10.6.07

Kepada Siapa Kita Menyerah

: yang bertanya ‘mengapa’ di satu senja di tepi jalan

Ketika begitu banyak duri yang tertancap di tapak kaki, atau ketika udara tiba-tiba menjadi begitu sulit dipilah mana yang bagus untuk paru-paru dan tidak, atau juga ketika mata menjadi enggan terpejam, meski rasa-rasanya telah bergantung beban berkilo-kilo beratnya di lentik bulu mata, kita tak tahu lagi apa harus kita perbuat. Kita menyerah. Menundukkan kepala, tanpa mengeluh atau tidak.

Matahari sementara itu selalu beredar pada garisnya. Tak hendak melenceng atau berontak barang sedikit. Menjadi pengingat yang mendera-dera kehidupan. Di tanah-tanah basah embun, di aspal-aspal buram, di pucuk daun muda, di tas kusam anak sekolah. Memancarkan sebuah semangat yang mesti ditelan tanpa dikunyah.

Kehidupan seolah-olah cuma sesuatu yang buruk rupa dan setengah mati ingin selalu kita hindari.

Lalu ingatan kita melayang kepada suatu pagi yang gagal sepuluh tahun lalu. Tak satu pun benih kita tanam di tanah belakang rumah kita. Tak secangkir pun minuman hangat tersaji di meja samping ranjang kita. Kita kosong – dan sepi. Di sudut kamar, ada terlihat arus cahaya menimpa baju-baju kumal kita. Bergeser senti demi senti mendekati selimut kaku.

Kita lantas tahu hari telah berganti lagi. Namun, betapa terkutuknya ia, betapa sialnya manusia, kita juga tahu itu adalah hari yang sama belaka seperti hari-hari yang sudah.

Keriuhan di luar kamar kita tak terdengar serupa lagu cinta lagi. Membuat kita semakin enggan untuk membuka telinga baik-baik. Di kamar ini, kita tahu, labirin ini tak akan dan tak akan pernah bisa kita pecahkan.

Tapi kita seperti terhukum untuk terus mencari. Membongkar-bongkar laci ingatan, meniti tiap-tiap senti kamar kita, melepaskan sprei kasur kumal kita, menurunkan bantal-bantalnya: berharap menemukan kunci pembuka pintu kepala kita yang kita yakini terselip entah di mana. Kita seperti tak pernah tahu itu adalah semacam laku sia-sia. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Dan dari sana, serupa monster, kemudian bermunculan bayang-bayang hitam buruk rupa yang mengejar-ngejar kita. Hendak menerkam kita justru saat kita terbaring lemah. Hendak melumat kita justru saat kita terkapar lelah. Hendak mencengkeram kita justru saat kita terjatuh-jatuh. Kita ketakutan. Ketakutan. Membekap telinga dan memejamkan mata. Air mata mengalir pelan dari pelupuk. Tak mampu lagi berteriak meski teramat ingin. Tak mampu lagi berlari meski teramat ingin. Hanya meringkuk dalam diam. Menundukkan kepala. Berupaya berpikir panjang dan dalam. Lalu mencoba lagi mendongakkan kepala dan menemukan bahwa ternyata tak ada sama sekali yang mengejar kita.

Dan kita tersadar: yang paling jahat dalam hidup ini adalah pikiran kita sendiri.

Matahari masih akan terus beredar. Matahari masih akan terus berpendar. Di tengah lapang, dengan sukacita kita angkat kedua tangan kita. Sebuah isyarat kekalahan. Sebuah isyarat untuk menyerah.

Kita tahu, betapa kita tahu, untuk hidup seabsurd ini, yang paling layak adalah menelan sekian kutukan dan lalu duduk diam.

Perempuan, saya kalah....

0 komentar: