bisa. Jadi, sebelum turun buat demo, cobalah untuk jalan-jalan barang sebentaran dan cobalah berbincang-bincang dengan beberapa orang di jalan. Kalian akan lihat bagaimana respon mereka kalau kalian berbicara baik-baik, respon yang akan kalian dapat tidak hanya sekedar sorakan ''setuju,'' makian ''uh, bikin macet jalan aja,'' atau kepala yang menengok ke arah yang berlawanan dengan posisi kalian sebagai tanda tidak peduli. Ada saatnya untuk marah, dan ada pula saatnya untuk berbicara baik-baik. Jadi, pikir dulu sebelum teriak.


VI
Hanya mengangkat satu masalah malah bisa jadi masalah itu sendiri.

Sementara kalian punya beberapa masalah yang dianggap paling sreg di hati, tidak seharusnya kalian menutup mata atas kemungkinan adanya hubungan saling keterkaitan antara isu-isu itu atau dengan isu-isu yang lain dan jangan berhenti untuk terus mencari adanya akar-akar historis yang sama diantara isu-isu itu. Kadang memperjuangkan satu masalah saja bisa merusak perjuangan itu sendiri, misalnya perjuangan para feminis garis keras yang malah ingin membuat patriarki versi perempuan (untuk ini saya sering menjuluki mereka Feminazi) atau kiprah para anti-rasis yang malah tidak lebih baik dari pada kaum rasis itu sendiri (misalnya gerakan Black Planet yang malah jadi black people racists).


VII
Julukan keren sebagai aktivis tidak menutup kenyataan kalau kalian tetap berengsek.

Tidak bisa bohong, kenyataan membuktikan banyak aktivis progresif-revolusioner yang kelakuannya tidak lebih baik dari lumpen atau preman. Banyak kasus seperti ini, misalnya saja di kampus saya dimana seorang aktivis yang lumayan dianggap radikal ketika berada didepan barisan sambil memegang megaphone ternyata dalam kesehariannya tidak lebih dari seorang bangsat yang kerjanya hanya petantang-petenteng disana-sini hanya karena di jaket almamaternya banyak tertempel emblem gerakan dan Che Guevara dan memakai kaos bertuliskan ''revolusi'' atau kasus di tahun 98 dimana beberapa orang mahasiwa memaksa para supir angkot untuk membeli koran keluaran mereka yang isinya belum tentu dipahami semua orang dengan mudah. Belum lagi masalah pelecehan seksual terhadap karyawati yang pulang kantor ketika kalian sedang demo di jalan-jalan ibukota. Untuk mengatasinya, setidaknya kalian bisa introspeksi diri dan membicarakan masalah ini secara terbuka dengan pemikiran yang dewasa termasuk dengan pihak-pihak yang bersangkutan.


VIII
Dunia tidak bisa diselamatkan melalui e-mail.

Walaupun yang kalian lawan memang sistem bukan produknya, tidak peduli bagaimana efisiennya perjuangan kalian setelah adanya teknologi, tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan dan keintiman yang dihasilkan oleh hubungan dan komunikasi antar manusia. Walaupun internet telah banyak meningkatkan intensitas komunikasi kalian dan membantu jaringan pergerakan-pergerakan global (seperti update email dari Zapatista dalam aksi-aksinya), kalian tidak bisa melupakan kenyataan bahwa penggunaan internet telah banyak memberi kontribusi bagi korporasi-korporasi besar di Amerika dan adanya fakta kuantitatif yang membuktikan bahwa lebih dari 98% penggunaan internet digunakan untuk mempercepat perputaran arus uang dalam kegiatan investasi spekulatif yang dilakukan oleh segelintir orang-orang kaya di penjuru dunia. Kalian tidak bisa selamanya menggantungkan diri kepada teknologi, berikanlah perjuangan kalian sedikit sentuhan pribadi.


IX
Buang jauh ''isme-isme'' itu ke dalam toilet.

''Wah, keren. Kamu seorang ...-is (isi titik-titik itu dengan tipikal label ideologi aktivisme).'' Bagi sebagian besar orang yang tidak menganut ideologi-ideologi tersebut (kalian mungkin akan memberi penanda menghina seperti ''massa yang terilusi''), label-label itu penuh stereotipikal media korporasi dan propaganda negara yang mereduksi aspek-aspek positif yang dibawa label-label ini. Misalnya, ketika kawan saya -seorang vokalis band hardcore dari Kanada yang juga seorang aktifis ARA (Anti Racist Action)- berkata kepada seorang redneck kulit putih pengelola sebuah peternakan ''Aku seorang multikulturalis!'', Ia menjawab sambil mengayunkan garpu rumputnya ''Oh, jadi kamu benci orang kulit putih ya?!'' Supaya tidak mendapat praduga yang malah menyulitkan ruang geraknya akan jadi lebih baik seandainya saja Ia berkata ''Aku percaya ras adalah sebuah konstruksi historis; dimana memandangnya hanya sebatas fisik atau biologis tidaklah masuk akal bagiku, tapi kita telah dimanipulasi untuk mempercayai apa adanya dan memperlakukannya seperti itu (hmm... maaf, saya agak ribet untuk ngasih bahasa yang lebih down-to-earth lagi).'' Dan bisa saja itu akan memancing diskusi lebih lanjut.

Jadi, sebelum mulai mengumumkan diri kalian sebagai sayap kiri ''-isme,'' ''-is,'' atau ''-ian'' (contoh: Marxisme, Marxis, Marxian), pertimbangkan dulu apa yang mereka pikirkan soal label yang akan kalian pakai. Jangan terlalu norak untuk kepingin cepat-cepat orgasme hanya karena menyandang gelar ''anarkis'' atau ''komunis'' sebelum kamu benar-benar bisa menjelaskan: apa yang orang-orang sering dengar soal label-label itu dari media? Kalian tentu masih ingat kan bagaimana wajah media di Indonesia selama 32 tahun dibawah rezim OrBa itu (sampai sekarang juga masih sih)?
Biarkan tindakan yang mendefinisikan siapa kalian, bukan ''isme-isme'' itu.


X
''Fasisme gaya hidup'' sucks!

Kenapa sih kalau menjadi seorang aktivis sepertinya harus berpenampilan kucel dan old-school? Dalam sebuah kegiatan rekruitmen, pernah ada seorang aktivis yang seenaknya saja mencoret sebuah nama hanya karena penampilannya yang trendi dianggap kontra-revolusioner dan menyimpang dari garis perjuangan. Mencari keburukan dalam gaya hidup seseorang nampaknya sudah jadi hal yang sangat biasa di kalangan orang-orang progresif ini. Memang sih, menilai kulitnya saja jauh lebih mudah ketimbang harus menelaah lebih dalam pola konsumsi dan akar pemasalahannya. Kalian harus ingat bahwa hanya dengan mengidentifikasi beberapa aspek gaya hidup masyarakat ''barat'' (sialan, saya terpaksa lagi pakai istilah ini disaat saya sendiri sudah tidak percaya adanya pemilahan budaya timur-barat hanya sebatas hemisfer saja), kalian telah lupa bahwa kesalahan terletak pada keseluruhan sistemnya bukan hanya pada mereka yang merasa nyaman untuk mengenakannya. Kekuatan kita lebih dari sekedar sejauh mana kacamata dapat memandang dan jumlah halaman dalam scrapbook kita. Sebagai langkah awal menuju perubahan kita harus bisa menganalisa akar atas permasalahan kita semua, bukan mengasingkan mereka yang berbeda hanya karena masalah gaya hidup. Kenapa juga kalian masih saja mengulangi pola yang sama yang selalu dilakukan oleh gerakan-gerakan relijius-fasis dan korporasi-korporasi multinasional itu? Biarkan mereka menentukan sendiri apa yang mereka bisa atau tidak bisa boikot dan kalian keluarlah dari jebakan moralitas kotak sabun itu.


XI
Kalau kalian tidak beristirahat, kalian akan menjadi robot revolusi, zombie perubahan!

Dalam diri setiap aktivis pasti ada fase dimana kelelahan datang, rasa bosan menyerang, lalu biasanya dia akan butuh waktu barang sejenak untuk diri sendiri. Hey, itu wajar bukan? Dalam masa-masa ini siapapun akan lebih banyak meluangkan waktu untuk memberi gairahnya sebuah ruang penyegaran temporer, melakukan hal-hal yang benar-benar menarik minatnya, bukan hanya sekedar demi peran historis kaum revolusioner muda atau apalah. Sialnya, dengan kejamnya beberapa orang biasanya akan menyebutnya sebagai ''demoral'' atau ''pengkhianat revolusi.'' Hahaha, perjuangan adalah hal yang sangat berat, revolusi bisa jadi baru akan terjadi dalam waktu yang tidak pendek ke depannya. Tuntutan-tuntutan bunuh diri kelas seperti ''mencurahkan jiwa dan raga sepenuhnya demi perubahan'' hanya akan melahirkan milisi-milisi tanpa hasrat. Bahkan dalam beberapa kasus, seorang aktivis bisa sampai memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dicintainya. Kita tidak menginginkan itu, bukan? Bahkan seorang Assata Shakur pun pernah berkata bahwa yang terpenting adalah tumbuh secara personal, menjaga hubungan baik dan menyisihkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bisa menorehkan sebilah senyum di pipi. Revolusi tidak butuh robot, perubahan tidak butuh zombie... semua itu butuh MANUSIA untuk melakukannya.


XII
Jangan bersikap sektarian!

Ada kejadian bodoh yang sering sekali saya lihat di lapangan maupun dalam perdebatan di dalam mailing-list. Bagaikan dua kelompok anak kecil di mana yang satu berperan sebagai Mighty Morphin Power Ranger dan yang satu lagi sebagai Goggle V bermain perang-perangan, banyak dijumpai para aktivis yang saling gontok-gontokan hanya karena mereka berada di bawah bendera organisasi yang berbeda (oh tidak, kebanggaan buta ini lagi yang jadi masalahnya). Sama seperti kelompok anak-anak kecil tadi yang membuat simulasi atas kehebatan jagoannya di layar kaca padahal tujuan mereka hanya ingin bermain, para aktivis ini saling bermusuhan hanya karena perbedaan buku yang dibaca atau rebut-rebutan ''massa'' padahal tujuan mereka sama yaitu membuat perubahan. Kalau perubahan yang mereka inginkan dapat dengan mudah didefinisikan sebagai ''mengganti orang-orang dalam pemerintahan dengan orang lain,'' maka jelas sudah motif mereka: mereka sudah ngebet ingin jadi birokrat baru. Heheheh!

Selama ini sudah banyak kita lihat sendiri adanya perpecahan-perpecahan semacam ini. Sebabnya berkisar mulai dari adanya ketidakcocokan pribadi, sampai perdebatan soal ideologi dan strategi. Tidak heran, banyak para aktivis yang keluar dari gerakannya dan berakhir dengan mendirikan sebuah gerakan baru. Kalau kita mengatasnamakan multitude gerakan seperti yang ada di buku Empire-nya Hardt/Negri sih itu malah bagus, tapi kalau sampai gerakan baru itu malah menambah daftar musuh baru sih jadi lucu. Pergerakan malah jadi retak dan terfragmen ke dalam banyak klik-klik kecil yang saling mencibir kalau bertemu di lapangan sampai-sampai kita lupa akan kesamaan yang kita miliki dan hanya mempermasalahkan kebencian kita satu sama lain.

Untuk hal ini di antara kita, bisakah kita menyepakati beberapa hal yang penting? Apakah setidaknya kita punya musuh bersama? Bisakah kita melupakan perbedaan-perbedaan kita dan bekerjasama menuju sebuah konsensus sehingga kita tidak usah lagi main tikam dari belakang? Bagi kalian yang masih baru dalam gerakan, tetaplah berkonsentrasi dalam permasalahan yang ada dan jangan ikut larut dalam masalah-masalah seperti ini. Bagi kalian yang ''orang lama,'' perjuangan demi perubahan dimana pun juga tidak butuh warisan kebencian seperti itu (dulu saya pikir hanya anak-anak STM saja yang suka mewariskan kebenciannya terhadap sekolah lain kepada adik kelasnya. Ternyata...).


XIII
Mendefinisikan ulang aktivisme.

Menjadi aktivis adalah posisi kultural yang ada dalam masyarakat kita. Sudahlah, kita semua tahu stereotip-nya: tidak bisa bergaya, selalu merasa benar soal isu ini atau itu, kerjaannya teriak-teriak atau nyanyi-nyanyi di jalanan, mengacung-acungkan plakat tuntutan, di seret-seret polisi, mengacungkan tangan sambil pegang megaphone, dan lain sebagainya. Tapi mengambil bagian dalam kultur aktivisme ini kita mengalienasikan banyak orang yang seharusnya berada di posisi yang sama dengan kita berdiri. Tapi berapa banyak orang yang tergerak hatinya ketika melihat pemberitaan kalian di media-media? Seberapa banyak kita mempengaruhi nilai-nilai stereotip ini?

Tapi lihat apa yang terjadi. Banyak, dan lebih banyak lagi orang yang turut berjuang demi perubahan sosial hanyalah orang ''biasa.'' Ada banyak aksi-aksi tanpa bentuk yang tidak akan pernah kita dengar: mereka yang membentuk kelompok diskusi, mereka yang mendefinisikan dirinya sendiri dan di mana posisi mereka dalam masyarakat, mereka yang memilih untuk memboikot beberapa produk dan tidak mengikuti tren, mereka yang tidak mempercayai uang dan melakukan aksi transaksi tanpa uang alias mencuri, mereka yang menempati bangunan kosong yang disia-siakan pemiliknya sebagai jawaban atas permasalahan tempat tinggal dan gentrifikasi, mereka yang muak dengan perintah bosnya dan memanfaatkan fasilitas di kantornya untuk memenuhi kebutuhan komunitasnya, mereka ada di mana saja dan tetap berjuang kapan pun mereka bisa.

Mereka hanyalah orang-orang biasa yang merespon stimulus dasar di mana hidupnya telah tercuri oleh sistem dan mereka tidak bisa duduk diam dan menerima begitu saja. Mereka juga aktivis, walaupun tidak mendapat privilese atas penanda itu. Revolusi juga akan datang dari tangan mereka. Mereka yang selalu menyebut dirinya ''aktivis'' harus keluar dari jebakan pengkotak-kotakan yang mengkungkung dan mendengarkan apa yang benar-benar dikatakan oleh orang-orang, bukan hanya sekedar membaca habis semua buku yang ada di dalam perpustakaan ''radikal.'' Semua ''isme-isme'' yang sering kalian klaim sebagai identitas itu hanyalah nama yang diberikan oleh para teoris ideologi kalian atas kecenderungan yang sudah biasa ada dalam diri setiap manusia. Semua istilah itu hanya akan tetap menjadi kata-kata sampai tindakan kita memberi arti yang sebenarnya dan kita mendefinisikannya bagi diri kita sendiri seperti apa bentuk perjuangan kita. Sampai saat itu, aktivisme akan tetap mengalienasi manusia yang juga berusaha menggapainya.

(Tulisan ini saya temukan bertahun-tahun lalu di blog sayap-imaji. Blog itu telah hilang kini. Agak menyesal juga, karena begitu banyak tulisan-tulisan di blog itu yang menginspirasi diri saya dalam menjalani hidup sehari-hari).

29.3.06

Minesweeper

Setelah sekian lama menelantarkan begitu banyak rencana, nyaris menjadi orang yang tak peka dunia luar, nyaris autis dan memiliki dunia sendiri, menjadi orang tak acuh yang tak memandang lawan bicara, menjadi orang yang begitu sensitif jika ada sedikit saja gangguan, dan menjadi nyaris buram mata, semuanya tepat jika saya berada di depan layar monitor komputer....

rekor minesweeper saya mencapai puncak kegemilangannya:

beginner : 4 seconds
intermediate : 41 seconds
expert : 131 seconds

hah! kini saatnya melihat dunia lagi... :)

23.3.06

Satu Saja Batu...

Mengapa aku tak bisa lagi menatap matamu setelah kejadian sore itu? Sedemikian merasa bersalahkah aku? Padahal, terkadang aku bisa bercermin nyaris sempurna di lingkar matamu.

Disiplin. Kau katakan itu padaku, bukan hanya lewat pesan pendek, tapi sekaligus di depan kawan-kawan kita. Kau bahkan berkata gerakan paling disiplin sekalipun berpotensi dihancurkan. Maka, katamu, tak ada pilihan lain selain disiplin. Atau Lenin akan lahir kembali dan mendisiplinkan lewat partai elite.

Kau sendiri telah bilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Itu salah kita. Tapi entah kutukan apa, aku lebih suka menanggung dosa ini sendirian.

Aku selalu berharap kita satu garis di dalam sebuah lingkaran sindikasi tanpa hirarki. Bukankah kita masih percaya kerjasama sukarela jauh lebih menjanjikan ketimbang sentralisme demokratik? Tidakkah kita yakini bahwa duduk setara di bawah jauh lebih bersahaja ketimbang ''kau di sana aku di sini - bersama kita menjadi partikel leninis''?

tidakkah kita sama-sama tak menginginkan revolusi yang akan membakar habis semua yang berwarna 'merah jambu' yang kita punya?

Dan kedatanganmu senja tadi, di mana kau begitu penuh tawa dengan membuat lelucon-lelucon segar. Berhasil membuatku tertawa hingga air mata nyaris tumpah. Kau masih tetap membawa kesegaran-kesegaran di lingkar-lingkar manis ini. Kau bahkan meminjamkanku buku berwarna merah untuk kubaca-baca.

Sekali saja, sekali saja dalam hidupku, aku ingin melempar sebuah batu di sampingmu.

14.3.06

Ke Duniamu

Jika memang mungkin, saya tak ingin menukar apapun lagi sekarang. Ini sudah cukup buat saya, teramat cukup. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.

Semuanya terlalu membuat menyenangkan. Kamu harusnya tahu, tak ada yang saya tunggu sejak dua minggu lalu selain hari-hari ini. Di halaman gedung tua, di bawah lukisan berumur seabad lebih, di kursi kereta, di kantin stasiun, bergelantungan di dalam busway, di trotoar-trotoar. Semuanya.

Dan kemarin. Saat saya menghabiskan senja di dalam bis kota yang cuma mampu merayap menuju tempatmu. Senja yang tak kalah indah dari senja yang pernah saya ceritakan kepadamu saat kamu menghabiskan malam di pantai utara Jakarta. Dan betapa ingin saya menceritakan lebih banyak lagi senja untuk kamu.

Atau malam tadi, saat saya menceritakan begitu banyak kegelisahan di beranda tempat tinggalmu. Terpatah-patah dan tak ada daya. Kamu malah memegang tangan saya, membawanya ke wajahmu dan memberikan senyum lagi untuk saya.

Kalau memang mungkin, Re, saya tak ingin waktu berjalan lagi. Cukup ini saja. Kamu, kota ini, dan senyum-senyum kita.

10.3.06

To: Pemerintah dan DPR Republik Indonesia

Kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,

Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu negara multi-etnis dan multi-kepercayaan yang memiliki lebih dari satu kepercayaan maupun nilai-nilai budaya yang tentu saja memiliki banyak perbedaan di sana sini dalam mempersepsikan suatu hal.

Suatu hal yg bermakna A pada satu sistem nilai, bisa jadi akan bermakna B di nilai2 yang lain, di mana A dan B berbeda satu dengan lainnya. Dan tidak ada satu pun yang berhak memaksakan nilai-nilai yang dia pegang utk berlaku secara absolut kepada orang-orang lain yang berasal dari sistem nilai yang berbeda.

Lebih daripada itu, dalam menetapkan suatu peraturan perundang-undangan, negara harus mampu membedakan mana "wilayah publik" yang boleh dan harus diatur oleh undang-undang, dan mana yang termasuk "wilayah pribadi (private)" yang tidak boleh dan tidak berhak untuk diatur oleh negara.

Sehubungan dengan maraknya pembahasan RUU Antipornografi dan pornoaksi (RUU APP) di parlemen saat ini, kami mendukung sepenuhnya pengaturan akan hal pornografi/pornoaksi ini, selama itu masih di dalam wilayah publik, dan sama sekali tidak mencampuri hak pribadi seseorang untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dia pegang, selama pengekspresiannya itu dilakukan dengan cara yang tidak menganggu orang lain secara langsung.

Tapi, berhubung draft RUU APP ini terlihat sudah mulai memasuki wilayah pribadi warga negara, seperti misalnya memuat pengaturan bagaimana tata cara berpakaian seorang warga negara itu (seperti yang diatur secara tidak langsung di dalam pasal 25 RUU APP ini), maka kami dengan ini mengatakan :

KAMI MENOLAK DAN MEMINTA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MEMASUKI WILAYAH PRIBADI DARI SEORANG WARGA NEGARA.

Kami mendukung pemberantasan pornografi dan pornoaksi di dalam wilayah publik, seperti misalnya pemberantasan tabloid-tabloid porno, siaran televisi yang mengumbar nafsu, dan sejenisnya.

Tapi TIDAK PENGATURAN MENGENAI APA DAN BAGAIMANA SEORANG WARGANEGARA ITU HARUS BERPAKAIAN, ATAU DALAM PROSES BERKREATIVITAS SENI SESEORANG, ATAU SEGALA JENIS AKTIVITAS YANG TERMASUK DALAM WILAYAH PRIBADI SESEORANG.

Hal seperti ini hanya akan melahirkan jutaan polisi moral / hakim moral yang merasa berhak menghakimi moralitas orang-orang lain, tapi tidak pernah sadar kalau mereka pun sama bobrok nya dengan yang mereka coba hakimi. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang maupun Batam beberapa hari yang lalu. Hal-hal seperti ini tidak akan menghasilkan efek bagus apa pun buat moralitas bangsa ini secara keseluruhan.

Sekali lagi, dengan ini, kami nyatakan dengan tegas :

KAMI MENOLAK DAN MEMINTA DILAKUKANNYA REVISI TOTAL TERHADAP RUU ANTI PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI YANG TELAH DENGAN LANCANG MENCOBA MENGATUR WILAYAH PRIBADI (PRIVATE) DARI WARGA NEGARANYA.

Semoga suara kami yang kecil ini bisa memiliki sedikit arti di hadapan yang terhormat Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,

03 Maret 2006,

Sincerely,

(dan jika anda ingin ikut menandatangani petisi ini, anda bisa menandatanganinya di:
http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html

9.3.06

Ya, Saya Kontra Revolusioner!

Ya, saya adalah salah satu pecundang-pecundang kontrev yang mungkin hanya pantas dikasihani atau disadarkan. Saya tidak punya nyali untuk berjalan di atas setapak penuh kerikil tajam ini tanpa alas kaki. Untuk itu, maafkan saya dan juga kalimat-kalimat sloganistis kosong yang pernah saya lemparkan. Karena pada kenyataannya saya kadang jauh lebih buruk dari tabiat negara mana pun yang cuma pandai memproduksi slogan-slogan kosong seraya mereproduksi mitos-mitos tentang patriotisme, nasionalisme, persaudaraan, dan lain sebagainya itu. Saya tak imani betul kata-kata Soe Hok Gie, bahwa perjuangan pemuda bukanlah perjuangan sloganistis belaka. Atau juga syair Rendra yang berkata perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata!

Saya kontra revolusioner. Saya tidak pernah hidup di kampung-kampung buruh dan bergerak bersama mereka untuk mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang membelit, yang karena sebab ini seorang kawan saya berkata seraya tertawa, "Pantas saja hidupmu nyaman!"

Saya bukan pemberontak sebagaimana mereka yang membesarkan saya bukanlah seorang pemberontak. Meskipun sesungguhnya saya tak terlalu yakin apakah memang ada hubungannya antara seorang anak yang jahat dengan orang tua yang jahat, seorang anak yang jago bermusik dengan orang tua yang piawai bermusik.

Saya, betapa celakanya, masih saja berkutat dengan kebingungan-kebingungan tolol atas pilihan-pilihan apakah sprite, fanta, freshtea, atau coca-cola yang saya minum.

Saya diam-diam masih berharap: hari ini saat teman ulang tahun, saya akan ditraktir di kedai fastfood jahat itu.

Hari ini, 8 Maret, di mana begitu banyak perempuan dan laki-laki revolusioner turun ke jalan memperingati Hari Perempuan, saya cuma mengirim pesan-pesan singkat lewat fasilitas yang disediakan motorola dan satelindo. Saya tak serevolusioner seorang kreatif iklan di Jakarta sana yang memang menolak memakai telepon genggam.

Lebih buruk lagi, hari ini saya merencakan untuk membuat t-shirt bintang pink yang akan ditulisi kalimat paling putus asa yang pernah saya dengar, ''Kaum Buruh Sedunia, Menyerahlah!'' Sebuah kalimat yang saya temukan di salah satu komik politik yang melawan globalisasi. Dan kami memerkosa Andre Gorz untuk kami jadikan tameng pertanggungjawaban kami atas t-shirt itu seraya bersembunyi di balik gagahnya 'sosialisme baru'.

Saya tidak semilitan pelajar-pelajar sekolah menengah yang begitu bersemangat membuat terbitan dengan headline sangar, ''musuh sejati kita adalah 'orang tua'!''

Saya masih percaya bahwa kadang masyarakat bisa jauh lebih tuhan ketimbang tuhan mana pun.

Saya tak punya energi untuk melawan semua yang menyerang saya dari berbagai penjuru ruang-waktu. Energi saya malah saya habiskan untuk hal-hal remeh semacam berdiskusi soal kebahagiaan, kegelisahan, atau asal-usul tuhan.

Saya tak pernah sungguh-sungguh menjadi 'aktivis gerakan' yang siap bergerak demi ideologi, organisasi, dan cita-cita.

Saya hanya bisa kagum dan mengangkat topi dari sini kepada para gerilyawan di chiapas, nepal, buru, aceh, dili, semanggi, seattle, genoa, venezuela, atau di manapun, di mana hidup cuma mengenal satu kata: lawan!

Ya, seperti itu, saya pecundang! Betapa hina dan dekadennya. Jadi, maafkan saya untuk keterbatasan saya. Selamat menjadi pemberontak!

8.3.06

Pertemuan-pertemuan Kecil

Sejak kemarin hingga satu jam terakhir, saya mengalami banyak pertemuan kecil. Pertemuan-pertemuan ini sedikit banyak membuat saya berpikir ulang tentang berbagai hal. Aneh juga, mungkin pertemuan-pertemuan itu biasa saja dan lumrah jika dialami. Apanya yang luar biasa kalau cuma sekadar bertemu kawan-kawan?

Paling mula barangkali pertemuan dengan Butre. Itu pertemuan menyenangkan di tengah-tengah kesuntukkan duduk berjam-jam di kelilingi buku-buku di taman-bunga. Dia datang tiba-tiba dari arah kampus berjalan kaki. Biasanya dia datang ke Jatinangor pada hari Kamis, bukan Senin. Dia sibuk skripsi belakangan ini. Mungkin akan sampai Agustus nanti. Berkali-kali dia bilang tak mau mengerjakan apapun selain skripsi hingga Agustus.

Bercelana jeans dan berjaket hitam. Sebenarnya saya gak sendiri di taman-bunga waktu itu, ada Dasuki dan Epul yang juga baru datang entah dari mana. Berempat, kami ngobrol-ngobrol perkara banyak hal. Lalu Dasuki pergi ke luar. Tak lama setelah itu, seorang perempuan datang. Dewi Fadhiah, dia bisa dibilang pengunjung tetap taman-bunga. Biasanya seperti ini, dia meminjam buku untuk beberapa hari lalu mengembalikannya seraya meminjam buku lain. "Pusing kalau gak baca," dulu dia bilang begitu. Hehe. Kebalikan dengan saya yang seringkali pusing kalau membaca.

Dewi memperlihatkan buku Pianist, sebuah buku yang dijadikan film oleh Roman Polanski dengan judul yang sama. Pianist ditulis oleh Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yang turut jadi korban (meski tidak harus mati) akibat kekejaman fasis NAZI di Warsawa. Buku itu diberi kata pengantar oleh Andrzej Szpilman, anak Wladyslaw Szpilman yang menemukan buku yang ditulis ayahnya itu.

Namun, belakangan Dewi malah bicara soal lain. Dia bilang dia sedang asyik-asyiknya membaca trilogi Lord of the Rings. "Memangnya kamu belum nonton filmnya, yah?" Saya bertanya. "Sudah," kata dia, "Tapi baca bukunya juga seru banget. Asyik, ada silsilah keluarganya segala!" Lalu Butre nimbrung dan entah bagaimana tiba-tiba obrolan berubah menjadi... bacaan waktu kecil!

Ah, ini menyebalkan. Mereka berdua tertawa-tawa mengingat bacaan-bacaan masa kecil mereka, Little House, Alice in Wonderland, dlsb, dlsb, judul-judul dan penulis-penulis yang gak saya ngerti. Mereka berdua tertawa-tawa dan berteriak-teriak lantaran saling mengingat cerita-cerita lucu dari buku-buku itu. Beberapa orang di taman-bunga memerhatikan mereka dan ikut-ikutan tersenyum lucu.

Yang tambah aneh, mereka berdua iseng-isengnya coba-coba diskusiin buku-buku itu agak serius. Banding-bandingin dengan buku-buku sekarang, dan bahkan membandingkan dengan buku-buku karya Pram! Dewi, dan juga Butre, terlihat benar orang yang rajin membaca sejak kecil.

Lalu saya nyeletuk, bacaan waktu saya kecil dan masih berkesan buat saya hingga sekarang ada dua: komik mimin dan tom sawyer anak amerika.

Mimin itu komik yang dulu sempat beredar di Indonesia dalam rentang dekade 80-an. Sekarang komik itu rasa-rasanya gak pernah diterbitin lagi. Dibikin sama komikus Meksiko, Yolanda Vargas Dulche dan Sixto Valencia. Diterjemahkan dalam bahasa indonesia oleh Djokolelono. Di zaman Soekarno dulu komik ini dilarang beredar. Yeah, ini memang komik politik. Bercerita tentang anak kulit hitam. Dengan cara yang manis, komik ini nunjukkin gimana parahnya rasialisme yang ada di lingkungan. George Bush sendiri pernah mengecam komik ini. Dari dulu sampai sekarang saya berusaha dapetin komik ini lagi, dan gak kesampaian terus. Susah carinya, dan gilirannya ada harganya mahal untuk ukuran kantong saya.

Kalau Tom Sawyer Anak Amerika itu novel klasik karangan Mark Twain. Bisa dibilang itu adalah presequel dari Petualangan Hucklebery Finn, karangan Mark Twain juga. Jika Hucklebery Finn saya baca bukunya beberapa bulan lalu saja (sedang filmnya sudah agak lama saya tonton, kalau gak salah yang main Elijah Wood waktu kecil), Tom Sawyer Anak Amerika saya baca waktu kelas dua SMP. Duh, dulu senang banget sama buku ini. Sampai-sampai waktu pergi ke dokter gigi saya nenteng-nenteng buku itu dan tetap dibaca sambil nunggu giliran periksa gigi. Tom Sawyer Anak Amerika diterjemahkan oleh A. Moeis.

Nah, kali ini saya nyambung sama Dewi. Dia juga penikmat Mark Twain meskipun dia belum pernah baca Tom Sawyer Anak Amerika dan hanya baru membaca Hucklebery Finn. Pertemuan dengan Dewi dan Butre yang saat itu asyik sekali membicarakan bacaan-bacaan waktu kecil membuat saya agak menyesal mengapa saya tidak membaca buku-buku cerita dunia sejak saya kecil. Sepanjang ingatan saya, saya cuma keranjingan baca cerpen-cerpen dan komik yang ada di majalah BOBO. Dan belakangan, saat kakak perempuan saya memulai kebiasaan membeli majalah remaja saya sering nyolong baca cerpen-cerpen remaja (dan lucunya dulu pernah menulis cerpen untuk salah satu majalah remaja itu. Gak dimuat! Padahal niatnya baik, kalau dimuat honornya bakal buat kakak ;p). Sesekali, lantaran di rumah juga sering ada majalah sastra Horison, saya membaca cerpen-cerpen horison. Salah satu cerpen yang saya masih ingat sampai sekarang adalah cerpen karangan Hermawan Aksan, judulnya Kalimusodo. Saya baca waktu SMP. Wah, itu cerita pewayangan yang benar-benar asyik. Sehingga sebagai orang yang tidak dibesarkan akrab dengan dunia pewayangan, saya juga masih bisa menikmatinya.

Lalu tiba-tiba sore dan malam hari. Minum kopi lagi dan ngobrol-ngobrol lagi. Kali ini dengan lebih banyak orang. Selepas senja, seorang mahasiswa Universitas Widyatama Bandung menelepon dan meminta bertemu. Dia panitia dari acara pameran toko buku alternatif di Bandung. Dia, diantar kawannya yang mahasiswa Unpad, membawa seberkas proposal dan undangan untuk berpartisipasi.

Terus saja seperti itu hingga tadi, pertemuan-pertemuan kecil dengan orang-orang baru yang membawa hal-hal baru. Kadang saya menikmati jika saya berada di taman-bunga. Orang-orang baru datang silih berganti, membawa cerita-cerita dan kesan-kesan baru.

Hingga kemudian saya online saat menuliskan ini, saya bertemu dengan seorang kawan di Jakarta. Cewek ini wartawan di salah satu media milik MNC, yang kalau dalam kata-kata dia, "banyak uangnya hingga kadang suka seenaknya!" Dia satu kampus, bedanya dia sudah lulus. Lucunya di kampus dulu saya gak kenal dia (saya memang gak terkenal!), dan jadi kenal lantaran dulu di media tempat dia bekerja tulisan saya dimuat.

Iseng-iseng saya wawancarai dia sedikit-sedikit. Saya tanya sama dia, besok akan ikut aksi hari perempuan atau nggak? Awalnya dia agak ragu menjawabnya dan malah bilang sekarang lagi malas berpikir soal-soal lain selain dirinya sendiri. Dia lantas nanya, "Egois yah?" Terus saya bilang, "Ya gak seperti itu. Saya malah kadang agak gak respect sama model-model perlawanan pola kawanan begitu. Mungkin beberapa jadi aksi perlawanan yang asyik, tapi yang sering terjadi justru cuma jadi kawanan gak jelas." Saya lalu bilang perlawanan khan gak mesti harus dipolakan dalam bentuk kawanan. Kayak gitu itu rasa-rasanya cuma mentalitas kawanan. Saya bilang saya juga naruh respect sama perlawanan-perlawanan di wilayah pribadi. Personal is political or political is personal. Siapa yang jamin, setelah kita keluar dari kawanan perlawanan kita ternyata tetap menjadi individu yang masih suka mengidealkan jalan ke mal, nonton tv berjam-jam dan mengamini setiap khutbah-khutbahnya, atau nikmatin coca-cola dingin yang memang enak itu?

Hehe, dan dia bilang, "Tadi gw mau jawab itu. Tapi gw takut malah jadi menyinggung loe. Kirain loe aktivis...." Sontak aja saya ketawa. Hei, ada apa dengan kalian para aktivis? Suka tersinggung, yah?

Ya, itu pikiran saya yang muncul setelah pertemuan dengan kawan saya yang wartawan itu. Apa betul aktivis itu suka tersinggung?

7.3.06

Berminat Jadi Presiden? Turunkan Berat Badan Anda!



Judul buku : Opera Sabun SBY
Penulis : Garin Nugroho
Penerbit : Nastiti, Jakarta
Tahun terbit : Oktober 2004
Tebal : viii+190 halaman

Televisi sejak kejadirannya pertama kali ternyata begitu mewarnai banyak sendi kehidupan. Hebatnya, bukan cuma hiburan dan informasi yang dihadirkan televisi ke tengah-tengah kehangatan ruang keluarga, tapi juga meriahnya dunia politik.
Di Amerika, di mana televisi berkembang dengan begitu pesatnya, televisi menjadi ''juru kampanye'' yang handal bagi para calon presiden Amerika. Tidak hanya baru-baru ini, saat Bush dan Kerry bersaing merebut hati para pemilih, tapi sejak dekade lima puluhan silam. ''Di Amerika,'' kata Neil Postman, seorang guru besar ilmu komunikasi, ''Tuhan menganakemaskan mereka yang memilik bakat dan kemampuan untuk menghibur, apakah mereka itu pengkhotbah, atlit, pengusaha, politisi, guru, maupun jurnalis. Di Amerika, justru para penghibur profesional yang paling tidak menghibur.''

Maka saksikanlah fenomena Eisenhower pada kampanye pemilu presiden Amerika Serikat di tahun 1952. Eisenhower dengan terampil menggunakan iklan televisi sebagai media kampanyenya. Sementara Truman di pemilu sebelumnya (1948), menghabiskan tiga bulan demi berjabat tangan dengan 500.000 pemilih. Berikutnya, Kennedy mengulangi cara efektif Eisenhower, menggunakan iklan sebagai media kampanye.

Richard Nixon, mantan Presiden AS yang pernah kalah dalam pemilu mengatakan bahwa ia merasa yakin dirinya kalah lantaran telah disabot oleh para juru rias. Ia lantas memberi saran pada Senator Edward Kennedy: turunkan berat badan barang 10 kilo agar dapat menjadi kandidat presiden yang layak!

Inilah saat di mana kosmetik telah menggantikan ideologi sebagai tawaran para politisi. Dan di Indonesia, menurut Garin Nugroho, sineas kenamaan, masa itu telah datang.

Sebagai seorang yang ahli dalam dunia pertelevisian, Garin Nugroho mengamati iklan-iklan yang digunakan oleh partai-partai politik dan kandidat-kandidat presiden dalam pemilu kemarin. Ia menulis puluhan artikel di berbagai media massa tentang pengamatannya itu. Dan kini, artikel-artikel itu dapat dinikmati dalam sebuah buku berjudul Opera Sabun SBY yang baru saja diterbitkan.

Mengapa opera sabun?

Istilah opera sabun timbul saat drama serial mengalami masa booming di dunia pertelevisian Amerika. Drama-drama itu banyak menyedot perusahaan-perusahaan yang memproduksi sabun untuk memasang iklan. Maka disebutlah drama-drama itu sebagai opera sabun.

Menurut Garin Nugroho, opera sabun adalah sebuah konstruksi seri yang sangat panjang. Struktur kisahnya dibentuk lewat sebuah bangunan pohon keluarga. Pohon keluarga ini mendeskripsikan relasi tokoh beserta karakternya sebagai suatu keluarga besar. Keluarga di sini bukan hanya mengandung pengertian hubungan darah, tapi juga keluarga-keluarga dalam bentuk lain, entah itu bisnis hingga politik (hal.14).
Opera sabun biasanya terdiri dari dua babak. Babak pertama adalah saat dimunculkan tokoh utama perempuan yang ''bersikap pasif, tertindas, melakukan perlawanan dengan jalan sangat bersahaja, sehingga terkesan cuma bertahan di jalan yang diyakininya'' (hal.24). Di babak kedua kemudian muncul tuntutan perubahan. Tokoh mulai menunjukkan sikapnya dan menuntut hak-haknya dengan tegas (meski tetap dengan jalan yang lurus).
Garin Nugroho pada bab pertama buku ini mencoba menganalisis realitas politik
Indonesia lewat struktur opera sabun. Baginya, politik Indonesia tak ubahnya seperti serial opera sabun.

Dalam Era Opera Sabun SBY (hal.35) Garin memaparkan analisisnya soal dua kandidat presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Garin, Megawati adalah tipikal dari pencitraan karakter ibu dalam opera sabun. Ia pernah mengalami penindasan di awal karir politiknya. Namun, ia melawannya dengan penuh karakter keibuan: ''mengayomi dan memaafkan untuk menjaga konflik, dan memberi kebebasan serta ruang luas pada lingkungannya...'' (hal.36). Sementara itu SBY adalah wakil dari citra yang diimpikan, seorang tokoh yang diharapkan muncul untuk memecah kebekuan yang bisa memberi panduan, bersikap tegas, dan menjanjikan perubahan.

Manakah dari kedua tokoh tersebut yang berhasil merebut hati ''pemirsa''? Jawaban telah ada, SBY diinginkan ''pemirsa'' untuk terus melakoni opera sabun politik Indonesia. Dan Garin punya catatannya, ''SBY adalah sebuah fenomena tersendiri. Ia memiliki syarat-syarat kebintangan peran utama opera sabun. Yakni ganteng, suaranya bagus, bahasa tubuhnya mengayomi, memandu, dan komunikasinya santun. Jangan lupa, digemari penonton utama opera sabun, yakni ibu-ibu dan perempuan remaja'' (hal.18).
Inilah sisi lain dari opera sabun. Opera sabun biasanya dikelola dengan kemampuan untuk mengelola penonton dengan memahami masa jenuh penonton, tidak semata-mata mengelola apa yang ditonton. Sepadan dengan apa yang telah diterapkan pada AFI dan Indonesian Idol yang berhasil memecahkan kejenuhan pemirsa pada bintang-bintang lama dengan menghadirkan bintang-bintang baru yang nota bene adalah pilihan pemirsa itu sendiri.

SBY diuntungkan dalam posisi kejenuhan seperti ini. Masyarakat, menurut Garin, rupa-rupanya telah begitu jenuh dengan riuhnya politik Indonesia yang begitu ingar-bingar sejak era kebebasan terbuka di 1998 lalu. Para politisi begitu sering menjadi tamu di tengah-tengah kehangatan ruang keluarga Indonesia dalam enam tahun terakhir. SBY-Kalla mampu tampil sebagai pemecah kejenuhan itu. Keduanya jauh dari citra politisi, melainkan lebih sebagai pemimpin birokrat dan birokrat pedagang. Lihatlah lawan-lawan mereka: Megawati, Amien Rais, Akbar Tanjung, Hamzah Haz, semuanya adalah wakil dari citra politisi yang berkembang di masyarakat.

Hal inilah yang tampaknya dikelola dengan baik sekali oleh tim sukses SBY. Ditambah dengan strategi menampilkan SBY sebagai ikon di berbagai iklan kampanye.

Bagaimanapun, SBY adalah sosok yang begitu ''menjual'' dalam psikologi komunal bangsa Indonesia: ganteng, memiliki suara yang bagus (SBY memiliki kemampuan menyanyi yang baik, dan ini disukai masyarakat kita), tutur yang santun (ingat, SBY pernah mendapat penghargaan dalam Kongres Bahasa). Semuanya adalah perpaduan antara ketegasan militer dalam wajah sipil.

Membaca buku ini akan membawa kita pada jawaban mengapa politik Indonesia semakin sulit terpetakan dalam koridor politik aliran, entah itu ideologi maupun agama. Membaca buku ini memberi kita sebuah perspektif baru dalam menganalisis situasi politik. Bahwa zaman telah bergerak, kini politik Indonesia telah lebih mirip pertarungan para calon bintang meraih para penggemar ketimbang perdebatan para negarawan tentang ideologi. Buku ini seakan mengingatkan kita pada saran yang pernah diberikan Nixon untuk menurunkan berat badan jika hendak menjadi presiden. Politik telah berubah menjadi tontonan layaknya opera sabun.

Sayangnya, buku setebal 190 halaman ini terlalu banyak menyimpan kesalahan tik yang cukup mengganggu. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang, bahkan hanya dalam sebuah halaman.

(beberapa hari ke belakang, saat saya mulai kembali meresahkan penguasa negara ini, saya teringat pada resensi yang pernah saya buat beberapa waktu lampau. resensi ini saya buat setelah saya menghadiri peluncuran buku ini di rektorat universitas padjadjaran. garin nugroho hadir saat itu. tapi saya begitu terkesan pada pemetaan yang dilakukan idi subandi ibrahim di diskusi itu. saya tak tahu, apakah kebijakan SBY untuk menaikkan harga BBM terkait dengan program penurunan berat badan).